“Non,
bangun, Non!” Seseorang menggerak-gerakkan bahuku sedikit keras.
Kukerjap-kerjapkan mataku dan terlihatlah ruangan yang sangat asing bagiku.
Sebentar…innalillah. Aku segera bangkit dari ranjang empuk berwarna putih bercorak
merah itu. kutemukan seorang ibu berpakaian sederhana tengah perhatikanku
dengan pandangan kurang bersahabat. Dimana aku?
“Aku
dimana, Bu?” Tanyaku padanya. Kupastikan wajah panikku tidak terangkat.
“Di
rumah tuan saya.” Ibu itu menjawab searah dengan wajahnya. Tuannya? Siapa? Tadi
malam aku bertemu seseorang di pom bensin, laki-laki. Dias. Diakah? Tapi aku
ikut dengan Tania, kan.
“Ini
rumah Tania?” Tanyaku pada ibu itu.
“Benar.
Non Tania yang tadi malam membawa Non kesini. Tapi tadi pagi-pagi sekali
langsung pergi. Non dititip sama saya. Mau sarapan apa?” Meskipun menawarkan
hal baik, nadanya tetap tidak membuatku nyaman. Kuberikan senyuman.
“Aku
mau shalat saja dulu. Ini jam berapa?” Tanyakku.
“Jam
lima pagi. Disana kamar mandinya. Tapi maaf, majikan saya jarang ibadah. Saya
lupa dimana terakhir kali saya menaruh mukenahnya.” Duh, tidak sopan sekali
pembantu seperti ini. Bolehlah majikannya jarang ibadah, tapi tidak mesti dia
jadi ember kan. Dasar.
“Terimakasih,
saya bawa mukenah di tas.” Aku melirik sampingku, tasku tidak ada.
“Tas
anda ada diatas meja sana!” Ibu itu menunjukkan meja kecil di pojokan. Aku
menoleh kesana dan menemukan tasku memang disana. Alhamdulillah.
“Terimakasih.”
Aku kembali menoleh padanya, yang ternyata sudah hampir menutup pintu. Ia hanya
melirik sekilas dan daun pintu itu tertutup sempurna. Fuuuh…aku turun dari
ranjang dan menuju meja kecil di pojokan. Memeriksa isi tas, Alhamdulillah
tidak ada yang kurang. Akupun menuju kamar mandi. Mengambil air wudhu. Kemudian
mendirikan shalat.
Alhamdulillah
Usai
sedikit wirid dan do’a aku jadi terdiam sejenak. Memikirkan kejadian tadi
malam. Fuuuuh…ke rumah tante Nia batal dah, gara-gara ban gendeng itu.
dan…astaghfirullah…mas Faata? Segera kucari HP di tas, memeriksa benda kecil
ajaib itu.
Astaghfirullah…
23
misscallccc
3
messages received
Semuanya
dari mas Faata. Ya Allah, bagaimana aku bisa seteledor ini? Setidaknya aku
mengabarinya tentang kejadian tadi malam. Akupun segera menelphonnya.
“Assalamu’alaikum”
Aku menyapa begitu terdengar nada sambung usai.
“Wa’alaikumussalam
wr. Wb. Kamu dimana?” Terdengar suara mas Faata sedikit dingin. Aku menelan
ludah, sedikit gentar.
“Aku…”
“Saya
sudah di rumah tante Nia sejak dini hari
tadi, tapi kamu belum smpai juga.” Ada rasa panic, khawatir dan marah. Ya tentu
saja. Aku kan istrinya.
“Di
kediaman teman, Mas. Ta…”
“Dimana?
Saya jemput sekarang.!” Yaa Allah aku sampai tergagap, ciut karena takut.
Dimana? Ya, tentu saja. Aku tidak tau dimana ini. Aku sampai dalam keadaan tidur.
“Sebentar
Mas, aku Tanya dulu.”
