Minggu, 13 Juli 2014

DIA AKAN CINTA.

                DIA AKAN CINTA(7)__kembali pada dulu

                “Bagaimana menurutmu?” Teteh melepas jilbabnya perlahan, aku menelan ludah demi melihat wajahnya dengan kepala pelontos itu. ya, menurutku mahkota wanitanya telah diusir dari singgasananya oleh penyakit yang dideritanya. Aku tersadar dan berusaha tersenyum.
                “Tidak apa, Teh.” Aku berujar kuusahakan wajar.
                “Saya sudah tidak menarik lagi, bukan?” Ia menyelami mataku dengan lembut. Dengan sigap aku menggeleng.
                “Teteh tetap cantik!” Ucapku dengan tatapan yakin, “Cantik itu kan relative. Teteh sangat cantik dengan kelebihan yang jelas!” Aku menggenggam tangannya meyakinkan. Ia mengulum senyum sedikit malu. Astaga…cantik sekali pipi merona itu. aku tiba-tiba jadi merasa iri. Pastilah mas Faata seringkali melihat pipi itu merona dan terkesan pada indahnya.
                “Kamu pintar!” Pujinya, sekarang giliranku tersenyum, “Kita bisa bicara dari hati ke hati kan, Alin?” Tanyanya menggenggam jemariku. Aku tersenyum, mengangguk.
                “Tentu, Teh.” Jawabku.
                “Kenapa kamu berubah, Sayang?” Ia menyusuri tatapanku. Berubah? “Jangan menunjukkan wajah heran itu. Saya mengenalmu bahkan sebelum kamu bisa mengenal orang.” Ujarnya. Aku menahan nafas. Perubahan itu, bahkan disadarinya. Aku memberi jeda, menyilahkan kesunyian menyusup diantara kami.
                “Alin itu bukan kamu.” Ia menggetarkan hatiku, aku menunduk. “Yang saya tau Alin itu ramah, ceria, supel, pandai bergaul, pintar dan disenangi banyak orang.” Ia seolah mengingatkan kembali, atau memang benar begitu.
                “Kita harus peka pada hidup, Teh.” Ucapku masih menunduk, “Pepatah mengatakan, masuk kandang singa mengaum, masuk kandang kambing mengembik.” Lanjutku.
                “Jadi benar dugaan saya, kamu merubah diri saat meninggalkan panti, kan?” Ia berujar tanpa butuh jawaban. “Apakah … menurutmu, maksud saya apa tujuanmu melakukan itu?” Tanyanya mencari tatapanku. Tapi aku masih betah menunduk.
                “Aku melindungi diri.” Jawabku jujur. Kudengar ia menghembuskan nafas.
                “Ya…benar alasan yang kamu berikan, Alin. Tapi dengan begitu kamu menjadi asing. Bukan hanya bagi mereka tapi bagi dirimu sendiri.” Ia menyentuh hatiku dengan suara lembutnya.
                “Mungkin…” Aku berujar pelan.
                “Tidak bisakah kamu menjadi dirimu sendiri sekarang?” Pintanya terdengar berharap, kuberanikan diri mengangkat wajahku dan menemukan mata bening itu, “Kamu merasa terancam dengan saya dan Mas Faata?” Ia membuatku menggeleng kuat-kuat, bagaimana bisa aku merasa demikian.
                “Semuanya terserah padamu, Alin. Hanya saja saya berharap yang terbaik , selalu.” Ia mengusap kepalaku. Aku tersenyum mengangguk. “Baiklah, kamu sudah siap?” Tanyanya menarik kembali tangannya. Aku mengerutkan alis tak mengerti. Ia menarik nafas sebentar, mengenakan kembali jilbabnya dan mulai bergerak mundur.
*_*

                Gadis itu bernama Purnama Anata Mulya. Dia terlahir dari keluarga baik-baik dan sederhana. Amat sederhana malah. Ayahnya seorang petani dengan sawah sewaan, ibunya seorang tukang jahit. Dan gadis yang sedari kecil biasa dipanggil Ata ini hanyalah satu-satunya anak mereka.
                Awalnya kehidupan mereka damai-damai saja. Meski tidak mewah, mereka pandai bersyukur. Setiap malam terdengar lantunan ayat suci Al Qur’an dari gubuk kecil mereka. Keterbatasan keluarga mereka tidak membuat mereka minder dan menjauh dari masyarakat. Malah keluarga mereka terkenal ramah dan baik hati. Tidak berat memberi meski harta yang dimiliki tak sampai ada karat.
Masalah timbul ketika Ata kelas 2 sekolah menengah keatas. Ayahnya yang pergi ke sawah dalam keadaan sehat wal afiat ditemukan jatuh di pematang sawah. Dan meninggallah petani baik hati itu. perlahan sejak ditinggal ayahnya, kehidupan Ata dan ibunya terasa semakin sulit. Sawah yang disewakan beruntung masih bersisa lima tahun lagi. Hanya Ibunya sendiri yang mengurus. Dan karena belum terlalu bisa dan terbiasa karena semasa suaminya masih hidup ia hanya di rumah menjahit, jadilah penghasilan yang didapat tidak terlalu banyak. Selain itu, gara-gara memaksakan diri, ibunya seringkali jatuh sakit karena kecapaian.
Hal itulah yang membuat Ata serius belajar. Selulus SMA ia giat membantu ibunya di sawah. Ia mempelajari ilmu bertani dari buku, guru-guru dan petani-petani sekitar kampung. Ia juga mempelajari tentang tanah, bagaimana merawat, menggunakan dengan baik dan seterusnya. Ata mulai mengenalkan diri pada tumbuhan-tumbuhan, hama-hama, obat tanaman dan perawatan yang baik.
Maka dua tahun setelah itu berhasilah Ata menjadi petani termuda yang lumayan sukses. Padi yang tanam tumbuh menjadi padi terbaik di kampung, jagung, kacang-kacangan, sayuran, semuanya membuahkan syukur tiada tara baginya. Kemudian dari hasil perdagangan semua itu, ia menyewa sawah lain lagi, kemudian berani menawar harga untuk membeli, berani mempekerjakan orang. Dan pada usianya 22 tahun, ia sudah menjadi pedagang sukses yang kaya raya. Dialah yang paling kaya di kampungnya. Ibunya bangga tak terkira dengan sepak terjang putri tunggalnya. Ditambah lagi putrinya itu tidak sombong dan sangat dermawan. Maka Allah tambahkan pula rizkinya tiap hari.
Tiga tahun, saat Ata telah berhasil membeli rumah di kota, punya dua sedan. Tapi ketika ia akan membawa ibunya pindahan ke kota, dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang menewaskan ibunya. Sedangkan Ata malah tidak mengalami luka yang begitu berat. Maka, jadilah ia menyalahkan dirinya sendiri karena kematian ibunya. Ia seperti orang stress. Menangis sejadinya, kadang merenung seharian penuh. Sampai ia dibawa oleh keluarganya yang lain ke psikiater. Dan dirawat tiga bulan disana.
Gadis malang itu kembali ke dunia seharusnya dengan luka di hati yang tidak pernah kering. Tapi beruntunglah ia, karena iman yang ditanamkan kedua orang tuanya sejak kecil berhasil menyokongnya kembali. Ia memutuskan untuk mengenakan jilbab. Mendekatkan diri pada Allah. Sering mengikuti pengajian-pengajian, memperbanyak koleksi buku agama sampai belajar pelan-pelan menghafal Al-Qur’an.
Subahanallah.
Bisnis dagangnyapun kembali ia tangani. Pekerjanya yang tersisa sangat segan padanya, mungkin karena Ata memang tidak pernah berlaku tidak baik pada mereka. Maka jadilah ia Ata Mulya pedangan kaya raya kembali.
Tapi, tentu saja. Dibalik kesuksesan yang diraihnya ada saja cara Allah menunjukkan kasih sayangnya. Entah karena kurang menarik, atau terlalu jauh melampaui yang lain, jarang sekali lelaki mendekatinya. Hanya beberapa itupun hanya terkesan memandang harta, ada pula yang menjadi segan karena pengetahuan Ata. Meski, Ata tidak pernah mengecap bangku perguruan tinggi.
Hingga usianya berkepala tiga, ia tak juga menikah. Karena sibuk dengan usahanya Atapun seperti tidak terlalu memikirkan itu. hingga suatu Ramadhan seusai shalat tarawih ia tertidur diatas sajadahnya. Dan ia bermimpi bertemu dengan almarhumah Ibunya. Dalam mimpi itu Ibunya membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang.
“Allah begitu sayang tampaknya padamu, Nak!” Begitu ujar Ibunya. Ata tersenyum di pangkuannya. “Bisnismu lancar, ibadahmu baik, pergaulan dengan sesamamupun halus. Ibu bangga padamu!” Ibunya melanjutkan. Ata merasa melayang.
“Ibu memperhatikan saya?” Tanya Ata memejamkan mata.
“Tentu saja, Nak.” Ibunya menjawab sambil terus mengelus rambut panjang Ata, keheningan tercipta sesaat. “Kamu…tidak ingin menikah, Nak?” Tanya Ibunya lagi menitipkan peniti kecil yang menusuk hati Ata ketika mendengar pertanyaan itu. Atapun tidak menjawab, ia hanya diam.
“Menikah itu adalah sunnah Rasulallah SAW. Sempurnakanlah agamamu dengan pernikahan, Nak. Usiamupun sudah sangat dewasa. Jika kamu menunda lagi, sungguh akan sulit untuk menemukan orang yang cocok bagimu.” Ibunya memberi nasihat.
“Jodoh itu kan Allah yang mengatur, Bu. Salah satu takdir yang tidak bisa diubah. Karena ia mutlak. Dengan siapa saya akan menikah, Allah sudah menentukannya.” Ata berasumsi.
“Kamu benar, Nak. Jodoh memang di tangan Allah. Tapi jika kamu tidak mengambilnya, maka ia akan tetap berada di genggaman-Nya.” Ata tertegun mendengar kalimat ibunya, “Allah menciptakan kita berpasang-pasangan, karena tidak ada seorangpun yang sempurna. Kita membutuhkan orang lain dalam hidup kita. Seperti Ibu membutuhkan Ayahmu, Ayahmu membutuhkan Ibu. Dan juga orang-orang lain, termasuk kamu.” Ata menyerapi tiap kata Ibunya, “Jodoh memang telah diatur Allah, Nak. Tapi cepat dan lambat kita mengambilnya Allah tentukan pada usaha kita.”
“Bu…”
“Menikahlah, Nak.”
Seketika itu Ata bangun dengan perasaan terenyuh. Mimpi itu pastilah suatu petunjuk baginya. Maka, setelah itu Ata mulai serius mencari lelaki yang ia rasakan pantas untuknya.
Beberapa bulan kemudian, bertemulah Ata dengan seorang guru. Lelaki berkaca mata minus tipi situ bernama Imam. Karena baik, lembut dan tulus hatinya, maka jatuh cintalah Ata pada lelaki itu. dan tidak dipungkiri, Imampun jatuh cinta padanya. Awalnya mereka bertemu di halte bus. Kebetulan saat itu Ata tidak membawa mobil, karena mobilnya masuk bengkel. Satu lagi digunakan pekerjanya untuk mengangkut barang karena truk-truk terpakai semua.
“Assalamu’alaikum!” Imam menyapanya dengan santun, ia menoleh tersenyum menjawab salam sempurna. “Pulang kemana?” Tanya guru SD itu ramah. Ata menjawab seadanya, “Hujan akan segera turun. Anda bawa payung?” Tanya lelaki itu lagi. Ata menggeleng.
“Tidak sempat.” Jawabnya singkat.
“Buru-buru ya tadi?” Guru itu masih ramah. Ata tersenyum mengengguk, “Anda boleh pakai payung saya!” Ia menyodorkan payung berwarna biru tuanya. Ata mulai merasa ketulusan lelaki di sampingnya.
“Tidak perlu. Nanti juga naik bis.” Ata menolak sopan.
“Naik dan turunnya?” Imam mencari celah.
“Anda sendiri bagaimana?” Ata tersenyum melempar alasan abstrak. Imam tersenyum menggeleng.
“Antibodi saya kuat.” Ia berkata dengan Percaya Diri tinggi.
“InsyAllah, sayapun begitu.” Ata masih menolak saja.
“Baiklah.” Imam mengalah, menyimpan kembali payungnya, “Kenapa tidak dijemput suami?” Tanya Imam memperhatikan langit mendung, Ata menelan ludah dalam diam. Karena tak dijawab, Imam menoleh padanya, “Maafkan jika pertanyaan saya tidak sopan.” Ucapnya dengan tulus. Ada dua kemungkinan tentu jika wanita seusia Ata tidak dijemput suami. Pertama, suaminya meninggal atau bercerai kedua dia belum menikah. Dan dua-duanya sangat tidak menyenangkan, bukan?
“Tidak apa-apa, saya belum menikah.” Ata berlapang dada dengan senyum tenang. Imam menyaksikan hal yang luar biasa pada wanita itu. hatinya jadi kagum. “Anda?” Ata bertanya balik.
“Hehe” Imam terkekeh sedikit, “Dua bulan lalu istri saya meninggal karena jatuh di kamar mandi,” Terdengar tenang saja Imam menjawab begitu, Ata tertegun, “Ia mengandung delapan bulan saat itu.”
Innalillah…
Dan akhirnya mereka satu bis, berbagi bersama. Ata mulai menikmati dekat dengan Imam. Imampun demikian. Setiap hal yang dinikmati berdua terasa menyenangkan dan tidak membosankan. Cara Imam menghargai dan memperhatikannya, mengajarkan Ata meniti pelan benang cinta itu. tapi satu kesalahan terbesar Ata ketika itu, ia tidak jujur pada Imam. Ata tidak memberitahu Imam tentang siapa dia. Yang Imam tau Ata seorang wanita pekerja kantoran biasa, bukan Ata sang pedagang kaya.
Maka, karena alasan itulah Ata harus kehilangan Imam.
Hari itu sama hujannya dengan enam bulan belakangan sejak perkenalan mereka. Imam mencari Ata di tempat biasa mereka bertemu. Lama menunggu Ata tak juga datang, karena ketika itu Ata sedang bermasalah dengan salah satu konsumennya yang mengatakan pesanannya didapat dalam keadaan buruk. Bukan masalah besar bagi Ata, karena ia tinggal mengganti saja barang-barang untuk orang itu, Ata memang menjaga betul perasaan konsumennya. Tapi ternyata konsumennya yang itu begitu cerewet, Ia meminta ganti dua kali lipat. Dengan banyak pertimbangan, Ata bernegosiasi. Tak diketahuinya Imam mencari kediamannya. Bertanya pada beberapa orang, dan akhirnya sampai di depan gerbang megah rumahnya. Entah bagaimana kagetnya Imam ketika itu.
“Maaf, Bu. Ada yang mencari di luar.” Salah satu pembantunya memberitahu. Ketika itu urusannya dengan konsumen cerewetnya baru saja kelar.
“Siapa, Ri?” Tanyanya sopan.
“Kurang tau, Bu. Laki-laki, pakai kaca mata.” Ata terkejut mendengar kata Nuri pembantunya. Ia jadi teringat janjinya dengan Imam. Dan iapun segera menemuinya. Ketika itu Imam menyambutnya dengan senyuman. Perasaan tak enak hingga membuat Ata eneg semakin memakannya.
“Asalamu’alaikum” Sapa Imam dengan wajah yang sedikit basah terkena gerimis.
“Wa’alaikumusslam wr. Wb. Bagaimana bisa sampai disini?” Ata bertanya pelan terbata.
Sedang lelaki itu masih tersenyum.
                “Tidak bolehkan mengetahui kediamanmu?” Tanya Imam menatap mata Ata. Ata kelabakan. “Ini rumahmu sendiri, kan?” Imam bertanya menyelidik, Ata mengangguk jujur. “Yaa Allah, kenapa kamu berbohong pada saya, Ta?” Tanya Imam sedikit melunak, tapi ia masih pertahankan senyumnya. Ata memilih untuk menunduk, tak tau mesti menjawab apa. “Ini, sebenarnya hari ini saya akan melamarmu.” Imam mengeluarkan kotak cincin dari kantong celananya. Ata terkesiap. Ia mengangkat wajahnya melihat lelaki lembut itu.
                “Tapi, saya tidak bisa memintamu setelah ini. Saya tidak tau alasanmu membohongi saya, tapi tidak baik sebuah hubungan diawali dengan kebohongan.” Imam memasukkan kembali kotak cincin itu. dan tanpa salam ia melangkah menjauh, menghilang dibalik gerbang. Dan benar-benar menghilang dari kehidupan Ata. Kabarnya Imam dipindahtugaskan, karena ia adalah seorang PN.
                Terpuruklah Ata. Dan ia mengungsikan cinta ke tempat pengasingan selama lebih dari satu tahun.
                Selanjutnya Ata kembali kedatangan  tamu di singgasana hatinya. Ia adalah salah satu konsumennya. Lebih muda beberapa tahun darinya. Sejak awal pertemuan, ia telah memberikan perhatian berlebih pada Ata. Dan Ata bisa merasakannya. Akhirnya setelah lama saling mengenal, meski rasa cinta seperti pada Imam belum sampai menghampiri hatinya, ia menerima ajakan Surya, nama lelaki itu, ke dalam kehidupannya.
                Tak disangka, Surya adalah tipe lelaki yang penuh kejutan. Mungkin karena masih muda, ia jadi begitu bersemangat. Dan Ata begitu menikmatinya. Singkat cerita, ternyata Surya tidak sebaik luarannya. Ia ternyata mempunyai niat buruk mendekati Ata. Apalagi, tentu saja harta. Malam itu, setelah semuanya terbongkar, Ata memasukkan seluruh barang-barang yang diberikan Surya padanya kedalam kotak besar. Dan membawanya ke kediaman Surya. Mengembalikannya dengan sopan.
                “Saya tidak menganggap harta saya adalah segalanya bagi saya. Saya juga insyAllah senang berbagi, tapi tidak harus harta saya yang menjadi alasan untuk menjalin hubungan dengan saya. Terimakasih. Assalamu’alaikum!” Ata pergi meninggalkan kediaman Surya tanpa menunggu sambutan salam. Ia mengemudikan sedannya dengan santai. Sembari bertahmid, ia menikmati udara malam itu. hingga di depan sebuah panti ia menyaksikan dua orang berwajah panik sedang menggendong bayi. Ata menepikan mobilnya.
                “Ada apa, Bu?” Tanya Ata mengeluarkan sedikit wajahnya setelah kaca mobil ia turunkan.
                “Bayi ini sakit. Kami ingin membawanya ke Rumah Sakit. Tapi tak ada sopir malam ini, taxipun tak ada. Mungkin karena sudah terlalu malam.” Ibu yang berjilbab sederhana itu menjelaskan dengan air muka panik.
                “Masuklah, biar saya antar.” Ata berujar tanpa berfikir lagi. Dan dengan sedikit cepat ia mengemudikan sedannya ke Rumah Sakit terbaik.
                “Berapa usianya, Bu?” Tanya Ata sembari menyetir.
                “Dia masih merah. Mungkin baru sehari.” Jawab Ibu itu memperhatikan bayi di gendongannya. Ata menelan ludah.
                “Kenapa mungkin?” Tanyanya.
                “Dia baru ditemukan adik ini sore tadi di belakang sekolahnya.”
                “Innalillahi…” Ata terenyuh sendiri. Iapun mempercepat laju mobil dan tak lama kemudian mereka sampai di Rumah Sakit. Ata turun mobil dan menemani Ibu dan gadis berseragam SMA itu memasuki Rumah Sakit. Ia mengurus administrasi kemudian menyusul bayi itu ke poli anak.
                Subahanallah
                Ata menggenggam udara pada tangannya. Ia menekan dadanya sendiri. Betapa wajah bayi tak berdosa itu begitu menyentuh perasaannya. Jika terlambat sedikit saja ia sampai disini mungkin tak ada kisah lagi. Dibuang orang tua pada usia begitu muda. Anak itu pasti sangat kedinginan. Kedinginan pada tubuhnya, juga hatinya. Ata jadi merasa bayi itu sepertinya. Tak ada orang tua, lelakipun enggan padanya.
                Dan dalam hatinya, Ata berjanji pada Allah untuk menjaga bayi itu semampunya hingga akhir hidupnya.
                Wsss…
                Entah angin dari mana tertiup di wajah Ata, Ata tersenyum. Ia artikan itu sebagai persetujuan dari Allah. Maka semakin mantaplah hatinya untuk menjaga bayi itu.
                Esoknya Ata kembali datang ke Rumah Sakit, karena bayi itu memang harus diinapkan. Ibu berjilbab sederhana itu hanya sendiri menunggu, mungkin gadis berseragam itu sudah pulang dan masuk sekolah. Ibu itu terlihat kaget dengan kedatangannya.
                “Assalmu’alaikum!” Sapa Ata tersenyum. Ibu itu menjawab sempurna, “Bagaimana keadaannya?” Ata bertanya tanpa basa-basi.
                “Alhamdulillah, sudah lebih baik.” Ibu itu masih terlihat heran.
                “Tidak apa-apa, Bu. Anggap saja saya keluarga anak itu. mulai hari ini saya akan merawatnya.” Ata berujar yakin. Senyum cerah timbul pada wajah ibu berjilbab itu.
                “Alhamdulillah…”
                “Tapi, karena pekerjaan saya, saya tidak bisa membawanya bersama saya. Apakah anda keberatan jika bayi itu tetap di panti? Untuk seluruh keperluannya, saya tanggung.” Ata memotong. Ibu itu mengerutkan alisnya.
                “Maaf, Mbak. Tapi tidak baik system begitu di Panti. Karena di panti yang hidup tidak hanya seorang anak. Tapi banyak.” Ibu itu mengungkapkan kekhawatirannya.
                “Tidak apa. Saya akan penuhi kebutuhannya dengan cukup. insyAllah tidak berlebih.” Ata menenangkan, ibu itupun mengangguk. Tapi, tetap saja ia khawatir.
                “Ohya, Bu…boleh kuberi dia nama Alin?”
*_*
                Aku mendengarkan dengan seksama satu demi satu kalimat Teteh. Matanya menyala rapi pada tiap cerita dengan warna yang berbeda. Jadi, Alin itu adalah nama pemberiannya. Alhamdulillah…aku jadi merasa sangat bahagia. Entahlah kenapa.
                “Lanjutkan, Teh.” Pintaku. Ia menoleh tersenyum. Aku bisa membayangkan wajah mudanya, cantik. Jadi tersenyum sendiri.
                “Kamu masih mau mendengarkan?” Ia bertanya membuatku tak sabar. Akupun mengangguk-angguk semangat. Ia terkekeh sedikit, menyentuh pipiku. “Kamu sekarang seperti Alin saya yang dulu.” Aku tertegun mendengar kalimatnya, tapi kemudian, kusuguhkan ia cengiran yang…manislah…he
*_*

                Dan selama setahun penuh, Ata hanya fokus pada Alin saja. Dia bahkan lupa dengan niatanya untuk menikah. Ia begitu menyayangi bayi itu, seperti Alin hanya miliknya satu-satunya. Tak terganti dan tak terhargai. Alhamdulillah, bisnis Atapun tidak terlalu banyak rintangan sejak ia mengurus bayi itu. meski ia jadi jarang di rumah dan di kantor, ia tetap bisa menghandle semua. Untungnya lagi, Ata tidak hanya memenuhi kebutuhan Alin saja. Karena alasan baik, Atapun tak jarang membawakan berbagai macam kebutuhan untuk anak-anak panti.
                Singkat cerita, bisalah Alin kecil berbicara. Ketika itu Ata datang membawa makanan ringan untuk semua, dan sebuah boneka mungil untuk Alin. Alin menerima boneka lucu itu dengan rasa bahagia yang membuncah. Terlihat dari caranya memainkan boneka itu, dan juga dari tawanya.
                “Mama” Mulut Alin kecil mengeluarkan suara yang membuat hati Ata tersentuh. Matanya berkaca saking haru. Ia menciumi Alin dengan sayang. Tapi sebelum sempat ia mengangkat bibirnya dari pipi tembem Alin, Alin membuka mulutnya lagi, “Papa” begitu.
                Ata merasa tubuhnya sedikit membeku. Ya, dia telah lupa dengan mimpi itu. lupa tentang dirinya sendiri. Lupa bahwa ia butuh seorang suami, dan mungkin juga papa untuk Alin. Begitu, kan?
                Akhirnya, Ata kembali membuka diri. Usianya hampir 35 tahun. Adakah yang mau dengannya? Ata jadi meminimalisir fikirannya. Siapa sajalah, ia harus menikah. Meskipun cinta itu belum tumbuh, insya Allah akan tumbuh setelah pernikahan. Ya, harapannya begitu.
                Tapi, hampir setengah tahun, tak ada satupun lelaki yang datang padanya. Ata jadi sedikit merasa kasihan pada dirinya. Sudah tua. Begitu kalimat yang terus diulang-ulang fikirannya. Akhirnya ia beranikan diri meminta bantuan pada Nuri, pembantunya.
                “Ibu mau menikah?” Nuri bertanya dengan nada datar. Wajar sekali bukan, wanita seusia dia.
                “Iya. Kamu bisa bantu carikan calon?” Ata berkata serius.
                “Insya Allah bisa, Bu. Kapan maunya?” Tanya Nuri ikutan serius.
                “Assalamu’alaikum, Teh.” Salah satu pegawainya di gudang bertandang ke rumah menyelahi pembicaraan keduanya. Ata dan Nuri menjawab salam. “Ini bagian marketing baru, Teh. Yang kemarin saya bicarakan.” Pegawai bertubuh gempal itu menunjuk lelaki di belakangnya. Ata menoleh, matanya bertemu dengan lelaki muda itu. lelaki itu mengangguk santun.
                Astaghfirullah
                Ata beristighfar dalam hati. Tapi kalau hanya sekali dan tidak sengaja, insya Allah tidak dosa, kan?
                “Maaf, siapa namanya?” Ata bertanya pada pegawai gempalnya.
                “Saya Muhammad Faata, Bu.” Lelaki itu menyahut tanpa mengangkat wajah. Ata jadi salah tingkah.
                Salah tingkah?
                Entahlah.
                “Ya, panggil saja Teteh. Kau boleh mulai bekerja besok pagi, atau kalau memang sudah siap bisa dimulai hari ini.” Ata memberi perintah sopan, seperti biasa. Lelaki muda itu tersenyum.
                “Insya Allah besok pagi, Teh. Saya harus mengantar ibu saya ke Rumah Sakit hari ini.” Datar saja suara pemuda itu.
                “Ibumu sakit?” Ata bertanya diiringi tatapan Gempal dan Nuri kearah Muhammad Faata.
                “Ya, Teh. Agak kurang enak badan dari semalam.” Pemuda itu menjawab seadanya. Tidak ada kesan pura-pura. Begitu polos. Ata mengangguk.
                “Baiklah, ada uang untuk itu?” Tanyanya perhatian.
                “Insya Allah ada, Teh.”
                “Benar tidak butuh bantuan?” Ata tampak khawatir. Pemuda itu menggeleng.
                “Insya Allah saya mampu. Terimakasih sebelumnya, Teteh sangat baik.” Pemuda itu memujinya. Ata terdiam sesaat, hanya sesaat. Kemudian ia kembali tersenyum.
                “Pergilah, sampaikan salam saya pada ibumu.” Katanya. Lelaki itupun pamit dengan salam yang baik. Ata memperhatikan punggung lelaki itu dengan pandangan yang aneh.
                “Kenapa, Bu?” Tanya Nuri.
                “Ah, tidak ada.” Ata gelagapan, “Jadi bagaimana, bisa?” Ata mengalihkan pembicaraan, Nuri menyetujui. Dan dalam waktu yang tidak bisa Nuri pastikan, ia akan mencari calon suami untuk majikannya.
                Lagi-lagi singkat cerita. Ternyata Muhammad Faata menjadi buah bibir pegawai-pegawai Ata. Selain karena ketekunan dan keuletannya, pemuda itu juga memiliki pemikiran berdagang yang hebat. Beberapa ide menarik ia usulkan, dan setelah dicoba sukses pula hasilnya. Jadilah ia pemuda yang disenangi oleh para pegawai. Ata juga senang melihat hasil kerjanya. Belum lagi pemuda itu dikenal sangat jujur. Bahkan seluruh temannya bisa menjamin akan kejujurannya. Ata mulai mengagumi marketingnya yang satu itu. tapi ia tidak perlu mengumbarnya. Iapun jarang bertemu dengannya, hanya beberapa kali saja.
                “Bu, saya punya usul bagus.” Nuri mengagetkan sore Ata dengan wajah sumringah. Dengan istighfar kecil, Ata menoleh padanya.
                “Apa, Ri?”
                “Ini mengenai calon suami Ibu.” Ata mengangguk, “Sepertinya Ibu perlu bertemu dengan orang tua Faata.” Nuri memulai.
                “Orang tua, Faata?”
                “Ya, marketing baru di kantor, Bu.”
                “Astaghfirullah…ya, ya. Kenapa harus bertemu dengan orang tuanya?” Ata heran.
                “Mereka bilang, mereka tau Ibu.”
                “Tau saya?” Ata semakin heran, Nuri mengangguk pasti.
                “Ternyata rumah saya tidak jauh dari rumahnya, Bu. Dan kemarin sempat bertemu. Ia ingin bertemu ibu katanya.” Nuri meyakinkan.
                “Kira-kira siapa?”
                “Kata beliau, orang tua Ibu adalah teman lama dulu di kampung.”
                Maka pergilah Ata keesokan harinya ditemani Nuri ke kediaman Muhammad Faata. Tentu saja pemuda itu tidak ada di rumah. Dan begitu melihat wajah mereka Ata segera mengenali keduanya. Merekapun butuh waktu sebentar untuk menjadi akrab.
                Lama berbincang-bincang dengan orang tua Muhammad Faata, Atapun berpamitan.
                “Nak, sepertinya kami tau masalahmu” Ibu Muhammad Faata menyentuh lengan Ata. Ata mengerutkan alis tak paham, tapi sesaat kemudian ia melirik Nuri yang tersenyum amis padanya, “Lamarlah Faata untukmu.” Ata terkesiap mendengarnya.
                “Me, melamar?” Ata gelagapan.
                “Khadijah saja melamar Nabi SAW, tidakkah kamu mau mengikuti jejaknya?” Ata menahan nafas, “Insya Allah baik. Faata juga pasti menyetujuinya. Tidak baik kamu lama melajang, jadi buah bibir orang. Menimbulkan fitnah, Nak.” Wanita itu meyakinkan dengan senyuman.
                “Tapi tidak harus mengorbankan orang lain kan, Bu.” Ata sedikit melumer.
                “Faata tidak berkorban untuk itu. insya Allah ia akan menerimamu.”
                “Kita ikhtiar,” Kali ini Ayah Faata menyambut, “Akan kami sampaikan padanya, masalah menerima atau tidaknya, kami tidak akan memaksanya. Dia sudah 18 tahun, cukup besar untuk berfikir dewasa.” Ata menelan ludah. 18 tahun? Dan dia 35 tahun? Bedanya bahkan 17 tahun.
                “Bagaimana?” Orang tua Faata seperti sangat berharap. Ada ketulusan di tatapan keduanya. Ata menoleh pada Nuri. Nuri tersenyum mengangguk. Dengan niat ikhtiar, Ata berdo’a pada Allah.
                “Baiklah saya tinggalkan lamaran saya.”
*_*

                “Subahanallah…jadi Teteh yang melamar?” Aku membelalakkan mata kagum. Teteh mengangguk dengan wajah yang lebih pucat dari sebelumnya. “Langsung diterima mas Fata?” Tanyaku lagi.
                “Dia istikharahkan 3 hari, dan menerimanya.” Jawab Teteh pelan, seperti…menahan sakit???
                “Teteh tidak apa-apa?” Aku mendekat menyentuh bahunya. Teteh tidak menjawab pertanyaanku. Kedua tangannya perlahan berpindah ke kepalanya kemudian mencengkramnya. Aku mendadak panik.
                “Laaa ilaaaha illallaaaah…” Ia berucap dengan tubuh bergetar. Wajahnya pias. Kusentuh lagi bahunya, yaa Allah bahkan seluruh tubuhnya bergetar. Aku tidak bisa menggambarkan rasa sakit yang ia rasakan. Dan aku tidak bisa membantunya.
                “Teh…” Aku memanggilnya pelan. Matanya tertutup kuat, zikirnya terdengar seperti rintihan yang mengiris. Ya Allah…bagaimana aku membantunya. Bantu dia ya Allah…kudekatkan wajahku pada wajahnya, aku menangis. Tak tau hendak berbuat apa.
                “Ya Allaaaah…!!!”
                Innalillah…
                Teteh terkulai lemas. Aku segera menangkap wajahnya dan pelan kuletakkan kepalanya di dadaku. Ya Allah…hanya Kau yang tau bagaimana mengatasi ini…bantu Teteh ya Allah, bantu Mama…
                Hiks…
                Bantu…
*_*

                Malam itu malam pertama Ata dan Faata. Ata menunggu di kamar dengan khawatir. Terlihat air mukanya yang tak tenang, tak menentu pula perasaannya.
                “Assalmu’alaikum!” Pintu kamar dibuka dan menyembullah wajah tampan Faata. Ata menjawab salam lengkap dengan tersenyum. Faata menutup pintu rapat, mengoncinya dari dalam kemudian mendekati Ata. “Bolehkah?” Faata menatap wajah istrinya dengan sedikit senyuman. Ata mengangguk diam. Faata menyentuh ubun-ubunnya dan membacakan do’a dengan sedikit dikeraskan. Ata mengamini dengan khusuk.
                Selesai itu Faata menjauhkan wajahnya, ia kembali menatap istri yang jauuuh lebih tua darinya itu dengan tatapan yang sama.
                “Maafkan saya. Tidak sepantasnya saya bersanding dengan anda.” Faata membuka mulut, pandangannya masih pada wajah istrinya.
                “Saya yang minta maaf, kau harus mau menikah muda hanya karena menolong saya.” Ata berkata pelan. Kedewasaannya menguasai perasaannya.
                “Sayalah yang tidak seharusnya menjadi suami wanita terhormat seperti anda. Pastilah banyak yang membicarakan saya, harta anda menjadi alasan yang paling utama.”
                “Bisa jadi, tapi kita tidak harus mendengarkan orang-orang, kan? Kau sudah istikharah untuk ini.” Ata terdengar sabar.
                “Entahlah…” Faata seperti enggan.
                “Saya percaya pada suami saya.” Ata meyakinkan dengan tulus dan senyuman. Faata menatapnya dengan ekspresi yang sama saja. “Jangan panggil anda, sikapilah saya seperti istrimu.” Kedewasaan Ata menenangkan jeda.
                “Kau mau mengambil hakmu sebagai istri sekarang…?



                DIA AKAN CINTA(8)__Menjelmalah Cinta

                “Tidak, jika kau tidak ikhlas melakukannya!” Ata menjawab dengan tenang. Terlihat suaminya mengluarkan aura surut. Ia tersenyum. Maka terlewatilah malam itu dengan seperti itu saja. Dan di sepertiga malam, Ata membangunkan suaminya guna mengimami shalat lail.
                “Pagi?” Faata mengerjap-ngerjapkan matanya.
                “Belum, imami saya shalat tahajjud, mau?” Ata menatap datar. Ada sesuatu yang merayap hangat di hati pemuda itu. menyaksikan wajah istri tuanya dengan mukenah putih kekuningan itu.
                “Baik, tentu saja.” Faata bangkit dari ranjang. Dengan diantar tatapan mata lembut Ata, pemuda itu memasuki kamar mandi, sebentar kemudian percikan air menjadi melodi malam sepertiga itu. tak lama merekapun mulai khusuk pada jama’ah, subuh, witir, dan do’a.
                “Alhamdulillah…” Faata menyelesaikan do’anya. Ia menatap tempat sujud, mungkin tak tau hendak berbuat apa.
                “Mas.” Dia tak menyadari istrinya telah duduk di sampingnya, ia menoleh sedikit kaget. Istrinya tersenyum, “Tak apa saya panggi begitu?” Tanya Ata dengan mata beningnya, menyusupi jendela mata Faata yang sedikit terbuka.
                “Terserah saja.” Faata menyahut sedikit salah tingkah, Ata tersenyum mengulurkan tangannya yang terbalut mukenah, hendak menyalaminya. Faatapun menyambut uluran tangan istrinya. Ata menaruh punggung tangan itu di jidat putihnya.
                “Saya menghormati mas sebagai suami saya. Minta ridha ya?” Ata menatap suaminya dengan senyum. Dan tanpa rencana Faata membalas senyum itu dan mengangguk. Damai.
*_*

                Beberapa hari berlalu sejak pernikahan keduanya. Baik Ata dan suaminya tidak memang memiliki kekhawatiran akan pernikahan mereka pada orang lain. Tapi tidak mereka sangka akan sebegitu ‘meriah’ omongan orang-orang. Bahkan sampai sebagian pegawai Ata mengacuhkan Faata. Dianggapnya Faata menikahi bos mereka karena uang dan kedudukan.
                “Mereka tidak mau mendengarkan.” Usai shalat Isya malam itu Faata menaruh sedikit bebannya di bahu istrinya. Ata tersenyum menyikapi keluhan suami mudanya.
                “Tidak apa, besok juga baik sendiri, Mas. Kita tidak melakukan hal yang keliru. Yang mereka anggap benar kan bukan kebenaran.” Ata menenangkan.
                “Itu mudah karena kamu tidak merasakannya sendiri. Rasanya sangat tidak nyaman berada di tengah-tengah mereka. Apalagi dengan tatapan dan pembicaraan yang tidak disembunyikan.” Faata menghembuskan nafasnya terdengar berat.
                “Jadi apa Mas mau saya berhentikan mereka karena berlaku tidak sopan pada suami saya?” Faata menoleh demi mendengar kalimat itu, ia menemukan keseriusan pada mata dan senyuman istrinya. Desiran halus melewati hatinya.
                “Tidak perlu. Kamu benar, insyAllah mereka akan segera berubah fikiran.” Sedikit salah tingkah Faata berujar tak menatap wajah itu. Ata tersenyum sendiri.
                “Salam dulu,” Ata mengulurkan tangannya. Faata menyambutnya. Kali ini Ata menyentuhkan punggung tangan itu di keningnya, kemudian di kedua pipinya.
                “Kening ini maknanya hormat, Mas. Pipi kanan ini sayang, dan pipi kiri bermakna sangat sayang.” Ata menjelaskan dengan senyuman yang tenang dan pipi sedikit merona. Faata merasakan wajahnya memerah. Terlihat lucu dengan tatapan alihannya itu.
                “Ah, ya..ya…” Ujarnya lagi-lagi salah tingkah. Tampaknya istri tuanya mulai sedikit mengganggu hati dan fikirannya. He
*_*

                Klimaksnya adalah hari itu. saat barang-barang datang dari kampung memasuki gudang. Beratus-ratus keranjang diturunkan dengan sedikit cepat. Faata memperhatikan dengan teliti kemudian mencatat beberapa. Tiba-tiba…
                Brug!!!
                Sebuah keranjang berisi sawi terlempar kearahnya. Pojokan keranjang tepat mengenai pelipis Faata.
                “Allah!!!” Ia berteriak kaget. Tubuhnya terjatuh berbarengan dengan keranjang itu. dirasakannya rasa ngilu dan perih pada pelipisnya. Cairan kental terasa mulai mengalir darinya. Dalam hati Faata beristighfar. Matanyapun sedikit mengabur.
                “Tidak apa-apa, nanti juga dibawa ke Rumah Sakit besar sama istri.”
                Samar Faata mendengar kalimat tak bersahabat dari beberapa orang disana. Aktifitas tak tersita karena kejadian itu. Faata terus beristighfar dalam hati, menyentuh pelipisnya yang terasa mulai membesar, bengkak.
                “Tidak tau diri sich. Pegawai baru ngelonjak.” Ramai, omongan-omongan yang pedas mulai berkumandang di ruangan besar itu. Faata berusaha bangkit dari terseungkurnya, darah dari pelipisnya mengalir di sekitar wajahnya. Tak ada seorangpun yang berniat membantunya kembali berdiri. Sadis sekali.
                “Innalillahi…!” Terdengar sebuah suara yang tidak asing. Dari pintu kecil di samping ruangan Ata berlari menghampiri suaminya yang memegangi pelipisnya yang berdarah banyak. “Apa yang terjadi?” Ia bertanya pada suaminya dengan wajah khawatir penuh. Ia melihat sekeranjang sawi berserakan tak rapi dengan keranjang oleng. Ia kemudian melihat sekeliling, pegawai-pegawainya mulai bungkam, menunduk, sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Amarah mulai membakar hati wanita berjilbab lebar itu.
                “Apa yang terjadi?!!!” Suaranya yang biasa lembut dan tenang menggelegar di ruangan besar itu. Tak ada seorangpun yang berani bersuara, mereka masih sibuk dengan pekerjaan mereka, takut itu menimbulkan ciut, “Lepas pekerjaan kalian sekarang, atau selamanya!” Meski datar perintah itu membuat semuanya melakukan tanpa menunda. Majikan mereka baik hatinya, lembut dan jarang sekali marah. Kesalahan-kesalahan kecil, sedikit besar bahkan besar sekalipun tak membuat urat wanita itu mengejang jika ada keterangan yang jelas. Tapi, jika sampai pada batas yang tidak bisa ditolerir lagi. Maka tak seorangpun berani membantahnya, jangankan membantah, mengangkat wajah di hadapannya saja tidak. Dan apakah ini adalah kesalahan yang tidak bisa ditolerir???
                “Siapa yang bisa menjelaskan?!” Dingin, Ata bertanya datar.
                “Tadi, saat kami merapikan barang salah satu keranjang terlempar kearahnya, Teh.” Salah satu pegawainya menjawab masih berdiri di atas truk, ia menjawab tanpa mengangkat wajah.
                “Bukan itu pertanyaan  saya.” Ata mengambil nafas, menggandeng lengan suaminya dengan kedua tangannya, “Apa yang terjadi pada kalian? Tak berhatikah kalian sekarang? apa yang salah dengan suami saya? Hingga meski dengan sedikit hati kalian tidak membantu bahkan menoleh padanya! Salahkah dia menikah dengan saya? Kalau memang benar dia salah, dimana letak salahnya? Jelaskan pada saya sekarang!” Ata menatap pegawainya satu persatu dari sekian puluh itu. Wajahnya memerah menekan amarah di hatinya.
                Sunyi.
                Tak seorangpun dari mereka menjawab pertanyaannya.
                “Saya yang memintanya menikahi saya. Saya yang melepas lamaran pada orang tuanya. Ia menerima lamaran saya setelah shalat istikharahnya dijawab Allah. Benar pada otak kalian itu salah! Kalian menciptakan sesuatu tanpa pertimbangan dan membenarkannya sendiri. Ya Allah, bagaimana kalian bisa begini jauh?!!! Jika suami saya Muhammad Faata menikahi saya karena harta, karena kedudukan, Allah tidak akan menjawab istikharahnya dengan iya. Kalian salahkan Allah?!!!” Ata menekan kalimat-kalimatnya, agar tak sedikitpun terlewat dari telinga dan pemahaman seluruh pegawainya.
                “Kalian anggap semua ini keliru, menyalahkan suami saya dengan mutlak, tidak menyukainya, menjadikannya buah bibir busuk. .astaghfirullah…” Ata mulai menangis, “Kalian boleh tidak menyukai seseorang, tapi cukup di hati kalian saja. Hargailah makhluk Allah. Kita ini rendah. Otak kita standar kwalitasnya. Kita hanya menilai orang dari zahir, dari yang terlihat, bathinnya Allahlah yang mengetahui.” Ata masih menatap tajam satu persatu pegawainya meski dengan mata berair deras, “Jadi kalian tidak boleh merasa benar atas pendapat kalian.” Ata terisak. Dirasakannya tangan suaminya menyentuh bahunya.
                “Mencelakai orang yang mengimami saya, sama artinya kalian mencelakai saya. Kalian menginjak-injak kepala saya.” Amarah itu timbul lagi di hati wanita Ata, “Saya tau kalian semua, biar nanti sore ambil pesangon kalian di kantor saya.” Ata membuang wajahnya. Ia menuntun suaminya ke ruangannya. Sementara seluruh pegawainya lemas. Pesangon? Dipecatlah mereka.
*_*
                Faata memperhatikan wajah sembab istrinya yang tak berjarak banyak dari wajahnya. Dengan lembut, telaten dan sabar, istrinya mengobati pelipisnya yang terluka lumayan besar. Hatinya bergetar. Diperhatikannya mata istrinya dengan seksama, mata itu masih menyala. Mata yang biasanya selalu tenang dengan senyuman kini memerah karena ia diperlakukan tidak baik.
                “Jangan tunjukkan wajah begitu.” Faata membuka mulut pelan, “Tidak nyaman dilihat.” Ia tersenyum sedikit menggoda. Ata meliriknya, memberikan senyuman.
                “Maafkan saya. Seharusnya ini tidak terjadi.” Ata menyelesaikan pekerjaanya. Ia menarik tangannya dari pelipis Faata yang terlah terperban rapi. Ia menunduk, merasa bersalah. Faata memperhatikan kelembutan hati istrinya. Getaran itu membuncah di hatinya.
                “Tidak ada yang salah…”
                “Seandainya saya tidak meninggalkan lamaran, seandainya saya…”
                “Kamu menyalahi Allah dengan seandaimu itu.” Faata memotong, usia belianya tertelan keadaan yang menggali dewasa itu ke permukaan kongkret, “Saya istikharah dan Allah menjawab benar. Tidak ada itu seandainya-seandainya lagi. Kita memang berjodoh, dan kau percayalah…Allah buat dari tulang rusuk saya.” Faata menyerap kalimat yang ia sendiri tak yakin keluar dari mulutnya. Akan tetapi hatinya merasa nyaman.
                “Maafkan, saya.” Lagi-lagi istrinya meminta maaf. Faata tersenyum, kemudian menyentuh ubun-ubun istrinya dengan telapak tangan kanannya.
“Jika keningmu, bermakna hormat, kedua pipimu bermakna sayang dan sangat sayang, bisakah ini bermakna saya akan menghargai, mengayomi dan akan melindungimu selalu?” Faata mencari mata istrinya yang ditemukannya berkaca. Ata mengangguk dengan bibir bergetar, sangat bahagia.
“Sekarang temani saya menemui pegawai.” Faata bangkit dari duduknya. Menunggu istrinya mengikuti tindaknya, iapun menoleh. “Ayolah, ini perintah suami.” Faata tersenyum. Ata ikut bangkit dan berjalan di belakang suaminya.
“Apa yang akan kita katakan, Mas?” Ata meminta pendapat.
“Minta maaf, tentu saja.” Faata menjawab ringan, mesti mungkin kepalanya masih terasa pening terkena hantaman keranjang berat tadi.
“Mereka yang seharusnya minta maaf.” Ata berujar teguh.
“Mereka tidak sengaja, kenapa harus minta maaf.”
“Setidaknya mereka seharusnya menolong, Mas.” Ata sepertinya masih sangat tidak menerima tindakan pegawainya atas suaminya.
“Allah tidak pernah memaksa hamba-Nya berbuat baik. Dia memerintah dengan kasih sayang. Maka tidak baik juga kita yang sebagai hamba menyuruh orang lain bagitu.” Faata terdengar tenang. Ata menunduk, membenarkan kalimat suaminya. Ia paham, pengetahuannya tidak sampai pada pengetahuan Faata. Faata dibesarkan di lingkungan agama yang baik. Dari kecil Ata sering melihat Faata diberikan pelajaran agama oleh orang tua dan guru-guru baik. Dia jadi sangat beruntung menyadari itu.
“Maafkan saya.” Pinta Ata pelan.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, kita sama belajar.” Fata menoleh padanya sedikit dengan senyuman. Ata membalas lembut. Akhirnya mereka sampai di ruangan besar tadi. Dengan sopan Ata meminta seluruh pegawainya untuk berkumpul disana. Sebagian dari pegawainya terlihat menunduk takut karena kejadian beberapa waktu lalu. Ata tersenyum begitu semuanya berkumpul. Ia menoleh pada suaminya yang bediri di sampingnya, Faata tersenyum mengangguk.
“Assalamu’alaikum wr.wb.” Sapa Ata, semua pegawai menjawab sempurna, “Maaf mengganggu pekerjaan kalian. Saya mengumpulkan kalian karena ingin meminta maaf. Saya sudah bertindak keterlaluan akhir-akhir ini. Sekali lagi maafkan saya.” Ata menundukkan kepalanya sedikit. Semua melihat padanya dengan hati membuncah. Seharusnya mereka yang mengucapkan kalimat itu, bukan? Sedang Faata menatap istrinya dengan bangga. Ia tak sungkan mengakui kesalahan di depan banyak orang.
“Tidak ada yang akan diberi pesangon dari kalian semua. Kalian semua akan tetap menjadi kawan kami yang setia.” Ata menebar senyuman. Pegaiwainya mengucapkan hamdalah dengan serentak.
“Saya juga minta maaf. Kita kurang berkomunikasi sehingga hal seperti ini bisa terjadi. Semoga kalian bisa menerima saya kembali.” Faata mengambil suara. Yang lain menatap dengan pandangan bersalah. Maka, jadilah hari itu menjadi begitu cerah.
*_*

                Dan pada malamnya, selesai shalat maghrib Faata dan Ata membuka kitab suci Al Qur’an, membaca bersama-sama menunggu Isya.
                “Mas haus?” Ata menghentikan bacaannya mendengar suara suaminya. Ata melirik kemudian tersenyum. “Saya ambilkan air,” Ata bangkit dari duduknya dan menuju dapur. Mengambil segelas besar air putih dingin dan membawanya ke ruang shalat. Tapi sesampai disana tak ditemukannya Faata disana. Ia melangkah ke kamar, pintunya sedikit terbuka.
                “Mas!” Panggilnya. Hanya terdengar jawaban seperti sebuah gumaman. Atapun memasuki kamar, menemukan suaminya tiduran ringan diatas ranjang. “Ini airnya.” Ata menyodorkan gelas besar berisi air yang sedari tadi dibawanya.
                “Minum dulu olehmu!” Pinta Faata tanpa membuka mata. Ata terdiam sesaat mendengar permintaan suaminya, “Setelahmu, saya akan habiskan airnya.” Faata kembali bersuara. Maka dengan basmallah, Ata meminum sedikit saja air itu.
                “Sudah, Mas.” Ata menjauhkan gelas dari mulutnya. Faata bangkit dan duduk di pinggiran ranjang, ia mengerjap-erjapkan matanya, kemudian menoleh pada istrinya.
                “Sini!” Ia menjulurkan tangannya, Ata menyerahkan air itu, “Tadi minum dimana?” Faata bertanya memperhatikan gelas, tak ada jawaban, ia melirik pada istrinya, “Minumnya dimana tadi?” Ia bertanya lagi. Ata menunjuk bekas mulutnya di pinggiran gelas. Faata memperhatikan kemudian meminum gelas itu dari tempat yang sama. hati Ata sedikit bergetar, dirasakannya wajahnyapun memanas. Dan sempurna, air itu habis.
                “Alhamdulillah…” Faata berujar pelan, menyerahkan gelas itu kembali pada istrinya. “Rasanya badan saya panas, mungkin karena kejadian pagi tadi. Bisa kita akhirkan shalat isya kita?” Lelaki muda itu menoleh pada istrinya.
                “Panas? Apa lukanya infeksi ya, Mas?” Ata jadi khawatir, memperhatikan pelipis suaminya.
                “Tidak, tidak. Hanya butuh istirahat sedikit. Jadi bagaimana?” Faata menunggu jawaban.
                “Oh ya, insyAllah tidak apa-apa.” Ata menjawab dengan senyuman lembutnya. Faata tersenyum, kemudian berbaring lagi. Melihat suaminya akan istirahat, Ata membalik langkahnya hendak ke dapur.
                “Sebentar!” Suara Faata mengagetkannya, ia menoleh, suaminya masih menutup mata. “Bisa temani saya tidur?” Tanya Faata masih dengan mata terpejam. Ata sedikit gelagapan dengan pertanyaan itu, “Ayolah…taruh gelas itu diatas meja dan berbaringlah di dekat saya.” Suara Faata terdengar begitu aneh bagi Ata. Tapi dengan tenang diikutinya saja kemauan suami mudanya itu. iapun menaruh gelas kosong itu diatas meja dan bergerak menaiki ranjang dan memperbaiki selimut untuk suaminya, kemudian berbaring.
                Ata menoleh pada wajah lelaki muda yang berstatus suaminya itu. ia terlihat begitu tenang dalam lelapnya. Ata tersenyum. Hendak menaruh punggung tangannya di kening suaminya. Tapi…
                Hup.
                Lengan Faata sempurna memeluk pingganya. Ata gelagapan.
                “Tidak apa-apa saya peluk sampai bangun lagi, kan?” Suaminya bertanya masih dengan posisi tadi, mata tertutup. Ata tak menjawab, “Kalaupun tak mau, saya larang kamu menolak.” Faata merapatkan tubuhnya. Ata salah tingkah, tapi dirasakannya aura panas dari tubuh suaminya menyapa kulitnya. Ia jadi bisa lebih tenang, mungkin tingkah anehnya ini adalah sebab dari rasa panas berlebih. Ditatapnya lagi wajah itu, tampak sedikit memerah pula warna putihnya. Ata tersenyum, rasa kasih itu kembali merayapi hatinya. Ia ingin mengatakan sesuatu…
                “Hmmm…” Faata bergumam sebentar, kemudian membaca do’a tidur dengan sempurna, Ata jadi tertegun, “Tidurlah.” Pinta Faata dengan lembut. Ata jadi merasa begitu hangat, tampaknya lelaki yang memeluknya ini tidak dalam keadaan tidak sadar.
*_*

                Mereka bangun pukul 3 dini hari. Mendirikan shalat isya berjama’ah, dilanjutkan shalat malam. Tepat pukul 4 mereka usai.
                “Maafkan saya, apakah saya melakukan sesuatu padamu selama saya tidak sadar?” Faata membalik tubuhnya menghadap istrinya yang sebenarnya kala itu masih berzikir. Ata tersenyum dan menggeleng menanggapi pertanyaan suaminya.
                “Tidak ada, Mas. Dan kalaupun terjadi apa-apa, kenapa harus minta maaf? Kita ini suami istri. Mas masih canggung pada saya?” Ata mencari mata suaminya.
                “Sepertinya sedikit.” Faata terdengar lugu membuat senyum diwajah istrinya merekah.
                “Sini.” Ata tampak lebih menguasai keadaan. Ia mendekatkan duduknya dengan suaminya kemudian menyentuh lutut suaminya dengan sayang. “Sebagai suami dan istri, kita sama-sama memiliki hak dan kewajiban. Tentu mas lebih paham masalah itu. dan memberikan nafkah lahir bathin adalah kewajiban seorang suami yang bernilai hak bagi istri. Begitu kan?” Ata mencari tanggapan. Suaminya menatap wajahnya dengan tatapan mengiyakan. Ata kembali tersenyum. “Banyak kewajiban suami yang tak bisa dipenuhi suami tapi bisa dipenuhi istri, banyak pula kewajiban istri yang tidak bisa dipenuhi istri tapi bisa dipenuhi suami. Satu contoh…”
                “Menyusui anak adalah kewajiban bapak.” Faata memotong. Ata bangga mendengarnya, “Tapi tentu saja tidak bisa. Yang bisa melakukan itu adalah istrinya. Jadi…”
                “Jadi, sebenarnya suami meminta tolong pada istrinya dengan cintanya.” Ata kembali mengambil arah, “Jika istri dicintai, dikasihi, disayangi dengan baik, maka tanpa dimintapun istri akan melakukan itu dengan ikhlas. Kan?” Ata kembali mencari sokongan dari mata suaminya. Faata tersenyum.
                “Alhamdulillah…begitu tak terukur rasa syukur saya memilikimu.” Faata menyentuh punggung tangan istrinya. Ata tersenyum. Ia merasakan rasa cinta itu mulai menghiasi taman jarak mereka.
                “Begitupun saya. Kau lelaki luar biasa, Mas.” Ata memuji dengan seluruh hatinya. Ya, tentu saja begitu, tentu saja hanya orang yang luar biasa yang bisa menerima keadaan seperti ini bukan?
                “Kamu pantas mendapatkan seorang yang luar biasa.” Faata mengimbangi. “Jadi, apa kau mencintaiku sekarang?” Entah kenapa Faata begitu tenang menanyakan itu. mungkin karena memang telah ada pula rasa itu di hatinya. Ata tersenyum. Diraihkan tangan kanan suaminya. Kemudian disentuhkannya di keningnya, di kedua pipinya, dan di bibirnya lantas ia membalikkan punggung tangan itu dan mengecup telapaknya.
                “Kening itu maknanya hormat, kedua pipi itu maknanya sayang dan sangat sayang, kemudian bibir ditafsirkan cinta entah oleh siapa. Tapi insyAllah saya percaya. Makna dari mengecup punggung tangan adalah saya mencintai apa yang terlihat. Karena biasanya yang punggung tangan itu lebih dominan terlihat, dan bisa diartikan juga kelebihan. Telapak tangan juga diberi kecupan. Pertanda insyAllah saya mencintai apa yang tertutup, bisa juga diartikan kekurangan. Jadi saya mencintai suami saya apa adanya, lengkap dengan kelebihan dan kekurangan padanya.” Ata menjelaskan dengan perlahan, suaminya tersenyum. Ada aura yang sulit dijelaskan pada tatapannya. Ia kemudian meletakkan telapak tangannya di ubun-ubun istrinya.
                “Insya Allah…saya juga memiliki perasaan yang sama.”
*_*


DIA AKAN CINTA__chapter 8 #2

                “Mencintai itu bukan sesuatu yang sulit, Alin.” Teteh menatapku lembut, mengusaikan kisahnya dengan keringat dingin di dahinya. Ia terlihat begitu lelah, begitu sakit. Aku jadi tak tega melihatnya begitu. Inginku bagi saja sakitnya.
                “Teteh tak apa?” Tanyaku menggenggam jemarinya. Malam sudah semakin tua, sebentar lagi waktu sahur menyapa. Ia tersenyum menggeleng.
                “Tentu saja tidak.” Jawabnya, “Tapi ini baik, Alin. Orang yang di akhir hayatnya merasakan sakit yang sangat, insya Allah dosanya terampuni. Saya bahagia.” Ia seperti hilang saat mengatakan itu. tangannya kembali bergetar hebat. Dan untuk kesekian puluh kalinya, ia kembali tak sadarkan diri. Akupun tak bosan menangisinya. Terkasih…
                *_*
                Pagi itu seperti pagi yang kemarin. Tak terasa berbeda bagi kebanyakan orang tapi lain halnya dengan Ata. Wanita itu tidak ke kantor seperti biasanya, ia masih duduk dengan mukenah, usai mengerjakan shalat Dhuha. Ia tidak duduk di atas sajadahnya, tapi di samping ranjang, menatap wajah suaminya yang masih pulas. Wajah putihnya merona lama, ada sesuatu yang membuatnya malu dan bahagia. Alasannya, karena malam tadi, ia sempurna menjadi istri.
                Menatap wajah suami mudanya yang pulas semakin mengingatkan jelas tentang kejadian malam tadi. Ia tak menyangka, tapi tak pula menolak bahagia. Saat itu entah kenapa ia ingin berlama-lama di ruang shalat. Mengaji Qur’an dengan suara rendah.
                “Mmm…kau tak mau makan bareng?” Suaminya menyapa dengan suara sedikit bernada aneh. Ia menoleh dari kitab sucinya.
                “Astaghfirullah…maaf, Mas. Keenakan, yuk!” Iapun menutup Al Qur’an suci itu, menaruhnya pelan dan bangkit dari duduknya.
                “Mmm…tak apa-apa, mukenahnya ditanggalkan saja.” Faata kembali mencegah lajunya. Sedikit tertegun Ata menelan ludah. Tapi memang tidak salah bukan? Akhirnya ia menuruti saja, iapun menanggalkan mukenahnya, menaruh si putih itu diatas sajadah. Ia menoleh pada Faata yang tersenyum mengupahnya.
                “Kita makan.” Sedikit gerogi Ata mengajak Faata, yang diajak mengangguk dengan senyum ringan. Faata bangkit dan menggandeng tangan Ata keluar ruang shalat. Ata tersenyum, sedikit geli. Suami mudanya ini memang benar muda. Tingkahnya suka sedikit aneh dan mengejutkan. Tapi ia begitu menikmatinya. Di meja makanpun, Faata menyerahkan piring dengan sedikit manja. Ia menyikapi dengan tenang, kedewasaannyapun ia kesampingkan sedikit.
                “Rasulallah SAW seringkali bercanda dengan istrinya,” Faata nyeletuk saat Ata menaruh piring berisi nasi yang lumayan banyak di hadapannya. Ata mengangguk tersenyum.
                “Mas juga, kan?” Ata menjetikkan alisnya dengan nada bercanda. Faata sedikit terkekeh. Merekapun makan dengan perbincangan yang diselingi tawa. Mungkin kurang baik memang, tapi Ata menikmatinya. Jarang-jarang kan begitu. Usai makan Ata membereskan meja dengan cekatan, suaminya tidak beranjak. Ia memperhatikan gerak gerik istrinya dengan senyuman.
                “Mmm…baik ya?” Faata memperhatikan Ata yang mengeringkan tangan dengan lap.
                “Apanya, Mas?” Ata menoleh.
                “Kamu, kerjanya baik. Aku suka.” Faata masih menatapnya. Ata tersenyum seperti biasa.             “Kok kerjanya? Yang kerja?” Ata menggoda suaminya mendekat lebih memendekkan jarak mereka.
                “Mungkin lebih.” Faata terdengar gombal. Ata jadi sedikit cekikan.
                “Baiklaah…sepertinya ada yang mulai gombal.” Ata menyentuh bahu suaminya, sepertinya hal-hal kecil seperti ini sudah tidak berat lagi untuk mereka, “Sekarang Mas istirahat, ya? Seharian kerja, capek. Nanti biar saya yang konci semua pintu.” Ia melanjutkan dengan pijitan ringan di bahu itu.
                “Mmm…aku boleh minta ditemani?” Faata berujar tak menoleh.
                “Astaghfirullah…kalimat itu seperti sangat tidak enak. Tentu saja boleh, Mas.” Ata tersenyum, duduk di korsi samping suaminya.
                “Maaf, tapi kali ini…” Faata menahan kalimatnya. Ata jadi lucu melihat ekspresi suaminya. Ia bisa menangkap gurat segan itu masih terukir dalam tingkah Faata. Ia menyentuh tangan suaminya, mengajak lelaki muda baik itu menyelami keadaan mereka.
                “Lanjutkan nanti ya? Baiknya mas Faata fahami benar, apapun drajat dan kedudukan di luar, saya ini istri yang sah untuk mas. Jadi jangan segan atau tak enak, ya? Saya ke dapur sebentar, biar bibi saja yang merapikan rumah.” Ata melepas genggamannya dan bangkit dari korsi.
                Tep!
                Faata menarik pergelangan tangannya. Ia menoleh sedikit heran.
                “Aku … ya, pakai mukenah kalau mau ke dapur.” Ata jadi senyum geli dengan tingkah yang salah pada suguhan suaminya. Tapi ia paham, ia mengiyakan dan mengambil mukenahnya sebelum ke dapur. Setelah urusan selesai Ata menuju kamar, begitu membuka pintu ada yang lain dengan kamarnya. Sedikit lebih rapi dan…wangi. Wangi?
                Diperhatikannya sekeliling ruangan, tapi tak ada sesiapa. Jadi?
                Grep!
                Sepasang lengan melingkar di pinggangnya dari belakang. Ia memastikan bahwa itu adalah Faata, suaminya. Sebuah dagu diletakkan begitu saja di pundaknya, ia menoleh sedikit. Alhamdulillah…tentu saja Faata. Dalam hati Ata tersenyum, apa suaminya panas lagi, ya? Tingkah aneh apa lagi yang akan disuguhkan lelaki muda itu padanya malam ini.
                “Aku mencintaimu.” Setengah berbisik suara Faata mempu membuat darahnya terasa hangat.
                “Ohya?” Ata mengimbangi dengan nada canda. Tapi mungkin kurang tepat sepertinya. Tangan Faata bergerak membuka mukenahnya, dan menaruhnya sembarangan saja di lantai. Sedikit khawatir, Ata ingin sekali merasakan kening suaminya. Apa ada yang salah?
                Faata memutar bahunya hingga mereka berhadapan dengan sempurna. Jarak wajahnya dengan wajah Faata bahkan terhitung senti saja. Melihat tatapan Faata, Ata menelan ludah. Sesungguhnya malam ini, suaminya tidak main-main. Sementara itu Faata menatap wajah istrinya seolah tak ingin lepas. Begitu sayang. Ia mengusap pipi kanan Ata dengan lembut, kemudian menyentuh bibir Ata. Didekatkannya wajahnya pada wajah Ata, kemudian mengecup kening istrinya yang bebas.
                “Shalat sunnat dulu, ya?” Ata lumer mendengar permintaan suaminya. Ketegangan sebentar tadi berpamit dengan perlahan. Faata mengambil kembali mukenah yang ia taruh sembarang tadi dan menyerahkannya dengan senyuman. “Wudhu dulu.” Ia menggerakkan kepala kearah kamar mandi. Sedikit salah tingkah Ata mengangguk dan menuju kamar mandi.
                Yaa Allah…
*_*

                Hampir jam sepuluh malam, Faata menyelesaikan do’anya yang terhitung lebih panjang dari do’a sebelum-sebelumnya. Ata hanya diam menikmati, pahamnya suami mudanya itu tengah berdamai dengan keinginan yang membuncah. Kali itu mereka tidak shalat di ruang shalat seperti biasa, begitu keluar dari kamar mandi Ata sudah menemukan sajadah dalam posisi siap jama’ah di lantai kamar.
                “Sini.” Faata membalik badan, bersila menghadap Ata yang mendekat padanya. ia menyerahkan punggung tangannya juga telapaknya pada istri yang perlahan mulai menguasai hatinya. Dikecupnya kening Ata lembut, kemudian meletakkan telapak tangan kanannya di ubung-ubun Ata, membacakan do’a dengan sedikit dikeraskan. Maka, Ata mengamini dengan hati bergetar, dari do’a itu tau dan pahamlah ia bahwa malam itu, Faata suaminya akan memenuhi kewajibannya.
                Ata menjauhkan wajahnya begitu do’a itu usai. Ditatapnya wajah Faata yang mendewasa dalam waktu begitu singkat. Ia tersenyum mengangguk, dan membuka mukenahnya, melepasnya bagitu saja.
                “Sebentar,” Faata menghentikan gerakannya. Ia menoleh heran, “Itu kewajibanku. Tapi, aku tidak mau melakukannya terburu-buru. Bisa kita berbicara ringan?” Faata melepas kopiahnya. Ata dengan sedikit malu mengangguk. “Tak apa, sini.” Faata menggandenganya ke ranjang.
                “Berbaring saja dulu di dadaku.” Faata menarik istrinya ke dekapannya, Ata sampai bisa merasakan degupan jantung Faata. “Mmm…kau pasti tau kisah Rasulallah SAW dengan Siti Khadijah. Maaf ya, tapi beliau seperti kita. Aku tidak merasa seperti sang mulia Rasulallah SAW, tapi kau cenderung seperti Khadijah.” Faata memberi jeda, Ata diam menelan ludah memberikan kesempatan seluruh untuk kelanjutan kalimat suaminya.
“Khadijah adalah wanita yang dipastikan surga baginya oleh Allah. Ia adalah wanita yang menjadi panutan untuk seluruh wanita hingga akhir zaman. Khadijah wanita yang lembut dan selalu berbakti pada suaminya, meskipun suaminya lebih muda darinya. Jauh…” Faata kembali mengambil nafas. “Khadijah yang shalihah, memberikan kepercayaan sempurna pada suaminya, bahkan mengakui suaminya seorang Nabi yang ketika itupun Nabi SAW belum mempercayainya. Khadijah yang merawat dan menggandeng lengan Nabi SAW kapanpun dan dimanapun.” Jeda lagi, kali ini lumayan lama. Ata merasakan usapan sayang pada ubun-ubunnya. “Dia…adalah kamu dia bagiku.” Dada Ata terasa tak berdetak sekejap, “Aku sangat-sangat bersyukur bisa bersanding denganmu. Mau kalau kau kupanggil Khadijah?” Faata menunduk sedikit menatapnya, Ata mengangguk dengan senyuman. “Tapi…aku akan lebih nyaman memanggilmu sayang, tentu saja.” Ata terkikik mendapati nada Faata dalam kalimat terakhirnya.
                “Kok ketawa? Ada yang lucu, ya?” Faata merenggangkan tubuhnya, menunduk menatap wajah Ata.
                “Tidak ada, lucu dengan nadanya saja.” Ata masih cekikikan.
                “Sini, kepalanya setara saja. Sepertinya aku sangat betah melihat wajahmu.” Faata merapikan bantal di samping bantalnya. Ata mengikuti saja, ia mempertahankan senyuman. Faata menatapnya dalam.
                “Jangan natep gitu, ah. Risih tau.” Ata mencubit ringan lengan Faata yang bebas.
                “Aih, sudah berani ya?” Faata menarik tangan Ata yang mencubitnya kemudian menggenggamnya. Suasananya yang mencair tadi mendadak sunyi, seperti di sinetron-sinetron mereka bertatapan lama. Faata tersenyum.
                “Ayooolah…jangan membuatku semakin jatuh cinta padamu, Sayang…” Faata menarik tubuh Ata ke pelukannya, hingga benar-benar menyatu.
                “Mmm…jadi tidak boleh membuat suami jatuh cinta pada istri?” Ata menggoda, Faata tersenyum renyah dibuatnya.
                “Tidak, sampai kau tau rasanya…” Faata jadi ikut terdengar lucu. Ata menanggapi dengan tawa renyah…selanjutnya…ayolah…pada tau semua, kan. ^^
*_*       

                “Kenapa?” Ata tergagap kaget saat suara Faata menariknya kembali dari ingatannya tentang kejadian tadi malam.
                “Oh, tidak ada.” Ata salah tingkah. Ia bangkit dari duduknya.
                “Eit.” Faata menarik pergelangan tangannya. “Kenapa ditinggal shalat dhuha?” Faata memberatkan suaranya, Ata jadi semakin salah tingkah. Ia menoleh, kemudian memasang senyum semampunya.
                “Mas tidur lelap, tak enak mengganggu.” Ata beralasan, Faata duduk bersila masih digenggamnya pergelangan tangannya.
                “Duduk.” Pinta Faata sedikit kecut. Ata menuruti dengan cepat, ia duduk di pinggiran ranjang dengan menunduk. “Bagi berkahnya.” Faata kembali bersuara perintah, Ata mengangkat wajah heran mendengar perintah itu. “Bagi berkah…itu tangannya sudah dipakai berdo’a, kan. Usap!” Faata mengangkat sedikit wajahnya. Ata heran bukan main. “Ayo, sayang. Perintah!” Faata menutup matanya. Atapun mengikuti saja. Ia mengangkat kedua tangannya dan mengusapkannya ke wajah Faata dengan pelan.
                “Alhamdulillah…” Faata membuka matanya dan menggenggam kedua tangan Ata yang masih di wajahnya. “Terimakasih banyak…” Ucapnya dengan senyum, “Jangan takut, aku tidak marah, Sayang.” Lanjutnya ringan. Ata melepas nafas ringan, kemudian tersenyum.
                “Maaf, Mas. Lain kali saya perbaiki.” Ata tersenyum. Faata mengangguk-angguk dengan tatapan lucu.
                “Ohya…sepertinya selain tangan, semuanya dipakai buat Dhuha, ya?” Faata melirik nakal.
                “Maksudnya?” Ata heran.
                “Bagi berkah. Hehe” Faata nyengir.
*_*

                Kuperhatikan setiap warna pada wajah Teteh yang terpancar pada tiap cerita. Mereka hebat. iri, tapi aku benar-benar salut. Selanjutnya Teteh bercerita tentang kelahiran putra putri mereka yang membuatnya merasa sempurna menjadi wanita.
                “Memberikan anak untuk suami membuat saya merasa sempurna menjadi wanita, Alin. Sungguh…Rasulallah SAW juga pernah mewasiatkan kepada kaum lelaki untuk menikahi wanita yang baik dan yang bisa memberikan banyak keturunan padanya.” Teteh menerawang, waktu sahur sebentar lagi imsak. Aku tertegun, menyelami makna-makna indah pada semuanya.
                “Makan sahur, Alin. Padanya ada barokah, Sayang.” Teteh mengingatkan, aku sedikit kaget dan kuturuti ucapannya. Akupun mengundurkan diri dari dunia yang baru saja diputar ulang dengan kalimat apik yang lembut oleh Teteh. Pintu kututup rapat dan melangkah ke ruang dapur, menyiapkan sahur sendiri, seadanya. Kuputuskan sekerat roti tawar dan segelas susu hangat saja.
                Sunyi.
                Entah kenapa rasa yang aku tak tau apa merknya berkunjung tanpa tiket ke aula hati. Dengan rasa tawar roti yang kukunyah tak minat, mataku menerawang, fikiranku berkelana. Jauh, ke masa lalu.
                Seandainya…ya, seandainya aku adalah Khadijah itu…
*_*
                Pagi, aku menggelar sajadah Dhuha di samping ranjang Teteh yang tampak terlelap pucat. Kuserahkan diriku, nyawaku dan seluruh keadaanku pada pemilik Sang Agung. Kutuangkan segala do’a keselamatan standar yang bisa kuucap dan kupahami untuk Teteh. Semoga wanita mulia ini bisa menjalani semuanya dengan baik, lembut…sebaik dan selembut ikhlas Khadijah yang dipeliharanya. Aamiin…
                Usai Dhuha, aku keluar kamar, melangkah ke teras belakang. Suasana pagi yang begitu sejuk. Matahari baru sepenggalah, meski terasa mulai sedikit menyengat rasanya berjuta syukur disuguhi ini oleh Yang Esa. Akupun duduk di teras dengan lepas, menjulurkan kaki yang terasa berat. Menikmati angin pagi segar dengan irama gesekan daun mangga dan papaya. Nyaman.
                “Alin…” Aku tergagap mendapati Teteh telah duduk di sampingku, ia tampak sangat cantik. Sangat berbeda dengan yang kutinggalkan di kamar barusan. Entah kapan ia kesini. Ia tersenyum dengan mata bening yang mendebarkan. Aku menelan ludah, serasa berhadapan dengan malaikat.
                “Teteh…kenapa keluar?” Aku bertanya heran. Ia masih tersenyum. Tak menjawab pertanyaanku ia malah mengalihkan pandangan pada langit dan menaruh kepalanya di bahu kananku. Ia memang duduk di samping kananku. Aneh. Aku tak merasakan beban sama sekali di bahuku, tapi wangi Teteh begitu menyerang hidungku. Wanginya beda.
                “Allah telah memilihmu menjadi pengganti saya, untuk suami saya, anak-anak saya dan seluruh keluarga saya.” Teteh membuka suara, terdengar segar. Aku mendengarkan, ikut memperhatikan langit. “Saya tau, kamu dan saya sungguh sangat berbeda. Kamu adalah gadis yang sedikit keras kepala dan sering bertingkah seenak hati saja.” Aku merenggut dalam hati pada kejujuran ini, “Tapi Allah sungguh, pastinya tidak akan salah pilih. Jadi, saya ikhlas kamu menduduki singgasana saya sepeninggal saya nanti, Alin.” Kau bisa merasakan senyum seseorang meskipun tanpa melihatnya langsung? Aku rasa, kali ini aku bisa. Dan aku pastikan, Teteh tersenyum saat ini.
                “Jadi, jangan merasa tidak enak. Jangan goyah pada apapun setelah ini, Alin. Akan banyak pastinya tanda kasih sayang yang akan Dia berikan padamu dan mas Faata. Tapi sesungguhnya, Allah akan berikan jalan keluarnya. Cintailah suami kita, baktilah dengan seluruh bakti yang kamu miliki. Karena sesungguhnya Rasulallah SAW pernah bersabda, bahwa jika diibaratkan hak seorang suami pada istri itu…seandainya seorang suami sakit cacar, dan sang istri menjilati nanah pada seluruh tubuh suaminya maka itu belum cukup untuk membayar hak suami pada istri.” Bening suara Teteh membuat ludahku tertelan seketika, aku mengerjapkan mata, takjub.
                “Pada hadits lainpun Rasulallah SAW bersabda, kurang lebih…jika Allah mengizinkan hamba-Nya untuk menyembah makhluk, maka akan kuperintahkan para istri untuk menyembah suaminya.”
                Subahanallah…
                “Tapi Allah tidak membenarkan hamba-Nya menyembah selain Dia. Tapi kamu bisa mengambil apa yang saya inginkan kan, Alin?” Tanya Teteh.
                “Insya Allah, Teh. Saya akan berusaha.” Jawabku, dan kembali kurasakan Teteh tersenyum. Akupun merasa lumayan lega.
                “Anak-anak…Fatimah, Ibrahim dan Hindun. Mereka akan menjadi anak-anakmu. Meskipun bukan dari rahimmu, tapi berlakulah sebagai ibu yang baik. Karena mereka adalah anak, darah daging suamimu. Baktimu adalah mendidik keturunan suamimu menjadi baik, menjaga hartanya dengan baik dan menjaga kehormatanmu ketika ia tidak di rumah. Maka jadikanlah mereka hamba Allah yang baik, jadi ummat Muhammad SAW yang diberikan safaat, menjadi panutan untuk ummat. Karena sesungguhnya Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.”
                “Tapi saya tidak seperti Teteh. Saya tidak begitu tau tentang agama,” Aku sedikit ragu.
                “Barang siapa yang diinginkan Allah untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikannya pemahaman agama. Insya Allah…niat yang baik, Allah pasti akan menolongmu.” Mendengar itu aku jadi kembali tenang.
                “Alin, jadilah wanita yang cantik karena akhlak, yang manis karena sopan santun, yang ramah karena ibadah, yang menarik karena ibadah, yang mulia karena hijab, yang terhormat karena bakti pada suami. Karena hal-hal yang tidak berguna akan menjerumuskanmu pada penyesalan di akhirnya. Carilah yang baik di akhir dengan tumpang tindih pada awal, jangan sebaliknya. Kamu paham?!”
                Mata Teteh seperti menusuk hatiku. Aku mengangguk dengan pandangan tak berkejap, teteh tersenyum menggenggam tanganku. Rasanya sangat nyaman meski tangan itu begitu dingin.
                …
                “Alin!!!” Panggilan keras dari ruang tengah membuatku tergagap. Suara mas Faata. Ia sudah kembali. Aku menghela nafas dan bergegas bangkit. Teteh…astaghfirullah…bukankah tadi Teteh di sampingku? Genggamannya masih aku rasakan saat suara mas Faata memanggilku. Um, mungkin sudah ke kamar. Apa iya?
                Aku bergegas ke ruang tengah, tak ada sesiapa disana. Akupun ke kamar Teteh, disana kutemukan mas Faata tampak sibuk membersihkan wajah Teteh. Ada tiga orang anak kecil, Fatimah, Ibrahim dan Hindun tampak duduk dengan mata berkaca di sekitar Teteh. Aku segera masuk.
                “Teh…?” Aku tercekat. Kulihat kain yang dipegang mas Faata memerah dengan darah. Darah? Bukankah tadi…
                “Kamu dari mana, Alin? Kenapa meninggalkannya sendirian?” Mas Faata bertanya dengan wajah tetap fokus pada wajah Teteh yang pucat pasi.
                “Aku…tadi bicara dengan Teteh di…”
                “Sudah, sudah…ambilkan air hangat dulu.” Ya…siapa yang akan percaya padaku jika keadaannya seperti ini????
                Dan Teteh?
*_*
                “Saya ingin bersama anak-anak saya, malam ini.” Teteh berkata pelan memberi perintah dengan pandangannya agar kami meninggalkan mereka berempat di kamar. Aku menoleh pada mas Faata yang mengangguk. Kamipun keluar. Seluruh pembantu tetap di rumah telah datang sore tadi. Mereka tampak sangat kusut. Akupun tak tau harus berbuat apa.  
                “Shalat tarawih dulu, yuk!” Mas Faata membuka suasana. Akupun tersadar, kami hanya berbuka dengan air putih saja tadi.
                “Anak-anak bagaimana, Mas?” Aku jadi teringat Fatimah, Ibrahim dan Hindun.
                “Tidak apa-apa, nanti bisa belakangan.” Akupun mengikuti langkah mas Faata ke ruang shalat. Selama shalat Mas Faata seperti begitu kuat. Suaranya lantang dan fashih seperti biasa. Tak ada yang membuat berbeda kecuali perasaan kami. Perasaan orang-orang yang sebentar lagi akan ditinggalkan.
                Begitukah?
                Usai tarawih, mas Faata memintaku meninggalkannya sendiri di ruang shalat. Aku paham, ia tentu butuh waktu untuk menjadi kuat meski ia adalah seorang lelaki yang mengagumkan. Akupun keluar, kurasakan perutku keroncongan. Sahur seadanya, bukapun seadanya. Kuputuskan untuk mencari sedikit penjanggal perut di dapur.
                “Jadi baiklah kamu seperti Fatimah. Nama itu adalah do’a, kamu tau kan, Sayang?” Samar kudengar suara Teteh saat melewati kamar. “Begitu juga Ibrahim, dan Hindun.”
                “Ibu…mau kemana?” polos, sepertinya suara Hindun.
                “Ibu mau menemui Allah…Ibu pernah cerita sama Hindun kan dulu? Bahwa kita ini milik Allah…dan akan kembali pada Allah…Hindun ingat, Sayang?” Suara Teteh seperti angin sejuk.
                “Ingat, Bu. Jadi, Ibu akan kembali kapan?” Aku terenyuh, kurasakan mataku mulai buram.
                “Ibu tidak kembali, Dek.” Ibrahim sepertinya, “Ibu akan menunggu kita sampai menemui Allah juga.” Terdengar dewasa sekali anak itu.
                “Jadi Ibu mau nunggu Hindun, kak Baim, kak Fat juga Aby disana? Ibu tidak kesepian?” Hindung masih polos, “Ibu tidak kasian kalau kami kangen?” Lagi.
                “Tidak, Sayang. Kan Ibu ditemani Allah, juga malaikat dan amal-amal Ibu. Ibu kan pernah cerita kalau orang meninggal itu amalnya yang menemaninya.”
                Sunyi.
                “Jadi Ibu mau meninggal?” Kali ini suara Hindun bergetar. Entah apakah ia mengerti atau tidak, tapi menurutku meninggal itu adalah hal yang tidak menyenangkan buatnya. Dan tidak ada yang menjawab pertanyaannya, “Ibu akan dipakaikan kain putih dan ditimbun tanah? Seperti cerita-cerita ibu dulu?” Hindun kecil mulai menangis. Tak ada yang menjawabnya. Entah takut atau tak tau hendak katakan apa.
                “Tidak apa-apa, Dek.” Suara Fatimah, “Kita semua juga akan begitu…” Dengan terisak Fatimah menenangkan. Anak-anak yang baik.
                “Kata Ibu, kita tidak bisa menolak kalau sudah saatnya.” Hindun semakin terisak, “Allah marah kalau Ibu minta waktu sebentar? Sebentar lagi lebaran, Hindun mau sama Ibu. Baju baru yang sama. ibu sudah bilang mau belikan baju yang sama buat Hindun dan kak Fat, kan?” Aku menangis.
                “Iya, Sayang…sini, peluk Ibu.” Kudengar suara Teteh bergetar, “Allah mau Ibu datang sebentar lagi. Tenang saja, Ibu sudah pesankan di tukang jahit langganan Ibu, lebaran besok, Hindun dan kak Fat akan memakai baju yang sama. nanti Ibu salamkan sama Allah ya?”
                “Ibu…tidak takut? Mau Hindun temani?” Aku terisak.
                “Tidak…kan Ibu sama amal. Menurut Hindun, Ibu baik atau tidak?”
                “Yang terbaik…” Setengah berbisik, suara Fatimah.
                “Tentu saja…Ibu yang paling baik.” Hindun manyahut…
                “Jadi amal Ibu, banyak atau sedikit?”
                “Banyak sekali, Bu. Tapi Hindun lupa menghitungnya.”
                “Jadi…kira-kira…”
                “Amal Ibu pasti akan jadi teman yang baik. Seperti amal sahabat yang Ibu sering ceritakan.”
                “Hindun cerdas…jadi Hindun tidak perlu khawatir. Dan tidak perlu menangis…ya?”
                Diam sejenak.
                “Bu…kata Aby, Hindun punya Ibu lagi.” Aku tertegun.
                “Ya, Sayang…yang sama Aby tadi. Dia yang…”
                “Dia yang akan jadi Ibu kak Fat dan kak Baim juga?”
                “Tentu saja, Sayang. Dia orang yang…”
                “Kenapa harus jadi Ibu Hindun? Bagaimana kalau dia aja yang pergi ke Allah terus Ibu diam sama kita…?”
                Dugh!
                “Hindun tidak suka Ibu yang lain…”


DIA AKAN CINTA(9)__Aku Ikhlas, Aku Ridha

                Aku melangkah lemas sembari menghapus air mataku. Rasanya begitu perih mendengar ucapah Hindun barusan. Gadis polo situ tidak menerimaku menjadi ibunya? Yaa Allah…bagaimana ini? Akan sangat sulit mendekatinya, tentu saja. Apalagi dalam usia yang begini. Dan, masih belumlah…
                “Kamu kenapa?” Aku tergagap mendengar suara mas Faata yang ternyata berdiri tak jauh dariku. Aku menelan ludah. Jelas, ini tak boleh ia ketahui.
                “Tak ada, Mas. Mas udah makan?” Tanyaku mengalihkan perhatian. Ia memperhatikan gelagatku yang tidak biasa. Aku jadi salah tingkah.
                “Jangan berfikir macam-macam.” Ia berujar sembari berlalu, aroma khasnya menerpa indra penciumanku. Aku meringkuk dalam hatiku.
*_*
                Hampir tengah malam, suasana di rumah ini masih seperti sebelum-sebelumnya. Diselimuti kesedihan. Aku merenung di lantai dua, beranda. Menatap bintang yang seolah enggan pergi.
                Fyuuuuhhhh
                Kuhembuskan nafas berat. Akan terjadi apa esok hari? Atau nanti, Allah sajalah yang tau. Benarkan Teteh akan secepat ini pergi? Dan kenapa ia begitu yakin akan segera pergi? Kejadian tadi pagi kembali terputar di ingatanku. Astaghfirullaah…mungkinkah dia bukan Teteh? Tapi, siapa jika bukan?
                Teng, teng, teng.
                Jam besar di lantai dasar terdengar samar-samar, sudah jam tiga. Lebih baik turun, membantu bibi menyiapkan makan sahur. Akupun menarik langkah menyusuri ruangan-ruangan kecil di lantai dua yang sengaja dibangun sederhana sepertinya. Kuturuni tangga dengan tampang lusuh.
                “Tidak apa-apa, saya mampu, Mas.” Samar kudengar suara Teteh dari dalam kamarnya. Ah, dia sedang bersama mas Faata sepertinya. Lebih baik aku tidak usah dengarkan. Akan semakin runyam perasaanku nantinya. Dan aku akan tidak tau memberi merk apa padanya.
                “Tidak, aku tidak menginginkan kamu melakukan itu.” Kali ini suara mas Faata. Hening, kakiku terasa berat. Harus, mesti kudengar.
                “Maafkan saya, Mas. Saya sudah menyusahkan banyak orang.” Suara Teteh bergetar. Aku kaku.
                “Tidak, Sayang. Sama sekali tidak. Kamu tidak menyusahkan siapapun.” Mas Faata terdengar sangat lembut. “Kamu adalah tanggung jawabku!” Kali ini lebih tegas, aku sampai bisa merasakan auranya hingga ke hati.
                “Terima Kasih. Kau sungguh imam yang baik.” Pasti teteh tersenyum saat ini.
                Hening beberapa, saat.
                “Tidak, kau tidak boleh menangis, Mas.” Aku menelan ludah, “Air mata ini menurunkan wibawamu.” Teteh sepertinya sedang mengusap air mata mas Faata. Tapi tak ada sahutan. Aku lebih mendekat ke pintu. Malam masih sunyi, aktifitas dapur tertelan disana saja.
                “Ayolah…kita ini milik Allah, dan akan kembali pula pada-Nya. Kenapa harus ditangisi? Tidak sekarang, esok, atau entah kapan, semuanya akan kembali pada Allah, kan?” Teteh manyusut sendu.
                “Aku masih ingin sekali mencari orang itu.” Mas Faata terdengar bergetar.
                “Astaghfirullahal’azhiem…mas masih menyimpan perasaan seperti itu?” Aku mengerutkan alis. Maksudnya?
                “Tidak bisa semudah itu aku memaafkan orang yang telah mencelakaimu.”
                “Beristighfar, Mas. Ini semua tentu sudah diatur oleh-Nya. Sudahlah, dendam itu tidak baik.” Teteh terdengar enggan. Tidak menyukai sikap mas Faata sepertinya. Dendam?
                “Yaa Allaah…seandainya sajaa…” Mas Faata kembali terdengar menangis.
                “Menjauhlah, Mas. Saya seperti tidak mengenalimu.” Suara Teteh kuat. Aku menelan ludah. Kembali hening.
                “Maafkan aku…” Suara mas Faata, kemudian tapak kaki. Aku harus segera pergi. Tapi rasanya telapak kakiku terpaku. Dan…
                Cklek!
                Pintu terbuka, aku dan mas Faata sama-sama kaget, dari dalam Tetehpun sama.
                Bagaimana ini?
*_*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar