Aku hanya menatap kertas kosong di monitor laptop dengan
wajah manyun. Harus ada yang aku tulis saat ini….baiklah, ini dia yang
menghantui kepalaku dari malam tadi.
_Adiknya
Suara musik memenuhi seluruh ruangan
rumah, padahal musik yang ditabuh berada di luar. Aku merenung, memperhatikan
diriku dari ujung kaki hingga pada apa yang mataku bisa perhatikan. Semua serba
baru, sepatu, celana, baju, bahkan model rambutpun baru. Beberapa dari temanku
yang datang tadi memuji model baru rambutku. Aku hanya tersenyum bangga
menanggapinya.
Makanan enak banyak tersedia, tamu
datang berbondong-bondong dengan hadiah bermacam-macam di tangan masing-masing.
Bukan karena hari ini aku ulang tahun, dan memang pesta ini bukan dibuat khusus
untukku. Ini adalah pesta pernikahan. Bukan pesta ulang tahun. Yah, ini adalah
pesta pernikahan kakakku. Kakak perempuanku.
Aku menyukai pesta, sangat. Setiap ada
undangan pesta aku pasti hadir. Tapi, entah kenapa sekarang rasanya berbeda.
Bukan karena menunya yang berbeda, bukan karena kealphaan kue tar, bukan pula
karena teman-temanku tidak diundang. Kakak malah memberikanku kebebasan
mengundang teman-temanku berapapun yang aku mau. Dan seperti yang aku katakan
sebelumnya, teman-temanku malah sudah banyak yang datang dan memberikan selamat
juga memuji model rambut baruku. Tapi, karena memang ada yang berbeda dengan
hatiku.
Aku menunduk, memperhatikan sepatu
hitam mengkilat yang aku kenakan. Entah apa yang menarik darinya, tapi…bukan
sepatu itu yang kini memenuhi kepalaku. Aku, aku hanya merasa akan kehilangan
kakakku.
Aku tau, kakak pasti bahagia menemukan
jodohnya. Lelaki itu tampa n,
pintar, baik, ramah dan matang dalam materi. Selera kakak memang tak pernah
mengecewakanku. Tapi, yah tentu saja lelaki tampa n, pintar, baik, ramah dan matang dalam
materi itu yang akan membawa kakakku pergi dari rumah ini.
Aku sadar, selama ini kakaklah yang
paling sering memarahiku di rumah ini. bukan Mama bukan pula Papa. Hanya kakak
yang sering membentak dan memarahiku, hingga terkadang aku jengkel dan mangkel
padanya. Apapun yang aku kerjakan selalu mendapat kritikan pedas darinya. Tapi,
aku juga sadar kalau kakak jugalah yang paling perhatian padaku di rumah ini.
jika dia memberikan kritikan, dia akan memberikan solusi. Jika dia memarahiku,
dia akan memberikan seseuatu untuk meminta maaf. Tapi, tentu saja tanpa kata
‘maaf’. Jika aku kesulitan belajar, pastilah hanya dia yang paling ikhlas
membantuku. Jika aku sedikit kena marah oleh Mama dan Papa, aku pasti akan
mendapat tempat bern aung
yang hangat padanya. Jika ia kembali dari bepergian, meski tak jauh-jauh.
Sekedar kuliah saja misalnya, dia pasti membawakan sesuatu padaku. Kakaklah
yang memberikanku handuk saat aku kedinginan, kakaklah yang mengajakku membeli
es cream saat aku sebal, kakaklah yang memilihkanku baju baru, kakaklah yang
memilihkanku segala hal. Ah… sekarang dia akan diboyong ke rumah suaminya,
lantas siapa yang akan membuatkan susu pagi untukku??? Apa iya aku terlalu
bergantung padanya? Tapi, bukankah itu wajar ya? Dia kan kakakku.
Aku menghembuskan nafas berat, lantas
bangkit dan berjalan menuju kama r dimana
kakakku dirias. Aku membuka handle pintu pelan. Kemudian kulongokkan kepalaku,
dan kudapati dengan mataku kakak selesai dirias dan kini tengah duduk di depan
cermin. Ia tersenyum pada pantulan wajahku di cerpin. Kumudian memintaku masuk
dengan isarat. Berhubung kakak hanya sendirian, akupun menuruti permintaannya.
Kumasuki kamar dengan perlahan setelah menutup pintu kama r
dengan rapat. Kemudian aku duduk diatas ranjang. Ini adalah kama r
kakak selama tinggal di rumah ini. kuperhatikan seluruhnya. Kamar inipun pasti
sediih ditinggal kakak.
“Sepatumu bagus!” Puji kakak merubah
posisi duduknya hingga menghadapku. Dapat kulihat kakak begitu cantik dengan
kebaya putih dan bawahan krem, wajahnya yang mulus terhias make up tak begitu
norak, ditambah dengan jilbab dan hiasan kepala berwarna putih ia tampa k begitu menawan.
“Kakak yang pilih kan ?” Kataku memperhatikan mata kakak yang
memperhatikanku sayang. Mungkinkah kakak juga sedih?
“Jelas donk, kan kakak seleranya bagus!” Pujinya pada
diri sendiri dengan nada bercanda. Aku tersenyum sedikit. Kakak memperhatikanku
dan menghembuskan nafasnya pelan.
“Berapa kali kakak akan kesini selama
sebulan?” Tanyaku padanya. Ia tersenyum.
“Kamu pasti akan merindukan kakak, kan ?” Ia malah balik
bertanya, kemudian bangkit dari duduknya lantas mendekatiku dan duduk di
sampingku. Lengannya merangkul bahuku. “Kakak sayang sama kamu, jaga Papa Mama,
ya?” Bisiknya. Aku diam, kemudian tanpa sadar menangis. Kudengar ia terkikik
lantas mengusap-usap pelan kepalaku.
Mamanya_
Aku menatap bayanganku di cermin.
Sebenarnya sudah siap dari tadi, kebaya yang manis, dandanan yang manis.
Semuanya sesuai permintaanku, tapi aku merasa ada sesuatu yang kurang. Aku,
merasa sedih pada serpihan hatiku. Kuhembuskan nafas pelan, lantas duduk di
pinggiran ranjangan. Ekor mataku melirik photo yang terpajang di meja kecil
samping ranjang. Ada
photoku dengan putraku, suamiku dan tentu saja dengan putriku. Ada sebuah hembusan keharuan di hatiku. Aku tau,
seharusnya aku tidak merasa sedih di hari bahagia putriku, ini hari
pernikahannya, tapi… sebagai seorang Ibu yang mengasuhnya dari kecil, wajarlah
perasaan ini.
Kuputuskan untuk mengambil photoku
ketika memeluknya. Aku menatapnya sayang dan kuusap wajahnya pada photo itu
yang saat itu masih berusia 12 tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar