“Kakak,
nikah ayok!” Ucapku menatap langit hitam yang indah dengan kerlipan bintangnya.
“Sabar,
dik. Adik masih nyusun skripsi, selesaikan dulu ya?” Ia terdengar begitu sabar
menghadapi keinginanku.
“Memangnya
tidak bisa ya, kak? Tidak bisa sekarang?” Tanyaku masih setia pada langit.
“Kita
mesti sabar, sabar sebentar saja. Kita kan sudah punya rencana…” Ia masih
bernada rendah seperti sebelumnya.
“Bukankah
dari dulu jika kita membuat rencana, jalannya selalu tidak sesuai dengan
rencana kita?” Aku berucap sedikit menekan.
“InsyaAllah
ini rencana baik, kita istikharahkan. Allah pasti akan realisasikan dengan
cara-Nya yang terbaik. Ada waktunya.” Mendengar nada kalimatnya, aku bisa
menebak kalau ia sedang tersenyum.
“Jodoh
itu memang di tangan-Nya, Kak. Tapi kita sepakat, jika kita tidak mengambilnya,
ia akan tetap disana” Aku menutup korden jendela kamar dan menyusuri pinggiran
ranjang.
“Itulah
dia, Manis. Kita tentukan hari baik itu,…sabar sedikit saja, setiap sesuatu
akan indah pada saatnya.”
“Assalamu’alaikum”
Tut,
Kumatikan
HP dengan wajah sedikit kusut. Entah kenapa penolakan ini membuatku sedikit
emosi. Apa bedanya menikah sekarang dengan nanti? Semuanya sama saja, kan? Ia
akan menjadi suami dan aku akan menjadi istri. Kenapa begitu sulit meyakinkannya????
#
“Gimana
skripsimu?” Kakak perempuanku yang kini tinggal di luar kota dengan suaminya
terdengar perhatian di ujung telpon.
“Alhamdulillah,
tinggal bab penutup, kak. Doa’ain ajah, dua bulan lagi teteh kesini buat
menghadiri wisudaku!” Aku tersenyum.
“InsyaAllah…masa-masa
seperti ini kamu harus focus, jangan berfikir macam-macam dan aneh-aneh.” Kakak
masih sama seperti kami bersama dulu, cerewet yang penuh perhatian.
“Aku
mau nikah, teh” Entah kenapa tanpa aku niatkan keluar saja kalimat itu.
“Menikah?”
Kakak sulungku itu terdengar kaget. Wajar bukan? Baru saja ia memperingatiku
agar tidak berfikir macam-macam.
“Iya,
aku mau kak Fata menikahiku.” Aku berusaha tenang.
“Kamu
selesaikan saja dulu sekripsimu, tinggal selangkah itu.” Kakak memberi saran
dengan was-was yang terdengar ditekan. Ia paham betul dengan sikapku, karena
diantara tiga saudaraku dialah yang paling dekat denganku. Jika aku memiliki
keiinginan, maka itu harus tercapai, harus. Jika tidak, maka keluarga pasti
akan waspada pada tindakanku. Meskipun bungsu, akulah yang paling keras, atau
memang anak bungsu itu cenderung begitu ya? Entahlah, tapi aku juga merasa
keegoisanku ini. Tapi, meski begitu aku tidak berusaha mengalahkannya.
“Aku…mau
menikah hari-hari ini, Kak. Skripsi ini sudah rampung, tinggal penutup. Untuk
ujiannya besok, aku rasa akan lebih siap jika disamping kak Fata, teh” Aku
mengutarakan hal yang sebenarnya terfikir di benakku.
“Jangan
berfikir begitu mudah, Sayang. Menurutmu mudah menjadi seorang istri?” Kakak sulungku
itu masih saja lembut. Aku diam sesaat menarawang, berfikir.
“Mudah…?
Entahlah, Teh. Yang jelas untuk saat ini, aku ingin menikah!” Aku keuh-keuh
dengan pemikiranku. Terdengar hembusan nafas di seberang. Sabarnya biasanya
mampu mengalahkanku, tapi kali ini aku sungguh-sungguh ingin. Memangnya kapan
aku tidak sungguh-sungguh jika ingin sesuatu, meskipun itu sepele?
“Sudah
bilang sama Fata?” Tanyanya kemudian.
“Sudah,”
Jawabku sekenanya.
“Dia
bilang apa?”
“Dia
menyuruhku selesaikan skripsiku dulu. Setelah wisudaku ia akan melamar ke
rumah” Aku menjelaskan, kurasa kakak sulungku tersenyum diujung sana.
“Fata
benar, Sayang. Kamu tidak boleh setengah-setengah. Nanti hasilnya bisa tidak
memuaskan…”
“Setidaknya
tidak mengecawakan, Teh.” Aku menyambut.
“Baiklah,
bagaimana tanggapan Bunda?”
“Aku
belum bilang, akhir-akhir ini Bunda sering sakit, Teh.”
“Lho,
kok tidak ada kabar?”
“Cuma
sakit ringan, Bunda bilang tidak memberi tahu sesiapa.” Aku jadi sedikit lesu,
sepertinya kakak tidak mendukung keinginanku. Dan entah tanpa sengaja kumatikan
hubungan tanpa salam.
#
Aku
mengenal kak Fata seperti aku memahami kekuranganku. Ia menyempurnakanku dengan
cara yang unik. Dan aku sangat menikmati itu. aku orangnya cepat bosan, dan ia
bisa mengalahkan rasa itu, ia bisa menguasaiku dengan lembut, menekan egonya
hanya demi kemaslahatanku, ah berlebihan. Tapi aku merasa sangat-sangat ingin
bersanding dengannya. Tak perduli ia siapa, tak peduli aku siapa, aku hanya
ingin mengabdi pada imam sepertinya.
Hampir 5
tahun sudah hubungan kami, beberapa buah kecut telah kami bagi bersama dan
mengambil manisnya dengan kebijakan, dia tentu saja. Seperti yang telah aku
tulis, aku ini adalah sosok yang egois, tidak bisa memiliki keinginan, itu
harus tercapai. Dan kak Fata memahami itu,, ia hampir selalu mengikuti
kemauanku dengan cara yang menakjubkan,,,tanpa mengurangi sedikitpun
kharismanya. Tapi jika keinginanku kelewatan atau bisa mencelakai, ia lebih
baik melihatku diam dan tak menghubunginya daripada memberi izin.
Aku
paling tidak bisa tanpanya, hilang kabar sehari saja aku pasti uring-uringan.
“Jangan
terlalu bergantung begitu,” Sahabatku sering memperingati. Tapi aku menggeleng,
aku tidak tergantung padanya, aku hanya butuh dia…
“Bedanya?”
Entahlah.
Sudah
satu tahun aku hijrah, dulunya aku seorang gadis yang tidak berjilbab, rame dan
cuek. Tapi, setahun lalu hidayah itu menghampiriku juga. Hatiku selalu ingin
dekat dengan Rabb, aku tiba-tiba merasa malu dengan auratku. Akhirnya aku
mencoba memakai jilbab, dan tercengang ketika bercermin.
Ternyata
lebih sopan dan nyaman begitu.
Akhirnya
kuutarakan niat pada keluarga, mereka menyambut suka cita. Dan ketika
kuutarakan pada kak Fata, ia segera datang berkunjung ke rumah. Dengan wajah
penuh senyum syukur ia mengusap kepalaku.
“Alahmdulillah…”
Pelan,
seperti berbisik kudengar hamdalah itu keluar dari bibirnya. Dan aku hampir
menangis ketika itu. selanjutnya, hubungan kami terasa begitu bermakna, caranya
menjagaku lebih dari sebelumnya, ia menatapku dengan cara yang lain, lebih
hangat. Dan aku sukka itu. jika kami bersama ia mengajakku shalat jama’ah,
damaaai sekali.
Akhir-akhir
ini kami sering bertemu dan keluar, mungkin karena pekerjaannya yang sudah tak
begitu memberatkan dan sekripsiku yang hampir rampung, ia ingin memberikan
selingan untukku.
Begitulah,
kami jadi sering keluar menikmati alam dan kebersamaan yang sopan dengan saling
menghargai. Jika masuk waktu kami akan mencari tempat shalat dan berjama’ah
bersama. Aku suka moment itu. ketika ia mengangkat tangannya dan berdo’a, aku
mengamini dengan air mata yang malu kutuangkan…sejak begitulah aku jadi semakin
takut jika harus kehilangan ia…aku ingin ia cepat-cepat mengimamiku setiap
saatnya, ingin ia mengimami hidup dan akhiratku. Aku ingin, dan itu tidak terbendung.
#
Sekripsiku
telah kuserahkan tiga hari lalu, mungkin sedang diselidik. Hehe, aku berfikir
membujuk kak Fata untuk melamarku minggu ini. Dan ia harus mau. Kami harus
bersanding sebelum wisudaku. Harus.
Aku
akhirnya menghubunginya, berbicara dengan berbagai macam alasan. Ia menolak
dengan sopan, berkali-kali. Aku hampir menangis, kenapa begitu sulit untuk
permintaan ini. Aku ingin marah, mematikan hp, tapi itu artinya aku mengalah.
Aku terus membujuknya, dan menurutku kali ini ia telah belajar dari
keegoisanku, ia menolakku dengan kata ‘sabar’
“Kalau
adik gak mau sabar, kita cukup sampai disini saja. Mungkin adik bisa mencari
yang lebih baik”
Dan itu
yang terakhir. Aku menangis, sempurna. Kumatikan HP tak ingin ia mendengar
isakku. Bagaimana semudah itu…???
Drrrtt…
HPku
bergetar, aku enggan mengangkat, nomer baru. Tapi lama-lama aku angkat juga.
Suara di seberang sepertinya aku kenal. Dosenku.
Innalillah.
#
Dan
akhirnya begini kisahku, berkutat di depan laptop selama 5 hari, dengan
sedikiiit sekali tidur. Aku bahkan enggan bercermin, takut melihat tabokan bola
kasti di sekitaran mata. Pasalnya sekripsiku keliru, ada penyalahtempatan,
kalau yang begitu masih bisa kuperbaiki dalam satu jam, parahnya ada yang
dengan diam-diam mengambil fileku dan juga menyusunnya lebih baik. Siapa yang
akan tau jika aku yang diconteki jika dia lebih baik. Dosenku bilang, aku harus
sedikit mengulang, memperbaiki agar bisa lebih baik dari sekripsi orang itu,
sehingga nanti pada saat ujiannya, aku bisa menang dari dia.
Tik,
tok.
Aku
mati dari dunia luar, entah bagaimana aku mempermak sekripsi hasil mandi
keringat ini, yang jelas tinggal 3 bab masih membuat bulu mataku keriting.
“Sayang,
makan dulu!” Bunda selalu mengingatkan tiap waktu makan, tapi itu membuatku
semakin tegang, semakin sering Bunda muncul di daun pintu membawa sepiring nasi
dan segelas air, semakin cepat pula waktu ini berlalu.
Disamping
itu, HPku tiba-tiba saja sunyi, kak Fata tak pernah lagi mengabari, meski hanya
satu baris sms. Jika memikirkan itu aku akan semakin terpuruk. Padahal aku
sedang membutuhkannya. Sangat.
#
Sekripsiku
lolos, dan hari ini adalah ujiannya. Aku bersujud dalam pada sujud terakhir
dhuhaku. Memohon pada-Nya agar dimudahkan, terus dengan tetesan air mata. Aku
bangkit duduk terakhir, kurasakan sesuatu keluar dari hidungku, mungkin karena
terlalu banyak menangis, fikirku. Tapi ketika salam kekiri usai dan kuusap
wajahku dengan mukenah putih itu, aku terkesiap.
Darah???
Ah,
Cuma mimisan sedikit, otak terlalu diporsis berlebih. Aku membuka mukenah dan
berlari ke kamar mandi, HPku berteriak tanda pesan masuk, ah bagaimana sempat
baca sms? Di kamar mandi kubersihkan hidungku, yang….lumayan banyak juga
darahnya.
#
Dosen-dosen
itu membantaiku, tapi syukur Alhamdulillah masih dalam penguasaanku. Semakin
lama di ruangin ini aku semakin merasa melayang. Dalam hati aku berharap
dosen-dosen ini segera mengirimku keluar saja.
Dan
akhirnya usai juga. Aku tersenyum bahagia, sepertinya tak ada pertanyaan yang
membuatku terlihat oon di depan mereka. Aku bangkit dari korsi panasku.
Degh!!!
Kurasakan
dunia gelap seketika, kukerjap-kerjapkan mataku, meski agak kabur semuanya
kembali seperti sedia kala. Aku tersenyum pada dosen-dosen yang terlihat
lumayan puas dengan hasilku itu, kemudian berterimakasih lantas berjalan
keluar. Membelah ruangan ini rasanya seperti menghitung dedaunan kering yang
rontok. Kepalaku terasa sangat berat. Kugapai gagang pintu, kemudian
membukanya. Ada sosok yang begitu kurindukan tertangkap mata, sebelum semuanya
benar-benar gelap dan terasa benturan yang lumayan di pelipisku.
#
Kubuka
mataku pelan, agak pening kusadari ini di kamarku. Apa yang terjadi? Innalillah
hari itu aku pingsan di depan ruang ujian sekripsiku. Bagaimana sampai disini?
Mungkinkah sosok yang kulihat sebelum pingsan itu yang membawaku. Kak
Fatakah???
Sebentar,
di ruang tengah terdengar ramai sekali. Sepertinya ada tamu, aku bangkit dari
tempat tidur mengenakan jilbab kaos dan membuka pintu kamar, melangkah pelan
mendekat. Lho? Bukannya itu, orang tua kak Fata? Ada apa kemari? Kak Fata
sendiri dimana??? Jadi semakin bingung.
“Alhamdulillah,
kamu sudah sadar, Sayang?” Bunda yang melihat kehadiranku membuat semua yang
hadir menoleh padaku. Aku tersenyum sekenanya. Ya, tentu saja sudah sadar
makanya disini.
“Abah
sudah mengiyakan,” Abah menyela dengan senyuman, semua tersenyum. Aku jadi
semakin mengerutkan alis.
“Masih
mau menerima aku sebagai imammu, kan?” Tiba-tiba telingaku menangkap suara dari
sampingku. Entah sejak kapan ia disini. Kak Fata terlihat begitu muda dengan
senyum itu. jadi? … ini? Ya Allah, aku menutup mulutku dengan kedua telapak
tanganku. Bukankah hari itu semuanya berakhir?
“Hari
kau ujian sekripsi, aku mengirimimu pesan kalau hari ini aku akan datang
melamar, tapi kamu tidak membalas. Jadi aku menyusul ke kampus, sampai disana
kamu ambruk…”
Terserahlah
bagaimana kelanjutan kalimat itu, yang jelas saat ini hariku membuncah.
#
Wisudaku,
walimahku…
Hari
ini begitu ramai, memakai toga dan kebaya bersamaan, ah…..rasanya benar-benar
ingin tersenyum setiap saat. Ijab Kabul yang memindahkan tanggung jawab itu
membuatku lebih tak tau mau mengatakan apa…semuanya sibuk dengan kebahagiaan
masing-masing. Kakak sulungku mudik dengan wajah kegembiraan yang tak
tanggung-tanggung, ia memeluk dan mencubit pipiku gemas.
“Ini
baru adikku…manis!” Ia mengecup pipi kiri dan kananku. Aku hanya bisa
tersenyum, mau bilang apalagi???
…
Maghrib
berlalu dengan syahdu, aku masih duduk dalam zikir ketika tamu masih saja
berdatangan. Kak Fata menemani dengan sabar, sedang aku hanya sekedar
memperlihatkan diri sedikit. Sampai isya, masih juga tamu datang.
“Sebentar
sayang, gak enak ama tamunya” Kak Fata menyentuh pipiku yang mengajaknya
berjama’ah. Lama-lama aku jadi sewot juga. Tamu itu, apa tidak bisa datang
besok pagi lagi ya???? Duh. Lama menunggu aku jadi mengantuk,…dan terlelap.
….
Kurasakan
kecupan di keningku, aku membuka mata cepat. Astaga! Siapa? Berani sekali. Dan
aku menemukan wajah kak Fata terkekeh sendiri. Duh,…kami sudah menikah ya?
Kenapa begitu kaget rasanya…hehe
“Belum
terbiasa ya???” Ia mengejek membuka jasnya. Aku nyengir dan duduk di pinggiran
ranjang menatapnya yang memunggungiku. Aku bahagia, dech.
“Capek
ya?” Tanyaku padanya. Ia menoleh dengan senyuman nakal.
“Kenapa?
Kok kedengarannya rada aneh?” Ia tertawa kecil. Apa maksudnya aneh sich? Kan
pertanyaan biasa. Jadi pengantin dia jadi rada …aneh, ah ya benar, dia yang
aneh. Aku bangkit dari ranjang, membuka jilbab dan masuk kamar mandi.
“Sayang…”
Ia memanggilku sebelum kututup pintu sempurna.
“Kenapa?”
Tanyaku menoleh padanya dengan ekspresi datar.
“Gak
ada,…hehehe” Ia kembali tertawa kecil. Uch,…gemes juga ama suami sendiri.
“Ke na
pa?” Aku mendekatinya, ia tersenyum nakal. Aku semakin merasa dijahilin. “Ada
yang aneh ya di wajah?” Aku meraba wajahku. Ia semakin tertawa, tapi kali ini
disertai gelengan. Ia menyentuh wajahku dengan kedua telapak tangannya.
“Aku
mencintaimu,” Ucapnya menatap mataku dalam, aku terdiam. Baru kali ini merasa
begini. Ia tersenyum, mengecup ubun-ubun dan keningku. “Semua indah pada
saatnya, kan?” Ia bertanya dengan kerlingan … cakep. Aku tersenyum mengangguk.
Ia memelukku erat. Aku tiidak mengatakan sepatah katapun. Bukannya tidak ada,
tapi memang tidak dibutuhkan mungkin saat ini…selanjutnya kami shalat
berjama’ah bersama, wirid, do’a bersama. Kemudian…kami bercerita dengan cara
yang baru ^^
__