Aku mempercepat langkahku
memasuki ruangan luas yang hampir semua korsinya sudah terisi. Alhamdulillah
aku berhasil menemukan korsi kosong. Aku sangat berminat dengan seminar ini.
bukan karena pembahasanannya. Pembahasannya sangat bertolak belakang dengan
jurusanku. Tapi karena nara
sumbernya adalah oran g yang sangat aku kagumi,
aku bela-belain kesini.
“Mas baru dateng, ya?” Sebuah
suara gadis menyapaku dari samping kan an.
Aku menoleh, kutemukan sebuah wajah manis dengan senyum ramah, seorang gadis
berseragam SMA dengan jilbab seadanya. Tanpa sadar aku membalasnya.
“Iya,” Jawabku singkat.
“Emangnya sudah kemana?”
Tanyanya seperti sudah kenal saja.
“Uumm…ada ur usan!” Jawabku mengalaihkan pandangan ke
depan. Agak risih juga dengan anak ini. sepertinya mau tau saja ur usan oran g
lain. Kudengar ia ber’o’. beberapa menit kami khusuk menden garkan seminar.
“Yah…yang begituan itu disebut
penting. Coba penanggulangan kemiskinan dicuekin!” Kembali kudengar suara gadis
itu. agak panas juga, karena yang tengah memberikan gambaran adalah oran g yang aku kagumi. Aku
tidak membalas ucapannya, meskipun aku memang tidak yakin ia berbicara
denganku. Ia diam beberapa saat. Kemudian kembali mengkritik dengan sewot.
Entah berapa kali. Setiap ada penggambaran ia selalu saja terdengar tak setuju.
Akhirnya mau tak mau aku risih juga.
“Sepertinya kamu tidak tertarik
sekali dengan pembahasan ini!” Ujarku rada asem.
“Penang gulangan
Narkoba? Penting sich, tapi kan
sudah banyak!” Ia menjawab dengan ekspresi wajah yang sulit aku artikan.
“Terus kamu kenapa kesini?”
Dalam hati aku menyambung, mungkin hanya untuk menghabiskan konsumsi ajah.
“Dipaksa ikut sama kepala
sekolah!” Jawabnya singkat.
“Emang sendirian?” Aku kembali
bertanya.
“Nggak, bereng temen-temen,
tuuuu di belakang!” Ia menunjuk pojok belakang. Agak malas aku menoleh. Benar
saja disana duduk beberapa oran g
anak yang berseragam SMA.
“Kenapa nggak bereng mereka
saja?” Lagi-lagi aku mengutarakan pertanyaan.
“Males” Jawabnya. Aku menelan
ludah kesal. Kemudian kembali menghadap ke depan. Akhirnya tiba juga sesi Tanya
jawab. Aku ingin bertanya, tapi masih berfikir ingin menanyakan apa.
“Ya yang disana!” Operator
menunjuk kearahku. Aku bingung, perasaan aku tidak mengangkat tangan, kenapa
aku ditunjuk. “Silahkan berdiri!” Pintanya. Aku menelan ludah. Dan tiba-tiba
saja gadis yang tadi duduk di sampingku berdiri. Aku menoleh padanya, ternyata
dia yang mengangkat tangan. Tanpa sengaja aku menghembuskan nafas.
“Assalamu’alaikum warahmatullah
wabarakatuh, Nam a
saya Naila. Saya dari SMA 1. Saya ingin menanyakan satu hal pada nara sumber. Memang benar,
sangat penting untuk para pemuda dan pemudi tau tentang bahaya narkoba dan
sejenisnya. Sehingga sekitar 98% peserta sminar ini hanya remaja. Kenapa tidak
diadakan saja seminar untuk para oran g
tua tentang bahaya narkoba? Itu penting, karena hubungan mereka dalam Rumah
Tangga dan juga perhatian mereka pada anak berhubungan juga dengan tingkah
anak-anak di luaran. Terima kasih!” Naila, gadis itu kembali duduk. Aku
menatapnya, tegas juga. Ia menoleh, kemudian nyengir.
“Deg-degan juga!” Ujarnya. Aku
jadi serba salah ketahuan menatapnya. “Aku nggak berharep dijawab yang
bertele-tele.” Ia berucap sembari memasukkan buku catatannya ke dalem tasnya.
Aku kembali menoleh.
“Apa gunanya bertnya tak dapat
jawaban?” Tanyaku. Ia tersenyum tanpa menoleh.
“Karena jawabannya,,,”
“Maaf, kami rasa itu bukan
pertanyaan yang berhubungan dengan bahasan kita!” Terdengar seorang narasumber
menjawab pertanyaan Naila. Kali ini ia menoleh padaku.
“Karena jawabannya pasti seperti
itu!” Ujarnya masih dengan senyum. Aku tertegun, sepertinya gadis ini bukan
gadis SMA biasa.
_
“Naila Maghfiroti,” Ia
mengulurkan tangannya padaku. Aku tersenyum dan mengatupkan tangan di dada.
“Ahmad Nabil!” Ucapku. Ia
sedikit membundarkan mulutnya.
“Oow…nggak sentuhan ya???”
Ujarnya menarik tangannya. Aku tersenyum, ia terlihat lucu.
“Waktunya makan!” Ujarku, “Kamu
tidak ke teman-temanmu?” Tanyaku. Ia tersenyum kemudian menggeleng.
“Mending mas Nabil shalat sana . Jangan urusin temen-temen
aku, dia kan
bukan anak-anak, Mas! Hehe!” Dia nyengir lantas berlalu ke tempat makan. Sedang
aku ke mushalla. Selesai shalat aku menuju tempat makan, kemudian mengambil
nasi. Ketika memilih tempat duduk tak ada yang kosong, dan lagi-lagi yang bisa
kutempati hanya korsi di meja Naila. Mau tak mau aku kesana juga.
“Assalamu’alaikum, boleh
gabung?” Tanyaku padanya. Ia menoleh tersenyum.
“Wa’alaikumussalam, duduk ajah.
Mas lama juga shalatnya, es saya jadi dingin!” Ujarnya menunjuk mangkok kecil berisi
es buah. Aku tertawa kecil. Es kan
memang dingin.
“Kamu sudah makan?” Tanyaku
melihat di mejanya tak ada piring sama sekali.
“Uum,,,mas makan aja, saya minum
es!” Ujarnya sama sekali tak menjawab pertanyaanku. Aku mengiyakan saja dan
mulai makan setelah berdo’a.
“Mas kerja dimana?” Naila
bertanya sembari meminum es buahnya.
“Di kantor!” Jawabku seadanya.
Tidak mau mengatakan kalau aku kerja di perusahaan yang diwariskan papaku.
“Keliatan!” Ujarnya.
“Maksudnya?” Tanyaku.
“Keliatan orang kantoran!” Ia
melanjutkan.
“Dari mananya?” Lagi-lagi aku
dibuat heran. Aku kesini hanya mengenakan pakaian santai.
“Dari cara makannya,” Jawabnya.
“Memangnya kenapa dengan carca
makan saya?”
“Kaya’ cara makan orang dikejer.
Waktu senggangnya nggak cukup, orang kantor kan gitu. Istirahatnya sedikit. Buat habisin
makanan aja nggak cukup, apalagi buat shalat!” Ia berujar panjang. Aku sedikit
tertegun. Beberapa pikiran terlintas di benakku. Apakah cara makanku memang
terlalu cepat ya? Dan kata-kata anak ini bener juga…
Akhirnya aku bercakap-cakap
banyak dengan anak ini. beberapa kali aku tertawa dibuatnya. Ia supel, selera
humornya bagus, dan mengejutkan karena cara pandangnya yang berbeda. Aku, baru
kali ini aku dibuatnya merasa nyaman didekat cewek. Akhirnya makan siangku
berakhir dengan tukar nomer hape.
_
Sorenya seminar ini berakhir.
Untuk selanjutnya aku tidak duduk di dekat Naila. Sengaja kupilih tempat yang
tidak berdekatan dengannya, aku memang tidak terbiasa dekat-dekat perempuan,
meski kuakui Naila itu sedikit berbeda.
Seusai seminar kuusahakan dapat
bicara dengan nara sumber
yang sangat aku kagumi itu. tapi ternyata tidak semudah perkiraanku. Hampir
setengah jam berusaha tak dapat izin juga, akhirnya aku memutuskan kembali
pulang. Aku keluar hotel tempat seminar itu diadakan dan menuju mobil yang aku
parkir. Kubuka pintunya dan bersiap mengemudikan mobil yang baru berusia satu
bulan itu.
“Mas Nabil!” Seseorang
memanggilku, aku menoleh kearah sumber suara, dari sebuah mobil yang melaju
pelan, di salah satu kaca mobil yang terbuka menyembul sebuah wajah yang baru
kukenal, yahhh…siapa lagi. Naila, “Assalamu’alaikuuuum!!” Pamitnya sambil
melambai, aku menjawab salam dengan pelan dan kuanggukan kepala padanya dengan
seulas senyuman. Lantas akupun bergegas pulang.
_
“Bagaimana ta’arufnya dengan
Naya, Bil?” Mama mendekatiku di meja kerja dengan secangkir the hangat. Aku
tersenyum padanya.
“Terima kasih, Ma!” Ucapku.
“Jadi kamu setuju?” Tanya Mama
terlihat sumringah.
“Tentu saja!” Jawabku kembali
pada laptopku, “Teh hangat membuatku nyaman bekerja, apalagi buatan Mama.
Kenapa mesti tidak setuju dengan secangkir teh?” Lanjutku. Kudengar hembusan
berat nafas Mama. Ia duduk di korsi seberang meja.
“Bukan itu yang Mama bicarakan,
Bil!” Ujarnya menatapku dengan mata yang tersirat kekhawatiran dari balik kaca
mata emasnya.
“Lho? Jadi?” Tanyaku sedikit
meliriknya.
“Ya perkenalanmu dengan Naya,
anak temen Mama itu lho. Kamu setuju untuk mempersuntingnya?” Tanya Mama. Aku
tersenyum, kali ini kualihkan jemariku dari keyboard, dan kutundukkan sedikit
monitor laptopku, tampa knya
Mama ingin berbicara serius.
“Baru juga kenalan tadi, Ma. Itu
juga dengan formal, jadi aku belum bisa memberikan keputusan!” Ujarku ringan,
kutatap mata mama dengan lembut.
“Nabil, usia kamu hampir kepala
tiga. S2 sudah lulus, pekerjaan bagus, rumahpun ada, apa yang kamu tunggu,
Nak?” Sungguh kutangkap benar kekhawatiran pada kalimat Mama.
“Ya belum saatnya aja, Ma!” Aku
berusaha menenangkan. “Lagian Mama juga udah punya cucu, kan ? Jadi jangan terlalu khawatir denganku!”
Aku melanjutkan.
“Kamu ini aneh, jauh-jauh
sekolah ke luar negeri masih berbicara yang aneh begitu. Mana ada ibu yang
tidak menghawatirkan anaknya!” Mama terdengar sedikit kesal, kusambut ia dengan
tawa ringan.
“InsyaAllah, Ma. Ini bukan hal
yang patut dihawatirkan sebegitunya. Jika Allah berkenan pasti kok!” Ucapku
menatapnya masih dengan senyum lembut.
“Mama harus tau jawaban kamu
tiga hari lagi, Bil. Mama tidak bisa menerima alasanmu apapun itu.” Mama
bangkit dan meninggalkanku sendirian di ruang kerja. Aku menghembuskan nafas
berat. Naya,,,ya, dia adalah putri teman Mama yang Mama inginkan menjadi
istriku. Sekembaliku dari Yaman tahun lalu, Mama selalu menghawatirkan tentang
istri. Hingga akhirnya tadi pagi aku dipertemukannya dengan Naya. Gadis
shalihah dengan wajah lembut lulusan Universitas terbaik Malaysia . Karena pertemuan itulah,
aku agak telat datang ke seminar.
Ingat seminar, aku jadi ingat
dengan Naila. Ahh…Naya, Naila…dua gadis yang aku kenal hari ini. sebaiknya
kulanjutkan saja pekerjaanku, besok ada meeting dengan kelien.
_
Minggu pagi, seharusnya menjadi
minggu santai bagiku. Tapi bisnis membuatku harus buru-buru ke kan tor. Mama memaksa
sarapan, tapi tak sempat. Klienku sudah menunggu, karena mengejar jadwal
penerbangan pesawat, mereka harus segera melakukan meeting pagi-pagi denganku.
Mau tak mau, aku harus menghargainya.
Alhamdulillah meeting berjalan
dengan lancar. Ketika aku menutup laptopku, handphoneku berdering, kulihat
layarnya dari Mama.
“Assalamu’alaikum, Ma?” Sapaku.
“Wa’alaikumussalam, Bil
meetingmu sudah selesai???” Tanya Mama, aku mengiyakan, “Kamu telphon Naya
sekarang ya, ajak dia bertemu di suatu tempat dan katakan kamu ingin
melamarnya!” Aku tertegun atas kejutan kedua kali di pagi ini.
“Ma, apa tidak terlalu
buru-buru?” Tanyaku duduk di korsi.
“Kalau tidak buru-buru kamu yang
keburu tua!” Mama terdengar tegas, aku menghela nafasku berat.
“Buru- buru
itu datangnya dari syaithan, Ma!” Aku berusaha menenangkan.
“Kamu sudah satu tahun menunda
permintaan Mama,,”
“Ma…aku tidak menunda-nunda,
hanya menunggu,,,”
“Menunggu apa? Menunggu Mama
meninggal dunia, begitu?”
“Astaghfirullah…Mama tidak harus
berkata begitu,”
“Nabil, kamu ini mengerti benar
tentang agama. Mama ini ibu kamu, jadi kalau Mama memintamu melakukan sesuatu,
kamu harus melakukannya!” Aku terdiam, Mama benar.
“Baiklah Ma, jadi Mama mau aku
menelphon Naya dan…”
“Dan mengajaknya bertemu,
kemudian mengajaknya menikah juga!”
“Ma,,,tidak sopan mengajak
perempuan keluar, “
“Terserah bagaimana caramu, Mama
mau hari ini kamu menemui Naya!”
Tut tut tut
Hubungan terputus. Lagi-lagi,
Mama membuatku menghembuskan nafas dalam. Yah,,, bagaimanapun Mama adalah
perempuan terpenting bagiku saat ini. dan aku tidak mau mengecewakannya. Akupun
memutuskan untuk menelphone Naya.
“Assalamu’alaikum,,,” Terdengar
jawaban dari seberang.
“Wa’alaikumussalam
warahmatullah, maaf mengganggu!” Pintaku agak tak enak.
“Nggak pa-pa. kan minggu nggak masuk, jadi santai!” Ujar
suara di seberang. Aku mengerutkan alis heran, ada yang aneh, masa Naya begitu
lugas. Suara ini juga sepertinya suara… aku menarik hp dari telingaku dan
melihat layarnya. Astaghfirullah, aku salah nomer. Ini sich nomernya Naila.
Naila, Naya namanya di kontak hpku berdekatan. Bagaimana ini, mau kututup tak
enak. Tak apalah berbicara sedikit.
“Ada apa ni Mas, tumben telphon?” Tanya Naila,
ceria seperti biasa.
“Yah…memangnya nggak boleh?” Aku
mencoba biasa.
“Biasalah artis sibuk jarang
bisa ditelphone!” Naila mulai mengeluarkan joke-joke ringannya, dan aku kembali
terbawa. Kami terus berbicara, ia bercerita tentang banyak hal, akupun jadi tak
canggung untuk berbagi kisah hidupku dengannya. Hingga tak sengaja mataku jatuh
pada jam di tembok, hampir zuhur. Aku beristighfar dalam hati dan segera
memutuskan hubungan.
Aku bergegas pulang, sesampai di
rumah seperti dugaanku Mama kembali memberikan mangga muda siang hari. Aku
segera ke kama r dan mengonci diri.
_
Beberapa minggu berlalu, berawal
dari ketidaksengajaan aku dan Naila semakin akrab. Rasanya ia sudah kuanggap
sebagai adik kan dungku
sendiri. Apalagi beberapa hari sejak kejadian salah sambung itu, Naila
menyatakan ingin mengenal Islam lebih dalam. Aku bersyukur dan menyanggupi
membantunya, meski hanya lewat sms atau e mail. Aku jarang mau mengangkat
telphonenya atau menemuinya. Meskipun ia masih kecil, ia tetap bukan muhrimku.
Belakangan aku tau kalau Naila
berasal dari keluara berkecukupan. Tapi
Pa pa dan Mamanya sering
bertengkar. Karena itu ia jadi tak betah di rumah. Kakak-kakaknya juga sudah
tak tinggal lagi dengan kedua oran g
tuanya, penyebab yang sama. Mereka tak betah jika harus tetap tinggal di rumah
yang terasa neraka bagi mereka. Naila sendiri ingin kabur dari rumahnya, tapi
setelah kuberikan beberapa pengertian, akhirnya ia menunggu sampai ia lulus
SMA.
Sms-sms yang masuk ke hpku yang
berasal dari Naila selalu berupa pertanyaan. Misalnya seperti masalah-masalah
agama yang belum ia kuasai benar, beberapa perkara yang membuatnya bingung, dan
terkadang do’a-do’a. tapi Naila, tetaplah Naila yang berjiwa sama dengan Naila
yang aku kenal saat seminar beberapa minggu lalu. Jika jawaban yang aku berikan
tak sesuai dengan jalan fikirannya, ia akan mendebatku. Hingga jika akhirnya
dia kalah, dia akan nyengir dan mengirim gambar tanpa dosa.
“Nabil…!” Panggilan dari luar kama r. Aku bangkit dari sajadahku dan membuka pintu. Ema,
kakak tertuaku. “Mama dan Papa ingin bicara denganmu di ruang keluarga!” Aku
menelan ludah. Ini pasti tentang pernikahan itu.
“Ayo, jangan lama-lama!” Mbak Ema
menarik lenganku. Aku menutup pintu kama r dan
mengikuti langkah Mbak Ema ke ruang keluarga. Sesampai disana kulihat Papa dan
Mama telah menungguku. Aku tersenyum pada keduanya dan mengambil posisi. Dan,
persis seperti dugaanku, Papa dan Mama menanyakan bagaimana keputusanku. Aku
berfikir sejenak. Kemudian mengangguk.
“Alhamdulillah,,,,” Ujar Mama.
Ya, aku memang menyetujui rencana pernikahanku dengan Naya. Sudah kudirikan
istikharah beberapa mala mini tapi belum ada petunjuk dari Allah. Tapi, tentu
saja aku masih ingat tentang ridho-Nya yang bergantung pada ridho kedua oran g tuaku. Jadi apa
salahnya aku menyetujui pernikahan ini. nanti juga, aku pasti bisa mencintai
istiriku.
“Besok sore kita ke kediaman
keluarganya!”
_
Rencana memang hanya rencana.
Sore ini aku tidak bisa ikut ke keluarga Naya dengan Mama dan Papa. Ada masalah di kan tor yang harus segera diselesaikan. Aku memberitahu
Mama akan menyusul begitu ur usan
selesai.
Dan alhamdulillah selesai hampir
pukul enam. Setelah kuhubungi Mama mengatakan belum mengatakan tentang
keputusanku, tapi keluargaku akan makan malam disana. Aku segera berangkat
kesana. Di perjalanan langit tiba-tiba mendung, dan beberapa saat kemudian
hujan turun. Aku beristighfar berkali-kali, dan saat itu tiba-tiba hpku berdering.
Tanpa melihat layer aku mengangkatnya.
“Assalamu’alaikum?”
“Mas…aku tunggu di jalan
Anggrek…tolong aku…” Aku terdiam, ini suara Naila. Suaranya seperti oran g yang sekarat.
Hubungan langsung terputus. Aku bingung, harus bagaimana sekarang? Apakah aku
harus ke rumah Naya atau ke Naila? Ah, Naila bisa dibantu polisi. Aku segera
menghubungi polisi tapi begitu tersambung hpku mati. Innalillah,,,,pertanda apa
ini.
Aku berusaha tenang. Berusaha
berfikir dingin. Pernikahan? Atau menolong makhluk Allah yang lain??? Aku
melihat jalanan yang aku lewati, lurus jalan Anggrek, belok kiri rumah Naya.
Lama berfikir,
bismillah…kutancap gas mobilku…lurus.
_
Sesampai di jalan Anggrek aku
bingung mencari Naila diantara derasnya hujan. Kulihat-lihat di pinggir jalan
jika ia ada. Dan akhirnya pandanganku tertuju pada seorang gadis yang duduk
memeluk lutut dibawah hujan. Kupinggirkan mobil dan mendekati sosok yang dalam
yakinku adalah Naila. Begitu kudekati samar-samar kudengar sosok itu
memanggil-manggil…
“Ma…ma…ma…ma…” Dan begitu
kulihat benarlah itu Naila.
“Kamu nggak apa-apa?” Tanyaku
padanya. Ia tak menjawab hanya terus berucap seperti tadi. Sepertinya Naila
sedang tak labil. Aku harus membawanya ke RS, tapi bagaimana? Haruskah aku
membantunya sendiri ? aku butuh seorang untuk membantuku dan menemaniku hingga
ke Rumah Sakit.
“Mari, saya Bantu!” Seorang
gadis bergamis dan berjilbab lebar mendekatiku dengan paying, kemudian
membimbing Naila ke mobilku. Lantas aku, Naila dan gadis yang aku tak kenal itu
sama-sama membawa Naila ke Rumah Sakit.
Setelah Naila mendapat perawatan
aku segera ke mushalla dan mendirikan shalat disana.
_
“Maaf, akhi! Saya tidak bisa
menunggu gadis itu disini. Saya ada janji!” Aku menden gar gadis yang tadi menolong Naila
berucap dari balik hijab di mushalla, tentu saja setelah memastikan yang ia
ajak bicara adalah aku.
“Tak apa, terima kasih atas
pertolongannya. Jazakillah khairan katsiran, Uk hty!”
“Amien, insyaAllah.
Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumussalam
warahmatullahi wabarakatuh!”
Selepas percakapan itu, aku
segera ke ruangan Naila. Beruntung, dokter yang menanganinya baru saja keluar
dari ruang itu.
“Bagaimana keadaannya, Dok?”
Tanyaku.
“Tekanan batin, itu yang membuat
anak itu seperti itu. tapi tidak apa-apa, sudah saya berikan obat penenang.
Anda boleh melihatnya sekarang!” Ujar dokter itu tersenyum. Kubalas senyumnya.
“Tak perlu, Dok. Saya sedang ada
janji, mungkin besok saya kemari!” Ucapku.
“Lho, masa adiknya mau ditinggal
di Rumah Sakit sendirian?” Tanya dokter itu heran. Aku tersenyum.
“Dia …” Aku ingin mengatakan
yang sebenarnya, tapi rasanya sungguh tidak terpuji, “Sebentar lagi saya
kemari, mau mengambil segala keperluannya.” Lanjutku akhirnya.
“Tadi anda katakan ada janji dan
datang esok, sekarang lain lagi. Yah, itu
terserah anda. Tapi usa hakan
ia menemukan seseorang ketika ia siuman, itu penting untuk memulihkan
emosinya!” Pesan dokter itu.
“InsyaAllah, Dok!” Ucapku lantas
bergegas keluar Rumah Sakit menuju mobil. Begitu membuka mobil dan duduk di jok
kemudi, aku melihat payung di jok samping. Innalillah, gadis itu melupakan
payungnya.
_,
“Assalamu’alaikum!” Aku mengucap
salam begitu sampai di rumah Naya. Seseorang membukakan pintu, pembantu rumah
yang heran melihat penampilanku. Aku tersenyum kemudian dipersilahkan masuk.
“Kenapa kamu basah kuyup?” Mama
menyambutku dengan heran. Aku tersenyum saja kemudian dipersilahkan duduk di
korsi meja makan.
“Tidak apa-apa, tadi juga Naya
pulang dengan basah kuyup!” Ujar Mama Naya melirikku, aku tersenyum sopan,
“Katanya sudah menolong gadis yang kehujanan,” Lanjutnya. Aku mengerutkan alis
heran. Kulirik sedikit Naya yang hanya tersenyum…kemudian.
“Sebentar,” Ujarku bangkit dan
segera keluar menuju mobil, mengambil sesuatu yang segera kubawa ke dalam. “Apa
ini payungmu?” Tanyaku pada Naya, Naya mengangkat wajahnya sedikit hanya pada
payungnya, kemudian mengangguk.
Subahanallah…
_
Setelah acara yang … yah… cukup
membahagiakan buatku, aku kembali ke Rumah Sakit. Memastikan Naila baik-baik
saja. Jujur, aku memang sangat menghawatirkan anak itu. tapi, aku tidak sampai
masuk ke ruangannya. Aku hanya melihatnya dari kaca pintu. Ia terlihat lelap,
aku bertahmid dalam hati.
Sekarang, aku kembali bingung.
Haruskah aku kembali pulang atau menunggu Naila disini. Beberapa saat aku terus
berfikir, mungkin sebaiknya aku tunggu saja, tapi di luar.
_
“Mas…!!!” Sayup-sayup kudengar
suara Naila memanggilku. Tapi kurasakan kepalaku terasa sangat berat. “Terima
kasih sudah menolongku!” Meski dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya aku bisa
merasakan kalau Naila berlutut di hadapanku. Ia menjulurkan tangannya hendak
menggenggam tanganku, aku ingin menarik tanganku tapi rasanya tak bisa. Dan
akhirnya ia menyentuhku…
“Astaghfirullah, Mas panas
sekali!!” Kudengar Naila panic. Ia bangkit dan duduk di sampingku, ia merangkul
pundakku dan menyentuh dahiku dengan talapak tangannya. Aku tidak ingin ia
melakukan itu,,,aku berusaha menepisnya, dan menjauh darinya. Tapi,,,aku
terhuyung di lantai dan jatuh. Kata terakhir yang kudengar sebelum kesadaranku
benar-benar hilang adalah,,,
“Dokter!!!”
_
Yang kulihat pertama kali saat
kubuka mata adalah, Mama. Kemudian
Pa pa, dan Mbak Ema dengan
suaminya.
“Jam berapa, Ma?” Tanyaku pelan.
“Ashar sudah masuk, sini Mama
Bantu tayammum!” Ujar Mama paham. Aku mengangguk kemudian dengan dibantu Mama
aku bertayammum dan shalat. Begitu selesai shalat Naya dan kedua oran g tuanya datang.
“Jadi dia gadis yang kamu tolong
itu, Bil?” Mama tiba-tiba bertanya dengan nada kurang enak didengar.
“Dia? Dia siapa maksud Mama?”
Tanyaku bingung.
“Dia yang kamu tunggu semalaman
dan yang juga menunggumu semalaman!” Jawab Mama masih dengan nada yang sama.
Aku jadi teringat Naila.
“Naila maksud Mama?” Tebakku,
Mama tak menjawab, “Aku hanya menemaninya, tak ada keluarganya yang datang.
Lagipula aku tidak masuk ruangannya, Ma!” Aku menjelaskan.
“Tapi dia yang masuk ruanganmu,
duduk di korsi samping ranjangmu, mendekap tanganmu di dadanya dan menunggumu sampai
pagi…”
“Astaghfirullahaladziem…” Aku
menutup mata. Masalah itu aku sama sekali tak tau. Sedikit kulirik Naya, gadis
cantik itu hanya menunduk. Ya Allah…baru tadi malam kami memutuskan untuk
menikah, kenpa paginya sudah begini. Suasana hening, akupun tak tau harus
berkata apa. Mama seharusnya tidak mengatakan itu di depan Naya dan
keluarganya. Tapi, sudah terjadi. Mau bagaimana lagi???
Tak lama setelah itu Naya dan
kedua oran g
tuanya berpamitan, seperti tak terjadi apa-apa. Mereka masih tetap ramah. Tapi
beberapa saat setelah Naya keluar, Hpku berdering menandakan sms masuk. Kubuka
perlahan, dari Naya.
‘sy tdk tw sbrp brt mslh ini, jg
tk prnh bs mmbc hti, tp…sblum smwx trlmbt, mas msih bleh mmlih’
Kali ini pening di kepalaku
semakin menjadi.
_
Maghrib tiba dengan sepi. Aku
sendiri di ruangan ini. Mama dan Papa telah meninggalkanku dengan secuil kecewa
di hati masing-masing. Aku menghela nafas, sayup-sayup kudengar gema azan dari
masjid sekitar. Sudah saatnya menunaikan ibadah shalat maghrib. Tapi aku belum
bisa bangkit, harus ada seseorang yang membantuku ke kama r
mandi. Suster, ya atau perawat laki-laki. Mungkin sebentar lagi datang. Aku
menunggu bebrapa saat. Beberapa saat, yah…akhirnya beberapa saat ditambah
beberapa saat, banyak saat yang tercipta untukku menunggu sang perawat.
Akhirnya aku mencoba bangkit sendiri.
Cklek!
“Assalamu’alaikum!” Seseorang
muncul dari balik pintu. Aku menoleh, Naila. “Mas mau wudhu? Sini, saya Bantu!”
Pintanya, yah…akhirnya keadaan lagi-lagi memaksa kami untuk sedikit membuat
jeda…
_
Aku menahan nafas. Tak menyangka
antara maghrib dan Isha ini aku mendapat pernyataan seperti ini dafri Naila.
Dilengkapi pula dengan tetesan air mata. Yah…Naila mengatakan jika ia menyimpan
perasaan yang disebut Cinta terhadapku. Aku tidak paham yang seperti itu.
bahkan aku tidak mengerti betapa banyak tenaga yang dibutuhkan untuk mengatakan
perasaan seperti itu, apalagi dari perempuan kepada laki-laki.
“Saya tidak tau sejak kapan,
tapi Mas memang terlalu baik…” Ia berujar sembari terisak. Aku tak tau mesti
berbuat apa. Hening tercipta, hanya isak Naila yang terdengar mengisi gelombang
suara. Hingga tiba-tiba terdengar salam, aku terperajat. Orang tuaku…
Bisa kulihat dari pandangan
keduanya. Ada
rasa penasaran, marah dan entahlah.
“Apa kamu bisa jelaskan ini pada
Mama, Nabil??? Ada
hubungan apa sebenarnya kamu dengan anak itu?!!” Tanya Mama menatap mataku
tajam. Ada
hubungan apa??? Tak ada hubungan yang lebih. Aku hanya sedikit membantunya dan
beberapakali_dengan terpaksa_membantuku. Tapi apa aku tidak akan menyakitinya
jika aku mengatakan tidak ada apa-apa? Aku hanya menganggapnya seorang adik.
Tapi,.. yang sesungguhnya memang tak pernah terjadi apa-apa, tak ada hubungan
apa-apa dengan aku dan Naila. Aku hendak membuka mulut, tapi…
“Kami tidak ada hubungan
apa-apa, Tante. Aku sudah menganggap Mas Nabil seperti kakakku sendiri,” Aku
menelan ludah dan menoleh pada Naila yang tengah tersenyum menatap Mama.
Kurasakan, panas di ruangan ini menurun.
_
Sejak kejadian itu, Mama dan
Naila lama kelamaan jadi dekat. Naila memang menceritakan semua permasalahannya
pada Mama. Dan Mama memberikan tanggapan yang sangat baik. Mengenai
pernikahanku dengan Naya, akan terlaksana sebulan lagi. Tepat saat itu Nailla
menyelesaikan pendidikannya di jenjang SMU. Malam ini, aku merenung dengan
berjuta bintang. Mencoba membandingkan dua perempuan yang masuk dalam
kehidupanku.
Naya, seorang akhwat cantik
dengan pengetahuan luas, bersikap lembut, pintar, cerdas, agamanya baik dan
sangat perhatian. Aku memang belum mengenalnya lebih dekat, tapi tentu saja ia
tipe istri ideal yang setiap lelaki pasti menginginkannya. Sedan g Naila tipe perempuan yang sangat
lugas, lucu, perhatian, ramai, enak diajak ngomong dan sangat suka anak-anak.
Yang anehnya, jika ada anak-anak di sekitarnya, mereka pasti cepat akrab. Ini
menurut yang sering ia ceritakan, tapi agamanya memang pas-pasan, meski tak
bodoh ia kalah jauh dengan Naya…jadi sebenarnya mana yang lebih pantas untukku
ya???
Astaghfirullah,,,kenapa aku
berfikir seperti ini? bukankah pernikahanku dengan Naya sebulan lagi…??? Aku
harus menjadi Imam yang baik untuknya.
_
Sebulan
kemudian, di hari pernikahanku
Ternyata menikah itu memang
berat. Telah terasa dari sekarang, hendak mengucapkan ijab Kabul saja rasanya deg-degan. Tapi,
alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Rasanya bahagia sekali saat Naya
mengecup punggung tanganku. Sudah tak ada was-was lagi di perasaanku untuk
menyentuh perempuan itu, karena dia telah sah menjadi istriku. Kulihat wajah
Mama begitu bahagia, aku bersyukur karena bisa membahagiakannya. Tapi, selama
acara aku sama sekali tidak melihat Naila. Apa aku menyakiti hatinya dengan
pernikahan ini? bukankah ia memiliki perasaan khusus terhadapku. Ah…mungkin dia
sudah lupa.
Aku melangkah keluar sebentar,
ingin melihat situasi di luar. Di pintu aku tertegun kulihat Naila dengan
senyumnya kepadaku. Ia mendekatiku yang tak lagi melanjutkan langkahku.
“Aku pamit, Mas.” Ucapnya
menatapku masih dengan senyuman, aku ingin bertanya tapi ia melanjutkan, “Aku akan
melanjutkan kuliahku di luar kota .
Maafkan aku pernah menyentuh bagian dari hidup mas, termasuk dengan perasaan
aneh itu…aku pamit, assalamu’alaikum!” Naila membalik badan dan menjauh. Aku
hanya diam, perasaanku tiba-tiba perih. Aku merasa ingin menarik kembali punggung itu, rasanya aku
ingin mencegah ia pergi…astaga,,, apa artinya ini? apakah aku jatuh cinta pada
hari pernikahanku? Jatuh cinta bukan pada istriku?
“Mas? Kok disini? Tamu di dalem
nyariin!” Kura sakan sentuhan tangan Naya di
lenganku. Aku terperajat dan segera menoleh, kutemukan wajah setenang samudra,
selembut awan. Seharusnya aku tau,,,ialah anugrah Tuhan terindah saat ini
untukku.
“Naya,”
“Ya?” ia menunjukkan senyum
teduhnya dengan mata yang begitu bening, aku tau aku harus mengatakan ini, dan
aku tau aku memang harus merasakan ini.
“Aku mencintaimu!” Lalu
mengalirlah kalimat itu. Kulihat pipi mulus Naya memerah, tapi ia masih
bertahan dengan ke’cerdas’annya, ia tersenyum dan menggandeng lenganku memasuki
rumah.
“Mas pasti akan terkejut jika
tau kalau Mas hanya membalas,,,” Untaian kata yang keluar dari bibir wanita
berpengatahuan, meski sedikit berkias aku paham. Mungkin ia lebih dulu jatuh
cinta padaku.
Ah,,,aku menggenggam jemari
istriku, aku tau mungkin kini punggungku dan punggung Naila tengah berbicara
suatu, mungkin kenangan, mungkin terima kasih, atau mungkin perpisahan. Tapi,
aku juga tau...bahwa Naya terlalu indah untuk kusia-siakan. Alhamdulillah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar