Kutatap langit yang menangis. Airnya
membasahi wajahku, meski tidak dengan sempurna, aku memang sedang duduk di
teras rumah dengan secangkir kopi susu Nescafe yang tadi kubuat. Ahh,,, hujan,
adalah satu-satunya kejadian alam yang entah kenapa selalu memberiku kenangan
yang tak enak untuk diingat.
Bukannya aku tak mensyukuri nikmat
Allah yang satu ini, meskipun aku bukanlah hamba yang pandai bersyukur.
Tapi…memang, jika kuputar ulang kaset ingatanku, aku pasti akan merasa gera h di saat hujan.
Kuperbaiki posisi dudukku, serta
jilbab merah mudaku yang tertiup angin nakal yang menemani hujan. Lantas
kutarik nafasku dalam-dalam, kali ini aku ingin siap menikmati kenangan burukku
itu. dulu, aku memang tidak pernah punya keberanian untuk mengulang-ulang ingatan
itu, karena aku pasti tidak akan bisa mengambil hikmah apa-apa darinya. Ada juga aku akan
mengasihani diri sendiri, masih untuk tindak merutuk. Tapi kali ini kuputuskan
aku harus bisa mengulangnya. Dan bisa mengambil hikmah darinya, serta bisa
mensykurinya juga.
*
Kejadian itu adalah dulu, ketika aku
pertama kali mengenal cinta yang begitu menentramkan hatiku. Itu memang bukan
pertama kalinya aku mengenal cinta, tapi cinta dengan jenis seperti itu, baru
kali itulah menghampiriku.
Ia adalah sosok yang begitu
mengagumkan bagiku. Begitu selalu inginku puji, begitu memiliki aura yang
menenangkanku, begitu sempurna, begitu sangat-sangat kucintai. Ia tak perlu
menjadi apapun bagiku, karena ia telah menjadi apapun untukku. Aku, begitu
sangat-sangat memujanya lebih dari apapun, bahkan Tuhanku. Yah,,,aku bahkan
rela mengesampingkan imanku karenanya.
Kala itu, aku yang memang masih belum
cukup dewasa untuk memutuskan segalanya, sangat-sangat tidak bisa menahan
perasaanku. Segala hal kulakukan untuknya, atas nama cinta. Sungguh bodoh,
padahal aku tidak begitu mengenalnya. Aku memang satu kelas dengannya, tapi
tidak begitu mengenalnya dengan dekat, hanya mengenalnya saat dia menyatakan
cinta padaku. Salah satu gadis berjilbab di kelas. Entah fitrah Tuhan, atau
kutuk setan yang merasukiku. Akupun menerimanya, yang ketika itu ternyata dia
telah pacaran dengan seorang gadis di kelas lain. Ketika gadis itu menangis
karena ditinggal sepihak olehnya, sebut saja dia Ken, aku bahkan tidak peduli.
Yang aku tau, hanya aku mencintainya. Pandangan teman-teman jadi berubah
padaku, tapi aku tidak peduli. Prinsipku kala itu adalah, aku tidak sibuk
diatas omongan orang. Benar-benar telah kubuang segalanya. Statusku sebagai
pelajar teladanpun terbang. Aku tidak peduli, yang aku tau kala itu adalah
perhatian dan cinta dari Ken.
Aku merasa benar-benar nyaman
dengannya, benar-benar dihargai sebagai seorang wanita, dilindungi, dimengerti
dan segalanya. Hingga, aku tak segan-segan bergandengan tangan di sekolah
dengannya. Kemana-mana berdua, dimana-mana bersama. Akupun merasa Ken tidak
main-main denganku, karena dulu setahuku ia tidak pernah begitu serius dengan
gadis manapun, seperti denganku. Maka, tak alang akupun terbang.
Ken selalu berkata, “Aku mencari gadis
sepertimu, dari dulu!” Dan aku selalu terbang dibuatnya. Satu nilai plus
untuknya adalah ia begitu tampa n,
jago karate dan basket. Tak heran ia termasuk the most wanted dulunya.
Hingga, suatu hari ia mengajakku
keluar berdua. Setelah berhasil keluar rumah dengan mengajak sahabat baikku
kompromi akupun bertemu dengannya. Rencananya sepulangnya nanti kami akan ke
rumah sahabatku itu, agar oran g
tuaku tak tau.
Benar-benar hancur!
Aku membohongi kedua oran g tuaku untuknya. Tapi, aku tak menyesal
saat itu, tentu saja, mana ada penyesalan datangnya di depan. Iapun mengajakku
ke pantai, mengobral diri pada matahari. Banyak hal yang kami lakukan, hingga
hari beranjak petang. Aku mulai khawatir, akan telat pulang, akupun mengajaknya
untuk pulang. Dan dia tidak menolak. Di perjalanan, mendung mulai menaungi
udara dingin perlahan menyelimuti. Perlahan kupeluk ia dari belakang,
pelan…semakin erat. Aku tau, saat itu pasti ada setan di antara kami.
Seandainya bisa kulihat, aku tentu takut. Tapi, aku terpedaya…dan menikmati
tipunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar