Kau tidak tahu bagaimana jahatnya
dirimu saat sepagi itu, belum lagi kubuka gorden kamar yang telah kita lalui
enam tahun bersama, kau ungkapan petir lewat bibirmu yang manis.
“Aku ingin menikah lagi.”
Hanya itu, kalimat datar tanpa
sorotan mata padaku, entah berniat apa, entah karena apa tapi mampu membuatku
karam seketika. Kutelan ludahku meski sulit, berharap apa yang kau katakan
adalah candaan pada pagi Ahad yang bahagia.
“Nggak baik bercanda seperti
itu, Mas.” Ujarku, diantara harapan berusaha menghibur diri.
“Aku tidak bercanda, Mya. Aku ingin
menikah lagi.” Dan kali ini aku merasa jantungku terhantam. Aku terdiam pada
batasan saat yang sulit tertebak. Kau? Ingin menikah lagi? Dengan siapa? Kenapa?
Aku salahkah? Apa salahku? Aku cacatkah? Kau tak terima cacatku? Beruntun
pertanyaan demi pertanyaan menjamuri fikiranku yang perlahan mengisut diiringi
mata yang memanas hendak menumpah deras beningnya.
“Maafkan aku, aku telah jatuh cinta
lagi.” Kau masih berbicara tanpa melihatku, hanya mengkaji seprai yang baru
malam tadi kuganti. Tak kuatkah kau melihat mataku, Sayang? Tak tegakah engkau
melihat hasil lakumu pada jendela hatiku? Sehingga kau palingkan wajah bagusmu
dariku?
“Ya Allah…” kalimatku tercekat
dengan isak. Tak ada angin, tak ada hujan, apalagi badai. Rumah tangga kita
yang damai hampir tak ada hambatan, hampir tak ada cek cok yang berarti, hampir
tak pernah beradu argument meski kita tak selalu searah fikir. Tapi kenapa kau
ingin membagi cintamu?
Saat mengeja diam, aku bergumul
dengan tangisku. Aku tahu, sebagai lelaki yang memimpinku lebih dari enam tahun
kudapati engkau sebagai sosok yang tidak suka bermain-main. Sedikit berbicara
tapi saat kau keluarkan ungkapanmu maka itu adalah serius. Itulah yang sedang
aku cerna, apakah ini keseriusan yang sempurna yang kau ungkapkan, Kasih?
Meski begitu, aku tetap lebih
menyukai kejujuran daripada tikaman pedih dari belakang. Kucoba menata isakku,
menghapus bening yang berderai-derai seperti darah di hatiku. Teganya kau,
Cinta.
“Siapa???” sedikit bergetar aku
bertanya, menoleh padamu yang masih setia tak membagi wajah.
“Perlukah kamu tahu?” Jahat sekali.
Jahat. Aku tidak mengharapkan jawaban itu darimu. Bukankah seharusnya kau
hantam habis saja hatiku? Dan air mataku tak mampu kubendung lagi.
“Iya…” aku berkata sembari terisak.
Salahkah aku menangisi pembagian ini? Kau merogoh Handphone dari kantongmu,
memencet-mencet beberapa kali dan menunjukkan layarnya mendekat ke wajahku.
Terlihat disana sebuah photo seorang perempuan cantik dengan senyuman menawan,
lengkap dengan lesung pipi. Cantik sekali. Tapi tak alang aku semakin gemetar,
kutarik lututku hingga mampu kupeluk. Kau tarik kembali HPmu dari hadapan
wajahku yang basah. Perempuan itu?!!!
“Kenapa?” aku kembali bertanya,
ingin bertubi-tubi kutanya banyak hal, kutampar pula wajahmu jika perlu, tapi
aku tak mampu. Bahkan ‘kenapa’ku terasa terlalu menghakimi bagimu.
“Entahlah, bisakah kita mengelak
dari cinta, Mya?” kau mendongak menerawang. Aku selalu suka ekspresi wajahmu
yang seperti itu, tapi kali ini tidak. Kau membayangkan cinta selainku, dan itu
membuatku sakit, sesak, mati.
Mengelak dari cinta? Tidak bisa,
Sayang. Memang benar tidak bisa, tapi kau tidak harus menurutinya. Jika salah
maka jauhilah.
“Aku salah jatuh cinta?” kebiasaanmu
yang selalu sukses membaca fikiranku membuatku terhenyak. Salahkan kau jatuh
cinta sayang? Tidak, kau tidak salah, tapi salah kau menyakitiku. Banyak hakmu
padaku dan sebanyak itu pula kewajibanmu terhadapku.
“Aku tidak tahu, Mya. Aku harus
ceraikanmu atau memadukanmu dengannya…” cukup sudah untuk sepagi Ahad. Aku
turun dari ranjang, meninggalkanmu dengan fikiran jahat itu. tak bisakah kau
membaca punggungku? Aku tak mau kau membagi ikatan suci ini. tidak dengan
perempuan yang selama ini telah kuanggap saudari kandungku sendiri.
//
Kutatap Mitha, buah cinta kita. Ia
begitu polos, tak bisa menjadi korban atas keegoisan perasaanmu, Sayang.
Kugendong putri semata wayang kita yang berusia lima tahun itu. bagaimana kelanjutan
kisah kita…???
“Bunda…habis nangis?” tanyanya
polos. Aku tersenyum menggeleng, aku ingat bahwa berbohong untuk kebaikan
adalah boleh.
“Mungkin Bunda kurang tidur, Cinta.”
Ujarku padanya.
“Memangnya Bunda ngapain?” ia
bertanya lagi, mengusap-usap pipiku. Aku serasa ingin menangis lagi…
“Mengerjakan PR.” Jawabku asal.
“PR? PR itu apa Bunda?” pertanyaan
polos selanjutnya kembali datang.
“Pekerjaan Rumah, Cinta. Kalau
sekolah besok, Mitha pasti dikasi PR sama Bu Gurunya.” Jawabku sederhana.
“Oh, memangnya Bunda sekolah ya?”
cerdas, ia sepertimu Sayang. Tegakah kau merusak kecerdasannya dengan kisah
pilu yang kau suguhkan pada pagi itu?
“Hmm…selalu, kita selalu sekolah
kalau sekolah itu adalah menuntut ilmu.” Aku tak sadar memberikan porsi berlebih
untuk jawaban kali ini. wajahnyapun terlihat bingung, “sudah, tidak perlu
difikirkan. Saatnya makan siang, Cinta. Ayo…panggil Ayah.” Kuturunkan ia dari
gendonganku. Iapun berlari menghampirimu di ruangan kerja. Kusiapkan makanan
diatas meja hingga beberapa saat kemudian ia kembali datang.
“Ayah sedang nelpon, Nda.” Polosnya
dengan laporan itu seketika membuatku kembali sesak. Tapi buru-buru kuukir
senyuman untuk putrimu. Lebih pentingkah perempuan itu dari kami, Sayang?
Teganya, kau..
“Ayo, kita cuci tangan dulu. Nanti
Ayah pasti menyusul.” Pintaku menarik lengan kecilnya. Sembari membimbingnya
mencuci tangan, kupeluk tubuh kecilnya. Tak tega aku harus menyakiti hati
kecilnya yang polos. Tapi kau dengan teganya menyakiti hatiku. Sekarang aku
merasa berada diantara dua pilihan kau buat, menjaga perasaan putri kita atau
menjaga perasaanku yang perlahan kau remukkan.
“Bunda airnyaa…” teriakan kecil
Mitha membuatku kembali tersadar, buru-buru kututup kran dan menggendong Mitha
ke korsinya di meja makan. Kau baru datang menghampiri kami, kau tersenyum
menatapku. Kubalas senyumanmu sekedarnya. Rasanya ingin kuhentikan waktu saat
ini, dimana saatku memeluk Mitha dan melihatmu tersenyum padaku. Cukup
sudah…tapi langkahmu yang membelah saat membuatku kembali tersadar. Dunia ini
tidak bisa mengikuti keinginan manusia.
//
Dimadu?
Atau dicerai?
Hanya itu pilihan yang kau berikan
padaku. Aku semakin merasa terinjak disini, dimana harga diriku sebagai istri
kau taruh sayang? Tidak punyakah aku hak untuk memiliki pilihan ketiga yaitu
‘tidak’ ?! aku tidak bisa membiarkanmu membagi cintamu pada perempuan lain.
Tidak !!!
“Lelaki itu boleh beristri empat,
Mya.” Kau berkata mencari alasan benar yang tak bisa kupungkir.
“Aku tahu.” Hanya itu yang keluar
dari bibirku yang kelu. Aku membelakangimu, pertama kali setelah enam tahun
pernikahan. Apa kabar malaikat? Apakah mereka sedang melaknatku sebab aku
memunggungimu? Mendadak aku menjadi tidak takut dengan laknat itu. perih hatiku
membuat ngeri apapun tak berasa.
“Berarti kamu mau?” aku merasakan
jantungku berhenti berdegup. Tidakkah kau berfikir, Sayang? Kau telah
menyakitiku dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, apalagi jika itu terjadi.
Tegakah?
“Mau apa?” lagi-lagi hanya dua kata
yang mampu kusuguhkan.
“Dimadu atau…” kau menggantung
kalimatmu. Kau mendadak terdengan seperti suara iblis, Sayang. Sungguh.
Bagaimana kau bisa bertanya begitu? Sebegitu entengkah masalah ini?!!! jahat,
kau sangat jahat !
“Bunuh saja.” Aku berujar sedikit
berbisik.
“Apa?” kau tak mendengar. Aku
berharap ada pisau tajam diatas meja samping ranjang yang akan segera kugunakan
menikam dadamu, membersihkan cinta parasit itu dari hatimu dan menjadikanmu
kembali menjadi pemimpinku yang baik. Tapi tak ada pisau, tak ada keberanian
untukku bahkan untuk sekedar menjawab pertanyaanmu.
“Kau bilang apa, Mya?” kau kembali
bertanya.
“Kenapa tidak kau bunuh saja aku?
Biar sakitnya menjadi satu dan setelah itu semuanya menjadi gelap. Entah Tuhan
akan menaruhku di surga atau neraka, itu menjadi urusan nanti. Dan kehidupan
ini akan menjadi milikmu dengan perempuan itu.” aku ingin berteriak seperti
ini, tapi itu hanya keinginan, faktanya aku tak menjawab hanya diam, menikmati
tangis yang kembali miris.
Tak ada lagi pertanyaan yang keluar
dari mulutmu. Sungguh, aku saat ini bahkan ingin kamu lenyap saja.
//
Kutatap wajahmu yang terlelap. Kau
terlihat lelah, Sayang. Ada banyak kegiatan yang telah kau kerjakan, aku selalu
bangga padamu. Wajahmu yang selalu terlihat bagus di mataku. Sampai kapanpun.
Saat ini berteman air mata, pada
hampir sepertiga malam kunikmati wajahmu yang selama ini mengimamiku. Tidak ada
yang kurang darimu bagiku, aku mencintaimu bahkan dengan segala kekurangan yang
kau sandang.
Tapi kau tiba-tiba saja menjadi
iblis nyata. Cinta yang sempurna yang kumiliki mendadak memiliki permukaan
lawan yang disebut benci. Sangat benci, sangat cinta. Lihat bagaimana kau
menghancurkanku dengan sekerat kalimat ‘aku ingin menikah lagi’. Ini sama
seperti sangat gampangnya kau membuatku bahagia dengan sekerat kalimat ‘pagi
ini kau cantik, Sayang’.
Cinta yang kau jujurkan itu,?! cuih!
Perempuan laknat itu, dua juta cuih untuknya. Bagaimana mungkin ia menggoda
suami orang? Siapa orang tuanya yang mendidiknya demikian. Memalukan.
Tik, tok
Langkah jam dinding yang berbisik
membuatku semakin tenggelam pada benciku padamu. Kau tahu? Sekarang aku telah
membawa sebilah pisau, tadi kuambil dari dapur. Aku benar-benar ingin membelah
dadamu. Dada hangatmu yang sering kunikmati hangatnya. Aku akan membunuhmu.
Haha
Siapa sangka istrimu ini begitu
jahat, itu karena kamu!!! Imamnya jahat, maka makmumnya pun ikut jahat, kan.
Haha…
Dan aku merasa menjadi iblis. Iblis
yang sejenis dengan jelmaanmu sekarang.
Kuangkat pisau ini tinggi-tinggi,
dan siap kutusukkan pada dadamu. Dan aku melakukannya! Tapi tepat saat ujung
pisau itu berada diatas dadamu semua cintamu padaku terbayang, seperti
pemutaran film tanpa jeda.
Kecupan di keningku yang hangat,
kejutan-kejutan kecil, kalimat-kalimat romantis yang meronakan wajahku, pelukan
dengan aroma hasmu. Perlindunganmu, pengorbananmu…semuanya, jelas! Dan semuanya
membuatku kembali lemas. Kubuang jauh-jauh pisau itu. aku menangis dengan
terisak-isak.
Tak alang kau terbangun juga,
mendapatiku terisak kau menatapku prihatin, kau rengkuh aku dalam pelukanmu.
Hangat, hangat, hangat. Bagaimana ini akan terbagi pada perempuan lain?! Aku
semakin terisak, dan kau semakin memelukku, kian erat, kian hangat.
“Maafkan aku, maafkan aku…” kudengar
kau berbisik. Benarkah kau meminta maaf, Cinta? Benarkah ? kau merasa bersalah?
//
Beberapa hari sejak kejadian itu,
keadaan mulai membaik. Kau tampak tak lagi berhubungan lagi dengan perempuan
itu. dan aku sangat bersyukur dengan semuanya. Meskipun telah tersakiti karena
ini, aku tetap percaya penuh padamu.
Sangat percaya.
Tapi kau adalah lelaki sama, Cinta.
Dan kau juga manusia. Seiring berjalan waktu, kepercayaan yang kuberikan padamu
kembali kau racuni. Kau kembali berhubungan dengan perempuan itu, bukan? Aku
tahu, aku istrimu dan karena cintaku aku memiliki insting yang kuat terhadapmu.
Dan kisah kita berputar, seperti
episode roda dokar. Ketika sisi selanjutnya akan kembali berlindasan dengan
jalanan. Maka kisah kusut itu kembali datang. Bedanya kali ini kau tidak mau
jujur kepadaku. Tidak seperti dulu.
Kau semakin gila dan aku semakin
tidak terima. Pada batasan petang dan malam, kuhadang kau di depan pintu.
tampangmu yang tampak lelah tak membuatku surut. Kita selesaikan!
“Apa maumu?!” tanyaku seperti bukan
pada suamiku.
“Ada apa, Mya? Kamu aneh.” Kau
berlagak tak tahu melewatiku begitu saja. Aku menelan ludah, semuanya harus
dengan baik-baik.
“Kita … aku, kamu, Mitha. Bagaimana
selanjutnya?” kalimatku selanjutnya, tanpa menoleh. Punggung kita beradu, entah
apa cengkrama mereka.
“Maksudmu?” kau bertanya tetap pada
posisimu.
“Aku tahu semuanya, jadi katakanlah
apa yang harus aku lakukan…” kukatakan dengan datar. Aku tak ingin Mitha
mendengar orang tua mereka bertengkar.
“Apa yang kamu tahu?” suaramu
terdengar mendikte sekali. Salahkah aku mengetahui laku busukmu, Sayang?
Bukankah kita ini suami istri? Salahkah aku?
“Perempuan itu.” aku menjawab
sedikit bergetar. Tak bisakah kau membaca cinta dimataku, Sayang?
Kau tak menjawab hanya mengijinkan
diam menyelusup diantara kita. Kenapa kau mendiamkan aku? Katakanlah apa yang
harus aku perbuat?
“Ayaaah…!!!” dan sesegera itu Mitha
menghampirimu, dengan lengan terkembang. Kau berlutut menyambutnya dan
memberinya pelukan hangat. Aku tergugu. Mitha sayang, oh anakku…
Harus aku sajakah, Sayang yang harus
korbankan hatiku? Demi Mitha…tak maukah engkau sedikit saja tersadar dari
lelapmu?
//
Kau sakit.
Badanmu panas, berkeringat dingin.
Bibirmu pucat kering. Beberapa kali muntah. Aku sibuk. Seperti kepada Mitha
kurawat engkau dengan sepenuh hati. Mengompres, mengontrol suhu badanmu,
menyiapkan makanan yang bisa kau cerna dengan mudah, mengelap tubuhmu,
menungguimu sepanjang malam dan tak lupa mendo’akanmu.
Sayang, kau tahu? Bagaimanapun sakit
hati ini padamu, aku tak bisa melihatmu seperti ini! rasanya aku lebih baik kau
sakiti, yang pada nyatanya saat itu kau baik-baik saja daripada melihatmu
terbaring lemah tanpa bisa membantu apa-apa.
//
“Aku juga pernah berfikiran untuk
menikah lagi.” Ujar pria bertubuh gempal ini diiringi dengan tawa. Ia dosenku
dulu, Sayang.
“Lantas?” aku memburu.
“Tapi, aku berfikir begini.
Bagaimana mungkin aku akan mengejar kebahagiaan yang belum pasti dengan
perempuan lain dan meninggalkan perempuan yang jelas-jelas telah membuatku
bahagia? Memperjuangkan kebahagiaan yang belum pasti dengan meninggalkan luka
perih yang abadi pada hati istriku? Lucu, kan Mya?” ia kembali tertawa.
“Mungkin saya tidak bisa
membahagiakannya, Pak.” Begitu ujarku melayang-layang fikiranku saat wajahmu
beberapa kali berekpresi kecewa dengan perbuatanku.
“Rasa bahagia dan tidak, itu
bergantung pada kita, Mya. Bukan pada keadaan.” Beliau tersenyum bijak,
“sekarang saja jika kamu ingin bahagia maka berbahagialah. Bersyukurlah dengan
apa yang ada sekarang, maka kamu akan bahagia.”
“Rasanya sulit sekali bersyukur
dalam keadaan begini, Pak.” Aku pesimis.
“Itu karena kamu hanya menatap lurus
saja. Ingat Mya, jangan hanya menghitung dari apa yang kamu tidak miliki. Tapi
hitunglah dari apa yang kamu miliki, maka syukurpun akan terumpun.” Kucerna
baik kalimat beliau, dan tersenyum. Rasanya benar, aku masih memilikimu. Kamu
tidak meninggalkanku. Meskipun berlaku menyakitkan, kau masih menjaga statusmu
sebagai seorang suami dan anak. Ini patut aku syukuri.
Akhirnya aku segera memburu rumah.
Aku ingiin memperbaiki semuanya pelan-pelan, dengan cintaku cinta kita dan
Allah. semuanya terasa semakin mungkin. Kau lelaki terbaikku, tak mungkin Allah
menutup gerbang untuk masalah ini . Allah itu mahaMendengar.
Kudapati Mitha bermain pasir di
halaman saat aku membuka gerbang. Ia segera mengejarku dengan lengan
terkembang. Aku memeluknya, ingin memberikannya makna bahwa masalah kita di
rumah ini akan Bundanya selesaikan pelan-pelan. Meskipun ia tak tahu pasti apa
masalah kita.
Tapi semuanya kembali meredup, awan
terang kembali terselimuti mendung. Aku bingung mencari syukur itu dimana saat
sekerat kalimat dari bibir mungil Mitha keluar.
“Bunda, Ayah bawa Bunda baru. Itu di
dalam”
End_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar