Minggu, 23 November 2014

kalau dengannya aku bisa begini...


                “Kalau dengannya aku bisa begini,” Syifa membelalakkan mata demi melihat apa yang dilakukan lelaki kekasihnya di depannya, tapi sekejap kemudian ia menunduk. Rudy melihat dengan mata terbelalak pula. Ia melihat Syifa yang menunduk dengan prihatin, ada satu titik bening yang jatuh dari wajah tertunduk itu.
                “Kamu dengan jilbab besar, pakaian tertutup begitu apa yang bisa aku dapatkan? Tak menarik sama sekali!” Lelaki terkasih itu kembali melanjutkan ucapan pedasnya setelah menyelesaikan aksinya. “Islam, Islam…ituuu saja yang kamu katakana. Sepenting apa pula agama itu bagi kamu!”
                “Astaghfirullah,!” Syifa mengangkat wajahnya sembari mengusap pipinya yang basah anak sungai, “Kakak boleh menghina saya, keluarga saya, apapun tentang saya. Tapi jangan pernah menghina agama saya!” Untuk pertama kalinya Syifa bersuara keras dan tegas, Rudypun tercengang dibuatnya. Sedang lelaki terkasih itu merasa terhina dengan cara Syifa menatapnya. Ia ingin membalas tapi terdahului Syifa. “Semoga Allah memberikan penerangan.” Kemudian Syifa berlalu tanpa salam. Langkah cepatnya menggambarkan gusar dalam hatinya. Lelaki terkasih itu menatap punggung Syifa dengan perasaan tak menentu. Rudy mendekatinya dan tanpa berucap apa-apa…
                Bugh!
                Sebuah bogem mentah mendarat tepat di pipi kiri lelaki terkasih itu. gadis dalam rengkuhannya itu menjerit kaget.
                “Sungguh, aku tidak pernah berfikir kamu akan menginjak-injak harga dirimu di depan Syifa seperti ini!!!” Geram Rudy menatap marah pada lelaki terkasih itu, kemudian pada gadis yang tak berani menatap balik padanya. Ia lantas berlalu. Lelaki terkasih itu mengusap ujung bibirnya yang berasa cairan amis.
*

                Syifa duduk terpekur di bemo yang melaju. Tak habis fikir kenapa lelaki terkasih itu bisa berbuat begitu di hadapannya..? mencium bibir seorang gadis di depan mata kepalanya sendiri!! Syifa jadi teringat bagaimana baik dan alimnya lelaki terkasih itu. tapi sudahlah, ia tak ingin begitu menikkmati keterpurukannya, yang ia butuhkan saat ini adalah 

JUP.....

Prang!!!
Astaghfirullah…!!! Aku terbangun dari lelapku, apa itu? okay, itu sesuatu yang pecah. Tapi apa? Piring? Gelas? Mangkok? Apa?
Perasaan gelisah mulai merambat di hatiku, apa kucing masuk dapur ya? Kuputuskan untuk bangun saja, pelan-pelan agar sosok di sampingku tidak terganggu, aku berdo’a suara tadi tidak mengganggunya juga…amin.
Kusingkap pelan selimut, kuturunkan kaki dari ranjang.
Cklek.
Degh!!! Astaghfirullah…pintu kamar terbuka?!! Siapa yang membukanya? Bukankah terkonci dari dalam? Aku semakin was-was, tubuh memproduksi keringat dingin cepat. Ada orang asing di rumah? Siapa? Maling? Perampok? Aku harus membangunkannya, tapi apa memang harus?
Tap, tap, tap
Langkah, terdengar masuk ke kamar, pintu tertutup. Dan aku kini sempurna gemetar, siapa.
Tek!
Lampu menyala, silau. Aku menutup mata.
                “Astaghfirullah, By ganggu ya?”
                Aku tertegun demi mendengar suara itu. aku menoleh ke belakang membuka mata, benar saja, tidak ada sesiapa disampingku. Aku menoleh kembali. Kutemukan wajah indah tersenyum begitu lembut padaku.
                “Maaf, Sayang. Tadi di dapur cari makanan, piringnya pecah satu. Kamu kaget, ya? By benar-benar minta maaf, ya?” Dia nyengir tampak tak berdosa. Aku menghela nafas dalam. Ya, tentu saja taka pa-apa.
                “Alhamdulillah, saya kira ada maling td.” Ujarku jujur. Dia terkekeh sekhas yang ia miliki lantas duduk di sampingku.
                “Keliatannya takut banget, sampe keringetan gitu.” Dia menggodaku dengan memperhatikan wajahku.
                “Yalah, tengah malam begini….” Aku membela diri.
                “Hehehe, tengah malem?” Ia mengusap keringat di dahiku, “Coba lihat jam berapa sekarang!” Pintanya, aku melirik jam kecil diatas meja. Astaghfirullah, hampir jam empat dini hari. Pantes saja cari dapur, tadi malam dia tertidur sebelum makam malam.
                “Yuk!” Ajakku, ia mengangguk menyilahkanku ke kamar mandi lebih dulu. Maklumlah, dia paham betul kalau aku lelet. Sekitar seperempat jam, kami sudah berhadapan dengan Ilah dalam jama’ah.
                Sunyi sekali, dan amat sangat terasa indah.
*
                “Duuh, air matanya!” Dia menggodaku ketika aku mencium punggung tangannya setelah wirid di pagi subuh.
                “Kaya’nya dia nggak aja, itu!” Aku menunjuk bening di bulu matanya. Ia tertawa mengusap kepalaku sayang. Damai sekali, terharu lagi. Jika menyadari betapa aku tidak bisa menjadi pantas di hadapannya, dan betapa begitu sabar ia menerimaku. Dia benar-benar luar biasa…
                “Lho, kok diem. Biasanya setelah subuh ada bacaan Qur’an istri tercinta…” Ia menggodaku lagi, masih dengan berjuta-juta sabar yang ia pelihara. Aku tersenyum dengan bibir bergetar, ia memperhatikan perubahan di wajahku. Menghela nafas dalam kemudian mendekat padaku, sedekat yang ia mampu.
                “Apa lagi dengan air mata itu, hum?” Tanyanya, aku mengusap pipiku sembari menggeleng. Tak ingin memberatkan lagi…
                “By yang ngaji ya?” Pintaku. Ia tersenyum kemudian menyentuh dahiku dengan ibu jarinya.
                “Jangan lagi, kan By bilang…” Ia menyelam di mataku dengan pandangannya, aku tak bisa menahan air mataku untuk tumpah lagi, ya jangan lagi…tapi lagi-lagi tak mampu. Aku sesegukkan. Ini, bukan kebahagiaan begini sebenarnya. Bukan, bukan, bukan. Bukan baik, bukan.
                Lama, ia menenggelamkan wajahku di dadanya yang tetap berdegup tenang. Aku sungguh-sungguh rapuuhhh sekali. Bahkan untuk menghentikan tangispun tak bisa sendiri. Tak bisa membahagiakannya…
                “Tidak bisa!”
                Runtuh, langitku runtuh cukup dengan dua kata itu. tidak bisa, ya tidak bisa. Tidak bisa memberikan seorang bayipun. Lemas, persendianku serasa putus smua, tulangku patah. Semuanya, semuanya terasa mengambang…tidak ada bayi, tidak bisa ada bayi di rahim…
                “Ingat Allah, Sayang!” Aku lupa ketika itu aku dipeluk oleh Imamku, aku tidak merasakan kehangatannya untuk kali itu. tapi aku bisa mendengar kalimat itu. Ingat Allah, Sayang. Ingat Allah. Aku mengulang-ulang kalimat itu dalam benakku, menggigit bibir dengan gemetar, dan akhirnya kembali menangis hingga terbangun di atas ranjang rumah kami. Dan di sampingku ada dia dengan senyum yang masih sama.
Kembali, menangis lagi tanpa jeda. Ia menatapku dengan sebongkah kekuatan yang selalu berhasil ia pegang. Ia tak pernah melepas jemariku, seingatku sampai aku benar-benar tenang. Semua mengerti keadaanku, keluargaku, keluarganya…tidak ada yang menuntutku. Hanya saja ada satu orang yang tak bisa mengerti ini semua, kenapa semua bisa terjadi padaku, dan orang itu adalah aku sendiri.
Suamiku tidak berbicara sepatah katapun selama menggenggam jemariku selama itu, ia menghargai kerapuhanku, ia tak ingin mengganggu duniaku. Ia hanya ingin aku tau ia ada di sampingku dan selalu begitu, tanpa ingin mengikutcampuri urusanku.
Baik, bukan?
Hingga suatu hari, ia melepas genggamannya dan aku mulai merasakan ketakutan yang luar biasa. Aku takut ia meninggalkanku. Tapi tak lama jemari itu ada di bahuku, meremasnya pelan dengan sayang.
                “Sudah lebih dari wajar, By selalu shalat sendiri, mau temani By shalat?” Ia bertanya pelan sekali, tak ada nada harapan disana, tak ada paksaan. Dan entah kenapa, aku mengangguk. Akhirnya, sore itu kami menggelar sajadah bersama dan shalat dengan diam..
Akhir shalat kukecup punggung tangan itu dalam diam. Rata rasanya perasaanku.
                “Sini, By kasi tau sesuatu!” Ia merengkuh tubuhku dekan dengannya, aku masih rata. “Kamu yang tebaik, Sayang!” Ia berucap pelan, seolah tak ada yang boleh mendengar kecuali aku, aku masih setia pada diamku, menatap pada sesuatu yang tak terlihat, entah apa akupun tak melihatnya. “Kamu yang terbaik…selamanya…” Ia mengulanginya lagi, dan aku masih seperti tadi.
                “Kamu tau kenapa aku mencintaimu?” Ia bertanya. Aku diam, masih begitu dengan gelenganku, ia tersenyum “Kamu ingin tau sejak lama, kan? Dan sekarang adalah saat yang baik untuk mengetahuinya. Dengarkan dengan seluruh baik yang kamu miliki…” Ia mengangkat daguku dan mengikat padanganku pada kedalaman matanya, aku menelan ludah. “Tidak ada alasan kongkrit kenapa aku mencintaimu, Nay. Tidak ada. Akupun sudah lama, sejak lama mencari alasan itu, tapi tidak pernah kutemukan. Aku hanya mendapati bahwa aku mencintaimu, itu saja. Dan aku setuju pada semuanya, bahwa memang tidak butuh alasan untuk mencitai. Jadi cinta itu tidak akan mati ketika alasan itu memudar, kan?” Ia mengambil jeda dengan sebuah senyuman, entah kenapa ujung bibirku tertarik, aku menyetujui ucapannya.
                “Apapun yang tertulis untukku aku tetap mencintaimu, apapun yang tertulis padamu aku akan tetap mencintaimu, dan apapun yang tertulis pada kita aku akan tetap mencintaimu, dengan izin-Nya.” Dadaku berdesir, kurasakan genggaman tangannya begitu lembut pada jemariku.
                “Jangan kau gugat Tuhan dengan takdir terbaik yang ia pilihkan, Sayang. Ingat kan, yang terbaik menurut kita belum tentu yang terbaik untuk kita. Ia yang Mahatahu akan memberikan itu. dan akan memberikan kadar yang sesuai dengan mampu kita,..” Lagi-lagi senyuman.
                “Dia memberimu ini dan memberimu aku. Dia memberiku ini dan memeberiku kamu, kita patut bersyukur…tidak ada yang harus ditangisi,” Ia menggelengkan kepalanya, “Tidak ada, Sayang. Kamu dengar?” Ia bertanya pelan, aku mengangguk pelan, “Kamu pahami pula, kan?” Bertanya lagi, dan aku mengangguk lagi, basah mukenahku dengan haru yang dituangkan air mata, ia mengecup keningku sayang dan memelukku erat.
                “Aku tidak ingin apa-apa,,,aku hanya mencintaimu. Cukup begitu….”
                Dan susah payah dengan nafas tersendat, aku membalasnya.
                “Terimakasih banyak…”


indah pada saatnya...


                “Kakak, nikah ayok!” Ucapku menatap langit hitam yang indah dengan kerlipan bintangnya.
                “Sabar, dik. Adik masih nyusun skripsi, selesaikan dulu ya?” Ia terdengar begitu sabar menghadapi keinginanku.
                “Memangnya tidak bisa ya, kak? Tidak bisa sekarang?” Tanyaku masih setia pada langit.
                “Kita mesti sabar, sabar sebentar saja. Kita kan sudah punya rencana…” Ia masih bernada rendah seperti sebelumnya.
                “Bukankah dari dulu jika kita membuat rencana, jalannya selalu tidak sesuai dengan rencana kita?” Aku berucap sedikit menekan.
                “InsyaAllah ini rencana baik, kita istikharahkan. Allah pasti akan realisasikan dengan cara-Nya yang terbaik. Ada waktunya.” Mendengar nada kalimatnya, aku bisa menebak kalau ia sedang tersenyum.
                “Jodoh itu memang di tangan-Nya, Kak. Tapi kita sepakat, jika kita tidak mengambilnya, ia akan tetap disana” Aku menutup korden jendela kamar dan menyusuri pinggiran ranjang.
                “Itulah dia, Manis. Kita tentukan hari baik itu,…sabar sedikit saja, setiap sesuatu akan indah pada saatnya.”
                “Assalamu’alaikum”
                Tut,
                Kumatikan HP dengan wajah sedikit kusut. Entah kenapa penolakan ini membuatku sedikit emosi. Apa bedanya menikah sekarang dengan nanti? Semuanya sama saja, kan? Ia akan menjadi suami dan aku akan menjadi istri. Kenapa begitu sulit meyakinkannya????
#
                “Gimana skripsimu?” Kakak perempuanku yang kini tinggal di luar kota dengan suaminya terdengar perhatian di ujung telpon.
                “Alhamdulillah, tinggal bab penutup, kak. Doa’ain ajah, dua bulan lagi teteh kesini buat menghadiri wisudaku!” Aku tersenyum.
                “InsyaAllah…masa-masa seperti ini kamu harus focus, jangan berfikir macam-macam dan aneh-aneh.” Kakak masih sama seperti kami bersama dulu, cerewet yang penuh perhatian.
                “Aku mau nikah, teh” Entah kenapa tanpa aku niatkan keluar saja kalimat itu.
                “Menikah?” Kakak sulungku itu terdengar kaget. Wajar bukan? Baru saja ia memperingatiku agar tidak berfikir macam-macam.
                “Iya, aku mau kak Fata menikahiku.” Aku berusaha tenang.
                “Kamu selesaikan saja dulu sekripsimu, tinggal selangkah itu.” Kakak memberi saran dengan was-was yang terdengar ditekan. Ia paham betul dengan sikapku, karena diantara tiga saudaraku dialah yang paling dekat denganku. Jika aku memiliki keiinginan, maka itu harus tercapai, harus. Jika tidak, maka keluarga pasti akan waspada pada tindakanku. Meskipun bungsu, akulah yang paling keras, atau memang anak bungsu itu cenderung begitu ya? Entahlah, tapi aku juga merasa keegoisanku ini. Tapi, meski begitu aku tidak berusaha mengalahkannya.
                “Aku…mau menikah hari-hari ini, Kak. Skripsi ini sudah rampung, tinggal penutup. Untuk ujiannya besok, aku rasa akan lebih siap jika disamping kak Fata, teh” Aku mengutarakan hal yang sebenarnya terfikir di benakku.
                “Jangan berfikir begitu mudah, Sayang. Menurutmu mudah menjadi seorang istri?” Kakak sulungku itu masih saja lembut. Aku diam sesaat menarawang, berfikir.
                “Mudah…? Entahlah, Teh. Yang jelas untuk saat ini, aku ingin menikah!” Aku keuh-keuh dengan pemikiranku. Terdengar hembusan nafas di seberang. Sabarnya biasanya mampu mengalahkanku, tapi kali ini aku sungguh-sungguh ingin. Memangnya kapan aku tidak sungguh-sungguh jika ingin sesuatu, meskipun itu sepele?
                “Sudah bilang sama Fata?” Tanyanya kemudian.
                “Sudah,” Jawabku sekenanya.
                “Dia bilang apa?”
                “Dia menyuruhku selesaikan skripsiku dulu. Setelah wisudaku ia akan melamar ke rumah” Aku menjelaskan, kurasa kakak sulungku tersenyum diujung sana.
                “Fata benar, Sayang. Kamu tidak boleh setengah-setengah. Nanti hasilnya bisa tidak memuaskan…”
                “Setidaknya tidak mengecawakan, Teh.” Aku menyambut.
                “Baiklah, bagaimana tanggapan Bunda?”
                “Aku belum bilang, akhir-akhir ini Bunda sering sakit, Teh.”
                “Lho, kok tidak ada kabar?”
                “Cuma sakit ringan, Bunda bilang tidak memberi tahu sesiapa.” Aku jadi sedikit lesu, sepertinya kakak tidak mendukung keinginanku. Dan entah tanpa sengaja kumatikan hubungan tanpa salam.
#
                Aku mengenal kak Fata seperti aku memahami kekuranganku. Ia menyempurnakanku dengan cara yang unik. Dan aku sangat menikmati itu. aku orangnya cepat bosan, dan ia bisa mengalahkan rasa itu, ia bisa menguasaiku dengan lembut, menekan egonya hanya demi kemaslahatanku, ah berlebihan. Tapi aku merasa sangat-sangat ingin bersanding dengannya. Tak perduli ia siapa, tak peduli aku siapa, aku hanya ingin mengabdi pada imam sepertinya.
                Hampir 5 tahun sudah hubungan kami, beberapa buah kecut telah kami bagi bersama dan mengambil manisnya dengan kebijakan, dia tentu saja. Seperti yang telah aku tulis, aku ini adalah sosok yang egois, tidak bisa memiliki keinginan, itu harus tercapai. Dan kak Fata memahami itu,, ia hampir selalu mengikuti kemauanku dengan cara yang menakjubkan,,,tanpa mengurangi sedikitpun kharismanya. Tapi jika keinginanku kelewatan atau bisa mencelakai, ia lebih baik melihatku diam dan tak menghubunginya daripada memberi izin.
                Aku paling tidak bisa tanpanya, hilang kabar sehari saja aku pasti uring-uringan.
                “Jangan terlalu bergantung begitu,” Sahabatku sering memperingati. Tapi aku menggeleng, aku tidak tergantung padanya, aku hanya butuh dia…
                “Bedanya?”
                Entahlah.
                Sudah satu tahun aku hijrah, dulunya aku seorang gadis yang tidak berjilbab, rame dan cuek. Tapi, setahun lalu hidayah itu menghampiriku juga. Hatiku selalu ingin dekat dengan Rabb, aku tiba-tiba merasa malu dengan auratku. Akhirnya aku mencoba memakai jilbab, dan tercengang ketika bercermin.
                Ternyata lebih sopan dan nyaman begitu.
                Akhirnya kuutarakan niat pada keluarga, mereka menyambut suka cita. Dan ketika kuutarakan pada kak Fata, ia segera datang berkunjung ke rumah. Dengan wajah penuh senyum syukur ia mengusap kepalaku.
                “Alahmdulillah…”
                Pelan, seperti berbisik kudengar hamdalah itu keluar dari bibirnya. Dan aku hampir menangis ketika itu. selanjutnya, hubungan kami terasa begitu bermakna, caranya menjagaku lebih dari sebelumnya, ia menatapku dengan cara yang lain, lebih hangat. Dan aku sukka itu. jika kami bersama ia mengajakku shalat jama’ah, damaaai sekali.
                Akhir-akhir ini kami sering bertemu dan keluar, mungkin karena pekerjaannya yang sudah tak begitu memberatkan dan sekripsiku yang hampir rampung, ia ingin memberikan selingan untukku.
                Begitulah, kami jadi sering keluar menikmati alam dan kebersamaan yang sopan dengan saling menghargai. Jika masuk waktu kami akan mencari tempat shalat dan berjama’ah bersama. Aku suka moment itu. ketika ia mengangkat tangannya dan berdo’a, aku mengamini dengan air mata yang malu kutuangkan…sejak begitulah aku jadi semakin takut jika harus kehilangan ia…aku ingin ia cepat-cepat mengimamiku setiap saatnya, ingin ia mengimami hidup dan akhiratku. Aku ingin, dan itu tidak terbendung.
#
                Sekripsiku telah kuserahkan tiga hari lalu, mungkin sedang diselidik. Hehe, aku berfikir membujuk kak Fata untuk melamarku minggu ini. Dan ia harus mau. Kami harus bersanding sebelum wisudaku. Harus.
                Aku akhirnya menghubunginya, berbicara dengan berbagai macam alasan. Ia menolak dengan sopan, berkali-kali. Aku hampir menangis, kenapa begitu sulit untuk permintaan ini. Aku ingin marah, mematikan hp, tapi itu artinya aku mengalah. Aku terus membujuknya, dan menurutku kali ini ia telah belajar dari keegoisanku, ia menolakku dengan kata ‘sabar’
                “Kalau adik gak mau sabar, kita cukup sampai disini saja. Mungkin adik bisa mencari yang lebih baik”
                Dan itu yang terakhir. Aku menangis, sempurna. Kumatikan HP tak ingin ia mendengar isakku. Bagaimana semudah itu…???
                Drrrtt…
                HPku bergetar, aku enggan mengangkat, nomer baru. Tapi lama-lama aku angkat juga. Suara di seberang sepertinya aku kenal. Dosenku.
                Innalillah.
#
                Dan akhirnya begini kisahku, berkutat di depan laptop selama 5 hari, dengan sedikiiit sekali tidur. Aku bahkan enggan bercermin, takut melihat tabokan bola kasti di sekitaran mata. Pasalnya sekripsiku keliru, ada penyalahtempatan, kalau yang begitu masih bisa kuperbaiki dalam satu jam, parahnya ada yang dengan diam-diam mengambil fileku dan juga menyusunnya lebih baik. Siapa yang akan tau jika aku yang diconteki jika dia lebih baik. Dosenku bilang, aku harus sedikit mengulang, memperbaiki agar bisa lebih baik dari sekripsi orang itu, sehingga nanti pada saat ujiannya, aku bisa menang dari dia.
                Tik, tok.
                Aku mati dari dunia luar, entah bagaimana aku mempermak sekripsi hasil mandi keringat ini, yang jelas tinggal 3 bab masih membuat bulu mataku keriting.
                “Sayang, makan dulu!” Bunda selalu mengingatkan tiap waktu makan, tapi itu membuatku semakin tegang, semakin sering Bunda muncul di daun pintu membawa sepiring nasi dan segelas air, semakin cepat pula waktu ini berlalu.
                Disamping itu, HPku tiba-tiba saja sunyi, kak Fata tak pernah lagi mengabari, meski hanya satu baris sms. Jika memikirkan itu aku akan semakin terpuruk. Padahal aku sedang membutuhkannya. Sangat.
#
                Sekripsiku lolos, dan hari ini adalah ujiannya. Aku bersujud dalam pada sujud terakhir dhuhaku. Memohon pada-Nya agar dimudahkan, terus dengan tetesan air mata. Aku bangkit duduk terakhir, kurasakan sesuatu keluar dari hidungku, mungkin karena terlalu banyak menangis, fikirku. Tapi ketika salam kekiri usai dan kuusap wajahku dengan mukenah putih itu, aku terkesiap.
                Darah???
                Ah, Cuma mimisan sedikit, otak terlalu diporsis berlebih. Aku membuka mukenah dan berlari ke kamar mandi, HPku berteriak tanda pesan masuk, ah bagaimana sempat baca sms? Di kamar mandi kubersihkan hidungku, yang….lumayan banyak juga darahnya.
#
                Dosen-dosen itu membantaiku, tapi syukur Alhamdulillah masih dalam penguasaanku. Semakin lama di ruangin ini aku semakin merasa melayang. Dalam hati aku berharap dosen-dosen ini segera mengirimku keluar saja.
                Dan akhirnya usai juga. Aku tersenyum bahagia, sepertinya tak ada pertanyaan yang membuatku terlihat oon di depan mereka. Aku bangkit dari korsi panasku.
                Degh!!!
                Kurasakan dunia gelap seketika, kukerjap-kerjapkan mataku, meski agak kabur semuanya kembali seperti sedia kala. Aku tersenyum pada dosen-dosen yang terlihat lumayan puas dengan hasilku itu, kemudian berterimakasih lantas berjalan keluar. Membelah ruangan ini rasanya seperti menghitung dedaunan kering yang rontok. Kepalaku terasa sangat berat. Kugapai gagang pintu, kemudian membukanya. Ada sosok yang begitu kurindukan tertangkap mata, sebelum semuanya benar-benar gelap dan terasa benturan yang lumayan di pelipisku.
#
                Kubuka mataku pelan, agak pening kusadari ini di kamarku. Apa yang terjadi? Innalillah hari itu aku pingsan di depan ruang ujian sekripsiku. Bagaimana sampai disini? Mungkinkah sosok yang kulihat sebelum pingsan itu yang membawaku. Kak Fatakah???
                Sebentar, di ruang tengah terdengar ramai sekali. Sepertinya ada tamu, aku bangkit dari tempat tidur mengenakan jilbab kaos dan membuka pintu kamar, melangkah pelan mendekat. Lho? Bukannya itu, orang tua kak Fata? Ada apa kemari? Kak Fata sendiri dimana??? Jadi semakin bingung.
                “Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Sayang?” Bunda yang melihat kehadiranku membuat semua yang hadir menoleh padaku. Aku tersenyum sekenanya. Ya, tentu saja sudah sadar makanya disini.
                “Abah sudah mengiyakan,” Abah menyela dengan senyuman, semua tersenyum. Aku jadi semakin mengerutkan alis.
                “Masih mau menerima aku sebagai imammu, kan?” Tiba-tiba telingaku menangkap suara dari sampingku. Entah sejak kapan ia disini. Kak Fata terlihat begitu muda dengan senyum itu. jadi? … ini? Ya Allah, aku menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku. Bukankah hari itu semuanya berakhir?
                “Hari kau ujian sekripsi, aku mengirimimu pesan kalau hari ini aku akan datang melamar, tapi kamu tidak membalas. Jadi aku menyusul ke kampus, sampai disana kamu ambruk…”
                Terserahlah bagaimana kelanjutan kalimat itu, yang jelas saat ini hariku membuncah.
#
                Wisudaku, walimahku…
                Hari ini begitu ramai, memakai toga dan kebaya bersamaan, ah…..rasanya benar-benar ingin tersenyum setiap saat. Ijab Kabul yang memindahkan tanggung jawab itu membuatku lebih tak tau mau mengatakan apa…semuanya sibuk dengan kebahagiaan masing-masing. Kakak sulungku mudik dengan wajah kegembiraan yang tak tanggung-tanggung, ia memeluk dan mencubit pipiku gemas.
                “Ini baru adikku…manis!” Ia mengecup pipi kiri dan kananku. Aku hanya bisa tersenyum, mau bilang apalagi???
                Maghrib berlalu dengan syahdu, aku masih duduk dalam zikir ketika tamu masih saja berdatangan. Kak Fata menemani dengan sabar, sedang aku hanya sekedar memperlihatkan diri sedikit. Sampai isya, masih juga tamu datang.
                “Sebentar sayang, gak enak ama tamunya” Kak Fata menyentuh pipiku yang mengajaknya berjama’ah. Lama-lama aku jadi sewot juga. Tamu itu, apa tidak bisa datang besok pagi lagi ya???? Duh. Lama menunggu aku jadi mengantuk,…dan terlelap.
….
                Kurasakan kecupan di keningku, aku membuka mata cepat. Astaga! Siapa? Berani sekali. Dan aku menemukan wajah kak Fata terkekeh sendiri. Duh,…kami sudah menikah ya? Kenapa begitu kaget rasanya…hehe
                “Belum terbiasa ya???” Ia mengejek membuka jasnya. Aku nyengir dan duduk di pinggiran ranjang menatapnya yang memunggungiku. Aku bahagia, dech.
                “Capek ya?” Tanyaku padanya. Ia menoleh dengan senyuman nakal.
                “Kenapa? Kok kedengarannya rada aneh?” Ia tertawa kecil. Apa maksudnya aneh sich? Kan pertanyaan biasa. Jadi pengantin dia jadi rada …aneh, ah ya benar, dia yang aneh. Aku bangkit dari ranjang, membuka jilbab dan masuk kamar mandi.
                “Sayang…” Ia memanggilku sebelum kututup pintu sempurna.
                “Kenapa?” Tanyaku menoleh padanya dengan ekspresi datar.
                “Gak ada,…hehehe” Ia kembali tertawa kecil. Uch,…gemes juga ama suami sendiri.
                “Ke na pa?” Aku mendekatinya, ia tersenyum nakal. Aku semakin merasa dijahilin. “Ada yang aneh ya di wajah?” Aku meraba wajahku. Ia semakin tertawa, tapi kali ini disertai gelengan. Ia menyentuh wajahku dengan kedua telapak tangannya.
                “Aku mencintaimu,” Ucapnya menatap mataku dalam, aku terdiam. Baru kali ini merasa begini. Ia tersenyum, mengecup ubun-ubun dan keningku. “Semua indah pada saatnya, kan?” Ia bertanya dengan kerlingan … cakep. Aku tersenyum mengangguk. Ia memelukku erat. Aku tiidak mengatakan sepatah katapun. Bukannya tidak ada, tapi memang tidak dibutuhkan mungkin saat ini…selanjutnya kami shalat berjama’ah bersama, wirid, do’a bersama. Kemudian…kami bercerita dengan cara yang baru ^^
__


                
_IBU_
                Kuberi nama buku ini ‘ibu’ ya hanya itu, satu nama untuk sosok terhormat yang memiliki kasih berjuta kali lebih dari tiga huruf yang diberikan untuknya. Ia adalah malaikat yang Allah berikan untuk bagi setiap hamba-Nya. Ia adalah makhluk yang memiliki sesuatu yang tidak dimiliki makhluk lain, yaitu rahim...ia adalah seseorang yang dengan seluruh kata di dunia jika disatukan tidak akan bisa menjelaskan perasaan dan wujudnya untuk anak-anaknya.
                Ibu,,,
                *
                1. Ibuku
                Ibuku adalah seorang psikolog handal. Tidak, aku sama sekali tidak bohong, malah itu adalah kalimat yang tak kurang dari sejuta ribu kali termuat di surat kabar dan koran-koran. Dan aku setuju mengenai itu. Sejak kecil, aku tidak pernah bisa berbohong pada ibu, meski aku tidak berbicara, ibu bisa langsung tau apa yang aku fikirkan, tanpa aku katakan ibu mampu mencceritakan hal yang akan aku ceritakan. Meski demikian ibu tidak pernah mendahuluiku mengatakan apapun, jadi aku tidak merasa berat untuk bercerita tentang segala hal padanya, karena ia selalu menunjukkan tingkah tak tau apa-apa.
 Ibuku adalah pendengar terbaik di dunia, jika aku berbicara mata lembut ibu akan menyimak seolah-olah hanya ada suaraku yang terdengar di dunia ini, dan hanya ada aku di matanya yang berhak diperhatikan dan ditatap.
Ibuku adalah penasehat terbijak di dunia. Jika ada masalah, ibu akan memberikan nasihat yang tidak bertele-tele dan sangat tepat jika aku terapkan.