‘Lagi di RM Fast nih.’
Sebuah pesan singkat menylinap
di HP sederhana milik lelaki dengan janggut tipis itu. Sederet nomer yang
sangat dikenalnya terpampang dari sender, membuat hatinya seketika itu
juga kembang kempis tak karuan. Pesan yang menunjukkan salah satu rumah makan
di dekat kostnya itu menjadikan point utama dari si pengirim pesan untuknya
agar segera kesana, begitu fikiran yang tercipta di otaknya.
Ia mengalihkan pandangan dari
layar HPnya ke atasannya yang tengah menyampaikan rencana perusahaan tempatnya
magang beberapa bulan ini. di keningnya dengan segera keluar bulir keringat
menandakan situasi hatinya yang tak menentu. Ia ingin keluar dari rapat itu dan
segera menghampiri si pengirim pesan.
“Abang memang tidak pernah bisa
membuatku merasa berharga.” Sekerat kalimat datar diselingi isak namun bertanda
fatal terngiang kembali di telinga pemuda itu. ia ingat betul sakit dan
sesalnya saat itu. dan saat ini, ia tak mau lagi membuat sosok itu kecewa.
Sosok yang begitu berharga bagi hatinya, dulu. Gadisnya, si pengirim pesan.
Untung saja, tak sampai sepuluh
menit rapat itu usai. Ia segera keluar dengan cepat dan memacu motornya
sesegera mungkin. Perusahaan tempatnya magang memang lumayan jauh dari kostnya.
Tapi itu tidak memupus niatnya untuk segera menemui si pengirim pesan.
Akhirnya, jarak yang biasanya ia tempuh 30 menit itu bisa ia tempuh hanya 19
menit saja. Ia memarkir motornya di bawah pohon sawo halaman rumah makan.
Dirogohnya HPnya dengan hati yang mendadak semakin semangat berdegup.
‘dmana?’
Ia kirim pesan singkat itu ke
nomer orang yang dikejarnya sedemikian. Tak lama balasan datang.
‘pojok.’
Sesingkat pertanyaan jawaban
yang didapat. Lelaki itu menghela nafas dalam. Hatinya semakin tak karuan.
Lama, ya hampir dua tahun ia tak pernah mendapat kabar dari gadis pengirim
pesan itu. permintaan maafnya dulupun hanya angin lalu bagi gadis yang kerap
membuatnya rindu itu. setelah itu ia tak pernah digubris olehnya, tak pula
menunjukkan kontak yang berarti. Gadis itu seperti tertelan bumi, tak terdengar
lagi. Gadis itupun tak peduli pada sesal, rindu dan hasrat ingin kembali yang
kerap menyiksa batin si lelaki. Dan hari ini, dengan tiba-tiba dan tak
disangkanya gadis pengirim pesan itu datang. Tentu saja saat ini menjadi begitu
mendebarkan baginya.
Tapak mulai dinikmatinya
memasuki rumah makan yang dulunya kerap ia datangi bersama gadis itu. matanya
dengan cepat menuju pojok. Dan ia tertegun, gadis itu disana menatapnya. Mata
mereka beradu menciptakan hening yang panjang.
Lelaki itupun melangkah
mendekat, semakin menyempitkan jarak dengan meja gadis itu. diantara degup
jantungnya yang keras hidungnya mencium aroma has yang telah lama
ditinggalkannya, asap rokok. Ia mengendus kecil, memperhatikan sekitar. Dan
sumbernyapun ia temukan, membuat kakinya terpaku pada pijakannya. Ia melihat
jemari yang diselanya terdapat sebatang rokok Classmild, jemari itu bergerak
menuju bibir empunya. Setelah batangan tembakau itu dihisap, maka mengepullah
asap dari bibir itu. bibir yang sesaat kemudian memberikan senyum padanya.
bibir gadis itu.
//
“Udah makan?” begitu pertanyaan
yang pertama keluar dari gadis itu pada lelaki yang kini duduk terpaku di
hadapannya.
“Alhamdulillah, tadi udah
sarapan di kost.” Lelaki dengan senyum menarik itu menjawab datar.
“Oooh…” gadis itu membulatkan
bibirnya. Tak ada kalimat lagi.
“Kamu apa kabar?” Tanya lelaki
itu membuka percakapan.
“Hehe,” gadis itu terkekeh
sedikit, “seperti yang terlihat.” Lanjutnya dengan nada ringan kemudian
mengisap rokoknya lagi.”Rokok?” tawarnya mendorong bungkus rokoknya kearah
lelaki itu.
“Aku sudah tidak merokok.”
Lelaki itu menolak sembari mendorong lagi rokok itu kearah gadis itu.
“Hehe,” gadis itu kembali
terkekeh ringan, “hebat juga.” Ia melanjutkan dengan cuek. Lelaki yang duduk di
hadapannya adalah Rony, kekasihnya dua tahun lalu. kurang lebih begitu. Tak
lama pesanannya datang.
“Mau temani aku makan?” Tanya
gadis itu sembari bersiap menyuap nasinya. Rony tersenyum mengangguk. Gadis
itupun makan dan Rony hanya menemani dengan diam. Hampir setengah jam. Tidak
ada percakapan. Rony hanya memperhatikan gadis itu dengan rasa sedikit
prihatin. Gadis itu sungguh sangat berubah. Dari tubuhnya, tingkahnya, nada
bicaranya. Ia seolah bertemu dengan orang lain.
“Udah…” gadis itu menyelesaikan
makannya sembari tersenyum lebar. “Nggak ada lagi. Aku pulang yah.” Ia
menyilangkan tas kecilnya. Hendak bangkit dari duduknya.
“Dee…” rony memanggil namanya,
gadis itu menoleh. “Apa yang telah kamu alami?” lelaki itu menatap gadis yang
kini dengan bangga memamerkan rambut lurus sedikit pirangnya. Sungguh kontras
dengan sosok yang dulu selalu membuatnya merasa nyaman ketika melihatnya.
Jilbab manis yang selaras dengan pakaian yang dikenakannya.
“Banyak.” Dee, gadis itu
tersenyum lembut. “Mungkin tak perlu kau tahu, hanya saja bisa kau tebak.”
Lanjutnya.
“Kamu sakit?” Rony kembali
bertanya.
“Lebih dari itu…” Dee menjawab
datar dengan sorot mata yang sendu. Kemudian keduanya terdiam, mengeja jeda
yang perlahan memisahkan mereka tanpa salam.
//
Rony memebolak balikan tubuhnya
di atas ranjang sederhana kostnya. Fikirannya tak mau kompak untuk diajak
beristirahat. Hatinyapun lebih memihak si fikiran. Tidak ingin terlelap. Mereka
bermain-main pada dunia lain dari bilik hati Rony. Tentang Dee, gadis yang dulu
mencampakkannya dan sekarang kembali dengan kondisi yang menurutnya tragis.
Kurus, tak berjilbab bahkan merokok. Dee yang dulu dikenal Rony adalah gadis
manis dengan jilbab sopan. Akhlaknya Sembilan, selalu terlihat segar dan ramah,
jangankan merokok menghirup asap rokok saja terganggu.
Kontras sekali.
“Apakah aku harus mencari tahu
tentang dia belakangan ini?” bisik hatinya berbaik hati. “bagaimanapun dulu ia
selalu memperhatikanku.” Ia kembali membela, membolak balik kenangan yang dulu
dilaluinya bersama Dee. Yang menurutnya sungguh sangat membahagiakan.
“Ah, dia kan sudah mencampakkan
aku, bahkan memberi kabarpun tidak. Kenapa pula aku harus peduli padanya.” sisi
lain hatinya menolak.
“Sekalipun begitu, aku juga yang
salah saat itu. wajarlah kalau dia ingin berpisah dariku.” Sisi yang lain
kembali membela.
“Dia tidak memberi kabar,
artinya ia tidak ingin kembali padaku.” Sisi hatinya yang lain kembali menolak.
“Dee itu butuh pertolongan,
sesama muslim aku harus menolongnya.”
“Buat apa? Dia kan sudah tidak
memperdulikan aku hampir dua tahun. Kemudian datang dengan tiba-tiba, membawa
berbagai bekas masalah dalam hidupnya, dan aku harus membantunya???”
“Aku tidak boleh berfikiran
buruk tentangnya…”
“Astaghfirullah…” Rony bangkit
dari ranjangnya. Ia tak tahan dengan suara-suara di hatinya. Dengan segera
diseretnya langkah ke kamar mandi , berwudhu dan kembali ke kamarnya. Ia
menggelar sajadah dan mendirikan shalat hajat dua raka’at. Diakhirinya shalat
sunnat mulia itu dengan sujud yang panjang. Meminta Allah menunjukkan jalan
yang terbaik baginya.
Selepas shalat, hp yang ia taruh
di meja kecil samping ranjang bergetar tanda pesan masuk. Ia mengambil dengan
setengah hati, berharap bukan pesan yang menggejolakkan kondisi hatinya yang
saat ini sudah dirasanya membaik.
‘Kak, selamat istirahat. Semoga
selalu dalam lindungan Allah J’
Ternyata sebuah pesan
menyejukkan dari Mira, gadis yang setengah tahun belakangan mulai menarik
perhatiannya. Ia tersenyum tenang, tapi enggan membalas pesan itu.
“Biarlah, sudah malam.” Begitu
fikirnya. Iapun membaringkan tubuhnya yang letih sepanjang hari bekerja di
perusahaan yang berencana mengangkatnya menjadi pegawai tetap tersebut. Sebelum
memejamkan mata ia sempat berdo’a dengan ikhlas, agar hidupnya dan Dee (?)
diberkahi Allah. meskipun sempat bingung kenapa ia berdoa untuk Dee, iapun tak
ambil pusing. Segera saja ia memejamkan matanya menjemput mimpi.
//
Dua bulan berlalu sejak kejadian
itu. tak ada lagi kabar dari Dee, dan meskipun Rony sangat ingin mengirimkan
pesan pada gadis itu, tapi ia menahan hatinya. Ia menjaga harga diri. Tak ingin
kejadian pada masa lalu dirasainya lagi.
Dee…gadis itu memang sangat
lekat dengan hatinya. Tapi, bukan berarti berharganya harus merobek-robek harga
dirinya sebagai laki-laki kan?
Sementara itu, ia dan Mira
semakin matang untuk menuju pelaminan. Memang, tak perlu sering bertemu, tak
perlu jalinan pacaran. Jika sudah cocok maka Rony akan segera melamar. Tak
hanya itu, perusahaan yang dulu tempatnya magang kini telah mengangkatnya
sebagai staf resmi. Memang tidak memiliki jabatan tinggi, tapi sungguh lumayan
jika dibandingkan dengan beberapa kawannya yang hanya diterima sebagai staf
bawah. Rony sangat bersyukur, dua bulan tentu bukan waktu yang lama untuk
mendapatkan semua ini.
“Rony?!” seorang lelaki bertubuh
lumayan atletis menyapanya di minimarket saat Rony membeli perlengkapan mandi.
Rony menatap sosok itu lumayan lama. Kemudian tersenyum lebar.
“Wathon?” sapanya menyalami dan
memeluk lelaki yang ternyata teman SMAnya dulu itu. wathon tertawa mengiyakan.
“Gimana kabar lo?” Tanya Wathon
dengan nada akrab.
“Alhamdulillah, baik. Kamu
sendiri gimana?” Rony memperhatikan penampilan Wathon yang sangat modern dengan
jas mahal. Tampaknya temannya itu sudah sukses.
“Minggu kemarin gue nikah,”
jawaban Wathon membelalakkan mata Rony, “gue udah sebar undangan lewat FB sama
twitter. Nomer kalian pada ganti semua sih. Banyak anak-anak yang dateng.
Termasuk doi lo, tapi kok lo nggak nongol?” wathon menjelaskan dengan
pertanyaan. Rony mengerutkan alisnya.
“Maaf, aku memang jarang buka FB
atau twitter.” Rony menjawab sekenanya.
“Oh, wajar. Tapi masa Dee nggak
ngasi tau lo?” Wathon kembali bertanya.
“Kami udah putus dua tahun
lalu.” rony menjawab dengan nada datar.
“Wah, parah. Kok gue nggak tau
ya? Sayang banget kalian putus. Dulu kan kalian udah klop banget. Dari SMA
sampai kuliah tetep bisa bertehen. Dengan gaya pacaran ‘norak’ kalian itu.”
nada Wathon mnegejek. Tapi Rony masih tersenyum. Gaya pacaran norak menurut
Wathon adalah gaya pacaran yang tidak seperti dia dan teman-teman mereka yang
lain. Dulu Rony dan Dee memang berhubungan dengan menjaga kehormatan satu sama
lain. Jarang bertemu, tapi tetap saling memperhatikan. Tidak bersentuhan
apalagi berciuman atau pelukan.
“Yah, mungkin memang bukan
jodoh.” Ujar Rony seperlunya.
“Terserah gimana lo aja
sebenernya. Ohya, ternyata si Dee berubah banyak ya, Ron. Temen-temen yang liat
dia pas resepsi gue aja pada heran.” Wathon membeberkan. Rony kembali
tersenyum, ia juga sama herannya.
“Aku belum pernah ketemu.” Rony
menjawab dengan suara datar.
“Ah, lo pasti kaget setengah
mati liat dia sekarang. dia udah nggak pake jilbab kayak dulu lagi. Jilbabnya
kecil, tansparan gitu. Pakaiannya juga keliatan berantakan. Apa mungkin
gara-gara putus sama lo ya, Ron?!” wathon berujar ringan sembari terkekeh.
“Mungkin nggak ada hubungannya.”
Rony masih merendah, mereka berjalan beriringan ke kasir.
“Atau mungkin karena kejadian
itu.” wathon terdengar mengingat-ingat sesuatu. Rony yang mendengar tak ingin
bertanya, ia tak mau mengurusi masalah orang lain. “Gue nggak dateng sih jenguk
dia, tapi beritanya sampai masuk Koran.” Wathon melanjutkan, mengingat-ingat.
“Masuk Koran?” akhirnya Rony
tertarik.
“Kejadian setahun lalu, lo nggak
tahu juga? Wah parah banget lo, jangan mentang-mentang putus lo jadi nggak tahu
semua hal dong. Apalagi Dee kan mantan lo.” Wathon terdengar menyesalkan.
“Ya mau gimana lagi, Thon.” Rony
tersenyum.
“Yah, tapi kalo gua kasi tahu
sekarang juga nggak ada gunanya, Ron. Kalo gitu gua duluan deh. Istri gue udah
telpn dari tadi.”Wathon melambaikan tangan sembari keluar dari minimarket.
Sementara Rony tertimpa segumpal penasaran dalam hatinya.
Dee?
Setahun yang lalu, ada apa?
//
“Apa yang telah kamu alami?”
“Banyak, tapi kau tak perlu
tahu, hanya saja bisa kau tebak.”
“Kamu sakit?”
“Lebih dari itu.”
Rony terbangun, mimpi tentang
Dee mengganggu tidurnya. Percakapan singkat dua bulan lalu terulang dalam mimpi
itu. dee dengan wajah sendunya, dengan tanpa jilbab dan sebatang rokok di
tangan kirinya.
Ada apa dengan Dee?
Haruskah ia mencari tahu?
Pentingkah masalah ini baginya?
Ronypun mencari HPnya, setelah
ia temukan diketiknya sederet pesan.
‘adakah yg tidk aku tw ttgmu?’
Send
Rony melirik jam kecil di tembok
kamarnya. Jam satu dini hari, tidak mungkin Dee masih terjaga. Iapun
menyesalkan tindakannya. Seharusnya ia melihat jam dulu, atau seharusnya ia
tidak mengirim pesan itu. nanti, bisa jadi Dee akan berfikir yang tidak-tidak
tentangnya.
Yang tidak-tidak?
Begitu ia mencoba memejamkan
mata lagi, HPnya bergetar tanda pesan masuk. Rony terkejut, ia segera membuka
pesan itu. dan nomer Dee muncul. Gadis itu, masih terjaga.
‘banyak.’
Singkat sekali jawaban itu. rony
menekan tombol replay.
‘bskah kamu membaginya, Dee?’
Send
Tak lama balasan kembali datang.
‘hal itu tdk sperti harta, Bang.
Jk dibgipun, ia tk akn brkurang.’
Dee membalas pesan dengan
memanggilnya seperti dahulu, membuat Rony tak karuan rasa. apakah benar ia
masih mencintai Dee?
‘knp blum istirhat?’
Send
Balasan datang.
‘aku takut’
Rony kembali menekan tombol
replay.
‘tkut?’
Agak lama, balasan datang lagi.
‘tidur itu mnjemput kgelapn,
gelap itu menkutkan.’
Rony mengerutkan alis membaca
balasan Dee. Sejak kapan gadis itu takut kegelapan.
‘sjk kpan gelp itu mnjdi seram,
Dee?’
Rony menunggu lama balasan Dee.
Tapi tak ada yang datang. Ia memutuskan untuk kembali tidur. Tapi saat ia
hampir terlelap, HPnya kembali bergetar.
‘sjak aku tk bs mlihat terng.
Sjak Tuhan mengmbil smwnya driku. Sjak tak da mata yg mw mlihtku. Sjak aku
sndiri.’
//
Dan saat ini, Rony duduk di
hadapan gadis yang cukup menyita waktunya selama sepekan. Dee. Ia memang
mengajaknya untuk bertemu, dan Dee menyanggupi.
“Kenapa kamu tidak memaafkan
keadaanmu, Dee?” Tanya Rony menatap wajah berantakan Dee.
“Maafku sudah habis.” Dee
menjawab singkat.
“Kamu tidak marah pada Tuhan,
kan?” rony bertanya hawatir.
“Dia itu mutlak, kan?” Dee balik
bertanya.
“Lantas kenapa kamu begini?”
“Memangnya salah seperti ini?
yang benar itu yang bagaimana? Memakai jilbab, baju panjang, aurat tertutup?
Aku sudah melakukan itu, tapi di mata Tuhan itu semua masih salah.”
“Apa maksudmu?”
“Bahkan Abang saja tak mau
melihatku.”
“Aku bingung dengan kalimatmu.
Cerita saja, biar lebih ringan Dee.”
“Nggak. Ngapain cerita aib
kaluarga sendiri. Dapat uang saja nggak.”
“Aku berikan uang.” Rony
memancing. Dee menatapnya dengan cibiran.
“Uang tidak bisa membuat
bahagia.”
“Aku beri kebahagiaan.”
“Seperti apa?”
“Apa yang kamu mau?”
“Masa lalu. kembalikan aku ke
masa lalu.”
“Aku bagian dari masa lalumu.”
“Tapi kalaupun kau kembali, masa
laluku tidak akan kembali.”
“Dee…”
“Kau mengajakku bertemu untuk
mendebat?!”
“Aku ingin meringankanmu.”
“Aku tidak seberharga itu
bagimu,”
“Kamu penting Dee.”
“Bullshit.”
Rony menghela nafas, tak ada
yang bisa ia katakan. Dee memang keras kepala, ia tau sejak dulu itu. Tapi, ia
masih ingin melindunginya.
“Kita menikah.” Rony berujar
tegas. Dee terdiam.
“Nggak.”
“Aku akan melamarmu sekarang, ke
orang tuamu.”
“Nggak.” Dee menolak lebih
tegas. Rony menatap mata Dee yang perlahan memerah menahan tangis. Ia tak mau
lagi mendengar alasan dari Dee. Ronypun bangkit dari duduknya, ia melangkah
cepat keluar.
“Mau kemana?!” dee bertanya
setengah berteriak.
“Ke orang tuamu.” Jawab Rony
sambil terus berjalan. Menuju motornya. Dee mengejarnya kemudian.
“Kau tidak akan melakukan itu!”
serunya di belakang Rony.
“Aku akan.” ROny mengeluarkan
konci motor dari sakunya.
“Lihat aku!!” Dee berseru,
suaranya bergetar menandakan tangis. Rony menghentikan langkahnya, ia memutar
tubuhnya menatap Dee.
Jeda. Tak ada yang berbicara.
“Cukup. Kita tidak bisa
melanjutkan apa-apa, atau memulai apa-apa. Dua tahun telah membuat kita menjadi
asing satu sama lain.” Dee berujar pelan.
“Keadaan iya, tapi hati kita
tidak.” Rony berucap tegas.
“Hati?!” Dee menatapnya dengan
mata berair,Dee menaruh telunjuknya di dada Rony “Hati yang lemah ini? tidak
akan bisa menerima AIDS.!!!” Ia melanjutkan dengan gemetar. Rony termenung,
lidahnya kelu. Aids? Dee? Ia tak sempat mengatakan apa-apa ketika kemudian Dee
berlari meninggalkannya sembari menghapus air mata yang menganak sungai di
pipinya.
//
Tidak ada komentar:
Posting Komentar