Minggu, 13 Juli 2014

DIA AKAN CINTA__Fitnah


               
                “Non, bangun, Non!” Seseorang menggerak-gerakkan bahuku sedikit keras. Kukerjap-kerjapkan mataku dan terlihatlah ruangan yang sangat asing bagiku. Sebentar…innalillah. Aku segera bangkit dari ranjang empuk berwarna putih bercorak merah itu. kutemukan seorang ibu berpakaian sederhana tengah perhatikanku dengan pandangan kurang bersahabat. Dimana aku?
                “Aku dimana, Bu?” Tanyaku padanya. Kupastikan wajah panikku tidak terangkat.
                “Di rumah tuan saya.” Ibu itu menjawab searah dengan wajahnya. Tuannya? Siapa? Tadi malam aku bertemu seseorang di pom bensin, laki-laki. Dias. Diakah? Tapi aku ikut dengan Tania, kan.
                “Ini rumah Tania?” Tanyaku pada ibu itu.
                “Benar. Non Tania yang tadi malam membawa Non kesini. Tapi tadi pagi-pagi sekali langsung pergi. Non dititip sama saya. Mau sarapan apa?” Meskipun menawarkan hal baik, nadanya tetap tidak membuatku nyaman. Kuberikan senyuman.
                “Aku mau shalat saja dulu. Ini jam berapa?” Tanyakku.
                “Jam lima pagi. Disana kamar mandinya. Tapi maaf, majikan saya jarang ibadah. Saya lupa dimana terakhir kali saya menaruh mukenahnya.” Duh, tidak sopan sekali pembantu seperti ini. Bolehlah majikannya jarang ibadah, tapi tidak mesti dia jadi ember kan. Dasar.
                “Terimakasih, saya bawa mukenah di tas.” Aku melirik sampingku, tasku tidak ada.
                “Tas anda ada diatas meja sana!” Ibu itu menunjukkan meja kecil di pojokan. Aku menoleh kesana dan menemukan tasku memang disana. Alhamdulillah.
                “Terimakasih.” Aku kembali menoleh padanya, yang ternyata sudah hampir menutup pintu. Ia hanya melirik sekilas dan daun pintu itu tertutup sempurna. Fuuuh…aku turun dari ranjang dan menuju meja kecil di pojokan. Memeriksa isi tas, Alhamdulillah tidak ada yang kurang. Akupun menuju kamar mandi. Mengambil air wudhu. Kemudian mendirikan shalat.
                Alhamdulillah
                Usai sedikit wirid dan do’a aku jadi terdiam sejenak. Memikirkan kejadian tadi malam. Fuuuuh…ke rumah tante Nia batal dah, gara-gara ban gendeng itu. dan…astaghfirullah…mas Faata? Segera kucari HP di tas, memeriksa benda kecil ajaib itu.
                Astaghfirullah…
                23 misscallccc
                3 messages received
                Semuanya dari mas Faata. Ya Allah, bagaimana aku bisa seteledor ini? Setidaknya aku mengabarinya tentang kejadian tadi malam. Akupun segera menelphonnya.
                “Assalamu’alaikum” Aku menyapa begitu terdengar nada sambung usai.
                “Wa’alaikumussalam wr. Wb. Kamu dimana?” Terdengar suara mas Faata sedikit dingin. Aku menelan ludah, sedikit gentar.
                “Aku…”
                “Saya sudah di rumah  tante Nia sejak dini hari tadi, tapi kamu belum smpai juga.” Ada rasa panic, khawatir dan marah. Ya tentu saja. Aku kan istrinya.
                “Di kediaman teman, Mas. Ta…”
                “Dimana? Saya jemput sekarang.!” Yaa Allah aku sampai tergagap, ciut karena takut. Dimana? Ya, tentu saja. Aku tidak tau dimana ini. Aku sampai dalam keadaan tidur.
                “Sebentar Mas, aku Tanya dulu.”
                “Innalillaaaah…” Mas Faata terdengar ingin meledak. Aku kembali menelan ludah, sembari keluar kamar. Ya Allah, ternyata rumah ini sangat megah. Aku ada di tingkat dua. Ingin memanggil dengan suara keras tampaknya tidak sopan. Ingin mencaripun kaya’nya tidak tau harus kemana. Tapi sepertinya pintu besar dibawah itu pintu utama. Aku segera turun tangga dengan sedikit berlari. Menuju pintu besar itu. berusaha membukanya tapi terkonci.
                “Hai, siapa itu!” Sebuah suara berat dari atas juga. Aku mendongak dan menemukan sebuah wajah tampan tampak kusut. Yaa Allah…ada lelaki juga di rumah ini.
                “Alin!!!” Kudengar panggilan mas Faata begitu keras di telingaku. Aku gelagapan.
                “I, iya, Mas.”
                “Siapa disana? Kamu dimana?!” Aku tidak tau harus menjawab apa sementara lelaki itu bergerak turun. Yaa Allah…
*_*
                Rasanya sungguh nyaman. Ternyata lelaki ini kakak dari Tania. Dia orang yang baik, sudah beristri tapi istrinya sedang di rumah orang tua. Ia mendengarkan baik hal yang aku ceritakan. Melihat penampilanku, iapun tampak mengharigai. Ia bahkan menawarkan diri mengantarkanku pulang.
                “Tidak apa-apa, saya akan menjelaskan pada suamimu.” Ujarnya begitu selesai kujelaskan perkara sejak kemarin sore. Aku tersenyum, mengangguk dengan Alhamdulillah dalam.
                Aku menghubungi mas Faata begitu kutau alamat rumah ini. Juga tentang lelaki yang bernama Amin itu. mas Faata meski terdengar masih dingin lega juga dengan hamdalahnya.
                “Saya jemput sekarang. jangan kemana-mana sampai saya datang.” Begitu tegasnya, aku mengangguk mengiyakan.
                “Insya Allah. Cepat ya, Mas!” Pintaku, merasa tak nyaman juga di rumah ini. Tapi, sampai jam Sembilan mas Faata tak juga sampai. Apa dia tidak tau alamat ini ya? Kuhubungi handphonenya, tak ada jawaban. Aku masih berdamai dengan waktu, beberapa kali Amin menanyakan suamiku, aku hanya tersenyum dan menjawab, “Sebentar lagi, insya Allah” Iapun mengangguk dan berlalu. Aku masih setia menunggu di teras rumah. Kutolak sarapan yang ditawarkan Amin dan bibi tua tak bersahabat itu. kuminta nomer handphone Tania, dan aku mencoba menghubunginya. Tapi tak diangkat juga. Yaa Rabbi.
                Allahuakbar Allahuakbar
                Dari masjid yang jauh kudengar azan Zuhur berkumandang. Yaa Allah, suamiku belum juga sampai. Apakah terjadi sesuatu padanya? Yaa Allah, lindungilah mas Faata. Akupun meminta izin untuk menumpang shalat zuhur. Selesai shalat, kurasakan perutku sangat lapar. Jelas saja sejak siang kemarin aku belum mengisi apa-apa untuknya.
                “Bagaiama? Ada kabar dari suamimu?” Astaghfirullah, aku sedikit terperajat mendengar suara Amin yang berdiri diambang pintu. Untung saja aku belum membuka mukenah.
                “Belum, insyAllah sebentar lagi.” Aku berusaha menenangkan diriku sendiri. Sungguh, sebenarnya aku tidak bisa diperlakukan seperti ini. Maksudku, aku tidak bisa dikecewakan begini, apalagi masalah menunggu. Tapi untuk kali ini aku sadar, salah itu berpihak padaku.
                “Kau mau tunggu sampai jam berapa? Ini sudah siang.” Amin memperhatikan. Aku tersenyum pada daun pintu.
                “Sebentar lagi saja.” Jawabku terdengar sabar. Yaa Allah, apa aku pulang dengan taxi saja?
                “Makan dulu, yuk! Kamu pasti lapar, tadi pagi nggak sarapan.” Dia menawarkan dengan nada perhatian. Aku tersenyum sendiri. Menggeleng.
                “Nanti saja di rumah. Atau di jalan, suamiku mungkin mau mengajak makan.” Tolakku pelan.
                “Baiklah, terserah kamu saja.” Amin berlalu. Aku menghembuskan nafas berat, memperbaiki mukenahku.
*_*
                Jam tiga sore. Baiklah, akhirnya aku memutuskan untuk pulang naik taxi saja. Kutelphon dulu mas Faata, tak ada jawaban. Kukirimi sms saja dan bersiap.
                “Mau pulang pakai taxi?” Amin mencegat di pintu. Aku mengangguk, “Di daerah sini jarang taxi. Saya antar saja.” Ia memperingati.
                “Bagaimana kalau kita telphon? Maksudku, aku telphon.” Aku mengeluarkan Hp lagi dari tas.
                “Silahkan!” Amin cuek.
                “Maaf Mbak, salah satu petugas kami bisa sampai sana, tapi satu jam lagi. Karena yang terdekat dengan wilalyah itu sedang bertugas semua. Sekali lagi kami minta maaf, sebagian besar sopir kami belum mulai aktif masuk sejak libur kemarin.”
                Yaa Allah. Aku melirik Amin, kemudian mengangguk.
                “Maksudnya?” Tanyanya. Aku menghembuskan nafas.
                “Aku minta tolong.”
*_*

                Azan ashar berkumandang begitu kami setengah perjalanan.
                “Mau shalat dulu?” Amin bertanya saat mobil berhenti di lampu merah. Aku berfikir sejenak. Melihat layar hp.
                “Sebentar lagi sampai.” Ujarku. Amin terlihat kembali serius mengemudi. Aku memainkan tuts hp dengan perasaan tak tentu. Ya Allah…ya, kenapa tidak terfikir olehku, menelphon rumah dan meminta sopir menjemput. Itu akan menghindari fitnah bukan. Aku segera memencet nomer rumah. Nada sambung lama, tapi…tak ada yang mengangkat. Astaghfirullah…tak ada orang di rumah. Aku lupa.
                Ya!
                Nomer pak Mus. Aku kembali mencari kontak di buku telpon. Kutemukan. Tersambung.
                “Assalamu’alaikum. Pak. Bagaimana mobilnya???” Tanyaku.
                “Alhamdulillah, sudah baik, Bu. Ibu sudah sampai di rumah Bu Nia?” Tanya pak Mus.
                “Saya di perjalan pulang. Bisa jemput saya di masjid kota?” Sebuah ide melesat begitu saja di kepalaku. Aku akan turun shalat di masjid kota, dan pak Mus bisa menjemputku disana. Alhamdulillah…insyAllah baiklah ini.
                “Ibu dengan siapa? Dimana itu?”
                “Nanti saja saya ceritakan. Tolong dijemput sepuluh menit lagi ya, Pak!” Pintaku. Ia mengiyakan. Akupun mengusaikan hubungan. Kemudian menguraikan niatku pada Amin. Ia mengiyakan saja. Lima menit kemudian kami sampai di masjid kota.
                “Tidak ikut shalat?” Tanyaku begitu ia menepikan mobil. Ia menggeleng.
                “Nanti saja di rumah.” Tolaknya.
                “Keburu maghrib kalau balik. Ada baiknya shalat disini, sudah jam lima.” Aku mengusulkan, ia tampak tak enak dan mengiyakan. Kamipun turun mobil dan memasuki masjid. Mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat. Kuselesaikan dengan do’a dan segera keluar. Amin sudah duduk di teras masjid, sudah lama tampaknya ia selesai.
                “Sudah lama?” Sapaku. Ia menoleh.
                “Tak begitu. Ayo!” Ia bangkit. Dan kami berjalan, kupelankan langkah agar lebih belakang. Di gerbang masjid kulihat pak Mus sudah menunggu, ia tampak mengobrol dengan seseorang. Tampaknya aku kenal. Oh, ibu tetangga  tak jauh dari rumah. Akupun menghampiri.
                “Assalamu’alaikum. Maaf lama pak Mus.” Sapaku. Pak Mus menjawab dengan senyuman, memperhatikan Amin yang tak begitu jauh dari kami.
                “Udah kemana, Mbak Alin?” Tanya ibu yang bercakap dengan pak Mus. Kalau tidak salah, namanya bu Fat.
                “Silaturrahmi.” Jawabku seadanya. Pak Mus tersenyum saja.
                “Kok ndak bareng sama pak Faata?” Ia bertanya menyelidik. Aku sedikit gelagapan dibuat.
                “Alin. Saya balek ya!” Amin berseru sambil melambaikan. Aku menoleh mengiyakan.
                “Terimakasih banyak!” Sahutku, ia mengagguk. Kembali kutolehkan wajah pada Pak Mus dan Bu Fat. Wajah keduanya tampak curiga.
                “Dia yang menolong saya. Kamarin ban mobil pecah, saat saya mencari taxi, kemudian bertemu dengan adiknya, Tania namanya.” Aku berusaha menjelaskan.
                “Oooo” Bu Fat membundarkan mulutnya. Aku jadi tak enak.
                “Ayo, Bu. Kita pulang.” Pak Mus yang tenang-tenang saja mencairkan suasana. Akupun mengiyakan dan segera pamit. Yaa Allah…semoga tidak terjadi fitnah pada hamba…aamin.
*_*

                Selesai shalat maghrib sendirian aku membaca Qur’an, terdengar bel depan menjerit. Kupastikan itu mas Faata. Akupun bergegas membukakan pintu. Dan kutemukan wajah lelahnya disana.
                “Assalamu’alaikum!” Ucapnya. Aku tersenyum.
                “Wa’alaikumussalam wr. Wb.” Jawabku. Ia memperhatikan wajahku, kemudian menyusuri hingga bawah.
                “Pulang dengan siapa?” Tanyanya menyelidik.  
                “Pak Mus, Mas.” Jawabku.
                “Tadi di sms kamu bilang naik taxi. Mana yang benar?” Ia bertanya lagi sembari memasuki rumah. Seharusnya aku yang punya intonasi itu, dia berjanji akan menjemputku bukan?! Tapi tak apa, aku menutup pintu dan mengikuti langkahnya.
                “Aku bisa jelaskan semuanya, Mas. Tapi mas shalat dulu, ya?” Pintaku. Ia melirik padaku sedikit, aku gentar dengan tatapan itu. ia mengangguk dan menuju kamar, kusiapkan tempat shalat untuknya.
                Aku menunggunya hingga usai shalat, kusalami ia dengan santun. Insya Allah hati kami siap berbagi sekarang. ia tersenyum mengecup keningku. Aku bisa dengan tenang bercerita jika auranya seperti ini.
                “Sekarang ceritakan semuanya pada saya, Alin.” Pintanya. Aku tersenyum mengangguk.
                Ting tong!
                Bel depan berteriak. Suara salam besar menggema dari luar. Aku saling bertatapan dengan mas Faata. Sepertinya pembicaraan ini harus tertunda lagi. Kamipun beranjak dari atas sajadah, melangkah pelan menuju pintu utama dan membuka pintu. Disana terlihat pak RT, pak RW dan beberapa tokoh masyarakat. Dalam hati aku bertanya, ada apa?
                “W’alaikumussalam wr.wb!” Jawab Suamiku pada mereka, “Ada yang bisa kami bantu, Pak? Tampaknya ada masalah.” Mas Faata menyapa ramah. Wajah tamu-tamu kami terlihat padam. Aku jadi tambah khawatir. Ada apa?
                “Bisa kami bicara di dalam?” Tanya Pak RT.
                “Ah, ya maaf. Silahkan masuk.” Suamiku membuka pintu lebar, mereka melangkah melewatiku yang diam untuk menutup pintu. Setelah itu aku beranjak ke dapur membuat minuman. The hangat kurasa cukup. Setelah siap akupun membawa ke ruang tamu.
                “Isu ini telah menyebar di kompleks sini, Pak. Istri bapak pulang dengan seorang laki-laki. Tidak ada yang tau apa yang telah dilakukannya, tapi menurut kabar yang santer terdengar juga, kamarin malam sopir bapak pulang sendiri dan bercerita ban mobil pecah. Ketika itu ia tidak bersama istri bapak, dan menurut penjelasan bapak, istri bapak tidak sampai di rumah sanak family kan?”
                Innalillah…
                “Wajarlah bila mereka berfikir yang bukan-bukan tentang istri bapak. Bisa jadi mereka tidak tau mengenai istri bapak tidak sampai di rumah saudara bapak, tapi salah satu dari mereka melihat istri bapak pulang dengan seorang laki-laki.”
                Aku gemetar.
                Fitnah.
                Hampir saja gelas berisi teh hangat itu terlepas dari tanganku. Aku menetralisir hatiku dengan tasbih. Kuperhatikan wajah mas Faata membeku. Ya Allah…jangan biarkan ia termakan fitnah ini. Hamba mohon…
*_*

                Kuceritakan kronologis kejadian itu, dengan detail tanpa menambah ataupun mengurangi. Aku bercerita dengan air mata tertuang berusaha meyakinkan suamiku.
                “Aku berani bersumpah, Mas…tidak terjadi apa-apa. Demi Allah.”
                “Diamlah Alin.” Mas Faata memotong ucapanku. “Akan saya fikirkan baik-baik solusinya.” Ia bangkit dari duduknya menjauhiku tanpa menoleh lagi.
                “Kalau mas datang sesuai janji tadi pagi, aku tidak mungkin pulang dengan dia.” Aku terdengar seperti merintih, menyesali yang terjadi. Langkah mas Faata terhenti.
                “Sudah saya bilang tunggu.” Mas Faata terdengar datar.
                “Sampai kapan? Mas tidak memberi kabar.”
                “Kamu tau hukum mematuhi perintah suami.” Suaranya masih datar, “Kenapa kamu langgar. Seandainya saya datang tengah malampun kamu harus menunggu.”
                “Bagaimana kalau terjadi apa-apa? Kalau aku tidak bisa melindungi diri?!” Aku menaikkan intonasi, merasa tidak ikhlas menjadi terdakwa penuh dalam masalah ini.
                “Kamu fikir saya tidak memikirkan hal itu?!!!” Mas Faatapun tampaknya tak bisa membendung emosinya, antara salah dan tak ingin disalahkan.
                PRANG!!!
                Sebuah vas bunga di atas meja tak jauh darinya menjadi korban. Aku kaget dibuatnya, gemetar kurasakan tubuhku.
                “Kemudian dengan pulang bersamanya kamu fikir tidak akan terjadi apa-apa? Siapa yang akan menolongmu jika dia membawamu ke tempat yang sepi. Jika di rumahnya, ia masih mempunyai pembantu, ada orang di sekitar sana, ada Tuhan juga tempat kutitip kamu!!!” Menggelegar, suara mas Faata membuat semua kegiatan hal di rumah, termasuk udara berhenti. Akupun tercekat. Tak ada hal yang bisa aku katakan lagi.
                “Allah lindungi kamu jika kamu patuh pada suamimu, Alin!!!” Lagi, dan aku seolah beku. Bagaimana ini Allah…
                …
                Kami diam sejenak.
                “Maafkan aku, Mas…tapi Mas harus percaya aku tidak berbuat apa-apa dengan siapapun, demi Allah.!” Aku meyakinkan lagi diantara isakku.
                “Pulang tadi kamu berani berbohong pada saya, suamimu sendiri. Dan kata-katamu itu, tidak bisa saya genggam lagi.”
                Duar!!!
                Aku tersengat. Mas Faata berlalu tanpa menoleh lagi. Air mataku mengalahi aliran air di musim penghujan. Yaa Allaaaah…siapa lagi tempatku berpegang jika suamikupun tak percaya lagi padaku….
                Ya Allaaah…
                Kau Mahatau…Kau menjagaku, dan ini adalah teguranmu.
                Ampuni akuu, ya Allah…
                Ampuni aku….hiks.
*_*
                Dalam isak aku meminta Allah temaniku sepanjang malam. Kamarku dulu kutempati lagi. Aku takut mengetuk pintu kamarku dan mas Faata, sudah barang pasti suasananya tidak akan nyaman.
                Tes…
                Air mataku masih terus mengalir. Yaa Allah…aku memang berasal dari keluarga tak jelas, dipungut kasih-Mu lewat tangan teteh, tapi aku tidak seburuk itu. tidaklah aku menodai diriku sebelum suamiku. Aku masih dangkal beragama, masih awam tentang syari’at, tapi aku tau masalah menjaga diri tentang suami, tau tentang batasan menjaga diri.
                Hiks.
                Yaa Allah…lama telah kau uji aku dengan silsilah nasabku. Aku menyikapi dengan optimis, bahwa nasabku bukan segalanya yang membangun sikap dan akhlakku. Akupun menuntut ilmu, mengemis pada tapak kasih-Mu, agar baik pula aku di pandangan-Mu juga hamba-Mu yang lain. Maka, fitnah ini…bagaimana???
                Hiks…
                Salahkah aku terlalu percaya pada hamba-Mu? Ya…mungkin saja aku terlalu ‘boleh’ pada diriku. Boleh ini boleh itu, asal ini asal itu. padahal aku sendiri tak paham dengan tindakku. Engkau mengatur semua ya Allah…ampuni aku, bantu aku, tuntun aku kembali.
                Hiks…
                Teruuus sepanjang malam aku bermunajat pada satu-satunya Zat yang tidak menolakku saat ini dan saat apapun. Kuarungi kembali samudra dosa dan salahku dengan sesal tak terkira. Pintaku pada Allah di penghujung malam usai witirku.
                Ya Allaah…banyak hal mungkin yang akan menghalangi do’aku sampai ke ‘Arsyi-Mu yang agung, tapi aku percaya Kau Mahamendengar dan Mahamengabulkan. Tidak ada cobaan yang Kau timpakan diluar batas mampu hamba-Mu, bukan? Maka, aku siap hadapi ini dengan-Mu. Temani aku ya Allah…temani aku…
                Subuh menyapa. Kuberanikan diri keluar kamar, melangkah pelan ke ruang shalat. Ruang itu tertutup. Aku menyentuh gagang pintunya, terkonci. Mungkin mas Faata ada di dalam. Dengan sedikit keberanian aku hendak mengucap salam.
                “Shalatlah di kamarmu, Alin.”
                Dugh!!!
                Mas Faata melempar gunungan batu ke hatiku bahkan tanpa wujud. Aku terisak dengan menutup mulutku. Yaa Allaah…kuatkan aku…maka dengan tertatih dan masih terisak, aku kembali ke kamar, mengkaji subuh diatas sajadahku sendiri. Yaa Allaaaaah…



Tidak ada komentar:

Posting Komentar