Rabu, 16 Juli 2014

Halaman Belakang..


                ‘Lagi di RM Fast nih.’
                Sebuah pesan singkat menylinap di HP sederhana milik lelaki dengan janggut tipis itu. Sederet nomer yang sangat dikenalnya terpampang dari sender, membuat hatinya seketika itu juga kembang kempis tak karuan. Pesan yang menunjukkan salah satu rumah makan di dekat kostnya itu menjadikan point utama dari si pengirim pesan untuknya agar segera kesana, begitu fikiran yang tercipta di otaknya.
                Ia mengalihkan pandangan dari layar HPnya ke atasannya yang tengah menyampaikan rencana perusahaan tempatnya magang beberapa bulan ini. di keningnya dengan segera keluar bulir keringat menandakan situasi hatinya yang tak menentu. Ia ingin keluar dari rapat itu dan segera menghampiri si pengirim pesan.
                “Abang memang tidak pernah bisa membuatku merasa berharga.” Sekerat kalimat datar diselingi isak namun bertanda fatal terngiang kembali di telinga pemuda itu. ia ingat betul sakit dan sesalnya saat itu. dan saat ini, ia tak mau lagi membuat sosok itu kecewa. Sosok yang begitu berharga bagi hatinya, dulu. Gadisnya, si pengirim pesan.
                Untung saja, tak sampai sepuluh menit rapat itu usai. Ia segera keluar dengan cepat dan memacu motornya sesegera mungkin. Perusahaan tempatnya magang memang lumayan jauh dari kostnya. Tapi itu tidak memupus niatnya untuk segera menemui si pengirim pesan. Akhirnya, jarak yang biasanya ia tempuh 30 menit itu bisa ia tempuh hanya 19 menit saja. Ia memarkir motornya di bawah pohon sawo halaman rumah makan. Dirogohnya HPnya dengan hati yang mendadak semakin semangat berdegup.
                ‘dmana?’
                Ia kirim pesan singkat itu ke nomer orang yang dikejarnya sedemikian. Tak lama balasan datang.
                ‘pojok.’
                Sesingkat pertanyaan jawaban yang didapat. Lelaki itu menghela nafas dalam. Hatinya semakin tak karuan. Lama, ya hampir dua tahun ia tak pernah mendapat kabar dari gadis pengirim pesan itu. permintaan maafnya dulupun hanya angin lalu bagi gadis yang kerap membuatnya rindu itu. setelah itu ia tak pernah digubris olehnya, tak pula menunjukkan kontak yang berarti. Gadis itu seperti tertelan bumi, tak terdengar lagi. Gadis itupun tak peduli pada sesal, rindu dan hasrat ingin kembali yang kerap menyiksa batin si lelaki. Dan hari ini, dengan tiba-tiba dan tak disangkanya gadis pengirim pesan itu datang. Tentu saja saat ini menjadi begitu mendebarkan baginya.
                Tapak mulai dinikmatinya memasuki rumah makan yang dulunya kerap ia datangi bersama gadis itu. matanya dengan cepat menuju pojok. Dan ia tertegun, gadis itu disana menatapnya. Mata mereka beradu menciptakan hening yang panjang.
                Lelaki itupun melangkah mendekat, semakin menyempitkan jarak dengan meja gadis itu. diantara degup jantungnya yang keras hidungnya mencium aroma has yang telah lama ditinggalkannya, asap rokok. Ia mengendus kecil, memperhatikan sekitar. Dan sumbernyapun ia temukan, membuat kakinya terpaku pada pijakannya. Ia melihat jemari yang diselanya terdapat sebatang rokok Classmild, jemari itu bergerak menuju bibir empunya. Setelah batangan tembakau itu dihisap, maka mengepullah asap dari bibir itu. bibir yang sesaat kemudian memberikan senyum padanya. bibir gadis itu.
//
                “Udah makan?” begitu pertanyaan yang pertama keluar dari gadis itu pada lelaki yang kini duduk terpaku di hadapannya.
                “Alhamdulillah, tadi udah sarapan di kost.” Lelaki dengan senyum menarik itu menjawab datar.
                “Oooh…” gadis itu membulatkan bibirnya. Tak ada kalimat lagi.
                “Kamu apa kabar?” Tanya lelaki itu membuka percakapan.
                “Hehe,” gadis itu terkekeh sedikit, “seperti yang terlihat.” Lanjutnya dengan nada ringan kemudian mengisap rokoknya lagi.”Rokok?” tawarnya mendorong bungkus rokoknya kearah lelaki itu.
                “Aku sudah tidak merokok.” Lelaki itu menolak sembari mendorong lagi rokok itu kearah gadis itu.
                “Hehe,” gadis itu kembali terkekeh ringan, “hebat juga.” Ia melanjutkan dengan cuek. Lelaki yang duduk di hadapannya adalah Rony, kekasihnya dua tahun lalu. kurang lebih begitu. Tak lama pesanannya datang.
                “Mau temani aku makan?” Tanya gadis itu sembari bersiap menyuap nasinya. Rony tersenyum mengangguk. Gadis itupun makan dan Rony hanya menemani dengan diam. Hampir setengah jam. Tidak ada percakapan. Rony hanya memperhatikan gadis itu dengan rasa sedikit prihatin. Gadis itu sungguh sangat berubah. Dari tubuhnya, tingkahnya, nada bicaranya. Ia seolah bertemu dengan orang lain.
                “Udah…” gadis itu menyelesaikan makannya sembari tersenyum lebar. “Nggak ada lagi. Aku pulang yah.” Ia menyilangkan tas kecilnya. Hendak bangkit dari duduknya.
                “Dee…” rony memanggil namanya, gadis itu menoleh. “Apa yang telah kamu alami?” lelaki itu menatap gadis yang kini dengan bangga memamerkan rambut lurus sedikit pirangnya. Sungguh kontras dengan sosok yang dulu selalu membuatnya merasa nyaman ketika melihatnya. Jilbab manis yang selaras dengan pakaian yang dikenakannya.
                “Banyak.” Dee, gadis itu tersenyum lembut. “Mungkin tak perlu kau tahu, hanya saja bisa kau tebak.” Lanjutnya.
                “Kamu sakit?” Rony kembali bertanya.
                “Lebih dari itu…” Dee menjawab datar dengan sorot mata yang sendu. Kemudian keduanya terdiam, mengeja jeda yang perlahan memisahkan mereka tanpa salam.
//
                Rony memebolak balikan tubuhnya di atas ranjang sederhana kostnya. Fikirannya tak mau kompak untuk diajak beristirahat. Hatinyapun lebih memihak si fikiran. Tidak ingin terlelap. Mereka bermain-main pada dunia lain dari bilik hati Rony. Tentang Dee, gadis yang dulu mencampakkannya dan sekarang kembali dengan kondisi yang menurutnya tragis. Kurus, tak berjilbab bahkan merokok. Dee yang dulu dikenal Rony adalah gadis manis dengan jilbab sopan. Akhlaknya Sembilan, selalu terlihat segar dan ramah, jangankan merokok menghirup asap rokok saja terganggu.
                Kontras sekali.
                “Apakah aku harus mencari tahu tentang dia belakangan ini?” bisik hatinya berbaik hati. “bagaimanapun dulu ia selalu memperhatikanku.” Ia kembali membela, membolak balik kenangan yang dulu dilaluinya bersama Dee. Yang menurutnya sungguh sangat membahagiakan.
                “Ah, dia kan sudah mencampakkan aku, bahkan memberi kabarpun tidak. Kenapa pula aku harus peduli padanya.” sisi lain hatinya menolak.
                “Sekalipun begitu, aku juga yang salah saat itu. wajarlah kalau dia ingin berpisah dariku.” Sisi yang lain kembali membela.
                “Dia tidak memberi kabar, artinya ia tidak ingin kembali padaku.” Sisi hatinya yang lain kembali menolak.
                “Dee itu butuh pertolongan, sesama muslim aku harus menolongnya.”
                “Buat apa? Dia kan sudah tidak memperdulikan aku hampir dua tahun. Kemudian datang dengan tiba-tiba, membawa berbagai bekas masalah dalam hidupnya, dan aku harus membantunya???”
                “Aku tidak boleh berfikiran buruk tentangnya…”
                “Astaghfirullah…” Rony bangkit dari ranjangnya. Ia tak tahan dengan suara-suara di hatinya. Dengan segera diseretnya langkah ke kamar mandi , berwudhu dan kembali ke kamarnya. Ia menggelar sajadah dan mendirikan shalat hajat dua raka’at. Diakhirinya shalat sunnat mulia itu dengan sujud yang panjang. Meminta Allah menunjukkan jalan yang terbaik baginya.
                Selepas shalat, hp yang ia taruh di meja kecil samping ranjang bergetar tanda pesan masuk. Ia mengambil dengan setengah hati, berharap bukan pesan yang menggejolakkan kondisi hatinya yang saat ini sudah dirasanya membaik.
                ‘Kak, selamat istirahat. Semoga selalu dalam lindungan Allah J
                Ternyata sebuah pesan menyejukkan dari Mira, gadis yang setengah tahun belakangan mulai menarik perhatiannya. Ia tersenyum tenang, tapi enggan membalas pesan itu.
                “Biarlah, sudah malam.” Begitu fikirnya. Iapun membaringkan tubuhnya yang letih sepanjang hari bekerja di perusahaan yang berencana mengangkatnya menjadi pegawai tetap tersebut. Sebelum memejamkan mata ia sempat berdo’a dengan ikhlas, agar hidupnya dan Dee (?) diberkahi Allah. meskipun sempat bingung kenapa ia berdoa untuk Dee, iapun tak ambil pusing. Segera saja ia memejamkan matanya menjemput mimpi.
//
                Dua bulan berlalu sejak kejadian itu. tak ada lagi kabar dari Dee, dan meskipun Rony sangat ingin mengirimkan pesan pada gadis itu, tapi ia menahan hatinya. Ia menjaga harga diri. Tak ingin kejadian pada masa lalu dirasainya lagi.
                Dee…gadis itu memang sangat lekat dengan hatinya. Tapi, bukan berarti berharganya harus merobek-robek harga dirinya sebagai laki-laki kan?
                Sementara itu, ia dan Mira semakin matang untuk menuju pelaminan. Memang, tak perlu sering bertemu, tak perlu jalinan pacaran. Jika sudah cocok maka Rony akan segera melamar. Tak hanya itu, perusahaan yang dulu tempatnya magang kini telah mengangkatnya sebagai staf resmi. Memang tidak memiliki jabatan tinggi, tapi sungguh lumayan jika dibandingkan dengan beberapa kawannya yang hanya diterima sebagai staf bawah. Rony sangat bersyukur, dua bulan tentu bukan waktu yang lama untuk mendapatkan semua ini.
                “Rony?!” seorang lelaki bertubuh lumayan atletis menyapanya di minimarket saat Rony membeli perlengkapan mandi. Rony menatap sosok itu lumayan lama. Kemudian tersenyum lebar.
                “Wathon?” sapanya menyalami dan memeluk lelaki yang ternyata teman SMAnya dulu itu. wathon tertawa mengiyakan.
                “Gimana kabar lo?” Tanya Wathon dengan nada akrab.
                “Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri gimana?” Rony memperhatikan penampilan Wathon yang sangat modern dengan jas mahal. Tampaknya temannya itu sudah sukses.
                “Minggu kemarin gue nikah,” jawaban Wathon membelalakkan mata Rony, “gue udah sebar undangan lewat FB sama twitter. Nomer kalian pada ganti semua sih. Banyak anak-anak yang dateng. Termasuk doi lo, tapi kok lo nggak nongol?” wathon menjelaskan dengan pertanyaan. Rony mengerutkan alisnya.
                “Maaf, aku memang jarang buka FB atau twitter.” Rony menjawab sekenanya.
                “Oh, wajar. Tapi masa Dee nggak ngasi tau lo?” Wathon kembali bertanya.
                “Kami udah putus dua tahun lalu.” rony menjawab dengan nada datar.
                “Wah, parah. Kok gue nggak tau ya? Sayang banget kalian putus. Dulu kan kalian udah klop banget. Dari SMA sampai kuliah tetep bisa bertehen. Dengan gaya pacaran ‘norak’ kalian itu.” nada Wathon mnegejek. Tapi Rony masih tersenyum. Gaya pacaran norak menurut Wathon adalah gaya pacaran yang tidak seperti dia dan teman-teman mereka yang lain. Dulu Rony dan Dee memang berhubungan dengan menjaga kehormatan satu sama lain. Jarang bertemu, tapi tetap saling memperhatikan. Tidak bersentuhan apalagi berciuman atau pelukan.
                “Yah, mungkin memang bukan jodoh.” Ujar Rony seperlunya.
                “Terserah gimana lo aja sebenernya. Ohya, ternyata si Dee berubah banyak ya, Ron. Temen-temen yang liat dia pas resepsi gue aja pada heran.” Wathon membeberkan. Rony kembali tersenyum, ia juga sama herannya.
                “Aku belum pernah ketemu.” Rony menjawab dengan suara datar.
                “Ah, lo pasti kaget setengah mati liat dia sekarang. dia udah nggak pake jilbab kayak dulu lagi. Jilbabnya kecil, tansparan gitu. Pakaiannya juga keliatan berantakan. Apa mungkin gara-gara putus sama lo ya, Ron?!” wathon berujar ringan sembari terkekeh.
                “Mungkin nggak ada hubungannya.” Rony masih merendah, mereka berjalan beriringan ke kasir.
                “Atau mungkin karena kejadian itu.” wathon terdengar mengingat-ingat sesuatu. Rony yang mendengar tak ingin bertanya, ia tak mau mengurusi masalah orang lain. “Gue nggak dateng sih jenguk dia, tapi beritanya sampai masuk Koran.” Wathon melanjutkan, mengingat-ingat.
                “Masuk Koran?” akhirnya Rony tertarik.
                “Kejadian setahun lalu, lo nggak tahu juga? Wah parah banget lo, jangan mentang-mentang putus lo jadi nggak tahu semua hal dong. Apalagi Dee kan mantan lo.” Wathon terdengar menyesalkan.
                “Ya mau gimana lagi, Thon.” Rony tersenyum.
                “Yah, tapi kalo gua kasi tahu sekarang juga nggak ada gunanya, Ron. Kalo gitu gua duluan deh. Istri gue udah telpn dari tadi.”Wathon melambaikan tangan sembari keluar dari minimarket. Sementara Rony tertimpa segumpal penasaran dalam hatinya.
                Dee?
                Setahun yang lalu, ada apa?
//
                “Apa yang telah kamu alami?”
                “Banyak, tapi kau tak perlu tahu, hanya saja bisa kau tebak.”
                “Kamu sakit?”
                “Lebih dari itu.”
                Rony terbangun, mimpi tentang Dee mengganggu tidurnya. Percakapan singkat dua bulan lalu terulang dalam mimpi itu. dee dengan wajah sendunya, dengan tanpa jilbab dan sebatang rokok di tangan kirinya.
                Ada apa dengan Dee?
                Haruskah ia mencari tahu?
                Pentingkah masalah ini baginya?
                Ronypun mencari HPnya, setelah ia temukan diketiknya sederet pesan.
                ‘adakah yg tidk aku tw ttgmu?’
                Send
                Rony melirik jam kecil di tembok kamarnya. Jam satu dini hari, tidak mungkin Dee masih terjaga. Iapun menyesalkan tindakannya. Seharusnya ia melihat jam dulu, atau seharusnya ia tidak mengirim pesan itu. nanti, bisa jadi Dee akan berfikir yang tidak-tidak tentangnya.
                Yang tidak-tidak?
                Begitu ia mencoba memejamkan mata lagi, HPnya bergetar tanda pesan masuk. Rony terkejut, ia segera membuka pesan itu. dan nomer Dee muncul. Gadis itu, masih terjaga.
                ‘banyak.’
                Singkat sekali jawaban itu. rony menekan tombol replay.
                ‘bskah kamu membaginya, Dee?’            
                Send
                Tak lama balasan kembali datang.
                ‘hal itu tdk sperti harta, Bang. Jk dibgipun, ia tk akn brkurang.’
                Dee membalas pesan dengan memanggilnya seperti dahulu, membuat Rony tak karuan rasa. apakah benar ia masih mencintai Dee?
                ‘knp blum istirhat?’
                Send
                Balasan datang.
                ‘aku takut’
                Rony kembali menekan tombol replay.
                ‘tkut?’
                Agak lama, balasan datang lagi.
                ‘tidur itu mnjemput kgelapn, gelap itu menkutkan.’
                Rony mengerutkan alis membaca balasan Dee. Sejak kapan gadis itu takut kegelapan.
                ‘sjk kpan gelp itu mnjdi seram, Dee?’
                Rony menunggu lama balasan Dee. Tapi tak ada yang datang. Ia memutuskan untuk kembali tidur. Tapi saat ia hampir terlelap, HPnya kembali bergetar.
                ‘sjak aku tk bs mlihat terng. Sjak Tuhan mengmbil smwnya driku. Sjak tak da mata yg mw mlihtku. Sjak aku sndiri.’
//
                Dan saat ini, Rony duduk di hadapan gadis yang cukup menyita waktunya selama sepekan. Dee. Ia memang mengajaknya untuk bertemu, dan Dee menyanggupi.
                “Kenapa kamu tidak memaafkan keadaanmu, Dee?” Tanya Rony menatap wajah berantakan Dee.
                “Maafku sudah habis.” Dee menjawab singkat.
                “Kamu tidak marah pada Tuhan, kan?” rony bertanya hawatir.
                “Dia itu mutlak, kan?” Dee balik bertanya.
                “Lantas kenapa kamu begini?”
                “Memangnya salah seperti ini? yang benar itu yang bagaimana? Memakai jilbab, baju panjang, aurat tertutup? Aku sudah melakukan itu, tapi di mata Tuhan itu semua masih salah.”
                “Apa maksudmu?”
                “Bahkan Abang saja tak mau melihatku.”
                “Aku bingung dengan kalimatmu. Cerita saja, biar lebih ringan Dee.”
                “Nggak. Ngapain cerita aib kaluarga sendiri. Dapat uang saja nggak.”
                “Aku berikan uang.” Rony memancing. Dee menatapnya dengan cibiran.
                “Uang tidak bisa membuat bahagia.”
                “Aku beri kebahagiaan.”
                “Seperti apa?”
                “Apa yang kamu mau?”
                “Masa lalu. kembalikan aku ke masa lalu.”
                “Aku bagian dari masa lalumu.”
                “Tapi kalaupun kau kembali, masa laluku tidak akan kembali.”
                “Dee…”
                “Kau mengajakku bertemu untuk mendebat?!”
                “Aku ingin meringankanmu.”
                “Aku tidak seberharga itu bagimu,”
                “Kamu penting Dee.”
                “Bullshit.”
                Rony menghela nafas, tak ada yang bisa ia katakan. Dee memang keras kepala, ia tau sejak dulu itu. Tapi, ia masih ingin melindunginya.
                “Kita menikah.” Rony berujar tegas. Dee terdiam.
                “Nggak.”
                “Aku akan melamarmu sekarang, ke orang tuamu.”
                “Nggak.” Dee menolak lebih tegas. Rony menatap mata Dee yang perlahan memerah menahan tangis. Ia tak mau lagi mendengar alasan dari Dee. Ronypun bangkit dari duduknya, ia melangkah cepat keluar.
                “Mau kemana?!” dee bertanya setengah berteriak.
                “Ke orang tuamu.” Jawab Rony sambil terus berjalan. Menuju motornya. Dee mengejarnya kemudian.
                “Kau tidak akan melakukan itu!” serunya di belakang Rony.
                “Aku akan.” ROny mengeluarkan konci motor dari sakunya.
                “Lihat aku!!” Dee berseru, suaranya bergetar menandakan tangis. Rony menghentikan langkahnya, ia memutar tubuhnya menatap Dee.
                Jeda. Tak ada yang berbicara.
                “Cukup. Kita tidak bisa melanjutkan apa-apa, atau memulai apa-apa. Dua tahun telah membuat kita menjadi asing satu sama lain.” Dee berujar pelan.
                “Keadaan iya, tapi hati kita tidak.” Rony berucap tegas.
                “Hati?!” Dee menatapnya dengan mata berair,Dee menaruh telunjuknya di dada Rony “Hati yang lemah ini? tidak akan bisa menerima AIDS.!!!” Ia melanjutkan dengan gemetar. Rony termenung, lidahnya kelu. Aids? Dee? Ia tak sempat mengatakan apa-apa ketika kemudian Dee berlari meninggalkannya sembari menghapus air mata yang menganak sungai di pipinya.
//



Tidak ada komentar:

Posting Komentar