Rabu, 16 Juli 2014

Gadis Pada Ujung Lajangnya

Aku hanya menatap kertas kosong di monitor laptop dengan wajah manyun. Harus ada yang aku tulis saat ini….baiklah, ini dia yang menghantui kepalaku dari malam tadi.

Gadis Pada Ujung Lajangnya

          _Adiknya
          Suara musik memenuhi seluruh ruangan rumah, padahal musik yang ditabuh berada di luar. Aku merenung, memperhatikan diriku dari ujung kaki hingga pada apa yang mataku bisa perhatikan. Semua serba baru, sepatu, celana, baju, bahkan model rambutpun baru. Beberapa dari temanku yang datang tadi memuji model baru rambutku. Aku hanya tersenyum bangga menanggapinya.
          Makanan enak banyak tersedia, tamu datang berbondong-bondong dengan hadiah bermacam-macam di tangan masing-masing. Bukan karena hari ini aku ulang tahun, dan memang pesta ini bukan dibuat khusus untukku. Ini adalah pesta pernikahan. Bukan pesta ulang tahun. Yah, ini adalah pesta pernikahan kakakku. Kakak perempuanku.
          Aku menyukai pesta, sangat. Setiap ada undangan pesta aku pasti hadir. Tapi, entah kenapa sekarang rasanya berbeda. Bukan karena menunya yang berbeda, bukan karena kealphaan kue tar, bukan pula karena teman-temanku tidak diundang. Kakak malah memberikanku kebebasan mengundang teman-temanku berapapun yang aku mau. Dan seperti yang aku katakan sebelumnya, teman-temanku malah sudah banyak yang datang dan memberikan selamat juga memuji model rambut baruku. Tapi, karena memang ada yang berbeda dengan hatiku.
          Aku menunduk, memperhatikan sepatu hitam mengkilat yang aku kenakan. Entah apa yang menarik darinya, tapi…bukan sepatu itu yang kini memenuhi kepalaku. Aku, aku hanya merasa akan kehilangan kakakku.
          Aku tau, kakak pasti bahagia menemukan jodohnya. Lelaki itu tampan, pintar, baik, ramah dan matang dalam materi. Selera kakak memang tak pernah mengecewakanku. Tapi, yah tentu saja lelaki tampan, pintar, baik, ramah dan matang dalam materi itu yang akan membawa kakakku pergi dari rumah ini.
          Aku sadar, selama ini kakaklah yang paling sering memarahiku di rumah ini. bukan Mama bukan pula Papa. Hanya kakak yang sering membentak dan memarahiku, hingga terkadang aku jengkel dan mangkel padanya. Apapun yang aku kerjakan selalu mendapat kritikan pedas darinya. Tapi, aku juga sadar kalau kakak jugalah yang paling perhatian padaku di rumah ini. jika dia memberikan kritikan, dia akan memberikan solusi. Jika dia memarahiku, dia akan memberikan seseuatu untuk meminta maaf. Tapi, tentu saja tanpa kata ‘maaf’. Jika aku kesulitan belajar, pastilah hanya dia yang paling ikhlas membantuku. Jika aku sedikit kena marah oleh Mama dan Papa, aku pasti akan mendapat tempat bernaung yang hangat padanya. Jika ia kembali dari bepergian, meski tak jauh-jauh. Sekedar kuliah saja misalnya, dia pasti membawakan sesuatu padaku. Kakaklah yang memberikanku handuk saat aku kedinginan, kakaklah yang mengajakku membeli es cream saat aku sebal, kakaklah yang memilihkanku baju baru, kakaklah yang memilihkanku segala hal. Ah… sekarang dia akan diboyong ke rumah suaminya, lantas siapa yang akan membuatkan susu pagi untukku??? Apa iya aku terlalu bergantung padanya? Tapi, bukankah itu wajar ya? Dia kan kakakku.
          Aku menghembuskan nafas berat, lantas bangkit dan berjalan menuju kamar dimana kakakku dirias. Aku membuka handle pintu pelan. Kemudian kulongokkan kepalaku, dan kudapati dengan mataku kakak selesai dirias dan kini tengah duduk di depan cermin. Ia tersenyum pada pantulan wajahku di cerpin. Kumudian memintaku masuk dengan isarat. Berhubung kakak hanya sendirian, akupun menuruti permintaannya. Kumasuki kamar dengan perlahan setelah menutup pintu kamar dengan rapat. Kemudian aku duduk diatas ranjang. Ini adalah kamar kakak selama tinggal di rumah ini. kuperhatikan seluruhnya. Kamar inipun pasti sediih ditinggal kakak.
          “Sepatumu bagus!” Puji kakak merubah posisi duduknya hingga menghadapku. Dapat kulihat kakak begitu cantik dengan kebaya putih dan bawahan krem, wajahnya yang mulus terhias make up tak begitu norak, ditambah dengan jilbab dan hiasan kepala berwarna putih ia tampak begitu menawan.
          “Kakak yang pilih kan?” Kataku memperhatikan mata kakak yang memperhatikanku sayang. Mungkinkah kakak juga sedih?
          “Jelas donk, kan kakak seleranya bagus!” Pujinya pada diri sendiri dengan nada bercanda. Aku tersenyum sedikit. Kakak memperhatikanku dan menghembuskan nafasnya pelan.
          “Berapa kali kakak akan kesini selama sebulan?” Tanyaku padanya. Ia tersenyum.
          “Kamu pasti akan merindukan kakak, kan?” Ia malah balik bertanya, kemudian bangkit dari duduknya lantas mendekatiku dan duduk di sampingku. Lengannya merangkul bahuku. “Kakak sayang sama kamu, jaga Papa Mama, ya?” Bisiknya. Aku diam, kemudian tanpa sadar menangis. Kudengar ia terkikik lantas mengusap-usap pelan kepalaku.

          Mamanya_
          Aku menatap bayanganku di cermin. Sebenarnya sudah siap dari tadi, kebaya yang manis, dandanan yang manis. Semuanya sesuai permintaanku, tapi aku merasa ada sesuatu yang kurang. Aku, merasa sedih pada serpihan hatiku. Kuhembuskan nafas pelan, lantas duduk di pinggiran ranjangan. Ekor mataku melirik photo yang terpajang di meja kecil samping ranjang. Ada photoku dengan putraku, suamiku dan tentu saja dengan putriku. Ada sebuah  hembusan keharuan di hatiku. Aku tau, seharusnya aku tidak merasa sedih di hari bahagia putriku, ini hari pernikahannya, tapi… sebagai seorang Ibu yang mengasuhnya dari kecil, wajarlah perasaan ini.

          Kuputuskan untuk mengambil photoku ketika memeluknya. Aku menatapnya sayang dan kuusap wajahnya pada photo itu yang saat itu masih berusia 12 tahun. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar