Minggu, 13 Juli 2014

dadakan...


                Mendadak semuanya berubah ketika kuutarakan permintaan itu padanya. Wajah putihnya memerah, bisa kulihat urat di keningnya mengejang. Apa sebegitu pentingkah ini baginya?
                “Jangan kamu fikir ini perkara ringan, Ana.” Aku terkesiap, seketika menunduk dengan kalimat itu. sedari dulu, dia selalu tau apa yang aku fikirkan, sekarang aku hanya memintil-mintil jari ku. “Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu.” Datar, tapi membuatku mengangkat dagu sedikit, tapi belum berani menatap wajahnya. Sebentar kemudian kudengar hembusan nafas sedikit berat ia ciptakan. Ia berlutut di hadapanku yang sedari duduk di hadapannya.
                “Aku mau hanya kamu, itu saja,..” Ia meyakinkan, menyentuh wajahku dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Aku masih diam, tak berani menatap matanya yang tegas dan kasih itu. aku menggigit bibir bawah. Aku tau, dan aku tidak meragukan sama sekali ketulusannya padaku, tapi…ini …
                “Mas, aku mohon, ini demi kebaikan kita,.” Aku memberanikan diri mengadu tatapannya. Ia member isyrat dengan bola matanya.
                “Kebaikan siapa yang kamu bicarakan? Aku sudah damai denganmu, tidak butuh yang lain, Sayang.” Ia melembut.
                “Mas….” Aku memanggil pelan sedikit memohon. Setelah itu ia menarik tangannya dari wajahku, mengambil jaket diatas ranjang dan keluar kamar. Dia, tidak menutup pintu kamar dengan bantingan, ia bahkan tidak menutupnya. Ia suamiku, dan hanya satu-satunya suamiku. Aku menunduk, mengkaji lapisan kramik hijau di bawah lutut. Bening mengalir di pipi, tidak kuhapus, biarkan menjadi tanda senduku….aku benar-benar mencintaimu, Mas….tapi aku sakit.
*
                Aku menunggu di lesehan makan kami. Kami biasa menyebutnya begitu, karena kami memang makan tidak memakai korsi dan meja seperti orang lain, duduk biasa di teras belakang, yang banyak ditanami pohon mangga.
                Sudah dua jam aku duduk menunggu, kepulangannya. Makananpun sudah dingin sedari tadi, tapi aku tidak putus asa. Aku masih siap menunggunya.
*
                Ashar kembali menyapa, aku putuskan menghangatkan makanan dan masuk rumah, mengambil air wudhu dan shalat. Sendiri.
                Dalam sujudku aku menangis, rindu pada sosok di depan kananku. Seharusnya ia disini, aku mengadu pada Illah yang paham segalanya. Yang mempercayaiku mampu menghadapi semua ini….ya Allah yang Maha Agung, memohon padamu dengan penuh seluruh.
*
                Maghrib hampir datang dan ia tak juga kembali, bagaimana ini? Kuhubungi hpnya tak diangkat. Jadi harus bagaimana aku? Semarah itukah suamiku? Tapi ia memang begitu, ia paham ia tak bisa mengontrol emosinya dengan sempurna, maka ketika it terkuasai emosinya, ia akan keluar tanpa membanting pintu. Itu tandanya ia masih memberi aku kesempatan berfikir,…
                Matahari menjingga, makananku hampir menangis mengikuti jejakku. Dimana imamku? Jika memang tak bisa…ya Allah….kulangkahkan kaki kembali ke kamar mandi, mengambil air wudhu…
                “Assalamu’alaikum”
                Aku mengangkat wajahku dari basuhan air wudhu. Ya Allah itu suaranya. Segera kusambut dengan berlari kecil, melewati ruang tengah dan menemukan sosoknya. Aku menyetop langkah, menikmati degupan jantungku yang lebih besar dan cepat dari sebelumnya. Entah kenapa rinduku begitu kuat hanya karena tidak menemukannya dalam dua shalat wajibku.

                Ia melangkah mendekatiku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar