Minggu, 13 Juli 2014

"Alzheimer”


Hari ini pria itu datang lagi, dengan stelan jas yang rapi dan setangkai mawar putih seperti biasanya. Menjelang petang ia akan datang, begitu sejak lima tahun belakangan. Waktu yang lama, tapi mungkin tidak untuk cinta, iya kan?
Dulu sejak pertama aku pertahatikan, pria tua itu, aku heran kenapa ia selalu datang di kala petang, dan mengenakan stelan jas rapi. Lama, heranku berubah penasaran, akupun mencoba mencari tahu. Akhirnya aku mengetahui, ia selalu datang sebelum waktu makan malam, menemani salah satu pasien di rumah sakit ini makan malam, pasien itu istrinya.
//
            Aku seorang perawat, bekerja di rumah sakit ini telah 7 tahun. Aku sudah menikah tiga tahun yang lalu dan sekarang sudah memiliki seorang anak laki-laki. Namaku Fanny.
            Kembali ke pria yang aku sebutkan sebelumnya, ia adalah pria tua yang tampan. Garis wajahnya menggambarkan kalau ia adalah lelaki yang berpendidikan dan sabar, senyumnya yang kentara sekali selalu merekah setiap saat. Aku senang memperhatikannya, melihatnya membuatku selalu ingat Ayah yang telah berpulang ke Ilahi ketika aku remaja dulu.
            Aku seringkali merasa betapa beruntungnya istrinya, selama sakitnya lima tahun ini suaminya selalu datang menjenguknya dengan stelan jas rapi dan setangkai mawar putih. Tak pernah telat, selalu tepat waktu, jam enam sore. Seperti saat ini.
            “Assalamu’alaikum, Fanny.” Sapanya riang, seolah tanpa beban.
            “Wa’alaikumussalm wr wb,” jawabku, “Apa kabar pak Aziz?” tanyaku menatap cahaya matanya yang tak pernah redup. Iya, namanya memang Abdul Aziz.
            “Alhamdulillah, selalu pantas disyukuri.” Ia menyuguhiku senyuman manis, aku senang menikmatinya. “Bagaimana istriku?” tanyanya. Aku memang ditugaskan untuk merawat istrinya selama tujuh bulan terakhir ini. dan sejak itulah aku mulai akrab dengan Bapak tua ini.
            “Dia tampak baik, mari kita kesana.” Aku melangkah beriringan dengannya. Sembari berjalan menuju ruangan istrinya aku mencium aroma wangi yang has dari tubuhnya. Ia termasuk lelaki tua yang rapi dan bersih.
            Membuatku semakin mengaguminya.
            Berkaitan dengan istrinya, aku kerap kali berdo’a kepada Allah agar aku bisa mendapatkan suami seperti dia. Ya, aku melirik pak Aziz sedikit, ia masih secerah sebelumnya. Sungguh sangatlah beruntung wanita yang mendapatkan lelaki sepertinya.
            Tapi, akupun selalu miris jika harus mengingat perasaan pak Aziz sendiri. Aku juga tidak bisa membayangkannya.
            Ruangan istrinya beberapa langkah lagi, aku menelan ludah ketika harus melihatnya membuka pintu dan menemukan wajah istri tercintanya yang kosong. Seperti biasa ia mengucap salam dengan baik dan menghampiri istrinya, menyapanya dengan penuh cinta.
            Aku miris.
            Bagaimana ia bisa lakukan semua itu? bagaimana perasaannya sebenarnya. Karena sesungguhnya, kalian tahu? Istrinya menderita penyakit Alzheimer. Penyakit hilang ingatan secara perlahan dan telah lima tahun terakhir istrinya sama sekali tak mengenali siapapun dan tak ingat apapun, termasuk suaminya.
//
            Aku kembali terpaku ketika harus mengawasi pak Aziz menemani istrinya makan malam. Ia tampak begitu hati-hati menyuapi istrinya makan malam, ia juga tampak tak pernah bosan, ia berbicara, bercerita seolah istrinya paham tentang apa yang ia katakana. Padahal istrinya pada hari ini telah sampai pada tahap yang kritis, lidahnya telah hampir kelu dan sulit untuk digerakkan bahkan untuk berbicara. Prediksi dokter tak sampai sebulan lagi, istrinya tak akan bisa lagi menemaninya meski dengan kehampaan.
            Tak terasa air mataku mengalir, segera cepat-cepat kuhapus. Aku sangat sedih dengan apa yang akan mereka hadapi  sebulan berikutnya. Ah, pak Aziz…
            Aku ingat ketika dulu istrinya telah lupa bagaimana mengenakan pakaian, ia setia datang menggantikan pakainnya, bahkan ketika istrinya tak sadar membuang air kencing dimanapun ia dengan senyuman membersihkan dan mengganti pakaian istrinya. Subahallah…begitu indahnya…
//
            Petang ini aku tak melihat pak Aziz datang. Lama menunggu, akupun menyiapkan makanan untuk istrinya. Kuperhatikan wajah istri pak Aziz yang kosong, ia sama sekali tak merasa lain ketika suaminya tak datang menemaninya makan malam, ah ya bagaimana mungkin dia bisa tahu. Aku segera menepis pikiran-pikiran yang menggelayuti fikiranku, dan menyiapkan segalanya.

            Jam telah menunjukkan pukul 9 malam dan aku baru saja menaikkan selimut ke tubuh istri pak Aziz ketika langkah-langkah cepat terdengar dengan nafas memburu. Langkah itu berhenti di depan pintu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar