Rabu, 16 Juli 2014

GUOH..


                Nina menatap bayangannnya di cermin, pantulan wajah dengan pipi chaby mulus, bibir tipis, hidung tak terlalu mancung dan alis yang tipis satu lagi, mata yang sendu. Selayaknya dan sewajarnya manusia lain, Nina sangat senang memperhatikan wajahnya sendiri. Ia berkutat di depan cermin tak kurang dari setengah jam, tapi tak jua jemu melihat kembarannya yang tersenyum itu.
                Akhirnya setelah puas dengan mendandani dirinya[meskipun alakadar] iapun menghentikan kegiatan tak bermutu itu. Ia segera membalik badan dan mengambil buku yang dari kemarin-kemarin ia tekuni, sebuah buku karya Ippho Santosa, yang menjadi megabest seller tahun ini.
                Buku itu membuat Nina tampak lebih bergairah menggandrungi kehidupannya dengan semangat-semangat dan ide-ide yang jika difikirkan orang, sangat nyeleneh dan tidak logis. Tapi, menurut buku itu, orang yang aktif otak kanannya memang akan diasingkan dari orang-orang yang dominan menggunakan otak kiri.
                “Nina, sarapan!” Terdengar panggilan Bunda dari dapur, membuat lambung Nina bahagia. Bagaimana tidak, sedari tadi malam Nina belum sempat makan apa-apa, karena membaca buku itu.
                “Baik, Bunda.” Sambut Nina lantas keluar kamar menuju dapur, tanpa melepas buku itu. Sesampai disana, sudah digelar tikar terlihat bunda menyiapkan makanan. Ninapun membatu dengan cekatan, meski sesekali menjaga agar ujung jilbab lebarnya tak menyentuh hal-hal yang kotor. Tak lama sarapanpun siap, ia, Bunda, Ayah dan adiknya mulai sarapan.
                “Tampaknya semangat sekali membaca buku itu, Na.” Komentar Ayah membuat Nina menoleh tersenyum.
                “Ini buku bagus, Yah. Nggak rugi kok bacanya, besok dech Nina kasih Ayah baca kalau sudah kelar!” Nina nyengir berjanji, Ayah mengiyakan dengan senyum. Memang walaupun hanya sebuah buku, putrinya jadi banyak memiliki perbedaan akhir-akhir ini. Beberapa hari yang lalu Nina mendekati Ayah dan Bundanya, kemudian menjelaskan tentang keselarasan do’a sepasang bidadari.
                “Do’a kita harus selaras, Yah Bunda. Agar mimpi Nina cepat terwujud. Karena Ayah dan Bunda ini bidadari buat Nina.” Ayahnya teringat tentang ucapan putrinya beberapa hari yang lalu. “Kalau Ayah dan Bunda do’a buat Nina, apa yang Ayah sama Bunda bilang?” Kemudian Nina bertanya dengan tampang ringan yang sarat harapan.
                “Ya…minta kepada Allah supaya kamu dan adikmu jadi anak berhasil saja!” Ini bunda yang menjawab. Ayah hanya diam, Ayah memang minus kalau berbicara.
                “Allah bingung donk kalau gitu, … “ Alis bunda dan ayah mengkerut mendengar komentar Nina kala itu, “Berdo’a itu harus jelas Bunda, kalau Cuma jadi sukses kan gak jelas, kapan suksesnya, suksesnya jadi apa. Buat Allah gampang mengabulkan, caranya sebut apa yang Bunda dan Ayah inginkan tentang Nina. Misalnya ingin Nina menjadi dokter, atau olahragawan dan seterusnya.” Ayah dan Bundanya memperhatikan dengan takjub. Meski mereka paham dan sudah tau kalau putri mereka itu jago ngoceh, tetap saja pembicaraan ini langka, dan baru didengar mereka.
                “Kalau Ayah sama Bunda sebenernya pengen lihat Nina jadi apa? Kan sebentar lagi Nina kuliah ni, Ayah sama Bunda pengen lihat Nina ngambil jurusan apa?” Putri mereka kembali bertanya dengan mata sayu tapi teguhnya.
                “Kalau kami sich, hanya menurut apa yang kamu inginkan saja. Kalau kamu merasa suka dan mampu pada bidang itu ya tekuni saja. Kami tidak menuntut apa-apa dari kamu!” Lagi-lagi Bunda yang menjawab, diekori dengan senyum dan anggukan Ayah. Nina tersenyum.
                “Alhamdulillah….jadi kalau begini, bisa lebih mudah…begini…” dan saat itu Nina membeberkan niat terkuatnya. Setelah beberapa hari istikharah dan meminta pendapat-pendapat orang-orang terdekat dan dianggapnya lebih pintar memberi nasihat, iapun meneguhkan niatnya pada satu mimpi. Dan mimpi itulah yang ia utarakan pada orang tuanya.
                “Jadi do’akan Nina yang jelas kepada Allah, biar cepat. Kalau do’a Nina dan Ayah Bunda selaras bisa cepat terwujudnya, dalam waktu yang singkat!!!” Nina menyelesaikan dengan semangat, yang pelan-pelan mengalir pada diri orang tuanya juga.
                “Alhamdulillah, selesai juga. Nina keluar sebentar ya, mau ke rumah Rini.” Nina menyelesaikan sarapannya dengan tatapan meminta yang tentu saja masih ringan.
                “Ya, tapi jangan terlalu siang pulangnya.” Bunda menyetujui, Nina mengangguk dan dengan menenteng buku pamungkasnya Nina berlari keluar rumah diiringi salam dan kibaran jilbab lebarnya.
                Untuk sampai di rumah Rini, Nina perlu menyebrang jalan, melewati perkampungan dan ada pemandian umum, perkampungan lagi. Jauh? Sebenarnya tidak sesulit itu. Jalan yang disebrangi Nina hanya jalanan lumayan besar, jalanan kampung, kalau perkampungan tadi itu maksudnya dua buah rumah yang memiliki pemandian yang sama, itulah pemandian umumnya, setelah melewati itu, ada satu rumah tetangga Rini, naaaa disitulah rumah Rini. Tidak sampai 3 menit. Hehehe.
                Nina menutup gerbang rumahnya dan hendak turun. Ia ingin menyeberang, tapi dari barat terdengar raungan motor yang khas, ia menoleh dan seketika pula warna wajahnya berubah. Sosok itu.
                Fyuuuuhhhh…..
                Nina melangkah setelah sosok bermotor itu menjauh. Ada sesuatu di hatinya yang ia tak inginkan. Rasa iri, marah…dengki,,,astaghfirullah…dan seterusnya dan seterusnya….yang jelas Nina tidak bisa memastikan rasa apa itu. Karena, ia memang tak pernah menginginkannya. Akan kita bahas nanti. Sekarang Nina dengan langkah yang ia mantapkan berjalan melewati ‘perkampungan’, ‘pemandian umum’ dan ‘perkampungan lagi’ lantas sampailah ia di rumah Rini.
                “Assalamu’alaikum!” Sapanya, tak lama terdengar jawaban dari dalam rumah dan permintaan masuk langsung. Karena mereka memang sudah bersahabat lumayan lama. Ah, maksudnya lamaaaaa sekali. Dari mereka bayi hingga mereka mengasuh bayi. Hehehe.
                Menurut pengamatan sich, sifat mereka tidak terlalu dominan. Mari kita buktikan, Nina adalah orang yang berjiwa pemimpin. Jeleknya orang berjiwa ini selalu senang memerintah. Sedangkan Rini? Dia tidak terlalu suka diperintah, tapi paling jarang memerintah. Nina adalah seseorang yang selallu memikirkan matang-matang baru dikerjakan alias, sedikit malas, sedang Rini…dia selalu bisa mengerjakan apa saja. Masalah cowok Nina punya selera tinggi, menerapkan harga diri, bagaimanapun kangennya dia tidak akan mau menghubungi cowok duluan meskipun itu pacarnya dan tentu saja sepenuh hati, tapi kalau Rini sich seleranya yang mentok di hati terserah mau tinggi atau rendah, tidak terlalu memperhatikan harga diri kalau kangen ya telpon, sms, dan kurang jelas masalah setengah hati atau penuhnya. Tapi satu kesamaan mereka dalam hal memilih pasangan adalah, tidak bisa satu. Harus diatas dua…hehehehe
                “Udah sarapan?” Tanya Rini begiitu Nina melapas pantat diatas ranjang.
                “Alhamdulillah..” Sahut Nina sekenanya. Rini memperhatikan, ada yang lain di wajah sahabat kentalnya itu.
                “Aku juga udah!” Tapi itulah  keluar dari mulutnya.
                “Gak nanya dech,” Nina menohoknya, ia mencibir. Ia memperhatikan tingkah Nina yang membuka buku tanpa terganggu suara TV yang ia nyalakan. Ia tau persisi sahabatnya itu memang doyan membaca, dan sudah beberapa bulan hijrah. Bukan ke Madinah, tapi menggunakan hijab yang lebih baik. Jilbab lebar, tentu saja. Dan itu tidak mengurangi kenyamanan mereka, tapi…mereka tidak ngakak-ngakak lagi di pinggir jalan seperti dulu, sekarang jadi agak dewasa. Maksudnya ngakaknya di kamar mereka berdua. Kadang di kamar Rini kadang di kamar Nina. Hehehe
                “Liat orang ya tadi?” Rini bertanya ringan sambil memperhatikan acara Inbox di TVnya, Nina melirik dari bukunya.
                “Yup,,,!” Jawabnya sekenanya.
                “Pasti kak Icha!” Tebak Rini, dan Nina mengiyakan dengan diam. Rini tak berkomentar lagi. Ia tau betul masalah sahabatnya. Beberapa bulan kemarin semasih Nina membolehkan dirinya pacaran [sekarang sudah tidak, mungkin] ia pacaran dengan Ketua Remaja di Kampung. Menurutnya sich pemuda itu tampan, pintar, sopan dan tentu saja mapan meskipun dari orang tua. Dan terang saja semua gadis mau menjalin hubungan dengannya. Dan…Rini benar-benar tidak menyangka ternyata sahabatnya juga menjalin. Padahal dulu, setahunya sich, mereka baik Nina dan pemuda itu tak saling kenal. Saling tau iya, tapi saling kenal. No yia….hehehe
                Rini juga tidak tau sejak kapan sahabat tercintanya itu berhubungan dengan pemuda itu, dia diberitahu Nina ketika sudah menjalin hubungan. Anyway, masalah setuju dan tidak, Rini memilih diam saja. Kalau ditanya secara mendalam, dia pasti menjawab tidak! Padahal selera Nina kan lumayan tinggi tinggi, tapi kan mereka beda jurusan kalau memilih cowok, jelas Rini tidak setuju.
                Okay, berkaitan dengan sosok bermotor tadi dan kak Icha. Padahal sama saja! Dia adalah gadis cantik berhidung mancung, bermulut manis, beralis sabit, bermata [tak jelas juga], kemudian berkulit putih dan bertubuh langsing. Ia anak dari seorang guru Negeri dan Ibu yang aktif mencari rizki. Jadi dia anak orang berada dengan rumah besar, yang kalau kita salam dari gerbangnya orang di dalam rumah pasti tidak dengar. Begitu sich cerita yang beredar. Ia adalah anak sulung dan memiliki satu adik, sekarang dia sudah kuliah semester empat. Tampaknya belum nyambung. Yang akan  menyambungkan adalah, kak Icha ini dulunya adalah pacar pemuda itu sebelum pemuda itu bersama Nina.
                Jadi jelas sudah, permasalahannya, kan?
                Oh belum,,,???
                Cemburu!
                Wajar saja orang mencintai itu cemburu, kan? Tapi masalahnya sekarang, Nina sudah tidak ada hubungan lagi dengan pemuda itu, Nina sudah tidak mencintai pemuda itu lagi, tidak mmm…sedikitpun. Entah apa penyebabnya, tapi perasaan itu memang benar-benar lenyap dari hati Nina. Lantas, yang tak Nina habis fikir kenapa ia masih tidak suka dengan gadis itu.
                “Bukan, bukan tidak suka!” Nina berujar.
                Oh maaf, maksudnya Nina bukannya tidak suka dengan gadis itu tapi ia mungkin mmmm tepatnya iri dengan gadis itu. Iri???? Kenapa???
                Entahlah, kalau Nina berfikir begitu, ia juga pasti akan setengah mati heran. Ia bahkan tidak tau perasaan apa yang menggelanyuti hatinya.
                “Dia tidak lebih baik dari kamu kok, Nin!” Rini berujar masih menatap layar kaca TV yang memperlihatkan wajah Udin Sedunia.
                “Ya, karena kamu sahabatku!” Nina merebahkan tubuhnya di ranjang.
                “Okaylah, aku sahabatmu. Tapi kamu fikir aku buta apa? Aku kan yang tinggal di kampung dengan segenap jiwa dan raga dan lebih lama. Kamu, berkutat di pondok aja. Jadi kamu tidak tau bagaimana orang-orang disini!” Rini ngedumel.
                “Okay, tapi kamu pasti dominan kepada orang yang lebih kemu kenal dan mengenalmu. Apalagi aku sahabat yang sudah mengental dalam hidupmu!” Nina teguh.
                “Terserah dah. Yang jelas menurut penilitian kamu lebihlah dari dia!” Rinipun teguh.
                “Dan menurut perasaanku, dia juga lebih dari aku!” Nina keuh-keuh.
                “Kamu ini, seperti tak paham agama saja. Tidak pandai bersykur, jilbab sudah lebar gitu, mondok enam tahun gitu, masih saja memelihara perasaan nggak keren gitu!”
                Ceb!
                Mati lampu. Tapi Nina tak tergoyah, meski tertohok juga dia dengan ucapan sahabatnya itu. Tak pandai bersyukur?
                “Bukan merendahkan orang lain, Nin. Tapi cobalah mensyukuri hal-hal lebih yang kamu miliki dan tidak orang lain miliki. Bukan malah melihat kelebihan mereka yang tidak kamu miliki, aku yakin kamu paham tentang ini.” Rini merebahkan badan juga. Udin sudah gelap, mati listrik.
                “Kamu kira gampang. Aku juga tidak tau kenapa begini!” Nina masih setia dengan baris demi baris tulisan di buku itu. Meski ia tidak focus lagi.
                “Siapapun tau kamu dan hamper mengenalmu, sedang dia? Dia pendiam, dan hanya ditau tapi tidak dikenal. Dia bisa menjadi bintang, tapi hanya bersinar dan enggan tergenggam, tapi kamu kamu tidak hanya sekedar bintang yang bersinar tapi bintang yang dengan rendah hati menjadi teman. Ayolah, kamu pintar dan pandai bergaul. Dia pintar tapi terkesan tak punya teman. Dia memiliki kemampuan tapi tidak dimanfaatkan, kamu meski punya dan tidak punya selalu berusaha membantu. Apalagi? Masih juga memendam perasaan itu?”
                Aneh, Rini jadi seperti Nina kalau begini.
                “Aku kan nggak pernah pengen,” Nina masih membela perasaannya.
                “Ya…benar juga sich, tapi cobalah kita jadi hamba yang bersyukur, Nin. Kan semua orang diberikan kelebihan masing-masing oleh Allah. Jadi…karena itulah Allah melarang kita untuk iri pada makhluknya yang lain, karena semua kita memiliki kemampuan.”
                “Ceileee….bijak banget!”
                “Ih, emang aku bijak dari dulu kali!”
                “Udah tua donk! Hehe”
                “Kamu aja yang masih kekanak-kanakan!”
                “Bukan, aku kekanan-kanan terus…hehehe” Nina kembali membahas buku yang di tangannya itu.
                “Yeh…dari kemarin, kanan mulu, kanan mulu. Gunakan itu otak kananmu untuk mematikan perasaan gak keren itu!”
                “Mmmmmm bisa, bisa, bisa…hehe”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar