Hari
ini pria itu datang lagi, dengan stelan jas yang rapi dan setangkai mawar putih
seperti biasanya. Menjelang petang ia akan datang, begitu sejak lima tahun
belakangan. Waktu yang lama, tapi mungkin tidak untuk cinta, iya kan?
Dulu
sejak pertama aku pertahatikan, pria tua itu, aku heran kenapa ia selalu datang
di kala petang, dan mengenakan stelan jas rapi. Lama, heranku berubah
penasaran, akupun mencoba mencari tahu. Akhirnya aku mengetahui, ia selalu
datang sebelum waktu makan malam, menemani salah satu pasien di rumah sakit ini
makan malam, pasien itu istrinya.
//
Aku
seorang perawat, bekerja di rumah sakit ini telah 7 tahun. Aku sudah menikah
tiga tahun yang lalu dan sekarang sudah memiliki seorang anak laki-laki. Namaku
Fanny.
Kembali
ke pria yang aku sebutkan sebelumnya, ia adalah pria tua yang tampan. Garis
wajahnya menggambarkan kalau ia adalah lelaki yang berpendidikan dan sabar,
senyumnya yang kentara sekali selalu merekah setiap saat. Aku senang
memperhatikannya, melihatnya membuatku selalu ingat Ayah yang telah berpulang
ke Ilahi ketika aku remaja dulu.
Aku
seringkali merasa betapa beruntungnya istrinya, selama sakitnya lima tahun ini
suaminya selalu datang menjenguknya dengan stelan jas rapi dan setangkai mawar
putih. Tak pernah telat, selalu tepat waktu, jam enam sore. Seperti saat ini.
“Assalamu’alaikum,
Fanny.” Sapanya riang, seolah tanpa beban.
“Wa’alaikumussalm
wr wb,” jawabku, “Apa kabar pak Aziz?” tanyaku menatap cahaya matanya yang tak
pernah redup. Iya, namanya memang Abdul Aziz.
“Alhamdulillah,
selalu pantas disyukuri.” Ia menyuguhiku senyuman manis, aku senang
menikmatinya. “Bagaimana istriku?” tanyanya. Aku memang ditugaskan untuk
merawat istrinya selama tujuh bulan terakhir ini. dan sejak itulah aku mulai
akrab dengan Bapak tua ini.
“Dia
tampak baik, mari kita kesana.” Aku melangkah beriringan dengannya. Sembari
berjalan menuju ruangan istrinya aku mencium aroma wangi yang has dari
tubuhnya. Ia termasuk lelaki tua yang rapi dan bersih.
Membuatku
semakin mengaguminya.
Berkaitan
dengan istrinya, aku kerap kali berdo’a kepada Allah agar aku bisa mendapatkan
suami seperti dia. Ya, aku melirik pak Aziz sedikit, ia masih secerah
sebelumnya. Sungguh sangatlah beruntung wanita yang mendapatkan lelaki
sepertinya.
Tapi,
akupun selalu miris jika harus mengingat perasaan pak Aziz sendiri. Aku juga
tidak bisa membayangkannya.
Ruangan
istrinya beberapa langkah lagi, aku menelan ludah ketika harus melihatnya
membuka pintu dan menemukan wajah istri tercintanya yang kosong. Seperti biasa
ia mengucap salam dengan baik dan menghampiri istrinya, menyapanya dengan penuh
cinta.
Aku
miris.
Bagaimana
ia bisa lakukan semua itu? bagaimana perasaannya sebenarnya. Karena
sesungguhnya, kalian tahu? Istrinya menderita penyakit Alzheimer. Penyakit
hilang ingatan secara perlahan dan telah lima tahun terakhir istrinya sama
sekali tak mengenali siapapun dan tak ingat apapun, termasuk suaminya.
//
Aku
kembali terpaku ketika harus mengawasi pak Aziz menemani istrinya makan malam.
Ia tampak begitu hati-hati menyuapi istrinya makan malam, ia juga tampak tak
pernah bosan, ia berbicara, bercerita seolah istrinya paham tentang apa yang ia
katakana. Padahal istrinya pada hari ini telah sampai pada tahap yang kritis,
lidahnya telah hampir kelu dan sulit untuk digerakkan bahkan untuk berbicara.
Prediksi dokter tak sampai sebulan lagi, istrinya tak akan bisa lagi
menemaninya meski dengan kehampaan.
Tak
terasa air mataku mengalir, segera cepat-cepat kuhapus. Aku sangat sedih dengan
apa yang akan mereka hadapi sebulan
berikutnya. Ah, pak Aziz…
Aku
ingat ketika dulu istrinya telah lupa bagaimana mengenakan pakaian, ia setia
datang menggantikan pakainnya, bahkan ketika istrinya tak sadar membuang air
kencing dimanapun ia dengan senyuman membersihkan dan mengganti pakaian
istrinya. Subahallah…begitu indahnya…
//
Petang
ini aku tak melihat pak Aziz datang. Lama menunggu, akupun menyiapkan makanan
untuk istrinya. Kuperhatikan wajah istri pak Aziz yang kosong, ia sama sekali
tak merasa lain ketika suaminya tak datang menemaninya makan malam, ah ya
bagaimana mungkin dia bisa tahu. Aku segera menepis pikiran-pikiran yang
menggelayuti fikiranku, dan menyiapkan segalanya.
Jam
telah menunjukkan pukul 9 malam dan aku baru saja menaikkan selimut ke tubuh
istri pak Aziz ketika langkah-langkah cepat terdengar dengan nafas memburu.
Langkah itu berhenti di depan pintu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar