“Tidak mau aku gugurkan Abah!” gadis berwajah manis ini
bersikeras dengan urat bermunculan pada keningnya. Pipinya telah memerah, memar
kupukuli sedari tadi. tapi ia tetap tak mau menggugurkan bayi haramnya.
“Kamu
ini membuat malu Abah saja, Mariam!!!” aku menelan amarahku yang terasa pahit.
“Aku
membuat malu Abah dengan perbuatanku, tapi bukan dengan anak ini. aku akan
melahirkannya, apapun resikonya!!!!” gadisku, yang sangat mewarisi sifat keras
kepalaku itu tetap tak tergoyahkan. Sebuah sentuhan lembut menyapa bahuku.
“Biarkan
saja dulu, Abah. Nanti kita bicarakan baik-baik. Malu didengar tetangga.” Suara
istriku yang bergetar dengan tangis membuatku sedikit membaik, aku menuruti
ajakannya untuk keluar dari kamar putri kami, ia menoleh sebelum menutup pintu.
Kemudian memelukku ketika pintu tertutup. Entah apa maksudnya, memberikan
kekuatan, atau meminta kekuatan dariku. Aku hanya memeluknya kembali, kami
memang sedang sama-sama membutuhkan kekuatan saat ini.
//
Pernikahanku
dengan istri tercintaku Munawarah dikaruniai dua orang anak oleh Allah. yang pertama
perempuan, lahir sembilan belas tahun lalu, kami beri ia nama Mariam. Nama ibu
Nabi Isa as yang tercatat mulia dalam Al Qur’an. Tujuan kami tak lain sebagai
do’a bahwa untuk kehidupannya ia bisa mencontoh Mariam yang suci. Kemudian anak
kedua kami laki-laki, lahir empat belas tahun silam. Kami memberinya nama Said,
nama anak angkat Rasulallah SAW. Harapan kami tentu saja, agar ia bisa meniru
Said bin Tsabit yang terbilang paling dekat dengan Rasulallah SAW karena
Saidlah yang selalu menemani Rasulallah, bahkan Rasulallah pernah menamainya
Said bin Muhammad sebelum kemudian ditegur Allah SWT. Maka ketika seorang bisa
mengikuti orang terdekat Rasulallah, maka bisa diharapkan juga mengikuti
Rasulallah.
Alhamdulillah,
sejauh pernikahan kami semua terasa baik-baik saja. Ujian dan teguran Allah
sama-sama kami hadapi dan terima dengan ikhlas. Aku membiasakan keluargaku
untuk bersedeqah, disamping membayar zakat kudidikkkan pada semuanya untuk tak
sungkan bersedeqah pada siapapun. Karena rezeki yang ada pada kita sejatinya
adalah milik orang lain. Akupun membiasakan keluargaku untuk shalat tahajjud,
shalat dhuha dan shalat taubat. Hingga ketiga shalat sunnah ini menjadi
kerutinan bagi kami.
Allahpun
memudahkan rezeki kami. Aku dan istri telah berhaji, bahkan Ramadhan tahun ini
ada rencana berumrah sekeluarga besar. Semuanya terasa aman dengan syukur.
Hingga
kisah ini bermula pada beberapa bulan terakhir, Mariam putri kami satu-satunya
mulai mengenal lelaki. Ia masuk salah satu perguruan tinggi ternama dengan
beasiswa pula, karena Alhamdulillah dia memang anak yang dikaruniakan otak yang
pintar. Dari kampuslah ia berkenalan dengan seorang lelaki yang kerap ia
ceritakan kepada Ibunya di rumah. Lelaki pintar yang baik hati, yang membuat
hatinya jatuh. Aku memperhatikan dengan senyuman, sudah sewajarnya anakku
mengenal perasaan itu. telah kudidik ia dengan basic agama yang baik, aku
percaya ia tak akan mengecewakanku, begitu fikirku.
Selanjutnya,
ia semakin dekat dengan lelaki itu. beberapa kali pula ia mengajaknya ke rumah.
Alhamdulillah, baik pula kulihat anak itu. hingga msuk semester 3, mulai ada
kejanggalan pada Mariam. Ia sering pulang terlambat, beberapa kali aku dan
istriku menegurnya tapi ia tak mengatakan apa-apa. Ia seperti kehilangan jati
dirinya sendiri.
Hingga
petang tadi ia datang dengan wajah kusut, jilbabnya tak lagi pantas terlihat di
wajah manisnya. Ketika kupanggil istriku untuk menanyainya, ia malah pingsan.
Saat kami panggil seorang petugas kesehatan kampung kami tercengang, Mariam
anak kami, putri semata wayang kami ternyata tengah hamil. Usia kehamilannya
memasuki bulan kedua.
Aku tak
bisa menahan amarahku. Begitu ia bangun kutanya langsung dengan emosi penuh.
“Siapa
yang melakukan perbuatan haram itu!!!!” tanyaku, ia menatapku tenang,
tatapannya tegar. Ia tak takut dengan amarahku.
“Siapapun
dia, semuanya sudah terjadi Abah.” Ia menjawab datar, dingin. Ia bersikukuh tak
mau mengakui siapa ayah dari bayi yang ia kandung. Aku menamparnya beberapa
kali, dengan isak ibunya yang tak henti, antara pilu dan kelu. Barulah ia
mengaku.
“Lelaki
itu.” hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya. Kurasakan darahku menanjak
cepat. Aku ingin menyeret lelaki biadap itu ke hadapan kami dan memintanya
menarik kembali apa yang telah ia lakukan pada putriku, apa yang telah ia
lakukan pada keluargaku. Tapi aku tahu itu mustahil, sangat mustahil semuanya
sudah terjadi.
“Dia
tidak mau bertanggung jawab, Abah. Jadi sebaiknya jangan cari dia.” Putriku
berujar dengan pipi yang memar, ia sama sekali tak menangis, “Ia menghinakanku,
menghinakan keluarga kita. Jangan pernah memohon padanya. aku jijik!” Mariam
melanjutkan. “Lagipula aku yang salah telah mempercayainya, aku juga yang
menghinakan diriku untuk ia setubuhi. Bukan sekali tapi berkali-kali. Aku
terlalu percaya pada makhluk Allah itu, hingga sekarang aku sendiri yang malu
menghadap Allah atas perbuatan kami.”
“Gugurkan!”
aku mendengar sebuah kalimat keluar dari mulutku sendiri.
“Tidak!!!”
Mariam teguh.
“Untuk
apa kamu pertahankan bayi haram itu!”
“Dia
tidak haram. Ibunya yang haram, bapaknya yang haram, tapi dia tidak haram!!”
begitulah, kekhilafanku memerintahkan Mariam untuk membunuh bayi yang ia
kandung. Perlahan aku mulai menyesal, selepas shalat isya aku meminta ampun
pada Allah kemudian berkunjung ke kamar putriku. Kulihat ia tengah duduk dengan
bertengadah tangan diatas sajadahnya. Air matanya membasahi mukenah putih yang
ia kenakan. Aku terenyuh, tentu saja putriku begitu tersiksa dengan ini semua.
Semakin aku menekannya maka akan semakin berat pula beban itu untuknya.
Istriku
kembali muncul di belakangku dengan mata basah pula. Kami kemudian memasuki
kamar Mariam putri kami, menghamipirinya dan duduk di kiri kanannya.
“Maafkan
aku Abah, Ibu.” Pinta Mariam dengan air mata berderai-derai. Aku dan istriku
memeluknya, mencoba menguatkannya. Tapi kami dan kalian tentu saja tahu, bahwa
air mata ini tentu tidak akan sampai pada mala mini, usia kandungan Mariam
masih 8 bulan ke depan.
//
Allah
adalah yang maha adil, Dia tak menimpakan apapun kecuali kita mampu
menanggungnya. Maka aku dan istriku mulai memperhatikan Mariam dengan lebih
juga dengan bayi yang dikandungnya. Dua hari sejak kejadian itu, Mariam
memutuskan untuk kembali kuliah. Dengan berbagai pertimbangan kamipun
mengizinkannya.
Sepulang
kuliahnya kami bertanya padanya tentang perkuliahannya, ia menjawab dengan
senyum cerah.
“Alhamdulillah
semuanya baik-baik saja.”
Yaa,
baik-baik saja. Secepat senyum itu hilang dari wajah putriku secepat itu pula
baik-baik itu menghilang. Memang di kampus tak ada yang mengetahui
kehamilannya, tapi di kampung dari mulut ke mulut perlahan aib putriku
tercemar. Dan selentingan-selentingan tak mengenakkanpun mulai santer
terdengar.
“Insya
Allah aku siap, Abah.” Istriku memegang tanganku kuat. Untung saja Allah masih
memudahkan, bahwa Said masih di pesantren. Ia tentu belum baik untuk mendengar
aib kakak perempuan tercintanya. Mariam? Ia malah tersenyum menanggapi
selentingan-selentingan itu.
“Aku
memang berdosa, Abah. Aku menghinakan diriku. Maka aku pantas dihina.” Begitu
ujarnya. Dibalik jendela matanya aku melihat ketakutan dan kesedihan, tapi
putriku tetap tegar, ia telah siap dengan resiko sosial yang akan ia hadapi, ia
bahkan tahu betul seberapa besar resiko itu. “Aku minta maaf jika nama Abah dan
Ibu ikut dipergunjingkan. Aku belum bisa meluruskan ini, bisakah Abah dan Ibu
bertahan?” ia bertanya mempertahankan bendungan air mata yang hampir jebol.
Kurasakan tangan istriku bergetar, ia kemudian memeluk Mariam, menguatkannya.
Melihat itu aku hanya mampu bertasbih pada Ilahi.
//
Pada
suatu maghrib, kedua orang tuaku dan orang tua istriku bertandang ke rumah.
Istriku menatapku sambil menelan ludah, aku mengangguk meyakinkan. Sudah
seharusnya masalah ini memang dihadapi bersama. Aku memanggil Mariam, dan kami
bertiga duduk di hadapan orang tua kami. Mariam tampak tegar meski berhadapan
dengan kakek dan neneknya.
“Kakek
mendengar dari nenekmu tentang pembicaraan santer tentangmu di kampung.” Ayah
mertuaku memulai. “Kami jelas tidak percaya dengan semua ini, kenapa tidak kau
luruskan omongan-omongan busuk orang kampung, Syaif?” Ayah menoleh padaku.
Terlihat bibir bawahnya bergetar. Aku menelan ludah memohon kekuatan untuk
kedua pasang orang tuaku atas masalah ini.
“Tidak
ada yang perlu diluruskan, Kek.” Mariam lebih dulu bersuara daripadaku, aku
menoleh padanya dengan dada tegang.
“Maksud
kamu apa, Mariam?” Ibuku bertanya memburu.
“Iya,
Nek, Kakek. Apa yang dikatakan mereka memang telah lurus, jadi tak ada yang
perlu kita luruskan.” Mariam menjawab tenang. Kedua pasang orang tuaku terdiam,
aku menoleh pada istriku. Istriku tak bisa memberikan respon yang jelas.
“Aku
memang hamil, sekarang memasuki bulan ke empat. Sebentar lagi perutku akan
membuncit, dan semuanya akan semakin jelas bahwa mereka memang tidak salah
membicarakanku.” Mariam dengan suara bergetar menjelaskan duduk persoalannya.
Orang tua kami mendengarkan dengan wajah penuh penyesalan.
“Minta
dia menikahimu!” Ayahku keras menggebrak meja. Istriku sampai kaget dibuatnya.
“Dia
tak mau, Kek. Aku sudah memintanya.” Mariam menjawab masih mempertahankan
ketenangannya.
“Dia
harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan!” Ayahku naik pitam.
“Bukan
dia yang melakukan, Kek. Tapi kami. Aku juga mengambil andil dalam perbuatan
kami. Aku sudah memintanya, tapi ia menyuruhku untuk menggugurkan kandunganku.
Aku tidak sampai berfikir kesana, karena bayi yang aku kandung memiliki hak
untuk hidup. Jadi aku tidak bisa melakukannya. Toh walaupun kami menikah
masyarakat juga akan tahu kami telah berbuat haram sebelumnya, karena anak ini
pasti akan lahir lebih cepat dari seharusnya.” Mariam berkata panjang lebar.
“Kamu
memalukan Mariam!!! Kakek tidak bisa mengerti jalan fikirmu, sudahlah! Kamu
hadapi saja hasil dari perbuatanmu itu. kakek tidak mau ikut campur. Mulai dari
sekarang kamu bukan keluarga kami.” Ayahku yang memang berwatak keras menarik
lengan ibuku dan hendak pergi.
“Aku
memang hina, Kek.” Mariam mencegah langkah Ayahku, “Aku akan siap menanggung resiko
dari perbuatanku. Tapi sampai kapanpun darah kakek tetap mengalir dalam
diriku.” Istriku menyentuh bahu Mariam, takut terjadi sesuatu yang lebih tak
diperkirakan.
“Ya,
seharusnya kamu sendiri yang menanggung resikonya. Bukan kami, bukan keluargamu!!!
Pezina kamu!!!” Ayahku benar-benar murka. Aku berdiri hendak menengahi, mereka
jelas tak bisa diberikan kesempatan ini. mereka memiliki watak keras yang sama.
“Sudahlah
Ayah, kita bisa berbicara dengan baik-baik.” Aku mendekati Ayahku.
“Kamu
juga, Syaif. Tidak becus mendidik anak-anakmu. Lihat bagaimana aku mendidikmu
dari kecil sehingga kamu bisa seperti ini, kamu tidak belajar dari itu semua?!
Kamu malah mendidik putrimu menjadi pezina!” Aku malah jadi ikut panas
mendengar kalimat Ayah barusan. Bagaimana tidak? Aku pastikan seumur-umur aku
mendidik Mariam, aku tidak pernah mendidiknya untuk menjadi seorang perempuan
lacur. Ini semua kekhilafan, ini semua kecelakaan, tapi kenapa Ayah malah
menyalahkanku.
“Sudahlah..”
suara lembut ibu istriku terdengar sebelum sempat aku menyahut, “Coba kau
ambilkan air putih untuk kita, Muna.” Ibu mertuaku menoleh pada istriku. “Kita
perlu mendinginkan suasana ini.” lanjutnya. Istriku patuh, beranjak ke dapur. “Duduklah
dulu, kita tidak bisa menyelesaikan ini dengan amarah. Kasian kita, kasian
keluarga, kasian juga pada Mariam. Kita cari jalan terbaiknya dengan datang
kesini bertujuan musyawarah. Kenapa jadi ribut begini.” Ibu mertuaku menatapku
bergantian dan Ayahku. Kami sama-sama menelan ludah dan kembali menempati korsi
kami masing-masing.
//
Sampai
malam menghampiri tengahnya Ayahku masih tak bisa menerima cucu perempuannya
melakukan perbuatan haram itu. ia bersikeras mengeluarkan Mariam dari tatanan
keluarga. sedang ibu dan ayah mertuaku lebih bijak ingin mengasingkan saja
Mariam agar tak diketahui sesiapa. Tapi Ayahku sendiri menganggap itu sangat
pengecut, bagaimanapun mereka menyembunyikan Mariam semua pasti akan tahu
tentang itu.
“Lama
sekali kita menemukan jalan keluar ini, bagaimana kalau kita Tanya saja Mariam
keputusannya.” Istriku mengusulkan setelah sekian lama tadi ia hanya diam.
“Tak
uasah Tanya Mariam, apapun yang ia ingin perbuat kita tetap akan menanggung
malu.”
Aku
menelan ludah, sedari tadi sering kulakukan hingga mulutku terasa kering.
Begitu hebatnya efek dari perbuatan haram ini. benarlah bahwa memang karena
nila setitik rusak susu sebelaga. Sebaik apapun putriku sebelum ini, seshalihah
apapun dia sebelum ini, tapi sekarang masayarakat telah berpandangan lain
terhadapnya. Ia bukan Mariam yang dulu, yang baik, yang ramah, yang pintar,
yang menjadi buah bibir manis masyarakat. Ia sekarang adalah Mariam yang hina,
yang lacur, yang meskipun berasal dari keluarga baik ternya tak bisa menahan
nafsunya, yang menghinakan sekali keluarganya, ia yang begitu menjijikkan.
Tiba-tiba saja mataku panas mengingat itu semua. Anakku melakukan kesalahan
haram, seperti inilah yang masyarakat fahamkan tentangnya. Bahwa ia tak bisa
menjadi yang mulia seperti namanya, seperti yang kami harapkan. Tapi tentu saja
diantara kami semua tak ada yang tahu tentang kejadian sepenuhnya dan
sebenarnya bagaimana. Kami tentu belum tahu rahasia apa yang Allah tulis dibalik semua ini, hikmah dari semua ini
belum muncul jika kita mencarinya sekarang.
“Maaf,
Ayah, Ibu …” aku menengahi, seluruh pasang mata yang hadir menoleh padaku.
“Mariam memang telah melakukan hal yang haram, ia telah berdosa banyak. Karena
perbuatannya ia dihinakan di hadapan Allah. bahwa dikatakan dalam Al Qur’an,
agar kita tidak mendekati zina karena ianya termasuk dosa yang besar. Tepi
ternyata Mariam khilaf, saya ulangi sekali lagi ia khilaf. Kita sedari tadi
bermusyawarah untuk menyembunyikan aib Mariam, kenapa? Karena aib itu merembes
pada kita. Sejatinya dari tadi kita sedang berusaha mencari selembar kain untuk
menyembunyikan cacat pada bagian tubuh kita, kita berbicara tentang keselamatan
kita…lalu bagaimana dengan Mariam? Akankah kita berfikir tentang perasaannya,
derita yang ia tanggung saat ini? dimana dia akan menyandarkan kepalanya saat
kita orang terdekatnya saja ingin mengasingkannya? Pada siapa ia akan
mengadukan kelunya kalau kita keluarganya saja tak peduli padanya? tak cukupkah
ia menghinakan diri? Dihinakan masyarakat? Merasa berlumur dosa di hadapan
Allah? sehingga kita harus menambahnya?” kudengar isak istriku dan tatapan
semuanya melemah.
“Ingatkah
Mariam? Seperti apa baktinya kepada kita selama ini? seperti apa ia menjadi
cucu yang selalu kalian bangga-banggakan ke penjuru, bahkan di Makkahpun kalian
tetap menjadikannya buah bibir kebanggaan. Mariam yang teguh, itulah cucu
kalian. Mariam menyadari kesalahannya, ia menghinakan dirinya, ia siap dengan
selentingan-selentingan itu. saya rasa ia benar, memang perbuatannya haram, ia
hina, tapi anak dalam kandungannya tetaplah memiliki hak untuk hidup, ia
makhluk yang hadir karena perbuatan haram benar, tapi apakah ia memiliki
kesempatan untuk memilih? Mariam benar bahwa anak itu tak boleh mati, jika ia
menggugurkannya setelah melakukan zina, haruskah ia menjadi pembunuh juga?
Mariam paham itu semua, maka ia bersikukuh untuk mempertahankan bayinya. Apakah
ayah dan ibu berfikir Allah akan murka pada tindakannya? Saya sebagai ayahnya
meridhainya, memaafkannya, dan akan menemaninya menghadapi ini. ibunyapun telah
siap, selanjutnya terserah ayah dan ibu. Tapi ingatlah satu hal, bagaimanapun
kita menyembunyikan atau tidak menganggap Mariam dalam keluarga ini, seluruh
orang telah tau ia termasuk keluarga.” semuanya terlihat menghela nafas, ibuku
dan ibu mertuaku menangis.
“Panggillah
Mariam…” pinta ibuku. Istriku beranjak dan beberapa saat kembali bersama Mariam
yang masih bermukenah dengan mata sembab. Aku merasakan mataku berair, melihat
bagaimana putriku begitu tulus meminta ampun pada Allah…aku tak bisa
meninggalkannya, apapun yang telah dan akan terjadi, aku akan tetap
menemaninya.
“Duduklah.”
Pinta istriku padanya, Mariampun duduk di korsi antara aku dan ibunya. Ia
sedikit menunduk, sedikit tegak. Tampak takut tapi pasti akan menerima
keputusan kami. Ibuku menjulurkan tangannya dan menggenggam tangan Mariam
dengan bibir bergetar dan mata berair.
“Nenek
memaafkanmu…nenek akan menemanimu…apapun yang terjadi.” Katanya. Ibu
mertuakupun melakukan hal yang sama.
“Kamu
akan menghadapi resiko yang besar, cucuku. Nenek harap kamu kuat, jika ada
apa-apa, maka jangan disimpan sendiri. Kamu punya kami, keluargamu yang dalam
keadaan apapun akan selalu ada di sampingmu.” Begitu kalimat ibu mertuaku
dengan mata berair juga. Ayahku bangkit dari korsinya, ia yang awalnya begitu
keras kini mendekati Mariam. Ia berdiri di belakang korsi yang diduduki Mariam,
mengusap ubun-ubun cucu perempuannya dengan tangan bergetar. Ia tak berkata
apa-apa, egonya begitu tinggi tapi kami tau ia pasti telah ridha. Kini giliran
ayah mertuaku yang serta merta mendekat dan memeluk bahu Mariam.
“Kakek
ini lelaki juga, Mariam. Dan kakek tidak sama dengan lelaki itu. bagaimanapun
hinamu sebagai lelaki kakek aka nada buatmu…kau dengar?” Mariam mengangguk
dengan bendungan air mata hampir jebol. Ia memang sangat dekat dengan Ayah
mertuaku sedari kecil.
“Tak
usah hawatir, kami siap untuk ada di sampingmu sampai kapanpun sayang…” istriku
mengusap-usap pipi Mariam. Sedang aku? Aku tak perlu melakukan apapun, aku
sudah bahagia dengan ini semua. Malam inipun berakhir dengan tangis kami semua,
Mariampun ikut menangis…baru kali ini ia menangis di hadapan kami. Sejak
kejadian ini ia tak pernah menunjukkan air matanya pada kami, selama ini ia
hanya menangis di hadapan Allah saja. Yaa Allah lihatlah ini…kami menerima
Mariam kembali pada bagian dari kami, Engkau tentu lebih bijak daripada kami
bukan?
//