Ini
adalah hari pertama aku kembali bekerja setelah proses acara-acara resepsi
pernikahanku selesai diselenggarakan. Kurasakan atmosfir lain menggantung di
langit-langit hatiku. Terasa lumayan berat kakiku kulangkahkan kembali ke
kantor. Apa yang akan kutemui dari wajah-wajah itu sudah kuprediksikan. Aku
menelan ludah tawar, hampir tersedak. Tak apa, aku harus bisa.
“Dek,
ini sudah sampai.” Kutangkap suara suamiku yang searah dengan mobil yang ia
pinggirkan di depan kantorku. Aku sedikit tergagap kmudian menoleh padanya
memasang senyum. Ia menyuguhkan senyuman sayangnya padaku, senyum yang sukses
mengikat hatiku selama ini.
“Taka
pa-apa,” katanya, “semuanya akan baik-baik saja, sayang.” Ia meyakinkan, aku
mengangguk. Setelah mendapat kecupan di kening akupun turun dari mobil dan
melangkah memasuki pekarangan kantor.
Ini
adalah sebuah kantor percetakan. Cukup terkenal di kota. Percetakan ini bernama
Eja. Yah, tentu saja siapa yang tak kenal salah satu percetakan terbesar dan
tersukses ini. eja itu berasal dari nama pemiliknya. Pemiliknya seorang
perempuan yang tak sampai setahun lebih tua dariku. Ia bernama Ema Mulya.
Seorang perempuan berbakat dengan jilbab lebar. Aku begitu dekat dengannya,
bahkan sudah selayaknya kakak bagiku. Baik, tentu terdengar ganjil jika hanya
namanya yang menjadi nama percetakan ini, Ja dari EJA adalah nama suaminya.
Wijaya, Ahmad Wijaya Umai. Seorang lelaki tampan dengan wajah tegas. Dan kak
Ema biasa dipanggil, nyonyah Umai. Ia dikenal dengan nama Ema Mulya Umai. Yah,
sampai beberepa bulan terakhir.
Percetakan,
dari tadi aku selalau menyebutnya percetalan. Sebenarnya ini lebih cocok
disebut penerbitan. Yah, memang EJA adalah penerbit. Hanya dulunya Ema dan beberapa
sahabatnya mulai merintis bisnis ini dengan percetakan pada awalnya. Hingga
beberapa tahun kemudian kami berhasil menjadikannya penerbit.
Ema
sendiri adalah sosok pemimpin yang sangat baik. Ia menganggap kami semua
sebagai keluarga, sebagai saudara bukan sebagai bawahan. Ia memiliki segudang
ah bukan, kurasa sedunia kesabaran terhadap segala hal dan setiap orang. Ia tak
pernah kami lihat marah hingga menyebabkan orang lain merasa enggan dekat
padanya. ia akan menegur keras pekerjanya hanya apabila pekerjanya tak bisa
diajak kompromi lagi. Selebihnya meskipun pekerjanya tak bisa melakukan
pekerjaan dengan baik ia akan dengan sabar melatihnya.
Kami
sangat nyaman bekerja disini, kami menganggap Ema sebaagai sahabat yang tak
bisa digantikan apapun sampai kapanpun. Malah, jika datang hari libur kami
lebih sering merinduka EJA daripada menghabiskan waktu di rumah. Karena kami
telah merasa EJA telah menjadi rumah yang sangat nyaman. Bagi beberapa pekerja
yang telah memiliki anak, Ema bahkan menyediakan tempat penitipan anak disini.
Meskipun tak terlalu besar tapi cukup memadai untuk membuat para ibu tak
khawatirkan bayi-bayi mereka.
“Assalamu’alaikum
mbak Ima.” Suara satpam membuatku menoleh sembari membalas salam. Ohya namaku
Ima, Nurima Amanina. Dan aku biasa disapa Ima. Aku berjilbab, dan memiliki
latar belakang pendidikan agama yang cukup baik. Aku mulai bergabung di EJA
beberapa hari setelah wisuda S1-ku. Ema yang mengajakku, ini bahkan bukan
bidangku sebenarnya, tapi Ema meyakinkan aku pasti bisa, setelah cukup lama
menikmati sabar Ema akupun mulai bisa diterima dan diakui sebagai bagian dari
keluarga EJA. Seperti yang aku sebutkan di awal, aku memang baru menikah
sebulan lalu. dengan seorang lelaki bermerk duda. Duda muda beranak satu, ia
bernama Jaya. Ahmad Wijaya Umai. Dan aku adalah nyonya Umai sekarang.
Inilah
alasan kenapa aku menjadi begitu berat untuk masuk kantor, aku telah dicap
sebagai perebut suami orang. Perebut suami perempuan yang telah menganggapku
seperti saudara kandungnya sendiri. Perebut suami Ema Mulya, pemilik penerbitan
ini.
Kurasakan
ludahku tersangkut di tenggorokan.
//
Tidak ada komentar:
Posting Komentar