“Saya terima nikahnya Fatimah
binti Abdul Ghafur dengan maskawin tersebut, tunai!” Aku menahan nafas demi
mendengar kalimat qabul itu, aku menunduk dalam ketika semua saksi berujar sah
dan bersama-sama mengucap hamdalah. Akhirnya dengan kaku aku meraih tangan
lelaki yang kini sah menjadi suamiku dan mengecup punggung tangannya. Acara
salaman-salamanpun berlangsung, aku masih canggung, hingga selesai.
Sekarang aku dan lelaki itu
maksudku suamiku telah berada dalam satu kamar, rasa canggung masih menguasaiku,
aku enggan mengeluarkan suara, kurasa sama pula dengannya, aku hanya beberapa
kali meliriknya yang tampak duduk dengan ekspresi datar diatas sajadah
putihnya. Akhirnya jam di kamar menunjukkan pukul sepuluh malam, ia
menyelesaikan witirnya dan menggulung sajadahnya. Aku masih menunggu kalimat
keluar dari mulut tipisnya. Ya, dia memang memiliki bibir yang tipis dan merah,
karena ia sama sekali tidak pernah merokok. Matanya setajam mata elang dengan
alis tebal hitam, ia begitu tampan.
“Mau tidur dimana?” Tanyanya
mengerutkan alisku. Aku jadi tidak tau mau mengatakan apa, rasa canggung itu
masih saja menyelimutiku.
“Mas mau tidur dimana?” Tanyaku
balik.
“Mmm...aku di sofa saja, kamu di
sana!” Ujarnya menunjuk ranjang empuk yang aku duduki. Aku mengangguk
menyetujui. Tak bisa berkata apa-apa, meski menunduk aku bisa merasakan apa
yang ia lakukan, ia hanya mengganti sarung lantas merebahkan tubuhnya di sofa,
sebentar kemudian terdengar dengkuran halusnya. Aku merasa bisa bernafas lega.
Aku bangkit dari ranjang, membawa selembar selimut tebal, lantas kudekati
tubuhnya dan kuselimuti ia. Aku tersenyum meskipun agak berat.
*
Pernikahan ini terjadi bukan
atas kemauan kami, tapi semata-mata hanya membahagiakan orang tua yang
bersahabat. Mungkin mudah bagiku untuk mencintai lelaki matang sepertinya.
Kualitas wajah diatas rata-rata, kualitas otak diatas rata-rata, ekonomi
matang, rumah mewah, ibadah indah, pekerjaan sudah...apalagi?
Tapi mungkin, sulit baginya
untuk mencintaiku atau sekadar menganggapku istrinya. Pasalnya aku manusia
biasa, wajah biasa-biasa saja, otak biasa saja, ekonomi biasa saja, ibadah
biasa saja, pekerjaan guru di sekolah yang biasa juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar