Rabu, 16 Juli 2014

"gadis pembuat nama"


                “Saya terima nikahnya Fatimah binti Abdul Ghafur dengan maskawin tersebut, tunai!” Aku menahan nafas demi mendengar kalimat qabul itu, aku menunduk dalam ketika semua saksi berujar sah dan bersama-sama mengucap hamdalah. Akhirnya dengan kaku aku meraih tangan lelaki yang kini sah menjadi suamiku dan mengecup punggung tangannya. Acara salaman-salamanpun berlangsung, aku masih canggung, hingga selesai.
                Sekarang aku dan lelaki itu maksudku suamiku telah berada dalam satu kamar, rasa canggung masih menguasaiku, aku enggan mengeluarkan suara, kurasa sama pula dengannya, aku hanya beberapa kali meliriknya yang tampak duduk dengan ekspresi datar diatas sajadah putihnya. Akhirnya jam di kamar menunjukkan pukul sepuluh malam, ia menyelesaikan witirnya dan menggulung sajadahnya. Aku masih menunggu kalimat keluar dari mulut tipisnya. Ya, dia memang memiliki bibir yang tipis dan merah, karena ia sama sekali tidak pernah merokok. Matanya setajam mata elang dengan alis tebal hitam, ia begitu tampan.
                “Mau tidur dimana?” Tanyanya mengerutkan alisku. Aku jadi tidak tau mau mengatakan apa, rasa canggung itu masih saja menyelimutiku.
                “Mas mau tidur dimana?” Tanyaku balik.
                “Mmm...aku di sofa saja, kamu di sana!” Ujarnya menunjuk ranjang empuk yang aku duduki. Aku mengangguk menyetujui. Tak bisa berkata apa-apa, meski menunduk aku bisa merasakan apa yang ia lakukan, ia hanya mengganti sarung lantas merebahkan tubuhnya di sofa, sebentar kemudian terdengar dengkuran halusnya. Aku merasa bisa bernafas lega. Aku bangkit dari ranjang, membawa selembar selimut tebal, lantas kudekati tubuhnya dan kuselimuti ia. Aku tersenyum meskipun agak berat.
*
                Pernikahan ini terjadi bukan atas kemauan kami, tapi semata-mata hanya membahagiakan orang tua yang bersahabat. Mungkin mudah bagiku untuk mencintai lelaki matang sepertinya. Kualitas wajah diatas rata-rata, kualitas otak diatas rata-rata, ekonomi matang, rumah mewah, ibadah indah, pekerjaan sudah...apalagi?

                Tapi mungkin, sulit baginya untuk mencintaiku atau sekadar menganggapku istrinya. Pasalnya aku manusia biasa, wajah biasa-biasa saja, otak biasa saja, ekonomi biasa saja, ibadah biasa saja, pekerjaan guru di sekolah yang biasa juga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar