Dengan
segala alasan, kuajak Maria untuk berkunjung ke rumah Ibu. Jelas, ini tidak
bisa dibiarkan. Ibu tidak bisa memerintahkan segalanya sesuka hatinya. Maria
istriku dan ia harus tetap bersamaku.
“Aku tidak tahu harus mengatakan apa
pada Ibu, Mas.” Begitu alasan Maria menolak ajakanku.
“Tapi kita harus tetap berusaha,
Sayang. Kita harus berusaha…” aku meremas tangannya mencoba mencari pengertian.
“Mas tahu sendiri kan watak Ibu. Mas
sendiri yang cerita, jika telah berkeinginan, Ibu tak bisa ditolak.” Maria
masih menolak.
“Itu benar, Sayang. Tapi Ibu bukan
orang yang kukuh pada kesalahan. Jika memang alasan yang diyakininya terbukti
salah. Ia akan mengalah.” Aku kembali menjelaskan.
“Alasannya benar, Mas…” Maria
menahan tangisnya yang hendak kembali meriak sungai, aku bahkan tidak tahu
alasan macam itu. karena kemarin aku tak mau mendengar alasan Ibu menyuruhku
melepasnya.
“Tapi ada sisi lain, kan? Kita harus
tetap berusaha.” Aku kembali menyemangati.
“Tidak bisa, Mas. Pulangkan saja aku
pada orang tuaku.” Air matanya membasahi pipi.
“Tidak ! kau harus ikut ke rumah Ibu
hari ini.” aku tegas. “Ingat baktimu pada suamimu, Maria.!”
“Dan bakti Mas pada Ibu?” ia
membuatku tergugu.
“Kita berbakti pada setiap perbuatan
dan putusan yang baik.” Kuselesaikan kalimatku dan kutinggalkan Maria di kamar.
//
Dan saat ini, kamipun menghadap pada
ibu. Beberapa lama kami terdiam, hingga pembantu rumah Ibu meletakkan minuman
di atas meja, masih tak ada yang berubah.
“Aku tidak bisa mengikuti kemauan
Ibu.” Akupun akhirnya membuka mulut.
“Emh,” suara Ibu meremehkan, “Kamu
masih mau jadi anak durhaka?!! Perempuan ini tidak baik untukmu!!!” ia menunjuk
wajah Maria dengan kasar.
“Dia yang terbaik untukku, Ibu.” Aku
membalas, “Aku yang menjalani hidupku, aku yang merasakannya, Bu. Bisakah Ibu
mengerti?” aku berusaha melembutkan suaraku, kuharap keteguhan Ibu bisa luluh.
Kulirik Maria yang hanya menunduk.
“Ooh, begitu?! Seingatku, aku tidak
pernah mendidikmu untuk merasa baik hidup dengan anak pelacur!” aku tercekat
demi mendengar kalimat Ibu.
“Anak pelacur bagaimana maksud Ibu?”
tanyaku terbata.
“Maria ini Ibunya seorang pelacur.
Dia anak angkat di keluarganya sekarang. bisa kamu bayangkan? Dari kecil dia
dihidupi dari uang haram, sering dia diajak melacur oleh Ibunya dulu. Iya?
Perempuan seperti ini yang kamu anggap sangat penting.??!!!”
…
Aku tak bisa berkata apapun. Maria
masih menunduk.
“Maria gadis saatku nikahi Bu, tak
ada yang salah dengannya.” Sedikit bergetar aku menjawab perkataan sangar
Ibuku.
“Tapi dia anak pelacur, Ali! Kita
tidak tahu dia ini anak haram atau halal, kan! Bisa jadi dia adalah hasil
hubungan lacur ibunya.” Aku lemas mendengarnya. Benarkah demikian?
“Ibu yang mulia…” aku mendengar suara
Maria di tengah isak, “saya akan meninggalkan anak Ibu jika memang Ibu tidak
ridha terhadap asal-usul saya.” Aku semakin tak merasakan diriku.
“Iya, memang seharusnya begitu. Anak
sepertimu ini tidak pantas bersanding dengan putraku, yang kuasuh dengan segala
kemuliaan yang baik!” ibu menatap Maria yang basah air mata dengan sangar.
“Baiklah.” Maria menghapus air
matanya, ia berbenah hendak meninggalkan kami, “Tapi perhatikanlah wahai Ibu,
jika ingin mengetahui kebenaran seseorang bisakah tidak hanya mendengar sebelah
telinga saja?” Maria berdiri dari duduknya. “Assalamu’alaikum.” Pamitnya
kemudian perlahan mulai berlalu. Ingin kutarik lengannya dan kupaksa ia
mengatakan bahwa apa yang aku dengar adalah salah. Aku akan memohon padanya
untuk mengatakan bahwa semuanya hanya salah paham. Sayang, yang bisa kulakukan
adalah melihat punggung istriku kian menjauh.
Perlahan aku mulai berfikir, apa
salah Maria sehingga ia diperlakukan seperti ini. belum tentu juga berita yang
didapat oleh ibuku benar, sekalipun benar tak ada yang salah dengan Maria.
Maria adalah gadis yang baik, tak sepantasnya diperlakukan seperti ini. ia tak
harus dihukum karena keburukan Ibunya, bukan.
Akupun bangkit hendak mengejar
Maria.
“Kamu mau mengejarnya Ali? Lihat
kelakuanmu, padahal kamu sudah tahu yang sebenarnya, diapun tidak mengelak.
Kamu tahu semuanya benar.” Kata-kata pedas Ibu mencegat langkahku.
“Memang apa salah Maria, Bu?
Bukankah tidak ada pilihan bagi seorang anak terlahir dari rahim siapa?” aku menjawab,
menatap Ibu dengan mata memohon, tak hendak membentaknya. Memohon, agar ia
memahami kami. Memahami cinta kami yang baru bersemi.
“Dan itupun jika berita yang Ibu
andaikan itu benar. Maria tidak membantah Ibunya seorang pelacur, tapi Ibu
sendiri yang mengandaikan dia adalah anak hasil hubungan lacur. Ibu tidak lihat
bagaimana Maria menahan hatinya tak ingin mendebat Ibu atas semua kata-kata Ibu
yang menyakitkkan? Seandainya Ibu ada dalam posisinya, bisakah Ibu diam?” Ibu
menatapku diam, tak kusia-siakan kesempatan.
“Seandainyapun ia benar hasil dari
hubungan haram itu, ia tak pernah memintanya, Bu. Ia hanya seonggok hasil itu.
ini semua tak harus dipermasalahkan. Seharusnya Ibu bangga memiliki Maria
sebagai menantu karena walaupun ia seorang anak pelacur, kudapati Maria dalam
keadaan suci, Bu. Demi Allah. bagaimanakah ia menjaga dirinya selama ini, Ibu
tak berfikir sampai disana? Ataupun bagaimana Ibunya yang seorang pelacur bisa
menjaga kesucian putrinya…” kami kembali memberikan kesunyian pada saat.
“Sangat kontras dengan Ibu, maaf
Bu…tapi semulia ini Ibu dalam mataku dan mata masyarakat tapi Ibu tidak bisa
menjaga perasaanku, bahkan memintaku menceraikan istriku. Bagaimana bisa Ibu
berlaku demikian kepada anaknya? Jadi bisakah Ibu katakana mana yang lebih
mulia, Ibu Maria ataukah Ibuku?” kutatap mata Ibu lembut, meski kutahu
kalimat-kalimatku menyakitkan. Kemudian kutinggalkan ia mengejar Maria. Mariaku
.
Aku berlari membelah halaman Ibu
yang luas, panggilan adik bungsuku tak kudengarkan, aku hanya berlari
meninggalkan kendaraanku, mencoba membaca langkah istriku yang diiringi
tangisnya.
Ya Allah, Maria maafkan aku tak bisa
membelamu.
Di kejauhan tampak orang-orang
berkerumun. Apakah ada kecelakaan? Mendadak perasaanku tak enak. Akupun berlari
mendekati kerumunan itu.
“Ada apa ini???” tanyaku, tapi tak
ada yang menyahut. Aku menorobos kerumunan itu, dan aku sesak demi melihat
sosok yang terbaring lemas itu.
Maria? Ada apa ini? apakah tabarak
lari? Terserepet ? apa?!!
“Bawa saja cepat ke Rumah Sakit!”
terdengar usulan salah seorang dari kerumunan ini.
“Saya akan membawanya, saya
suaminya!” tegasku berlutut menggendong tubuh Maria yang lemah, dibantu seorang
laki-laki yang memberhentikan sebuah taxi lewat untuk kami.
//
Kini aku tengah menunggu istriku di
ruang UGD bersama beberapa orang yang tadi membantuku membawanya kemari.
Setelah lama menunggu dokter yang menanganinyapun keluar. Aku segera
menghampirinya, tak sabar mengetahui kabar terbaru istriku. Aku berdo’a semoga
Maria tidak apa-apa.
“Selamat.” Kata dokter itu membuatku
tak faham, ia menyalamiku. “Anda akan segera menjadi seorang ayah. Sekitar
delapan bulan lagi.” Lanjutnya membuatku terlonjak, bibirku menyunggingkan
senyum tanpa kuperintah.
“Alhamdulillah….terimakasih dokter,
terimakasih.” Ucapku menjabat tangan dokter itu bahagia, “tapi apakah istri
saya baik-baik saja?” tanyaku.
“Iya, dia dalam keadaan sehat, hanya
tubuhnya sedikit lemah. Tapi tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja.” Jelas dokter
itu lagi. Membuatku tak kuasa untuk tidak sujud syukur di lantai Rumah Sakit.
Beberapa orang yang membantuku segera menghampiriku dan memberikan selamat.
“Terimakasih,” ucapku tak
putus-putus. Akupun memutuskan untuk memberitahu Maria kabar baik ini. tapi
saat kulangkahkan kakiku ke ruang UGD handpondku bordering. Saat kurogoh saku
celana dan melihat layar HP, ternyata dari adik bungsuku. Kebetulan sekali,
fikirku. Dia pasti senang akan segera menjadi bibi. Dengan semangat kuangkat
telfonnya.
“Assalamu’alaikum, Nia…”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah,
Abang kemana saja? Aku telfon dari tadi kok nggak dijawab-jawab?!” Nia menyahut
dengan cepat dan sedikit panik.
“Maaf, tadi kakak iparmu Abang
temukan jatuh di pinggir jalan sepulang dari rumah Ibu.”
“Ataghfirullah, kak Maria nggak
apa-apa, kan? Diserepet ya, Kak?” Nia terdengar menyayangkan.
“Cuma pingsan biasa, ini Abang lagi
di rumah sakit.”
“Oh, syukur kalau begitu. Tapi, maaf
Bang. Ini lebih penting sepertinya, Ibu pingsan juga setelah Abang keluar rumah
tadi. Nia panggil-panggil tapi Abang nggak noleh. Sekarang Ibu di UGD, Bang.
Dokter bilang keadaannya lumayan parah. Abang bisa kesini?” aku tercekat. Ibu?
“Bang?”
//
Tidak ada komentar:
Posting Komentar