Minggu, 13 Juli 2014

Catatan Ali, Cinta


                Dengan segala alasan, kuajak Maria untuk berkunjung ke rumah Ibu. Jelas, ini tidak bisa dibiarkan. Ibu tidak bisa memerintahkan segalanya sesuka hatinya. Maria istriku dan ia harus tetap bersamaku.
            “Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada Ibu, Mas.” Begitu alasan Maria menolak ajakanku.
            “Tapi kita harus tetap berusaha, Sayang. Kita harus berusaha…” aku meremas tangannya mencoba mencari pengertian.
            “Mas tahu sendiri kan watak Ibu. Mas sendiri yang cerita, jika telah berkeinginan, Ibu tak bisa ditolak.” Maria masih menolak.
            “Itu benar, Sayang. Tapi Ibu bukan orang yang kukuh pada kesalahan. Jika memang alasan yang diyakininya terbukti salah. Ia akan mengalah.” Aku kembali menjelaskan.
            “Alasannya benar, Mas…” Maria menahan tangisnya yang hendak kembali meriak sungai, aku bahkan tidak tahu alasan macam itu. karena kemarin aku tak mau mendengar alasan Ibu menyuruhku melepasnya.
            “Tapi ada sisi lain, kan? Kita harus tetap berusaha.” Aku kembali menyemangati.
            “Tidak bisa, Mas. Pulangkan saja aku pada orang tuaku.” Air matanya membasahi pipi.
            “Tidak ! kau harus ikut ke rumah Ibu hari ini.” aku tegas. “Ingat baktimu pada suamimu, Maria.!”
            “Dan bakti Mas pada Ibu?” ia membuatku tergugu.
            “Kita berbakti pada setiap perbuatan dan putusan yang baik.” Kuselesaikan kalimatku dan kutinggalkan Maria di kamar.
//
            Dan saat ini, kamipun menghadap pada ibu. Beberapa lama kami terdiam, hingga pembantu rumah Ibu meletakkan minuman di atas meja, masih tak ada yang berubah.
            “Aku tidak bisa mengikuti kemauan Ibu.” Akupun akhirnya membuka mulut.
            “Emh,” suara Ibu meremehkan, “Kamu masih mau jadi anak durhaka?!! Perempuan ini tidak baik untukmu!!!” ia menunjuk wajah Maria dengan kasar.
            “Dia yang terbaik untukku, Ibu.” Aku membalas, “Aku yang menjalani hidupku, aku yang merasakannya, Bu. Bisakah Ibu mengerti?” aku berusaha melembutkan suaraku, kuharap keteguhan Ibu bisa luluh. Kulirik Maria yang hanya menunduk.
            “Ooh, begitu?! Seingatku, aku tidak pernah mendidikmu untuk merasa baik hidup dengan anak pelacur!” aku tercekat demi mendengar kalimat Ibu.
            “Anak pelacur bagaimana maksud Ibu?” tanyaku terbata.
            “Maria ini Ibunya seorang pelacur. Dia anak angkat di keluarganya sekarang. bisa kamu bayangkan? Dari kecil dia dihidupi dari uang haram, sering dia diajak melacur oleh Ibunya dulu. Iya? Perempuan seperti ini yang kamu anggap sangat penting.??!!!”
            …
            Aku tak bisa berkata apapun. Maria masih menunduk.
            “Maria gadis saatku nikahi Bu, tak ada yang salah dengannya.” Sedikit bergetar aku menjawab perkataan sangar Ibuku.
            “Tapi dia anak pelacur, Ali! Kita tidak tahu dia ini anak haram atau halal, kan! Bisa jadi dia adalah hasil hubungan lacur ibunya.” Aku lemas mendengarnya. Benarkah demikian?
            “Ibu yang mulia…” aku mendengar suara Maria di tengah isak, “saya akan meninggalkan anak Ibu jika memang Ibu tidak ridha terhadap asal-usul saya.” Aku semakin tak merasakan diriku.
            “Iya, memang seharusnya begitu. Anak sepertimu ini tidak pantas bersanding dengan putraku, yang kuasuh dengan segala kemuliaan yang baik!” ibu menatap Maria yang basah air mata dengan sangar.
            “Baiklah.” Maria menghapus air matanya, ia berbenah hendak meninggalkan kami, “Tapi perhatikanlah wahai Ibu, jika ingin mengetahui kebenaran seseorang bisakah tidak hanya mendengar sebelah telinga saja?” Maria berdiri dari duduknya. “Assalamu’alaikum.” Pamitnya kemudian perlahan mulai berlalu. Ingin kutarik lengannya dan kupaksa ia mengatakan bahwa apa yang aku dengar adalah salah. Aku akan memohon padanya untuk mengatakan bahwa semuanya hanya salah paham. Sayang, yang bisa kulakukan adalah melihat punggung istriku kian menjauh.
            Perlahan aku mulai berfikir, apa salah Maria sehingga ia diperlakukan seperti ini. belum tentu juga berita yang didapat oleh ibuku benar, sekalipun benar tak ada yang salah dengan Maria. Maria adalah gadis yang baik, tak sepantasnya diperlakukan seperti ini. ia tak harus dihukum karena keburukan Ibunya, bukan.
            Akupun bangkit hendak mengejar Maria.
            “Kamu mau mengejarnya Ali? Lihat kelakuanmu, padahal kamu sudah tahu yang sebenarnya, diapun tidak mengelak. Kamu tahu semuanya benar.” Kata-kata pedas Ibu mencegat langkahku.
            “Memang apa salah Maria, Bu? Bukankah tidak ada pilihan bagi seorang anak terlahir dari rahim siapa?” aku menjawab, menatap Ibu dengan mata memohon, tak hendak membentaknya. Memohon, agar ia memahami kami. Memahami cinta kami yang baru bersemi.
            “Dan itupun jika berita yang Ibu andaikan itu benar. Maria tidak membantah Ibunya seorang pelacur, tapi Ibu sendiri yang mengandaikan dia adalah anak hasil hubungan lacur. Ibu tidak lihat bagaimana Maria menahan hatinya tak ingin mendebat Ibu atas semua kata-kata Ibu yang menyakitkkan? Seandainya Ibu ada dalam posisinya, bisakah Ibu diam?” Ibu menatapku diam, tak kusia-siakan kesempatan.
            “Seandainyapun ia benar hasil dari hubungan haram itu, ia tak pernah memintanya, Bu. Ia hanya seonggok hasil itu. ini semua tak harus dipermasalahkan. Seharusnya Ibu bangga memiliki Maria sebagai menantu karena walaupun ia seorang anak pelacur, kudapati Maria dalam keadaan suci, Bu. Demi Allah. bagaimanakah ia menjaga dirinya selama ini, Ibu tak berfikir sampai disana? Ataupun bagaimana Ibunya yang seorang pelacur bisa menjaga kesucian putrinya…” kami kembali memberikan kesunyian pada saat.
            “Sangat kontras dengan Ibu, maaf Bu…tapi semulia ini Ibu dalam mataku dan mata masyarakat tapi Ibu tidak bisa menjaga perasaanku, bahkan memintaku menceraikan istriku. Bagaimana bisa Ibu berlaku demikian kepada anaknya? Jadi bisakah Ibu katakana mana yang lebih mulia, Ibu Maria ataukah Ibuku?” kutatap mata Ibu lembut, meski kutahu kalimat-kalimatku menyakitkan. Kemudian kutinggalkan ia mengejar Maria. Mariaku .
            Aku berlari membelah halaman Ibu yang luas, panggilan adik bungsuku tak kudengarkan, aku hanya berlari meninggalkan kendaraanku, mencoba membaca langkah istriku yang diiringi tangisnya.
            Ya Allah, Maria maafkan aku tak bisa membelamu.
            Di kejauhan tampak orang-orang berkerumun. Apakah ada kecelakaan? Mendadak perasaanku tak enak. Akupun berlari mendekati kerumunan itu.
            “Ada apa ini???” tanyaku, tapi tak ada yang menyahut. Aku menorobos kerumunan itu, dan aku sesak demi melihat sosok yang terbaring lemas itu.
            Maria? Ada apa ini? apakah tabarak lari? Terserepet ? apa?!!
            “Bawa saja cepat ke Rumah Sakit!” terdengar usulan salah seorang dari kerumunan ini.
            “Saya akan membawanya, saya suaminya!” tegasku berlutut menggendong tubuh Maria yang lemah, dibantu seorang laki-laki yang memberhentikan sebuah taxi lewat untuk kami.
//
            Kini aku tengah menunggu istriku di ruang UGD bersama beberapa orang yang tadi membantuku membawanya kemari. Setelah lama menunggu dokter yang menanganinyapun keluar. Aku segera menghampirinya, tak sabar mengetahui kabar terbaru istriku. Aku berdo’a semoga Maria tidak apa-apa.
            “Selamat.” Kata dokter itu membuatku tak faham, ia menyalamiku. “Anda akan segera menjadi seorang ayah. Sekitar delapan bulan lagi.” Lanjutnya membuatku terlonjak, bibirku menyunggingkan senyum tanpa kuperintah.
            “Alhamdulillah….terimakasih dokter, terimakasih.” Ucapku menjabat tangan dokter itu bahagia, “tapi apakah istri saya baik-baik saja?” tanyaku.
            “Iya, dia dalam keadaan sehat, hanya tubuhnya sedikit lemah. Tapi tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja.” Jelas dokter itu lagi. Membuatku tak kuasa untuk tidak sujud syukur di lantai Rumah Sakit. Beberapa orang yang membantuku segera menghampiriku dan memberikan selamat.
            “Terimakasih,” ucapku tak putus-putus. Akupun memutuskan untuk memberitahu Maria kabar baik ini. tapi saat kulangkahkan kakiku ke ruang UGD handpondku bordering. Saat kurogoh saku celana dan melihat layar HP, ternyata dari adik bungsuku. Kebetulan sekali, fikirku. Dia pasti senang akan segera menjadi bibi. Dengan semangat kuangkat telfonnya.
            “Assalamu’alaikum, Nia…”
            “Wa’alaikumussalam warahmatullah, Abang kemana saja? Aku telfon dari tadi kok nggak dijawab-jawab?!” Nia menyahut dengan cepat dan sedikit panik.
            “Maaf, tadi kakak iparmu Abang temukan jatuh di pinggir jalan sepulang dari rumah Ibu.”
            “Ataghfirullah, kak Maria nggak apa-apa, kan? Diserepet ya, Kak?” Nia terdengar menyayangkan.
            “Cuma pingsan biasa, ini Abang lagi di rumah sakit.”
            “Oh, syukur kalau begitu. Tapi, maaf Bang. Ini lebih penting sepertinya, Ibu pingsan juga setelah Abang keluar rumah tadi. Nia panggil-panggil tapi Abang nggak noleh. Sekarang Ibu di UGD, Bang. Dokter bilang keadaannya lumayan parah. Abang bisa kesini?” aku tercekat. Ibu?
            “Bang?”
//


Tidak ada komentar:

Posting Komentar