Nina
menatap bayangannnya di cermin, pantulan wajah dengan pipi chaby mulus, bibir
tipis, hidung tak terlalu mancung dan alis yang tipis satu lagi, mata yang
sendu. Selayaknya dan sewajarnya manusia lain, Nina sangat senang memperhatikan
wajahnya sendiri. Ia berkutat di depan cermin tak kurang dari setengah jam,
tapi tak jua jemu melihat kembarannya yang tersenyum itu.
Akhirnya
setelah puas dengan mendandani dirinya[meskipun alakadar] iapun menghentikan
kegiatan tak bermutu itu. Ia segera membalik badan dan mengambil buku yang dari
kemarin-kemarin ia tekuni, sebuah buku karya Ippho Santosa, yang menjadi
megabest seller tahun ini.
Buku
itu membuat Nina tampak lebih bergairah menggandrungi kehidupannya dengan
semangat-semangat dan ide-ide yang jika difikirkan orang, sangat nyeleneh dan
tidak logis. Tapi, menurut buku itu, orang yang aktif otak kanannya memang akan
diasingkan dari orang-orang yang dominan menggunakan otak kiri.
“Nina,
sarapan!” Terdengar panggilan Bunda dari dapur, membuat lambung Nina bahagia.
Bagaimana tidak, sedari tadi malam Nina belum sempat makan apa-apa, karena
membaca buku itu.
“Baik,
Bunda.” Sambut Nina lantas keluar kamar menuju dapur, tanpa melepas buku itu.
Sesampai disana, sudah digelar tikar terlihat bunda menyiapkan makanan. Ninapun
membatu dengan cekatan, meski sesekali menjaga agar ujung jilbab lebarnya tak
menyentuh hal-hal yang kotor. Tak lama sarapanpun siap, ia, Bunda, Ayah dan
adiknya mulai sarapan.
“Tampaknya
semangat sekali membaca buku itu, Na.” Komentar Ayah membuat Nina menoleh
tersenyum.
“Ini
buku bagus, Yah. Nggak rugi kok bacanya, besok dech Nina kasih Ayah baca kalau
sudah kelar!” Nina nyengir berjanji, Ayah mengiyakan dengan senyum. Memang
walaupun hanya sebuah buku, putrinya jadi banyak memiliki perbedaan akhir-akhir
ini. Beberapa hari yang lalu Nina mendekati Ayah dan Bundanya, kemudian
menjelaskan tentang keselarasan do’a sepasang bidadari.
“Do’a
kita harus selaras, Yah Bunda. Agar mimpi Nina cepat terwujud. Karena Ayah dan
Bunda ini bidadari buat Nina.” Ayahnya teringat tentang ucapan putrinya
beberapa hari yang lalu. “Kalau Ayah dan Bunda do’a buat Nina, apa yang Ayah
sama Bunda bilang?” Kemudian Nina bertanya dengan tampang ringan yang sarat
harapan.
“Ya…minta
kepada Allah supaya kamu dan adikmu jadi anak berhasil saja!” Ini bunda yang
menjawab. Ayah hanya diam, Ayah memang minus kalau berbicara.
“Allah
bingung donk kalau gitu, … “ Alis bunda dan ayah mengkerut mendengar komentar
Nina kala itu, “Berdo’a itu harus jelas Bunda, kalau Cuma jadi sukses kan gak
jelas, kapan suksesnya, suksesnya jadi apa. Buat Allah gampang mengabulkan,
caranya sebut apa yang Bunda dan Ayah inginkan tentang Nina. Misalnya ingin
Nina menjadi dokter, atau olahragawan dan seterusnya.” Ayah dan Bundanya
memperhatikan dengan takjub. Meski mereka paham dan sudah tau kalau putri
mereka itu jago ngoceh, tetap saja pembicaraan ini langka, dan baru didengar
mereka.
“Kalau
Ayah sama Bunda sebenernya pengen lihat Nina jadi apa? Kan sebentar lagi Nina
kuliah ni, Ayah sama Bunda pengen lihat Nina ngambil jurusan apa?” Putri mereka
kembali bertanya dengan mata sayu tapi teguhnya.
“Kalau
kami sich, hanya menurut apa yang kamu inginkan saja. Kalau kamu merasa suka
dan mampu pada bidang itu ya tekuni saja. Kami tidak menuntut apa-apa dari
kamu!” Lagi-lagi Bunda yang menjawab, diekori dengan senyum dan anggukan Ayah.
Nina tersenyum.
“Alhamdulillah….jadi
kalau begini, bisa lebih mudah…begini…” dan saat itu Nina membeberkan niat
terkuatnya. Setelah beberapa hari istikharah dan meminta pendapat-pendapat
orang-orang terdekat dan dianggapnya lebih pintar memberi nasihat, iapun
meneguhkan niatnya pada satu mimpi. Dan mimpi itulah yang ia utarakan pada
orang tuanya.
“Jadi
do’akan Nina yang jelas kepada Allah, biar cepat. Kalau do’a Nina dan Ayah
Bunda selaras bisa cepat terwujudnya, dalam waktu yang singkat!!!” Nina
menyelesaikan dengan semangat, yang pelan-pelan mengalir pada diri orang tuanya
juga.
“Alhamdulillah,
selesai juga. Nina keluar sebentar ya, mau ke rumah Rini.” Nina menyelesaikan
sarapannya dengan tatapan meminta yang tentu saja masih ringan.
“Ya,
tapi jangan terlalu siang pulangnya.” Bunda menyetujui, Nina mengangguk dan
dengan menenteng buku pamungkasnya Nina berlari keluar rumah diiringi salam dan
kibaran jilbab lebarnya.
Untuk
sampai di rumah Rini, Nina perlu menyebrang jalan, melewati perkampungan dan
ada pemandian umum, perkampungan lagi. Jauh? Sebenarnya tidak sesulit itu.
Jalan yang disebrangi Nina hanya jalanan lumayan besar, jalanan kampung, kalau
perkampungan tadi itu maksudnya dua buah rumah yang memiliki pemandian yang
sama, itulah pemandian umumnya, setelah melewati itu, ada satu rumah tetangga
Rini, naaaa disitulah rumah Rini. Tidak sampai 3 menit. Hehehe.
Nina
menutup gerbang rumahnya dan hendak turun. Ia ingin menyeberang, tapi dari
barat terdengar raungan motor yang khas, ia menoleh dan seketika pula warna
wajahnya berubah. Sosok itu.
Fyuuuuhhhh…..
Nina
melangkah setelah sosok bermotor itu menjauh. Ada sesuatu di hatinya yang ia
tak inginkan. Rasa iri, marah…dengki,,,astaghfirullah…dan seterusnya dan
seterusnya….yang jelas Nina tidak bisa memastikan rasa apa itu. Karena, ia
memang tak pernah menginginkannya. Akan kita bahas nanti. Sekarang Nina dengan
langkah yang ia mantapkan berjalan melewati ‘perkampungan’, ‘pemandian umum’
dan ‘perkampungan lagi’ lantas sampailah ia di rumah Rini.
“Assalamu’alaikum!”
Sapanya, tak lama terdengar jawaban dari dalam rumah dan permintaan masuk
langsung. Karena mereka memang sudah bersahabat lumayan lama. Ah, maksudnya
lamaaaaa sekali. Dari mereka bayi hingga mereka mengasuh bayi. Hehehe.
Menurut
pengamatan sich, sifat mereka tidak terlalu dominan. Mari kita buktikan, Nina
adalah orang yang berjiwa pemimpin. Jeleknya orang berjiwa ini selalu senang
memerintah. Sedangkan Rini? Dia tidak terlalu suka diperintah, tapi paling
jarang memerintah. Nina adalah seseorang yang selallu memikirkan matang-matang
baru dikerjakan alias, sedikit malas, sedang Rini…dia selalu bisa mengerjakan
apa saja. Masalah cowok Nina punya selera tinggi, menerapkan harga diri,
bagaimanapun kangennya dia tidak akan mau menghubungi cowok duluan meskipun itu
pacarnya dan tentu saja sepenuh hati, tapi kalau Rini sich seleranya yang
mentok di hati terserah mau tinggi atau rendah, tidak terlalu memperhatikan
harga diri kalau kangen ya telpon, sms, dan kurang jelas masalah setengah hati
atau penuhnya. Tapi satu kesamaan mereka dalam hal memilih pasangan adalah,
tidak bisa satu. Harus diatas dua…hehehehe
“Udah
sarapan?” Tanya Rini begiitu Nina melapas pantat diatas ranjang.
“Alhamdulillah..”
Sahut Nina sekenanya. Rini memperhatikan, ada yang lain di wajah sahabat
kentalnya itu.
“Aku juga udah!” Tapi
itulah keluar dari mulutnya.
“Gak nanya dech,” Nina
menohoknya, ia mencibir. Ia memperhatikan tingkah Nina yang membuka buku tanpa
terganggu suara TV yang ia nyalakan. Ia tau persisi sahabatnya itu memang doyan
membaca, dan sudah beberapa bulan hijrah. Bukan ke Madinah, tapi menggunakan
hijab yang lebih baik. Jilbab lebar, tentu saja. Dan itu tidak mengurangi
kenyamanan mereka, tapi…mereka tidak ngakak-ngakak lagi di pinggir jalan
seperti dulu, sekarang jadi agak dewasa. Maksudnya ngakaknya di kamar mereka
berdua. Kadang di kamar Rini kadang di kamar Nina. Hehehe
“Liat orang ya tadi?” Rini
bertanya ringan sambil memperhatikan acara Inbox di TVnya, Nina melirik dari
bukunya.
“Yup,,,!” Jawabnya sekenanya.
“Pasti kak Icha!” Tebak Rini,
dan Nina mengiyakan dengan diam. Rini tak berkomentar lagi. Ia tau betul
masalah sahabatnya. Beberapa bulan kemarin semasih Nina membolehkan dirinya
pacaran [sekarang sudah tidak, mungkin] ia pacaran dengan Ketua Remaja di
Kampung. Menurutnya sich pemuda itu tampan, pintar, sopan dan tentu saja mapan
meskipun dari orang tua. Dan terang saja semua gadis mau menjalin hubungan
dengannya. Dan…Rini benar-benar tidak menyangka ternyata sahabatnya juga
menjalin. Padahal dulu, setahunya sich, mereka baik Nina dan pemuda itu tak
saling kenal. Saling tau iya, tapi saling kenal. No yia….hehehe
Rini juga tidak tau sejak kapan
sahabat tercintanya itu berhubungan dengan pemuda itu, dia diberitahu Nina
ketika sudah menjalin hubungan. Anyway, masalah setuju dan tidak, Rini memilih
diam saja. Kalau ditanya secara mendalam, dia pasti menjawab tidak! Padahal
selera Nina kan lumayan tinggi tinggi, tapi kan mereka beda jurusan kalau
memilih cowok, jelas Rini tidak setuju.
Okay, berkaitan dengan sosok
bermotor tadi dan kak Icha. Padahal sama saja! Dia adalah gadis cantik
berhidung mancung, bermulut manis, beralis sabit, bermata [tak jelas juga],
kemudian berkulit putih dan bertubuh langsing. Ia anak dari seorang guru Negeri
dan Ibu yang aktif mencari rizki. Jadi dia anak orang berada dengan rumah
besar, yang kalau kita salam dari gerbangnya orang di dalam rumah pasti tidak
dengar. Begitu sich cerita yang beredar. Ia adalah anak sulung dan memiliki
satu adik, sekarang dia sudah kuliah semester empat. Tampaknya belum nyambung.
Yang akan menyambungkan adalah, kak Icha
ini dulunya adalah pacar pemuda itu sebelum pemuda itu bersama Nina.
Jadi jelas sudah,
permasalahannya, kan?
Oh belum,,,???
Cemburu!
Wajar saja orang mencintai itu
cemburu, kan? Tapi masalahnya sekarang, Nina sudah tidak ada hubungan lagi
dengan pemuda itu, Nina sudah tidak mencintai pemuda itu lagi, tidak
mmm…sedikitpun. Entah apa penyebabnya, tapi perasaan itu memang benar-benar
lenyap dari hati Nina. Lantas, yang tak Nina habis fikir kenapa ia masih tidak
suka dengan gadis itu.
“Bukan, bukan tidak suka!” Nina
berujar.
Oh maaf, maksudnya Nina bukannya
tidak suka dengan gadis itu tapi ia mungkin mmmm tepatnya iri dengan gadis itu.
Iri???? Kenapa???
Entahlah, kalau Nina berfikir
begitu, ia juga pasti akan setengah mati heran. Ia bahkan tidak tau perasaan
apa yang menggelanyuti hatinya.
“Dia tidak lebih baik dari kamu
kok, Nin!” Rini berujar masih menatap layar kaca TV yang memperlihatkan wajah
Udin Sedunia.
“Ya, karena kamu sahabatku!”
Nina merebahkan tubuhnya di ranjang.
“Okaylah, aku sahabatmu. Tapi
kamu fikir aku buta apa? Aku kan yang tinggal di kampung dengan segenap jiwa
dan raga dan lebih lama. Kamu, berkutat di pondok aja. Jadi kamu tidak tau
bagaimana orang-orang disini!” Rini ngedumel.
“Okay, tapi kamu pasti dominan
kepada orang yang lebih kemu kenal dan mengenalmu. Apalagi aku sahabat yang
sudah mengental dalam hidupmu!” Nina teguh.
“Terserah dah. Yang jelas
menurut penilitian kamu lebihlah dari dia!” Rinipun teguh.
“Dan menurut perasaanku, dia
juga lebih dari aku!” Nina keuh-keuh.
“Kamu ini, seperti tak paham
agama saja. Tidak pandai bersykur, jilbab sudah lebar gitu, mondok enam tahun
gitu, masih saja memelihara perasaan nggak keren gitu!”
Ceb!
Mati lampu. Tapi Nina tak
tergoyah, meski tertohok juga dia dengan ucapan sahabatnya itu. Tak pandai
bersyukur?
“Bukan merendahkan orang lain,
Nin. Tapi cobalah mensyukuri hal-hal lebih yang kamu miliki dan tidak orang
lain miliki. Bukan malah melihat kelebihan mereka yang tidak kamu miliki, aku
yakin kamu paham tentang ini.” Rini merebahkan badan juga. Udin sudah gelap,
mati listrik.
“Kamu kira gampang. Aku juga
tidak tau kenapa begini!” Nina masih setia dengan baris demi baris tulisan di
buku itu. Meski ia tidak focus lagi.
“Siapapun tau kamu dan hamper
mengenalmu, sedang dia? Dia pendiam, dan hanya ditau tapi tidak dikenal. Dia
bisa menjadi bintang, tapi hanya bersinar dan enggan tergenggam, tapi kamu kamu
tidak hanya sekedar bintang yang bersinar tapi bintang yang dengan rendah hati
menjadi teman. Ayolah, kamu pintar dan pandai bergaul. Dia pintar tapi terkesan
tak punya teman. Dia memiliki kemampuan tapi tidak dimanfaatkan, kamu meski
punya dan tidak punya selalu berusaha membantu. Apalagi? Masih juga memendam
perasaan itu?”
Aneh, Rini jadi seperti Nina
kalau begini.
“Aku kan nggak pernah pengen,”
Nina masih membela perasaannya.
“Ya…benar juga sich, tapi
cobalah kita jadi hamba yang bersyukur, Nin. Kan semua orang diberikan
kelebihan masing-masing oleh Allah. Jadi…karena itulah Allah melarang kita
untuk iri pada makhluknya yang lain, karena semua kita memiliki kemampuan.”
“Ceileee….bijak banget!”
“Ih, emang aku bijak dari dulu
kali!”
“Udah tua donk! Hehe”
“Kamu aja yang masih
kekanak-kanakan!”
“Bukan, aku kekanan-kanan
terus…hehehe” Nina kembali membahas buku yang di tangannya itu.
“Yeh…dari kemarin, kanan mulu,
kanan mulu. Gunakan itu otak kananmu untuk mematikan perasaan gak keren itu!”
“Mmmmmm bisa, bisa, bisa…hehe”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar