PROLOG
Menjadi seorang gadis
yang memiliki nasib lain dengan sebayanya tentu tidak mudah. Perperangan hati,
keinginannya sebagai seorang remaja yang menggebu-gebu, diapit tekanan dari
berbagai juru, teman-teman yang membuat iri dan tertunduk, saudara-saudara yang
tak jarang menjadikannya lebih tak ingin mengunjuk diri. Pada usia yang belum
lagi matang masalah seolah tak hendak hengkang darinya, tekanan dari orang tua,
teman-teman, orang-orang sekitar bahkan dari insan yang belum lagi dikenalnya.
Tapi, gadis itu percaya Tuhan dan dia yakin Tuhan tidak pernah berhenti
memperhatikan dan menyayanginya. Hati kecilnya yang pilu selalu ia paksa untuk
bertahan pada yakin-Nya. Tapi nyatanya Tuhan memang tidak selalu memberikan
instan. Semuanya butuh proses, butuh usaha. Dan gadis itu, dengan semua
bebannya … bisakah bertahan?
BAB 1
PERCAKAPAN DI ATAS MOTOR
Angin pagi terasa
segar menerpa wajahku yang tak berpoles, aku tersenyum mengeja nikmat Allah
yang diada tara. Aroma has yang merempet di hidungku membuatku semakin nyaman.
Tapi aroma itu tak serta merta membuatku hendak memeluk pinggang pria di
depanku ini. namanya Faraby, ia adalah sahabatku sedari kecil. Saat ini kami
tengah menuju tempat kerjaku, ia dengan ikhlas mengantar.
“Kamu sudah sarapan,
Fat?” terdengar suara Faraby dari depan, membuat kegiatanku mengamati
sekeliling teralih.
“Udah tadi, kamu?”
tanyaku balik. Aku sudah terbiasa ber aku-kamu dengannya. Karena kami memang
seusia.
“Belum sempat. Tadi
buru-buru.” Jawabnya ringan, tapi perasaanku segera tersirat tak enak.
“Atau kita makan
dulu?” tawarku.
“Nggak usah, nanti
aku telat ngampusnya.” Ia menolak dengan alasan yang tak boleh kutolerir lagi.
Faraby memang sedang menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi di Mataram.
IAIN katanya. Sedang aku malah bekerja. Aku memang berbeda dengan Faraby, ia
berasal dari keluarga terhormat di kampung. Orang tuanya haji, jelas ekonominya
tinggi. Sedang aku? Dengan usia ini --19 tahun-- aku sudah menjadi janda.
Ceritanya panjang, yang jelas selepas SLTP aku tak menlajutkan sekolah. Orang
tuaku, tak mau memberikanku izin untuk sekolah.
“Kamu kalau perempuan
kan ujung-ujungnya masak, di dapur juga.” Begitu Inaq memberi alasan. Sedangkan
Amaq aku tak tahu pasti apa yang ada di fikirannya, ia lebih banyak diam, tak
membela inaq ataupun aku.
Aku terlahir sebagai
anak ke dua dari lima bersaudara. Kakakku laki-laki dan ketiga adikku
perempuan. Dengan pekerjaan Amaq kusir dan Inaq menjual sayur-sayuran
perekonomian keluargaku memang tak bisa dikata lebih. Cukup mungkin iya. Karena
itulah saat Inaq tak memberikanku izin untuk
melanjutkan sekolah aku tak banyak bicara untuk membantah. Semuanya aku
ikhlaskan saja.
“Fat, sudah sampai.”
Faraby menghentikan motornya di depan toko tempatku bekerja. Aku sedikit
terperajat karena sempat melamun. Segera aku turun dari motor Yamaha MXnya itu.
“Terimakasih ya, By.
Hati-hati di jalan.” Aku tersenyum padanya yang membuka kaca helmnya.
“Okay, nanti mau
pulang bareng?” tawarnya, Faraby memang sangat perhatian padaku. Tapi
seringkali aku tak enak menerima tawarannya yang terlalu baik menurutku.
“Liat nanti saja, ya?
Aku sms.” Jawabku akhirnya yang disetujuinya dengan anggukan. Iapun
menghidupkan motornya kemudian berlalu. Aku tersenyum pada punggung dan asap
motornya. Kubalik hadap tubuhku, toko milik seorang China ini belum lagi
dibuka. Aku memang sengaja datang lebih awal, takut terlambat. Lagian juga
Faraby harus berangkat cepat, jadi sekalian.
Atasanku di toko ini
terbilang ketat, cermat, teliti dan cerewet. Kami sebagai pekerja tak boleh
keliru. Sedikit saja kesalahan yang didapatinya pasti kami langsung kena omel
walaupun sedang ada pelanggan yang berbelanja.
Sebenarnya, tidak
semua orang China yang punya toko di Cakra ini suka marah-marah. Buktinya ada
beberapa temanku yang bekerja di toko orang China dan tetap santai, bosnya baik
juga. Yah, mungkin memang nasib harus begini.
Aku memilih duduk di
emperan toko, merogoh hp NOKIA jadul hitam putihku, membuka pesan masuk yang
kosong. Hanya beberapa pesan dari Faraby tadi pagi yang mengajak berangkat
bersama yang terisi di pesan masuk. Iseng kukirimi ia pesan.
‘Jngan lupa sarpn,
y.’
Kirim.
Ah, lagi-lagi Faraby.
Lelaki dengan wajah artis itu. Dia kerap menjadi malaikat dalam hidupku. Kalau
aku kekurangan uang pasti ia yang menawarkan uangnya. Kalau aku membutuhkan
segala hal ia tak akan segan untuk memberikan bahkan membelikan apa yang aku
butuhkan.
“Kita kan sudah kaya’
saudara, Fat. Masa gitu aja malu.” Begitu kerap yang ia katakan. Aku biasanya
jadi tambah tak enak.
Faraby berbeda dengan
pemuda-pemuda lain di kampung. Ia santun, agamanya baik karena sempat mondok di
pesantren tiga tahun. Dia juga tidak sombong, tidak pernah membawa perempuan
pulang ke rumah, tidak merokok, dan banyak hal yang membuatnya berbeda. Wajah
tampannya memang sangat diminati banyak perempuan di kampung, apalagi dia juga
kaya. Tapi Faraby lebih sering menutup diri. Teman perempuannya hanya aku,
karena dari kecil memang akulah sahabatnya.
“Kamu jangan mikir
macam-macam, terserah orang mau bilang apa. Yang penting kita tidak berbuat
diluar batas.” Begitu Faraby menanggapi ketika aku mengadukan pembicaraan orang
tentang kedekatan kami.
“Tapi kamu tidak
apa-apa?” aku masih tetap tak nyaman.
“Memangnya harus
apa-apa?” ia balik bertanya membuatku tersenyum.
“Aku kan janda, By.”
Lanjutku kemudian. Faraby tak menjawab, dia memang paling tidak suka jika aku
membicarakan tentang statusku itu. jika keceplosan seperti itu, kami akan
sama-sama diam hingga ia pergi meninggalkanku tanpa bicara. Entah kenapa aku
merasa bersalah padanya jika mengungkit tentang itu. karena aku melihat Faraby
sakit. Maka sebisa mungkin aku tidak mengungkit-ungkit masalah itu jika
bersamanya.
Dulu saat aku
menikah, Farabylah yang paling tidak setuju. Aku ingat ketika itu tak lebih
dari enam bulan selepas lulusan SMP dan Faraby pergi mondok, aku mengenal
seorang lelaki dari luar kampung kemudian jatuh cinta. Tak lebih dari empat
bulan berhubungan aku diajaknya menikah, dan aku mengiyakan. Begitu tersebar
berita itu dan Faraby mendengar ia segera meminta izin pulang dan menemuiku.
Aku masih ingat
ketika ia datang dengan wajah panik ke rumah penduduk dimana aku disembunyikan.
Adat sasak memang begitu, kalau menikah perempuan akan dibawa diam-diam oleh
calon suami dan disembunyikan di salah satu rumah orang. Sebenarnya bukan
menculik, para pengantin jelas sudah memberitahu kedua orang tua, disetujui
barulah dibawa pergi. Mulang istilahnya.
“Jangan, Fat. Kamu
jangan menikah.” Begitu pinta Faraby ketika itu. keningnya yang putih dialiri
peluh, wajahnya yang tampak bersinar membuatku terenyuh.
“Aku sudah begini,
bagaimana mau batal, By?!” ujarku
mengingat aku sudah diambil oleh calon suami dan disembunyikan. Adalah
masalah dan rasa malu yang besar jika harus dibatalkan.
“Kamu batalkan saja.”
Begitu ia membujuk.”Kamu lanjutkan sekolah.” Lanjutnya dengan sorot mata
memohon. Tapi kami memang tak bisa melakukan apa-apa, tepatnya aku. Aku sudah
terlanjur jatuh cinta pada lelaki itu. lelaki yang usianya tak jauh juga
berbeda dariku. Akupun mengabaikan permintaan Faraby dan melanjutkan pernikahan
dengan pesta kecil-kecilan. Kalau istilah Lombok namanya begawe.
“Fat sudah datang?”
aku kaget mendengar suara Pri, lelaki temanku bekerja juga di toko.
“Iya dari tadi.”
jawabku sembari berdiri.
“Masuk, yuk. Bantu
beres-beres.” Pintanya. Memang dialah yang ditugaskan membuka toko setiap
harinya. Sudah sangat dipercaya, dan lama kerja disini. Aku mengangguk
mengiyakan. Pagi ini, kembali menjalankan ruutinitas seperti biasa.
***
Sebuah pesan masuk,
aku segera membuka HPku dan dilayar tertulis pesan yang dikirim Faraby.
‘sy d dpan’
Aku menghela nafas.
Pekerjaanku belum lagi kelar, tapi Faraby memang begitu orangnya jika memiliki
keinginan ia akan segera melakukannya. Akupun segera keluar dengan langkah
terburu-buru. Benar saja di depan toko Faraby sudah memarkir motornya, ia
sendiri asyik memainkan hp sambil memperhatikan kendaraan yang lalu lalang.
“Aku belum selesai
kerja.” Ucapku begitu berada tak jauh darinya.
“Iya, aku tahu. Tapi
ada sesuatu yang penting.” Ujarnya terlihat serius.
“Sesuatu?” tanyaku.
“Iya, Mao balek hari
ini, Fat.” Faraby berkata dengan wajah sumringah membuat hatiku jadi tak
karuan. Ada bahagia karena salah satu sahabat kecil kami, Mao akan kembali dan
sedikit sakit hati karena Faraby begitu senang. Tapi kenapa harus sakit hati?
Ah, lain-lain aja.
“Ohya?!” aku ikut
antusias. Mao, gadis itu membuatku rindu juga.
“Iya, setengah jam
lagi sampai rumah katanya. Mau ikut pulang sekarang?” ajaknya.
“Umh? Coba minta izin
dulu yah?” aku tersenyum, selepas ia mengangguk aku segera kembali ke toko.
Meminta izin kepada Koko, sebutan untuk si pemilik. Entah hari baik atau memang
keberuntungan ternyata Koko memberikan izin. Aku dan Faraby segera melaju,
menelusuri jalanan aspal yang banyak diperbaiki. Faraby melajukan motor dengan
santai.
“Kenapa? Kok jalanan
bagus diperbaiki gitu, By?” tanyaku iseng, “Kan jadi macet sana sini. Kenapa
nggak didiemin aja. Seperti nggak ada kerjaan.” Aku melanjutkan sedikit protes.
“Hehe…kamu tau kan Fat,
setiap yang diperbaiki itu pasti memiliki kerusakan.” Faraby berujar bijak.
“Ha? Rusak? Bukannya
ini mulus-mulus aja, yah?” aku kembali memperhatikan.
“Pelajaran lagi,
setiap yang terlihat bagus luarannya belum tentu bagus dalamnya. Manusia itu
seperti jalanan ini, Fat.” Aku mengerutkan alis demi mendengar perkataan Faraby
yang terdengar dewasa, “Yang memperbaiki itu ibaratkan Allah. meskipun kita
terlihat baik-baik saja, tapi Allah tahu ada yang rusak dalam diri kita. Maka
Allah melakukan perbaikan-perbaikan. Seperti diberikan masalah dan
ujian-ujian.” Lanjut Faraby membuatku merenung. Rambutku yang tipis dan diikat
satu beterbangan terkena angin. Allah, masalah, perbaikan. Benarkah begitu?
Semua ujian dalam hidupku perbaikankah, Tuhan? Statusku janda, perbaikankah
Tuhan?
Tak ada yang menjawab
karena hanya aku yang bertanya menggema dalam hati.
“By…” aku membuka
suara setelah beberapa lama terdiam
“umh?” Faraby
menjawab singkat.
“Semua yang terjadi
dalam diriku, perbaikankah?” akhirnya aku bertanya.
“Insya Allah…”
“Lalu kenapa aku
tidak semakin baik?” aku bertanya kemudian.
“Allah tidak mungkin
gagal memperbaiki makhluk-Nya, Fat. Mungkin saja kamu merasa tidak semakin
baik, tapi di pandangan-Nya pasti makin baik.” Faraby lagi-lagi terdengar jauh
lebih dewasa dari yang kutahu.
“Dan orang-orang?”
aku kembali bertanya lagi-lagi sedikit protes.
“Yang penting kan apa
yang ada dalam pandangan Allah, bukan di mata makhluk-Nya yang bahkan mungkin
tidak lebih baik dari kita.” Aku merasa perkataan Faraby terlalu sulit untuk
kucerna. Tapi entah kenapa aku merasa paham.
Paham? Benarkah aku
paham? Jika demikian kenapa aku tidak merasa lebih baik? Semua masalah yang
menimpaku rasanya semakin memesengkan keadaanku, bukan malah membaik.
Aku menoleh pada
orang-orang yang memperbaiki aspal. Ada yang memukul dengan alat besar dan
tajam, ada yang menyisam dengan air hitam yang panas. Tiba-tiba di fikiranku
muncul sebuah pertanyaan.
Sesadis itukah Allah
memberikan perbaikan kepada hamba-Nya?
BAB II
MAO KEMBALI
Gadis itu dengan hidung bangir dan mata peri.
Mao. Sedari kecil kami bersahabat bertiga, aku, Faraby dan Mao. Dan aku adalah
yang paling berbeda. Mao dan Faraby, dua orang yang berasal dari keluarga kaya,
sedang aku tahu sendirilah. Faraby dan Mao melanjutkan sekolah sedangkan aku
tidak. Bahkan Mao melanjutkan sekolah ke luar kota. Dan baru kembali sekarang.
mungkin hendak menuntut ilmu lagi di perguruan tinggi di Universitas yang ada
di kampung kelahirannya. Begitu ia memberitahuku beberapa waktu lalu. lagi,
Faraby dan Mao adalah dua orang dengan wajah artis, setidaknya begitulah
menurut kami, sedangkan aku? Gadis Sasak sangat, kulit manggis matang, rambut
tipis sedikit bergelombang, mata bundar dan hidung yang sedikit mancung. Yang
sedikit sama dari kami adalah kwalitas otak yang lumayan. Mao untuk juara satu,
aku dua dan Faraby tiga. Selalu begitu prestasi kami di SD dulu. Tapi entah
bagaimana sekarang.
“Faaat!!!” Mao
memelukku erat, aromanya yang wangi membuat rinduku sedikit terobati. Mao,
gadis itu kembali dengan kibaran jilbab yang lumayan lebar, wajahnya yang dulu
imut-imut kini telah berubah menjadi cantik. bukan hanya aku yang terpana saat
melihatnya, tapi Faraby juga tertegun. Mao memang cantik.
“Kangen, kamu apa
kabar?” Mao bertanya melepas pelukan sembari melihatku.
“Baik, kok. Kamu?”
aku balik bertanya
“Alhamdulillah, baik
juga. Aku ada oleh-oleh buat Fatty dan Fabby.” Ia membuka-buka barangnya,
menyebut nama kecil kami yang khusus ia buat untuk dipanggilnya sendiri. Aku
dan Faraby saling bertatapan, ia tersenyum sembari mengangguk kecil. Mao dari
kecil memang gadis yang bersemangat, bukan hanya dalam bersikap tapi dalam
belajar. Karena itulah Mao disenangi banyak orang. Sikapnya yang ramah dan
selalu terlihat tertarik membuat siapa saja menjadi betah dengannya.
“Ini buat Fatty dan
ini Faby.” Ia menyerahkan bungkusan kepada kami masing-masing.
“Syukron.” Faraby
mengucapkan kata yang asing di telingaku tapi Mao menanggapi dengan senyuman.
Mereka tampak saling memahami.
“Tak perlu
berterimakasih begitu, By. Aku kan bukan orang Arab.” Mao menanggapi sembari
menggandeng lenganku. Oh, aku faham. Syukron itu terimakasih dalam Bahasa Arab,
barangkali.
“Kenapa mesti
repot-repot, Mao?” aku malah menanggapi oleh-oleh Mao dengan pertanyaan.
“Repot?” mata peri
milik Mao terbelalak, “Aku pergi sudah enam tahun, kemudian hanya membawa
bingkisan ringan begini dibilang repot?” ia melanjutkan sembari geleng-geleng.
Aku tersenyum, sikap loyal yang menambah plus-plus nilainya di mata kami memang
tidak berubah dari dulu.
Mao, dalam
perantauannya tidak pernah melupakan kami. Aku dan Faraby sering mendapat
bingkisan darinya. Paling tidak beberapa lembar surat tentang kabarnya. Aku,
meskipun tidak sekolah sering mendapat asupan ilmu dari Mao. Sejak ia
mengetahui tentang sekolahku yang tidak berlanjut, ia dengan bersemangat dan
ikhlas mengirimkan buku-buku yang menurutnya penting untukku baca. Beberapa
terkait dengan pengetahuan, dan beberapa termasuk motivasi.
Aku menoleh menatap
wajah cantik Mao. Mungkin terimakasih saja tidak cukup atas apa yang telah ia
lakukan. Mao dan Faraby menjadi dua malaikat yang tak bisa kujelaskan perannya
dalam hidup. Beberapa penghormatan yang kudapat dari masyarakat terkait
pengetahuan tak lepas dari bantuan mereka, usaha yang mereka lakukan agar aku
tak hidup dengan buta ilmu.
“Terimakasih banyak,
Mao.” Aku menggenggam tangannya yang melingkar di lengan kiriku. Ia menoleh
padaku, tersenyum manis dan mengangguk.
“Amaq sehat?”
tanyanya. Giliran aku yang mengangguk.
“Alhamdulillah,
sehat.” Jawabku selanjutnya.
“Besok, jalan-jalan
pakai cidomo ya? Cidomo Amaq masih, kan?” ia mengajak bersemangat. Aku kembali
mengangguk, menyanggupi. Berhubung besok hari minggu, tidak ada yang perlu aku
hawatirkan.
***
“Assalamu’alaikum.”
Suara has Mao membuka pagi kami. Aku, Amaq dan Inaq juga keempat adikku
menyambutnya dengan ramah. Mao dan Faraby memang sudah seperti saudara sendiri.
Jadi kalau mereka datang orang tuaku akan menyambut mereka seperti anak mereka
sendiri. Apalagi Mao yang sudah lama pergi menuntut ilmu keluar kota.
“Sarapan, Nak?” ajak
Amaq pada Mao.
“Terimakasih, Amaq.
Tadi udah di rumah.” Tolak Mao sopan. Meski begitu kami tetap
berbincang-bincang selama sarapan. Mao bercerita banyak tentang pondoknya di
Jawa. Dengan semangat dijelaskannya suasana belajar disana, bagaimana
lingkungannya, juga masalah-masalah yang kerap terjadi. Di matanya terlihat
jelas bahwa Mao masih sangat ingin disana.
“Yah, tapi masih mau
di kampung, Amaq. Mau menghabiskan masa kuliah disini saja.” Begitu ujarnya.
Mao ingin berkumpul lagi dengan kedua orang tuanya, juga sahabat-sahabatnya
yang dulu.
“Yang paling ingin
saya lakukan adalah memajukan kampung kita, Amaq.” Pada kalimat ini mata
perinya menerawang. Ia terlihat begitu bersemangat. “Banyak hal yang harus kita
perbarui di kampung ini, banyak pemikiran masyarakat yang harus kita perbaiki,
banyak tindak tanduk anak muda yang harus kita rapikan.” Ia menjelaskan dengan
berapi-api membuatku tertegun.
Perbaikankah?
Seperti apa perbaikan
yang akan diberikan Mao pada kampung ini? Apakah seperti yang dilakukan
orang-orang yang memperbaiki aspal yang diambil permisalan oleh Faraby kemarin?
Aku kembali melihat mata Mao yang tak surut semangat. Benarkah gadis ini ingin
melakukan semua itu? ia baru saja berusia 18 tahun. Bisakah ia?
Tiba-tiba saja aku
menjadi iri.
***
Suara kaki kuda,
angin sepoi-sepoi menjadi pelengkap keliling kampung kami pagi ini. aku, Mao
dan Amaq. Sepanjang perjalanan Mao terus terkagum-kagum. Ternyata kampung kami
masih belum banyak berubah baginya. Masih banyak sawah, masih banyak
pohon-pohon jambu yang dulu pada masa kecil kami sering panjat, dan masih deras
air yang mengalir. Perjalanan kami jadi lebih mudah daripada yang dulu. Karena
sekarang jalan disawah agak diperlebar dan diperhalus dengan semen dan pasir.
Jalan rabat istilahnya. Jadi, jika kita jalan-jalan menggunakan cidomo jadi
sangat nikmat. Kiri kanan mata kita dimanjakan dengan hamparan sawah penduduk
yang menghijau. Petani memang baru menanam padi sebulan belakangan, jadi sawah
sedang hijau-hijaunya saat ini.
“Fat, kenapa sekarang
beberapa petani merubah sawah mereka jadi kolam ikan?” Tanya Mao memperhatikan
beberapa kolam ikan penduduk yang dulunya memang sawah.
“Beberapa dibeli
orang, Mao. Beberapa lagi karena memang alasan ingin mencari penghasilan selain
bertani.” Begitu jawabku.
“Oo..” mulut Mao
membundar, kepalanya mengangguk-angguk paham. “Tapi kelihatannya bagus juga.
Mereka merawatnya dengan baik, ya?” ia masih betah memperhatikan kolam-kolam
ikan itu. aku tersenyum mengangguk, ikut memperhatikan juga. Memang sebagian
besar penduduk di kampung kami pekerjaannya adalah sebagai petani, tapi
belakangan sebagian dari mereka berubah profesi menjadi peternak ikan.
Sebagian penduduk di
kampung memang berprofesi beternak ikan. Hal ini dikarenakan air di kampung
memang banyak. Di timur kampung ada sungai, barat juga ada sungai, utara dan
selatanpun ada aliran sungai. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh penduduk untuk
beternak ikan.
Dulunya sebagian
besar peternak ikan memelihara ikan di sungai. Mereka membuat tempat
penampungan ikan dari bambu dan menaruhnya di sungai. Tempat penampungan ikan
seperti itu disebut Karamba. Tapi, sejak air sungai sering meluap banyak ikan
di karamba-karamba itu hanyut. Karamba yang terbuat dari bambu tidak kuat
menahan arus air, akhirnya jebol. Sungai itupun semakin lama semakin dangkal.
Arus besar yang membawa sampah dan pasir dari hulu terendap di dasar sungai. Akibatnya
para peternak ikan harus menggali dasaran sungai baru kemudian melepas karamba
disana. Tapi, semakin lama bisnis ikan seperti itu untungnya semakin berkurang.
Masalah biaya membuat karamba yang makin mahal karena harga bambu juga naik,
belum lagi harga pakan ikan. Hingga akhirnya para peternak ikan memutuskan
untuk berhenti berbisnis demikian. Satu, satu mereka semua meninggalkan
pemeliharaan ikan dengan cara ber-karamba. Dan berpindah ke kolam.
Bagi yang memiliki
tanah, gampang saja membuat kolam ikan. Tinggal membayar beberapa orang untuk
menggali tanah, mengalirkan air, melepas bibit, jadi. Cara seperti ini dirasa
lebih efektif dibandingkan karamba oleh penduduk, karena hanya sekali membuat
wadah penampungan ikan. Yang perlu diperhatikan hanya keluar masuk air di
kolam. Tapi, bagi yang tidak memiliki tanah itu tentu masalah. Akhirnya membuat
mereka mencari pekerjaan lain, atau kalau ada sawah mereka mengubah sawah
mereka menjadi kolam ikan.
“Amaq ndek mancing
di kali?” Tanya Mao pada Amaq yang serius memerintah kudanya.
“Kadang-kadang.” Amaq
menanggapi dengan sedikit tawa. Amaq memang tipe orang yang sedikit berbicara.
Tapi ketika keluar suara dari mulutnya, pasti ia sertai dengan senyuman. Itulah
Amaq yang aku kenal.
“Amaq, saya boleh
bersama Fat seharian?” Pinta Mao kemudian membuat aku juga sedikit terkejut.
Aku melihat Mao dan ia menoleh padaku dengan senyuman yang tersembunyi sesuatu
dibalik itu.
“Tentu saja.” Amaq
menjawab singkat.
“Di sawah Abah, ya?”
Pinta Mao lagi, Abah adalah panggilannya untuk ayahnya. Amaq mengangguk. Mao
menoleh padaku kembali tersenyum.
***
Sawah Abah Mao tidak
terlalu jauh dari perkuburan kampung. Di sawah Abah Mao, terdapat tempat
peristirahatan yang bagus. Dialasi ulatan dipan, dan diatapi dengan jerami yang
rapi. Jika duduk disana kita akan dimanjakan dengan pemandangan sawah yang
luas, beberapa pohon jambu yang ditanam Abah Mao menambah indah pemandangan
yang kita dapat nikmati.
Dan kini kami, aku
dan Mao duduk berdua disini. Bersisian, menikmati lambaian pohon dan belaian
angin. Jilbab Mao yang lebar berkibar-kibar. Aromanya yang wangi membuatku
nyaman. Aku sendiri sudah berantakan, rambutku yang kuikat satu biasa sudah tak
karuan diterbangkan angin.
“Fat…” Mao
memanggilku dengan mata menerawang pada langit yang beranjak semakin terang.
“Umh?” aku menjawab
sembari menoleh padanya.
“Ceritakan
tentangmu…” pintanya menoleh padaku. Aku tertegun. Tentangku?
“Yah, ceritakan aku
tentang Fatimahku.” Ia meyakinkan lagi. Setelah lama diam, aku menghela nafas.
Mao, tentu ingin tahu apa yang telah terjadi padaku selama ini. gadis ini,
seseorang yang bagiku Malaikat tentu tidak pantas hanya mengetahui dari
lembaran-lembaran yang aku kirim padanya bila hari tentang kehidupanku yang
berantakan ini.
Dia pantas tahu
semuanya.
“Ceritakan aku dari
semula, Fat. Aku rindu ketika kamu masih menjadi Fatimah kecil yang sering
datang meminta jambu ungu ke rumahku.” Pinta Mao lagi.
“Haruskah dari sana?”
aku bertanya, bukankah kami melewati masa-masa kecil itu bersama?
“Iya, aku ingin semuanya
diceritakan olehmu, Fat.” Mao memamerkan giginya. Aku tersenyum menekuri dipan
yang kami duduki.
Akupun mulai
bercerita…
BAB III
NAMA FATIMAH
Namaku Fatimah. Ya,
hanya Fatimah saja. Kenapa orang tuaku memberikanku nama ini, suatu hari di
masa kecilku aku mendekati Amaq dan duduk di silanya.
“Amaq kenapa namaku
Fatimah?” tanyaku polos. Amaq tertawa kecil.
“Fatimah adalah nama
anak Rasulallah.” Begitu jawaban Amaq. Aku yang ketika itu hanya baru tahu
kalau Rasulallah itu adalah seorang manusia yang paling mulia segera saja
berbangga dengan namaku. Ternyata namaku sama dengan mereka. aku segera berlari
ke rumah Faraby, sahabat kentalku.
“Aby! Namaku sama
seperti nama anaknya Rasulallah.” Celotehku berbangga, hidungku kembang kempis
saking bangganya.
“Ohya?!” kudapati
mata Faraby yang iri, hal itu membuatku semakin bangga. Ternyata Faraby tidak
memiliki nama yang sama dengan anak Rasulallah sepertiku. Akupun menarik lengan
Faraby dan segera berlari ke rumah Mao.
“Mao…!!!” teriakku
memanggilnya. Mao menyahut dengan tampang kotor. Tampaknya ia sedang bermain
lumpur.
“Namaku sama seperti
anak Rasulallah.” Ujarku lagi berbangga.
“Hahahahaha.” Respon berbeda
ternyata yang kudapat dari Mao. Ia tertawa sambil menepuk-nepukkan tangannya
yang belepotan lumpur.
“Kok ketawa?” tanyaku
kecewa.
“Kok baru tahu
sekarang?” Tanya Mao. Aku membelalakkan mata. Ternyata Mao sudah lebih dulu
tahu.
“Kamu sudah tahu?” aku
bertanya mengembangkan senyum selebar-lebarnya.
“Iya, kemarin saya
sudah Tanya Abah, arti nama saya. Terus nama Fatimah, terus nama Faraby juga.”
Cerita Mao. Faraby yang tadinya hanya menunduk kini mengangkat wajahnya.
“Kalau Fatimah sama
seperti nama anak perempuan Nabi, kalau Faraby kata Abah nama orang Islam yang
hebat. Ilmuan kalau nggak salah.” Jelas Mao. Gadis dengan kuncir kudanya itu
terlihat begitu hebat. Akhirnya aku dan Faraby sama-sama berbangga dengan nama
kami masing-masing.
“Terus Mao arti nama
kamu apa?” Tanya Faraby dengan senyuman.
“Ada aja.” Jawab Mao
cuek. Aku dan Faraby jadi penasara kemudian terus membujuknya. Tapi karena Mao
tidak juga mau memberitahu kami, kami akhirnya menyerah dan ikut bermain lumpur
dengannya.
Itu adalah awal dimana
namaku sangat berpengaruh pada kehidupanku. Aku jadi suka mendengar cerita Abah
Mao tentang Rasulallah dan anaknya. Buku di perpustakaan sekolah yang berkaitan
dengan Rasulallah selalu kubaca, berulang-ulang. Selain itu Mao juga
meminjamkan beberapa bukunya tentang Nabi mulia itu.
Nama anak Nabi
Muhammad. Menyandang itu membuatku selalu berhati-hati bertindak. Selalu
kufikirkan dulu, apakah anak Nabi Muhammad akan melakukan itu atau tidak?
Begitu sampai aku SLTP.
Aku, Faraby dan Mao
berpisah selepas pelulusan SD. Mao pergi mondok di Jawa, Faraby melanjutkan ke
SLTP Favorit sedangkan aku di Madrasah Tsanawiyah Negeri. Dengan program Wajib
Belajar 9 Tahun, akupun bisa mengecap bangku pendidikan itu.
Tapi aku tetap
bersyukur, di sekolahku banyak mengajarkan agama karena memang berlatar
belakang Islam. Jadi aku masih suka sekali mencaritahu tentang Nabi Muhammad
dan Fatimah. Nama yang aku sandang selalu menjadi acuan bagiku.
Tetapi, semuanya
seperti berubah saat pelulusan MTs, aku menjadi pelulus terbaik di sekolah.
Saat itu aku pulang dengan hati kembang kempis saking senangnya. Tak ada yang
ingin aku lakukan selain sampai rumah dan memeluk Amaq dan Inaq, menunjukkan
hasil kelulusanku sebagai pelulus terbaik.
Sesampai rumah, tak
ada yang aku temukan. Inaq masih berjualan sayur keliling, Amaq belum pulang
nambang (mencari penumpang cidomo). Akupun menunggu dengan was-was. Hingga
mereka pulang.
“Inaq, aku lulus.
Terbaik!” ujarku bahagia. Inaq menyambut pelukanku dengan tersenyum sekenanya.
Inaq memang tidak faham pendidikan, yang ada di fikiran Inaq adalah menghidupi
anak-anaknya. Anak-anak dapat makan hari ini maka selesai. Esok, kita fikirkan
lagi esok. Begitulah prinsipnya. Sedang Amaq menyambutku dengan senyum bangga.
Ia menepuk-nepuk pundakku dengan senyuman salut. Di matanya ketika itu, aku
mengeja sesuatu. Bahwa ia bangga memiliki anak sepertiku.
***
Selepas pelulusan aku
tak tenang. Faraby memberitahuku kalau ia akan pergi mondok, seperti Mao. Ia
ingin memperdalam Agama, begitu alasannya. Sedangkan surat dari Mao datang, di
suratnya ia mengatakan telah lulus dengan predikat terbaik pula, dan akan
melanjutkan Aliyah di pondok yang sama.
Aku?
Inginnya sekolahku
lanjut lagi. Tapi untuk SMA tentu harus mengeluarkan biaya. Mampukah Amaq
membiayaiku? Adikku paling kecil, si Riana masuk SD tahun yang sama. adikku
nomer dua Fitri kelas tiga SD, pasti banyak kebutuhan. Lagi, adik di bawahku
Aminah sekarang masuk SMP. Semuanya membutuhkan biaya tentu saja.Kakak kami,
Edy tak bisa banyak membantu. Pekerjaannya sebagai seorang buruh bangunan ia
kumpulkan untuk membuat rumah. Ia ingin menikah.
Semuanya membuatku
tak bisa tidur. Aku ingin sekali sekolah, ingin sekolah. Tapi mau tak mau aku
fikirkan juga keadaan keuangan keluargaku. Mampukah mereka?
Akhirnya dengan
polos, kudirikan shalat dua rakaat, baru kemudian tenang dan aku bisa istirahat
malam itu. paginya saat sarapan aku mencoba berbicara dengan orang tuaku.
“Inaq, saya mau
sekolah.” Ujarku tanpa berani mengangkat wajah dari piringku. Semua diam
sesaat. Kulirik Amaq, beliaupun tak bereaksi, hanya menunduk pada piringnya.
“Kamu itu perempuan,
Fat. Walaupun sekolah bakalan tetap kembali ke dapur. Mending bantu Inaq
berdagang.” Akhirnya Inaq bersuara. Aku mengangkat wajah, hendak membantah.
Walaupun akan kembali ke dapur setidaknya aku ada ilmu, mendidik anak-anakku
kelak. Setidaknya aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik jika sekolah.
Kurasakan Amaq menatapku yang hendak menumpahkan banyak alasan. Ada rasa sedih
seketika itu menyelinap di hatiku. Akupun kembali menurunkan wajah. Tak hendak
membantah lagi.
Mungkin Inaq hanya
menjadikan itu alasan saja, Inaq dan Amaq tidak mampu membiayai itu adalah
masalah sebenarnya. Mereka tidak mampu, lalu haruskah aku membusungkan dadaku
pada keduanya? Rasanya sungguh durhaka.
Maka, akupun menerima
dengan diam. Tidak pernah lagi setelah itu kuungkit lagi masalah sekolah. Aku
menanam niat sekolahku dalam-dalam sehingga bisa kulupakan dan tak terusik
lagi. Aku berfikir, kalau saja Fatimah berada di posisiku mungkin ia akan
melakukan hal yang sama.
Mematuhi keinginan
orang tuanya.
Tapi mungkinkah
Rasulallah melarang anaknya sekolah?
***
Selepas itu, aku
membanti inaq berjualan sayuran. Berbagai macam sayuran kami bawa, beserta
bahan-bahan pembuatan sambel. Menurut Inaq aku berbakat menjadi pedagang,
semenjak aku ikut keliling berdagang dengannya barang dagangan kami lebih laku.
“Mungkin karena kamu
cantik.” puji Inaq ketika itu, entah apa tujuannya. Tapi aku jadi semakin
bersemangat membantu Inaq berdagang. Aku sangat percaya apa yang dikatakan Inaq
bahwa aku cantik. Apalagi kalau melewati beberapa pemuda, mereka selalu
menggodaku.
“Eh, cantik-cantik
kok ikut jualan.” Begitu yang kerap mereka katakan. Awalnya aku senang, karena
aku semakin yakin kalau aku memang cantik. tapi perlahan-lahan aku jadi malu.
Cantik-cantik, kok
ikut jualan?!!
Akupun jadi malas
membantu Inaq berjualan, takut nantinya dilihat oleh pemuda-pemuda dan
diolok-olok. Inaq berusaha membujukku, tapi aku tetap tidak mau. Aku beralasan
akan memasak saja di rumah, biar Amaq dan adik-adikku bisa makan tanpa menunggu
kami pulang dulu. Padahal, Aminah sudah bisa membantu di dapur waktu itu. Ia
selalu menyiapkan makanan untuk kami. Tapi, Inaq akhirnya tak lagi memaksaku.
Hampir dua minggu Inaq berjualan sendirian.
Hingga, suatu saat
pertanyaan itu muncul lagi. Apakah Fatimah akan melakukan hal yang sama
denganku jika berada di posisiku?
Tidak membatu orang
tua, dengan alasan malu diolok-olok oleh pemuda yang bahkan tidak aku kenal?
Akhirnya, aku kembali
membantu Inaq berdangang. Inaq menyambut niatku dengan senang. Kehidupankupun
kembali, membantu Inaq berjualan keliling kampung, aku tak perduli lagi dengan
celetukan-celetukan pemuda-pemuda itu. Yang terpenting adalah aku, membantu
Inaq.
Selain alasan itu,
ada satu alasan lagi yang sebenarnya aku simpan diam-diam di hatiku. Alasan
yang membuatku selalu betah untuk ikut berjualan dengan Inaq.
BAB IV
CINTA PERTAMA
Pemuda itu bernama
Idi. Hanya itu yang aku tahu. Pemuda dengan alis tebal dan kulit yang sangat
coklat. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai memperhatikannya, dan entah sejak
kapan pula aku merasa ia memperhatikanku.
Setiap aku dan Inaq
melewati rumahnya untuk berjualan, ia selalu duduk menunggu. Dan mengobrol
berlama-lama denganku jika Inaqnya belanja.
“Sepertinya Idi ada
hati sama Fat.” Goda Inaqnya yang terlihat tua dengan bibir merah karena sirih.
Aku dan Idi hanya diam, tapi kami tidak membantah. Mungkin benar, Idi ada hati
padaku dan mungkin juga benar aku ada hati padanya.
Semakin lama kami
semakin dekat, dan Idi memberanikan diri datang mengapel ke rumah pada suatu
malam. Awalnya aku kaget tapi aku pun menemaninya dengan suka cita. Kami
berbicara banyak, tak jelas pangkal dan ujungnya. Tapi rasanya sebentar sekali
dan tidak membosankan.
Pemuda dengan suara
berat itu sungguh telah benar-benar memikatku. Aku telah buta padanya, sehingga
tak ada yang kufikirkan lain tentang dia. Begitupun dengan Idi, ia datang tiap
malam ke rumah. Tiap malam. Hanya untuk berbincang denganku. Tidak lebih.
Saat-saat itu,
duniaku penuh dengan pemuda bernama Idi itu. Tidak ada yang lain. Surat-surat
yang aku kirim ke Maopun selalu bercerita tentang Idi.
Idi yang kalau
tertawa suaranya membuatku ikut tertawa, Idi yang kalau berbicara membuatku
selalu betah mendengarkan, Idi yang kalau malu wajahnya akan memerah, Idi yang
sangat mencintaiku, Idi yang sangat memperhatikanku, Idi yang begini, begitu
dan semuanya tentang Idi.
Idi, Idi, Idi.
Penuh tentang dia.
Kata orang cinta
pertama sulit dilupakan. Mungkin benar, karena aku terlalu bergantung padanya.
Jika ia tidak datang satu malam aku akan uring-uringan, tidak karuan rasanya.
Yang aku mau, hanya Idi saja. Pagi, siang, malam aku ingin bersama dia. Aku
ingin melihat wajahnya yang menurutku paling tampan sedunia, aku ingin
mendengar suaranya, dan semuanya.
***
“Fat.” Suatu sore
Amaq memanggilku yang sedang memasak makan malam di dapur dengan Aminah. Aku
menyahut dan segera menghampiri Amaq di teras rumah.
“Ada yang mau saya
bicarakan.” Ucap Amaq dengan nada serius, membuat hatiku tak karuan. Aku
mengangguk dan segera duduk di sampingnya. Amaq tidak langsung bicara,
membiarkan sunyi menyapa kami.
“Orang-orang banyak
membicarakan kamu.” Akhirnya Amaq berbicara juga. Aku terkesiap dan langsung
menoleh pada Amaq, tapi tidak ingin memotong pembicaraannya. Aku menunggu Amaq
melanjutkan lagi.
“Siapa pacarmu yang
dari kampung sebelah itu?” Amaq melanjutkan.
“Idi?” aku menyahut
dengan nada bertanya.
“Iya, pemuda itu.
Kenapa setiap malam kamu izinkan bertamu di rumah?” Tanya Abah. Aku diam, tak
hendak menjawab. Jadi, tidak bolehkah?
“Jelek dalam
pandangan masyarakat, Fat. Kamu dikunjungi setiap malam. Mereka berfikir yang
bukan-bukan tentang kamu.” Amaq melanjutkan lagi dengan nada tegas. Aku menelan
ludah. Yang bukan-bukan? Memangnya apa yang bukan-bukan? Kami tidak berbuat
apa-apa. Lagipula Amaq dan Inaq menerima Idi dengan baik di rumah. Bagiku tidak
ada yang salah. Yang salah itu persepsi mereka. Menuduh orang sembarangan.
“Tidak baik buat kamu
juga, Fat.” Amaq menambahkan. Dalam hati aku menggerutu. Tidak baik bagaimana?
Kalau tidak bertemu Idi baru aku merasa tidak baik. Selama kami tidak melakukan
apa yang dilarang Agama kan tidak apa-apa. Idi datang baik-baik, kok. Dan kami
menyambut baik-baik. Apa yang salah?
“Kamu diam, kamu
paham?” Amaq bertanya menoleh padaku.
“Faham, Amaq. Tapi
nanti Idi mau datang lagi.” ucapku polos. Amaq menghela nafas.
“Iya, nanti biar saya
yang temui.” Putus Amaq selanjutnya. Aku
menghela nafas kecewa.
“Sudah, lanjutkan
memasaknya sana.” Perintah Amaq, aku pun mengangguk dan beranjak dari
sampingnya.
Haaah…kenapa ya,
orang-orang tidak bisa melihat aku senang? Idi kan pacarku, kok mereka yang
gusar?
***
Malamnya aku
benar-benar tidak bisa menemui Idi seperti sebelum-sebelumnya. Ketika Idi
datang ia ditemani Amaq saja. Entah apa yang mereka perbincangkan, yang aku
perhatikan dari jauh Idi tampak menunduk saja. Mungkinkah Amaq berbicara
hal-hal yang tidak disukai Idi. Aku sungguh tak enak hati. Ingin rasanya aku
kesana dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, Idi tidak perlu
menghawatirkan apapun. Aku masih mencintainya dan ia mencintaiku. Bukankah itu
yang terbaik?
Tapi sampai ia pergi
aku tak bisa lebih dekat dengannya, ia pulang dengan suara deru motor yang
tidak seperti malam-malam sebelumnya.
Selanjutnya, aku
jarang sekali bertemu Idi. Ia tak datang lagi ke rumah malam-malam selanjutnya,
dan meskipun aku pergi membantu Inaq berjualan, Idi tidak menungguku seperti
biasanya. Walaupun Inaqnya belanja ia tidak muncul.
Semuanya membuat
hatiku tidak sedap. Hidupku terasa lain, dan suasana menjadi begitu berantakan.
Aku lebih banyak diam, merenung, bertanya-tanya pada kesendirianku. Kapan Idi
akan kembali menemuiku? Kapan ia akan memberi aku kabar?
“Jangan terlalu
diambil hati, Fat.” Suatu malam kakakku Edi tiba-tiba duduk di sampingku yang
saat itu diam di teras ruamh sederhana kami, mendongak bintang.
“Masalah hati, masa
iya nggak diambil hati?” aku bersungut memainkan bebera buku yang diberikan
oleh Faraby sorenya.
“Hehehe, iya juga.”
Ujar kakakku itu dengan cengiran.
“Dasar.” Gerutuku.
“Kamu betulan sayang
sama anak itu?” akhirnya nada suara Edy tak lagi bercanda. Aku menghela nafas
dan mengangguk pelan. “Sabar saja, mungkin dia perlu waktu merenung juga
seperti kamu.” Hiburnya kemudian.
“Menurut side apa
yang Amaq bilang pada Idi?” aku melirik kakak lelaki semata wayangku itu. Ia
berfikir sebentar.
“Yang pantas ia
fikirkan tentunya.” Jawaban yang tidak memuaskan.
“Yah, makanya apa,
Kak?!” aku bertanya lagi sedikit jengkel.
“Mana aku tahu? Kan
nggak ikut rapat.” Jawabnya asal. Aku menghela nafas tambah kesal. Dasar,
seharusnya dia tidak memutuskan untuk berbincang denganku jika yang
dibicarakannya hanya itu. Akhirnya kami mendongak bintang bersama-sama.
satu-satunya TV di rumah adalah TV hitam putih dengan layar turun naik, kini
sedang dinikmati Amaq dan ketiga adik kami. Inaq tentu sedang menyiapkan barang
jualannya untuk besok. Aku dan kak Edy memang lebih sering memilih melakukan
kegiatan selain menonton TV. Pasal TV begitu, merusak mata. Aku biasanya
membaca buku-buku pinjaman dari Faraby atau Mao, sementara Edy berpetualang
entah kemana. Kampung kami meskipun kecil memang tidak membosankan.
“Eh, Fat.” Kak Edy
kembali memecah kesunyian.
“Umh?” aku menyahut
sekenanya.
“Segimanapun sayangmu
sama anak itu, kamu jangan melangkahi aku nikah, ya?” pintanya tanpa menoleh.
Aku menatap wajahnya yang tampak serius.
Menikah?
Iyakah aku berfikir
kesana? Dan Kak Edy? Benarkah ia khawatir akan aku langkahi?
“Lha, memangnya
kenapa? Siapa tahu aja kan jodohku lebih cepat.” Ujarku kemudian sembari
terkekeh.
“Undur dululah, kan
kasian abangmu ini.” ia terdengar memelas, membuatku tertawa lepas. Ada-ada
saja, masa iya aku menikah? Begitulah pemikiranku saat itu. Sesuatu yang
menurutku tidak mungkin dan enteng begitu, ternyata memang tidak bisa dianggap
biasa-biasa saja.
Masalahnya
jodoh itu, Allah yang ngatur.
BAB V
MENIKAH
Idi, pemuda itu setelah seminggu menghilang
akhirnya muncul lagi. Tapi kali itu ia datang di sore hari, menghadangku yang
baru pulang berdagang dengan Inaq. Mengetahui Idi ingin bicara Inaq mempercepat
langkahnya meninggalkan kami berdua.
Sore itu, singkat saja yang ia katakan.
“Kita menikah, Fat.”
Rasa-rasanya jantungku meloncat dari tempat
semulanya. Idi mengajakku menikah?
Berapa kalipun aku bertanya tentang itu, jawabannya
sama dan memang nyata. Pemuda itu mengajakku menikah. Di usia kami yang baru saja
16 tahun.
“Aku tidak main-main, Fat. Aku serius. Kita harus
menikah.” Idi melanjutkan dengan nada serius.
“Harus?” tanyaku.
“Sebenarnya itu terserah kamu. Kalau memang kamu
tidak mau aku tidak bisa lagi berhubungan denganmu.” Lagi-lagi, rasanya jantungku
hendak loncat dari tempatnya. Tidak bisa berhubungan lagi?
Mendadak mataku memanas. Menatap sosok sederhana
Idi yang tidak akan ada lagi dalam kehidupanku? Sungguh tidak bisa.
“Sebenarnya apa alasannya?” tanyaku polos saja. Idi
menghela nafas.
“Fat, banyak yang menganggap hubungan kita selama
ini tidak baik. Sedangkan kita sama-sama saling membutuhkan. Hanya ini
satu-satunya cara, kita harus menikah.” Idi yang memang saat itu bernasib sama
denganku (tidak melanjutkan sekolah) terdengar berantakan menjelaskan niatnya.
Tapi selayaknya seorang yang memiliki perasaan yang sejenis, aku merasa sangat
paham dengan apa yang ia katakan. Aku tidak ingin Idi pergi dari hidupku, dan
aku tidak ingin orang-orang mengagatakan hal buruk tentang kami. Idi benar,
menikah adalah satu-satunya jalan.
“Aku minta izin dulu.” Ujarku akhirnya, kulihat
kelegaan terpancar di wajah Idi. Iapun tersenyum dan kami berpisah. Setelah
itu, sepanjang perjalanan ke rumah aku memikirkan hal itu. Hingga mataku terasa
pegal dan hatiku lelah.
Menikah?
Secepat inikah?
Tapi Idi? Jika kami tidak menikah aku tidak bisa
lagi bersamanya. Bagaimana aku bisa kehilangan Idi?
Tidak, tidak!
Kami harus menikah, aku tidak akan sanggup jika
tanpa Idi. Aku sangat mencintainya.
***
Dengan tidak menunda-nunda, malamnya aku segera menemui Inaq dan Amaq.
Menyampaikan niatku.
“Inaq, Amaq. Aku mau nikah.”
Hanya itu kalimat yang keluar dari mulutku. Inaq tidak langsung
menanggapi, sedang Amaq hanya helaan nafasnya yang berat yang kutangkap.
“Kamu yakin?” Inaq akhirnya mengeluarkan suaranya. Aku mengangguk. Di
kampung kami memang banyak yang menikah di usiaku. 15, 16 atau 17 tahun. Sudah
lumrah, masyarakat tidak akan terkejut jika aku menikah. Keluargaku juga bukan
keluarga terpandang di kampung, jika aku menikah tidak ada yang akan
membicarakan berlebihan. Aku putus sekolah dua bulan yang lalu, alasan
lebih-lebih lagi bagiku untuk membenarkan tindakan ini, karena tidak ada lagi
yang menghalangiku untuk menikah. Yang terpenting, beban orang tuaku akan
berkurang jika aku menikah. Aku akan hidup dengan suamiku dan orang tuaku tidak
perlu lagi menghidupiku.
“Pikirkan dulu matang-matang.” Inaq memberikan nasihat.
“Sampun, Inaq.” Aku menjawab singkat. Lagi-lagi kami diam.
“Siapa yang akan membantu saya berdagang?” Tanya Inaq kemudian.
“Inaq sebenarnya sudah biasa berdagang sendiri, bukan? Lagipula, dengan
saya menikah beban Inaq sama Amaq akan berkurang.” Aku memberi alasan. Membuat
Inaq menghela nafas dalam.
“Kata siapa kamu beban, Fat?” suara Inaq terdengar melemah. Aku diam
tidak menjawab. “Inaq sama Amaqmu ini tidak bisa melarang keinginanmu, Fat.
Semua keputusan ada di tanganmu.” Inaq yang memang memiliki watak serba simpel
itu melanjutkan dengan keputusan yang membuat hatiku sumringah. Kuberanikan
diri mengangkat wajahku dan menatap wajah Amaq. Amaq menatapku dengan tatapan
yang sulit kuartikan. Ada sesuatu di mata tuanya, tapi aku yang masih belum
dewasa ketika itu tidak paham. Aku hanya menganggap kalau diam Amaq bermakna,
iya.
***
Dalam adat Sasak menikah disebut Merariq. Proses awalnya
adalah gadis diambil dari rumah tanpa memberitahu pihak manapun. Istilah ini
sering disebut Memaling atau mulang. Kedua orang tua
dari pengantin sebenarnya sudah mengetahui jika anak mereka akan menikah karena
memang sudah diberitahukan sebelumnya. Tapi ketika dibawa oleh pengantin
laki-laki (biasanya dibantu oleh beberapa orang teman) yang biasanya dilakukan
selepas maghrib, orang tua si gadis akan pura-pura tidak tahu. Baru kemudian
setelah menyadari putrinya tidak ada mereka akan mencari-cari, sembari
mengatakan ‘mungkin dia menikah’. Dari mulut ke mulut, tersebarlah berita bahwa
si Anu menikah karena tidak pulang sampai jam sepuluh atau sebelas malam.
Mereka mencari dan menunggu sampai larut, padahal mereka tahu anak mereka
menikah, tindakan itu hanya untuk membenarkan saja bahwa anak mereka menikah.
Sementara itu, gadis yang diambil disembunyikan di suatu tempat.
Biasanya di rumah salah seorang keluarga di luar kampung, atau kalau menikah
dengan lelaki satu kampung bisa juga disembunyikan atau dititip di rumah salah
satu penduduk di kampung. Selama masa penitipan itu, penganting perempuang
belum boleh menemui orang tuanya. Beberapa kerabat, teman atau kawan boleh
menjenguknya. Membawakan makanan, perlengkapan mandi atau apapun. Dan selama
masa tersebut, pengantin perempuan itu harus membantu segala pekerjaan tuan
rumah tempat dimana dititip.
Jika segalanya sudah siap, barulah mereka dikawinkan. Proses kawin ini
diawali dengan sorong serah. Yaitu, pihak
laki-laki bersama sekian puluh orang pemuda datang ke rumah pihak perempuan
membawa barang-barang yang akan diserahkan ke pihak perempuan. Biasanya sarung
batik, baju, mukenah dan lain-lain. Proses ini dilaksanakan dengan bahasa yang
disebut *caritahu*. Jarang sekali yang bisa bahasa ini. Biasanya baik pihak
laki-laki dan pihak perempuan akan menyediakan orang khusus untuk berbicara
dengan bahasa itu. Sebenarnya yang dikatakan biasa saja, bahwa pihak laki-laki
meminta izin untuk mengambil anak gadis dari pihak perempuan sebagai istri,
kemudian dijawab boleh oleh pihak perempuan. Tapi karena adatnya memang begitu,
jadi haruslah dikatakan dengan bahasa tersebut.
Kegiatan ini biasanya dilakukan di halaman rumah perempuan.
Pemuda-pemuda yang datang dari pihak laki-laki duduk bersila dengan baris ke
belakang, membawa barang di tangan masing-masing. Dari pihak perempuan juga
demikian, tapi jumlah orang dari pihak perempuan biasanya lebih sedikit. Di
barisan paling depan, bersila sepuh yang bertugas berbicara dengan bahasa
tersebut. Baik dari pihak laki-laki dan perempuan.
Yang paling menyenangkan dari acara ini khususnya bagi anak-anak adalah
di akhir acara, akan dilemparkan uang koin. Dan siapapun berhak untuk
mengambilnya. Pada tahap inilah anak-anak banyak berdatangan dan berebut
mengambil koin.
Proses sorong serahku berjalan biasa
saja. Idi berasal dari keluarga yang tak jauh berbeda dari keluargaku. Aku yang
saat itu sudah disembunyikan tiga hari di salah satu rumah penduduk belum boleh
bertemu dengan keluarga di rumah. Tapi, hatiku berasa senang bukan main. Karena
aku akan menikah dengan Idi, lelaki yang sangat aku cintai itu.
Suatu sore, ketika esoknya aku akan sorong serah, aku kedatangan
tamu. Awalnya aku lumayan terkejut, bahwa ternyata yang datang bertamu ketika
itu adalah Faraby. Faraby datang dengan pakaian koko dan celana kain. Rambutnya
ditutupi dengan kopiah putih, wajahnya yang tampan tampak semakin bersinar. Aku
tersenyum menyambutnya. Pasti Faraby akan ikut senang atas pernikahanku,
sehingga langsung pulang dari pondoknya, begitu yakinku.
“Bagaimana pondok?” tanyaku padanya. Ia tak langsung menjawab, hanya
diam menekuri tikar yang kami gunakan sebagai alas duduk.
“Jangan menikah, Fat.” Ia malah mengucapkan kalimat yang sama sekali
tidak aku fikirkan. Seketika itu alisku mengkerut, heran. Tak habis fikir
kenapa seorang Faraby, sahabat kecil dan terbaikku malah mengatakan hal seperti
itu?
“Apa?”
“Lebih baik kamu sekolah, aku akan usahakan supaya sekolahmu bisa
lanjut lagi. Jangan menikah dulu, Fat.” Belum lagi aku menyelesaikan
pertanyaanku, Faraby memotong dengan ungkapan yang membuatku semakin tak habis
fikir. Melanjutkan sekolah? Aku?
“Sekolah? Semuanya tidak semudah dalam anggapanmu, By.” Aku menanggapi
sedikit pelan.
“Aku yang akan membiayai. Aku sudah memikirkan selama di pondok, aku
sudah mengajukan kepada tuan guru disana. Kamu bisa sekolah lagi.” Faraby
terdengar begitu antusias. Ada harapan di matanya yang selalu betah kulihat.
“Tapi semuanya sudah begini, By. Sudah tidak bisa lagi. keluargaku akan
menanggung malau kalau aku membatalkan pernikahanku.” Tolakku kemudian.
“Malu hanya sebentar, Fat. Tapi ilmumu akan bermanfaat selamanya.” Ia
kembali meyakinkan. Salah satu sisi hatiku membenarkan kalimat Faraby, tapi itu
sedikit. Bagiku saat itu Idi lebih penting dari apapun, perasaan kami lebih
berharga dari apapun.
“Tapi aku mencintainya, By.” Akhirnya kuucapkan juga alasanku yang
sebenar-benarnya. Faraby terdiam seketika. Aku menatap cahaya di matanya yang
mulai meredup. Aku telah mengecewakannya, iya aku tahu. Tapi bagaimana jika
batal? Aku akan mengecewakan Idi. Tidak.
Kami lama terdiam, baik aku ataupun Faraby rasanya tidak ada yang
hendak membuka suara. Sore semakin beranjak malam. Aku memperhatikan Faraby
yang bergerak, merusak silanya. Menurunkan kakinya, memasang sepasang sendalnya
kemudian berlalu. Tidak ada salam, hanya aromanya yang has menyapa hidungku.
Aku terdiam. Menatap punggungnya yang tidak juga melambai, kepalanya
yang menunduk. Mendadak saat itu, aku merasa menjadi orang yang begitu jahat.
Untuk pertama kalinya, sejak aku memutuskan menikah aku merasa sedih
meninggalkan seseorang, dan orang itu adalah Faraby.
***
Tapi rasa tidak enak itu berakhir tak lama setelah itu. besok sorenya sorong
serah dan akad nikah aku dan Idi
berlangsung. Manisnya masa pengantin baru, indahnya rasa cinta yang disatukan
dalam ikatan pernikahan telah menghapus rasa bersalahku pada Faraby. Terlebih
lagi setelah kejadian itu Faraby tidak pernah pulang dari pondoknya hampir
setahun. Aku juga sibuk dengan status baruku menjadi istri, tidak sempat lagi
mengingat-ingat Faraby, atau berkirim surat dengan Mao. Entah juga saat itu
siapa yang mengabarkan Mao tentang pernikahanku, karena aku jangankan mengirim
surat, membaca surat Mao yang ia kirim beberapa hari sebelum aku diambil Idi
saja tidak sempat.
Saat itu yang memenuhi duniaku adalah Idi. Pernikahan kami dan
kebahagiaan yang sama sekali tidak tertandingi. Aku sangat-sangat bahagia.
BAB VI
Baru, Tentang Hal yang Lain
Tidak ada komentar:
Posting Komentar