Datang …. Lagi
aku berbaring
menatap langit-langit kamar yang terlihat kotor dengan jarring laba-laba.
Entah, kata orang alim jarring laba-laba bisa menghalangi rezeki. Entah lagi,
aku tidak terlalu terpengaruh tentang itu, mungkin karena tidak yakin. Tapi
sejak ia pergi rasanya itu benar.
Tidak ada yang membersihkan rumah
ini lagi seperti ia, tidak ada yang merawatku seperti ianya yang aku nikmati,
tak ada aroma dia lagi di sekelilingku. Apa ini? aku memang harus benar-benar
mengakui kalau aku telah kehilangan dia, kehilangan istriku tercinta.
Di usia semuda ini, aku telah
menjadi duda. Menyendiri dengan tampang lusuh yang tampak tak terhidupi roh.
Menguntit kegelapan dengan nafsu yang bahkan redup. Dan di usia semuda ini aku
telah menjadikan seorang wanita yang bahkan lebih muda menjadi janda.
Aaah!!!!
Kuurut wajahku dengan telapak
tanganku yang terasa kasar. Bagaimana semuanya begitu cepat? Hanya dengan
alasan sepele dan emosi yang dangkal, semuanya terjadi saja. Dan semuanya
berubah dengan segera. Hebat bukan?!
“Umar, makan.” Kudengar panggilan
dari arah pintu. aku menatap wajah tua Ibuku yang saat ini memang hanya mata
itulah yang membuatku bertahan. Akupun bangkit membawa tubuhku yang kian
mengurus menghampirinya. Merangkul tubuh gempalnya yang kini berukuran berpuluh
senti dari tinggiku.
“Iya, Bundaaa…ada menu apa?” tanyaku
bermanja. Ia tersenyum menikmati saja.
“Kesukaanmu.” Ibu memang sering
menyenangkan hatiku akhir-akhir ini. entah itu dengan memasakkan menu
kesukaanku, membelikan beberapa kemeja baru dengan warna kesukaanku juga, atau
hanya sekedar mendiamkanku bermeditasi dengan kehidupanku. Akhirnya sesampai di
dapur kunikmati masakannya yang has dengan nafsu yang kuundang-undang sendiri.
Percerainku dengan Kintan telah memasuki bulan ke dua, tapi semua orang apalagi
Ibu pasti merasakan aku berubah.
Pernikahan muda, begitu awalnya. Aku
terlalu yakin semuanya akan baik-baik saja. Aku terlalu percaya semuanya akan
biasa dan pasti bisa. Rumah bahkan belum berdiri, dan pekerjaan aku hanya
mengandalkan honor kelas private yyang aku ajarkan. Orang tuaku jelas melarang,
meski orang tua Kintan bisa mengerti. Tapi watakku yang keras dan suka segala
hal yang instan membuatku melewati semua palang peringatan. Akhirnya efeknya
aku temukan setelah setengah tahun pernikahan. Kintan istri yang baik,
dewasanya terlihat, perhatiannya penuh. Tapi usia kami yang memang masih muda
mengundang cek cok yang terbilang sering. Hal-hal sepele yang tak kusuka atau
tak ia suka menjadikan saat seketika berubah.
Misalkan saja aku yang pulang telat,
masakan tak terlalu enak, pakaian tak rapi, perkataannya yang tak terlalu
kuperhatikan, keteledoran yang tak disengaja. Semuanya, masalah-masalah sekecil
itu menjadikan cek cok yang kadang tak berujung dan membuatku mendapati
punggungnya di ranjang.
Kintan memang seringkali mengalah
menghadapiku, tapi bagiku aku lebih sering mengalah menghadapinya yang
terkadang terlalu membesar-besarkan masalah. Dulu sebelum menikah Kintan tidak
berlaku demikian, tapi selepas menikah ia jadi lebih sensitive dan lebih serung
berkomentar pedas. Bahkan jilbabnya jadi mengambang kulihat karena sifatnya.
Ah, kenapa pula aku mengingat-ingat
dia.
Segera kuselesaikan makanku, aku
harus mengurus sesuatu.
//
“Kemarin aku lihat Kintan, Mar.” Rian
sahabat lamaku memulai percakapan menungguku memperbaiki rantai motornya yang
sedikit bermasalah. Aku diam tak kutanggapi, meski kutahu ada rasa penasaran di
hatiku. Besar ukurannya.
“Kamu nggak mau tahu?” tanyanya
memperhatikan wajahku yang berpeluh.
“Buat apa? Semuanya sudah berakhir.”
Jawabku masih serius dengan pekerjaanku.
“Belum berakhir, masa iddah Kintan
masih satu bulan lagi, Mar.” ia kembali berujar membuatku menelan ludah. Masa
iddah, mungkinkah aku mengajak Kintan rujuk?
“Motormu hampir selesai.” Aku
kembali tak ingin ia mengetahui pemikiranku.
“Hebat, aku baru tahu kamu bisa
perbengkelan, Mar.” Rian memuji sembari melihat-lihat motornya yang telah
kuselesaikan.
“Aku juga baru tahu.” Aku
menyetujui, kuiringin dengan tertawa ringan.
“Kalau aku boleh beri usul, coba
kerja di bengkel deh, Mar. kalau sudah matang, kau boleh buka bengkel sendiri.”
Rian terdengar serius. Aku tersenyum.
“Bolehlah, kapan saja. Aku pamit
kalau begitu.” Kucuci tanganku di keran pendek yang terpasang di samping pohon
bongsai rumah Rian.
“Kok cepet? Makan siang saja
disini.” Riang menawarkan tulus.
“Wah, terimakasih. Aku lebih suka
makan angin.” Jawabku asal. Rian terkekeh. Akupun mengenakan jaket dan bersiap
menaiki motor.
“Mar, kulihat Kintan juga seperti kamu.
Ia mengurus, matanya redup. Kalian saling membutuhkan. Kamu tidak kasihan?” ia
berujar saatku kenakan helmku. Tapi tak kutanggapi.
“Kalau kamu tidak hendak kasihan
sama dirimu yang seperti ini, fikirkan Kintan juga, fikirkan keluargamu juga.”
“Assalamu’alaikum…” aku mengucap
salam tanpa menoleh lagi dan meninggalkan rumah Rian dengan raung motor yang
terdengar ribut. Dan sepanjang perjalanan aku memikirkan kalimat-kalimat Rian.
Kintan…aku menyakitinya banyakkah? Kintanku…aku rindu…sebenarnya sangat.
//
“Iya, Kak … aku minta maaf…”
“Kamu fikir maaf saja cukup?! Aku
tidak suka kamu berlaku demikian pada Ibu, Kintan!!”
“Tidak, Kak. Aku tidak bermaksud
demikian. Aku hanya tidak mendengarnya, aku …”
“Mendengarkan musik di kamar?
Pekerjaan apa itu?”
“Maaf…”
“Kalau tidak bisa berlaku baik sama
Ibu, kamu pulang saja ke rumah orang tuamu!”
“Ya Allah…”
“Iya…untuk apa memelihara kamu kalau
kamu demikian!!!”
“Jadi begitu?! Dulu kakak bilang aku
boleh menulis, rumah ini bising kak! Aku butuh suasana tenang untuk menulis.
Salah aku mendengarkan musik untuk menghidupkan imajinasiku?!”
“Salah kalau Ibu membutuhkanmu dan
kamu tidak bisa mendengarnya!!!”
“Iya, iya!!! Salah! Aku yang salah.
Sekarang mau kakak apa? Cerai?! Fine, ceraikan saja. Bosan juga aku mendengar
ocehan kakak setiap saat. Apa-apa aku buat selalu salah di mata kakak!”
“Jadi kamu meminta?!!”
“Kakak juga bilang begitu tadi!”
“Dimana baktimu, Kintan!!!”
“Kakak juga, tanggung jawabnya
dimana?!”
“Tidak habis fikir aku kamu begini,
ya pulang! Pulang kamu sana!”
“Baik…itu kakak yang minta!!! Dan
ini, ini yang kakak permasalahkan?!!”
Brak!!!
Pecah sudah notebook itu. dan
keheningan yang tercipta selanjutnya menjadi keheningan yang berlanjut.
Keheningan tanpa Kintan.
//
Rindu yang banyak, rasa butuh yang
tidak sedikit, sakit yang tidak main-main tidak juga membuatku segera menjemput
Kintan untuk kembali ke rumah. Tidak untuk alasan apapun. Mungkin sebagai
pemuda, aku memiliki rasa gengsi yang melunjak, dan rasa gengsi itulah yang
menginjak-injak cinta. Kenapa aku harus menjemputnya? Aku selalu menanyakan
masalah itu, dan sederet alasan ‘jangan’ segera memenuhi rongga-rongga
fikiranku.
Hingga suatu malam. Ayah
memanggilku, setelah sekian lama Ibu berhasil mencegahnya untuk mengatakan apapun
padaku. Aku datang pada beliau dengan tampang ceria, berharap tidak dikasihani
atau diumpati kualat olehnya meski dalam hati. Karena dahulunya beliaulah yang
paling tidak menyutujui pernikahan mudaku dengan Kintan.
Setelah duduk di sampingnya, kami memberikan
jeda pada jentikan malam yang masih ramah. Ayah tidak membuka mulut, akupun
enggan menyumbang suara. Kami memang berwatak sama. begitu kebanyakan orang
katakan, dan termasuk Ibu menyetujui.
“Sebenarnya kamu anggap pernikahan
itu apa, Umar?” ini adalah kalimat Ayah yang pertama. Sebuah pertanyaan yang
tidak kufikirkan sebelumnya, aku tidak menjawab. “Ayah tidak mengualatkanmu
atas keras hatimu. Ayah bahkan bangga melihatmu menjadi lelaki bertanggung
jawab selama pernikahanmu dengan Kintan.” Kalimat selanjutnya membuatku
menyeret mataku pada sosoknya yang mulai terlihat mengeriput termakan waktu.
Dan aku masih memilih diam menjadi solusi.
“Kintan anak yang baik. Dia bisa
memberikan nyawa yang berbeda untuk rumah kita. Banyak hal yang sulit disatukan
antara kita dijembataninya. Ia tidak memihak pada siapapun, menyayangi seisi
rumah dengan hati murninya sehingga semua menyayanginya. Semua menjadi tidak
menyayangkan pernikahanmu karena perempuan pilihanmu mestilah tepat.” Aku
menunduk kali ini. aku tahu Kintan begitu, maka itulah aku menikahinya.
“Maafkan aku ayah…” akupun mulai
membuka suara.
“Memang kamu perlu meminta maaf.
Tapi yang paling kami sesalkan kenapa kamu tidak segera menjemput istrimu?
Seandainyapun istrimu bukan Kintan, kalau masalahnya sampai begini kamu tetap
harus menjemputnya. Jangan sampai menunggu iddahnya habis. Semakin tua terasa
gengsimu itu ikut tumbuh. Apa salahnya kamu menjemput istrimu? Turun harga
dirimu untuk sebuah silaturrahmi? Untuk perbuatan memperbaiki hubungan suci?”
kali ini suara Ayah terdengar lebih tegas. Aku menelan ludah dan rasa bersalah
yang bertandang dengan segera.
“Kalau habis masa iddahnya, kamu
ikhlas?” ayah bertanya tanpa menoleh. Aku segera berfikir tentang aturan Islam.
Tentang aturan perceraian yang masa iddahnya habis. Ikhlaskah aku Kintanku
termiliki lelaki lain? Dan aku juga??? Mendadak mataku panas. Dadaku
mengembung, cintaku dan rinduku beraduk menyatu-nyatu di hatiku yang terasa
menyempit.
“Ibumu memang diam, tapi dia mau
kamu menjemput Kintan. Ibumu tidak menyalahkan Kintan atas masalah itu. ia
faham sefaham-fahamnya. Ia menyayangi menantunya itu. Apalagi ia tak memiliki
teman perempuan di rumah ini. liat dirimu juga, berantakan. Rumahpun hampa.
Tega kamu seperti ini?” dengan segera, aku berlutut sembari menangis, meminta
maaf pada Ayahku.
“Aku berjanji akan menjemput Kintan,
Ayah. Aku janji..” ujarku terus menerus dengan deraian air mata seperti
mengulang masa kecil saat meminta mainan baru dari Ayah. Hingga aku merasakan
pening yang sangat di kepalaku. Dan mendadak semuanya gelap.
//
Sakit.
Begitulah kisahku selanjutnya.
Tampaknya Allah ingin aku benar-benar intropeksi diri. Menghargai waktu dengan
lebih baik. Typhus menggerogotiku lantaran tak teratur makan, ditambah lagi
fikiran yang berat dan mengganggu.
Selama sebulan penuh aku diopname.
Aku tidak banyak bicara. Yang aku minta pada Allah adalah kesempatan sebelum
masa iddah Kintanku habis. Kesempatan sehat, agar aku bisa menjemput Kintan.
Kemudian, jika setelahnya aku matipun taka pa. yang penting Kintan kembali ke
rumah.
“Ayah jemputkan untukmu.” Begitu
Ayah memintaku. Tapi sikap keras kepalaku berunjuk.
“Harus aku yang jemput!” aku keras.
Ayah ingin membantah, tapi Ibu menyentuh bahunya menenangkan. Memang kami
jarang bisa melurus. Sifat keras kepalanya yang menurun padaku membuat jalan
fikiran kami beradu.
Dan sayang sekali, thypus ini
lumayan parah. Aku bahkan dilarang dokter untuk banyak bergerak. Inginnya aku
mengumpat. Tapi kutahan, suami Kintan tidak boleh berkata kasar. Begitu hiburku
dalam hati.
Hingga pada suatu sore yang cerah,
sinar matahari menyelinap dari jendela kamar. Sosok yang amat kukenal dan
kucinta itu muncul dengan wajahnya yang tirus. Aku terenyuh, ternyata ungkapan
Rian dulu memang benar. Kintan telah berubah juga. Berubah tak lebih baik sejak
perceraian kami.
“Assalamu’alaikum…” sapanya sedikit
bergetar, ia menatapku dengan mata prihatin. Dan aku menikmatinya, itu tandanya
ia pasti masih mencintaiku. Aku tersenyum sembari menyambut salamnya.
“Sudah baikan?” tanyanya
menghadiahiku senyuman khasnya. Aku rindu pada senyumnya itu. rasanya aku ingin
bangkit dan memeluknya.
“Alhamdulillah…sudah. Bagaimana
keadaanmu?” tanyaku sedikit canggung.
“Syukurlah kalau begitu. Maaf baru
datang sekarang.” ia tak menjawab pertanyaanku. Ia menaruh bawaannya diatas
meja, buah kesukaanku.
“Kintan, kembalilah…” aku menatapnya
tulus. Kuusahakan suaraku menyiratkan keseriuasan dan ketulusan. “Aku tidak
bisa menjemputnya karena sakit ini. seharusnya aku menjemputmu sebulan yang
lalu.” aku melanjutkan, “Kintan rujuklah denganku.” Akupun mempertegas. Kintan
menunduk. Ada bening yang menetes diantara jilbab hitam manis yang
dikenakannya. Melihat itu aku menelan ludah pahit, berharap sesuatu terburuk
itu belum…dan tidak akan terjadi.
“Kintan…aku minta maaf…”
“Tidak bisa, Kak.” Bergetar suara
Kintan membuat tubuhku bergetar juga. Mungkinkah?
“Maksudmu?” akupun memberanikan
diriku bertanya.
“Masa iddahku habis …” sekerat
kalimat itu saja. Membuatku tak mengingat apa-apa lagi selain wajahnya yang
basah sedikit menoleh padaku.
//
Setahun kemudian…
Aturan Islam sudah jelas, aku tidak
bisa melangkahi apapun. Aku harus melepas Kintanku karena keras hatiku.
Penyesalan besar membuatku menanam cinta yang kian dalam pada Kintan.
Kenangan-kenangan manis bersamanya menjadikanku melemah dan menguat seiring
waktu. Aku bahkan tidak berani berharap ia akan kembali padaku…
Bagaimana aku akan menikahi wanita
lain selama Kintan masih di hatiku?
Akupun membuka bengkel sesuai usul
Rian. Dan Alhamdulillah semuanya berjalan memuaskan, bahkan dalam setahun aku
membuka dua cabang lagi. Yah, Allah memang menggantikan sesuatu yang hilang
dengan sesuatu yang lebih baik. Tapi, Kintan tidak seharga uang-uang dan
kemewahan yang aku dapatkan.
Tidak sama sekali.
Kintan adalah seberharga
kepergiannya. Mungkin jika Allah tidak menjauhkannya dariku aku tidak faham
bagaimana berharganya Kintan. Jadi, inilah pelajaran hidupku. Sepanjang
nafasku, aku tulus berdo’a untuk kebaikan Kintan. Pada janin yang dikandungnya
setelah menikah lagi beberapa tahun kemudian (yang sempat membuatku tidak bisa
menelan nasi beberapa hari) dan berdo’a semoga orang lain tidak sepertiku.
Jemputlah cinta kalian semasih waktu
membolehkan, sebelum semuanya terlambat, hingga jangankan menjemput.
Berharappun kita takut untuk ‘kembali’nya. Maafkanlah salah, karena sebenarnya
kita memiliki cinta yang lebih banyak dan luas dari kesalahan yang ada.
Bukankah Allah menyatukan kita karena kita memang seharusnya begitu? Jemputlah,
sebelum cinta itu tumbuh dengan penyesalan J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar