Aku ingin Menjadi
Putri, Mak
Dengarkan,,,kuceritakan tentang kisah senja di sebuah rumah
Percakapan antara Imah dan emaknya,,,
Mendekatlah...
“Mak, Aku ingin menjadi putri”
Mak menatap sayang putri semata wayang bermata sipitnya
“Aku ingin menjadi putri, Mak. Merengkuh duniaku dengan kedua lenganku,
Aku...aku ingin mereka mengakuiku”
Mak menarik kerudung lusuhnya ke kiri
“Tapi mereka menghadangku, Mak
Mereka bilang aku tak pantas menjadi putri,”
Mak mengambil teko dari atas meja dan membuat segelas teh,
“Mereka bilang orang-orang akan mencemoohku, Mak.
Kata mereka aku harus malu,,,aku tak pantas
Emak menyeruput tehnya
“Mak...mereka menyeret anganku, mereka membatasi ruang gerakku
Mereka menendang langkah juangku...mereka jahat, Mak”
Emak melirik sekilas,
“Mereka bahkan mengatakan dunia itu bukan untuk perempuan
Perempuan diam saja,
Batasan perempuan hanya dapur, sumur dan kasur...
Emak menaruh gelasnya diatas meja
“Mereka tidak melarang orang sebayaku untuk menikmati cinta
Mereka membiarkan saja anak mereka memeluk lutut dan mengangkat lengan
hingga bahu
Mereka bahkan tidak mau membiarkan anak mereka berkembang, Mak”
“Rajut anakku, rajut.
Anganmu harus terus kau rajut...
Hiingga menemui batas dari akhirnya
Kesuksesan”
“Aku tau, Mak. Dan aku mau.
Aku mau mereka seperti Mak, membiarkanku merajut benangku
Merengkuh mimpiku,
Tapi mereka menghadangku, Mak.
Marahi mereka...!!!”
Emak berdiri dari korsi reotnya, mendekati jendela dan membukanya
“Wahai keadaan....
Kaulah yang dimaksud Imahku dengan ‘mereka’
Kaulah yang memaksa Imah-Imah yang lain berpangku dan memeluk lutut
Kaulah yang mengenalkan eksotik cinta pada Imah dan membuat mereka
kalut
Serabut dan kerut...
Dulu...
Ya ketika kau tak dipaksa menjadi keadaan sekarang
Aku masih bisa mencium aroma jentikan mimpi
Tapi sekarang???
Dimana Imahku???
Mereka malu mengunjuk kemampuan untuk merajut mimpi
Mereka malu menginjakkan kaki selangkah untuk menentukan arah
Mereka malu pada yang baik
Dan tak segan pada yang buruk...
Dimana Imahku?!!!
Dimana mimpi-mimpinya yang kau redupkan?!!!
Kau sembunyikan dimana mimpi-mimpinya???
Atau kau buang dimana?!!!!!
,,,,
Siapa yang menyuapmu hingga kau begitu jahat pada darah harapan
ummat???
Siapa yang meracunimu hingga kau tak berhati!!!!
Tuhankah?!!!!!!
Ketahuilah...
Tiba-tiba saja keadaan berhenti sejenak
Hingga jeda terasa begitu berkarat
“Apa kau menganggap Tuhanmu jahat hai, Manusia???
Tuhanmu tidak akan mengubahmu jika kamu tak mengubah dirimu
Aku, keadaan. Sekarang telah begitu kumuh dan lusuh...
Tuhan bahkan prihatin padaku....
Jentik kemarahan Tuhan kadang mengarah pada kalian...
Tapi...
Kalian dengan tak senonoh menyalahkan Tuhan
Asal...kalian tau...
Aku berani bersaksi di hadapan Tuhanmu esok, bahwa lusuhku adalah
ulahmu!!!
Malam merangkak, Imah mendekati Emaknya
“Aku ingin menjadi putri, Mak”
Sejenak ini kita
akan mengingat beberapa perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyelamatkan ummat.
Dahulu sebelum Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu untuk berdakwah, seluruh
masyarakat Makkah menyembah berhala, yang mereka sebut Latta, Uzza. Bahkan
salah satu pemimpin mereka adalah paman Nabi SAW sendiri. Mereka menganggap
berhala-berhala itu adalah Tuhan mereka. Kekafiran mereka juga terlihat dari
bagaimana mereka sama sekali tidak menghargai perempuan. Setiap anak perempuan
yang lahir akan mereka kubur hidup-hidup.
[Ayat]
Dan Nabi Muhammad
SAW mendapat perintah untuk berdakwah secara terang-terangan. Lantas berita itu
tersebar dari mulut ke mulut, tersampaikan lewat telinga ke telinga diantara
mereka. Apa yang terjadi??? Mereka segera saja menolak dakwah Nabi SAW,
mengolok, menghina, melemparnya, dan mengatakan beliau seorang penyihir dengan
mukjizat yang dikaruniakan Allah pada beliau.
Tidak cukup hanya
dengan itu, lambat laun melihat usaha mereka tak berarti apa-apa pada kanjeng
Nabi SAW, mereka mulai meluncurkan usaha-usaha untuk menjatuhkan Nabi SAW dan
agar Nabi SAW tak lagi diikuti oleh orang-orang yang beriman. Mereka memboikot
Nabi Muhammad SAW, berusaha menghalangi jalan beliau SAW dari berbagai arah dan
cara, bahkan berusaha membunuh beliau.
Hingga, Nabi
Muhammad SAW memutuskan untuk hijrah ke Madinah beserta seluruh orang-orang
beriman demi mendapatkan perlindungan dan dapat beribadah dengan tenang.
Tapi, orang-orang
Kafir Quraisy tidak berhenti sampai di situ. Mereka dengan kecongkakannya
memerangi Nabi. Dalam perang Badar, Uhud dan Khandak.
Dengan begitu
kasar dan tak berperasaannya orang-orang kafir kepada Nabi SAW, beliau tidak
pernah marah, beliau selalu menyayangi ummat-ummat beliau. Bahkan ketika beliau
sakit keras dan akan menemui ajal beliau, hal yang beliau tanyakan pada
Malaikat Jibril adalah...
“Bagaimana keadaan
ummatku kelak di akhirat?!”
Nabi Muhammad SAW
tidak tenang meninggalkan dunia sebelum beliau mengetahui bagaimana keadaan
kita, ummat beliau kelak di akhirat. Setelah malaikat Jibril memberitahu
beliau, barulah beliau tersenyum dan meninggalkan dunia menuju Allah dengan
tenang. Dengan kalimat terakhir yang beliau ucapkan ketika sekarat adalah...”Ummatiii....ummatiii...ummatiiii...”
Ummatku, ummatku, ummatku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar