Minggu, 13 Juli 2014

22 Februari 2012



Hari ini seru, yahh…sebaiknya kita selalu menanggapi setiap hari dengan seru atau kurang seru, daripada lelah dan kurang menyenangkan. Hehe
Hidup seperti ini membuatku sering merasa mengambang, betulkah aku sakit? Atau hanya perasaanku saja yang meyakin bahwa aku berbeda dengan yang lain? Apa ? sesuatu yang berbeda itu apa dan dimana? Siapa tahu?
Aku terkadang bingung, sampai kapan harus berusaha sendiri, dan takut dalam kesendirian pula, mungkin aku harus berbagi pada orang lain…orang lain? Orang terdekat? Bisakah mereka kupercayai? Bisakah???
Reruntuhan ini membuatku enggan memberikan seorangpun masuk pada bilikku, biarkan saja aku yang berusaha, biarkan aku yang sakit sendiri, semoga Allah menyembuhkanku, semoga Allah tidak mengujiku lebih dari ini. semoga Allah percaya padaku. Semoga, yah semoga.

MISSING
Mama menepuk-nepuk punggung bayinya yang baru saja berusia enam bulan dengan penuh kasih sayang, perutnya yang keroncongan sama sekali tak mendapat hirau darinya. Bayi enam bulan berjenis kelamin laki-laki itu padahal tengah menyusu padanya dengan lahap, bayi itu tak paham bahwa tenaga dari Mama sungguh sangat kurang untuk kegiatan itu sebenarnya. Yah, tentu saja ia hanya anak kecil.
                “Assalamu’alaikum” sebuah suara berat terdengar seiring suara pintu ber’kreek’ yang has. Mama menoleh demi mendengar suara itu, ia berjalan sembari menggendong bayi laki-lakinya dan mendapati pemilik suara berat itu tengah tersenyum dengan sebuah plastic hitam entah berisi apa. Fikirnya itu pasti sesuatu yang bisa ia makan.
                “Kamu belum makan, kan? Ini makanlah, kubelikan nasi bungkus tadi di jalan, tapi lauknya hanya tempe goreng.” Kata lelaki itu menyerahkan plastic hitam itu padanya. Mama mengambilnya dengan cepat dan segera ke dapur menyiapkan makanannya sendiri. Lelaki pemilik suara berat itu melihat dengan senyuman saja, kemudian memasuki sebuah bilik dan mengganti pakaian. Sementara Mama melahap nasi dengan sangar, bayi laki-lakinya tetap menyusu padanya.
                Tilolet…!!!
                Sebuah teriakan berasal dari meja kecil di salah satu ruangan rumah sederhana itu tak menghentikan kegiatan penghuni rumah, tak ada yang menghiraukan panggilan masuk ke HP Nokia mewah itu, layar benda ajaib berharga jutaan itu berkedip-kedip, disana tertulis sebuah nama, hanya sebuah saja
                Dara.
//
                Pagi yang cerah dengan kicauan burung, Mama membuka mata setelah matahari lewat sepenggalah. Bayi laki-lakinya dilihatnya tengah asyik bermain sendiri di ayunan ruang tengah. Mama mengikat rambut panjangnya dan keluar dari kamar, ia memperhatikan rumah, leleki bersuara berat itu pastinya sudah keluar menjelang subuh tadi, dan baru akan kembali malam nanti.
                Mama menghela nafas, mendekati bayi laki-lakinya yang tengah asyik memainkan sebuah tasbih, Mama hanya tersenyum dan mengusap-usap kepala bayi laki-lakinya. Entah apakah ia juga berdo’a di dalam hatinya atau hanya sekedar berhampa.
                Tok, tok, tok.
                Pintu reot rumah itu terdengar diketuk, tampaknya ada tamu. Mama yang baru saja selesai mandi segera mendekati pintu dengan bayi laki-laki di gendongannya, ia mengintip dari lubang kecil pada pintu dan dadanya segera bergemuruh. Tamu itu?
                Tok, tok, tok.
                “Bukalah pintunya, Chris. Gue tau lu di dalem!!!” sebuah teriakan perempuan membuat keringat dingin terproduksi pada dahi Mama. Ia tak menyahut, ia sibuk panic hendak berfikir kemana pergi, tapi ia tak punya pintu belakang.
                “Chriss…!!!! Buka pintunya!!!” suara yang sama membuat bayi laki-laki Mama terkejut dan sejenak kemudian menangis. Mama semakin panic, antara   berusaha bersembunyi dengan menenangkan bayi laki-lakinya.
                Brak!
                Akhirnya pintu didobrak paksa, Mama melihat dengan mata nelangsa pada sosok perempuan berambut sebahu dengan dua orang lelaki berotot disampingnya.
                “Lo nggak lari lagi, Chriss?!!” perempuan dengan bibir tipis itu bertanya sinis, Mama hanya diam menatap mereka sembari menenangkan bayi laki-lakinya.
                “Berhentilah seperti ini Chriss, lu udah bener-bener hidup bagus malah kabur. Lu bisa apa disini!!!” perempuan itu mendekat pada Mama. Mama menggeleng-geleng dengan air mata yang hampir tumpah, ia mengeratkan gendongan pada bayi laki-lakinya yang kian keras saja menangis.
                “Sini, biarkan David sama gue.” Perempuan itu menjulurkan tangan hendak mengambil bayi laki-laki Mama, tapi Mama menggeleng kuat dan berusaha mundur. “Lu jangan keras kepala, Chriss. Itu bukan anak lu! Itu anak gue!!!” perempuan itu semakin mendekat, matanya yang lembut seperti hendak keluar, Mama memeluk bayi laki-lakinya dan mundur, terus mundur hingga terbentur tembok. Perempuan itu tersenyum sinis.
                “Anak lu mati!!!!” perempuan itu menarik bayi laki-laki itu dari pelukan Mama, paksa. Bayi laki-laki itu menangis kencang, Mama teguh memeluk sebagian tubuh bayi laki-lakinya. “Ini anak gue, Chriss. Lepas!!” perempuan itupun berhasil merebut bayi laki-lakinya dan Mama tersungkur, bayi laki-lakinya menangis merentangkan tangan padanya, menangisinya yang juga menangis dalam tundukannya yang bergetar. Mama ingin berteriak, meminta, atau apapun itu tapi suaranya tersendak, ia tak bisa berkata apa-apa. Mama merayap di lantai sederhana rumah bobrok itu dan memeluk kaki perempuan itu. ia memohon dengan tangisnya, isaknya tak terdengar tapi punggungnya bergerak-gerak keras. Mama sangat memohon.
                “Lu kembali, Chriss. Lu harus kembali.!!!” Perempuan itu sedikitpun tak memiliki hati, bayi laki-laki di gendongannya meronta. Mama menggeleng-geleng di bawah. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa. Ia tak tahu harus bagaimana.
                “Lu tau semuanya, lu harusnya nyadar. Nggak ada yang bisa lu lakuin.” Suara perempuan itu melembut, ada bening sebenarnya diujung matanya. “Kenapa lu begitu keras kepala…?” tangan Mama meraba sesuatu dibawah meja, ia menggenggam benda itu erat. Kemudian tanpa sepengetahuan perempuan itu Mama menyembunyikan benda itu dibalik bajunya.
                “Bawa dia!” perempuan itu memerintahkan dua orang yang tadi bersamanya. Mama kemudian digeret dengan paksa, Mama tak lagi meronta ia seolah pasrah. Perempuan itu berjalan lebih dulu dengan bayi laki-laki yang menangis dan meronta di gendongannya. Pada kesempatan itulah Mama mengeluarkan benda dibalik bajunya dan dengan sigap menggunakan benda itu di pergelangan kaki kedua orang yang meggeretnya. Teriakan kedua laki-laki itu meledak, darah bercucuran dari pergelangan kakinya. Mama melepaskan diri, berlari mengejar perempuan itu, kedua laki-laki berotot itu mengerang sejadi-jadinya. Mereka merasakan kaki mereka seperti ditindih puso. Mereka menangis seperti anak kecil, terbersit di fikiran masing-masing bahwa Mama bukan orang yang pantas diremehkan.
                Sementara itu Mama mengejar perempuan itu tanpa suara, mendengar erangan dari belakang perempuan itu mulai hawatir dan menoleh, saat itulah sebuah benda tajam tepat mengarah pada mata kirinya.
                Cress…!!!
                Tak terelakkan, dengan teriakan yang memekakkan telinga benda itu menusuk matanya. Pelukannya pada bayi laki-laki itu melemah, Mama segera mengambil bayi itu, menggendongnya erat sembari berlari. Berlari, dan terus berlari dengan iringan tangis juga percikan darah yang banyak.
                Di suatu tempat, ia mendudukkan bayi laki-lakinya, menciuminya dengan segenap cinta, memeluknya beberapa kali. Kemudian meninggalkannya.
//
                Di sebuah ruangan besar, ia dipandangi dengan marah oleh seluruh isi ruangan. Seorang lelaki tua dengan kepala botak mendekatinya. Lelaki itu memainkan pistol di tangan kanannya.
                “Kamu kembali juga Chriss…” ujarnya menyentuh dagu permpuan cantik itu. “Suara indahmu tak ada lagi. yah…kamu tak bisa lagi menjawab pertanyaanku, tak bisa menjawab panggilanku, haaaaah….” Lelaki itu melempar pandangan pada photo besar di dinding, photo perempuan cantik dengan senyum menawan.
                “Dimana David kau sembunyikan, ?” Lelaki itu mendongakkan wajah cantik itu. tak ada air mata pada mata indahnya, tak ada rasa takut. Malah mata itu menantangnya. “Jawab Chriss, jangan membuatku marah!!!” Lelaki itu menahan emosinya, ia mencengram erat wajah cantik itu. tapi ia tak mendapat respon. Emosinya menanjak, ia melepaskan wajah cantik itu mundur beberapa langkah, menaikkan lengannya.
                “Kamu tidak berguna.” Sedikit meraung ia menahan amarah, kemudian terdengar suara tembakan. Tak ada teriakan, semuanya sunyi, ya…begitu sunyi.
//
                Beberapa hari kemudian di televise disiarkan tentang ditemukannya mayat berjenis kelamin perempuan dengan luka tembak di salah satu kali tanpa selembar pakaianpun. Setelah dilakukan otopsi tak ada yang bisa polisi simpulkan untuk mayat itu, tak ada identitas, tak ada laporan orang hilang. Mayat perempuan itu tak diketahui.
                Seorang anak kecil, bayi laki-laki berusia enam bulan berusaha menjangkau televise itu, ia seperti melihat benda yang sangat menarik dan ingin ingin digenggamnya.
                “Kita pulang, Nak. Kita sudah mendapatkan susu untukmu.” Suara berat lelaki yang menggendongnya tak dihiraukan bayi itu, ia terus menjangkau dengan kuat. Lelaki yang menggendongnya melirik sekilas pada tayangan di televisi milik ibu warung, ia mengerutkan alis, hanya sejenak berfikir. Kemudian bernjak pulang.
//
                Pada sepertiga malam lelaki dengan suara berat itu menyelesaikan do’anya, ia menoleh pada bayi laki-laki yang tengah terlelap di tempat tidur kecil seadanya. Ia menghela nafas dengan tersenyum. Ia ingat pada suatu pagi buta saat ia hendak berangkat mengais rizki, seorang perempuan berwajah sangat cantik dengan menggendong bayinya mendekat padanya. perempuan itu tak bicara sedikitpun. Tapi matanya menyiratkan sesuatu yang gusar. Lelaki itu menyilahkan perempuan itu masuk, memberinya minuman hangat dan sedikit makanan yang dimilikinya. Ia ingin bertanya pada perempuan itu, tapi tak enak. Iapun membiarkan saja perempuan cantik itu melahap makanan, perempuan itu tampak sangat lapar.
                “Kau mau tinggal? Aku mau berangkat kerja.” Lelaki itu menawarkan, perempuan itu menoleh dengan tatapan bingung. Mungkin tak habis fikir tentang tawaran itu. iapun dengan isyarat meminta kertas. Lelaki itu paham, perempuan cantik itu bisu. Iapun memberikannya kertas dan polpen. Kemudian perempuan itu menulis sebentar dengan serius, setelah selesai perempuan itu memberikannya kertas yang telah ditulisinya. Disana tertulis:
                Izinkan aku tinggal beberapa hari saja disini, hanya tiga hari. Setelah itu aku akan pergi tanpa meninggalkan jejak dan masalah. Akan kuberikan kau imbalan yang baik, kumohon izinkan aku mempercayaimu.
                Kemudian lelaki itu mengiyakan saja tanpa berat hati. Perempuan itu kembali menulis. Dan menyerahkan tulisannya padanya.
                Dia anakku, namanya David.
                Hanya itu. dan tepat pada hari ketiga, perempuan cantik itu menghilang. Ada bekas darah di lantai rumahnya, pintu rumahnyapun rusak. Lelaki itu sadar ia telah membantu seseorang yang tampaknya memiliki masalah parah. Saat memasuki kamar yang ditempati perempuan itu, ia menemukan sejumlah uang dalam amplop dan tulisan singkat.
                Terimakasih. Izinkan aku mempercayaimu, dua gang dari sini, tempat sampah.
                Dan saat kesana, lelaki itu menemukan bayi laki-laki enam bulan tengah menangis sendirian. Iapun menggendong David, memutuskan untuk bersamanya.
//
 10 tahun kemudian…
                Adzan merdu terdengar dari  pengeras suara sebuah masjid sederhana di suatu kampung. Seluruh masyarakat tahu betul bahwa suara itu milik anak laki-laki pak Muhsan, anak laki-laki berwajah bagus dengan akhlak begitu mulia. Setiap orang menyukai suara anak itu, anak itupun telah berhasil memenangkan lomba adzan sekecamatan. Pak Muhsan sendiri begitu bangga memiliki anak itu, ia tak henti-hentinya bersyukur dipercayai Allah atas nikmat yang diberikan-Nya berupa anak laki-laki berbakti dan pantas dibanggai.
                “Mikir apa to, Pak? Itu didahului Daud ke masjidnya.” Suara lembut istrinya mengembalikannya kea lam nyata.
                “Ah ya, kalau begitu aku berangkat dulu, Bu. Asslamu’alaikum” pamit pak Muhsan sembari keluar rumah dengan aroma wangi yang merembes ke penciuman istrinya. Bu Muhsan tersenyum, damai memiliki suami bersuara berat itu, damai memiliki anak laki-laki bernama Daud.

The live is beginning…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar