Minggu, 13 Juli 2014

Bersama Hati…



            Kau tidak tahu bagaimana jahatnya dirimu saat sepagi itu, belum lagi kubuka gorden kamar yang telah kita lalui enam tahun bersama, kau ungkapan petir lewat bibirmu yang manis.
            “Aku ingin menikah lagi.”
            Hanya itu, kalimat datar tanpa sorotan mata padaku, entah berniat apa, entah karena apa tapi mampu membuatku karam seketika. Kutelan ludahku meski sulit, berharap apa yang kau katakan adalah candaan pada pagi Ahad yang bahagia.
            “Nggak baik bercanda seperti itu, Mas.” Ujarku, diantara harapan berusaha menghibur diri.
            “Aku tidak bercanda, Mya. Aku ingin menikah lagi.” Dan kali ini aku merasa jantungku terhantam. Aku terdiam pada batasan saat yang sulit tertebak. Kau? Ingin menikah lagi? Dengan siapa? Kenapa? Aku salahkah? Apa salahku? Aku cacatkah? Kau tak terima cacatku? Beruntun pertanyaan demi pertanyaan menjamuri fikiranku yang perlahan mengisut diiringi mata yang memanas hendak menumpah deras beningnya.
            “Maafkan aku, aku telah jatuh cinta lagi.” Kau masih berbicara tanpa melihatku, hanya mengkaji seprai yang baru malam tadi kuganti. Tak kuatkah kau melihat mataku, Sayang? Tak tegakah engkau melihat hasil lakumu pada jendela hatiku? Sehingga kau palingkan wajah bagusmu dariku?
            “Ya Allah…” kalimatku tercekat dengan isak. Tak ada angin, tak ada hujan, apalagi badai. Rumah tangga kita yang damai hampir tak ada hambatan, hampir tak ada cek cok yang berarti, hampir tak pernah beradu argument meski kita tak selalu searah fikir. Tapi kenapa kau ingin membagi cintamu?
            Saat mengeja diam, aku bergumul dengan tangisku. Aku tahu, sebagai lelaki yang memimpinku lebih dari enam tahun kudapati engkau sebagai sosok yang tidak suka bermain-main. Sedikit berbicara tapi saat kau keluarkan ungkapanmu maka itu adalah serius. Itulah yang sedang aku cerna, apakah ini keseriusan yang sempurna yang kau ungkapkan, Kasih?
            Meski begitu, aku tetap lebih menyukai kejujuran daripada tikaman pedih dari belakang. Kucoba menata isakku, menghapus bening yang berderai-derai seperti darah di hatiku. Teganya kau, Cinta.
            “Siapa???” sedikit bergetar aku bertanya, menoleh padamu yang masih setia tak membagi wajah.
            “Perlukah kamu tahu?” Jahat sekali. Jahat. Aku tidak mengharapkan jawaban itu darimu. Bukankah seharusnya kau hantam habis saja hatiku? Dan air mataku tak mampu kubendung lagi.
            “Iya…” aku berkata sembari terisak. Salahkah aku menangisi pembagian ini? Kau merogoh Handphone dari kantongmu, memencet-mencet beberapa kali dan menunjukkan layarnya mendekat ke wajahku. Terlihat disana sebuah photo seorang perempuan cantik dengan senyuman menawan, lengkap dengan lesung pipi. Cantik sekali. Tapi tak alang aku semakin gemetar, kutarik lututku hingga mampu kupeluk. Kau tarik kembali HPmu dari hadapan wajahku yang basah. Perempuan itu?!!!
            “Kenapa?” aku kembali bertanya, ingin bertubi-tubi kutanya banyak hal, kutampar pula wajahmu jika perlu, tapi aku tak mampu. Bahkan ‘kenapa’ku terasa terlalu menghakimi bagimu.
            “Entahlah, bisakah kita mengelak dari cinta, Mya?” kau mendongak menerawang. Aku selalu suka ekspresi wajahmu yang seperti itu, tapi kali ini tidak. Kau membayangkan cinta selainku, dan itu membuatku sakit, sesak, mati.
            Mengelak dari cinta? Tidak bisa, Sayang. Memang benar tidak bisa, tapi kau tidak harus menurutinya. Jika salah maka jauhilah.
            “Aku salah jatuh cinta?” kebiasaanmu yang selalu sukses membaca fikiranku membuatku terhenyak. Salahkan kau jatuh cinta sayang? Tidak, kau tidak salah, tapi salah kau menyakitiku. Banyak hakmu padaku dan sebanyak itu pula kewajibanmu terhadapku.
            “Aku tidak tahu, Mya. Aku harus ceraikanmu atau memadukanmu dengannya…” cukup sudah untuk sepagi Ahad. Aku turun dari ranjang, meninggalkanmu dengan fikiran jahat itu. tak bisakah kau membaca punggungku? Aku tak mau kau membagi ikatan suci ini. tidak dengan perempuan yang selama ini telah kuanggap saudari kandungku sendiri.
//
            Kutatap Mitha, buah cinta kita. Ia begitu polos, tak bisa menjadi korban atas keegoisan perasaanmu, Sayang. Kugendong putri semata wayang kita yang berusia lima tahun itu. bagaimana kelanjutan kisah kita…???
            “Bunda…habis nangis?” tanyanya polos. Aku tersenyum menggeleng, aku ingat bahwa berbohong untuk kebaikan adalah boleh.
            “Mungkin Bunda kurang tidur, Cinta.” Ujarku padanya.
            “Memangnya Bunda ngapain?” ia bertanya lagi, mengusap-usap pipiku. Aku serasa ingin menangis lagi…
            “Mengerjakan PR.” Jawabku asal.
            “PR? PR itu apa Bunda?” pertanyaan polos selanjutnya kembali datang.
            “Pekerjaan Rumah, Cinta. Kalau sekolah besok, Mitha pasti dikasi PR sama Bu Gurunya.” Jawabku sederhana.
            “Oh, memangnya Bunda sekolah ya?” cerdas, ia sepertimu Sayang. Tegakah kau merusak kecerdasannya dengan kisah pilu yang kau suguhkan pada pagi itu?
            “Hmm…selalu, kita selalu sekolah kalau sekolah itu adalah menuntut ilmu.” Aku tak sadar memberikan porsi berlebih untuk jawaban kali ini. wajahnyapun terlihat bingung, “sudah, tidak perlu difikirkan. Saatnya makan siang, Cinta. Ayo…panggil Ayah.” Kuturunkan ia dari gendonganku. Iapun berlari menghampirimu di ruangan kerja. Kusiapkan makanan diatas meja hingga beberapa saat kemudian ia kembali datang.
            “Ayah sedang nelpon, Nda.” Polosnya dengan laporan itu seketika membuatku kembali sesak. Tapi buru-buru kuukir senyuman untuk putrimu. Lebih pentingkah perempuan itu dari kami, Sayang? Teganya, kau..
            “Ayo, kita cuci tangan dulu. Nanti Ayah pasti menyusul.” Pintaku menarik lengan kecilnya. Sembari membimbingnya mencuci tangan, kupeluk tubuh kecilnya. Tak tega aku harus menyakiti hati kecilnya yang polos. Tapi kau dengan teganya menyakiti hatiku. Sekarang aku merasa berada diantara dua pilihan kau buat, menjaga perasaan putri kita atau menjaga perasaanku yang perlahan kau remukkan.
            “Bunda airnyaa…” teriakan kecil Mitha membuatku kembali tersadar, buru-buru kututup kran dan menggendong Mitha ke korsinya di meja makan. Kau baru datang menghampiri kami, kau tersenyum menatapku. Kubalas senyumanmu sekedarnya. Rasanya ingin kuhentikan waktu saat ini, dimana saatku memeluk Mitha dan melihatmu tersenyum padaku. Cukup sudah…tapi langkahmu yang membelah saat membuatku kembali tersadar. Dunia ini tidak bisa mengikuti keinginan manusia.
//
            Dimadu?
            Atau dicerai?
            Hanya itu pilihan yang kau berikan padaku. Aku semakin merasa terinjak disini, dimana harga diriku sebagai istri kau taruh sayang? Tidak punyakah aku hak untuk memiliki pilihan ketiga yaitu ‘tidak’ ?! aku tidak bisa membiarkanmu membagi cintamu pada perempuan lain. Tidak !!!
            “Lelaki itu boleh beristri empat, Mya.” Kau berkata mencari alasan benar yang tak bisa kupungkir.
            “Aku tahu.” Hanya itu yang keluar dari bibirku yang kelu. Aku membelakangimu, pertama kali setelah enam tahun pernikahan. Apa kabar malaikat? Apakah mereka sedang melaknatku sebab aku memunggungimu? Mendadak aku menjadi tidak takut dengan laknat itu. perih hatiku membuat ngeri apapun tak berasa.
            “Berarti kamu mau?” aku merasakan jantungku berhenti berdegup. Tidakkah kau berfikir, Sayang? Kau telah menyakitiku dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, apalagi jika itu terjadi. Tegakah?
            “Mau apa?” lagi-lagi hanya dua kata yang mampu kusuguhkan.
            “Dimadu atau…” kau menggantung kalimatmu. Kau mendadak terdengan seperti suara iblis, Sayang. Sungguh. Bagaimana kau bisa bertanya begitu? Sebegitu entengkah masalah ini?!!! jahat, kau sangat jahat !
            “Bunuh saja.” Aku berujar sedikit berbisik.
            “Apa?” kau tak mendengar. Aku berharap ada pisau tajam diatas meja samping ranjang yang akan segera kugunakan menikam dadamu, membersihkan cinta parasit itu dari hatimu dan menjadikanmu kembali menjadi pemimpinku yang baik. Tapi tak ada pisau, tak ada keberanian untukku bahkan untuk sekedar menjawab pertanyaanmu.
            “Kau bilang apa, Mya?” kau kembali bertanya.
            “Kenapa tidak kau bunuh saja aku? Biar sakitnya menjadi satu dan setelah itu semuanya menjadi gelap. Entah Tuhan akan menaruhku di surga atau neraka, itu menjadi urusan nanti. Dan kehidupan ini akan menjadi milikmu dengan perempuan itu.” aku ingin berteriak seperti ini, tapi itu hanya keinginan, faktanya aku tak menjawab hanya diam, menikmati tangis yang kembali miris.
            Tak ada lagi pertanyaan yang keluar dari mulutmu. Sungguh, aku saat ini bahkan ingin kamu lenyap saja.
//
            Kutatap wajahmu yang terlelap. Kau terlihat lelah, Sayang. Ada banyak kegiatan yang telah kau kerjakan, aku selalu bangga padamu. Wajahmu yang selalu terlihat bagus di mataku. Sampai kapanpun.
            Saat ini berteman air mata, pada hampir sepertiga malam kunikmati wajahmu yang selama ini mengimamiku. Tidak ada yang kurang darimu bagiku, aku mencintaimu bahkan dengan segala kekurangan yang kau sandang.
            Tapi kau tiba-tiba saja menjadi iblis nyata. Cinta yang sempurna yang kumiliki mendadak memiliki permukaan lawan yang disebut benci. Sangat benci, sangat cinta. Lihat bagaimana kau menghancurkanku dengan sekerat kalimat ‘aku ingin menikah lagi’. Ini sama seperti sangat gampangnya kau membuatku bahagia dengan sekerat kalimat ‘pagi ini kau cantik, Sayang’.
            Cinta yang kau jujurkan itu,?! cuih! Perempuan laknat itu, dua juta cuih untuknya. Bagaimana mungkin ia menggoda suami orang? Siapa orang tuanya yang mendidiknya demikian. Memalukan.
            Tik, tok
            Langkah jam dinding yang berbisik membuatku semakin tenggelam pada benciku padamu. Kau tahu? Sekarang aku telah membawa sebilah pisau, tadi kuambil dari dapur. Aku benar-benar ingin membelah dadamu. Dada hangatmu yang sering kunikmati hangatnya. Aku akan membunuhmu.
            Haha
            Siapa sangka istrimu ini begitu jahat, itu karena kamu!!! Imamnya jahat, maka makmumnya pun ikut jahat, kan. Haha…
            Dan aku merasa menjadi iblis. Iblis yang sejenis dengan jelmaanmu sekarang.
            Kuangkat pisau ini tinggi-tinggi, dan siap kutusukkan pada dadamu. Dan aku melakukannya! Tapi tepat saat ujung pisau itu berada diatas dadamu semua cintamu padaku terbayang, seperti pemutaran film tanpa jeda.
            Kecupan di keningku yang hangat, kejutan-kejutan kecil, kalimat-kalimat romantis yang meronakan wajahku, pelukan dengan aroma hasmu. Perlindunganmu, pengorbananmu…semuanya, jelas! Dan semuanya membuatku kembali lemas. Kubuang jauh-jauh pisau itu. aku menangis dengan terisak-isak.
            Tak alang kau terbangun juga, mendapatiku terisak kau menatapku prihatin, kau rengkuh aku dalam pelukanmu. Hangat, hangat, hangat. Bagaimana ini akan terbagi pada perempuan lain?! Aku semakin terisak, dan kau semakin memelukku, kian erat, kian hangat.
            “Maafkan aku, maafkan aku…” kudengar kau berbisik. Benarkah kau meminta maaf, Cinta? Benarkah ? kau merasa bersalah?
//
            Beberapa hari sejak kejadian itu, keadaan mulai membaik. Kau tampak tak lagi berhubungan lagi dengan perempuan itu. dan aku sangat bersyukur dengan semuanya. Meskipun telah tersakiti karena ini, aku tetap percaya penuh padamu.
            Sangat percaya.
            Tapi kau adalah lelaki sama, Cinta. Dan kau juga manusia. Seiring berjalan waktu, kepercayaan yang kuberikan padamu kembali kau racuni. Kau kembali berhubungan dengan perempuan itu, bukan? Aku tahu, aku istrimu dan karena cintaku aku memiliki insting yang kuat terhadapmu.
            Dan kisah kita berputar, seperti episode roda dokar. Ketika sisi selanjutnya akan kembali berlindasan dengan jalanan. Maka kisah kusut itu kembali datang. Bedanya kali ini kau tidak mau jujur kepadaku. Tidak seperti dulu.
            Kau semakin gila dan aku semakin tidak terima. Pada batasan petang dan malam, kuhadang kau di depan pintu. tampangmu yang tampak lelah tak membuatku surut. Kita selesaikan!
            “Apa maumu?!” tanyaku seperti bukan pada suamiku.
            “Ada apa, Mya? Kamu aneh.” Kau berlagak tak tahu melewatiku begitu saja. Aku menelan ludah, semuanya harus dengan baik-baik.
            “Kita … aku, kamu, Mitha. Bagaimana selanjutnya?” kalimatku selanjutnya, tanpa menoleh. Punggung kita beradu, entah apa cengkrama mereka.
            “Maksudmu?” kau bertanya tetap pada posisimu.
            “Aku tahu semuanya, jadi katakanlah apa yang harus aku lakukan…” kukatakan dengan datar. Aku tak ingin Mitha mendengar orang tua mereka bertengkar.
            “Apa yang kamu tahu?” suaramu terdengar mendikte sekali. Salahkah aku mengetahui laku busukmu, Sayang? Bukankah kita ini suami istri? Salahkah aku?
            “Perempuan itu.” aku menjawab sedikit bergetar. Tak bisakah kau membaca cinta dimataku, Sayang?
            Kau tak menjawab hanya mengijinkan diam menyelusup diantara kita. Kenapa kau mendiamkan aku? Katakanlah apa yang harus aku perbuat?
            “Ayaaah…!!!” dan sesegera itu Mitha menghampirimu, dengan lengan terkembang. Kau berlutut menyambutnya dan memberinya pelukan hangat. Aku tergugu. Mitha sayang, oh anakku…
            Harus aku sajakah, Sayang yang harus korbankan hatiku? Demi Mitha…tak maukah engkau sedikit saja tersadar dari lelapmu?
//
            Kau sakit.
            Badanmu panas, berkeringat dingin. Bibirmu pucat kering. Beberapa kali muntah. Aku sibuk. Seperti kepada Mitha kurawat engkau dengan sepenuh hati. Mengompres, mengontrol suhu badanmu, menyiapkan makanan yang bisa kau cerna dengan mudah, mengelap tubuhmu, menungguimu sepanjang malam dan tak lupa mendo’akanmu.
            Sayang, kau tahu? Bagaimanapun sakit hati ini padamu, aku tak bisa melihatmu seperti ini! rasanya aku lebih baik kau sakiti, yang pada nyatanya saat itu kau baik-baik saja daripada melihatmu terbaring lemah tanpa bisa membantu apa-apa.
//
            “Aku juga pernah berfikiran untuk menikah lagi.” Ujar pria bertubuh gempal ini diiringi dengan tawa. Ia dosenku dulu, Sayang.
            “Lantas?” aku memburu.
            “Tapi, aku berfikir begini. Bagaimana mungkin aku akan mengejar kebahagiaan yang belum pasti dengan perempuan lain dan meninggalkan perempuan yang jelas-jelas telah membuatku bahagia? Memperjuangkan kebahagiaan yang belum pasti dengan meninggalkan luka perih yang abadi pada hati istriku? Lucu, kan Mya?” ia kembali tertawa.
            “Mungkin saya tidak bisa membahagiakannya, Pak.” Begitu ujarku melayang-layang fikiranku saat wajahmu beberapa kali berekpresi kecewa dengan perbuatanku.
            “Rasa bahagia dan tidak, itu bergantung pada kita, Mya. Bukan pada keadaan.” Beliau tersenyum bijak, “sekarang saja jika kamu ingin bahagia maka berbahagialah. Bersyukurlah dengan apa yang ada sekarang, maka kamu akan bahagia.”
            “Rasanya sulit sekali bersyukur dalam keadaan begini, Pak.” Aku pesimis.
            “Itu karena kamu hanya menatap lurus saja. Ingat Mya, jangan hanya menghitung dari apa yang kamu tidak miliki. Tapi hitunglah dari apa yang kamu miliki, maka syukurpun akan terumpun.” Kucerna baik kalimat beliau, dan tersenyum. Rasanya benar, aku masih memilikimu. Kamu tidak meninggalkanku. Meskipun berlaku menyakitkan, kau masih menjaga statusmu sebagai seorang suami dan anak. Ini patut aku syukuri.
            Akhirnya aku segera memburu rumah. Aku ingiin memperbaiki semuanya pelan-pelan, dengan cintaku cinta kita dan Allah. semuanya terasa semakin mungkin. Kau lelaki terbaikku, tak mungkin Allah menutup gerbang untuk masalah ini . Allah itu mahaMendengar.
            Kudapati Mitha bermain pasir di halaman saat aku membuka gerbang. Ia segera mengejarku dengan lengan terkembang. Aku memeluknya, ingin memberikannya makna bahwa masalah kita di rumah ini akan Bundanya selesaikan pelan-pelan. Meskipun ia tak tahu pasti apa masalah kita.
            Tapi semuanya kembali meredup, awan terang kembali terselimuti mendung. Aku bingung mencari syukur itu dimana saat sekerat kalimat dari bibir mungil Mitha keluar.
            “Bunda, Ayah bawa Bunda baru. Itu di dalam”

End_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar