Minggu, 13 Juli 2014

”antara dua Nay"



                Aku mempercepat langkahku memasuki ruangan luas yang hampir semua korsinya sudah terisi. Alhamdulillah aku berhasil menemukan korsi kosong. Aku sangat berminat dengan seminar ini. bukan karena pembahasanannya. Pembahasannya sangat bertolak belakang dengan jurusanku. Tapi karena nara sumbernya adalah orang yang sangat aku kagumi, aku bela-belain kesini.
                “Mas baru dateng, ya?” Sebuah suara gadis menyapaku dari samping kanan. Aku menoleh, kutemukan sebuah wajah manis dengan senyum ramah, seorang gadis berseragam SMA dengan jilbab seadanya. Tanpa sadar aku membalasnya.
                “Iya,” Jawabku singkat.
                “Emangnya sudah kemana?” Tanyanya seperti sudah kenal saja.
                “Uumm…ada urusan!” Jawabku mengalaihkan pandangan ke depan. Agak risih juga dengan anak ini. sepertinya mau tau saja urusan orang lain. Kudengar ia ber’o’. beberapa menit kami khusuk mendengarkan seminar.
                “Yah…yang begituan itu disebut penting. Coba penanggulangan kemiskinan dicuekin!” Kembali kudengar suara gadis itu. agak panas juga, karena yang tengah memberikan gambaran adalah orang yang aku kagumi. Aku tidak membalas ucapannya, meskipun aku memang tidak yakin ia berbicara denganku. Ia diam beberapa saat. Kemudian kembali mengkritik dengan sewot. Entah berapa kali. Setiap ada penggambaran ia selalu saja terdengar tak setuju. Akhirnya mau tak  mau aku risih juga.
                “Sepertinya kamu tidak tertarik sekali dengan pembahasan ini!” Ujarku rada asem.
                “Penanggulangan Narkoba? Penting sich, tapi kan sudah banyak!” Ia menjawab dengan ekspresi wajah yang sulit aku artikan.
                “Terus kamu kenapa kesini?” Dalam hati aku menyambung, mungkin hanya untuk menghabiskan konsumsi ajah.
                “Dipaksa ikut sama kepala sekolah!” Jawabnya singkat.
                “Emang sendirian?” Aku kembali bertanya.
                “Nggak, bereng temen-temen, tuuuu di belakang!” Ia menunjuk pojok belakang. Agak malas aku menoleh. Benar saja disana duduk beberapa orang anak yang berseragam SMA.
                “Kenapa nggak bereng mereka saja?” Lagi-lagi aku mengutarakan pertanyaan.
                “Males” Jawabnya. Aku menelan ludah kesal. Kemudian kembali menghadap ke depan. Akhirnya tiba juga sesi Tanya jawab. Aku ingin bertanya, tapi masih berfikir ingin menanyakan apa.
                “Ya yang disana!” Operator menunjuk kearahku. Aku bingung, perasaan aku tidak mengangkat tangan, kenapa aku ditunjuk. “Silahkan berdiri!” Pintanya. Aku menelan ludah. Dan tiba-tiba saja gadis yang tadi duduk di sampingku berdiri. Aku menoleh padanya, ternyata dia yang mengangkat tangan. Tanpa sengaja aku menghembuskan nafas.
                “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, Nama saya Naila. Saya dari SMA 1. Saya ingin menanyakan satu hal pada narasumber. Memang benar, sangat penting untuk para pemuda dan pemudi tau tentang bahaya narkoba dan sejenisnya. Sehingga sekitar 98% peserta sminar ini hanya remaja. Kenapa tidak diadakan saja seminar untuk para orang tua tentang bahaya narkoba? Itu penting, karena hubungan mereka dalam Rumah Tangga dan juga perhatian mereka pada anak berhubungan juga dengan tingkah anak-anak di luaran. Terima kasih!” Naila, gadis itu kembali duduk. Aku menatapnya, tegas juga. Ia menoleh, kemudian nyengir.
                “Deg-degan juga!” Ujarnya. Aku jadi serba salah ketahuan menatapnya. “Aku nggak berharep dijawab yang bertele-tele.” Ia berucap sembari memasukkan buku catatannya ke dalem tasnya. Aku kembali menoleh.
                “Apa gunanya bertnya tak dapat jawaban?” Tanyaku. Ia tersenyum tanpa menoleh.                
                “Karena jawabannya,,,”
                “Maaf, kami rasa itu bukan pertanyaan yang berhubungan dengan bahasan kita!” Terdengar seorang narasumber menjawab pertanyaan Naila. Kali ini ia menoleh padaku.
                “Karena jawabannya pasti seperti itu!” Ujarnya masih dengan senyum. Aku tertegun, sepertinya gadis ini bukan gadis SMA biasa.
_
                “Naila Maghfiroti,” Ia mengulurkan tangannya padaku. Aku tersenyum dan mengatupkan tangan di dada.
                “Ahmad Nabil!” Ucapku. Ia sedikit membundarkan mulutnya.
                “Oow…nggak sentuhan ya???” Ujarnya menarik tangannya. Aku tersenyum, ia terlihat lucu.
                “Waktunya makan!” Ujarku, “Kamu tidak ke teman-temanmu?” Tanyaku. Ia tersenyum kemudian menggeleng.
                “Mending mas Nabil shalat sana. Jangan urusin temen-temen aku, dia kan bukan anak-anak, Mas! Hehe!” Dia nyengir lantas berlalu ke tempat makan. Sedang aku ke mushalla. Selesai shalat aku menuju tempat makan, kemudian mengambil nasi. Ketika memilih tempat duduk tak ada yang kosong, dan lagi-lagi yang bisa kutempati hanya korsi di meja Naila. Mau tak mau aku kesana juga.
                “Assalamu’alaikum, boleh gabung?” Tanyaku padanya. Ia menoleh tersenyum.
                “Wa’alaikumussalam, duduk ajah. Mas lama juga shalatnya, es saya jadi dingin!” Ujarnya menunjuk mangkok kecil berisi es buah. Aku tertawa kecil. Es kan memang dingin.
                “Kamu sudah makan?” Tanyaku melihat di mejanya tak ada piring sama sekali.
                “Uum,,,mas makan aja, saya minum es!” Ujarnya sama sekali tak menjawab pertanyaanku. Aku mengiyakan saja dan mulai makan setelah berdo’a.
                “Mas kerja dimana?” Naila bertanya sembari meminum es buahnya.
                “Di kantor!” Jawabku seadanya. Tidak mau mengatakan kalau aku kerja di perusahaan yang diwariskan papaku.
                “Keliatan!” Ujarnya.
                “Maksudnya?” Tanyaku.
                “Keliatan orang kantoran!” Ia melanjutkan.
                “Dari mananya?” Lagi-lagi aku dibuat heran. Aku kesini hanya mengenakan pakaian santai.
                “Dari cara makannya,” Jawabnya.
                “Memangnya kenapa dengan carca makan saya?”
                “Kaya’ cara makan orang dikejer. Waktu senggangnya nggak cukup, orang kantor kan gitu. Istirahatnya sedikit. Buat habisin makanan aja nggak cukup, apalagi buat shalat!” Ia berujar panjang. Aku sedikit tertegun. Beberapa pikiran terlintas di benakku. Apakah cara makanku memang terlalu cepat ya? Dan kata-kata anak ini bener juga…
                Akhirnya aku bercakap-cakap banyak dengan anak ini. beberapa kali aku tertawa dibuatnya. Ia supel, selera humornya bagus, dan mengejutkan karena cara pandangnya yang berbeda. Aku, baru kali ini aku dibuatnya merasa nyaman didekat cewek. Akhirnya makan siangku berakhir dengan tukar nomer hape.
_
                Sorenya seminar ini berakhir. Untuk selanjutnya aku tidak duduk di dekat Naila. Sengaja kupilih tempat yang tidak berdekatan dengannya, aku memang tidak terbiasa dekat-dekat perempuan, meski kuakui Naila itu sedikit berbeda.
                Seusai seminar kuusahakan dapat bicara dengan narasumber yang sangat aku kagumi itu. tapi ternyata tidak semudah perkiraanku. Hampir setengah jam berusaha tak dapat izin juga, akhirnya aku memutuskan kembali pulang. Aku keluar hotel tempat seminar itu diadakan dan menuju mobil yang aku parkir. Kubuka pintunya dan bersiap mengemudikan mobil yang baru berusia satu bulan itu.
                “Mas Nabil!” Seseorang memanggilku, aku menoleh kearah sumber suara, dari sebuah mobil yang melaju pelan, di salah satu kaca mobil yang terbuka menyembul sebuah wajah yang baru kukenal, yahhh…siapa lagi. Naila, “Assalamu’alaikuuuum!!” Pamitnya sambil melambai, aku menjawab salam dengan pelan dan kuanggukan kepala padanya dengan seulas senyuman. Lantas akupun bergegas pulang.
_
                “Bagaimana ta’arufnya dengan Naya, Bil?” Mama mendekatiku di meja kerja dengan secangkir the hangat. Aku tersenyum padanya.
                “Terima kasih, Ma!” Ucapku.
                “Jadi kamu setuju?” Tanya Mama terlihat sumringah.
                “Tentu saja!” Jawabku kembali pada laptopku, “Teh hangat membuatku nyaman bekerja, apalagi buatan Mama. Kenapa mesti tidak setuju dengan secangkir teh?” Lanjutku. Kudengar hembusan berat nafas Mama. Ia duduk di korsi seberang meja.
                “Bukan itu yang Mama bicarakan, Bil!” Ujarnya menatapku dengan mata yang tersirat kekhawatiran dari balik kaca mata emasnya.
                “Lho? Jadi?” Tanyaku sedikit meliriknya.
                “Ya perkenalanmu dengan Naya, anak temen Mama itu lho. Kamu setuju untuk mempersuntingnya?” Tanya Mama. Aku tersenyum, kali ini kualihkan jemariku dari keyboard, dan kutundukkan sedikit monitor laptopku, tampaknya Mama ingin berbicara serius.
                “Baru juga kenalan tadi, Ma. Itu juga dengan formal, jadi aku belum bisa memberikan keputusan!” Ujarku ringan, kutatap mata mama dengan lembut.
                “Nabil, usia kamu hampir kepala tiga. S2 sudah lulus, pekerjaan bagus, rumahpun ada, apa yang kamu tunggu, Nak?” Sungguh kutangkap benar kekhawatiran pada kalimat Mama.
                “Ya belum saatnya aja, Ma!” Aku berusaha menenangkan. “Lagian Mama juga udah punya cucu, kan? Jadi jangan terlalu khawatir denganku!” Aku melanjutkan.
                “Kamu ini aneh, jauh-jauh sekolah ke luar negeri masih berbicara yang aneh begitu. Mana ada ibu yang tidak menghawatirkan anaknya!” Mama terdengar sedikit kesal, kusambut ia dengan tawa ringan.
                “InsyaAllah, Ma. Ini bukan hal yang patut dihawatirkan sebegitunya. Jika Allah berkenan pasti kok!” Ucapku menatapnya masih dengan senyum lembut.
                “Mama harus tau jawaban kamu tiga hari lagi, Bil. Mama tidak bisa menerima alasanmu apapun itu.” Mama bangkit dan meninggalkanku sendirian di ruang kerja. Aku menghembuskan nafas berat. Naya,,,ya, dia adalah putri teman Mama yang Mama inginkan menjadi istriku. Sekembaliku dari Yaman tahun lalu, Mama selalu menghawatirkan tentang istri. Hingga akhirnya tadi pagi aku dipertemukannya dengan Naya. Gadis shalihah dengan wajah lembut lulusan Universitas terbaik Malaysia. Karena pertemuan itulah, aku agak telat datang ke seminar.
                Ingat seminar, aku jadi ingat dengan Naila. Ahh…Naya, Naila…dua gadis yang aku kenal hari ini. sebaiknya kulanjutkan saja pekerjaanku, besok ada meeting dengan kelien.
_
                Minggu pagi, seharusnya menjadi minggu santai bagiku. Tapi bisnis membuatku harus buru-buru ke kantor. Mama memaksa sarapan, tapi tak sempat. Klienku sudah menunggu, karena mengejar jadwal penerbangan pesawat, mereka harus segera melakukan meeting pagi-pagi denganku. Mau tak mau, aku harus menghargainya.
                Alhamdulillah meeting berjalan dengan lancar. Ketika aku menutup laptopku, handphoneku berdering, kulihat layarnya dari Mama.
                “Assalamu’alaikum, Ma?” Sapaku.
                “Wa’alaikumussalam, Bil meetingmu sudah selesai???” Tanya Mama, aku mengiyakan, “Kamu telphon Naya sekarang ya, ajak dia bertemu di suatu tempat dan katakan kamu ingin melamarnya!” Aku tertegun atas kejutan kedua kali di pagi ini.
                “Ma, apa tidak terlalu buru-buru?” Tanyaku duduk di korsi.
                “Kalau tidak buru-buru kamu yang keburu tua!” Mama terdengar tegas, aku menghela nafasku berat.
                “Buru-buru itu datangnya dari syaithan, Ma!” Aku berusaha menenangkan.
                “Kamu sudah satu tahun menunda permintaan Mama,,”
                “Ma…aku tidak menunda-nunda, hanya menunggu,,,”
                “Menunggu apa? Menunggu Mama meninggal dunia, begitu?”
                “Astaghfirullah…Mama tidak harus berkata begitu,”
                “Nabil, kamu ini mengerti benar tentang agama. Mama ini ibu kamu, jadi kalau Mama memintamu melakukan sesuatu, kamu harus melakukannya!” Aku terdiam, Mama benar.
                “Baiklah Ma, jadi Mama mau aku menelphon Naya dan…”
                “Dan mengajaknya bertemu, kemudian mengajaknya menikah juga!”
                “Ma,,,tidak sopan mengajak perempuan keluar, “
                “Terserah bagaimana caramu, Mama mau hari ini kamu menemui Naya!”
                Tut tut tut
                Hubungan terputus. Lagi-lagi, Mama membuatku menghembuskan nafas dalam. Yah,,, bagaimanapun Mama adalah perempuan terpenting bagiku saat ini. dan aku tidak mau mengecewakannya. Akupun memutuskan untuk menelphone Naya.
                “Assalamu’alaikum,,,” Terdengar jawaban dari seberang.
                “Wa’alaikumussalam warahmatullah, maaf mengganggu!” Pintaku agak tak enak.
                “Nggak pa-pa. kan minggu nggak masuk, jadi santai!” Ujar suara di seberang. Aku mengerutkan alis heran, ada yang aneh, masa Naya begitu lugas. Suara ini juga sepertinya suara… aku menarik hp dari telingaku dan melihat layarnya. Astaghfirullah, aku salah nomer. Ini sich nomernya Naila. Naila, Naya namanya di kontak hpku berdekatan. Bagaimana ini, mau kututup tak enak. Tak apalah berbicara sedikit.
                “Ada apa ni Mas, tumben telphon?” Tanya Naila, ceria seperti biasa.
                “Yah…memangnya nggak boleh?” Aku mencoba biasa.
                “Biasalah artis sibuk jarang bisa ditelphone!” Naila mulai mengeluarkan joke-joke ringannya, dan aku kembali terbawa. Kami terus berbicara, ia bercerita tentang banyak hal, akupun jadi tak canggung untuk berbagi kisah hidupku dengannya. Hingga tak sengaja mataku jatuh pada jam di tembok, hampir zuhur. Aku beristighfar dalam hati dan segera memutuskan hubungan.
                Aku bergegas pulang, sesampai di rumah seperti dugaanku Mama kembali memberikan mangga muda siang hari. Aku segera ke kamar dan mengonci diri.
_
                Beberapa minggu berlalu, berawal dari ketidaksengajaan aku dan Naila semakin akrab. Rasanya ia sudah kuanggap sebagai adik kandungku sendiri. Apalagi beberapa hari sejak kejadian salah sambung itu, Naila menyatakan ingin mengenal Islam lebih dalam. Aku bersyukur dan menyanggupi membantunya, meski hanya lewat sms atau e mail. Aku jarang mau mengangkat telphonenya atau menemuinya. Meskipun ia masih kecil, ia tetap bukan muhrimku.
                Belakangan aku tau kalau Naila berasal dari keluara berkecukupan. Tapi Papa dan Mamanya sering bertengkar. Karena itu ia jadi tak betah di rumah. Kakak-kakaknya juga sudah tak tinggal lagi dengan kedua orang tuanya, penyebab yang sama. Mereka tak betah jika harus tetap tinggal di rumah yang terasa neraka bagi mereka. Naila sendiri ingin kabur dari rumahnya, tapi setelah kuberikan beberapa pengertian, akhirnya ia menunggu sampai ia lulus SMA.
                Sms-sms yang masuk ke hpku yang berasal dari Naila selalu berupa pertanyaan. Misalnya seperti masalah-masalah agama yang belum ia kuasai benar, beberapa perkara yang membuatnya bingung, dan terkadang do’a-do’a. tapi Naila, tetaplah Naila yang berjiwa sama dengan Naila yang aku kenal saat seminar beberapa minggu lalu. Jika jawaban yang aku berikan tak sesuai dengan jalan fikirannya, ia akan mendebatku. Hingga jika akhirnya dia kalah, dia akan nyengir dan mengirim gambar tanpa dosa.
                “Nabil…!” Panggilan dari luar kamar. Aku bangkit dari sajadahku dan membuka pintu. Ema, kakak tertuaku. “Mama dan Papa ingin bicara denganmu di ruang keluarga!” Aku menelan ludah. Ini pasti tentang pernikahan itu.
                “Ayo, jangan lama-lama!” Mbak Ema menarik lenganku. Aku menutup pintu kamar dan mengikuti langkah Mbak Ema ke ruang keluarga. Sesampai disana kulihat Papa dan Mama telah menungguku. Aku tersenyum pada keduanya dan mengambil posisi. Dan, persis seperti dugaanku, Papa dan Mama menanyakan bagaimana keputusanku. Aku berfikir sejenak. Kemudian mengangguk.
                “Alhamdulillah,,,,” Ujar Mama. Ya, aku memang menyetujui rencana pernikahanku dengan Naya. Sudah kudirikan istikharah beberapa mala mini tapi belum ada petunjuk dari Allah. Tapi, tentu saja aku masih ingat tentang ridho-Nya yang bergantung pada ridho kedua orang tuaku. Jadi apa salahnya aku menyetujui pernikahan ini. nanti juga, aku pasti bisa mencintai istiriku.
                “Besok sore kita ke kediaman keluarganya!”
_
                Rencana memang hanya rencana. Sore ini aku tidak bisa ikut ke keluarga Naya dengan Mama dan Papa. Ada masalah di kantor yang harus segera diselesaikan. Aku memberitahu Mama akan menyusul begitu urusan selesai.
                Dan alhamdulillah selesai hampir pukul enam. Setelah kuhubungi Mama mengatakan belum mengatakan tentang keputusanku, tapi keluargaku akan makan malam disana. Aku segera berangkat kesana. Di perjalanan langit tiba-tiba mendung, dan beberapa saat kemudian hujan turun. Aku beristighfar berkali-kali, dan saat itu tiba-tiba hpku berdering. Tanpa melihat layer aku mengangkatnya.
                “Assalamu’alaikum?”
                “Mas…aku tunggu di jalan Anggrek…tolong aku…” Aku terdiam, ini suara Naila. Suaranya seperti orang yang sekarat. Hubungan langsung terputus. Aku bingung, harus bagaimana sekarang? Apakah aku harus ke rumah Naya atau ke Naila? Ah, Naila bisa dibantu polisi. Aku segera menghubungi polisi tapi begitu tersambung hpku mati. Innalillah,,,,pertanda apa ini.
                Aku berusaha tenang. Berusaha berfikir dingin. Pernikahan? Atau menolong makhluk Allah yang lain??? Aku melihat jalanan yang aku lewati, lurus jalan Anggrek, belok kiri rumah Naya.
                Lama berfikir, bismillah…kutancap gas mobilku…lurus.
_
                Sesampai di jalan Anggrek aku bingung mencari Naila diantara derasnya hujan. Kulihat-lihat di pinggir jalan jika ia ada. Dan akhirnya pandanganku tertuju pada seorang gadis yang duduk memeluk lutut dibawah hujan. Kupinggirkan mobil dan mendekati sosok yang dalam yakinku adalah Naila. Begitu kudekati samar-samar kudengar sosok itu memanggil-manggil…
                “Ma…ma…ma…ma…” Dan begitu kulihat benarlah itu Naila.
                “Kamu nggak apa-apa?” Tanyaku padanya. Ia tak menjawab hanya terus berucap seperti tadi. Sepertinya Naila sedang tak labil. Aku harus membawanya ke RS, tapi bagaimana? Haruskah aku membantunya sendiri ? aku butuh seorang untuk membantuku dan menemaniku hingga ke Rumah Sakit.
                “Mari, saya Bantu!” Seorang gadis bergamis dan berjilbab lebar mendekatiku dengan paying, kemudian membimbing Naila ke mobilku. Lantas aku, Naila dan gadis yang aku tak kenal itu sama-sama membawa Naila ke Rumah Sakit.
                Setelah Naila mendapat perawatan aku segera ke mushalla dan mendirikan shalat disana.
_
                “Maaf, akhi! Saya tidak bisa menunggu gadis itu disini. Saya ada janji!” Aku mendengar gadis yang tadi menolong Naila berucap dari balik hijab di mushalla, tentu saja setelah memastikan yang ia ajak bicara adalah aku.
                “Tak apa, terima kasih atas pertolongannya. Jazakillah khairan katsiran, Ukhty!”
                “Amien, insyaAllah. Assalamu’alaikum!”
                “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh!”
                Selepas percakapan itu, aku segera ke ruangan Naila. Beruntung, dokter yang menanganinya baru saja keluar dari ruang itu.
                “Bagaimana keadaannya, Dok?” Tanyaku.
                “Tekanan batin, itu yang membuat anak itu seperti itu. tapi tidak apa-apa, sudah saya berikan obat penenang. Anda boleh melihatnya sekarang!” Ujar dokter itu tersenyum. Kubalas senyumnya.
                “Tak perlu, Dok. Saya sedang ada janji, mungkin besok saya kemari!” Ucapku.
                “Lho, masa adiknya mau ditinggal di Rumah Sakit sendirian?” Tanya dokter itu heran. Aku tersenyum.
                “Dia …” Aku ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi rasanya sungguh tidak terpuji, “Sebentar lagi saya kemari, mau mengambil segala keperluannya.” Lanjutku akhirnya.
                “Tadi anda katakan ada janji dan datang esok,  sekarang lain lagi. Yah, itu terserah anda. Tapi usahakan ia menemukan seseorang ketika ia siuman, itu penting untuk memulihkan emosinya!” Pesan dokter itu.
                “InsyaAllah, Dok!” Ucapku lantas bergegas keluar Rumah Sakit menuju mobil. Begitu membuka mobil dan duduk di jok kemudi, aku melihat payung di jok samping. Innalillah, gadis itu melupakan payungnya.
_,
                “Assalamu’alaikum!” Aku mengucap salam begitu sampai di rumah Naya. Seseorang membukakan pintu, pembantu rumah yang heran melihat penampilanku. Aku tersenyum kemudian dipersilahkan masuk.
                “Kenapa kamu basah kuyup?” Mama menyambutku dengan heran. Aku tersenyum saja kemudian dipersilahkan duduk di korsi meja makan.
                “Tidak apa-apa, tadi juga Naya pulang dengan basah kuyup!” Ujar Mama Naya melirikku, aku tersenyum sopan, “Katanya sudah menolong gadis yang kehujanan,” Lanjutnya. Aku mengerutkan alis heran. Kulirik sedikit Naya yang hanya tersenyum…kemudian.
                “Sebentar,” Ujarku bangkit dan segera keluar menuju mobil, mengambil sesuatu yang segera kubawa ke dalam. “Apa ini payungmu?” Tanyaku pada Naya, Naya mengangkat wajahnya sedikit hanya pada payungnya, kemudian mengangguk.
                Subahanallah…
_
                Setelah acara yang … yah… cukup membahagiakan buatku, aku kembali ke Rumah Sakit. Memastikan Naila baik-baik saja. Jujur, aku memang sangat menghawatirkan anak itu. tapi, aku tidak sampai masuk ke ruangannya. Aku hanya melihatnya dari kaca pintu. Ia terlihat lelap, aku bertahmid dalam hati.
                Sekarang, aku kembali bingung. Haruskah aku kembali pulang atau menunggu Naila disini. Beberapa saat aku terus berfikir, mungkin sebaiknya aku tunggu saja, tapi di luar.
_
                Usai tahajjud, aku kembali ke depan ruangan Naila. Anak itu belum siuman juga. Aku memutuuskan untuk duduk di bangku yang disediakan di pinggir koredor. Sembari berzikir aku membuka gulungan kemejaku. Ini sudah pukul 3 pagi, aku belum sempat istirahat, tadi hanya lima menit di mushalla untuk tahajjudku. Tak terasa, akupun terlelap.
                “Mas…!!!” Sayup-sayup kudengar suara Naila memanggilku. Tapi kurasakan kepalaku terasa sangat berat. “Terima kasih sudah menolongku!” Meski dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya aku bisa merasakan kalau Naila berlutut di hadapanku. Ia menjulurkan tangannya hendak menggenggam tanganku, aku ingin menarik tanganku tapi rasanya tak bisa. Dan akhirnya ia menyentuhku…
                “Astaghfirullah, Mas panas sekali!!” Kudengar Naila panic. Ia bangkit dan duduk di sampingku, ia merangkul pundakku dan menyentuh dahiku dengan talapak tangannya. Aku tidak ingin ia melakukan itu,,,aku berusaha menepisnya, dan menjauh darinya. Tapi,,,aku terhuyung di lantai dan jatuh. Kata terakhir yang kudengar sebelum kesadaranku benar-benar hilang adalah,,,
                “Dokter!!!”
_
                Yang kulihat pertama kali saat kubuka mata adalah, Mama. Kemudian Papa, dan Mbak Ema dengan suaminya.
                “Jam berapa, Ma?” Tanyaku pelan.
                “Ashar sudah masuk, sini Mama Bantu tayammum!” Ujar Mama paham. Aku mengangguk kemudian dengan dibantu Mama aku bertayammum dan shalat. Begitu selesai shalat Naya dan kedua orang tuanya datang.
                “Jadi dia gadis yang kamu tolong itu, Bil?” Mama tiba-tiba bertanya dengan nada kurang enak didengar.
                “Dia? Dia siapa maksud Mama?” Tanyaku bingung.
                “Dia yang kamu tunggu semalaman dan yang juga menunggumu semalaman!” Jawab Mama masih dengan nada yang sama. Aku jadi teringat Naila.
                “Naila maksud Mama?” Tebakku, Mama tak menjawab, “Aku hanya menemaninya, tak ada keluarganya yang datang. Lagipula aku tidak masuk ruangannya, Ma!” Aku menjelaskan.
                “Tapi dia yang masuk ruanganmu, duduk di korsi samping ranjangmu, mendekap tanganmu di dadanya dan menunggumu sampai pagi…”
                “Astaghfirullahaladziem…” Aku menutup mata. Masalah itu aku sama sekali tak tau. Sedikit kulirik Naya, gadis cantik itu hanya menunduk. Ya Allah…baru tadi malam kami memutuskan untuk menikah, kenpa paginya sudah begini. Suasana hening, akupun tak tau harus berkata apa. Mama seharusnya tidak mengatakan itu di depan Naya dan keluarganya. Tapi, sudah terjadi. Mau bagaimana lagi???
                Tak lama setelah itu Naya dan kedua orang tuanya berpamitan, seperti tak terjadi apa-apa. Mereka masih tetap ramah. Tapi beberapa saat setelah Naya keluar, Hpku berdering menandakan sms masuk. Kubuka perlahan, dari Naya.
                ‘sy tdk tw sbrp brt mslh ini, jg tk prnh bs mmbc hti, tp…sblum smwx trlmbt, mas msih bleh mmlih’
                Kali ini pening di kepalaku semakin menjadi.
_
                Maghrib tiba dengan sepi. Aku sendiri di ruangan ini. Mama dan Papa telah meninggalkanku dengan secuil kecewa di hati masing-masing. Aku menghela nafas, sayup-sayup kudengar gema azan dari masjid sekitar. Sudah saatnya menunaikan ibadah shalat maghrib. Tapi aku belum bisa bangkit, harus ada seseorang yang membantuku ke kamar mandi. Suster, ya atau perawat laki-laki. Mungkin sebentar lagi datang. Aku menunggu bebrapa saat. Beberapa saat, yah…akhirnya beberapa saat ditambah beberapa saat, banyak saat yang tercipta untukku menunggu sang perawat. Akhirnya aku mencoba bangkit sendiri.
                Cklek!
                “Assalamu’alaikum!” Seseorang muncul dari balik pintu. Aku menoleh, Naila. “Mas mau wudhu? Sini, saya Bantu!” Pintanya, yah…akhirnya keadaan lagi-lagi memaksa kami untuk sedikit membuat jeda…
_
                Aku menahan nafas. Tak menyangka antara maghrib dan Isha ini aku mendapat pernyataan seperti ini dafri Naila. Dilengkapi pula dengan tetesan air mata. Yah…Naila mengatakan jika ia menyimpan perasaan yang disebut Cinta terhadapku. Aku tidak paham yang seperti itu. bahkan aku tidak mengerti betapa banyak tenaga yang dibutuhkan untuk mengatakan perasaan seperti itu, apalagi dari perempuan kepada laki-laki.
                “Saya tidak tau sejak kapan, tapi Mas memang terlalu baik…” Ia berujar sembari terisak. Aku tak tau mesti berbuat apa. Hening tercipta, hanya isak Naila yang terdengar mengisi gelombang suara. Hingga tiba-tiba terdengar salam, aku terperajat. Orang tuaku…
                Bisa kulihat dari pandangan keduanya. Ada rasa penasaran, marah dan entahlah.
                “Apa kamu bisa jelaskan ini pada Mama, Nabil??? Ada hubungan apa sebenarnya kamu dengan anak itu?!!” Tanya Mama menatap mataku tajam. Ada hubungan apa??? Tak ada hubungan yang lebih. Aku hanya sedikit membantunya dan beberapakali_dengan terpaksa_membantuku. Tapi apa aku tidak akan menyakitinya jika aku mengatakan tidak ada apa-apa? Aku hanya menganggapnya seorang adik. Tapi,.. yang sesungguhnya memang tak pernah terjadi apa-apa, tak ada hubungan apa-apa dengan aku dan Naila. Aku hendak membuka mulut, tapi…
                “Kami tidak ada hubungan apa-apa, Tante. Aku sudah menganggap Mas Nabil seperti kakakku sendiri,” Aku menelan ludah dan menoleh pada Naila yang tengah tersenyum menatap Mama. Kurasakan, panas di ruangan ini menurun.
_
                Sejak kejadian itu, Mama dan Naila lama kelamaan jadi dekat. Naila memang menceritakan semua permasalahannya pada Mama. Dan Mama memberikan tanggapan yang sangat baik. Mengenai pernikahanku dengan Naya, akan terlaksana sebulan lagi. Tepat saat itu Nailla menyelesaikan pendidikannya di jenjang SMU. Malam ini, aku merenung dengan berjuta bintang. Mencoba membandingkan dua perempuan yang masuk dalam kehidupanku.
                Naya, seorang akhwat cantik dengan pengetahuan luas, bersikap lembut, pintar, cerdas, agamanya baik dan sangat perhatian. Aku memang belum mengenalnya lebih dekat, tapi tentu saja ia tipe istri ideal yang setiap lelaki pasti menginginkannya. Sedang Naila tipe perempuan yang sangat lugas, lucu, perhatian, ramai, enak diajak ngomong dan sangat suka anak-anak. Yang anehnya, jika ada anak-anak di sekitarnya, mereka pasti cepat akrab. Ini menurut yang sering ia ceritakan, tapi agamanya memang pas-pasan, meski tak bodoh ia kalah jauh dengan Naya…jadi sebenarnya mana yang lebih pantas untukku ya???
                Astaghfirullah,,,kenapa aku berfikir seperti ini? bukankah pernikahanku dengan Naya sebulan lagi…??? Aku harus menjadi Imam yang baik untuknya.
_
Sebulan kemudian, di hari pernikahanku
                Ternyata menikah itu memang berat. Telah terasa dari sekarang, hendak mengucapkan ijab Kabul saja rasanya deg-degan. Tapi, alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Rasanya bahagia sekali saat Naya mengecup punggung tanganku. Sudah tak ada was-was lagi di perasaanku untuk menyentuh perempuan itu, karena dia telah sah menjadi istriku. Kulihat wajah Mama begitu bahagia, aku bersyukur karena bisa membahagiakannya. Tapi, selama acara aku sama sekali tidak melihat Naila. Apa aku menyakiti hatinya dengan pernikahan ini? bukankah ia memiliki perasaan khusus terhadapku. Ah…mungkin dia sudah lupa.
                Aku melangkah keluar sebentar, ingin melihat situasi di luar. Di pintu aku tertegun kulihat Naila dengan senyumnya kepadaku. Ia mendekatiku yang tak lagi melanjutkan langkahku.
                “Aku pamit, Mas.” Ucapnya menatapku masih dengan senyuman, aku ingin bertanya tapi ia melanjutkan, “Aku akan melanjutkan kuliahku di luar kota. Maafkan aku pernah menyentuh bagian dari hidup mas, termasuk dengan perasaan aneh itu…aku pamit, assalamu’alaikum!” Naila membalik badan dan menjauh. Aku hanya diam, perasaanku tiba-tiba perih. Aku merasa ingin  menarik kembali punggung itu, rasanya aku ingin mencegah ia pergi…astaga,,, apa artinya ini? apakah aku jatuh cinta pada hari pernikahanku? Jatuh cinta bukan pada istriku?
                “Mas? Kok disini? Tamu di dalem nyariin!” Kurasakan sentuhan tangan Naya di lenganku. Aku terperajat dan segera menoleh, kutemukan wajah setenang samudra, selembut awan. Seharusnya aku tau,,,ialah anugrah Tuhan terindah saat ini untukku.
                “Naya,”
                “Ya?” ia menunjukkan senyum teduhnya dengan mata yang begitu bening, aku tau aku harus mengatakan ini, dan aku tau aku memang harus merasakan ini.
                “Aku mencintaimu!” Lalu mengalirlah kalimat itu. Kulihat pipi mulus Naya memerah, tapi ia masih bertahan dengan ke’cerdas’annya, ia tersenyum dan menggandeng lenganku memasuki rumah.
                “Mas pasti akan terkejut jika tau kalau Mas hanya membalas,,,” Untaian kata yang keluar dari bibir wanita berpengatahuan, meski sedikit berkias aku paham. Mungkin ia lebih dulu jatuh cinta padaku.

                Ah,,,aku menggenggam jemari istriku, aku tau mungkin kini punggungku dan punggung Naila tengah berbicara suatu, mungkin kenangan, mungkin terima kasih, atau mungkin perpisahan. Tapi, aku juga tau...bahwa Naya terlalu indah untuk kusia-siakan. Alhamdulillah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar