Sebenarnya memang
haruus, tapi Aisyah tak pernah bisa meredamnya. Ia berusaha untuk tidak
menganggap rasa itu ada tapi tetap saja ia tak kuasa. Ia ingin melihat Nadya,
dan harus melihatnya. Aisyah bolak balik di kamarnya, ia memikirkan alasan
untuk bertemu dengan Nadya sekarang. Ujung jilbab lebarnya melambai-lambai tak
tentu, seolah menggambarkan tentang keggalauan hatinya saat ini.
Sebentar kemudian matanya bercahaya,
ia menyambar hapenya di atas meja belajarnya. Ia mengetik beberapa kalimat,
tampak serius kemudian sebelum mengirimnya ia mengecek ulang tulisan cepatnya
itu.
‘mbak bs ktmu sbentar sore ni? Sy
btuh bntwn mbak, da peljrn yg kurng sy mengrti’ Aisyah.
Setelah menganggap itu cukup sopan,
akhirnya ia mengirimnya. Iapun bernafas lega, meski masih berharap-harap cemas
tentang sms itu akan dibalas atau tidak. Aisyah melepas pantatnya diatas
ranjang sederhananya.
Tit tit
Hapenya berderit norak. Ia
membukanya dengan hati berdebar.
‘boleh, aq jg lg gk da kgytan, dtng
j k kost’
“Asyik!” Aisyah melompat gembira,
kemudian melempar hapenya ke ranjang dan bersiap mandi.
*
Setelah mandi Aisyah langsung
mengambil sajadah dan mukenah beserta sarung. Ia ingin segera berterima kasih
kepada Allah. Betapa kebahagiaan itu begitu nyata baginya. Iapun memulai shlatnya
dengan dua raka’at qobliyah.
Allahuakbar!
Ia memejamkan mata berusaha untuk
khusu’. Dan tiba-tiba saja ada aura yang mengaliri hatinya. Aura aneh yang
membuatnya ingin …entahlah. Aisyah mulai melafalkan takbiratul ihram. Bibirnya
bergetar. Inni wajjahtu wajjhia …ia mendalami setiap makna dari bacaan yang ia
lafalkan sebatas pendengarannya itu. Ia lanjutkan dengan fatihah.
Bismillahirrahmanirrahim…[dengan
nama Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang]
Alhamdulillahirobbil’alamien…[segala
puji hanya milik Allah penguasa alam]
Arrahmanirrahim … [yang maha
pengasih, maha penyayang]
Maaliki yaumiddin…[penguasa hari
akhir]
Iyyaka na’budu iyyaka nasta’in
[kepadamu kami menyembah dan kepadamu kami …]
Sampai disini air mata Aisyah tumpah
tak tertahan. Ia sadar, ia baru saja melakukan kesalahan. Ia memang telah
berusaha meredam rasa itu, ia telah mewanti-wanti hatinya untuk tidak sama
sekali membiarkan rasa itu menguasainya, tidak membiarkan setan membujuknya
untuk mementingkan rasa itu. Tapi, ia tak sekuat itu, ia kalah. Ia lemah. Dan
dengan kelemahannya ia lupa pada Allah. Ia lupa pada penolong terkuatnya.
Aisyah menangis, melantunkan ayat
demi ayat diantara isak. Ia terus meminta maaf dalam hatinya. Ia takut Allah
akan murka pada-Nya. Ia takut ia akan menjauh dari Tuhannya. Aisyah rukuk
dengan air mata, ia beri’tidal dengan isak, ia bersujud dengan taubatnya.
Pada sujud terakhir shalat sunnahnya
Aisyah menangis sejadinya. Meminta ampun dengan terbata-bata.
‘Subahanaka inni kuntu
minazhzhalimien…subahanaka inni kuntu mina zhalimin…’
Ia terus mengulangi do’a nabi Daud
itu, terus hingga sajadahnya menjadi lembab. Iapun mengusaikan sujudnya,
tahyatul akhir dan salam. Selepas itu, ia mengambil hpnya yang tadi asal ia
lempar, sambil mengusap pipinya yang basah dan hidungnya yang agak tersumbat.
Ia mengetik sms dengan cepat.
‘mbak, maaf. Sy btal ke kost, ada
kegiatan sore ini. Lain kali sj y, trims ats ksediaan mbk sblumny’
Send.
Aisyah menaruh hpnya dengan hembusan
nafas. Ia kembali ke sajadahnya, bersiap takbir, hpnya berbunyi tanda sms
masuk, pasti dari Nadya. Aisyah bergeming, ia melanjutkan niatnya dan memulai
komunikasi dengan Tuhannya.
Sementara itu Nadya jadi heran
dengan tingkah gadis muslimah berjilbab besar itu. Kenapa tiba-tiba membatalkan
janji dengannya? Kegiatan apa begitu tiba-tiba? Ah, dia tak ambil pusing. Toh
dia bisa menghabiskan senggangnya sore ini di Mall. Atau jalan-jalan ke UNRAM,
sambil menikmati king tela dengan Roy bisa juga. Iapun menghubungi Roy.
Tapi, Aisyah tidak berbohong. Dia
memang sedang melakukan kegiatan, kegiatan yang paling mulia. Bermunajat pada
Tuhannya tanpa ingin diganggu siapapun.
*
Aisyah menaruh tas ranselnya dengan
dada berdegup kencang. Ia tak menyangka akan mendapatkan perasaan begitu meluap
di hatinya hanya dengan bisa bercakap-cakap dengan gadis itu. Nadya, gadis
beragama Kristen itu. aisyah meraba wajahnya yang terasa panas, padahal sore
ini tidak panas, sejuk karena mendung.
“Ya Allah…” Ia bergumam dengan
senyum. Kemudian melepas jilababnya dan beranjak ke kamar mandi. Disana ia bercermin
dengan senyum kebahagiaan. “Hehe, seneng!” Ujarnya. Pipinya merona. Iapun
mengambil air wudhu.
Selepas shalat dengan sejuta rasa
syukur, Aisyah membaca Al Qur’an dengan suara pelan.
“Sayang, ada Rena ni!” Ibu membuka
pintu kamarnya. Aisyah menoleh sembari mengucap sadaqallah. Wajah tembem Rena
menyembul dari pintu dengan cengiran lebar.
“Asalamu’alaikum!” Sapanya dengan
nada ceria. Ia membuka pintu kamar lebih lebar dan memasuki kamar Aisyah. Ibu
tersenyum sembari berlalu.
“Wa;alaikumussalam warahmatullah
wabarakatuh! Tumben mampir” Aisyah tersenyum memperhatikan Rena yang membuka
helmnya dan menarunya hati-hati di lantai hijau kamarnya kemudian duduk di
ranjang Aisyah sambil membuka jaket.
“Iya nich, kangen sama kamu!” Jawab
Rena sekenanya.
“Alhamdulillah, ada yang ngangenin!”
Aisyah menyahut dengan nada bercanda. Ia melipat mukenah dan sajadahnya. “Mau
minum apa, nich?” Tanyanya menatap Rena.
“Udah tadi di jalan beli es krim,
hehe”
“Ah, cerita. Bawakan satu, baru
seru!” Aisyah duduk di korsi belajarnya menatap Rena.
“Lagi bokek, ni. Itu aja es krim
tiga ribuan, ini bensin juga kalo bisa sampe rumah!” Rena membuka jilbab
abunya.
“Oh, pahamlah maksud kamu mampir ke
rumah!” Aisyah melirik gemas kea rah sahabat kentalnya itu. yang dilirik
cengengesan tampang tak berdosa.
“Sayang ini minumannya,” Tiba-tiba
Ibu Aisyah membuka pintu dengan nampan berisi dua cangkir teh panas dan satu
toples makanan ringan. Aisyah bangkit dari duduknya dan melangkah cepat
mendekati ibu di depan daun pintu.
“Terimakasih ya, Bu!” Ucapnya riang.
Ibu mengangguk dan berlalu. Aisyah melangkah riang dengan senyum merekah.
Kebahagiaan yang tadi ia rasakan belumlah menipis. Ia meletakkan nampan itu
diatas lantai berkarpet hijau tua.
“Nich minum!” Ujarnya menoleh pada
Rena yang sedikit heran melihat tingkah sahabatnya itu. sementara Aisyah masih
dengan langkah riang dan senyum yang terus merekah mengambil dompet di
ranselnya, mengeluarkan dua puluh ribuan.
“Ini buat bensin, cukup kan?”
Katanya menyerahkan uang itu pada Rena dengan…kalau menurut Rena sangat riang.
“Tumbenan!” Rena menerima uang itu
dengan tatapan heran.
“Yeee…bukannya makasih, malah bilang
tumbenan.” Aisyah duduk di samping Rena.
“Oh, kalo soal duit sich makasih.
Tapi kamunya yang tumbenan. Aneh!” Rena menatap wajah sahabatnya yang terlihat
begitu bersinar.
“Aku aneh?” Tanya Aisyah menunjuk wajahnya
dengan ekspresi lucu.
“Ih, cupu.” Rena mengibas telunjuk
Aisyah, “Kamu kenapa?” Tanyanya penasaran.
“Kok pertanyaannya aku kenapa?”
Aisyah bingung.
“Iya, hari ini kamu lebih ceria,
lepas, lebih bebas, lebih …gak kaya’ kamu aja dech!” Rena berucap tanpa sensor.
“Masa’ sich??? Kan aku emang gini!”
Aisyah berusaha berfikir. Iya juga, dari tadi ia banyak sekali berbicara.
“Beda, Icha’. Sejak pulang dari
pondok tiga bulan lalu, kamu udah cukup buat aku heran dengan perubahan
penampilan dan tingkah kamu. Tapi itu wajarlah, kan kamu mondoknya hampir 8
tahun.”
“Tujuh tahun kurang, Ren!” Aisyah
memperbaiki.
“Tu, kan. Bawel!”
“Astaghfirullah…masa’ sich?” Aisyah
mulai khawatir. Merasa ada yang janggal juga pada dirinya.
“Iya, banyak-banyak dah tu istighfar.
Biar kamu kembali ke jalan yang lurus…hehehe” Rena terkekeh.
“Ih, nggak boleh begitu!” Aisyah
memperbaiki.
“Yang penting niat kan baek,” Entah
apa hubungannya, Renapun bingung. Sejenak mereka diam, Rena mengambil snack di
toples yang ditaruh Aisyahtadi dan duduk santai diatas karpet hijau tua itu.
“Kamu lagi mikirin orang ya, Cha?”
Tanya Rena melihat Aisyah yang melihat kearahnya tapi pandangannya kosong.
Aisyah tergagap.
“Mikirin orang?” ia balik bertanya.
“Ya…akhir-akhir ini ada orang yang
kamu fikirin gak?” Rena mengulangi pertanyaannya.
“Mmm…” Aisyah berfikir, meski tanpa
berfikiir ia sudah bisa menjawabnya, “Iya, kenapa?” Ia balik bertanya.
“Gak ada…aku mau meneliti kamu.
Kaya’ detektif gitu!” Rena mengerjit jahil, membuat Aisyah tertawa lepas. Dan
kembali membuat Rena heran.
“Pasti kamu deg-degan kalo ketemu
dia, kan?” Rena menyerupput tehnya.
“Kok tau?” Tanya Aisyah heran.
“Hehe…tapi kamu selalu ingin ketemu
dia, kaaan?” Rena bernada jahil.
“Mmm…nggak juga sich,,,tapi iya
kadang-kadang!”
“Baru kenal, ya?” Rena menebak lagi.
“Ya, tapi sudah lama aku
perhatiin!” Aisyah jujur dengan pipi
merona. Dalam hati Rena tertawa lebar. Duuuh…betapa kolotnya sahabatnya itu.
masa’ begitu aja nggak paham. Yah, salah dia juga terlalu lama mondok.
“Jatuh cinta tuch!” Rena berujar
dengan cuek. Sementara Aisyah terdiam seketika.
“Jatuh cinta?” Ia bertanya tak
percaya.
“Iya..masa’ gitu aja nggak tau?
Berapa tahun? 19 kan? Astaghfirullah… kamu pasti belom pernah jatuh cinta. Ck
ck ck…ya cirri-cirinya begitu, sering fikirin dia, deg-degan kalo ketemu ato
Cuma sekedar liat, pengen ketemu terus…” Penjelasam Rena membuat Aisyah seolah
terkena runtuhan atap rumahnya. Jatuh cinta??? Bagaimana bisa????
“Sama siapa? Kalau boleh tau?” Rena
menoleh padanya dengan tatapan jahil.
Nadya. Ya,,,Aisyah sering memikirkan
gadis itu kan akhir-akhir ini, sering memperhatikannya di kampus, sering
deg-degan kalau bertemu dengan gadis itu, dan ingin selalu bertemu dengannya,
meski hanya sekedar melihat wajahnya.
Astaghfirullah…
Apa benar, Aisyah mencintai Nadya.
Perlahan Aisyah mulai berfikir. Mengingat-ingat segala hal yang ia lalui
berkaitan dengan Nadya.
“Yee…ditanya malah diem!” Entah
sejak kapan Rena sudah kembali duduk di sampingnya.
“E…hehe…” Aisyah bingung mau
menjawab apa.
“Apa bener ya aku jatuh cinta.
Mungkin Cuma kagum, Ren!” Aisyah mencoba mencari kemungkinan lain. Meskipun
tanpa sadar ia setuju dengan pendapat Rena, jika itu memeng benar dinamakan
jatuh cinta.
“Keliatan banget kok di muka kamu. Tadi
pas aku tanyain kamu tentang dia, pipimu merona!” Rena menunjuk pipi mulus
Aisyah pelan. “Hehehe…ada senior di kampus, atauuu…teman seangkatan?” Rena
menyelidik. Aisyah Cuma nyengir tak bersemangat…bukan ini yang ingin ia dengar.
“Mungkin prediksimu salah, Ren…”
“Kagum sama cinta emang beda
tipis…tapi tetep bisa kok dibedain. Contohnya kaya’ tadi, pipi kamu memerah.
Dah dech, kamu belom mau ngasi tau aku gak pa-pa, tapi kamu harus siep sama
perasaan yang begini, Cha. Setiap manusia akan merasakan yang namanya jatuh
cinta…bener dech!”
*
*Surat dari Orang
Tua
Teruntuk Aisyah
tersayang
Maaf, Ibu lama
meninggalkan kamu, Nak. Tapi bulan ini Ibu memutuskan untuk kembali ke Lombok.
Dan Ibu harap Aisyah mau tinggal sama Ibu. Besok, dari Bandara Ibu langsung ke
pondok.
Salam hangat,
Ibumu. Nurimah.
Aisyah menghembuskan nafas membaca
surat yang baru saja diterimanya dari tukang pos. entah bagaimana perasaannya
sekarang. apa ia benar-benar merindui ibunya? Wanita berharga itu telah
meninggalkannya 11 tahun. Dulu, sejak kelas 2 SD, ibunya memutuskan untuk
menjadi TKW ke Arab Saudi. Dan Aisyah tinggal dengan neneknya di Lombok Timur.
Selulus SD Aisyah masuk ke Nurul Haramain, hingga lulus Aliyah dan memutuskan
mengambil kesempatan yang diberikan pondoknya untuk mengabdi.
Mungkin Aisyah memang tidak terlalu
merindukan sosok Ibu, karena baginya neneknya sudah lebih dari cukup untuk
menggantikan seorang ibu. Lebih dari itu, Ibunya juga jarang sekali memberi
kabar untuknya, karena itu Aisyah mengnggap ibunya telah lupa padanya, tak
perduli sama sekali pada anak sematawayangnya itu. mengenai keputusannya, dia
ingin beristikharah dulu.
“Serius amat, surat dari siapa?”
Ustdzah Indra, salah seorang ustdzah yang satu kamar dengannya duduk di
dekatnya. Ustdzah berkaca mata itu melirik surat yang dibaca Aisyah.
“Dari Ibu, mau pulang katanya.”
Jawab Aisyah dengan ringan.
“Subahanallah! Ibumu mau pulang,
Cha? Kapan?” Utdzah Indra yang memang tau benar kisah Aisyah terkejut.
“Belom tau, Kak. Disini bilang bulan
ini, gak ada tertera tanggal ato hari.” Aisyah masih ringan-ringan saja.
“Kok ekspresimu gak ada bahagianya?”
Ustdzah pengajar Matematika itu heran juga.
“Entahlah, Kak. Ke kamar yuk, mau
zuhur!” Aisyah bangkit dari duduknya di korsi depan kelas. Dengan masih heran ustdzah
Indra mengikutinya.
*
Berita kepulangan ibu Aisyah
tersebar dengan cepat sekompleks ustdzah. Semuanya bertanya padanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar