“Ayo kita pergi begawe.” Ajak Kepala Sekolah saat ujian Tahriri siang tadi usai di kantornya tentu saja.
“Ayok,” jawab suami saya, “mumpung saya lagi lapar, mumpung nggak ada kegiatan.” Sambungnya sembari merapikan sedikit lengan kemeja sederhananya.
“Siapa si istrinya ini, nggak terurus sekali. Haha” kak Ani mengomentari dengan nada seratus persen bercanda. Saya jadi mengulum senyum yang super lebar.
“Saya jadi tersindir,” saya menambah kolom komentar, “wah beh salak lalok jarik seninen tie.*” lanjut saya dengan bahasa Sasak yang sering diselorohkan Ian. Seisi ruang tertawa, kecuali suami saya. Ia hanya diam mengeja papan di ruangan kecil itu, kemudian berkata pelan.
“Sudah tepat, kok.”
**
Menikah, seperti yang saya di buku yang baru beberapa hari saya beli, karya salah satu penulis favorit saya; Asma Nadia. Judulnya Catatan Pengantin. Isinya kaya sekali pembelajaran. Saya ingat kalimat pembuka yang ditulis oleh mbak Asma, intinya mengatakan; “Tidak ada sekolah untuk menjadi istri yang baik. Banyak sekali saya dan teman-teman temukan hal yang berlawanan. Seorang ukhty yang mengikuti kelas menjadi istri yang baik, setelah menikah ia membiarkan anaknya yang berusia 4 tahun bermain hujan sendirian di pinggir jalan, sedang ia asyik makan di rumah. Tak berbeda dengan salah seorang ukhty yang sebelum menikah berkoar-koar akan menjadi istri yang shalihah, selalu terlihat cantik di mata suami, setelah menikah saat menghadiri suatu undangan ia malah menggunakan kaos kaki yang super dekil ditambah bolongan pula. Ia mengatakan itu adalah kaos kaki suaminya, alas an buru-buru menjadi papan tameng yang sempurna.
“Apakah menikah itu sebegitunya? Begitu lain dari apa yang telah direncanakan sebelumnya?”
Saya terenyuh sendiri membaca pertanyaan Mbak Asma itu. Saya mengakui diri saya adalah penghayal handal. Sebelum menikah, saya merajut mimpi yang banyak dan tentunya indah-indah. Begitu mudahnya, begitu kaya warna seperti pelangi. Tetapi ketika membuka lembaran pernikahan, sempat shock juga. Berat badan sampai turun segala. Apa yang membuat saya shock mungkin tidak dialami oleh kebanyakan istri. Tetapi saya membenarkan kalimat Kepala Sekolah saya, dulu.
“Seberapa lamapun kalian pacaran, seberapa dalampun kamu merasa mengetahuinya, pasti kalau menikah kamu akan kaget. Karena ada sesuatu yang kamu ketahui hanya ketika setelah menikah dengannya, dan tidak bisa ditunjukkan sebelum itu.”
Itu benar.
Saya sendiri sulit sekali menjelaskan, kenapa saya begitu kaget. Padahal, tidak ada yang begitu banyak berubah. Suami saya tidak tumbuh kumisnya, bahkan tidak berubah postur tubuhnya. Ia tetap tampan, pendiam, penyayang, dan tentu saja tetap membuat saya jatuh cinta.
Tapi, memang benar. Ada sesuatu yang kita ketahui hanya SETELAH kita menikah. Di buku Catatan Pengantin juga membenarkan.
Hayalan yang saya rajut begitu mudahnya, ternyata tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Membuat suami merasa bahagia itu ternyata berat. Apalagi saya yang tidak terbiasa membereskan rumah, dan bekerja cepat.
Saya, begitu banyak kurangnya.
Kenapa?
Rasanya selalu saja aneh.
Bahkan memasak sayur bening saja harus berdilema dengan garam dan micin. Berjam-jam berkutat di dapur hingga beraroma tidak sedap, setelah selesai hasilnya selalu saja membuat alis mengkerut.
Bahkan sambal tomat buatan suami saya masih lebih enak daripada buatan saya. Tiga kosong. Kalah telak.
Setiap selesai memasak, saya selalu menatap suami saya yang memakan masakan saya dengan aura H2C, Harap-harap Cemas. Kemudian setelah mecicipi masakan saya, suami saya akan mengangkat wajahnya kea rah saya dan tersenyum simpul. Simpul yang aneh.
“Kurang garam”
“Kebanyakan bawang putih”
“Kok pahit”
“Nasinya terlalu benyek, dek”
Dan seterusnya. Suami saya memang jujur, dan bisa diandalkan. Hebatnya lagi, karena ia lebih pandai dalam hal memasak (walaupun tidak bisa disebut ahli juga sih) jadi saya tidak bisa mengelak. Lagipula saya memang sedang belajar.
Bunda di rumah sangat jago memasak, dan saya anak perempuan beliau satu-satunya. Seharusnya darah itu mengalir pada saya, bukan?
2.Saya lelet
Tidak bisa bekerja cepat, dan selalu meremehkan pekerjaan adalah hal yang terkadang membuat saya ingin mengemil diri sendiri.
“ah, nanti saja. Masih ada waktu.” Kalimat penawar ini sebenarnya bahaya sekali, sayangnya saya sangat suka menggunakannya. Tidak hanya sekali, berkali-kali bahkan kalaupun kalimat itu kadaluarsa mungkin saya akan tetap menggunakannya.
Saya akan menunggu pakaian kotor menumpuk, baru kemudian saya cuci. Saya akan menunggu gunungan piring kotor baru kemudian saya bereskan. Saya akan menunggu waktu mepet barulah melakukan segala sesuatu.
Sangat lambat, atau slow but sure (?) adalah motto yang menempel di jidat saya. Jangankan mengerjakan sesuatu, membangkitkan niat untuk melakukan sesuatu saja begitu lamban. Menyetrika pakaian sedikit saja bisa sampai satu setengah jam.
3. Saya ‘sedikit’ pelupa
Melupakan sesuatu adalah keahlian saya. Sejenis ilmu Laduni. Ilmu yang tidak perlu dipelajari, sudah dari sononya. Saya pernah menghangatkan lauk rebung, dan saya tinggalkan mengerjakan tugas di kamar. Saya lupa!
Setelah aroma gosong yang mengganggu hidung saya masih belum konek juga, baru setelah mengingat apa yang kemungkinan terjadi saya akhirnya berlari ke dapur dan menemukan panci baru kami berubah kehitaman, ah bukan hitam sempurna. Kasihan, padahal hadiah pernikahan ini.
Masih banyak lagi hal yang minus dalam diri saya. Yah, namanya juga manusia. Tidak ada yang sempurna. Apalagi ketika masa ngidam. Pusing, mual, muntah, ditambah manja. Jangankan untuk membereskan rumah, mandi saja jarang.
Tetapi, yah…saya bersyukur Allah menghadirkan tetapi dalam hidup. Suami saya tidak pernah mengeluh dengan segala kekurangan saya. Setiap saya memasak masakan aneh, dia selalu memakannya, meskipun sedikit. Setiap saya meninggalkan sesuatu sembarangan karena lupa, dia selalu menyimpannya kembali. Suami saya, meskipun sedikit saja hal yang saya lakukan dia sangat pandai menghargai. Dia faham kalau saya tidak memasak seharian hanya karena alas an capek kuliah. Bahkan selalu menekankan pendidikan saya, mengantar dan menjemput tanpa mengeluh. Ketika saya tidak sempat mencuci atau menyetrika pakaiannya, ia akan melakukannya sendiri. Tidak dengan keluhan, tidak dengan diktean kesalahan.
Seringkali ketika ia terlelap saya memperhatikan wajahnya, bertanya-tanya seberapa gunung ikhlas yang dia miliki untuk saya. Seberharga apa saya bagi dia. Seorang Mantilina Ervina yang begitu banyak kurangnya ini, yang jika dibandingkan dengan mantan-mantannya paling tidak jelas ini, seperti apa saya bagi dia.
Pernah suatu kali saya bertanya, “Kalau di antara kita ada yang meninggal duluan. Kakak akan menikah lagi?” saat itu saya tidak bertanya sembari menatapnya, karena saya terlalu grogi untuk mengetahui jawabannya.
“Tergantung,” jawabnya. Saya menelan ludah, “tapi Kak harap tidak.” Kemudian saya meleleh.
**
Ada sebuah cerita mengisahkan, sepasang suami istri masuk surga. Sang istri sangat cantik sedang sang suami biasa saja. Kemudian dipertanyakan kenapa keduanya masuk Surga? Ternyata jawabannya: sang istri masuk surge karena ia sangat sabar memiliki suaminya. Sedangkan suaminya masuk surga karena sangat bersyukur memiliki istrinya.
Kalau ditanya, di antara saya dan suami siapakah yang bersabar atau bersykur.
Tentu saja saya yang bersyukur. Dan suami saya yang bersabar.
Saya kan, rendah hati.
Hehe
“Ayok,” jawab suami saya, “mumpung saya lagi lapar, mumpung nggak ada kegiatan.” Sambungnya sembari merapikan sedikit lengan kemeja sederhananya.
“Siapa si istrinya ini, nggak terurus sekali. Haha” kak Ani mengomentari dengan nada seratus persen bercanda. Saya jadi mengulum senyum yang super lebar.
“Saya jadi tersindir,” saya menambah kolom komentar, “wah beh salak lalok jarik seninen tie.*” lanjut saya dengan bahasa Sasak yang sering diselorohkan Ian. Seisi ruang tertawa, kecuali suami saya. Ia hanya diam mengeja papan di ruangan kecil itu, kemudian berkata pelan.
“Sudah tepat, kok.”
**
Menikah, seperti yang saya di buku yang baru beberapa hari saya beli, karya salah satu penulis favorit saya; Asma Nadia. Judulnya Catatan Pengantin. Isinya kaya sekali pembelajaran. Saya ingat kalimat pembuka yang ditulis oleh mbak Asma, intinya mengatakan; “Tidak ada sekolah untuk menjadi istri yang baik. Banyak sekali saya dan teman-teman temukan hal yang berlawanan. Seorang ukhty yang mengikuti kelas menjadi istri yang baik, setelah menikah ia membiarkan anaknya yang berusia 4 tahun bermain hujan sendirian di pinggir jalan, sedang ia asyik makan di rumah. Tak berbeda dengan salah seorang ukhty yang sebelum menikah berkoar-koar akan menjadi istri yang shalihah, selalu terlihat cantik di mata suami, setelah menikah saat menghadiri suatu undangan ia malah menggunakan kaos kaki yang super dekil ditambah bolongan pula. Ia mengatakan itu adalah kaos kaki suaminya, alas an buru-buru menjadi papan tameng yang sempurna.
“Apakah menikah itu sebegitunya? Begitu lain dari apa yang telah direncanakan sebelumnya?”
Saya terenyuh sendiri membaca pertanyaan Mbak Asma itu. Saya mengakui diri saya adalah penghayal handal. Sebelum menikah, saya merajut mimpi yang banyak dan tentunya indah-indah. Begitu mudahnya, begitu kaya warna seperti pelangi. Tetapi ketika membuka lembaran pernikahan, sempat shock juga. Berat badan sampai turun segala. Apa yang membuat saya shock mungkin tidak dialami oleh kebanyakan istri. Tetapi saya membenarkan kalimat Kepala Sekolah saya, dulu.
“Seberapa lamapun kalian pacaran, seberapa dalampun kamu merasa mengetahuinya, pasti kalau menikah kamu akan kaget. Karena ada sesuatu yang kamu ketahui hanya ketika setelah menikah dengannya, dan tidak bisa ditunjukkan sebelum itu.”
Itu benar.
Saya sendiri sulit sekali menjelaskan, kenapa saya begitu kaget. Padahal, tidak ada yang begitu banyak berubah. Suami saya tidak tumbuh kumisnya, bahkan tidak berubah postur tubuhnya. Ia tetap tampan, pendiam, penyayang, dan tentu saja tetap membuat saya jatuh cinta.
Tapi, memang benar. Ada sesuatu yang kita ketahui hanya SETELAH kita menikah. Di buku Catatan Pengantin juga membenarkan.
Hayalan yang saya rajut begitu mudahnya, ternyata tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Membuat suami merasa bahagia itu ternyata berat. Apalagi saya yang tidak terbiasa membereskan rumah, dan bekerja cepat.
Saya, begitu banyak kurangnya.
- Saya tidak (BELUM) bisa memasak
Kenapa?
Rasanya selalu saja aneh.
Bahkan memasak sayur bening saja harus berdilema dengan garam dan micin. Berjam-jam berkutat di dapur hingga beraroma tidak sedap, setelah selesai hasilnya selalu saja membuat alis mengkerut.
Bahkan sambal tomat buatan suami saya masih lebih enak daripada buatan saya. Tiga kosong. Kalah telak.
Setiap selesai memasak, saya selalu menatap suami saya yang memakan masakan saya dengan aura H2C, Harap-harap Cemas. Kemudian setelah mecicipi masakan saya, suami saya akan mengangkat wajahnya kea rah saya dan tersenyum simpul. Simpul yang aneh.
“Kurang garam”
“Kebanyakan bawang putih”
“Kok pahit”
“Nasinya terlalu benyek, dek”
Dan seterusnya. Suami saya memang jujur, dan bisa diandalkan. Hebatnya lagi, karena ia lebih pandai dalam hal memasak (walaupun tidak bisa disebut ahli juga sih) jadi saya tidak bisa mengelak. Lagipula saya memang sedang belajar.
Bunda di rumah sangat jago memasak, dan saya anak perempuan beliau satu-satunya. Seharusnya darah itu mengalir pada saya, bukan?
2.Saya lelet
Tidak bisa bekerja cepat, dan selalu meremehkan pekerjaan adalah hal yang terkadang membuat saya ingin mengemil diri sendiri.
“ah, nanti saja. Masih ada waktu.” Kalimat penawar ini sebenarnya bahaya sekali, sayangnya saya sangat suka menggunakannya. Tidak hanya sekali, berkali-kali bahkan kalaupun kalimat itu kadaluarsa mungkin saya akan tetap menggunakannya.
Saya akan menunggu pakaian kotor menumpuk, baru kemudian saya cuci. Saya akan menunggu gunungan piring kotor baru kemudian saya bereskan. Saya akan menunggu waktu mepet barulah melakukan segala sesuatu.
Sangat lambat, atau slow but sure (?) adalah motto yang menempel di jidat saya. Jangankan mengerjakan sesuatu, membangkitkan niat untuk melakukan sesuatu saja begitu lamban. Menyetrika pakaian sedikit saja bisa sampai satu setengah jam.
3. Saya ‘sedikit’ pelupa
Melupakan sesuatu adalah keahlian saya. Sejenis ilmu Laduni. Ilmu yang tidak perlu dipelajari, sudah dari sononya. Saya pernah menghangatkan lauk rebung, dan saya tinggalkan mengerjakan tugas di kamar. Saya lupa!
Setelah aroma gosong yang mengganggu hidung saya masih belum konek juga, baru setelah mengingat apa yang kemungkinan terjadi saya akhirnya berlari ke dapur dan menemukan panci baru kami berubah kehitaman, ah bukan hitam sempurna. Kasihan, padahal hadiah pernikahan ini.
Masih banyak lagi hal yang minus dalam diri saya. Yah, namanya juga manusia. Tidak ada yang sempurna. Apalagi ketika masa ngidam. Pusing, mual, muntah, ditambah manja. Jangankan untuk membereskan rumah, mandi saja jarang.
Tetapi, yah…saya bersyukur Allah menghadirkan tetapi dalam hidup. Suami saya tidak pernah mengeluh dengan segala kekurangan saya. Setiap saya memasak masakan aneh, dia selalu memakannya, meskipun sedikit. Setiap saya meninggalkan sesuatu sembarangan karena lupa, dia selalu menyimpannya kembali. Suami saya, meskipun sedikit saja hal yang saya lakukan dia sangat pandai menghargai. Dia faham kalau saya tidak memasak seharian hanya karena alas an capek kuliah. Bahkan selalu menekankan pendidikan saya, mengantar dan menjemput tanpa mengeluh. Ketika saya tidak sempat mencuci atau menyetrika pakaiannya, ia akan melakukannya sendiri. Tidak dengan keluhan, tidak dengan diktean kesalahan.
Seringkali ketika ia terlelap saya memperhatikan wajahnya, bertanya-tanya seberapa gunung ikhlas yang dia miliki untuk saya. Seberharga apa saya bagi dia. Seorang Mantilina Ervina yang begitu banyak kurangnya ini, yang jika dibandingkan dengan mantan-mantannya paling tidak jelas ini, seperti apa saya bagi dia.
Pernah suatu kali saya bertanya, “Kalau di antara kita ada yang meninggal duluan. Kakak akan menikah lagi?” saat itu saya tidak bertanya sembari menatapnya, karena saya terlalu grogi untuk mengetahui jawabannya.
“Tergantung,” jawabnya. Saya menelan ludah, “tapi Kak harap tidak.” Kemudian saya meleleh.
**
Ada sebuah cerita mengisahkan, sepasang suami istri masuk surga. Sang istri sangat cantik sedang sang suami biasa saja. Kemudian dipertanyakan kenapa keduanya masuk Surga? Ternyata jawabannya: sang istri masuk surge karena ia sangat sabar memiliki suaminya. Sedangkan suaminya masuk surga karena sangat bersyukur memiliki istrinya.
Kalau ditanya, di antara saya dan suami siapakah yang bersabar atau bersykur.
Tentu saja saya yang bersyukur. Dan suami saya yang bersabar.
Saya kan, rendah hati.
Hehe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar