Rabu, 16 Juli 2014

Hujan..


          Kutatap langit yang menangis. Airnya membasahi wajahku, meski tidak dengan sempurna, aku memang sedang duduk di teras rumah dengan secangkir kopi susu Nescafe yang tadi kubuat. Ahh,,, hujan, adalah satu-satunya kejadian alam yang entah kenapa selalu memberiku kenangan yang tak enak untuk diingat.
          Bukannya aku tak mensyukuri nikmat Allah yang satu ini, meskipun aku bukanlah hamba yang pandai bersyukur. Tapi…memang, jika kuputar ulang kaset ingatanku, aku pasti akan merasa gerah di saat hujan.
          Kuperbaiki posisi dudukku, serta jilbab merah mudaku yang tertiup angin nakal yang menemani hujan. Lantas kutarik nafasku dalam-dalam, kali ini aku ingin siap menikmati kenangan burukku itu. dulu, aku memang tidak pernah punya keberanian untuk mengulang-ulang ingatan itu, karena aku pasti tidak akan bisa mengambil hikmah apa-apa darinya. Ada juga aku akan mengasihani diri sendiri, masih untuk tindak merutuk. Tapi kali ini kuputuskan aku harus bisa mengulangnya. Dan bisa mengambil hikmah darinya, serta bisa mensykurinya juga.
*
          Kejadian itu adalah dulu, ketika aku pertama kali mengenal cinta yang begitu menentramkan hatiku. Itu memang bukan pertama kalinya aku mengenal cinta, tapi cinta dengan jenis seperti itu, baru kali itulah menghampiriku.
          Ia adalah sosok yang begitu mengagumkan bagiku. Begitu selalu inginku puji, begitu memiliki aura yang menenangkanku, begitu sempurna, begitu sangat-sangat kucintai. Ia tak perlu menjadi apapun bagiku, karena ia telah menjadi apapun untukku. Aku, begitu sangat-sangat memujanya lebih dari apapun, bahkan Tuhanku. Yah,,,aku bahkan rela mengesampingkan imanku karenanya.
          Kala itu, aku yang memang masih belum cukup dewasa untuk memutuskan segalanya, sangat-sangat tidak bisa menahan perasaanku. Segala hal kulakukan untuknya, atas nama cinta. Sungguh bodoh, padahal aku tidak begitu mengenalnya. Aku memang satu kelas dengannya, tapi tidak begitu mengenalnya dengan dekat, hanya mengenalnya saat dia menyatakan cinta padaku. Salah satu gadis berjilbab di kelas. Entah fitrah Tuhan, atau kutuk setan yang merasukiku. Akupun menerimanya, yang ketika itu ternyata dia telah pacaran dengan seorang gadis di kelas lain. Ketika gadis itu menangis karena ditinggal sepihak olehnya, sebut saja dia Ken, aku bahkan tidak peduli. Yang aku tau, hanya aku mencintainya. Pandangan teman-teman jadi berubah padaku, tapi aku tidak peduli. Prinsipku kala itu adalah, aku tidak sibuk diatas omongan orang. Benar-benar telah kubuang segalanya. Statusku sebagai pelajar teladanpun terbang. Aku tidak peduli, yang aku tau kala itu adalah perhatian dan cinta dari Ken.
          Aku merasa benar-benar nyaman dengannya, benar-benar dihargai sebagai seorang wanita, dilindungi, dimengerti dan segalanya. Hingga, aku tak segan-segan bergandengan tangan di sekolah dengannya. Kemana-mana berdua, dimana-mana bersama. Akupun merasa Ken tidak main-main denganku, karena dulu setahuku ia tidak pernah begitu serius dengan gadis manapun, seperti denganku. Maka, tak alang akupun terbang.
          Ken selalu berkata, “Aku mencari gadis sepertimu, dari dulu!” Dan aku selalu terbang dibuatnya. Satu nilai plus untuknya adalah ia begitu tampan, jago karate dan basket. Tak heran ia termasuk the most wanted dulunya.
          Hingga, suatu hari ia mengajakku keluar berdua. Setelah berhasil keluar rumah dengan mengajak sahabat baikku kompromi akupun bertemu dengannya. Rencananya sepulangnya nanti kami akan ke rumah sahabatku itu, agar orang tuaku tak tau.
          Benar-benar hancur!

          Aku membohongi kedua orang tuaku untuknya. Tapi, aku tak menyesal saat itu, tentu saja, mana ada penyesalan datangnya di depan. Iapun mengajakku ke pantai, mengobral diri pada matahari. Banyak hal yang kami lakukan, hingga hari beranjak petang. Aku mulai khawatir, akan telat pulang, akupun mengajaknya untuk pulang. Dan dia tidak menolak. Di perjalanan, mendung mulai menaungi udara dingin perlahan menyelimuti. Perlahan kupeluk ia dari belakang, pelan…semakin erat. Aku tau, saat itu pasti ada setan di antara kami. Seandainya bisa kulihat, aku tentu takut. Tapi, aku terpedaya…dan menikmati tipunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar