DIA AKAN CINTA(7)__kembali pada
dulu
“Bagaimana menurutmu?” Teteh
melepas jilbabnya perlahan, aku menelan ludah demi melihat wajahnya dengan
kepala pelontos itu. ya, menurutku mahkota wanitanya telah diusir dari
singgasananya oleh penyakit yang dideritanya. Aku tersadar dan berusaha
tersenyum.
“Tidak apa, Teh.” Aku berujar
kuusahakan wajar.
“Saya sudah tidak menarik lagi,
bukan?” Ia menyelami mataku dengan lembut. Dengan sigap aku menggeleng.
“Teteh tetap cantik!” Ucapku
dengan tatapan yakin, “Cantik itu kan relative. Teteh sangat cantik dengan
kelebihan yang jelas!” Aku menggenggam tangannya meyakinkan. Ia mengulum senyum
sedikit malu. Astaga…cantik sekali pipi merona itu. aku tiba-tiba jadi merasa
iri. Pastilah mas Faata seringkali melihat pipi itu merona dan terkesan pada
indahnya.
“Kamu pintar!” Pujinya, sekarang
giliranku tersenyum, “Kita bisa bicara dari hati ke hati kan, Alin?” Tanyanya
menggenggam jemariku. Aku tersenyum, mengangguk.
“Tentu, Teh.” Jawabku.
“Kenapa kamu berubah, Sayang?”
Ia menyusuri tatapanku. Berubah? “Jangan menunjukkan wajah heran itu. Saya
mengenalmu bahkan sebelum kamu bisa mengenal orang.” Ujarnya. Aku menahan
nafas. Perubahan itu, bahkan disadarinya. Aku memberi jeda, menyilahkan
kesunyian menyusup diantara kami.
“Alin itu bukan kamu.” Ia
menggetarkan hatiku, aku menunduk. “Yang saya tau Alin itu ramah, ceria, supel,
pandai bergaul, pintar dan disenangi banyak orang.” Ia seolah mengingatkan
kembali, atau memang benar begitu.
“Kita harus peka pada hidup,
Teh.” Ucapku masih menunduk, “Pepatah mengatakan, masuk kandang singa mengaum,
masuk kandang kambing mengembik.” Lanjutku.
“Jadi benar dugaan saya, kamu
merubah diri saat meninggalkan panti, kan?” Ia berujar tanpa butuh jawaban.
“Apakah … menurutmu, maksud saya apa tujuanmu melakukan itu?” Tanyanya mencari
tatapanku. Tapi aku masih betah menunduk.
“Aku melindungi diri.” Jawabku
jujur. Kudengar ia menghembuskan nafas.
“Ya…benar alasan yang kamu
berikan, Alin. Tapi dengan begitu kamu menjadi asing. Bukan hanya bagi mereka
tapi bagi dirimu sendiri.” Ia menyentuh hatiku dengan suara lembutnya.
“Mungkin…” Aku berujar pelan.
“Tidak bisakah kamu menjadi
dirimu sendiri sekarang?” Pintanya terdengar berharap, kuberanikan diri
mengangkat wajahku dan menemukan mata bening itu, “Kamu merasa terancam dengan
saya dan Mas Faata?” Ia membuatku menggeleng kuat-kuat, bagaimana bisa aku
merasa demikian.
“Semuanya terserah padamu, Alin.
Hanya saja saya berharap yang terbaik , selalu.” Ia mengusap kepalaku. Aku
tersenyum mengangguk. “Baiklah, kamu sudah siap?” Tanyanya menarik kembali
tangannya. Aku mengerutkan alis tak mengerti. Ia menarik nafas sebentar,
mengenakan kembali jilbabnya dan mulai bergerak mundur.
*_*
Gadis itu bernama Purnama Anata
Mulya. Dia terlahir dari keluarga baik-baik dan sederhana. Amat sederhana
malah. Ayahnya seorang petani dengan sawah sewaan, ibunya seorang tukang jahit.
Dan gadis yang sedari kecil biasa dipanggil Ata ini hanyalah satu-satunya anak
mereka.
Awalnya kehidupan mereka
damai-damai saja. Meski tidak mewah, mereka pandai bersyukur. Setiap malam
terdengar lantunan ayat suci Al Qur’an dari gubuk kecil mereka. Keterbatasan
keluarga mereka tidak membuat mereka minder dan menjauh dari masyarakat. Malah
keluarga mereka terkenal ramah dan baik hati. Tidak berat memberi meski harta
yang dimiliki tak sampai ada karat.
Masalah timbul ketika Ata kelas 2 sekolah menengah keatas. Ayahnya yang pergi
ke sawah dalam keadaan sehat wal afiat ditemukan jatuh di pematang sawah. Dan
meninggallah petani baik hati itu. perlahan sejak ditinggal ayahnya, kehidupan
Ata dan ibunya terasa semakin sulit. Sawah yang disewakan beruntung masih
bersisa lima tahun lagi. Hanya Ibunya sendiri yang mengurus. Dan karena belum
terlalu bisa dan terbiasa karena semasa suaminya masih hidup ia hanya di rumah
menjahit, jadilah penghasilan yang didapat tidak terlalu banyak. Selain itu,
gara-gara memaksakan diri, ibunya seringkali jatuh sakit karena kecapaian.
Hal itulah yang membuat Ata serius belajar. Selulus SMA ia giat membantu
ibunya di sawah. Ia mempelajari ilmu bertani dari buku, guru-guru dan
petani-petani sekitar kampung. Ia juga mempelajari tentang tanah, bagaimana
merawat, menggunakan dengan baik dan seterusnya. Ata mulai mengenalkan diri
pada tumbuhan-tumbuhan, hama-hama, obat tanaman dan perawatan yang baik.
Maka dua tahun setelah itu berhasilah Ata menjadi petani termuda yang lumayan
sukses. Padi yang tanam tumbuh menjadi padi terbaik di kampung, jagung,
kacang-kacangan, sayuran, semuanya membuahkan syukur tiada tara baginya. Kemudian
dari hasil perdagangan semua itu, ia menyewa sawah lain lagi, kemudian berani
menawar harga untuk membeli, berani mempekerjakan orang. Dan pada usianya 22
tahun, ia sudah menjadi pedagang sukses yang kaya raya. Dialah yang paling kaya
di kampungnya. Ibunya bangga tak terkira dengan sepak terjang putri tunggalnya.
Ditambah lagi putrinya itu tidak sombong dan sangat dermawan. Maka Allah
tambahkan pula rizkinya tiap hari.
Tiga tahun, saat Ata telah berhasil membeli rumah di kota, punya dua
sedan. Tapi ketika ia akan membawa ibunya pindahan ke kota, dalam perjalanan ia
mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang menewaskan ibunya. Sedangkan Ata malah
tidak mengalami luka yang begitu berat. Maka, jadilah ia menyalahkan dirinya
sendiri karena kematian ibunya. Ia seperti orang stress. Menangis sejadinya,
kadang merenung seharian penuh. Sampai ia dibawa oleh keluarganya yang lain ke
psikiater. Dan dirawat tiga bulan disana.
Gadis malang itu kembali ke dunia seharusnya dengan luka di hati yang
tidak pernah kering. Tapi beruntunglah ia, karena iman yang ditanamkan kedua
orang tuanya sejak kecil berhasil menyokongnya kembali. Ia memutuskan untuk
mengenakan jilbab. Mendekatkan diri pada Allah. Sering mengikuti
pengajian-pengajian, memperbanyak koleksi buku agama sampai belajar pelan-pelan
menghafal Al-Qur’an.
Subahanallah.
Bisnis dagangnyapun kembali ia tangani. Pekerjanya yang tersisa sangat
segan padanya, mungkin karena Ata memang tidak pernah berlaku tidak baik pada
mereka. Maka jadilah ia Ata Mulya pedangan kaya raya kembali.
Tapi, tentu saja. Dibalik kesuksesan yang diraihnya ada saja cara Allah
menunjukkan kasih sayangnya. Entah karena kurang menarik, atau terlalu jauh
melampaui yang lain, jarang sekali lelaki mendekatinya. Hanya beberapa itupun
hanya terkesan memandang harta, ada pula yang menjadi segan karena pengetahuan
Ata. Meski, Ata tidak pernah mengecap bangku perguruan tinggi.
Hingga usianya berkepala tiga, ia tak juga menikah. Karena sibuk dengan
usahanya Atapun seperti tidak terlalu memikirkan itu. hingga suatu Ramadhan
seusai shalat tarawih ia tertidur diatas sajadahnya. Dan ia bermimpi bertemu
dengan almarhumah Ibunya. Dalam mimpi itu Ibunya membelai kepalanya dengan
penuh kasih sayang.
“Allah begitu sayang tampaknya padamu, Nak!” Begitu ujar Ibunya. Ata
tersenyum di pangkuannya. “Bisnismu lancar, ibadahmu baik, pergaulan dengan
sesamamupun halus. Ibu bangga padamu!” Ibunya melanjutkan. Ata merasa melayang.
“Ibu memperhatikan saya?” Tanya Ata memejamkan mata.
“Tentu saja, Nak.” Ibunya menjawab sambil terus mengelus rambut panjang
Ata, keheningan tercipta sesaat. “Kamu…tidak ingin menikah, Nak?” Tanya Ibunya
lagi menitipkan peniti kecil yang menusuk hati Ata ketika mendengar pertanyaan
itu. Atapun tidak menjawab, ia hanya diam.
“Menikah itu adalah sunnah Rasulallah SAW. Sempurnakanlah agamamu dengan
pernikahan, Nak. Usiamupun sudah sangat dewasa. Jika kamu menunda lagi, sungguh
akan sulit untuk menemukan orang yang cocok bagimu.” Ibunya memberi nasihat.
“Jodoh itu kan Allah yang mengatur, Bu. Salah satu takdir yang tidak bisa
diubah. Karena ia mutlak. Dengan siapa saya akan menikah, Allah sudah
menentukannya.” Ata berasumsi.
“Kamu benar, Nak. Jodoh memang di tangan Allah. Tapi jika kamu tidak
mengambilnya, maka ia akan tetap berada di genggaman-Nya.” Ata tertegun
mendengar kalimat ibunya, “Allah menciptakan kita berpasang-pasangan, karena
tidak ada seorangpun yang sempurna. Kita membutuhkan orang lain dalam hidup
kita. Seperti Ibu membutuhkan Ayahmu, Ayahmu membutuhkan Ibu. Dan juga
orang-orang lain, termasuk kamu.” Ata menyerapi tiap kata Ibunya, “Jodoh memang
telah diatur Allah, Nak. Tapi cepat dan lambat kita mengambilnya Allah tentukan
pada usaha kita.”
“Bu…”
“Menikahlah, Nak.”
Seketika itu Ata bangun dengan perasaan terenyuh. Mimpi itu pastilah
suatu petunjuk baginya. Maka, setelah itu Ata mulai serius mencari lelaki yang
ia rasakan pantas untuknya.
Beberapa bulan kemudian, bertemulah Ata dengan seorang guru. Lelaki
berkaca mata minus tipi situ bernama Imam. Karena baik, lembut dan tulus
hatinya, maka jatuh cintalah Ata pada lelaki itu. dan tidak dipungkiri, Imampun
jatuh cinta padanya. Awalnya mereka bertemu di halte bus. Kebetulan saat itu
Ata tidak membawa mobil, karena mobilnya masuk bengkel. Satu lagi digunakan
pekerjanya untuk mengangkut barang karena truk-truk terpakai semua.
“Assalamu’alaikum!” Imam menyapanya dengan santun, ia menoleh tersenyum
menjawab salam sempurna. “Pulang kemana?” Tanya guru SD itu ramah. Ata menjawab
seadanya, “Hujan akan segera turun. Anda bawa payung?” Tanya lelaki itu lagi.
Ata menggeleng.
“Tidak sempat.” Jawabnya singkat.
“Buru-buru ya tadi?” Guru itu masih ramah. Ata tersenyum mengengguk,
“Anda boleh pakai payung saya!” Ia menyodorkan payung berwarna biru tuanya. Ata
mulai merasa ketulusan lelaki di sampingnya.
“Tidak perlu. Nanti juga naik bis.” Ata menolak sopan.
“Naik dan turunnya?” Imam mencari celah.
“Anda sendiri bagaimana?” Ata tersenyum melempar alasan abstrak. Imam
tersenyum menggeleng.
“Antibodi saya kuat.” Ia berkata dengan Percaya Diri tinggi.
“InsyAllah, sayapun begitu.” Ata masih menolak saja.
“Baiklah.” Imam mengalah, menyimpan kembali payungnya, “Kenapa tidak
dijemput suami?” Tanya Imam memperhatikan langit mendung, Ata menelan ludah
dalam diam. Karena tak dijawab, Imam menoleh padanya, “Maafkan jika pertanyaan
saya tidak sopan.” Ucapnya dengan tulus. Ada dua kemungkinan tentu jika wanita
seusia Ata tidak dijemput suami. Pertama, suaminya meninggal atau bercerai
kedua dia belum menikah. Dan dua-duanya sangat tidak menyenangkan, bukan?
“Tidak apa-apa, saya belum menikah.” Ata berlapang dada dengan senyum
tenang. Imam menyaksikan hal yang luar biasa pada wanita itu. hatinya jadi
kagum. “Anda?” Ata bertanya balik.
“Hehe” Imam terkekeh sedikit, “Dua bulan lalu istri saya meninggal karena
jatuh di kamar mandi,” Terdengar tenang saja Imam menjawab begitu, Ata tertegun,
“Ia mengandung delapan bulan saat itu.”
Innalillah…
Dan akhirnya mereka satu bis, berbagi bersama. Ata mulai menikmati dekat
dengan Imam. Imampun demikian. Setiap hal yang dinikmati berdua terasa
menyenangkan dan tidak membosankan. Cara Imam menghargai dan memperhatikannya,
mengajarkan Ata meniti pelan benang cinta itu. tapi satu kesalahan terbesar Ata
ketika itu, ia tidak jujur pada Imam. Ata tidak memberitahu Imam tentang siapa
dia. Yang Imam tau Ata seorang wanita pekerja kantoran biasa, bukan Ata sang
pedagang kaya.
Maka, karena alasan itulah Ata harus kehilangan Imam.
Hari itu sama hujannya dengan enam bulan belakangan sejak perkenalan
mereka. Imam mencari Ata di tempat biasa mereka bertemu. Lama menunggu Ata tak
juga datang, karena ketika itu Ata sedang bermasalah dengan salah satu
konsumennya yang mengatakan pesanannya didapat dalam keadaan buruk. Bukan
masalah besar bagi Ata, karena ia tinggal mengganti saja barang-barang untuk
orang itu, Ata memang menjaga betul perasaan konsumennya. Tapi ternyata
konsumennya yang itu begitu cerewet, Ia meminta ganti dua kali lipat. Dengan
banyak pertimbangan, Ata bernegosiasi. Tak diketahuinya Imam mencari
kediamannya. Bertanya pada beberapa orang, dan akhirnya sampai di depan gerbang
megah rumahnya. Entah bagaimana kagetnya Imam ketika itu.
“Maaf, Bu. Ada yang mencari di luar.” Salah satu pembantunya memberitahu.
Ketika itu urusannya dengan konsumen cerewetnya baru saja kelar.
“Siapa, Ri?” Tanyanya sopan.
“Kurang tau, Bu. Laki-laki, pakai kaca mata.” Ata terkejut mendengar kata
Nuri pembantunya. Ia jadi teringat janjinya dengan Imam. Dan iapun segera
menemuinya. Ketika itu Imam menyambutnya dengan senyuman. Perasaan tak enak
hingga membuat Ata eneg semakin memakannya.
“Asalamu’alaikum” Sapa Imam dengan wajah yang sedikit basah terkena
gerimis.
“Wa’alaikumusslam wr. Wb. Bagaimana bisa sampai disini?” Ata bertanya
pelan terbata.
Sedang
lelaki itu masih tersenyum.
“Tidak bolehkan mengetahui
kediamanmu?” Tanya Imam menatap mata Ata. Ata kelabakan. “Ini rumahmu sendiri,
kan?” Imam bertanya menyelidik, Ata mengangguk jujur. “Yaa Allah, kenapa kamu
berbohong pada saya, Ta?” Tanya Imam sedikit melunak, tapi ia masih pertahankan
senyumnya. Ata memilih untuk menunduk, tak tau mesti menjawab apa. “Ini, sebenarnya
hari ini saya akan melamarmu.” Imam mengeluarkan kotak cincin dari kantong
celananya. Ata terkesiap. Ia mengangkat wajahnya melihat lelaki lembut itu.
“Tapi, saya tidak bisa memintamu
setelah ini. Saya tidak tau alasanmu membohongi saya, tapi tidak baik sebuah
hubungan diawali dengan kebohongan.” Imam memasukkan kembali kotak cincin itu.
dan tanpa salam ia melangkah menjauh, menghilang dibalik gerbang. Dan
benar-benar menghilang dari kehidupan Ata. Kabarnya Imam dipindahtugaskan,
karena ia adalah seorang PN.
Terpuruklah Ata. Dan ia
mengungsikan cinta ke tempat pengasingan selama lebih dari satu tahun.
Selanjutnya Ata kembali
kedatangan tamu di singgasana hatinya.
Ia adalah salah satu konsumennya. Lebih muda beberapa tahun darinya. Sejak awal
pertemuan, ia telah memberikan perhatian berlebih pada Ata. Dan Ata bisa
merasakannya. Akhirnya setelah lama saling mengenal, meski rasa cinta seperti
pada Imam belum sampai menghampiri hatinya, ia menerima ajakan Surya, nama
lelaki itu, ke dalam kehidupannya.
Tak disangka, Surya adalah tipe
lelaki yang penuh kejutan. Mungkin karena masih muda, ia jadi begitu
bersemangat. Dan Ata begitu menikmatinya. Singkat cerita, ternyata Surya tidak
sebaik luarannya. Ia ternyata mempunyai niat buruk mendekati Ata. Apalagi,
tentu saja harta. Malam itu, setelah semuanya terbongkar, Ata memasukkan
seluruh barang-barang yang diberikan Surya padanya kedalam kotak besar. Dan
membawanya ke kediaman Surya. Mengembalikannya dengan sopan.
“Saya tidak menganggap harta
saya adalah segalanya bagi saya. Saya juga insyAllah senang berbagi, tapi tidak
harus harta saya yang menjadi alasan untuk menjalin hubungan dengan saya.
Terimakasih. Assalamu’alaikum!” Ata pergi meninggalkan kediaman Surya tanpa
menunggu sambutan salam. Ia mengemudikan sedannya dengan santai. Sembari
bertahmid, ia menikmati udara malam itu. hingga di depan sebuah panti ia
menyaksikan dua orang berwajah panik sedang menggendong bayi. Ata menepikan
mobilnya.
“Ada apa, Bu?” Tanya Ata
mengeluarkan sedikit wajahnya setelah kaca mobil ia turunkan.
“Bayi ini sakit. Kami ingin
membawanya ke Rumah Sakit. Tapi tak ada sopir malam ini, taxipun tak ada.
Mungkin karena sudah terlalu malam.” Ibu yang berjilbab sederhana itu
menjelaskan dengan air muka panik.
“Masuklah, biar saya antar.” Ata
berujar tanpa berfikir lagi. Dan dengan sedikit cepat ia mengemudikan sedannya
ke Rumah Sakit terbaik.
“Berapa usianya, Bu?” Tanya Ata
sembari menyetir.
“Dia masih merah. Mungkin baru
sehari.” Jawab Ibu itu memperhatikan bayi di gendongannya. Ata menelan ludah.
“Kenapa mungkin?” Tanyanya.
“Dia baru ditemukan adik ini
sore tadi di belakang sekolahnya.”
“Innalillahi…” Ata terenyuh
sendiri. Iapun mempercepat laju mobil dan tak lama kemudian mereka sampai di
Rumah Sakit. Ata turun mobil dan menemani Ibu dan gadis berseragam SMA itu
memasuki Rumah Sakit. Ia mengurus administrasi kemudian menyusul bayi itu ke
poli anak.
Subahanallah
Ata menggenggam udara pada
tangannya. Ia menekan dadanya sendiri. Betapa wajah bayi tak berdosa itu begitu
menyentuh perasaannya. Jika terlambat sedikit saja ia sampai disini mungkin tak
ada kisah lagi. Dibuang orang tua pada usia begitu muda. Anak itu pasti sangat
kedinginan. Kedinginan pada tubuhnya, juga hatinya. Ata jadi merasa bayi itu
sepertinya. Tak ada orang tua, lelakipun enggan padanya.
Dan dalam hatinya, Ata berjanji
pada Allah untuk menjaga bayi itu semampunya hingga akhir hidupnya.
Wsss…
Entah angin dari mana tertiup di
wajah Ata, Ata tersenyum. Ia artikan itu sebagai persetujuan dari Allah. Maka
semakin mantaplah hatinya untuk menjaga bayi itu.
Esoknya Ata kembali datang ke
Rumah Sakit, karena bayi itu memang harus diinapkan. Ibu berjilbab sederhana
itu hanya sendiri menunggu, mungkin gadis berseragam itu sudah pulang dan masuk
sekolah. Ibu itu terlihat kaget dengan kedatangannya.
“Assalmu’alaikum!” Sapa Ata
tersenyum. Ibu itu menjawab sempurna, “Bagaimana keadaannya?” Ata bertanya
tanpa basa-basi.
“Alhamdulillah, sudah lebih
baik.” Ibu itu masih terlihat heran.
“Tidak apa-apa, Bu. Anggap saja
saya keluarga anak itu. mulai hari ini saya akan merawatnya.” Ata berujar
yakin. Senyum cerah timbul pada wajah ibu berjilbab itu.
“Alhamdulillah…”
“Tapi, karena pekerjaan saya,
saya tidak bisa membawanya bersama saya. Apakah anda keberatan jika bayi itu
tetap di panti? Untuk seluruh keperluannya, saya tanggung.” Ata memotong. Ibu
itu mengerutkan alisnya.
“Maaf, Mbak. Tapi tidak baik
system begitu di Panti. Karena di panti yang hidup tidak hanya seorang anak.
Tapi banyak.” Ibu itu mengungkapkan kekhawatirannya.
“Tidak apa. Saya akan penuhi
kebutuhannya dengan cukup. insyAllah tidak berlebih.” Ata menenangkan, ibu
itupun mengangguk. Tapi, tetap saja ia khawatir.
“Ohya, Bu…boleh kuberi dia nama
Alin?”
*_*
Aku mendengarkan dengan seksama
satu demi satu kalimat Teteh. Matanya menyala rapi pada tiap cerita dengan
warna yang berbeda. Jadi, Alin itu adalah nama pemberiannya. Alhamdulillah…aku
jadi merasa sangat bahagia. Entahlah kenapa.
“Lanjutkan, Teh.” Pintaku. Ia
menoleh tersenyum. Aku bisa membayangkan wajah mudanya, cantik. Jadi tersenyum
sendiri.
“Kamu masih mau mendengarkan?”
Ia bertanya membuatku tak sabar. Akupun mengangguk-angguk semangat. Ia terkekeh
sedikit, menyentuh pipiku. “Kamu sekarang seperti Alin saya yang dulu.” Aku
tertegun mendengar kalimatnya, tapi kemudian, kusuguhkan ia cengiran
yang…manislah…he
*_*
Dan selama setahun penuh, Ata
hanya fokus pada Alin saja. Dia bahkan lupa dengan niatanya untuk menikah. Ia
begitu menyayangi bayi itu, seperti Alin hanya miliknya satu-satunya. Tak
terganti dan tak terhargai. Alhamdulillah, bisnis Atapun tidak terlalu banyak
rintangan sejak ia mengurus bayi itu. meski ia jadi jarang di rumah dan di
kantor, ia tetap bisa menghandle semua. Untungnya lagi, Ata tidak hanya
memenuhi kebutuhan Alin saja. Karena alasan baik, Atapun tak jarang membawakan
berbagai macam kebutuhan untuk anak-anak panti.
Singkat cerita, bisalah Alin
kecil berbicara. Ketika itu Ata datang membawa makanan ringan untuk semua, dan
sebuah boneka mungil untuk Alin. Alin menerima boneka lucu itu dengan rasa
bahagia yang membuncah. Terlihat dari caranya memainkan boneka itu, dan juga
dari tawanya.
“Mama” Mulut Alin kecil mengeluarkan
suara yang membuat hati Ata tersentuh. Matanya berkaca saking haru. Ia menciumi
Alin dengan sayang. Tapi sebelum sempat ia mengangkat bibirnya dari pipi tembem
Alin, Alin membuka mulutnya lagi, “Papa” begitu.
Ata merasa tubuhnya sedikit
membeku. Ya, dia telah lupa dengan mimpi itu. lupa tentang dirinya sendiri.
Lupa bahwa ia butuh seorang suami, dan mungkin juga papa untuk Alin. Begitu,
kan?
Akhirnya, Ata kembali membuka
diri. Usianya hampir 35 tahun. Adakah yang mau dengannya? Ata jadi
meminimalisir fikirannya. Siapa sajalah, ia harus menikah. Meskipun cinta itu
belum tumbuh, insya Allah akan tumbuh setelah pernikahan. Ya, harapannya
begitu.
Tapi, hampir setengah tahun, tak
ada satupun lelaki yang datang padanya. Ata jadi sedikit merasa kasihan pada
dirinya. Sudah tua. Begitu kalimat yang terus diulang-ulang fikirannya.
Akhirnya ia beranikan diri meminta bantuan pada Nuri, pembantunya.
“Ibu mau menikah?” Nuri bertanya
dengan nada datar. Wajar sekali bukan, wanita seusia dia.
“Iya. Kamu bisa bantu carikan
calon?” Ata berkata serius.
“Insya Allah bisa, Bu. Kapan
maunya?” Tanya Nuri ikutan serius.
“Assalamu’alaikum, Teh.” Salah
satu pegawainya di gudang bertandang ke rumah menyelahi pembicaraan keduanya.
Ata dan Nuri menjawab salam. “Ini bagian marketing baru, Teh. Yang kemarin saya
bicarakan.” Pegawai bertubuh gempal itu menunjuk lelaki di belakangnya. Ata
menoleh, matanya bertemu dengan lelaki muda itu. lelaki itu mengangguk santun.
Astaghfirullah
Ata beristighfar dalam hati.
Tapi kalau hanya sekali dan tidak sengaja, insya Allah tidak dosa, kan?
“Maaf, siapa namanya?” Ata
bertanya pada pegawai gempalnya.
“Saya Muhammad Faata, Bu.”
Lelaki itu menyahut tanpa mengangkat wajah. Ata jadi salah tingkah.
Salah tingkah?
Entahlah.
“Ya, panggil saja Teteh. Kau boleh
mulai bekerja besok pagi, atau kalau memang sudah siap bisa dimulai hari ini.”
Ata memberi perintah sopan, seperti biasa. Lelaki muda itu tersenyum.
“Insya Allah besok pagi, Teh.
Saya harus mengantar ibu saya ke Rumah Sakit hari ini.” Datar saja suara pemuda
itu.
“Ibumu sakit?” Ata bertanya
diiringi tatapan Gempal dan Nuri kearah Muhammad Faata.
“Ya, Teh. Agak kurang enak badan
dari semalam.” Pemuda itu menjawab seadanya. Tidak ada kesan pura-pura. Begitu
polos. Ata mengangguk.
“Baiklah, ada uang untuk itu?”
Tanyanya perhatian.
“Insya Allah ada, Teh.”
“Benar tidak butuh bantuan?” Ata
tampak khawatir. Pemuda itu menggeleng.
“Insya Allah saya mampu.
Terimakasih sebelumnya, Teteh sangat baik.” Pemuda itu memujinya. Ata terdiam
sesaat, hanya sesaat. Kemudian ia kembali tersenyum.
“Pergilah, sampaikan salam saya
pada ibumu.” Katanya. Lelaki itupun pamit dengan salam yang baik. Ata
memperhatikan punggung lelaki itu dengan pandangan yang aneh.
“Kenapa, Bu?” Tanya Nuri.
“Ah, tidak ada.” Ata gelagapan,
“Jadi bagaimana, bisa?” Ata mengalihkan pembicaraan, Nuri menyetujui. Dan dalam
waktu yang tidak bisa Nuri pastikan, ia akan mencari calon suami untuk
majikannya.
Lagi-lagi singkat cerita. Ternyata
Muhammad Faata menjadi buah bibir pegawai-pegawai Ata. Selain karena ketekunan
dan keuletannya, pemuda itu juga memiliki pemikiran berdagang yang hebat.
Beberapa ide menarik ia usulkan, dan setelah dicoba sukses pula hasilnya.
Jadilah ia pemuda yang disenangi oleh para pegawai. Ata juga senang melihat
hasil kerjanya. Belum lagi pemuda itu dikenal sangat jujur. Bahkan seluruh
temannya bisa menjamin akan kejujurannya. Ata mulai mengagumi marketingnya yang
satu itu. tapi ia tidak perlu mengumbarnya. Iapun jarang bertemu dengannya,
hanya beberapa kali saja.
“Bu, saya punya usul bagus.”
Nuri mengagetkan sore Ata dengan wajah sumringah. Dengan istighfar kecil, Ata
menoleh padanya.
“Apa, Ri?”
“Ini mengenai calon suami Ibu.”
Ata mengangguk, “Sepertinya Ibu perlu bertemu dengan orang tua Faata.” Nuri
memulai.
“Orang tua, Faata?”
“Ya, marketing baru di kantor,
Bu.”
“Astaghfirullah…ya, ya. Kenapa
harus bertemu dengan orang tuanya?” Ata heran.
“Mereka bilang, mereka tau Ibu.”
“Tau saya?” Ata semakin heran, Nuri
mengangguk pasti.
“Ternyata rumah saya tidak jauh
dari rumahnya, Bu. Dan kemarin sempat bertemu. Ia ingin bertemu ibu katanya.”
Nuri meyakinkan.
“Kira-kira siapa?”
“Kata beliau, orang tua Ibu
adalah teman lama dulu di kampung.”
Maka pergilah Ata keesokan
harinya ditemani Nuri ke kediaman Muhammad Faata. Tentu saja pemuda itu tidak
ada di rumah. Dan begitu melihat wajah mereka Ata segera mengenali keduanya.
Merekapun butuh waktu sebentar untuk menjadi akrab.
Lama berbincang-bincang dengan
orang tua Muhammad Faata, Atapun berpamitan.
“Nak, sepertinya kami tau
masalahmu” Ibu Muhammad Faata menyentuh lengan Ata. Ata mengerutkan alis tak
paham, tapi sesaat kemudian ia melirik Nuri yang tersenyum amis padanya,
“Lamarlah Faata untukmu.” Ata terkesiap mendengarnya.
“Me, melamar?” Ata gelagapan.
“Khadijah saja melamar Nabi SAW,
tidakkah kamu mau mengikuti jejaknya?” Ata menahan nafas, “Insya Allah baik.
Faata juga pasti menyetujuinya. Tidak baik kamu lama melajang, jadi buah bibir
orang. Menimbulkan fitnah, Nak.” Wanita itu meyakinkan dengan senyuman.
“Tapi tidak harus mengorbankan
orang lain kan, Bu.” Ata sedikit melumer.
“Faata tidak berkorban untuk
itu. insya Allah ia akan menerimamu.”
“Kita ikhtiar,” Kali ini Ayah
Faata menyambut, “Akan kami sampaikan padanya, masalah menerima atau tidaknya,
kami tidak akan memaksanya. Dia sudah 18 tahun, cukup besar untuk berfikir
dewasa.” Ata menelan ludah. 18 tahun? Dan dia 35 tahun? Bedanya bahkan 17
tahun.
“Bagaimana?” Orang tua Faata
seperti sangat berharap. Ada ketulusan di tatapan keduanya. Ata menoleh pada
Nuri. Nuri tersenyum mengangguk. Dengan niat ikhtiar, Ata berdo’a pada Allah.
“Baiklah saya tinggalkan lamaran
saya.”
*_*
“Subahanallah…jadi Teteh yang
melamar?” Aku membelalakkan mata kagum. Teteh mengangguk dengan wajah yang
lebih pucat dari sebelumnya. “Langsung diterima mas Fata?” Tanyaku lagi.
“Dia istikharahkan 3 hari, dan
menerimanya.” Jawab Teteh pelan, seperti…menahan sakit???
“Teteh tidak apa-apa?” Aku
mendekat menyentuh bahunya. Teteh tidak menjawab pertanyaanku. Kedua tangannya
perlahan berpindah ke kepalanya kemudian mencengkramnya. Aku mendadak panik.
“Laaa ilaaaha illallaaaah…” Ia
berucap dengan tubuh bergetar. Wajahnya pias. Kusentuh lagi bahunya, yaa Allah
bahkan seluruh tubuhnya bergetar. Aku tidak bisa menggambarkan rasa sakit yang
ia rasakan. Dan aku tidak bisa membantunya.
“Teh…” Aku memanggilnya pelan.
Matanya tertutup kuat, zikirnya terdengar seperti rintihan yang mengiris. Ya
Allah…bagaimana aku membantunya. Bantu dia ya Allah…kudekatkan wajahku pada
wajahnya, aku menangis. Tak tau hendak berbuat apa.
“Ya Allaaaah…!!!”
Innalillah…
Teteh terkulai lemas. Aku segera
menangkap wajahnya dan pelan kuletakkan kepalanya di dadaku. Ya Allah…hanya Kau
yang tau bagaimana mengatasi ini…bantu Teteh ya Allah, bantu Mama…
Hiks…
Bantu…
*_*
Malam itu malam pertama Ata dan
Faata. Ata menunggu di kamar dengan khawatir. Terlihat air mukanya yang tak
tenang, tak menentu pula perasaannya.
“Assalmu’alaikum!” Pintu kamar
dibuka dan menyembullah wajah tampan Faata. Ata menjawab salam lengkap dengan
tersenyum. Faata menutup pintu rapat, mengoncinya dari dalam kemudian mendekati
Ata. “Bolehkah?” Faata menatap wajah istrinya dengan sedikit senyuman. Ata
mengangguk diam. Faata menyentuh ubun-ubunnya dan membacakan do’a dengan
sedikit dikeraskan. Ata mengamini dengan khusuk.
Selesai itu Faata menjauhkan
wajahnya, ia kembali menatap istri yang jauuuh lebih tua darinya itu dengan
tatapan yang sama.
“Maafkan saya. Tidak sepantasnya
saya bersanding dengan anda.” Faata membuka mulut, pandangannya masih pada
wajah istrinya.
“Saya yang minta maaf, kau harus
mau menikah muda hanya karena menolong saya.” Ata berkata pelan. Kedewasaannya
menguasai perasaannya.
“Sayalah yang tidak seharusnya
menjadi suami wanita terhormat seperti anda. Pastilah banyak yang membicarakan
saya, harta anda menjadi alasan yang paling utama.”
“Bisa jadi, tapi kita tidak
harus mendengarkan orang-orang, kan? Kau sudah istikharah untuk ini.” Ata
terdengar sabar.
“Entahlah…” Faata seperti
enggan.
“Saya percaya pada suami saya.”
Ata meyakinkan dengan tulus dan senyuman. Faata menatapnya dengan ekspresi yang
sama saja. “Jangan panggil anda, sikapilah saya seperti istrimu.” Kedewasaan
Ata menenangkan jeda.
“Kau mau mengambil hakmu sebagai
istri sekarang…?
DIA AKAN CINTA(8)__Menjelmalah
Cinta
“Tidak, jika kau tidak ikhlas
melakukannya!” Ata menjawab dengan tenang. Terlihat suaminya mengluarkan aura
surut. Ia tersenyum. Maka terlewatilah malam itu dengan seperti itu saja. Dan
di sepertiga malam, Ata membangunkan suaminya guna mengimami shalat lail.
“Pagi?” Faata
mengerjap-ngerjapkan matanya.
“Belum, imami saya shalat
tahajjud, mau?” Ata menatap datar. Ada sesuatu yang merayap hangat di hati
pemuda itu. menyaksikan wajah istri tuanya dengan mukenah putih kekuningan itu.
“Baik, tentu saja.” Faata
bangkit dari ranjang. Dengan diantar tatapan mata lembut Ata, pemuda itu
memasuki kamar mandi, sebentar kemudian percikan air menjadi melodi malam
sepertiga itu. tak lama merekapun mulai khusuk pada jama’ah, subuh, witir, dan
do’a.
“Alhamdulillah…” Faata
menyelesaikan do’anya. Ia menatap tempat sujud, mungkin tak tau hendak berbuat
apa.
“Mas.” Dia tak menyadari
istrinya telah duduk di sampingnya, ia menoleh sedikit kaget. Istrinya
tersenyum, “Tak apa saya panggi begitu?” Tanya Ata dengan mata beningnya,
menyusupi jendela mata Faata yang sedikit terbuka.
“Terserah saja.” Faata menyahut
sedikit salah tingkah, Ata tersenyum mengulurkan tangannya yang terbalut
mukenah, hendak menyalaminya. Faatapun menyambut uluran tangan istrinya. Ata
menaruh punggung tangan itu di jidat putihnya.
“Saya menghormati mas sebagai
suami saya. Minta ridha ya?” Ata menatap suaminya dengan senyum. Dan tanpa
rencana Faata membalas senyum itu dan mengangguk. Damai.
*_*
Beberapa hari berlalu sejak
pernikahan keduanya. Baik Ata dan suaminya tidak memang memiliki kekhawatiran
akan pernikahan mereka pada orang lain. Tapi tidak mereka sangka akan sebegitu
‘meriah’ omongan orang-orang. Bahkan sampai sebagian pegawai Ata mengacuhkan
Faata. Dianggapnya Faata menikahi bos mereka karena uang dan kedudukan.
“Mereka tidak mau mendengarkan.”
Usai shalat Isya malam itu Faata menaruh sedikit bebannya di bahu istrinya. Ata
tersenyum menyikapi keluhan suami mudanya.
“Tidak apa, besok juga baik
sendiri, Mas. Kita tidak melakukan hal yang keliru. Yang mereka anggap benar
kan bukan kebenaran.” Ata menenangkan.
“Itu mudah karena kamu tidak
merasakannya sendiri. Rasanya sangat tidak nyaman berada di tengah-tengah
mereka. Apalagi dengan tatapan dan pembicaraan yang tidak disembunyikan.” Faata
menghembuskan nafasnya terdengar berat.
“Jadi apa Mas mau saya
berhentikan mereka karena berlaku tidak sopan pada suami saya?” Faata menoleh
demi mendengar kalimat itu, ia menemukan keseriusan pada mata dan senyuman
istrinya. Desiran halus melewati hatinya.
“Tidak perlu. Kamu benar,
insyAllah mereka akan segera berubah fikiran.” Sedikit salah tingkah Faata
berujar tak menatap wajah itu. Ata tersenyum sendiri.
“Salam dulu,” Ata mengulurkan
tangannya. Faata menyambutnya. Kali ini Ata menyentuhkan punggung tangan itu di
keningnya, kemudian di kedua pipinya.
“Kening ini maknanya hormat,
Mas. Pipi kanan ini sayang, dan pipi kiri bermakna sangat sayang.” Ata
menjelaskan dengan senyuman yang tenang dan pipi sedikit merona. Faata
merasakan wajahnya memerah. Terlihat lucu dengan tatapan alihannya itu.
“Ah, ya..ya…” Ujarnya lagi-lagi
salah tingkah. Tampaknya istri tuanya mulai sedikit mengganggu hati dan
fikirannya. He
*_*
Klimaksnya adalah hari itu. saat
barang-barang datang dari kampung memasuki gudang. Beratus-ratus keranjang
diturunkan dengan sedikit cepat. Faata memperhatikan dengan teliti kemudian
mencatat beberapa. Tiba-tiba…
Brug!!!
Sebuah keranjang berisi sawi
terlempar kearahnya. Pojokan keranjang tepat mengenai pelipis Faata.
“Allah!!!” Ia berteriak kaget.
Tubuhnya terjatuh berbarengan dengan keranjang itu. dirasakannya rasa ngilu dan
perih pada pelipisnya. Cairan kental terasa mulai mengalir darinya. Dalam hati
Faata beristighfar. Matanyapun sedikit mengabur.
“Tidak apa-apa, nanti juga
dibawa ke Rumah Sakit besar sama istri.”
Samar Faata mendengar kalimat
tak bersahabat dari beberapa orang disana. Aktifitas tak tersita karena
kejadian itu. Faata terus beristighfar dalam hati, menyentuh pelipisnya yang
terasa mulai membesar, bengkak.
“Tidak tau diri sich. Pegawai
baru ngelonjak.” Ramai, omongan-omongan yang pedas mulai berkumandang di
ruangan besar itu. Faata berusaha bangkit dari terseungkurnya, darah dari
pelipisnya mengalir di sekitar wajahnya. Tak ada seorangpun yang berniat
membantunya kembali berdiri. Sadis sekali.
“Innalillahi…!” Terdengar sebuah
suara yang tidak asing. Dari pintu kecil di samping ruangan Ata berlari
menghampiri suaminya yang memegangi pelipisnya yang berdarah banyak. “Apa yang
terjadi?” Ia bertanya pada suaminya dengan wajah khawatir penuh. Ia melihat
sekeranjang sawi berserakan tak rapi dengan keranjang oleng. Ia kemudian
melihat sekeliling, pegawai-pegawainya mulai bungkam, menunduk, sibuk dengan
pekerjaan masing-masing. Amarah mulai membakar hati wanita berjilbab lebar itu.
“Apa yang terjadi?!!!” Suaranya
yang biasa lembut dan tenang menggelegar di ruangan besar itu. Tak ada
seorangpun yang berani bersuara, mereka masih sibuk dengan pekerjaan mereka,
takut itu menimbulkan ciut, “Lepas pekerjaan kalian sekarang, atau selamanya!”
Meski datar perintah itu membuat semuanya melakukan tanpa menunda. Majikan
mereka baik hatinya, lembut dan jarang sekali marah. Kesalahan-kesalahan kecil,
sedikit besar bahkan besar sekalipun tak membuat urat wanita itu mengejang jika
ada keterangan yang jelas. Tapi, jika sampai pada batas yang tidak bisa
ditolerir lagi. Maka tak seorangpun berani membantahnya, jangankan membantah,
mengangkat wajah di hadapannya saja tidak. Dan apakah ini adalah kesalahan yang
tidak bisa ditolerir???
“Siapa yang bisa menjelaskan?!”
Dingin, Ata bertanya datar.
“Tadi, saat kami merapikan
barang salah satu keranjang terlempar kearahnya, Teh.” Salah satu pegawainya
menjawab masih berdiri di atas truk, ia menjawab tanpa mengangkat wajah.
“Bukan itu pertanyaan saya.” Ata mengambil nafas, menggandeng
lengan suaminya dengan kedua tangannya, “Apa yang terjadi pada kalian? Tak
berhatikah kalian sekarang? apa yang salah dengan suami saya? Hingga meski
dengan sedikit hati kalian tidak membantu bahkan menoleh padanya! Salahkah dia
menikah dengan saya? Kalau memang benar dia salah, dimana letak salahnya?
Jelaskan pada saya sekarang!” Ata menatap pegawainya satu persatu dari sekian
puluh itu. Wajahnya memerah menekan amarah di hatinya.
Sunyi.
Tak seorangpun dari mereka
menjawab pertanyaannya.
“Saya yang memintanya menikahi
saya. Saya yang melepas lamaran pada orang tuanya. Ia menerima lamaran saya
setelah shalat istikharahnya dijawab Allah. Benar pada otak kalian itu salah!
Kalian menciptakan sesuatu tanpa pertimbangan dan membenarkannya sendiri. Ya
Allah, bagaimana kalian bisa begini jauh?!!! Jika suami saya Muhammad Faata
menikahi saya karena harta, karena kedudukan, Allah tidak akan menjawab
istikharahnya dengan iya. Kalian salahkan Allah?!!!” Ata menekan
kalimat-kalimatnya, agar tak sedikitpun terlewat dari telinga dan pemahaman
seluruh pegawainya.
“Kalian anggap semua ini keliru,
menyalahkan suami saya dengan mutlak, tidak menyukainya, menjadikannya buah
bibir busuk. .astaghfirullah…” Ata mulai menangis, “Kalian boleh tidak menyukai
seseorang, tapi cukup di hati kalian saja. Hargailah makhluk Allah. Kita ini
rendah. Otak kita standar kwalitasnya. Kita hanya menilai orang dari zahir, dari
yang terlihat, bathinnya Allahlah yang mengetahui.” Ata masih menatap tajam
satu persatu pegawainya meski dengan mata berair deras, “Jadi kalian tidak
boleh merasa benar atas pendapat kalian.” Ata terisak. Dirasakannya tangan
suaminya menyentuh bahunya.
“Mencelakai orang yang mengimami
saya, sama artinya kalian mencelakai saya. Kalian menginjak-injak kepala saya.”
Amarah itu timbul lagi di hati wanita Ata, “Saya tau kalian semua, biar nanti
sore ambil pesangon kalian di kantor saya.” Ata membuang wajahnya. Ia menuntun
suaminya ke ruangannya. Sementara seluruh pegawainya lemas. Pesangon?
Dipecatlah mereka.
*_*
Faata memperhatikan wajah sembab
istrinya yang tak berjarak banyak dari wajahnya. Dengan lembut, telaten dan
sabar, istrinya mengobati pelipisnya yang terluka lumayan besar. Hatinya
bergetar. Diperhatikannya mata istrinya dengan seksama, mata itu masih menyala.
Mata yang biasanya selalu tenang dengan senyuman kini memerah karena ia
diperlakukan tidak baik.
“Jangan tunjukkan wajah begitu.”
Faata membuka mulut pelan, “Tidak nyaman dilihat.” Ia tersenyum sedikit
menggoda. Ata meliriknya, memberikan senyuman.
“Maafkan saya. Seharusnya ini
tidak terjadi.” Ata menyelesaikan pekerjaanya. Ia menarik tangannya dari
pelipis Faata yang terlah terperban rapi. Ia menunduk, merasa bersalah. Faata
memperhatikan kelembutan hati istrinya. Getaran itu membuncah di hatinya.
“Tidak ada yang salah…”
“Seandainya saya tidak
meninggalkan lamaran, seandainya saya…”
“Kamu menyalahi Allah dengan
seandaimu itu.” Faata memotong, usia belianya tertelan keadaan yang menggali
dewasa itu ke permukaan kongkret, “Saya istikharah dan Allah menjawab benar.
Tidak ada itu seandainya-seandainya lagi. Kita memang berjodoh, dan kau
percayalah…Allah buat dari tulang rusuk saya.” Faata menyerap kalimat yang ia
sendiri tak yakin keluar dari mulutnya. Akan tetapi hatinya merasa nyaman.
“Maafkan, saya.” Lagi-lagi
istrinya meminta maaf. Faata tersenyum, kemudian menyentuh ubun-ubun istrinya
dengan telapak tangan kanannya.
“Jika keningmu, bermakna hormat, kedua pipimu bermakna sayang dan sangat
sayang, bisakah ini bermakna saya akan menghargai, mengayomi dan akan
melindungimu selalu?” Faata mencari mata istrinya yang ditemukannya berkaca.
Ata mengangguk dengan bibir bergetar, sangat bahagia.
“Sekarang temani saya menemui pegawai.” Faata bangkit dari duduknya.
Menunggu istrinya mengikuti tindaknya, iapun menoleh. “Ayolah, ini perintah
suami.” Faata tersenyum. Ata ikut bangkit dan berjalan di belakang suaminya.
“Apa yang akan kita katakan, Mas?” Ata meminta pendapat.
“Minta maaf, tentu saja.” Faata menjawab ringan, mesti mungkin kepalanya
masih terasa pening terkena hantaman keranjang berat tadi.
“Mereka yang seharusnya minta maaf.” Ata berujar teguh.
“Mereka tidak sengaja, kenapa harus minta maaf.”
“Setidaknya mereka seharusnya menolong, Mas.” Ata sepertinya masih sangat
tidak menerima tindakan pegawainya atas suaminya.
“Allah tidak pernah memaksa hamba-Nya berbuat baik. Dia memerintah dengan
kasih sayang. Maka tidak baik juga kita yang sebagai hamba menyuruh orang lain
bagitu.” Faata terdengar tenang. Ata menunduk, membenarkan kalimat suaminya. Ia
paham, pengetahuannya tidak sampai pada pengetahuan Faata. Faata dibesarkan di
lingkungan agama yang baik. Dari kecil Ata sering melihat Faata diberikan
pelajaran agama oleh orang tua dan guru-guru baik. Dia jadi sangat beruntung
menyadari itu.
“Maafkan saya.” Pinta Ata pelan.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, kita sama belajar.” Fata menoleh padanya
sedikit dengan senyuman. Ata membalas lembut. Akhirnya mereka sampai di ruangan
besar tadi. Dengan sopan Ata meminta seluruh pegawainya untuk berkumpul disana.
Sebagian dari pegawainya terlihat menunduk takut karena kejadian beberapa waktu
lalu. Ata tersenyum begitu semuanya berkumpul. Ia menoleh pada suaminya yang
bediri di sampingnya, Faata tersenyum mengangguk.
“Assalamu’alaikum wr.wb.” Sapa Ata, semua pegawai menjawab sempurna,
“Maaf mengganggu pekerjaan kalian. Saya mengumpulkan kalian karena ingin
meminta maaf. Saya sudah bertindak keterlaluan akhir-akhir ini. Sekali lagi
maafkan saya.” Ata menundukkan kepalanya sedikit. Semua melihat padanya dengan
hati membuncah. Seharusnya mereka yang mengucapkan kalimat itu, bukan? Sedang
Faata menatap istrinya dengan bangga. Ia tak sungkan mengakui kesalahan di depan
banyak orang.
“Tidak ada yang akan diberi pesangon dari kalian semua. Kalian semua akan
tetap menjadi kawan kami yang setia.” Ata menebar senyuman. Pegaiwainya
mengucapkan hamdalah dengan serentak.
“Saya juga minta maaf. Kita kurang berkomunikasi sehingga hal seperti ini
bisa terjadi. Semoga kalian bisa menerima saya kembali.” Faata mengambil suara.
Yang lain menatap dengan pandangan bersalah. Maka, jadilah hari itu menjadi
begitu cerah.
*_*
Dan pada malamnya, selesai
shalat maghrib Faata dan Ata membuka kitab suci Al Qur’an, membaca bersama-sama
menunggu Isya.
“Mas haus?” Ata menghentikan
bacaannya mendengar suara suaminya. Ata melirik kemudian tersenyum. “Saya
ambilkan air,” Ata bangkit dari duduknya dan menuju dapur. Mengambil segelas
besar air putih dingin dan membawanya ke ruang shalat. Tapi sesampai disana tak
ditemukannya Faata disana. Ia melangkah ke kamar, pintunya sedikit terbuka.
“Mas!” Panggilnya. Hanya
terdengar jawaban seperti sebuah gumaman. Atapun memasuki kamar, menemukan
suaminya tiduran ringan diatas ranjang. “Ini airnya.” Ata menyodorkan gelas
besar berisi air yang sedari tadi dibawanya.
“Minum dulu olehmu!” Pinta Faata
tanpa membuka mata. Ata terdiam sesaat mendengar permintaan suaminya,
“Setelahmu, saya akan habiskan airnya.” Faata kembali bersuara. Maka dengan
basmallah, Ata meminum sedikit saja air itu.
“Sudah, Mas.” Ata menjauhkan
gelas dari mulutnya. Faata bangkit dan duduk di pinggiran ranjang, ia
mengerjap-erjapkan matanya, kemudian menoleh pada istrinya.
“Sini!” Ia menjulurkan
tangannya, Ata menyerahkan air itu, “Tadi minum dimana?” Faata bertanya
memperhatikan gelas, tak ada jawaban, ia melirik pada istrinya, “Minumnya
dimana tadi?” Ia bertanya lagi. Ata menunjuk bekas mulutnya di pinggiran gelas.
Faata memperhatikan kemudian meminum gelas itu dari tempat yang sama. hati Ata
sedikit bergetar, dirasakannya wajahnyapun memanas. Dan sempurna, air itu
habis.
“Alhamdulillah…” Faata berujar
pelan, menyerahkan gelas itu kembali pada istrinya. “Rasanya badan saya panas,
mungkin karena kejadian pagi tadi. Bisa kita akhirkan shalat isya kita?” Lelaki
muda itu menoleh pada istrinya.
“Panas? Apa lukanya infeksi ya,
Mas?” Ata jadi khawatir, memperhatikan pelipis suaminya.
“Tidak, tidak. Hanya butuh
istirahat sedikit. Jadi bagaimana?” Faata menunggu jawaban.
“Oh ya, insyAllah tidak
apa-apa.” Ata menjawab dengan senyuman lembutnya. Faata tersenyum, kemudian
berbaring lagi. Melihat suaminya akan istirahat, Ata membalik langkahnya hendak
ke dapur.
“Sebentar!” Suara Faata
mengagetkannya, ia menoleh, suaminya masih menutup mata. “Bisa temani saya
tidur?” Tanya Faata masih dengan mata terpejam. Ata sedikit gelagapan dengan
pertanyaan itu, “Ayolah…taruh gelas itu diatas meja dan berbaringlah di dekat
saya.” Suara Faata terdengar begitu aneh bagi Ata. Tapi dengan tenang
diikutinya saja kemauan suami mudanya itu. iapun menaruh gelas kosong itu
diatas meja dan bergerak menaiki ranjang dan memperbaiki selimut untuk
suaminya, kemudian berbaring.
Ata menoleh pada wajah lelaki
muda yang berstatus suaminya itu. ia terlihat begitu tenang dalam lelapnya. Ata
tersenyum. Hendak menaruh punggung tangannya di kening suaminya. Tapi…
Hup.
Lengan Faata sempurna memeluk
pingganya. Ata gelagapan.
“Tidak apa-apa saya peluk sampai
bangun lagi, kan?” Suaminya bertanya masih dengan posisi tadi, mata tertutup.
Ata tak menjawab, “Kalaupun tak mau, saya larang kamu menolak.” Faata
merapatkan tubuhnya. Ata salah tingkah, tapi dirasakannya aura panas dari tubuh
suaminya menyapa kulitnya. Ia jadi bisa lebih tenang, mungkin tingkah anehnya
ini adalah sebab dari rasa panas berlebih. Ditatapnya lagi wajah itu, tampak
sedikit memerah pula warna putihnya. Ata tersenyum, rasa kasih itu kembali
merayapi hatinya. Ia ingin mengatakan sesuatu…
“Hmmm…” Faata bergumam sebentar,
kemudian membaca do’a tidur dengan sempurna, Ata jadi tertegun, “Tidurlah.”
Pinta Faata dengan lembut. Ata jadi merasa begitu hangat, tampaknya lelaki yang
memeluknya ini tidak dalam keadaan tidak sadar.
*_*
Mereka bangun pukul 3 dini hari.
Mendirikan shalat isya berjama’ah, dilanjutkan shalat malam. Tepat pukul 4
mereka usai.
“Maafkan saya, apakah saya
melakukan sesuatu padamu selama saya tidak sadar?” Faata membalik tubuhnya
menghadap istrinya yang sebenarnya kala itu masih berzikir. Ata tersenyum dan
menggeleng menanggapi pertanyaan suaminya.
“Tidak ada, Mas. Dan kalaupun
terjadi apa-apa, kenapa harus minta maaf? Kita ini suami istri. Mas masih
canggung pada saya?” Ata mencari mata suaminya.
“Sepertinya sedikit.” Faata
terdengar lugu membuat senyum diwajah istrinya merekah.
“Sini.” Ata tampak lebih
menguasai keadaan. Ia mendekatkan duduknya dengan suaminya kemudian menyentuh
lutut suaminya dengan sayang. “Sebagai suami dan istri, kita sama-sama memiliki
hak dan kewajiban. Tentu mas lebih paham masalah itu. dan memberikan nafkah
lahir bathin adalah kewajiban seorang suami yang bernilai hak bagi istri.
Begitu kan?” Ata mencari tanggapan. Suaminya menatap wajahnya dengan tatapan
mengiyakan. Ata kembali tersenyum. “Banyak kewajiban suami yang tak bisa dipenuhi
suami tapi bisa dipenuhi istri, banyak pula kewajiban istri yang tidak bisa
dipenuhi istri tapi bisa dipenuhi suami. Satu contoh…”
“Menyusui anak adalah kewajiban
bapak.” Faata memotong. Ata bangga mendengarnya, “Tapi tentu saja tidak bisa.
Yang bisa melakukan itu adalah istrinya. Jadi…”
“Jadi, sebenarnya suami meminta
tolong pada istrinya dengan cintanya.” Ata kembali mengambil arah, “Jika istri
dicintai, dikasihi, disayangi dengan baik, maka tanpa dimintapun istri akan
melakukan itu dengan ikhlas. Kan?” Ata kembali mencari sokongan dari mata
suaminya. Faata tersenyum.
“Alhamdulillah…begitu tak
terukur rasa syukur saya memilikimu.” Faata menyentuh punggung tangan istrinya.
Ata tersenyum. Ia merasakan rasa cinta itu mulai menghiasi taman jarak mereka.
“Begitupun saya. Kau lelaki luar
biasa, Mas.” Ata memuji dengan seluruh hatinya. Ya, tentu saja begitu, tentu
saja hanya orang yang luar biasa yang bisa menerima keadaan seperti ini bukan?
“Kamu pantas mendapatkan seorang
yang luar biasa.” Faata mengimbangi. “Jadi, apa kau mencintaiku sekarang?”
Entah kenapa Faata begitu tenang menanyakan itu. mungkin karena memang telah
ada pula rasa itu di hatinya. Ata tersenyum. Diraihkan tangan kanan suaminya.
Kemudian disentuhkannya di keningnya, di kedua pipinya, dan di bibirnya lantas
ia membalikkan punggung tangan itu dan mengecup telapaknya.
“Kening itu maknanya hormat,
kedua pipi itu maknanya sayang dan sangat sayang, kemudian bibir ditafsirkan
cinta entah oleh siapa. Tapi insyAllah saya percaya. Makna dari mengecup
punggung tangan adalah saya mencintai apa yang terlihat. Karena biasanya yang
punggung tangan itu lebih dominan terlihat, dan bisa diartikan juga kelebihan.
Telapak tangan juga diberi kecupan. Pertanda insyAllah saya mencintai apa yang
tertutup, bisa juga diartikan kekurangan. Jadi saya mencintai suami saya apa
adanya, lengkap dengan kelebihan dan kekurangan padanya.” Ata menjelaskan
dengan perlahan, suaminya tersenyum. Ada aura yang sulit dijelaskan pada
tatapannya. Ia kemudian meletakkan telapak tangannya di ubun-ubun istrinya.
“Insya Allah…saya juga memiliki
perasaan yang sama.”
*_*
DIA AKAN
CINTA__chapter 8 #2
“Mencintai itu bukan sesuatu
yang sulit, Alin.” Teteh menatapku lembut, mengusaikan kisahnya dengan keringat
dingin di dahinya. Ia terlihat begitu lelah, begitu sakit. Aku jadi tak tega
melihatnya begitu. Inginku bagi saja sakitnya.
“Teteh tak apa?” Tanyaku
menggenggam jemarinya. Malam sudah semakin tua, sebentar lagi waktu sahur
menyapa. Ia tersenyum menggeleng.
“Tentu saja tidak.” Jawabnya,
“Tapi ini baik, Alin. Orang yang di akhir hayatnya merasakan sakit yang sangat,
insya Allah dosanya terampuni. Saya bahagia.” Ia seperti hilang saat mengatakan
itu. tangannya kembali bergetar hebat. Dan untuk kesekian puluh kalinya, ia
kembali tak sadarkan diri. Akupun tak bosan menangisinya. Terkasih…
*_*
Pagi itu seperti pagi yang
kemarin. Tak terasa berbeda bagi kebanyakan orang tapi lain halnya dengan Ata.
Wanita itu tidak ke kantor seperti biasanya, ia masih duduk dengan mukenah,
usai mengerjakan shalat Dhuha. Ia tidak duduk di atas sajadahnya, tapi di
samping ranjang, menatap wajah suaminya yang masih pulas. Wajah putihnya merona
lama, ada sesuatu yang membuatnya malu dan bahagia. Alasannya, karena malam
tadi, ia sempurna menjadi istri.
Menatap wajah suami mudanya yang
pulas semakin mengingatkan jelas tentang kejadian malam tadi. Ia tak menyangka,
tapi tak pula menolak bahagia. Saat itu entah kenapa ia ingin berlama-lama di
ruang shalat. Mengaji Qur’an dengan suara rendah.
“Mmm…kau tak mau makan bareng?”
Suaminya menyapa dengan suara sedikit bernada aneh. Ia menoleh dari kitab
sucinya.
“Astaghfirullah…maaf, Mas.
Keenakan, yuk!” Iapun menutup Al Qur’an suci itu, menaruhnya pelan dan bangkit
dari duduknya.
“Mmm…tak apa-apa, mukenahnya
ditanggalkan saja.” Faata kembali mencegah lajunya. Sedikit tertegun Ata
menelan ludah. Tapi memang tidak salah bukan? Akhirnya ia menuruti saja, iapun
menanggalkan mukenahnya, menaruh si putih itu diatas sajadah. Ia menoleh pada
Faata yang tersenyum mengupahnya.
“Kita makan.” Sedikit gerogi Ata
mengajak Faata, yang diajak mengangguk dengan senyum ringan. Faata bangkit dan menggandeng
tangan Ata keluar ruang shalat. Ata tersenyum, sedikit geli. Suami mudanya ini
memang benar muda. Tingkahnya suka sedikit aneh dan mengejutkan. Tapi ia begitu
menikmatinya. Di meja makanpun, Faata menyerahkan piring dengan sedikit manja.
Ia menyikapi dengan tenang, kedewasaannyapun ia kesampingkan sedikit.
“Rasulallah SAW seringkali
bercanda dengan istrinya,” Faata nyeletuk saat Ata menaruh piring berisi nasi
yang lumayan banyak di hadapannya. Ata mengangguk tersenyum.
“Mas juga, kan?” Ata menjetikkan
alisnya dengan nada bercanda. Faata sedikit terkekeh. Merekapun makan dengan
perbincangan yang diselingi tawa. Mungkin kurang baik memang, tapi Ata
menikmatinya. Jarang-jarang kan begitu. Usai makan Ata membereskan meja dengan
cekatan, suaminya tidak beranjak. Ia memperhatikan gerak gerik istrinya dengan
senyuman.
“Mmm…baik ya?” Faata
memperhatikan Ata yang mengeringkan tangan dengan lap.
“Apanya, Mas?” Ata menoleh.
“Kamu, kerjanya baik. Aku suka.”
Faata masih menatapnya. Ata tersenyum seperti biasa. “Kok kerjanya? Yang kerja?” Ata menggoda suaminya
mendekat lebih memendekkan jarak mereka.
“Mungkin lebih.” Faata terdengar
gombal. Ata jadi sedikit cekikan.
“Baiklaah…sepertinya ada yang
mulai gombal.” Ata menyentuh bahu suaminya, sepertinya hal-hal kecil seperti
ini sudah tidak berat lagi untuk mereka, “Sekarang Mas istirahat, ya? Seharian
kerja, capek. Nanti biar saya yang konci semua pintu.” Ia melanjutkan dengan
pijitan ringan di bahu itu.
“Mmm…aku boleh minta ditemani?”
Faata berujar tak menoleh.
“Astaghfirullah…kalimat itu
seperti sangat tidak enak. Tentu saja boleh, Mas.” Ata tersenyum, duduk di
korsi samping suaminya.
“Maaf, tapi kali ini…” Faata
menahan kalimatnya. Ata jadi lucu melihat ekspresi suaminya. Ia bisa menangkap
gurat segan itu masih terukir dalam tingkah Faata. Ia menyentuh tangan
suaminya, mengajak lelaki muda baik itu menyelami keadaan mereka.
“Lanjutkan nanti ya? Baiknya mas
Faata fahami benar, apapun drajat dan kedudukan di luar, saya ini istri yang
sah untuk mas. Jadi jangan segan atau tak enak, ya? Saya ke dapur sebentar,
biar bibi saja yang merapikan rumah.” Ata melepas genggamannya dan bangkit dari
korsi.
Tep!
Faata menarik pergelangan
tangannya. Ia menoleh sedikit heran.
“Aku … ya, pakai mukenah kalau
mau ke dapur.” Ata jadi senyum geli dengan tingkah yang salah pada suguhan
suaminya. Tapi ia paham, ia mengiyakan dan mengambil mukenahnya sebelum ke
dapur. Setelah urusan selesai Ata menuju kamar, begitu membuka pintu ada yang
lain dengan kamarnya. Sedikit lebih rapi dan…wangi. Wangi?
Diperhatikannya sekeliling
ruangan, tapi tak ada sesiapa. Jadi?
Grep!
Sepasang lengan melingkar di
pinggangnya dari belakang. Ia memastikan bahwa itu adalah Faata, suaminya.
Sebuah dagu diletakkan begitu saja di pundaknya, ia menoleh sedikit.
Alhamdulillah…tentu saja Faata. Dalam hati Ata tersenyum, apa suaminya panas
lagi, ya? Tingkah aneh apa lagi yang akan disuguhkan lelaki muda itu padanya
malam ini.
“Aku mencintaimu.” Setengah
berbisik suara Faata mempu membuat darahnya terasa hangat.
“Ohya?” Ata mengimbangi dengan
nada canda. Tapi mungkin kurang tepat sepertinya. Tangan Faata bergerak membuka
mukenahnya, dan menaruhnya sembarangan saja di lantai. Sedikit khawatir, Ata
ingin sekali merasakan kening suaminya. Apa ada yang salah?
Faata memutar bahunya hingga
mereka berhadapan dengan sempurna. Jarak wajahnya dengan wajah Faata bahkan
terhitung senti saja. Melihat tatapan Faata, Ata menelan ludah. Sesungguhnya
malam ini, suaminya tidak main-main. Sementara itu Faata menatap wajah istrinya
seolah tak ingin lepas. Begitu sayang. Ia mengusap pipi kanan Ata dengan
lembut, kemudian menyentuh bibir Ata. Didekatkannya wajahnya pada wajah Ata,
kemudian mengecup kening istrinya yang bebas.
“Shalat sunnat dulu, ya?” Ata
lumer mendengar permintaan suaminya. Ketegangan sebentar tadi berpamit dengan
perlahan. Faata mengambil kembali mukenah yang ia taruh sembarang tadi dan
menyerahkannya dengan senyuman. “Wudhu dulu.” Ia menggerakkan kepala kearah
kamar mandi. Sedikit salah tingkah Ata mengangguk dan menuju kamar mandi.
Yaa Allah…
*_*
Hampir jam sepuluh malam, Faata
menyelesaikan do’anya yang terhitung lebih panjang dari do’a
sebelum-sebelumnya. Ata hanya diam menikmati, pahamnya suami mudanya itu tengah
berdamai dengan keinginan yang membuncah. Kali itu mereka tidak shalat di ruang
shalat seperti biasa, begitu keluar dari kamar mandi Ata sudah menemukan
sajadah dalam posisi siap jama’ah di lantai kamar.
“Sini.” Faata membalik badan,
bersila menghadap Ata yang mendekat padanya. ia menyerahkan punggung tangannya
juga telapaknya pada istri yang perlahan mulai menguasai hatinya. Dikecupnya
kening Ata lembut, kemudian meletakkan telapak tangan kanannya di ubung-ubun
Ata, membacakan do’a dengan sedikit dikeraskan. Maka, Ata mengamini dengan hati
bergetar, dari do’a itu tau dan pahamlah ia bahwa malam itu, Faata suaminya
akan memenuhi kewajibannya.
Ata menjauhkan wajahnya begitu
do’a itu usai. Ditatapnya wajah Faata yang mendewasa dalam waktu begitu
singkat. Ia tersenyum mengangguk, dan membuka mukenahnya, melepasnya bagitu
saja.
“Sebentar,” Faata menghentikan
gerakannya. Ia menoleh heran, “Itu kewajibanku. Tapi, aku tidak mau
melakukannya terburu-buru. Bisa kita berbicara ringan?” Faata melepas
kopiahnya. Ata dengan sedikit malu mengangguk. “Tak apa, sini.” Faata
menggandenganya ke ranjang.
“Berbaring saja dulu di dadaku.”
Faata menarik istrinya ke dekapannya, Ata sampai bisa merasakan degupan jantung
Faata. “Mmm…kau pasti tau kisah Rasulallah SAW dengan Siti Khadijah. Maaf ya,
tapi beliau seperti kita. Aku tidak merasa seperti sang mulia Rasulallah SAW,
tapi kau cenderung seperti Khadijah.” Faata memberi jeda, Ata diam menelan
ludah memberikan kesempatan seluruh untuk kelanjutan kalimat suaminya.
“Khadijah adalah wanita yang dipastikan surga baginya oleh Allah. Ia
adalah wanita yang menjadi panutan untuk seluruh wanita hingga akhir zaman.
Khadijah wanita yang lembut dan selalu berbakti pada suaminya, meskipun
suaminya lebih muda darinya. Jauh…” Faata kembali mengambil nafas. “Khadijah
yang shalihah, memberikan kepercayaan sempurna pada suaminya, bahkan mengakui
suaminya seorang Nabi yang ketika itupun Nabi SAW belum mempercayainya.
Khadijah yang merawat dan menggandeng lengan Nabi SAW kapanpun dan dimanapun.”
Jeda lagi, kali ini lumayan lama. Ata merasakan usapan sayang pada
ubun-ubunnya. “Dia…adalah kamu dia bagiku.” Dada Ata terasa tak berdetak
sekejap, “Aku sangat-sangat bersyukur bisa bersanding denganmu. Mau kalau kau
kupanggil Khadijah?” Faata menunduk sedikit menatapnya, Ata mengangguk dengan
senyuman. “Tapi…aku akan lebih nyaman memanggilmu sayang, tentu saja.” Ata
terkikik mendapati nada Faata dalam kalimat terakhirnya.
“Kok ketawa? Ada yang lucu, ya?”
Faata merenggangkan tubuhnya, menunduk menatap wajah Ata.
“Tidak ada, lucu dengan nadanya
saja.” Ata masih cekikikan.
“Sini, kepalanya setara saja.
Sepertinya aku sangat betah melihat wajahmu.” Faata merapikan bantal di samping
bantalnya. Ata mengikuti saja, ia mempertahankan senyuman. Faata menatapnya
dalam.
“Jangan natep gitu, ah. Risih
tau.” Ata mencubit ringan lengan Faata yang bebas.
“Aih, sudah berani ya?” Faata
menarik tangan Ata yang mencubitnya kemudian menggenggamnya. Suasananya yang
mencair tadi mendadak sunyi, seperti di sinetron-sinetron mereka bertatapan
lama. Faata tersenyum.
“Ayooolah…jangan membuatku
semakin jatuh cinta padamu, Sayang…” Faata menarik tubuh Ata ke pelukannya,
hingga benar-benar menyatu.
“Mmm…jadi tidak boleh membuat
suami jatuh cinta pada istri?” Ata menggoda, Faata tersenyum renyah dibuatnya.
“Tidak, sampai kau tau rasanya…”
Faata jadi ikut terdengar lucu. Ata menanggapi dengan tawa
renyah…selanjutnya…ayolah…pada tau semua, kan. ^^
*_*
“Kenapa?” Ata tergagap kaget
saat suara Faata menariknya kembali dari ingatannya tentang kejadian tadi
malam.
“Oh, tidak ada.” Ata salah
tingkah. Ia bangkit dari duduknya.
“Eit.” Faata menarik pergelangan
tangannya. “Kenapa ditinggal shalat dhuha?” Faata memberatkan suaranya, Ata
jadi semakin salah tingkah. Ia menoleh, kemudian memasang senyum semampunya.
“Mas tidur lelap, tak enak
mengganggu.” Ata beralasan, Faata duduk bersila masih digenggamnya pergelangan
tangannya.
“Duduk.” Pinta Faata sedikit
kecut. Ata menuruti dengan cepat, ia duduk di pinggiran ranjang dengan
menunduk. “Bagi berkahnya.” Faata kembali bersuara perintah, Ata mengangkat
wajah heran mendengar perintah itu. “Bagi berkah…itu tangannya sudah dipakai
berdo’a, kan. Usap!” Faata mengangkat sedikit wajahnya. Ata heran bukan main.
“Ayo, sayang. Perintah!” Faata menutup matanya. Atapun mengikuti saja. Ia
mengangkat kedua tangannya dan mengusapkannya ke wajah Faata dengan pelan.
“Alhamdulillah…” Faata membuka
matanya dan menggenggam kedua tangan Ata yang masih di wajahnya. “Terimakasih
banyak…” Ucapnya dengan senyum, “Jangan takut, aku tidak marah, Sayang.”
Lanjutnya ringan. Ata melepas nafas ringan, kemudian tersenyum.
“Maaf, Mas. Lain kali saya
perbaiki.” Ata tersenyum. Faata mengangguk-angguk dengan tatapan lucu.
“Ohya…sepertinya selain tangan,
semuanya dipakai buat Dhuha, ya?” Faata melirik nakal.
“Maksudnya?” Ata heran.
“Bagi berkah. Hehe” Faata
nyengir.
*_*
Kuperhatikan setiap warna pada
wajah Teteh yang terpancar pada tiap cerita. Mereka hebat. iri, tapi aku
benar-benar salut. Selanjutnya Teteh bercerita tentang kelahiran putra putri
mereka yang membuatnya merasa sempurna menjadi wanita.
“Memberikan anak untuk suami
membuat saya merasa sempurna menjadi wanita, Alin. Sungguh…Rasulallah SAW juga
pernah mewasiatkan kepada kaum lelaki untuk menikahi wanita yang baik dan yang
bisa memberikan banyak keturunan padanya.” Teteh menerawang, waktu sahur
sebentar lagi imsak. Aku tertegun, menyelami makna-makna indah pada semuanya.
“Makan sahur, Alin. Padanya ada
barokah, Sayang.” Teteh mengingatkan, aku sedikit kaget dan kuturuti ucapannya.
Akupun mengundurkan diri dari dunia yang baru saja diputar ulang dengan kalimat
apik yang lembut oleh Teteh. Pintu kututup rapat dan melangkah ke ruang dapur,
menyiapkan sahur sendiri, seadanya. Kuputuskan sekerat roti tawar dan segelas
susu hangat saja.
Sunyi.
Entah kenapa rasa yang aku tak
tau apa merknya berkunjung tanpa tiket ke aula hati. Dengan rasa tawar roti
yang kukunyah tak minat, mataku menerawang, fikiranku berkelana. Jauh, ke masa
lalu.
Seandainya…ya, seandainya aku
adalah Khadijah itu…
*_*
Pagi, aku menggelar sajadah
Dhuha di samping ranjang Teteh yang tampak terlelap pucat. Kuserahkan diriku,
nyawaku dan seluruh keadaanku pada pemilik Sang Agung. Kutuangkan segala do’a
keselamatan standar yang bisa kuucap dan kupahami untuk Teteh. Semoga wanita
mulia ini bisa menjalani semuanya dengan baik, lembut…sebaik dan selembut
ikhlas Khadijah yang dipeliharanya. Aamiin…
Usai Dhuha, aku keluar kamar,
melangkah ke teras belakang. Suasana pagi yang begitu sejuk. Matahari baru
sepenggalah, meski terasa mulai sedikit menyengat rasanya berjuta syukur
disuguhi ini oleh Yang Esa. Akupun duduk di teras dengan lepas, menjulurkan
kaki yang terasa berat. Menikmati angin pagi segar dengan irama gesekan daun
mangga dan papaya. Nyaman.
“Alin…” Aku tergagap mendapati
Teteh telah duduk di sampingku, ia tampak sangat cantik. Sangat berbeda dengan
yang kutinggalkan di kamar barusan. Entah kapan ia kesini. Ia tersenyum dengan
mata bening yang mendebarkan. Aku menelan ludah, serasa berhadapan dengan
malaikat.
“Teteh…kenapa keluar?” Aku
bertanya heran. Ia masih tersenyum. Tak menjawab pertanyaanku ia malah
mengalihkan pandangan pada langit dan menaruh kepalanya di bahu kananku. Ia
memang duduk di samping kananku. Aneh. Aku tak merasakan beban sama sekali di
bahuku, tapi wangi Teteh begitu menyerang hidungku. Wanginya beda.
“Allah telah memilihmu menjadi
pengganti saya, untuk suami saya, anak-anak saya dan seluruh keluarga saya.”
Teteh membuka suara, terdengar segar. Aku mendengarkan, ikut memperhatikan
langit. “Saya tau, kamu dan saya sungguh sangat berbeda. Kamu adalah gadis yang
sedikit keras kepala dan sering bertingkah seenak hati saja.” Aku merenggut
dalam hati pada kejujuran ini, “Tapi Allah sungguh, pastinya tidak akan salah
pilih. Jadi, saya ikhlas kamu menduduki singgasana saya sepeninggal saya nanti,
Alin.” Kau bisa merasakan senyum seseorang meskipun tanpa melihatnya langsung?
Aku rasa, kali ini aku bisa. Dan aku pastikan, Teteh tersenyum saat ini.
“Jadi, jangan merasa tidak enak.
Jangan goyah pada apapun setelah ini, Alin. Akan banyak pastinya tanda kasih
sayang yang akan Dia berikan padamu dan mas Faata. Tapi sesungguhnya, Allah
akan berikan jalan keluarnya. Cintailah suami kita, baktilah dengan seluruh
bakti yang kamu miliki. Karena sesungguhnya Rasulallah SAW pernah bersabda,
bahwa jika diibaratkan hak seorang suami pada istri itu…seandainya seorang
suami sakit cacar, dan sang istri menjilati nanah pada seluruh tubuh suaminya
maka itu belum cukup untuk membayar hak suami pada istri.” Bening suara Teteh
membuat ludahku tertelan seketika, aku mengerjapkan mata, takjub.
“Pada hadits lainpun Rasulallah
SAW bersabda, kurang lebih…jika Allah mengizinkan hamba-Nya untuk menyembah
makhluk, maka akan kuperintahkan para istri untuk menyembah suaminya.”
Subahanallah…
“Tapi Allah tidak membenarkan
hamba-Nya menyembah selain Dia. Tapi kamu bisa mengambil apa yang saya inginkan
kan, Alin?” Tanya Teteh.
“Insya Allah, Teh. Saya akan
berusaha.” Jawabku, dan kembali kurasakan Teteh tersenyum. Akupun merasa
lumayan lega.
“Anak-anak…Fatimah, Ibrahim dan
Hindun. Mereka akan menjadi anak-anakmu. Meskipun bukan dari rahimmu, tapi
berlakulah sebagai ibu yang baik. Karena mereka adalah anak, darah daging
suamimu. Baktimu adalah mendidik keturunan suamimu menjadi baik, menjaga
hartanya dengan baik dan menjaga kehormatanmu ketika ia tidak di rumah. Maka
jadikanlah mereka hamba Allah yang baik, jadi ummat Muhammad SAW yang diberikan
safaat, menjadi panutan untuk ummat. Karena sesungguhnya Ibu adalah madrasah
pertama bagi anak-anaknya.”
“Tapi saya tidak seperti Teteh.
Saya tidak begitu tau tentang agama,” Aku sedikit ragu.
“Barang siapa yang diinginkan
Allah untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikannya pemahaman agama.
Insya Allah…niat yang baik, Allah pasti akan menolongmu.” Mendengar itu aku
jadi kembali tenang.
“Alin, jadilah wanita yang
cantik karena akhlak, yang manis karena sopan santun, yang ramah karena ibadah,
yang menarik karena ibadah, yang mulia karena hijab, yang terhormat karena bakti
pada suami. Karena hal-hal yang tidak berguna akan menjerumuskanmu pada
penyesalan di akhirnya. Carilah yang baik di akhir dengan tumpang tindih pada
awal, jangan sebaliknya. Kamu paham?!”
Mata Teteh seperti menusuk
hatiku. Aku mengangguk dengan pandangan tak berkejap, teteh tersenyum
menggenggam tanganku. Rasanya sangat nyaman meski tangan itu begitu dingin.
…
“Alin!!!” Panggilan keras dari
ruang tengah membuatku tergagap. Suara mas Faata. Ia sudah kembali. Aku
menghela nafas dan bergegas bangkit. Teteh…astaghfirullah…bukankah tadi Teteh
di sampingku? Genggamannya masih aku rasakan saat suara mas Faata memanggilku.
Um, mungkin sudah ke kamar. Apa iya?
Aku bergegas ke ruang tengah,
tak ada sesiapa disana. Akupun ke kamar Teteh, disana kutemukan mas Faata
tampak sibuk membersihkan wajah Teteh. Ada tiga orang anak kecil, Fatimah,
Ibrahim dan Hindun tampak duduk dengan mata berkaca di sekitar Teteh. Aku
segera masuk.
“Teh…?” Aku tercekat. Kulihat
kain yang dipegang mas Faata memerah dengan darah. Darah? Bukankah tadi…
“Kamu dari mana, Alin? Kenapa
meninggalkannya sendirian?” Mas Faata bertanya dengan wajah tetap fokus pada
wajah Teteh yang pucat pasi.
“Aku…tadi bicara dengan Teteh
di…”
“Sudah, sudah…ambilkan air
hangat dulu.” Ya…siapa yang akan percaya padaku jika keadaannya seperti ini????
Dan Teteh?
*_*
“Saya ingin bersama anak-anak
saya, malam ini.” Teteh berkata pelan memberi perintah dengan pandangannya agar
kami meninggalkan mereka berempat di kamar. Aku menoleh pada mas Faata yang
mengangguk. Kamipun keluar. Seluruh pembantu tetap di rumah telah datang sore
tadi. Mereka tampak sangat kusut. Akupun tak tau harus berbuat apa.
“Shalat tarawih dulu, yuk!” Mas
Faata membuka suasana. Akupun tersadar, kami hanya berbuka dengan air putih
saja tadi.
“Anak-anak bagaimana, Mas?” Aku
jadi teringat Fatimah, Ibrahim dan Hindun.
“Tidak apa-apa, nanti bisa
belakangan.” Akupun mengikuti langkah mas Faata ke ruang shalat. Selama shalat
Mas Faata seperti begitu kuat. Suaranya lantang dan fashih seperti biasa. Tak
ada yang membuat berbeda kecuali perasaan kami. Perasaan orang-orang yang
sebentar lagi akan ditinggalkan.
Begitukah?
Usai tarawih, mas Faata
memintaku meninggalkannya sendiri di ruang shalat. Aku paham, ia tentu butuh
waktu untuk menjadi kuat meski ia adalah seorang lelaki yang mengagumkan.
Akupun keluar, kurasakan perutku keroncongan. Sahur seadanya, bukapun seadanya.
Kuputuskan untuk mencari sedikit penjanggal perut di dapur.
“Jadi baiklah kamu seperti
Fatimah. Nama itu adalah do’a, kamu tau kan, Sayang?” Samar kudengar suara
Teteh saat melewati kamar. “Begitu juga Ibrahim, dan Hindun.”
“Ibu…mau kemana?” polos,
sepertinya suara Hindun.
“Ibu mau menemui Allah…Ibu
pernah cerita sama Hindun kan dulu? Bahwa kita ini milik Allah…dan akan kembali
pada Allah…Hindun ingat, Sayang?” Suara Teteh seperti angin sejuk.
“Ingat, Bu. Jadi, Ibu akan
kembali kapan?” Aku terenyuh, kurasakan mataku mulai buram.
“Ibu tidak kembali, Dek.”
Ibrahim sepertinya, “Ibu akan menunggu kita sampai menemui Allah juga.” Terdengar
dewasa sekali anak itu.
“Jadi Ibu mau nunggu Hindun, kak
Baim, kak Fat juga Aby disana? Ibu tidak kesepian?” Hindung masih polos, “Ibu
tidak kasian kalau kami kangen?” Lagi.
“Tidak, Sayang. Kan Ibu ditemani
Allah, juga malaikat dan amal-amal Ibu. Ibu kan pernah cerita kalau orang
meninggal itu amalnya yang menemaninya.”
Sunyi.
“Jadi Ibu mau meninggal?” Kali
ini suara Hindun bergetar. Entah apakah ia mengerti atau tidak, tapi menurutku
meninggal itu adalah hal yang tidak menyenangkan buatnya. Dan tidak ada yang
menjawab pertanyaannya, “Ibu akan dipakaikan kain putih dan ditimbun tanah?
Seperti cerita-cerita ibu dulu?” Hindun kecil mulai menangis. Tak ada yang
menjawabnya. Entah takut atau tak tau hendak katakan apa.
“Tidak apa-apa, Dek.” Suara Fatimah,
“Kita semua juga akan begitu…” Dengan terisak Fatimah menenangkan. Anak-anak
yang baik.
“Kata Ibu, kita tidak bisa
menolak kalau sudah saatnya.” Hindun semakin terisak, “Allah marah kalau Ibu
minta waktu sebentar? Sebentar lagi lebaran, Hindun mau sama Ibu. Baju baru
yang sama. ibu sudah bilang mau belikan baju yang sama buat Hindun dan kak Fat,
kan?” Aku menangis.
“Iya, Sayang…sini, peluk Ibu.”
Kudengar suara Teteh bergetar, “Allah mau Ibu datang sebentar lagi. Tenang
saja, Ibu sudah pesankan di tukang jahit langganan Ibu, lebaran besok, Hindun
dan kak Fat akan memakai baju yang sama. nanti Ibu salamkan sama Allah ya?”
“Ibu…tidak takut? Mau Hindun
temani?” Aku terisak.
“Tidak…kan Ibu sama amal.
Menurut Hindun, Ibu baik atau tidak?”
“Yang terbaik…” Setengah
berbisik, suara Fatimah.
“Tentu saja…Ibu yang paling
baik.” Hindun manyahut…
“Jadi amal Ibu, banyak atau
sedikit?”
“Banyak sekali, Bu. Tapi Hindun
lupa menghitungnya.”
“Jadi…kira-kira…”
“Amal Ibu pasti akan jadi teman
yang baik. Seperti amal sahabat yang Ibu sering ceritakan.”
“Hindun cerdas…jadi Hindun tidak
perlu khawatir. Dan tidak perlu menangis…ya?”
Diam sejenak.
“Bu…kata Aby, Hindun punya Ibu
lagi.” Aku tertegun.
“Ya, Sayang…yang sama Aby tadi.
Dia yang…”
“Dia yang akan jadi Ibu kak Fat
dan kak Baim juga?”
“Tentu saja, Sayang. Dia orang
yang…”
“Kenapa harus jadi Ibu Hindun?
Bagaimana kalau dia aja yang pergi ke Allah terus Ibu diam sama kita…?”
Dugh!
“Hindun tidak suka Ibu yang
lain…”
DIA AKAN
CINTA(9)__Aku Ikhlas, Aku Ridha
Aku melangkah lemas sembari
menghapus air mataku. Rasanya begitu perih mendengar ucapah Hindun barusan.
Gadis polo situ tidak menerimaku menjadi ibunya? Yaa Allah…bagaimana ini? Akan
sangat sulit mendekatinya, tentu saja. Apalagi dalam usia yang begini. Dan,
masih belumlah…
“Kamu kenapa?” Aku tergagap
mendengar suara mas Faata yang ternyata berdiri tak jauh dariku. Aku menelan
ludah. Jelas, ini tak boleh ia ketahui.
“Tak ada, Mas. Mas udah makan?”
Tanyaku mengalihkan perhatian. Ia memperhatikan gelagatku yang tidak biasa. Aku
jadi salah tingkah.
“Jangan berfikir macam-macam.”
Ia berujar sembari berlalu, aroma khasnya menerpa indra penciumanku. Aku
meringkuk dalam hatiku.
*_*
Hampir tengah malam, suasana di
rumah ini masih seperti sebelum-sebelumnya. Diselimuti kesedihan. Aku merenung
di lantai dua, beranda. Menatap bintang yang seolah enggan pergi.
Fyuuuuhhhh
Kuhembuskan nafas berat. Akan
terjadi apa esok hari? Atau nanti, Allah sajalah yang tau. Benarkan Teteh akan
secepat ini pergi? Dan kenapa ia begitu yakin akan segera pergi? Kejadian tadi
pagi kembali terputar di ingatanku. Astaghfirullaah…mungkinkah dia bukan Teteh?
Tapi, siapa jika bukan?
Teng, teng, teng.
Jam besar di lantai dasar
terdengar samar-samar, sudah jam tiga. Lebih baik turun, membantu bibi
menyiapkan makan sahur. Akupun menarik langkah menyusuri ruangan-ruangan kecil
di lantai dua yang sengaja dibangun sederhana sepertinya. Kuturuni tangga
dengan tampang lusuh.
“Tidak apa-apa, saya mampu,
Mas.” Samar kudengar suara Teteh dari dalam kamarnya. Ah, dia sedang bersama
mas Faata sepertinya. Lebih baik aku tidak usah dengarkan. Akan semakin runyam
perasaanku nantinya. Dan aku akan tidak tau memberi merk apa padanya.
“Tidak, aku tidak menginginkan
kamu melakukan itu.” Kali ini suara mas Faata. Hening, kakiku terasa berat.
Harus, mesti kudengar.
“Maafkan saya, Mas. Saya sudah
menyusahkan banyak orang.” Suara Teteh bergetar. Aku kaku.
“Tidak, Sayang. Sama sekali
tidak. Kamu tidak menyusahkan siapapun.” Mas Faata terdengar sangat lembut. “Kamu
adalah tanggung jawabku!” Kali ini lebih tegas, aku sampai bisa merasakan
auranya hingga ke hati.
“Terima Kasih. Kau sungguh imam
yang baik.” Pasti teteh tersenyum saat ini.
Hening beberapa, saat.
“Tidak, kau tidak boleh
menangis, Mas.” Aku menelan ludah, “Air mata ini menurunkan wibawamu.” Teteh
sepertinya sedang mengusap air mata mas Faata. Tapi tak ada sahutan. Aku lebih
mendekat ke pintu. Malam masih sunyi, aktifitas dapur tertelan disana saja.
“Ayolah…kita ini milik Allah,
dan akan kembali pula pada-Nya. Kenapa harus ditangisi? Tidak sekarang, esok,
atau entah kapan, semuanya akan kembali pada Allah, kan?” Teteh manyusut sendu.
“Aku masih ingin sekali mencari
orang itu.” Mas Faata terdengar bergetar.
“Astaghfirullahal’azhiem…mas
masih menyimpan perasaan seperti itu?” Aku mengerutkan alis. Maksudnya?
“Tidak bisa semudah itu aku
memaafkan orang yang telah mencelakaimu.”
“Beristighfar, Mas. Ini semua
tentu sudah diatur oleh-Nya. Sudahlah, dendam itu tidak baik.” Teteh terdengar
enggan. Tidak menyukai sikap mas Faata sepertinya. Dendam?
“Yaa Allaah…seandainya sajaa…”
Mas Faata kembali terdengar menangis.
“Menjauhlah, Mas. Saya seperti
tidak mengenalimu.” Suara Teteh kuat. Aku menelan ludah. Kembali hening.
“Maafkan aku…” Suara mas Faata,
kemudian tapak kaki. Aku harus segera pergi. Tapi rasanya telapak kakiku
terpaku. Dan…
Cklek!
Pintu terbuka, aku dan mas Faata
sama-sama kaget, dari dalam Tetehpun sama.
Bagaimana ini?
*_*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar