Rabu, 16 Juli 2014

Hilang..

Datang …. Lagi
            aku berbaring menatap langit-langit kamar yang terlihat kotor dengan jarring laba-laba. Entah, kata orang alim jarring laba-laba bisa menghalangi rezeki. Entah lagi, aku tidak terlalu terpengaruh tentang itu, mungkin karena tidak yakin. Tapi sejak ia pergi rasanya itu benar.
            Tidak ada yang membersihkan rumah ini lagi seperti ia, tidak ada yang merawatku seperti ianya yang aku nikmati, tak ada aroma dia lagi di sekelilingku. Apa ini? aku memang harus benar-benar mengakui kalau aku telah kehilangan dia, kehilangan istriku tercinta.
            Di usia semuda ini, aku telah menjadi duda. Menyendiri dengan tampang lusuh yang tampak tak terhidupi roh. Menguntit kegelapan dengan nafsu yang bahkan redup. Dan di usia semuda ini aku telah menjadikan seorang wanita yang bahkan lebih muda menjadi janda.
            Aaah!!!!
            Kuurut wajahku dengan telapak tanganku yang terasa kasar. Bagaimana semuanya begitu cepat? Hanya dengan alasan sepele dan emosi yang dangkal, semuanya terjadi saja. Dan semuanya berubah dengan segera. Hebat bukan?!
            “Umar, makan.” Kudengar panggilan dari arah pintu. aku menatap wajah tua Ibuku yang saat ini memang hanya mata itulah yang membuatku bertahan. Akupun bangkit membawa tubuhku yang kian mengurus menghampirinya. Merangkul tubuh gempalnya yang kini berukuran berpuluh senti dari tinggiku.
            “Iya, Bundaaa…ada menu apa?” tanyaku bermanja. Ia tersenyum menikmati saja.
            “Kesukaanmu.” Ibu memang sering menyenangkan hatiku akhir-akhir ini. entah itu dengan memasakkan menu kesukaanku, membelikan beberapa kemeja baru dengan warna kesukaanku juga, atau hanya sekedar mendiamkanku bermeditasi dengan kehidupanku. Akhirnya sesampai di dapur kunikmati masakannya yang has dengan nafsu yang kuundang-undang sendiri. Percerainku dengan Kintan telah memasuki bulan ke dua, tapi semua orang apalagi Ibu pasti merasakan aku berubah.
            Pernikahan muda, begitu awalnya. Aku terlalu yakin semuanya akan baik-baik saja. Aku terlalu percaya semuanya akan biasa dan pasti bisa. Rumah bahkan belum berdiri, dan pekerjaan aku hanya mengandalkan honor kelas private yyang aku ajarkan. Orang tuaku jelas melarang, meski orang tua Kintan bisa mengerti. Tapi watakku yang keras dan suka segala hal yang instan membuatku melewati semua palang peringatan. Akhirnya efeknya aku temukan setelah setengah tahun pernikahan. Kintan istri yang baik, dewasanya terlihat, perhatiannya penuh. Tapi usia kami yang memang masih muda mengundang cek cok yang terbilang sering. Hal-hal sepele yang tak kusuka atau tak ia suka menjadikan saat seketika berubah.
            Misalkan saja aku yang pulang telat, masakan tak terlalu enak, pakaian tak rapi, perkataannya yang tak terlalu kuperhatikan, keteledoran yang tak disengaja. Semuanya, masalah-masalah sekecil itu menjadikan cek cok yang kadang tak berujung dan membuatku mendapati punggungnya di ranjang.
            Kintan memang seringkali mengalah menghadapiku, tapi bagiku aku lebih sering mengalah menghadapinya yang terkadang terlalu membesar-besarkan masalah. Dulu sebelum menikah Kintan tidak berlaku demikian, tapi selepas menikah ia jadi lebih sensitive dan lebih serung berkomentar pedas. Bahkan jilbabnya jadi mengambang kulihat karena sifatnya.
            Ah, kenapa pula aku mengingat-ingat dia.
            Segera kuselesaikan makanku, aku harus mengurus sesuatu.
//
            “Kemarin aku lihat Kintan, Mar.” Rian sahabat lamaku memulai percakapan menungguku memperbaiki rantai motornya yang sedikit bermasalah. Aku diam tak kutanggapi, meski kutahu ada rasa penasaran di hatiku. Besar ukurannya.
            “Kamu nggak mau tahu?” tanyanya memperhatikan wajahku yang berpeluh.
            “Buat apa? Semuanya sudah berakhir.” Jawabku masih serius dengan pekerjaanku.
            “Belum berakhir, masa iddah Kintan masih satu bulan lagi, Mar.” ia kembali berujar membuatku menelan ludah. Masa iddah, mungkinkah aku mengajak Kintan rujuk?
            “Motormu hampir selesai.” Aku kembali tak ingin ia mengetahui pemikiranku.
            “Hebat, aku baru tahu kamu bisa perbengkelan, Mar.” Rian memuji sembari melihat-lihat motornya yang telah kuselesaikan.
            “Aku juga baru tahu.” Aku menyetujui, kuiringin dengan tertawa ringan.
            “Kalau aku boleh beri usul, coba kerja di bengkel deh, Mar. kalau sudah matang, kau boleh buka bengkel sendiri.” Rian terdengar serius. Aku tersenyum.
            “Bolehlah, kapan saja. Aku pamit kalau begitu.” Kucuci tanganku di keran pendek yang terpasang di samping pohon bongsai rumah Rian.
            “Kok cepet? Makan siang saja disini.” Riang menawarkan tulus.
            “Wah, terimakasih. Aku lebih suka makan angin.” Jawabku asal. Rian terkekeh. Akupun mengenakan jaket dan bersiap menaiki motor.
            “Mar, kulihat Kintan juga seperti kamu. Ia mengurus, matanya redup. Kalian saling membutuhkan. Kamu tidak kasihan?” ia berujar saatku kenakan helmku. Tapi tak kutanggapi.
            “Kalau kamu tidak hendak kasihan sama dirimu yang seperti ini, fikirkan Kintan juga, fikirkan keluargamu juga.”
            “Assalamu’alaikum…” aku mengucap salam tanpa menoleh lagi dan meninggalkan rumah Rian dengan raung motor yang terdengar ribut. Dan sepanjang perjalanan aku memikirkan kalimat-kalimat Rian. Kintan…aku menyakitinya banyakkah? Kintanku…aku rindu…sebenarnya sangat.
//
            “Iya, Kak … aku minta maaf…”
            “Kamu fikir maaf saja cukup?! Aku tidak suka kamu berlaku demikian pada Ibu, Kintan!!”
            “Tidak, Kak. Aku tidak bermaksud demikian. Aku hanya tidak mendengarnya, aku …”
            “Mendengarkan musik di kamar? Pekerjaan apa itu?”
            “Maaf…”
            “Kalau tidak bisa berlaku baik sama Ibu, kamu pulang saja ke rumah orang tuamu!”
            “Ya Allah…”
            “Iya…untuk apa memelihara kamu kalau kamu demikian!!!”
            “Jadi begitu?! Dulu kakak bilang aku boleh menulis, rumah ini bising kak! Aku butuh suasana tenang untuk menulis. Salah aku mendengarkan musik untuk menghidupkan imajinasiku?!”
            “Salah kalau Ibu membutuhkanmu dan kamu tidak bisa mendengarnya!!!”
            “Iya, iya!!! Salah! Aku yang salah. Sekarang mau kakak apa? Cerai?! Fine, ceraikan saja. Bosan juga aku mendengar ocehan kakak setiap saat. Apa-apa aku buat selalu salah di mata kakak!”
            “Jadi kamu meminta?!!”
            “Kakak juga bilang begitu tadi!”
            “Dimana baktimu, Kintan!!!”
            “Kakak juga, tanggung jawabnya dimana?!”
            “Tidak habis fikir aku kamu begini, ya pulang! Pulang kamu sana!”
            “Baik…itu kakak yang minta!!! Dan ini, ini yang kakak permasalahkan?!!”
            Brak!!!
            Pecah sudah notebook itu. dan keheningan yang tercipta selanjutnya menjadi keheningan yang berlanjut. Keheningan tanpa Kintan.
//
            Rindu yang banyak, rasa butuh yang tidak sedikit, sakit yang tidak main-main tidak juga membuatku segera menjemput Kintan untuk kembali ke rumah. Tidak untuk alasan apapun. Mungkin sebagai pemuda, aku memiliki rasa gengsi yang melunjak, dan rasa gengsi itulah yang menginjak-injak cinta. Kenapa aku harus menjemputnya? Aku selalu menanyakan masalah itu, dan sederet alasan ‘jangan’ segera memenuhi rongga-rongga fikiranku.
            Hingga suatu malam. Ayah memanggilku, setelah sekian lama Ibu berhasil mencegahnya untuk mengatakan apapun padaku. Aku datang pada beliau dengan tampang ceria, berharap tidak dikasihani atau diumpati kualat olehnya meski dalam hati. Karena dahulunya beliaulah yang paling tidak menyutujui pernikahan mudaku dengan Kintan.
            Setelah duduk di sampingnya, kami memberikan jeda pada jentikan malam yang masih ramah. Ayah tidak membuka mulut, akupun enggan menyumbang suara. Kami memang berwatak sama. begitu kebanyakan orang katakan, dan termasuk Ibu menyetujui.
            “Sebenarnya kamu anggap pernikahan itu apa, Umar?” ini adalah kalimat Ayah yang pertama. Sebuah pertanyaan yang tidak kufikirkan sebelumnya, aku tidak menjawab. “Ayah tidak mengualatkanmu atas keras hatimu. Ayah bahkan bangga melihatmu menjadi lelaki bertanggung jawab selama pernikahanmu dengan Kintan.” Kalimat selanjutnya membuatku menyeret mataku pada sosoknya yang mulai terlihat mengeriput termakan waktu. Dan aku masih memilih diam menjadi solusi.
            “Kintan anak yang baik. Dia bisa memberikan nyawa yang berbeda untuk rumah kita. Banyak hal yang sulit disatukan antara kita dijembataninya. Ia tidak memihak pada siapapun, menyayangi seisi rumah dengan hati murninya sehingga semua menyayanginya. Semua menjadi tidak menyayangkan pernikahanmu karena perempuan pilihanmu mestilah tepat.” Aku menunduk kali ini. aku tahu Kintan begitu, maka itulah aku menikahinya.
            “Maafkan aku ayah…” akupun mulai membuka suara.
            “Memang kamu perlu meminta maaf. Tapi yang paling kami sesalkan kenapa kamu tidak segera menjemput istrimu? Seandainyapun istrimu bukan Kintan, kalau masalahnya sampai begini kamu tetap harus menjemputnya. Jangan sampai menunggu iddahnya habis. Semakin tua terasa gengsimu itu ikut tumbuh. Apa salahnya kamu menjemput istrimu? Turun harga dirimu untuk sebuah silaturrahmi? Untuk perbuatan memperbaiki hubungan suci?” kali ini suara Ayah terdengar lebih tegas. Aku menelan ludah dan rasa bersalah yang bertandang dengan segera.
            “Kalau habis masa iddahnya, kamu ikhlas?” ayah bertanya tanpa menoleh. Aku segera berfikir tentang aturan Islam. Tentang aturan perceraian yang masa iddahnya habis. Ikhlaskah aku Kintanku termiliki lelaki lain? Dan aku juga??? Mendadak mataku panas. Dadaku mengembung, cintaku dan rinduku beraduk menyatu-nyatu di hatiku yang terasa menyempit.
            “Ibumu memang diam, tapi dia mau kamu menjemput Kintan. Ibumu tidak menyalahkan Kintan atas masalah itu. ia faham sefaham-fahamnya. Ia menyayangi menantunya itu. Apalagi ia tak memiliki teman perempuan di rumah ini. liat dirimu juga, berantakan. Rumahpun hampa. Tega kamu seperti ini?” dengan segera, aku berlutut sembari menangis, meminta maaf pada Ayahku.
            “Aku berjanji akan menjemput Kintan, Ayah. Aku janji..” ujarku terus menerus dengan deraian air mata seperti mengulang masa kecil saat meminta mainan baru dari Ayah. Hingga aku merasakan pening yang sangat di kepalaku. Dan mendadak semuanya gelap.
//
            Sakit.
            Begitulah kisahku selanjutnya. Tampaknya Allah ingin aku benar-benar intropeksi diri. Menghargai waktu dengan lebih baik. Typhus menggerogotiku lantaran tak teratur makan, ditambah lagi fikiran yang berat dan mengganggu.
            Selama sebulan penuh aku diopname. Aku tidak banyak bicara. Yang aku minta pada Allah adalah kesempatan sebelum masa iddah Kintanku habis. Kesempatan sehat, agar aku bisa menjemput Kintan. Kemudian, jika setelahnya aku matipun taka pa. yang penting Kintan kembali ke rumah.
            “Ayah jemputkan untukmu.” Begitu Ayah memintaku. Tapi sikap keras kepalaku berunjuk.
            “Harus aku yang jemput!” aku keras. Ayah ingin membantah, tapi Ibu menyentuh bahunya menenangkan. Memang kami jarang bisa melurus. Sifat keras kepalanya yang menurun padaku membuat jalan fikiran kami beradu.
            Dan sayang sekali, thypus ini lumayan parah. Aku bahkan dilarang dokter untuk banyak bergerak. Inginnya aku mengumpat. Tapi kutahan, suami Kintan tidak boleh berkata kasar. Begitu hiburku dalam hati.
            Hingga pada suatu sore yang cerah, sinar matahari menyelinap dari jendela kamar. Sosok yang amat kukenal dan kucinta itu muncul dengan wajahnya yang tirus. Aku terenyuh, ternyata ungkapan Rian dulu memang benar. Kintan telah berubah juga. Berubah tak lebih baik sejak perceraian kami.
            “Assalamu’alaikum…” sapanya sedikit bergetar, ia menatapku dengan mata prihatin. Dan aku menikmatinya, itu tandanya ia pasti masih mencintaiku. Aku tersenyum sembari menyambut salamnya.
            “Sudah baikan?” tanyanya menghadiahiku senyuman khasnya. Aku rindu pada senyumnya itu. rasanya aku ingin bangkit dan memeluknya.
            “Alhamdulillah…sudah. Bagaimana keadaanmu?” tanyaku sedikit canggung.
            “Syukurlah kalau begitu. Maaf baru datang sekarang.” ia tak menjawab pertanyaanku. Ia menaruh bawaannya diatas meja, buah kesukaanku.
            “Kintan, kembalilah…” aku menatapnya tulus. Kuusahakan suaraku menyiratkan keseriuasan dan ketulusan. “Aku tidak bisa menjemputnya karena sakit ini. seharusnya aku menjemputmu sebulan yang lalu.” aku melanjutkan, “Kintan rujuklah denganku.” Akupun mempertegas. Kintan menunduk. Ada bening yang menetes diantara jilbab hitam manis yang dikenakannya. Melihat itu aku menelan ludah pahit, berharap sesuatu terburuk itu belum…dan tidak akan terjadi.
            “Kintan…aku minta maaf…”
            “Tidak bisa, Kak.” Bergetar suara Kintan membuat tubuhku bergetar juga. Mungkinkah?
            “Maksudmu?” akupun memberanikan diriku bertanya.
            “Masa iddahku habis …” sekerat kalimat itu saja. Membuatku tak mengingat apa-apa lagi selain wajahnya yang basah sedikit menoleh padaku.
//
            Setahun kemudian…
            Aturan Islam sudah jelas, aku tidak bisa melangkahi apapun. Aku harus melepas Kintanku karena keras hatiku. Penyesalan besar membuatku menanam cinta yang kian dalam pada Kintan. Kenangan-kenangan manis bersamanya menjadikanku melemah dan menguat seiring waktu. Aku bahkan tidak berani berharap ia akan kembali padaku…
            Bagaimana aku akan menikahi wanita lain selama Kintan masih di hatiku?
            Akupun membuka bengkel sesuai usul Rian. Dan Alhamdulillah semuanya berjalan memuaskan, bahkan dalam setahun aku membuka dua cabang lagi. Yah, Allah memang menggantikan sesuatu yang hilang dengan sesuatu yang lebih baik. Tapi, Kintan tidak seharga uang-uang dan kemewahan yang aku dapatkan.
            Tidak sama sekali.
            Kintan adalah seberharga kepergiannya. Mungkin jika Allah tidak menjauhkannya dariku aku tidak faham bagaimana berharganya Kintan. Jadi, inilah pelajaran hidupku. Sepanjang nafasku, aku tulus berdo’a untuk kebaikan Kintan. Pada janin yang dikandungnya setelah menikah lagi beberapa tahun kemudian (yang sempat membuatku tidak bisa menelan nasi beberapa hari) dan berdo’a semoga orang lain tidak sepertiku.

            Jemputlah cinta kalian semasih waktu membolehkan, sebelum semuanya terlambat, hingga jangankan menjemput. Berharappun kita takut untuk ‘kembali’nya. Maafkanlah salah, karena sebenarnya kita memiliki cinta yang lebih banyak dan luas dari kesalahan yang ada. Bukankah Allah menyatukan kita karena kita memang seharusnya begitu? Jemputlah, sebelum cinta itu tumbuh dengan penyesalan J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar