Mendadak
semuanya berubah ketika kuutarakan permintaan itu padanya. Wajah putihnya
memerah, bisa kulihat urat di keningnya mengejang. Apa sebegitu pentingkah ini
baginya?
“Jangan
kamu fikir ini perkara ringan, Ana.” Aku terkesiap, seketika menunduk dengan
kalimat itu. sedari dulu, dia selalu tau apa yang aku fikirkan, sekarang aku
hanya memintil-mintil jari ku. “Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu.”
Datar, tapi membuatku mengangkat dagu sedikit, tapi belum berani menatap
wajahnya. Sebentar kemudian kudengar hembusan nafas sedikit berat ia ciptakan.
Ia berlutut di hadapanku yang sedari duduk di hadapannya.
“Aku
mau hanya kamu, itu saja,..” Ia meyakinkan, menyentuh wajahku dengan kedua
telapak tangannya yang hangat. Aku masih diam, tak berani menatap matanya yang
tegas dan kasih itu. aku menggigit bibir bawah. Aku tau, dan aku tidak
meragukan sama sekali ketulusannya padaku, tapi…ini …
“Mas,
aku mohon, ini demi kebaikan kita,.” Aku memberanikan diri mengadu tatapannya.
Ia member isyrat dengan bola matanya.
“Kebaikan
siapa yang kamu bicarakan? Aku sudah damai denganmu, tidak butuh yang lain,
Sayang.” Ia melembut.
“Mas….”
Aku memanggil pelan sedikit memohon. Setelah itu ia menarik tangannya dari
wajahku, mengambil jaket diatas ranjang dan keluar kamar. Dia, tidak menutup
pintu kamar dengan bantingan, ia bahkan tidak menutupnya. Ia suamiku, dan hanya
satu-satunya suamiku. Aku menunduk, mengkaji lapisan kramik hijau di bawah
lutut. Bening mengalir di pipi, tidak kuhapus, biarkan menjadi tanda senduku….aku
benar-benar mencintaimu, Mas….tapi aku sakit.
*
Aku
menunggu di lesehan makan kami. Kami biasa menyebutnya begitu, karena kami
memang makan tidak memakai korsi dan meja seperti orang lain, duduk biasa di
teras belakang, yang banyak ditanami pohon mangga.
Sudah
dua jam aku duduk menunggu, kepulangannya. Makananpun sudah dingin sedari tadi,
tapi aku tidak putus asa. Aku masih siap menunggunya.
*
Ashar
kembali menyapa, aku putuskan menghangatkan makanan dan masuk rumah, mengambil
air wudhu dan shalat. Sendiri.
Dalam
sujudku aku menangis, rindu pada sosok di depan kananku. Seharusnya ia disini, aku
mengadu pada Illah yang paham segalanya. Yang mempercayaiku mampu menghadapi
semua ini….ya Allah yang Maha Agung, memohon padamu dengan penuh seluruh.
*
Maghrib
hampir datang dan ia tak juga kembali, bagaimana ini? Kuhubungi hpnya tak
diangkat. Jadi harus bagaimana aku? Semarah itukah suamiku? Tapi ia memang
begitu, ia paham ia tak bisa mengontrol emosinya dengan sempurna, maka ketika
it terkuasai emosinya, ia akan keluar tanpa membanting pintu. Itu tandanya ia
masih memberi aku kesempatan berfikir,…
Matahari
menjingga, makananku hampir menangis mengikuti jejakku. Dimana imamku? Jika
memang tak bisa…ya Allah….kulangkahkan kaki kembali ke kamar mandi, mengambil
air wudhu…
“Assalamu’alaikum”
Aku
mengangkat wajahku dari basuhan air wudhu. Ya Allah itu suaranya. Segera
kusambut dengan berlari kecil, melewati ruang tengah dan menemukan sosoknya.
Aku menyetop langkah, menikmati degupan jantungku yang lebih besar dan cepat
dari sebelumnya. Entah kenapa rinduku begitu kuat hanya karena tidak
menemukannya dalam dua shalat wajibku.
Ia
melangkah mendekatiku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar