Minggu, 13 Juli 2014

Butuh Waktu..


            Ini adalah hari pertama aku kembali bekerja setelah proses acara-acara resepsi pernikahanku selesai diselenggarakan. Kurasakan atmosfir lain menggantung di langit-langit hatiku. Terasa lumayan berat kakiku kulangkahkan kembali ke kantor. Apa yang akan kutemui dari wajah-wajah itu sudah kuprediksikan. Aku menelan ludah tawar, hampir tersedak. Tak apa, aku harus bisa.
            “Dek, ini sudah sampai.” Kutangkap suara suamiku yang searah dengan mobil yang ia pinggirkan di depan kantorku. Aku sedikit tergagap kmudian menoleh padanya memasang senyum. Ia menyuguhkan senyuman sayangnya padaku, senyum yang sukses mengikat hatiku selama ini.
            “Taka pa-apa,” katanya, “semuanya akan baik-baik saja, sayang.” Ia meyakinkan, aku mengangguk. Setelah mendapat kecupan di kening akupun turun dari mobil dan melangkah memasuki pekarangan kantor.
            Ini adalah sebuah kantor percetakan. Cukup terkenal di kota. Percetakan ini bernama Eja. Yah, tentu saja siapa yang tak kenal salah satu percetakan terbesar dan tersukses ini. eja itu berasal dari nama pemiliknya. Pemiliknya seorang perempuan yang tak sampai setahun lebih tua dariku. Ia bernama Ema Mulya. Seorang perempuan berbakat dengan jilbab lebar. Aku begitu dekat dengannya, bahkan sudah selayaknya kakak bagiku. Baik, tentu terdengar ganjil jika hanya namanya yang menjadi nama percetakan ini, Ja dari EJA adalah nama suaminya. Wijaya, Ahmad Wijaya Umai. Seorang lelaki tampan dengan wajah tegas. Dan kak Ema biasa dipanggil, nyonyah Umai. Ia dikenal dengan nama Ema Mulya Umai. Yah, sampai beberepa bulan terakhir.
            Percetakan, dari tadi aku selalau menyebutnya percetalan. Sebenarnya ini lebih cocok disebut penerbitan. Yah, memang EJA adalah penerbit. Hanya dulunya Ema dan beberapa sahabatnya mulai merintis bisnis ini dengan percetakan pada awalnya. Hingga beberapa tahun kemudian kami berhasil menjadikannya penerbit.
            Ema sendiri adalah sosok pemimpin yang sangat baik. Ia menganggap kami semua sebagai keluarga, sebagai saudara bukan sebagai bawahan. Ia memiliki segudang ah bukan, kurasa sedunia kesabaran terhadap segala hal dan setiap orang. Ia tak pernah kami lihat marah hingga menyebabkan orang lain merasa enggan dekat padanya. ia akan menegur keras pekerjanya hanya apabila pekerjanya tak bisa diajak kompromi lagi. Selebihnya meskipun pekerjanya tak bisa melakukan pekerjaan dengan baik ia akan dengan sabar melatihnya.
            Kami sangat nyaman bekerja disini, kami menganggap Ema sebaagai sahabat yang tak bisa digantikan apapun sampai kapanpun. Malah, jika datang hari libur kami lebih sering merinduka EJA daripada menghabiskan waktu di rumah. Karena kami telah merasa EJA telah menjadi rumah yang sangat nyaman. Bagi beberapa pekerja yang telah memiliki anak, Ema bahkan menyediakan tempat penitipan anak disini. Meskipun tak terlalu besar tapi cukup memadai untuk membuat para ibu tak khawatirkan bayi-bayi mereka.
            “Assalamu’alaikum mbak Ima.” Suara satpam membuatku menoleh sembari membalas salam. Ohya namaku Ima, Nurima Amanina. Dan aku biasa disapa Ima. Aku berjilbab, dan memiliki latar belakang pendidikan agama yang cukup baik. Aku mulai bergabung di EJA beberapa hari setelah wisuda S1-ku. Ema yang mengajakku, ini bahkan bukan bidangku sebenarnya, tapi Ema meyakinkan aku pasti bisa, setelah cukup lama menikmati sabar Ema akupun mulai bisa diterima dan diakui sebagai bagian dari keluarga EJA. Seperti yang aku sebutkan di awal, aku memang baru menikah sebulan lalu. dengan seorang lelaki bermerk duda. Duda muda beranak satu, ia bernama Jaya. Ahmad Wijaya Umai. Dan aku adalah nyonya Umai sekarang.
            Inilah alasan kenapa aku menjadi begitu berat untuk masuk kantor, aku telah dicap sebagai perebut suami orang. Perebut suami perempuan yang telah menganggapku seperti saudara kandungnya sendiri. Perebut suami Ema Mulya, pemilik penerbitan ini.
            Kurasakan ludahku tersangkut di tenggorokan.

//

Tidak ada komentar:

Posting Komentar