Minggu, 13 Juli 2014

LOMBOK HATI...

PROLOG

Menjadi seorang gadis yang memiliki nasib lain dengan sebayanya tentu tidak mudah. Perperangan hati, keinginannya sebagai seorang remaja yang menggebu-gebu, diapit tekanan dari berbagai juru, teman-teman yang membuat iri dan tertunduk, saudara-saudara yang tak jarang menjadikannya lebih tak ingin mengunjuk diri. Pada usia yang belum lagi matang masalah seolah tak hendak hengkang darinya, tekanan dari orang tua, teman-teman, orang-orang sekitar bahkan dari insan yang belum lagi dikenalnya. Tapi, gadis itu percaya Tuhan dan dia yakin Tuhan tidak pernah berhenti memperhatikan dan menyayanginya. Hati kecilnya yang pilu selalu ia paksa untuk bertahan pada yakin-Nya. Tapi nyatanya Tuhan memang tidak selalu memberikan instan. Semuanya butuh proses, butuh usaha. Dan gadis itu, dengan semua bebannya … bisakah bertahan?

BAB 1
PERCAKAPAN DI ATAS MOTOR

Angin pagi terasa segar menerpa wajahku yang tak berpoles, aku tersenyum mengeja nikmat Allah yang diada tara. Aroma has yang merempet di hidungku membuatku semakin nyaman. Tapi aroma itu tak serta merta membuatku hendak memeluk pinggang pria di depanku ini. namanya Faraby, ia adalah sahabatku sedari kecil. Saat ini kami tengah menuju tempat kerjaku, ia dengan ikhlas mengantar.
“Kamu sudah sarapan, Fat?” terdengar suara Faraby dari depan, membuat kegiatanku mengamati sekeliling teralih.
“Udah tadi, kamu?” tanyaku balik. Aku sudah terbiasa ber aku-kamu dengannya. Karena kami memang seusia.
“Belum sempat. Tadi buru-buru.” Jawabnya ringan, tapi perasaanku segera tersirat tak enak.
“Atau kita makan dulu?” tawarku.
“Nggak usah, nanti aku telat ngampusnya.” Ia menolak dengan alasan yang tak boleh kutolerir lagi. Faraby memang sedang menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi di Mataram. IAIN katanya. Sedang aku malah bekerja. Aku memang berbeda dengan Faraby, ia berasal dari keluarga terhormat di kampung. Orang tuanya haji, jelas ekonominya tinggi. Sedang aku? Dengan usia ini --19 tahun-- aku sudah menjadi janda. Ceritanya panjang, yang jelas selepas SLTP aku tak menlajutkan sekolah. Orang tuaku, tak mau memberikanku izin untuk sekolah.
“Kamu kalau perempuan kan ujung-ujungnya masak, di dapur juga.” Begitu Inaq memberi alasan. Sedangkan Amaq aku tak tahu pasti apa yang ada di fikirannya, ia lebih banyak diam, tak membela inaq ataupun aku.
Aku terlahir sebagai anak ke dua dari lima bersaudara. Kakakku laki-laki dan ketiga adikku perempuan. Dengan pekerjaan Amaq kusir dan Inaq menjual sayur-sayuran perekonomian keluargaku memang tak bisa dikata lebih. Cukup mungkin iya. Karena itulah saat Inaq tak memberikanku izin untuk  melanjutkan sekolah aku tak banyak bicara untuk membantah. Semuanya aku ikhlaskan saja.
“Fat, sudah sampai.” Faraby menghentikan motornya di depan toko tempatku bekerja. Aku sedikit terperajat karena sempat melamun. Segera aku turun dari motor Yamaha MXnya itu.
“Terimakasih ya, By. Hati-hati di jalan.” Aku tersenyum padanya yang membuka kaca helmnya.
“Okay, nanti mau pulang bareng?” tawarnya, Faraby memang sangat perhatian padaku. Tapi seringkali aku tak enak menerima tawarannya yang terlalu baik menurutku.
“Liat nanti saja, ya? Aku sms.” Jawabku akhirnya yang disetujuinya dengan anggukan. Iapun menghidupkan motornya kemudian berlalu. Aku tersenyum pada punggung dan asap motornya. Kubalik hadap tubuhku, toko milik seorang China ini belum lagi dibuka. Aku memang sengaja datang lebih awal, takut terlambat. Lagian juga Faraby harus berangkat cepat, jadi sekalian.
Atasanku di toko ini terbilang ketat, cermat, teliti dan cerewet. Kami sebagai pekerja tak boleh keliru. Sedikit saja kesalahan yang didapatinya pasti kami langsung kena omel walaupun sedang ada pelanggan yang berbelanja.
Sebenarnya, tidak semua orang China yang punya toko di Cakra ini suka marah-marah. Buktinya ada beberapa temanku yang bekerja di toko orang China dan tetap santai, bosnya baik juga. Yah, mungkin memang nasib harus begini.
Aku memilih duduk di emperan toko, merogoh hp NOKIA jadul hitam putihku, membuka pesan masuk yang kosong. Hanya beberapa pesan dari Faraby tadi pagi yang mengajak berangkat bersama yang terisi di pesan masuk. Iseng kukirimi ia pesan.
‘Jngan lupa sarpn, y.’
Kirim.
Ah, lagi-lagi Faraby. Lelaki dengan wajah artis itu. Dia kerap menjadi malaikat dalam hidupku. Kalau aku kekurangan uang pasti ia yang menawarkan uangnya. Kalau aku membutuhkan segala hal ia tak akan segan untuk memberikan bahkan membelikan apa yang aku butuhkan.
“Kita kan sudah kaya’ saudara, Fat. Masa gitu aja malu.” Begitu kerap yang ia katakan. Aku biasanya jadi tambah tak enak.
Faraby berbeda dengan pemuda-pemuda lain di kampung. Ia santun, agamanya baik karena sempat mondok di pesantren tiga tahun. Dia juga tidak sombong, tidak pernah membawa perempuan pulang ke rumah, tidak merokok, dan banyak hal yang membuatnya berbeda. Wajah tampannya memang sangat diminati banyak perempuan di kampung, apalagi dia juga kaya. Tapi Faraby lebih sering menutup diri. Teman perempuannya hanya aku, karena dari kecil memang akulah sahabatnya.
“Kamu jangan mikir macam-macam, terserah orang mau bilang apa. Yang penting kita tidak berbuat diluar batas.” Begitu Faraby menanggapi ketika aku mengadukan pembicaraan orang tentang kedekatan kami.
“Tapi kamu tidak apa-apa?” aku masih tetap tak nyaman.
“Memangnya harus apa-apa?” ia balik bertanya membuatku tersenyum.
“Aku kan janda, By.” Lanjutku kemudian. Faraby tak menjawab, dia memang paling tidak suka jika aku membicarakan tentang statusku itu. jika keceplosan seperti itu, kami akan sama-sama diam hingga ia pergi meninggalkanku tanpa bicara. Entah kenapa aku merasa bersalah padanya jika mengungkit tentang itu. karena aku melihat Faraby sakit. Maka sebisa mungkin aku tidak mengungkit-ungkit masalah itu jika bersamanya.
Dulu saat aku menikah, Farabylah yang paling tidak setuju. Aku ingat ketika itu tak lebih dari enam bulan selepas lulusan SMP dan Faraby pergi mondok, aku mengenal seorang lelaki dari luar kampung kemudian jatuh cinta. Tak lebih dari empat bulan berhubungan aku diajaknya menikah, dan aku mengiyakan. Begitu tersebar berita itu dan Faraby mendengar ia segera meminta izin pulang dan menemuiku.
Aku masih ingat ketika ia datang dengan wajah panik ke rumah penduduk dimana aku disembunyikan. Adat sasak memang begitu, kalau menikah perempuan akan dibawa diam-diam oleh calon suami dan disembunyikan di salah satu rumah orang. Sebenarnya bukan menculik, para pengantin jelas sudah memberitahu kedua orang tua, disetujui barulah dibawa pergi. Mulang istilahnya.
“Jangan, Fat. Kamu jangan menikah.” Begitu pinta Faraby ketika itu. keningnya yang putih dialiri peluh, wajahnya yang tampak bersinar membuatku terenyuh.
“Aku sudah begini, bagaimana mau batal, By?!” ujarku  mengingat aku sudah diambil oleh calon suami dan disembunyikan. Adalah masalah dan rasa malu yang besar jika harus dibatalkan.
“Kamu batalkan saja.” Begitu ia membujuk.”Kamu lanjutkan sekolah.” Lanjutnya dengan sorot mata memohon. Tapi kami memang tak bisa melakukan apa-apa, tepatnya aku. Aku sudah terlanjur jatuh cinta pada lelaki itu. lelaki yang usianya tak jauh juga berbeda dariku. Akupun mengabaikan permintaan Faraby dan melanjutkan pernikahan dengan pesta kecil-kecilan. Kalau istilah Lombok namanya begawe.
“Fat sudah datang?” aku kaget mendengar suara Pri, lelaki temanku bekerja juga di toko.
“Iya dari tadi.” jawabku sembari berdiri.
“Masuk, yuk. Bantu beres-beres.” Pintanya. Memang dialah yang ditugaskan membuka toko setiap harinya. Sudah sangat dipercaya, dan lama kerja disini. Aku mengangguk mengiyakan. Pagi ini, kembali menjalankan ruutinitas seperti biasa.
***
Sebuah pesan masuk, aku segera membuka HPku dan dilayar tertulis pesan yang dikirim Faraby.
‘sy d dpan’
Aku menghela nafas. Pekerjaanku belum lagi kelar, tapi Faraby memang begitu orangnya jika memiliki keinginan ia akan segera melakukannya. Akupun segera keluar dengan langkah terburu-buru. Benar saja di depan toko Faraby sudah memarkir motornya, ia sendiri asyik memainkan hp sambil memperhatikan kendaraan yang lalu lalang.
“Aku belum selesai kerja.” Ucapku begitu berada tak jauh darinya.
“Iya, aku tahu. Tapi ada sesuatu yang penting.” Ujarnya terlihat serius.
“Sesuatu?” tanyaku.
“Iya, Mao balek hari ini, Fat.” Faraby berkata dengan wajah sumringah membuat hatiku jadi tak karuan. Ada bahagia karena salah satu sahabat kecil kami, Mao akan kembali dan sedikit sakit hati karena Faraby begitu senang. Tapi kenapa harus sakit hati? Ah, lain-lain aja.
“Ohya?!” aku ikut antusias. Mao, gadis itu membuatku rindu juga.
“Iya, setengah jam lagi sampai rumah katanya. Mau ikut pulang sekarang?” ajaknya.
“Umh? Coba minta izin dulu yah?” aku tersenyum, selepas ia mengangguk aku segera kembali ke toko. Meminta izin kepada Koko, sebutan untuk si pemilik. Entah hari baik atau memang keberuntungan ternyata Koko memberikan izin. Aku dan Faraby segera melaju, menelusuri jalanan aspal yang banyak diperbaiki. Faraby melajukan motor dengan santai.
“Kenapa? Kok jalanan bagus diperbaiki gitu, By?” tanyaku iseng, “Kan jadi macet sana sini. Kenapa nggak didiemin aja. Seperti nggak ada kerjaan.” Aku melanjutkan sedikit protes.
“Hehe…kamu tau kan Fat, setiap yang diperbaiki itu pasti memiliki kerusakan.” Faraby berujar bijak.
“Ha? Rusak? Bukannya ini mulus-mulus aja, yah?” aku kembali memperhatikan.
“Pelajaran lagi, setiap yang terlihat bagus luarannya belum tentu bagus dalamnya. Manusia itu seperti jalanan ini, Fat.” Aku mengerutkan alis demi mendengar perkataan Faraby yang terdengar dewasa, “Yang memperbaiki itu ibaratkan Allah. meskipun kita terlihat baik-baik saja, tapi Allah tahu ada yang rusak dalam diri kita. Maka Allah melakukan perbaikan-perbaikan. Seperti diberikan masalah dan ujian-ujian.” Lanjut Faraby membuatku merenung. Rambutku yang tipis dan diikat satu beterbangan terkena angin. Allah, masalah, perbaikan. Benarkah begitu? Semua ujian dalam hidupku perbaikankah, Tuhan? Statusku janda, perbaikankah Tuhan?
Tak ada yang menjawab karena hanya aku yang bertanya menggema dalam hati.
“By…” aku membuka suara setelah beberapa lama terdiam
“umh?” Faraby menjawab singkat.
“Semua yang terjadi dalam diriku, perbaikankah?” akhirnya aku bertanya.
“Insya Allah…”
“Lalu kenapa aku tidak semakin baik?” aku bertanya kemudian.
“Allah tidak mungkin gagal memperbaiki makhluk-Nya, Fat. Mungkin saja kamu merasa tidak semakin baik, tapi di pandangan-Nya pasti makin baik.” Faraby lagi-lagi terdengar jauh lebih dewasa dari yang kutahu.
“Dan orang-orang?” aku kembali bertanya lagi-lagi sedikit protes.
“Yang penting kan apa yang ada dalam pandangan Allah, bukan di mata makhluk-Nya yang bahkan mungkin tidak lebih baik dari kita.” Aku merasa perkataan Faraby terlalu sulit untuk kucerna. Tapi entah kenapa aku merasa paham.
Paham? Benarkah aku paham? Jika demikian kenapa aku tidak merasa lebih baik? Semua masalah yang menimpaku rasanya semakin memesengkan keadaanku, bukan malah membaik.
Aku menoleh pada orang-orang yang memperbaiki aspal. Ada yang memukul dengan alat besar dan tajam, ada yang menyisam dengan air hitam yang panas. Tiba-tiba di fikiranku muncul sebuah pertanyaan.
Sesadis itukah Allah memberikan perbaikan kepada hamba-Nya?
BAB II
MAO KEMBALI

 Gadis itu dengan hidung bangir dan mata peri. Mao. Sedari kecil kami bersahabat bertiga, aku, Faraby dan Mao. Dan aku adalah yang paling berbeda. Mao dan Faraby, dua orang yang berasal dari keluarga kaya, sedang aku tahu sendirilah. Faraby dan Mao melanjutkan sekolah sedangkan aku tidak. Bahkan Mao melanjutkan sekolah ke luar kota. Dan baru kembali sekarang. mungkin hendak menuntut ilmu lagi di perguruan tinggi di Universitas yang ada di kampung kelahirannya. Begitu ia memberitahuku beberapa waktu lalu. lagi, Faraby dan Mao adalah dua orang dengan wajah artis, setidaknya begitulah menurut kami, sedangkan aku? Gadis Sasak sangat, kulit manggis matang, rambut tipis sedikit bergelombang, mata bundar dan hidung yang sedikit mancung. Yang sedikit sama dari kami adalah kwalitas otak yang lumayan. Mao untuk juara satu, aku dua dan Faraby tiga. Selalu begitu prestasi kami di SD dulu. Tapi entah bagaimana sekarang.
“Faaat!!!” Mao memelukku erat, aromanya yang wangi membuat rinduku sedikit terobati. Mao, gadis itu kembali dengan kibaran jilbab yang lumayan lebar, wajahnya yang dulu imut-imut kini telah berubah menjadi cantik. bukan hanya aku yang terpana saat melihatnya, tapi Faraby juga tertegun. Mao memang cantik.
“Kangen, kamu apa kabar?” Mao bertanya melepas pelukan sembari melihatku.
“Baik, kok. Kamu?” aku balik bertanya
“Alhamdulillah, baik juga. Aku ada oleh-oleh buat Fatty dan Fabby.” Ia membuka-buka barangnya, menyebut nama kecil kami yang khusus ia buat untuk dipanggilnya sendiri. Aku dan Faraby saling bertatapan, ia tersenyum sembari mengangguk kecil. Mao dari kecil memang gadis yang bersemangat, bukan hanya dalam bersikap tapi dalam belajar. Karena itulah Mao disenangi banyak orang. Sikapnya yang ramah dan selalu terlihat tertarik membuat siapa saja menjadi betah dengannya.
“Ini buat Fatty dan ini Faby.” Ia menyerahkan bungkusan kepada kami masing-masing.
“Syukron.” Faraby mengucapkan kata yang asing di telingaku tapi Mao menanggapi dengan senyuman. Mereka tampak saling memahami.
“Tak perlu berterimakasih begitu, By. Aku kan bukan orang Arab.” Mao menanggapi sembari menggandeng lenganku. Oh, aku faham. Syukron itu terimakasih dalam Bahasa Arab, barangkali.
“Kenapa mesti repot-repot, Mao?” aku malah menanggapi oleh-oleh Mao dengan pertanyaan.
“Repot?” mata peri milik Mao terbelalak, “Aku pergi sudah enam tahun, kemudian hanya membawa bingkisan ringan begini dibilang repot?” ia melanjutkan sembari geleng-geleng. Aku tersenyum, sikap loyal yang menambah plus-plus nilainya di mata kami memang tidak berubah dari dulu.
Mao, dalam perantauannya tidak pernah melupakan kami. Aku dan Faraby sering mendapat bingkisan darinya. Paling tidak beberapa lembar surat tentang kabarnya. Aku, meskipun tidak sekolah sering mendapat asupan ilmu dari Mao. Sejak ia mengetahui tentang sekolahku yang tidak berlanjut, ia dengan bersemangat dan ikhlas mengirimkan buku-buku yang menurutnya penting untukku baca. Beberapa terkait dengan pengetahuan, dan beberapa termasuk motivasi.
Aku menoleh menatap wajah cantik Mao. Mungkin terimakasih saja tidak cukup atas apa yang telah ia lakukan. Mao dan Faraby menjadi dua malaikat yang tak bisa kujelaskan perannya dalam hidup. Beberapa penghormatan yang kudapat dari masyarakat terkait pengetahuan tak lepas dari bantuan mereka, usaha yang mereka lakukan agar aku tak hidup dengan buta ilmu.
“Terimakasih banyak, Mao.” Aku menggenggam tangannya yang melingkar di lengan kiriku. Ia menoleh padaku, tersenyum manis dan mengangguk.
“Amaq sehat?” tanyanya. Giliran aku yang mengangguk.
“Alhamdulillah, sehat.” Jawabku selanjutnya.
“Besok, jalan-jalan pakai cidomo ya? Cidomo Amaq masih, kan?” ia mengajak bersemangat. Aku kembali mengangguk, menyanggupi. Berhubung besok hari minggu, tidak ada yang perlu aku hawatirkan.
***

“Assalamu’alaikum.” Suara has Mao membuka pagi kami. Aku, Amaq dan Inaq juga keempat adikku menyambutnya dengan ramah. Mao dan Faraby memang sudah seperti saudara sendiri. Jadi kalau mereka datang orang tuaku akan menyambut mereka seperti anak mereka sendiri. Apalagi Mao yang sudah lama pergi menuntut ilmu keluar kota.
“Sarapan, Nak?” ajak Amaq pada Mao.
“Terimakasih, Amaq. Tadi udah di rumah.” Tolak Mao sopan. Meski begitu kami tetap berbincang-bincang selama sarapan. Mao bercerita banyak tentang pondoknya di Jawa. Dengan semangat dijelaskannya suasana belajar disana, bagaimana lingkungannya, juga masalah-masalah yang kerap terjadi. Di matanya terlihat jelas bahwa Mao masih sangat ingin disana.
“Yah, tapi masih mau di kampung, Amaq. Mau menghabiskan masa kuliah disini saja.” Begitu ujarnya. Mao ingin berkumpul lagi dengan kedua orang tuanya, juga sahabat-sahabatnya yang dulu.
“Yang paling ingin saya lakukan adalah memajukan kampung kita, Amaq.” Pada kalimat ini mata perinya menerawang. Ia terlihat begitu bersemangat. “Banyak hal yang harus kita perbarui di kampung ini, banyak pemikiran masyarakat yang harus kita perbaiki, banyak tindak tanduk anak muda yang harus kita rapikan.” Ia menjelaskan dengan berapi-api membuatku tertegun.
Perbaikankah?
Seperti apa perbaikan yang akan diberikan Mao pada kampung ini? Apakah seperti yang dilakukan orang-orang yang memperbaiki aspal yang diambil permisalan oleh Faraby kemarin? Aku kembali melihat mata Mao yang tak surut semangat. Benarkah gadis ini ingin melakukan semua itu? ia baru saja berusia 18 tahun. Bisakah ia?
Tiba-tiba saja aku menjadi iri.
***

Suara kaki kuda, angin sepoi-sepoi menjadi pelengkap keliling kampung kami pagi ini. aku, Mao dan Amaq. Sepanjang perjalanan Mao terus terkagum-kagum. Ternyata kampung kami masih belum banyak berubah baginya. Masih banyak sawah, masih banyak pohon-pohon jambu yang dulu pada masa kecil kami sering panjat, dan masih deras air yang mengalir. Perjalanan kami jadi lebih mudah daripada yang dulu. Karena sekarang jalan disawah agak diperlebar dan diperhalus dengan semen dan pasir. Jalan rabat istilahnya. Jadi, jika kita jalan-jalan menggunakan cidomo jadi sangat nikmat. Kiri kanan mata kita dimanjakan dengan hamparan sawah penduduk yang menghijau. Petani memang baru menanam padi sebulan belakangan, jadi sawah sedang hijau-hijaunya saat ini.
“Fat, kenapa sekarang beberapa petani merubah sawah mereka jadi kolam ikan?” Tanya Mao memperhatikan beberapa kolam ikan penduduk yang dulunya memang sawah.
“Beberapa dibeli orang, Mao. Beberapa lagi karena memang alasan ingin mencari penghasilan selain bertani.” Begitu jawabku.
“Oo..” mulut Mao membundar, kepalanya mengangguk-angguk paham. “Tapi kelihatannya bagus juga. Mereka merawatnya dengan baik, ya?” ia masih betah memperhatikan kolam-kolam ikan itu. aku tersenyum mengangguk, ikut memperhatikan juga. Memang sebagian besar penduduk di kampung kami pekerjaannya adalah sebagai petani, tapi belakangan sebagian dari mereka berubah profesi menjadi peternak ikan.
Sebagian penduduk di kampung memang berprofesi beternak ikan. Hal ini dikarenakan air di kampung memang banyak. Di timur kampung ada sungai, barat juga ada sungai, utara dan selatanpun ada aliran sungai. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh penduduk untuk beternak ikan.
Dulunya sebagian besar peternak ikan memelihara ikan di sungai. Mereka membuat tempat penampungan ikan dari bambu dan menaruhnya di sungai. Tempat penampungan ikan seperti itu disebut Karamba. Tapi, sejak air sungai sering meluap banyak ikan di karamba-karamba itu hanyut. Karamba yang terbuat dari bambu tidak kuat menahan arus air, akhirnya jebol. Sungai itupun semakin lama semakin dangkal. Arus besar yang membawa sampah dan pasir dari hulu terendap di dasar sungai. Akibatnya para peternak ikan harus menggali dasaran sungai baru kemudian melepas karamba disana. Tapi, semakin lama bisnis ikan seperti itu untungnya semakin berkurang. Masalah biaya membuat karamba yang makin mahal karena harga bambu juga naik, belum lagi harga pakan ikan. Hingga akhirnya para peternak ikan memutuskan untuk berhenti berbisnis demikian. Satu, satu mereka semua meninggalkan pemeliharaan ikan dengan cara ber-karamba. Dan berpindah ke kolam.
Bagi yang memiliki tanah, gampang saja membuat kolam ikan. Tinggal membayar beberapa orang untuk menggali tanah, mengalirkan air, melepas bibit, jadi. Cara seperti ini dirasa lebih efektif dibandingkan karamba oleh penduduk, karena hanya sekali membuat wadah penampungan ikan. Yang perlu diperhatikan hanya keluar masuk air di kolam. Tapi, bagi yang tidak memiliki tanah itu tentu masalah. Akhirnya membuat mereka mencari pekerjaan lain, atau kalau ada sawah mereka mengubah sawah mereka menjadi kolam ikan.
“Amaq ndek mancing di kali?” Tanya Mao pada Amaq yang serius memerintah kudanya.
“Kadang-kadang.” Amaq menanggapi dengan sedikit tawa. Amaq memang tipe orang yang sedikit berbicara. Tapi ketika keluar suara dari mulutnya, pasti ia sertai dengan senyuman. Itulah Amaq yang aku kenal.
“Amaq, saya boleh bersama Fat seharian?” Pinta Mao kemudian membuat aku juga sedikit terkejut. Aku melihat Mao dan ia menoleh padaku dengan senyuman yang tersembunyi sesuatu dibalik itu.
“Tentu saja.” Amaq menjawab singkat.
“Di sawah Abah, ya?” Pinta Mao lagi, Abah adalah panggilannya untuk ayahnya. Amaq mengangguk. Mao menoleh padaku kembali tersenyum.
***

Sawah Abah Mao tidak terlalu jauh dari perkuburan kampung. Di sawah Abah Mao, terdapat tempat peristirahatan yang bagus. Dialasi ulatan dipan, dan diatapi dengan jerami yang rapi. Jika duduk disana kita akan dimanjakan dengan pemandangan sawah yang luas, beberapa pohon jambu yang ditanam Abah Mao menambah indah pemandangan yang kita dapat nikmati.
Dan kini kami, aku dan Mao duduk berdua disini. Bersisian, menikmati lambaian pohon dan belaian angin. Jilbab Mao yang lebar berkibar-kibar. Aromanya yang wangi membuatku nyaman. Aku sendiri sudah berantakan, rambutku yang kuikat satu biasa sudah tak karuan diterbangkan angin.
“Fat…” Mao memanggilku dengan mata menerawang pada langit yang beranjak semakin terang.
“Umh?” aku menjawab sembari menoleh padanya.
“Ceritakan tentangmu…” pintanya menoleh padaku. Aku tertegun. Tentangku?
“Yah, ceritakan aku tentang Fatimahku.” Ia meyakinkan lagi. Setelah lama diam, aku menghela nafas. Mao, tentu ingin tahu apa yang telah terjadi padaku selama ini. gadis ini, seseorang yang bagiku Malaikat tentu tidak pantas hanya mengetahui dari lembaran-lembaran yang aku kirim padanya bila hari tentang kehidupanku yang berantakan ini.
Dia pantas tahu semuanya.
“Ceritakan aku dari semula, Fat. Aku rindu ketika kamu masih menjadi Fatimah kecil yang sering datang meminta jambu ungu ke rumahku.” Pinta Mao lagi.
“Haruskah dari sana?” aku bertanya, bukankah kami melewati masa-masa kecil itu bersama?
“Iya, aku ingin semuanya diceritakan olehmu, Fat.” Mao memamerkan giginya. Aku tersenyum menekuri dipan yang kami duduki.
Akupun mulai bercerita…



BAB III
NAMA FATIMAH

Namaku Fatimah. Ya, hanya Fatimah saja. Kenapa orang tuaku memberikanku nama ini, suatu hari di masa kecilku aku mendekati Amaq dan duduk di silanya.
“Amaq kenapa namaku Fatimah?” tanyaku polos. Amaq tertawa kecil.
“Fatimah adalah nama anak Rasulallah.” Begitu jawaban Amaq. Aku yang ketika itu hanya baru tahu kalau Rasulallah itu adalah seorang manusia yang paling mulia segera saja berbangga dengan namaku. Ternyata namaku sama dengan mereka. aku segera berlari ke rumah Faraby, sahabat kentalku.
“Aby! Namaku sama seperti nama anaknya Rasulallah.” Celotehku berbangga, hidungku kembang kempis saking bangganya.
“Ohya?!” kudapati mata Faraby yang iri, hal itu membuatku semakin bangga. Ternyata Faraby tidak memiliki nama yang sama dengan anak Rasulallah sepertiku. Akupun menarik lengan Faraby dan segera berlari ke rumah Mao.
“Mao…!!!” teriakku memanggilnya. Mao menyahut dengan tampang kotor. Tampaknya ia sedang bermain lumpur.
“Namaku sama seperti anak Rasulallah.” Ujarku lagi berbangga.
“Hahahahaha.” Respon berbeda ternyata yang kudapat dari Mao. Ia tertawa sambil menepuk-nepukkan tangannya yang belepotan lumpur.
“Kok ketawa?” tanyaku kecewa.
“Kok baru tahu sekarang?” Tanya Mao. Aku membelalakkan mata. Ternyata Mao sudah lebih dulu tahu.
“Kamu sudah tahu?” aku bertanya mengembangkan senyum selebar-lebarnya.
“Iya, kemarin saya sudah Tanya Abah, arti nama saya. Terus nama Fatimah, terus nama Faraby juga.” Cerita Mao. Faraby yang tadinya hanya menunduk kini mengangkat wajahnya.
“Kalau Fatimah sama seperti nama anak perempuan Nabi, kalau Faraby kata Abah nama orang Islam yang hebat. Ilmuan kalau nggak salah.” Jelas Mao. Gadis dengan kuncir kudanya itu terlihat begitu hebat. Akhirnya aku dan Faraby sama-sama berbangga dengan nama kami masing-masing.
“Terus Mao arti nama kamu apa?” Tanya Faraby dengan senyuman.
“Ada aja.” Jawab Mao cuek. Aku dan Faraby jadi penasara kemudian terus membujuknya. Tapi karena Mao tidak juga mau memberitahu kami, kami akhirnya menyerah dan ikut bermain lumpur dengannya.
Itu adalah awal dimana namaku sangat berpengaruh pada kehidupanku. Aku jadi suka mendengar cerita Abah Mao tentang Rasulallah dan anaknya. Buku di perpustakaan sekolah yang berkaitan dengan Rasulallah selalu kubaca, berulang-ulang. Selain itu Mao juga meminjamkan beberapa bukunya tentang Nabi mulia itu.
Nama anak Nabi Muhammad. Menyandang itu membuatku selalu berhati-hati bertindak. Selalu kufikirkan dulu, apakah anak Nabi Muhammad akan melakukan itu atau tidak? Begitu sampai aku SLTP.
Aku, Faraby dan Mao berpisah selepas pelulusan SD. Mao pergi mondok di Jawa, Faraby melanjutkan ke SLTP Favorit sedangkan aku di Madrasah Tsanawiyah Negeri. Dengan program Wajib Belajar 9 Tahun, akupun bisa mengecap bangku pendidikan itu.
Tapi aku tetap bersyukur, di sekolahku banyak mengajarkan agama karena memang berlatar belakang Islam. Jadi aku masih suka sekali mencaritahu tentang Nabi Muhammad dan Fatimah. Nama yang aku sandang selalu menjadi acuan bagiku.
Tetapi, semuanya seperti berubah saat pelulusan MTs, aku menjadi pelulus terbaik di sekolah. Saat itu aku pulang dengan hati kembang kempis saking senangnya. Tak ada yang ingin aku lakukan selain sampai rumah dan memeluk Amaq dan Inaq, menunjukkan hasil kelulusanku sebagai pelulus terbaik.
Sesampai rumah, tak ada yang aku temukan. Inaq masih berjualan sayur keliling, Amaq belum pulang nambang (mencari penumpang cidomo). Akupun menunggu dengan was-was. Hingga mereka pulang.
“Inaq, aku lulus. Terbaik!” ujarku bahagia. Inaq menyambut pelukanku dengan tersenyum sekenanya. Inaq memang tidak faham pendidikan, yang ada di fikiran Inaq adalah menghidupi anak-anaknya. Anak-anak dapat makan hari ini maka selesai. Esok, kita fikirkan lagi esok. Begitulah prinsipnya. Sedang Amaq menyambutku dengan senyum bangga. Ia menepuk-nepuk pundakku dengan senyuman salut. Di matanya ketika itu, aku mengeja sesuatu. Bahwa ia bangga memiliki anak sepertiku.
***

Selepas pelulusan aku tak tenang. Faraby memberitahuku kalau ia akan pergi mondok, seperti Mao. Ia ingin memperdalam Agama, begitu alasannya. Sedangkan surat dari Mao datang, di suratnya ia mengatakan telah lulus dengan predikat terbaik pula, dan akan melanjutkan Aliyah di pondok yang sama.
Aku?
Inginnya sekolahku lanjut lagi. Tapi untuk SMA tentu harus mengeluarkan biaya. Mampukah Amaq membiayaiku? Adikku paling kecil, si Riana masuk SD tahun yang sama. adikku nomer dua Fitri kelas tiga SD, pasti banyak kebutuhan. Lagi, adik di bawahku Aminah sekarang masuk SMP. Semuanya membutuhkan biaya tentu saja.Kakak kami, Edy tak bisa banyak membantu. Pekerjaannya sebagai seorang buruh bangunan ia kumpulkan untuk membuat rumah. Ia ingin menikah.
Semuanya membuatku tak bisa tidur. Aku ingin sekali sekolah, ingin sekolah. Tapi mau tak mau aku fikirkan juga keadaan keuangan keluargaku. Mampukah mereka?
Akhirnya dengan polos, kudirikan shalat dua rakaat, baru kemudian tenang dan aku bisa istirahat malam itu. paginya saat sarapan aku mencoba berbicara dengan orang tuaku.
“Inaq, saya mau sekolah.” Ujarku tanpa berani mengangkat wajah dari piringku. Semua diam sesaat. Kulirik Amaq, beliaupun tak bereaksi, hanya menunduk pada piringnya.
“Kamu itu perempuan, Fat. Walaupun sekolah bakalan tetap kembali ke dapur. Mending bantu Inaq berdagang.” Akhirnya Inaq bersuara. Aku mengangkat wajah, hendak membantah. Walaupun akan kembali ke dapur setidaknya aku ada ilmu, mendidik anak-anakku kelak. Setidaknya aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik jika sekolah. Kurasakan Amaq menatapku yang hendak menumpahkan banyak alasan. Ada rasa sedih seketika itu menyelinap di hatiku. Akupun kembali menurunkan wajah. Tak hendak membantah lagi.
Mungkin Inaq hanya menjadikan itu alasan saja, Inaq dan Amaq tidak mampu membiayai itu adalah masalah sebenarnya. Mereka tidak mampu, lalu haruskah aku membusungkan dadaku pada keduanya? Rasanya sungguh durhaka.
Maka, akupun menerima dengan diam. Tidak pernah lagi setelah itu kuungkit lagi masalah sekolah. Aku menanam niat sekolahku dalam-dalam sehingga bisa kulupakan dan tak terusik lagi. Aku berfikir, kalau saja Fatimah berada di posisiku mungkin ia akan melakukan hal yang sama.
Mematuhi keinginan orang tuanya.
Tapi mungkinkah Rasulallah melarang anaknya sekolah?
***

Selepas itu, aku membanti inaq berjualan sayuran. Berbagai macam sayuran kami bawa, beserta bahan-bahan pembuatan sambel. Menurut Inaq aku berbakat menjadi pedagang, semenjak aku ikut keliling berdagang dengannya barang dagangan kami lebih laku.
“Mungkin karena kamu cantik.” puji Inaq ketika itu, entah apa tujuannya. Tapi aku jadi semakin bersemangat membantu Inaq berdagang. Aku sangat percaya apa yang dikatakan Inaq bahwa aku cantik. Apalagi kalau melewati beberapa pemuda, mereka selalu menggodaku.
“Eh, cantik-cantik kok ikut jualan.” Begitu yang kerap mereka katakan. Awalnya aku senang, karena aku semakin yakin kalau aku memang cantik. tapi perlahan-lahan aku jadi malu.
Cantik-cantik, kok ikut jualan?!!
Akupun jadi malas membantu Inaq berjualan, takut nantinya dilihat oleh pemuda-pemuda dan diolok-olok. Inaq berusaha membujukku, tapi aku tetap tidak mau. Aku beralasan akan memasak saja di rumah, biar Amaq dan adik-adikku bisa makan tanpa menunggu kami pulang dulu. Padahal, Aminah sudah bisa membantu di dapur waktu itu. Ia selalu menyiapkan makanan untuk kami. Tapi, Inaq akhirnya tak lagi memaksaku. Hampir dua minggu Inaq berjualan sendirian.
Hingga, suatu saat pertanyaan itu muncul lagi. Apakah Fatimah akan melakukan hal yang sama denganku jika berada di posisiku?
Tidak membatu orang tua, dengan alasan malu diolok-olok oleh pemuda yang bahkan tidak aku kenal?
Akhirnya, aku kembali membantu Inaq berdangang. Inaq menyambut niatku dengan senang. Kehidupankupun kembali, membantu Inaq berjualan keliling kampung, aku tak perduli lagi dengan celetukan-celetukan pemuda-pemuda itu. Yang terpenting adalah aku, membantu Inaq.
Selain alasan itu, ada satu alasan lagi yang sebenarnya aku simpan diam-diam di hatiku. Alasan yang membuatku selalu betah untuk ikut berjualan dengan Inaq.



BAB IV
CINTA PERTAMA

Pemuda itu bernama Idi. Hanya itu yang aku tahu. Pemuda dengan alis tebal dan kulit yang sangat coklat. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai memperhatikannya, dan entah sejak kapan pula aku merasa ia memperhatikanku.
Setiap aku dan Inaq melewati rumahnya untuk berjualan, ia selalu duduk menunggu. Dan mengobrol berlama-lama denganku jika Inaqnya belanja.
“Sepertinya Idi ada hati sama Fat.” Goda Inaqnya yang terlihat tua dengan bibir merah karena sirih. Aku dan Idi hanya diam, tapi kami tidak membantah. Mungkin benar, Idi ada hati padaku dan mungkin juga benar aku ada hati padanya.
Semakin lama kami semakin dekat, dan Idi memberanikan diri datang mengapel ke rumah pada suatu malam. Awalnya aku kaget tapi aku pun menemaninya dengan suka cita. Kami berbicara banyak, tak jelas pangkal dan ujungnya. Tapi rasanya sebentar sekali dan tidak membosankan.
Pemuda dengan suara berat itu sungguh telah benar-benar memikatku. Aku telah buta padanya, sehingga tak ada yang kufikirkan lain tentang dia. Begitupun dengan Idi, ia datang tiap malam ke rumah. Tiap malam. Hanya untuk berbincang denganku. Tidak lebih.
Saat-saat itu, duniaku penuh dengan pemuda bernama Idi itu. Tidak ada yang lain. Surat-surat yang aku kirim ke Maopun selalu bercerita tentang Idi.
Idi yang kalau tertawa suaranya membuatku ikut tertawa, Idi yang kalau berbicara membuatku selalu betah mendengarkan, Idi yang kalau malu wajahnya akan memerah, Idi yang sangat mencintaiku, Idi yang sangat memperhatikanku, Idi yang begini, begitu dan semuanya tentang Idi.
Idi, Idi, Idi.
Penuh tentang dia.
Kata orang cinta pertama sulit dilupakan. Mungkin benar, karena aku terlalu bergantung padanya. Jika ia tidak datang satu malam aku akan uring-uringan, tidak karuan rasanya. Yang aku mau, hanya Idi saja. Pagi, siang, malam aku ingin bersama dia. Aku ingin melihat wajahnya yang menurutku paling tampan sedunia, aku ingin mendengar suaranya, dan semuanya.
***

“Fat.” Suatu sore Amaq memanggilku yang sedang memasak makan malam di dapur dengan Aminah. Aku menyahut dan segera menghampiri Amaq di teras rumah.
“Ada yang mau saya bicarakan.” Ucap Amaq dengan nada serius, membuat hatiku tak karuan. Aku mengangguk dan segera duduk di sampingnya. Amaq tidak langsung bicara, membiarkan sunyi menyapa kami.
“Orang-orang banyak membicarakan kamu.” Akhirnya Amaq berbicara juga. Aku terkesiap dan langsung menoleh pada Amaq, tapi tidak ingin memotong pembicaraannya. Aku menunggu Amaq melanjutkan lagi.
“Siapa pacarmu yang dari kampung sebelah itu?” Amaq melanjutkan.
“Idi?” aku menyahut dengan nada bertanya.
“Iya, pemuda itu. Kenapa setiap malam kamu izinkan bertamu di rumah?” Tanya Abah. Aku diam, tak hendak menjawab. Jadi, tidak bolehkah?
“Jelek dalam pandangan masyarakat, Fat. Kamu dikunjungi setiap malam. Mereka berfikir yang bukan-bukan tentang kamu.” Amaq melanjutkan lagi dengan nada tegas. Aku menelan ludah. Yang bukan-bukan? Memangnya apa yang bukan-bukan? Kami tidak berbuat apa-apa. Lagipula Amaq dan Inaq menerima Idi dengan baik di rumah. Bagiku tidak ada yang salah. Yang salah itu persepsi mereka. Menuduh orang sembarangan.
“Tidak baik buat kamu juga, Fat.” Amaq menambahkan. Dalam hati aku menggerutu. Tidak baik bagaimana? Kalau tidak bertemu Idi baru aku merasa tidak baik. Selama kami tidak melakukan apa yang dilarang Agama kan tidak apa-apa. Idi datang baik-baik, kok. Dan kami menyambut baik-baik. Apa yang salah?
“Kamu diam, kamu paham?” Amaq bertanya menoleh padaku.
“Faham, Amaq. Tapi nanti Idi mau datang lagi.” ucapku polos. Amaq menghela nafas.
“Iya, nanti biar saya yang temui.” Putus Amaq selanjutnya.  Aku menghela nafas kecewa.
“Sudah, lanjutkan memasaknya sana.” Perintah Amaq, aku pun mengangguk dan beranjak dari sampingnya.
Haaah…kenapa ya, orang-orang tidak bisa melihat aku senang? Idi kan pacarku, kok mereka yang gusar?
***

Malamnya aku benar-benar tidak bisa menemui Idi seperti sebelum-sebelumnya. Ketika Idi datang ia ditemani Amaq saja. Entah apa yang mereka perbincangkan, yang aku perhatikan dari jauh Idi tampak menunduk saja. Mungkinkah Amaq berbicara hal-hal yang tidak disukai Idi. Aku sungguh tak enak hati. Ingin rasanya aku kesana dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, Idi tidak perlu menghawatirkan apapun. Aku masih mencintainya dan ia mencintaiku. Bukankah itu yang terbaik?
Tapi sampai ia pergi aku tak bisa lebih dekat dengannya, ia pulang dengan suara deru motor yang tidak seperti malam-malam sebelumnya.
Selanjutnya, aku jarang sekali bertemu Idi. Ia tak datang lagi ke rumah malam-malam selanjutnya, dan meskipun aku pergi membantu Inaq berjualan, Idi tidak menungguku seperti biasanya. Walaupun Inaqnya belanja ia tidak muncul.
Semuanya membuat hatiku tidak sedap. Hidupku terasa lain, dan suasana menjadi begitu berantakan. Aku lebih banyak diam, merenung, bertanya-tanya pada kesendirianku. Kapan Idi akan kembali menemuiku? Kapan ia akan memberi aku kabar?
“Jangan terlalu diambil hati, Fat.” Suatu malam kakakku Edi tiba-tiba duduk di sampingku yang saat itu diam di teras ruamh sederhana kami, mendongak bintang.
“Masalah hati, masa iya nggak diambil hati?” aku bersungut memainkan bebera buku yang diberikan oleh Faraby sorenya.
“Hehehe, iya juga.” Ujar kakakku itu dengan cengiran.
“Dasar.” Gerutuku.
“Kamu betulan sayang sama anak itu?” akhirnya nada suara Edy tak lagi bercanda. Aku menghela nafas dan mengangguk pelan. “Sabar saja, mungkin dia perlu waktu merenung juga seperti kamu.” Hiburnya kemudian.
“Menurut side apa yang Amaq bilang pada Idi?” aku melirik kakak lelaki semata wayangku itu. Ia berfikir sebentar.
“Yang pantas ia fikirkan tentunya.” Jawaban yang tidak memuaskan.
“Yah, makanya apa, Kak?!” aku bertanya lagi sedikit jengkel.
“Mana aku tahu? Kan nggak ikut rapat.” Jawabnya asal. Aku menghela nafas tambah kesal. Dasar, seharusnya dia tidak memutuskan untuk berbincang denganku jika yang dibicarakannya hanya itu. Akhirnya kami mendongak bintang bersama-sama. satu-satunya TV di rumah adalah TV hitam putih dengan layar turun naik, kini sedang dinikmati Amaq dan ketiga adik kami. Inaq tentu sedang menyiapkan barang jualannya untuk besok. Aku dan kak Edy memang lebih sering memilih melakukan kegiatan selain menonton TV. Pasal TV begitu, merusak mata. Aku biasanya membaca buku-buku pinjaman dari Faraby atau Mao, sementara Edy berpetualang entah kemana. Kampung kami meskipun kecil memang tidak membosankan.
“Eh, Fat.” Kak Edy kembali memecah kesunyian.
“Umh?” aku menyahut sekenanya.
“Segimanapun sayangmu sama anak itu, kamu jangan melangkahi aku nikah, ya?” pintanya tanpa menoleh. Aku menatap wajahnya yang tampak serius.
Menikah?
Iyakah aku berfikir kesana? Dan Kak Edy? Benarkah ia khawatir akan aku langkahi?
“Lha, memangnya kenapa? Siapa tahu aja kan jodohku lebih cepat.” Ujarku kemudian sembari terkekeh.
“Undur dululah, kan kasian abangmu ini.” ia terdengar memelas, membuatku tertawa lepas. Ada-ada saja, masa iya aku menikah? Begitulah pemikiranku saat itu. Sesuatu yang menurutku tidak mungkin dan enteng begitu, ternyata memang tidak bisa dianggap biasa-biasa saja.
Masalahnya jodoh itu, Allah yang ngatur.



BAB V
MENIKAH

Idi, pemuda itu setelah seminggu menghilang akhirnya muncul lagi. Tapi kali itu ia datang di sore hari, menghadangku yang baru pulang berdagang dengan Inaq. Mengetahui Idi ingin bicara Inaq mempercepat langkahnya meninggalkan kami berdua.
Sore itu, singkat saja yang ia katakan.
“Kita menikah, Fat.”
Rasa-rasanya jantungku meloncat dari tempat semulanya. Idi mengajakku menikah?
Berapa kalipun aku bertanya tentang itu, jawabannya sama dan memang nyata. Pemuda itu mengajakku menikah. Di usia kami yang baru saja 16 tahun.
“Aku tidak main-main, Fat. Aku serius. Kita harus menikah.” Idi melanjutkan dengan nada serius.
“Harus?” tanyaku.
“Sebenarnya itu terserah kamu. Kalau memang kamu tidak mau aku tidak bisa lagi berhubungan denganmu.” Lagi-lagi, rasanya jantungku hendak loncat dari tempatnya. Tidak bisa berhubungan lagi?
Mendadak mataku memanas. Menatap sosok sederhana Idi yang tidak akan ada lagi dalam kehidupanku? Sungguh tidak bisa.
“Sebenarnya apa alasannya?” tanyaku polos saja. Idi menghela nafas.
“Fat, banyak yang menganggap hubungan kita selama ini tidak baik. Sedangkan kita sama-sama saling membutuhkan. Hanya ini satu-satunya cara, kita harus menikah.” Idi yang memang saat itu bernasib sama denganku (tidak melanjutkan sekolah) terdengar berantakan menjelaskan niatnya. Tapi selayaknya seorang yang memiliki perasaan yang sejenis, aku merasa sangat paham dengan apa yang ia katakan. Aku tidak ingin Idi pergi dari hidupku, dan aku tidak ingin orang-orang mengagatakan hal buruk tentang kami. Idi benar, menikah adalah satu-satunya jalan.
“Aku minta izin dulu.” Ujarku akhirnya, kulihat kelegaan terpancar di wajah Idi. Iapun tersenyum dan kami berpisah. Setelah itu, sepanjang perjalanan ke rumah aku memikirkan hal itu. Hingga mataku terasa pegal dan hatiku lelah.
Menikah?
Secepat inikah?
Tapi Idi? Jika kami tidak menikah aku tidak bisa lagi bersamanya. Bagaimana aku bisa kehilangan Idi?
Tidak, tidak!
Kami harus menikah, aku tidak akan sanggup jika tanpa Idi. Aku sangat mencintainya.
***

Dengan tidak menunda-nunda, malamnya aku segera menemui Inaq dan Amaq. Menyampaikan niatku.
“Inaq, Amaq. Aku mau nikah.”
Hanya itu kalimat yang keluar dari mulutku. Inaq tidak langsung menanggapi, sedang Amaq hanya helaan nafasnya yang berat yang kutangkap.
“Kamu yakin?” Inaq akhirnya mengeluarkan suaranya. Aku mengangguk. Di kampung kami memang banyak yang menikah di usiaku. 15, 16 atau 17 tahun. Sudah lumrah, masyarakat tidak akan terkejut jika aku menikah. Keluargaku juga bukan keluarga terpandang di kampung, jika aku menikah tidak ada yang akan membicarakan berlebihan. Aku putus sekolah dua bulan yang lalu, alasan lebih-lebih lagi bagiku untuk membenarkan tindakan ini, karena tidak ada lagi yang menghalangiku untuk menikah. Yang terpenting, beban orang tuaku akan berkurang jika aku menikah. Aku akan hidup dengan suamiku dan orang tuaku tidak perlu lagi menghidupiku.
“Pikirkan dulu matang-matang.” Inaq memberikan nasihat.
Sampun, Inaq.” Aku menjawab singkat. Lagi-lagi kami diam.
“Siapa yang akan membantu saya berdagang?” Tanya Inaq kemudian.
“Inaq sebenarnya sudah biasa berdagang sendiri, bukan? Lagipula, dengan saya menikah beban Inaq sama Amaq akan berkurang.” Aku memberi alasan. Membuat Inaq menghela nafas dalam.
“Kata siapa kamu beban, Fat?” suara Inaq terdengar melemah. Aku diam tidak menjawab. “Inaq sama Amaqmu ini tidak bisa melarang keinginanmu, Fat. Semua keputusan ada di tanganmu.” Inaq yang memang memiliki watak serba simpel itu melanjutkan dengan keputusan yang membuat hatiku sumringah. Kuberanikan diri mengangkat wajahku dan menatap wajah Amaq. Amaq menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Ada sesuatu di mata tuanya, tapi aku yang masih belum dewasa ketika itu tidak paham. Aku hanya menganggap kalau diam Amaq bermakna, iya.
***

Dalam adat Sasak menikah disebut Merariq. Proses awalnya adalah gadis diambil dari rumah tanpa memberitahu pihak manapun. Istilah ini sering disebut Memaling atau mulang. Kedua orang tua dari pengantin sebenarnya sudah mengetahui jika anak mereka akan menikah karena memang sudah diberitahukan sebelumnya. Tapi ketika dibawa oleh pengantin laki-laki (biasanya dibantu oleh beberapa orang teman) yang biasanya dilakukan selepas maghrib, orang tua si gadis akan pura-pura tidak tahu. Baru kemudian setelah menyadari putrinya tidak ada mereka akan mencari-cari, sembari mengatakan ‘mungkin dia menikah’. Dari mulut ke mulut, tersebarlah berita bahwa si Anu menikah karena tidak pulang sampai jam sepuluh atau sebelas malam. Mereka mencari dan menunggu sampai larut, padahal mereka tahu anak mereka menikah, tindakan itu hanya untuk membenarkan saja bahwa anak mereka menikah.
Sementara itu, gadis yang diambil disembunyikan di suatu tempat. Biasanya di rumah salah seorang keluarga di luar kampung, atau kalau menikah dengan lelaki satu kampung bisa juga disembunyikan atau dititip di rumah salah satu penduduk di kampung. Selama masa penitipan itu, penganting perempuang belum boleh menemui orang tuanya. Beberapa kerabat, teman atau kawan boleh menjenguknya. Membawakan makanan, perlengkapan mandi atau apapun. Dan selama masa tersebut, pengantin perempuan itu harus membantu segala pekerjaan tuan rumah tempat dimana dititip.
Jika segalanya sudah siap, barulah mereka dikawinkan. Proses kawin ini diawali dengan sorong serah. Yaitu, pihak laki-laki bersama sekian puluh orang pemuda datang ke rumah pihak perempuan membawa barang-barang yang akan diserahkan ke pihak perempuan. Biasanya sarung batik, baju, mukenah dan lain-lain. Proses ini dilaksanakan dengan bahasa yang disebut *caritahu*. Jarang sekali yang bisa bahasa ini. Biasanya baik pihak laki-laki dan pihak perempuan akan menyediakan orang khusus untuk berbicara dengan bahasa itu. Sebenarnya yang dikatakan biasa saja, bahwa pihak laki-laki meminta izin untuk mengambil anak gadis dari pihak perempuan sebagai istri, kemudian dijawab boleh oleh pihak perempuan. Tapi karena adatnya memang begitu, jadi haruslah dikatakan dengan bahasa tersebut.
Kegiatan ini biasanya dilakukan di halaman rumah perempuan. Pemuda-pemuda yang datang dari pihak laki-laki duduk bersila dengan baris ke belakang, membawa barang di tangan masing-masing. Dari pihak perempuan juga demikian, tapi jumlah orang dari pihak perempuan biasanya lebih sedikit. Di barisan paling depan, bersila sepuh yang bertugas berbicara dengan bahasa tersebut. Baik dari pihak laki-laki dan perempuan.
Yang paling menyenangkan dari acara ini khususnya bagi anak-anak adalah di akhir acara, akan dilemparkan uang koin. Dan siapapun berhak untuk mengambilnya. Pada tahap inilah anak-anak banyak berdatangan dan berebut mengambil koin.
Proses sorong serahku berjalan biasa saja. Idi berasal dari keluarga yang tak jauh berbeda dari keluargaku. Aku yang saat itu sudah disembunyikan tiga hari di salah satu rumah penduduk belum boleh bertemu dengan keluarga di rumah. Tapi, hatiku berasa senang bukan main. Karena aku akan menikah dengan Idi, lelaki yang sangat aku cintai itu.
Suatu sore, ketika esoknya aku akan sorong serah, aku kedatangan tamu. Awalnya aku lumayan terkejut, bahwa ternyata yang datang bertamu ketika itu adalah Faraby. Faraby datang dengan pakaian koko dan celana kain. Rambutnya ditutupi dengan kopiah putih, wajahnya yang tampan tampak semakin bersinar. Aku tersenyum menyambutnya. Pasti Faraby akan ikut senang atas pernikahanku, sehingga langsung pulang dari pondoknya, begitu yakinku.
“Bagaimana pondok?” tanyaku padanya. Ia tak langsung menjawab, hanya diam menekuri tikar yang kami gunakan sebagai alas duduk.
“Jangan menikah, Fat.” Ia malah mengucapkan kalimat yang sama sekali tidak aku fikirkan. Seketika itu alisku mengkerut, heran. Tak habis fikir kenapa seorang Faraby, sahabat kecil dan terbaikku malah mengatakan hal seperti itu?
“Apa?”
“Lebih baik kamu sekolah, aku akan usahakan supaya sekolahmu bisa lanjut lagi. Jangan menikah dulu, Fat.” Belum lagi aku menyelesaikan pertanyaanku, Faraby memotong dengan ungkapan yang membuatku semakin tak habis fikir. Melanjutkan sekolah? Aku?
“Sekolah? Semuanya tidak semudah dalam anggapanmu, By.” Aku menanggapi sedikit pelan.
“Aku yang akan membiayai. Aku sudah memikirkan selama di pondok, aku sudah mengajukan kepada tuan guru disana. Kamu bisa sekolah lagi.” Faraby terdengar begitu antusias. Ada harapan di matanya yang selalu betah kulihat.
“Tapi semuanya sudah begini, By. Sudah tidak bisa lagi. keluargaku akan menanggung malau kalau aku membatalkan pernikahanku.” Tolakku kemudian.
“Malu hanya sebentar, Fat. Tapi ilmumu akan bermanfaat selamanya.” Ia kembali meyakinkan. Salah satu sisi hatiku membenarkan kalimat Faraby, tapi itu sedikit. Bagiku saat itu Idi lebih penting dari apapun, perasaan kami lebih berharga dari apapun.
“Tapi aku mencintainya, By.” Akhirnya kuucapkan juga alasanku yang sebenar-benarnya. Faraby terdiam seketika. Aku menatap cahaya di matanya yang mulai meredup. Aku telah mengecewakannya, iya aku tahu. Tapi bagaimana jika batal? Aku akan mengecewakan Idi. Tidak.
Kami lama terdiam, baik aku ataupun Faraby rasanya tidak ada yang hendak membuka suara. Sore semakin beranjak malam. Aku memperhatikan Faraby yang bergerak, merusak silanya. Menurunkan kakinya, memasang sepasang sendalnya kemudian berlalu. Tidak ada salam, hanya aromanya yang has menyapa hidungku.
Aku terdiam. Menatap punggungnya yang tidak juga melambai, kepalanya yang menunduk. Mendadak saat itu, aku merasa menjadi orang yang begitu jahat. Untuk pertama kalinya, sejak aku memutuskan menikah aku merasa sedih meninggalkan seseorang, dan orang itu adalah Faraby.
***

Tapi rasa tidak enak itu berakhir tak lama setelah itu. besok sorenya sorong serah  dan akad nikah aku dan Idi berlangsung. Manisnya masa pengantin baru, indahnya rasa cinta yang disatukan dalam ikatan pernikahan telah menghapus rasa bersalahku pada Faraby. Terlebih lagi setelah kejadian itu Faraby tidak pernah pulang dari pondoknya hampir setahun. Aku juga sibuk dengan status baruku menjadi istri, tidak sempat lagi mengingat-ingat Faraby, atau berkirim surat dengan Mao. Entah juga saat itu siapa yang mengabarkan Mao tentang pernikahanku, karena aku jangankan mengirim surat, membaca surat Mao yang ia kirim beberapa hari sebelum aku diambil Idi saja tidak sempat.
Saat itu yang memenuhi duniaku adalah Idi. Pernikahan kami dan kebahagiaan yang sama sekali tidak tertandingi. Aku sangat-sangat bahagia.



BAB VI
Baru, Tentang Hal yang Lain


Tidak ada komentar:

Posting Komentar