“Innalillaaaah…”
Mas Faata terdengar ingin meledak. Aku kembali menelan ludah, sembari keluar
kamar. Ya Allah, ternyata rumah ini sangat megah. Aku ada di tingkat dua. Ingin
memanggil dengan suara keras tampaknya tidak sopan. Ingin mencaripun kaya’nya
tidak tau harus kemana. Tapi sepertinya pintu besar dibawah itu pintu utama.
Aku segera turun tangga dengan sedikit berlari. Menuju pintu besar itu.
berusaha membukanya tapi terkonci.
“Hai,
siapa itu!” Sebuah suara berat dari atas juga. Aku mendongak dan menemukan
sebuah wajah tampan tampak kusut. Yaa Allah…ada lelaki juga di rumah ini.
“Alin!!!”
Kudengar panggilan mas Faata begitu keras di telingaku. Aku gelagapan.
“I,
iya, Mas.”
“Siapa
disana? Kamu dimana?!” Aku tidak tau harus menjawab apa sementara lelaki itu
bergerak turun. Yaa Allah…
*_*
Rasanya
sungguh nyaman. Ternyata lelaki ini kakak dari Tania. Dia orang yang baik,
sudah beristri tapi istrinya sedang di rumah orang tua. Ia mendengarkan baik
hal yang aku ceritakan. Melihat penampilanku, iapun tampak mengharigai. Ia
bahkan menawarkan diri mengantarkanku pulang.
“Tidak
apa-apa, saya akan menjelaskan pada suamimu.” Ujarnya begitu selesai kujelaskan
perkara sejak kemarin sore. Aku tersenyum, mengangguk dengan Alhamdulillah
dalam.
Aku
menghubungi mas Faata begitu kutau alamat rumah ini. Juga tentang lelaki yang
bernama Amin itu. mas Faata meski terdengar masih dingin lega juga dengan
hamdalahnya.
“Saya
jemput sekarang. jangan kemana-mana sampai saya datang.” Begitu tegasnya, aku
mengangguk mengiyakan.
“Insya
Allah. Cepat ya, Mas!” Pintaku, merasa tak nyaman juga di rumah ini. Tapi,
sampai jam Sembilan mas Faata tak juga sampai. Apa dia tidak tau alamat ini ya?
Kuhubungi handphonenya, tak ada jawaban. Aku masih berdamai dengan waktu,
beberapa kali Amin menanyakan suamiku, aku hanya tersenyum dan menjawab,
“Sebentar lagi, insya Allah” Iapun mengangguk dan berlalu. Aku masih setia
menunggu di teras rumah. Kutolak sarapan yang ditawarkan Amin dan bibi tua tak
bersahabat itu. kuminta nomer handphone Tania, dan aku mencoba menghubunginya.
Tapi tak diangkat juga. Yaa Rabbi.
Allahuakbar
Allahuakbar
Dari
masjid yang jauh kudengar azan Zuhur berkumandang. Yaa Allah, suamiku belum
juga sampai. Apakah terjadi sesuatu padanya? Yaa Allah, lindungilah mas Faata.
Akupun meminta izin untuk menumpang shalat zuhur. Selesai shalat, kurasakan
perutku sangat lapar. Jelas saja sejak siang kemarin aku belum mengisi apa-apa
untuknya.
“Bagaiama?
Ada kabar dari suamimu?” Astaghfirullah, aku sedikit terperajat mendengar suara
Amin yang berdiri diambang pintu. Untung saja aku belum membuka mukenah.
“Belum,
insyAllah sebentar lagi.” Aku berusaha menenangkan diriku sendiri. Sungguh,
sebenarnya aku tidak bisa diperlakukan seperti ini. Maksudku, aku tidak bisa dikecewakan
begini, apalagi masalah menunggu. Tapi untuk kali ini aku sadar, salah itu
berpihak padaku.
“Kau
mau tunggu sampai jam berapa? Ini sudah siang.” Amin memperhatikan. Aku
tersenyum pada daun pintu.
“Sebentar
lagi saja.” Jawabku terdengar sabar. Yaa Allah, apa aku pulang dengan taxi
saja?
“Makan
dulu, yuk! Kamu pasti lapar, tadi pagi nggak sarapan.” Dia menawarkan dengan
nada perhatian. Aku tersenyum sendiri. Menggeleng.
“Nanti
saja di rumah. Atau di jalan, suamiku mungkin mau mengajak makan.” Tolakku
pelan.
“Baiklah,
terserah kamu saja.” Amin berlalu. Aku menghembuskan nafas berat, memperbaiki
mukenahku.
*_*
Jam
tiga sore. Baiklah, akhirnya aku memutuskan untuk pulang naik taxi saja.
Kutelphon dulu mas Faata, tak ada jawaban. Kukirimi sms saja dan bersiap.
“Mau
pulang pakai taxi?” Amin mencegat di pintu. Aku mengangguk, “Di daerah sini
jarang taxi. Saya antar saja.” Ia memperingati.
“Bagaimana
kalau kita telphon? Maksudku, aku telphon.” Aku mengeluarkan Hp lagi dari tas.
“Silahkan!”
Amin cuek.
“Maaf
Mbak, salah satu petugas kami bisa sampai sana, tapi satu jam lagi. Karena yang
terdekat dengan wilalyah itu sedang bertugas semua. Sekali lagi kami minta
maaf, sebagian besar sopir kami belum mulai aktif masuk sejak libur kemarin.”
Yaa
Allah. Aku melirik Amin, kemudian mengangguk.
“Maksudnya?”
Tanyanya. Aku menghembuskan nafas.
“Aku
minta tolong.”
*_*
Azan
ashar berkumandang begitu kami setengah perjalanan.
“Mau
shalat dulu?” Amin bertanya saat mobil berhenti di lampu merah. Aku berfikir
sejenak. Melihat layar hp.
“Sebentar
lagi sampai.” Ujarku. Amin terlihat kembali serius mengemudi. Aku memainkan
tuts hp dengan perasaan tak tentu. Ya Allah…ya, kenapa tidak terfikir olehku,
menelphon rumah dan meminta sopir menjemput. Itu akan menghindari fitnah bukan.
Aku segera memencet nomer rumah. Nada sambung lama, tapi…tak ada yang
mengangkat. Astaghfirullah…tak ada orang di rumah. Aku lupa.
Ya!
Nomer
pak Mus. Aku kembali mencari kontak di buku telpon. Kutemukan. Tersambung.
“Assalamu’alaikum.
Pak. Bagaimana mobilnya???” Tanyaku.
“Alhamdulillah,
sudah baik, Bu. Ibu sudah sampai di rumah Bu Nia?” Tanya pak Mus.
“Saya
di perjalan pulang. Bisa jemput saya di masjid kota?” Sebuah ide melesat begitu
saja di kepalaku. Aku akan turun shalat di masjid kota, dan pak Mus bisa
menjemputku disana. Alhamdulillah…insyAllah baiklah ini.
“Ibu
dengan siapa? Dimana itu?”
“Nanti
saja saya ceritakan. Tolong dijemput sepuluh menit lagi ya, Pak!” Pintaku. Ia
mengiyakan. Akupun mengusaikan hubungan. Kemudian menguraikan niatku pada Amin.
Ia mengiyakan saja. Lima menit kemudian kami sampai di masjid kota.
“Tidak
ikut shalat?” Tanyaku begitu ia menepikan mobil. Ia menggeleng.
“Nanti
saja di rumah.” Tolaknya.
“Keburu
maghrib kalau balik. Ada baiknya shalat disini, sudah jam lima.” Aku
mengusulkan, ia tampak tak enak dan mengiyakan. Kamipun turun mobil dan
memasuki masjid. Mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat. Kuselesaikan
dengan do’a dan segera keluar. Amin sudah duduk di teras masjid, sudah lama
tampaknya ia selesai.
“Sudah
lama?” Sapaku. Ia menoleh.
“Tak
begitu. Ayo!” Ia bangkit. Dan kami berjalan, kupelankan langkah agar lebih
belakang. Di gerbang masjid kulihat pak Mus sudah menunggu, ia tampak mengobrol
dengan seseorang. Tampaknya aku kenal. Oh, ibu tetangga tak jauh dari rumah. Akupun menghampiri.
“Assalamu’alaikum.
Maaf lama pak Mus.” Sapaku. Pak Mus menjawab dengan senyuman, memperhatikan
Amin yang tak begitu jauh dari kami.
“Udah
kemana, Mbak Alin?” Tanya ibu yang bercakap dengan pak Mus. Kalau tidak salah,
namanya bu Fat.
“Silaturrahmi.”
Jawabku seadanya. Pak Mus tersenyum saja.
“Kok
ndak bareng sama pak Faata?” Ia bertanya menyelidik. Aku sedikit gelagapan
dibuat.
“Alin.
Saya balek ya!” Amin berseru sambil melambaikan. Aku menoleh mengiyakan.
“Terimakasih
banyak!” Sahutku, ia mengagguk. Kembali kutolehkan wajah pada Pak Mus dan Bu
Fat. Wajah keduanya tampak curiga.
“Dia
yang menolong saya. Kamarin ban mobil pecah, saat saya mencari taxi, kemudian
bertemu dengan adiknya, Tania namanya.” Aku berusaha menjelaskan.
“Oooo”
Bu Fat membundarkan mulutnya. Aku jadi tak enak.
“Ayo,
Bu. Kita pulang.” Pak Mus yang tenang-tenang saja mencairkan suasana. Akupun
mengiyakan dan segera pamit. Yaa Allah…semoga tidak terjadi fitnah pada
hamba…aamin.
*_*
Selesai
shalat maghrib sendirian aku membaca Qur’an, terdengar bel depan menjerit.
Kupastikan itu mas Faata. Akupun bergegas membukakan pintu. Dan kutemukan wajah
lelahnya disana.
“Assalamu’alaikum!”
Ucapnya. Aku tersenyum.
“Wa’alaikumussalam
wr. Wb.” Jawabku. Ia memperhatikan wajahku, kemudian menyusuri hingga bawah.
“Pulang
dengan siapa?” Tanyanya menyelidik.
“Pak
Mus, Mas.” Jawabku.
“Tadi
di sms kamu bilang naik taxi. Mana yang benar?” Ia bertanya lagi sembari
memasuki rumah. Seharusnya aku yang punya intonasi itu, dia berjanji akan
menjemputku bukan?! Tapi tak apa, aku menutup pintu dan mengikuti langkahnya.
“Aku
bisa jelaskan semuanya, Mas. Tapi mas shalat dulu, ya?” Pintaku. Ia melirik
padaku sedikit, aku gentar dengan tatapan itu. ia mengangguk dan menuju kamar,
kusiapkan tempat shalat untuknya.
Aku
menunggunya hingga usai shalat, kusalami ia dengan santun. Insya Allah hati
kami siap berbagi sekarang. ia tersenyum mengecup keningku. Aku bisa dengan
tenang bercerita jika auranya seperti ini.
“Sekarang
ceritakan semuanya pada saya, Alin.” Pintanya. Aku tersenyum mengangguk.
Ting
tong!
Bel
depan berteriak. Suara salam besar menggema dari luar. Aku saling bertatapan
dengan mas Faata. Sepertinya pembicaraan ini harus tertunda lagi. Kamipun
beranjak dari atas sajadah, melangkah pelan menuju pintu utama dan membuka
pintu. Disana terlihat pak RT, pak RW dan beberapa tokoh masyarakat. Dalam hati
aku bertanya, ada apa?
“W’alaikumussalam
wr.wb!” Jawab Suamiku pada mereka, “Ada yang bisa kami bantu, Pak? Tampaknya
ada masalah.” Mas Faata menyapa ramah. Wajah tamu-tamu kami terlihat padam. Aku
jadi tambah khawatir. Ada apa?
“Bisa
kami bicara di dalam?” Tanya Pak RT.
“Ah, ya
maaf. Silahkan masuk.” Suamiku membuka pintu lebar, mereka melangkah melewatiku
yang diam untuk menutup pintu. Setelah itu aku beranjak ke dapur membuat
minuman. The hangat kurasa cukup. Setelah siap akupun membawa ke ruang tamu.
“Isu
ini telah menyebar di kompleks sini, Pak. Istri bapak pulang dengan seorang
laki-laki. Tidak ada yang tau apa yang telah dilakukannya, tapi menurut kabar
yang santer terdengar juga, kamarin malam sopir bapak pulang sendiri dan
bercerita ban mobil pecah. Ketika itu ia tidak bersama istri bapak, dan menurut
penjelasan bapak, istri bapak tidak sampai di rumah sanak family kan?”
Innalillah…
“Wajarlah
bila mereka berfikir yang bukan-bukan tentang istri bapak. Bisa jadi mereka
tidak tau mengenai istri bapak tidak sampai di rumah saudara bapak, tapi salah
satu dari mereka melihat istri bapak pulang dengan seorang laki-laki.”
Aku
gemetar.
Fitnah.
Hampir
saja gelas berisi teh hangat itu terlepas dari tanganku. Aku menetralisir
hatiku dengan tasbih. Kuperhatikan wajah mas Faata membeku. Ya Allah…jangan
biarkan ia termakan fitnah ini. Hamba mohon…
*_*
Kuceritakan
kronologis kejadian itu, dengan detail tanpa menambah ataupun mengurangi. Aku
bercerita dengan air mata tertuang berusaha meyakinkan suamiku.
“Aku
berani bersumpah, Mas…tidak terjadi apa-apa. Demi Allah.”
“Diamlah
Alin.” Mas Faata memotong ucapanku. “Akan saya fikirkan baik-baik solusinya.”
Ia bangkit dari duduknya menjauhiku tanpa menoleh lagi.
“Kalau
mas datang sesuai janji tadi pagi, aku tidak mungkin pulang dengan dia.” Aku
terdengar seperti merintih, menyesali yang terjadi. Langkah mas Faata terhenti.
“Sudah
saya bilang tunggu.” Mas Faata terdengar datar.
“Sampai
kapan? Mas tidak memberi kabar.”
“Kamu
tau hukum mematuhi perintah suami.” Suaranya masih datar, “Kenapa kamu langgar.
Seandainya saya datang tengah malampun kamu harus menunggu.”
“Bagaimana
kalau terjadi apa-apa? Kalau aku tidak bisa melindungi diri?!” Aku menaikkan
intonasi, merasa tidak ikhlas menjadi terdakwa penuh dalam masalah ini.
“Kamu
fikir saya tidak memikirkan hal itu?!!!” Mas Faatapun tampaknya tak bisa
membendung emosinya, antara salah dan tak ingin disalahkan.
PRANG!!!
Sebuah
vas bunga di atas meja tak jauh darinya menjadi korban. Aku kaget dibuatnya,
gemetar kurasakan tubuhku.
“Kemudian
dengan pulang bersamanya kamu fikir tidak akan terjadi apa-apa? Siapa yang akan
menolongmu jika dia membawamu ke tempat yang sepi. Jika di rumahnya, ia masih
mempunyai pembantu, ada orang di sekitar sana, ada Tuhan juga tempat kutitip
kamu!!!” Menggelegar, suara mas Faata membuat semua kegiatan hal di rumah,
termasuk udara berhenti. Akupun tercekat. Tak ada hal yang bisa aku katakan
lagi.
“Allah
lindungi kamu jika kamu patuh pada suamimu, Alin!!!” Lagi, dan aku seolah beku.
Bagaimana ini Allah…
…
Kami
diam sejenak.
“Maafkan
aku, Mas…tapi Mas harus percaya aku tidak berbuat apa-apa dengan siapapun, demi
Allah.!” Aku meyakinkan lagi diantara isakku.
“Pulang
tadi kamu berani berbohong pada saya, suamimu sendiri. Dan kata-katamu itu,
tidak bisa saya genggam lagi.”
Duar!!!
Aku
tersengat. Mas Faata berlalu tanpa menoleh lagi. Air mataku mengalahi aliran
air di musim penghujan. Yaa Allaaaah…siapa lagi tempatku berpegang jika
suamikupun tak percaya lagi padaku….
Ya
Allaaah…
Kau
Mahatau…Kau menjagaku, dan ini adalah teguranmu.
Ampuni
akuu, ya Allah…
Ampuni
aku….hiks.
*_*
Dalam isak
aku meminta Allah temaniku sepanjang malam. Kamarku dulu kutempati lagi. Aku
takut mengetuk pintu kamarku dan mas Faata, sudah barang pasti suasananya tidak
akan nyaman.
Tes…
Air mataku
masih terus mengalir. Yaa Allah…aku memang berasal dari keluarga tak jelas,
dipungut kasih-Mu lewat tangan teteh, tapi aku tidak seburuk itu. tidaklah aku
menodai diriku sebelum suamiku. Aku masih dangkal beragama, masih awam tentang
syari’at, tapi aku tau masalah menjaga diri tentang suami, tau tentang batasan
menjaga diri.
Hiks.
Yaa
Allah…lama telah kau uji aku dengan silsilah nasabku. Aku menyikapi dengan
optimis, bahwa nasabku bukan segalanya yang membangun sikap dan akhlakku.
Akupun menuntut ilmu, mengemis pada tapak kasih-Mu, agar baik pula aku di
pandangan-Mu juga hamba-Mu yang lain. Maka, fitnah ini…bagaimana???
Hiks…
Salahkah
aku terlalu percaya pada hamba-Mu? Ya…mungkin saja aku terlalu ‘boleh’ pada
diriku. Boleh ini boleh itu, asal ini asal itu. padahal aku sendiri tak paham
dengan tindakku. Engkau mengatur semua ya Allah…ampuni aku, bantu aku, tuntun
aku kembali.
Hiks…
Teruuus
sepanjang malam aku bermunajat pada satu-satunya Zat yang tidak menolakku saat
ini dan saat apapun. Kuarungi kembali samudra dosa dan salahku dengan sesal tak
terkira. Pintaku pada Allah di penghujung malam usai witirku.
Ya
Allaah…banyak hal mungkin yang akan menghalangi do’aku sampai ke ‘Arsyi-Mu yang
agung, tapi aku percaya Kau Mahamendengar dan Mahamengabulkan. Tidak ada cobaan
yang Kau timpakan diluar batas mampu hamba-Mu, bukan? Maka, aku siap hadapi ini
dengan-Mu. Temani aku ya Allah…temani aku…
Subuh
menyapa. Kuberanikan diri keluar kamar, melangkah pelan ke ruang shalat. Ruang
itu tertutup. Aku menyentuh gagang pintunya, terkonci. Mungkin mas Faata ada di
dalam. Dengan sedikit keberanian aku hendak mengucap salam.
“Shalatlah
di kamarmu, Alin.”
Dugh!!!
Mas Faata
melempar gunungan batu ke hatiku bahkan tanpa wujud. Aku terisak dengan menutup
mulutku. Yaa Allaah…kuatkan aku…maka dengan tertatih dan masih terisak, aku
kembali ke kamar, mengkaji subuh diatas sajadahku sendiri. Yaa Allaaaaah…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar