Minggu, 13 Juli 2014

Best Seller......


Sebenarnya memang haruus, tapi Aisyah tak pernah bisa meredamnya. Ia berusaha untuk tidak menganggap rasa itu ada tapi tetap saja ia tak kuasa. Ia ingin melihat Nadya, dan harus melihatnya. Aisyah bolak balik di kamarnya, ia memikirkan alasan untuk bertemu dengan Nadya sekarang. Ujung jilbab lebarnya melambai-lambai tak tentu, seolah menggambarkan tentang keggalauan hatinya saat ini.
            Sebentar kemudian matanya bercahaya, ia menyambar hapenya di atas meja belajarnya. Ia mengetik beberapa kalimat, tampak serius kemudian sebelum mengirimnya ia mengecek ulang tulisan cepatnya itu.
            ‘mbak bs ktmu sbentar sore ni? Sy btuh bntwn mbak, da peljrn yg kurng sy mengrti’ Aisyah.
            Setelah menganggap itu cukup sopan, akhirnya ia mengirimnya. Iapun bernafas lega, meski masih berharap-harap cemas tentang sms itu akan dibalas atau tidak. Aisyah melepas pantatnya diatas ranjang sederhananya.
            Tit tit
            Hapenya berderit norak. Ia membukanya dengan hati berdebar.
            ‘boleh, aq jg lg gk da kgytan, dtng j k kost’
            “Asyik!” Aisyah melompat gembira, kemudian melempar hapenya ke ranjang dan bersiap mandi.
*
            Setelah mandi Aisyah langsung mengambil sajadah dan mukenah beserta sarung. Ia ingin segera berterima kasih kepada Allah. Betapa kebahagiaan itu begitu nyata baginya. Iapun memulai shlatnya dengan dua raka’at qobliyah.
            Allahuakbar!
            Ia memejamkan mata berusaha untuk khusu’. Dan tiba-tiba saja ada aura yang mengaliri hatinya. Aura aneh yang membuatnya ingin …entahlah. Aisyah mulai melafalkan takbiratul ihram. Bibirnya bergetar. Inni wajjahtu wajjhia …ia mendalami setiap makna dari bacaan yang ia lafalkan sebatas pendengarannya itu. Ia lanjutkan dengan fatihah.
            Bismillahirrahmanirrahim…[dengan nama Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang]
            Alhamdulillahirobbil’alamien…[segala puji hanya milik Allah penguasa alam]
            Arrahmanirrahim … [yang maha pengasih, maha penyayang]
            Maaliki yaumiddin…[penguasa hari akhir]
            Iyyaka na’budu iyyaka nasta’in [kepadamu kami menyembah dan kepadamu kami …]
            Sampai disini air mata Aisyah tumpah tak tertahan. Ia sadar, ia baru saja melakukan kesalahan. Ia memang telah berusaha meredam rasa itu, ia telah mewanti-wanti hatinya untuk tidak sama sekali membiarkan rasa itu menguasainya, tidak membiarkan setan membujuknya untuk mementingkan rasa itu. Tapi, ia tak sekuat itu, ia kalah. Ia lemah. Dan dengan kelemahannya ia lupa pada Allah. Ia lupa pada penolong terkuatnya.
            Aisyah menangis, melantunkan ayat demi ayat diantara isak. Ia terus meminta maaf dalam hatinya. Ia takut Allah akan murka pada-Nya. Ia takut ia akan menjauh dari Tuhannya. Aisyah rukuk dengan air mata, ia beri’tidal dengan isak, ia bersujud dengan taubatnya.
            Pada sujud terakhir shalat sunnahnya Aisyah menangis sejadinya. Meminta ampun dengan terbata-bata.
            ‘Subahanaka inni kuntu minazhzhalimien…subahanaka inni kuntu mina zhalimin…’
            Ia terus mengulangi do’a nabi Daud itu, terus hingga sajadahnya menjadi lembab. Iapun mengusaikan sujudnya, tahyatul akhir dan salam. Selepas itu, ia mengambil hpnya yang tadi asal ia lempar, sambil mengusap pipinya yang basah dan hidungnya yang agak tersumbat. Ia mengetik sms dengan cepat.
            ‘mbak, maaf. Sy btal ke kost, ada kegiatan sore ini. Lain kali sj y, trims ats ksediaan mbk sblumny’
            Send.
            Aisyah menaruh hpnya dengan hembusan nafas. Ia kembali ke sajadahnya, bersiap takbir, hpnya berbunyi tanda sms masuk, pasti dari Nadya. Aisyah bergeming, ia melanjutkan niatnya dan memulai komunikasi dengan Tuhannya.
            Sementara itu Nadya jadi heran dengan tingkah gadis muslimah berjilbab besar itu. Kenapa tiba-tiba membatalkan janji dengannya? Kegiatan apa begitu tiba-tiba? Ah, dia tak ambil pusing. Toh dia bisa menghabiskan senggangnya sore ini di Mall. Atau jalan-jalan ke UNRAM, sambil menikmati king tela dengan Roy bisa juga. Iapun menghubungi Roy.
            Tapi, Aisyah tidak berbohong. Dia memang sedang melakukan kegiatan, kegiatan yang paling mulia. Bermunajat pada Tuhannya tanpa ingin diganggu siapapun.
*
            Aisyah menaruh tas ranselnya dengan dada berdegup kencang. Ia tak menyangka akan mendapatkan perasaan begitu meluap di hatinya hanya dengan bisa bercakap-cakap dengan gadis itu. Nadya, gadis beragama Kristen itu. aisyah meraba wajahnya yang terasa panas, padahal sore ini tidak panas, sejuk karena mendung.
            “Ya Allah…” Ia bergumam dengan senyum. Kemudian melepas jilababnya dan beranjak ke kamar mandi. Disana ia bercermin dengan senyum kebahagiaan. “Hehe, seneng!” Ujarnya. Pipinya merona. Iapun mengambil air wudhu.
            Selepas shalat dengan sejuta rasa syukur, Aisyah membaca Al Qur’an dengan suara pelan.
            “Sayang, ada Rena ni!” Ibu membuka pintu kamarnya. Aisyah menoleh sembari mengucap sadaqallah. Wajah tembem Rena menyembul dari pintu dengan cengiran lebar.
            “Asalamu’alaikum!” Sapanya dengan nada ceria. Ia membuka pintu kamar lebih lebar dan memasuki kamar Aisyah. Ibu tersenyum sembari berlalu.
            “Wa;alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh! Tumben mampir” Aisyah tersenyum memperhatikan Rena yang membuka helmnya dan menarunya hati-hati di lantai hijau kamarnya kemudian duduk di ranjang Aisyah sambil membuka jaket.
            “Iya nich, kangen sama kamu!” Jawab Rena sekenanya.
            “Alhamdulillah, ada yang ngangenin!” Aisyah menyahut dengan nada bercanda. Ia melipat mukenah dan sajadahnya. “Mau minum apa, nich?” Tanyanya menatap Rena.
            “Udah tadi di jalan beli es krim, hehe”
            “Ah, cerita. Bawakan satu, baru seru!” Aisyah duduk di korsi belajarnya menatap Rena.
            “Lagi bokek, ni. Itu aja es krim tiga ribuan, ini bensin juga kalo bisa sampe rumah!” Rena membuka jilbab abunya.
            “Oh, pahamlah maksud kamu mampir ke rumah!” Aisyah melirik gemas kea rah sahabat kentalnya itu. yang dilirik cengengesan tampang tak berdosa.
            “Sayang ini minumannya,” Tiba-tiba Ibu Aisyah membuka pintu dengan nampan berisi dua cangkir teh panas dan satu toples makanan ringan. Aisyah bangkit dari duduknya dan melangkah cepat mendekati ibu di depan daun pintu.
            “Terimakasih ya, Bu!” Ucapnya riang. Ibu mengangguk dan berlalu. Aisyah melangkah riang dengan senyum merekah. Kebahagiaan yang tadi ia rasakan belumlah menipis. Ia meletakkan nampan itu diatas lantai berkarpet hijau tua.
            “Nich minum!” Ujarnya menoleh pada Rena yang sedikit heran melihat tingkah sahabatnya itu. sementara Aisyah masih dengan langkah riang dan senyum yang terus merekah mengambil dompet di ranselnya, mengeluarkan dua puluh ribuan.
            “Ini buat bensin, cukup kan?” Katanya menyerahkan uang itu pada Rena dengan…kalau menurut Rena sangat riang.
            “Tumbenan!” Rena menerima uang itu dengan tatapan heran.
            “Yeee…bukannya makasih, malah bilang tumbenan.” Aisyah duduk di samping Rena.
            “Oh, kalo soal duit sich makasih. Tapi kamunya yang tumbenan. Aneh!” Rena menatap wajah sahabatnya yang terlihat begitu bersinar.
            “Aku aneh?” Tanya Aisyah menunjuk wajahnya dengan ekspresi lucu.
            “Ih, cupu.” Rena mengibas telunjuk Aisyah, “Kamu kenapa?” Tanyanya penasaran.
            “Kok pertanyaannya aku kenapa?” Aisyah bingung.
            “Iya, hari ini kamu lebih ceria, lepas, lebih bebas, lebih …gak kaya’ kamu aja dech!” Rena berucap tanpa sensor.
            “Masa’ sich??? Kan aku emang gini!” Aisyah berusaha berfikir. Iya juga, dari tadi ia banyak sekali berbicara.
            “Beda, Icha’. Sejak pulang dari pondok tiga bulan lalu, kamu udah cukup buat aku heran dengan perubahan penampilan dan tingkah kamu. Tapi itu wajarlah, kan kamu mondoknya hampir 8 tahun.”
            “Tujuh tahun kurang, Ren!” Aisyah memperbaiki.
            “Tu, kan. Bawel!”
            “Astaghfirullah…masa’ sich?” Aisyah mulai khawatir. Merasa ada yang janggal juga pada dirinya.
            “Iya, banyak-banyak dah tu istighfar. Biar kamu kembali ke jalan yang lurus…hehehe” Rena terkekeh.
            “Ih, nggak boleh begitu!” Aisyah memperbaiki.
            “Yang penting niat kan baek,” Entah apa hubungannya, Renapun bingung. Sejenak mereka diam, Rena mengambil snack di toples yang ditaruh Aisyahtadi dan duduk santai diatas karpet hijau tua itu.
            “Kamu lagi mikirin orang ya, Cha?” Tanya Rena melihat Aisyah yang melihat kearahnya tapi pandangannya kosong. Aisyah tergagap.
            “Mikirin orang?” ia balik bertanya.
            “Ya…akhir-akhir ini ada orang yang kamu fikirin gak?” Rena mengulangi pertanyaannya.
            “Mmm…” Aisyah berfikir, meski tanpa berfikiir ia sudah bisa menjawabnya, “Iya, kenapa?” Ia balik bertanya.
            “Gak ada…aku mau meneliti kamu. Kaya’ detektif gitu!” Rena mengerjit jahil, membuat Aisyah tertawa lepas. Dan kembali membuat Rena heran.
            “Pasti kamu deg-degan kalo ketemu dia, kan?” Rena menyerupput tehnya.
            “Kok tau?” Tanya Aisyah heran.
            “Hehe…tapi kamu selalu ingin ketemu dia, kaaan?” Rena bernada jahil.
            “Mmm…nggak juga sich,,,tapi iya kadang-kadang!”
            “Baru kenal, ya?” Rena menebak lagi.
            “Ya, tapi sudah lama aku perhatiin!”  Aisyah jujur dengan pipi merona. Dalam hati Rena tertawa lebar. Duuuh…betapa kolotnya sahabatnya itu. masa’ begitu aja nggak paham. Yah, salah dia juga terlalu lama mondok.
            “Jatuh cinta tuch!” Rena berujar dengan cuek. Sementara Aisyah terdiam seketika.
            “Jatuh cinta?” Ia bertanya tak percaya.
            “Iya..masa’ gitu aja nggak tau? Berapa tahun? 19 kan? Astaghfirullah… kamu pasti belom pernah jatuh cinta. Ck ck ck…ya cirri-cirinya begitu, sering fikirin dia, deg-degan kalo ketemu ato Cuma sekedar liat, pengen ketemu terus…” Penjelasam Rena membuat Aisyah seolah terkena runtuhan atap rumahnya. Jatuh cinta??? Bagaimana bisa????
            “Sama siapa? Kalau boleh tau?” Rena menoleh padanya dengan tatapan jahil.
            Nadya. Ya,,,Aisyah sering memikirkan gadis itu kan akhir-akhir ini, sering memperhatikannya di kampus, sering deg-degan kalau bertemu dengan gadis itu, dan ingin selalu bertemu dengannya, meski hanya sekedar melihat wajahnya.
            Astaghfirullah…
            Apa benar, Aisyah mencintai Nadya. Perlahan Aisyah mulai berfikir. Mengingat-ingat segala hal yang ia lalui berkaitan dengan Nadya.
            “Yee…ditanya malah diem!” Entah sejak kapan Rena sudah kembali duduk di sampingnya.
            “E…hehe…” Aisyah bingung mau menjawab apa.
            “Apa bener ya aku jatuh cinta. Mungkin Cuma kagum, Ren!” Aisyah mencoba mencari kemungkinan lain. Meskipun tanpa sadar ia setuju dengan pendapat Rena, jika itu memeng benar dinamakan jatuh cinta.
            “Keliatan banget kok di muka kamu. Tadi pas aku tanyain kamu tentang dia, pipimu merona!” Rena menunjuk pipi mulus Aisyah pelan. “Hehehe…ada senior di kampus, atauuu…teman seangkatan?” Rena menyelidik. Aisyah Cuma nyengir tak bersemangat…bukan ini yang ingin ia dengar.
            “Mungkin prediksimu salah, Ren…”
            “Kagum sama cinta emang beda tipis…tapi tetep bisa kok dibedain. Contohnya kaya’ tadi, pipi kamu memerah. Dah dech, kamu belom mau ngasi tau aku gak pa-pa, tapi kamu harus siep sama perasaan yang begini, Cha. Setiap manusia akan merasakan yang namanya jatuh cinta…bener dech!”
*



*Surat dari Orang Tua
Teruntuk Aisyah tersayang
Maaf, Ibu lama meninggalkan kamu, Nak. Tapi bulan ini Ibu memutuskan untuk kembali ke Lombok. Dan Ibu harap Aisyah mau tinggal sama Ibu. Besok, dari Bandara Ibu langsung ke pondok.
Salam hangat, Ibumu. Nurimah.

            Aisyah menghembuskan nafas membaca surat yang baru saja diterimanya dari tukang pos. entah bagaimana perasaannya sekarang. apa ia benar-benar merindui ibunya? Wanita berharga itu telah meninggalkannya 11 tahun. Dulu, sejak kelas 2 SD, ibunya memutuskan untuk menjadi TKW ke Arab Saudi. Dan Aisyah tinggal dengan neneknya di Lombok Timur. Selulus SD Aisyah masuk ke Nurul Haramain, hingga lulus Aliyah dan memutuskan mengambil kesempatan yang diberikan pondoknya untuk mengabdi.
            Mungkin Aisyah memang tidak terlalu merindukan sosok Ibu, karena baginya neneknya sudah lebih dari cukup untuk menggantikan seorang ibu. Lebih dari itu, Ibunya juga jarang sekali memberi kabar untuknya, karena itu Aisyah mengnggap ibunya telah lupa padanya, tak perduli sama sekali pada anak sematawayangnya itu. mengenai keputusannya, dia ingin beristikharah dulu.
            “Serius amat, surat dari siapa?” Ustdzah Indra, salah seorang ustdzah yang satu kamar dengannya duduk di dekatnya. Ustdzah berkaca mata itu melirik surat yang dibaca Aisyah.
            “Dari Ibu, mau pulang katanya.” Jawab Aisyah dengan ringan.
            “Subahanallah! Ibumu mau pulang, Cha? Kapan?” Utdzah Indra yang memang tau benar kisah Aisyah terkejut.
            “Belom tau, Kak. Disini bilang bulan ini, gak ada tertera tanggal ato hari.” Aisyah masih ringan-ringan saja.
            “Kok ekspresimu gak ada bahagianya?” Ustdzah pengajar Matematika itu heran juga.
            “Entahlah, Kak. Ke kamar yuk, mau zuhur!” Aisyah bangkit dari duduknya di korsi depan kelas. Dengan masih heran ustdzah Indra mengikutinya.
*

            Berita kepulangan ibu Aisyah tersebar dengan cepat sekompleks ustdzah. Semuanya bertanya padanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar