Minggu, 23 November 2014

kalau dengannya aku bisa begini...


                “Kalau dengannya aku bisa begini,” Syifa membelalakkan mata demi melihat apa yang dilakukan lelaki kekasihnya di depannya, tapi sekejap kemudian ia menunduk. Rudy melihat dengan mata terbelalak pula. Ia melihat Syifa yang menunduk dengan prihatin, ada satu titik bening yang jatuh dari wajah tertunduk itu.
                “Kamu dengan jilbab besar, pakaian tertutup begitu apa yang bisa aku dapatkan? Tak menarik sama sekali!” Lelaki terkasih itu kembali melanjutkan ucapan pedasnya setelah menyelesaikan aksinya. “Islam, Islam…ituuu saja yang kamu katakana. Sepenting apa pula agama itu bagi kamu!”
                “Astaghfirullah,!” Syifa mengangkat wajahnya sembari mengusap pipinya yang basah anak sungai, “Kakak boleh menghina saya, keluarga saya, apapun tentang saya. Tapi jangan pernah menghina agama saya!” Untuk pertama kalinya Syifa bersuara keras dan tegas, Rudypun tercengang dibuatnya. Sedang lelaki terkasih itu merasa terhina dengan cara Syifa menatapnya. Ia ingin membalas tapi terdahului Syifa. “Semoga Allah memberikan penerangan.” Kemudian Syifa berlalu tanpa salam. Langkah cepatnya menggambarkan gusar dalam hatinya. Lelaki terkasih itu menatap punggung Syifa dengan perasaan tak menentu. Rudy mendekatinya dan tanpa berucap apa-apa…
                Bugh!
                Sebuah bogem mentah mendarat tepat di pipi kiri lelaki terkasih itu. gadis dalam rengkuhannya itu menjerit kaget.
                “Sungguh, aku tidak pernah berfikir kamu akan menginjak-injak harga dirimu di depan Syifa seperti ini!!!” Geram Rudy menatap marah pada lelaki terkasih itu, kemudian pada gadis yang tak berani menatap balik padanya. Ia lantas berlalu. Lelaki terkasih itu mengusap ujung bibirnya yang berasa cairan amis.
*

                Syifa duduk terpekur di bemo yang melaju. Tak habis fikir kenapa lelaki terkasih itu bisa berbuat begitu di hadapannya..? mencium bibir seorang gadis di depan mata kepalanya sendiri!! Syifa jadi teringat bagaimana baik dan alimnya lelaki terkasih itu. tapi sudahlah, ia tak ingin begitu menikkmati keterpurukannya, yang ia butuhkan saat ini adalah 

JUP.....

Prang!!!
Astaghfirullah…!!! Aku terbangun dari lelapku, apa itu? okay, itu sesuatu yang pecah. Tapi apa? Piring? Gelas? Mangkok? Apa?
Perasaan gelisah mulai merambat di hatiku, apa kucing masuk dapur ya? Kuputuskan untuk bangun saja, pelan-pelan agar sosok di sampingku tidak terganggu, aku berdo’a suara tadi tidak mengganggunya juga…amin.
Kusingkap pelan selimut, kuturunkan kaki dari ranjang.
Cklek.
Degh!!! Astaghfirullah…pintu kamar terbuka?!! Siapa yang membukanya? Bukankah terkonci dari dalam? Aku semakin was-was, tubuh memproduksi keringat dingin cepat. Ada orang asing di rumah? Siapa? Maling? Perampok? Aku harus membangunkannya, tapi apa memang harus?
Tap, tap, tap
Langkah, terdengar masuk ke kamar, pintu tertutup. Dan aku kini sempurna gemetar, siapa.
Tek!
Lampu menyala, silau. Aku menutup mata.
                “Astaghfirullah, By ganggu ya?”
                Aku tertegun demi mendengar suara itu. aku menoleh ke belakang membuka mata, benar saja, tidak ada sesiapa disampingku. Aku menoleh kembali. Kutemukan wajah indah tersenyum begitu lembut padaku.
                “Maaf, Sayang. Tadi di dapur cari makanan, piringnya pecah satu. Kamu kaget, ya? By benar-benar minta maaf, ya?” Dia nyengir tampak tak berdosa. Aku menghela nafas dalam. Ya, tentu saja taka pa-apa.
                “Alhamdulillah, saya kira ada maling td.” Ujarku jujur. Dia terkekeh sekhas yang ia miliki lantas duduk di sampingku.
                “Keliatannya takut banget, sampe keringetan gitu.” Dia menggodaku dengan memperhatikan wajahku.
                “Yalah, tengah malam begini….” Aku membela diri.
                “Hehehe, tengah malem?” Ia mengusap keringat di dahiku, “Coba lihat jam berapa sekarang!” Pintanya, aku melirik jam kecil diatas meja. Astaghfirullah, hampir jam empat dini hari. Pantes saja cari dapur, tadi malam dia tertidur sebelum makam malam.
                “Yuk!” Ajakku, ia mengangguk menyilahkanku ke kamar mandi lebih dulu. Maklumlah, dia paham betul kalau aku lelet. Sekitar seperempat jam, kami sudah berhadapan dengan Ilah dalam jama’ah.
                Sunyi sekali, dan amat sangat terasa indah.
*
                “Duuh, air matanya!” Dia menggodaku ketika aku mencium punggung tangannya setelah wirid di pagi subuh.
                “Kaya’nya dia nggak aja, itu!” Aku menunjuk bening di bulu matanya. Ia tertawa mengusap kepalaku sayang. Damai sekali, terharu lagi. Jika menyadari betapa aku tidak bisa menjadi pantas di hadapannya, dan betapa begitu sabar ia menerimaku. Dia benar-benar luar biasa…
                “Lho, kok diem. Biasanya setelah subuh ada bacaan Qur’an istri tercinta…” Ia menggodaku lagi, masih dengan berjuta-juta sabar yang ia pelihara. Aku tersenyum dengan bibir bergetar, ia memperhatikan perubahan di wajahku. Menghela nafas dalam kemudian mendekat padaku, sedekat yang ia mampu.
                “Apa lagi dengan air mata itu, hum?” Tanyanya, aku mengusap pipiku sembari menggeleng. Tak ingin memberatkan lagi…
                “By yang ngaji ya?” Pintaku. Ia tersenyum kemudian menyentuh dahiku dengan ibu jarinya.
                “Jangan lagi, kan By bilang…” Ia menyelam di mataku dengan pandangannya, aku tak bisa menahan air mataku untuk tumpah lagi, ya jangan lagi…tapi lagi-lagi tak mampu. Aku sesegukkan. Ini, bukan kebahagiaan begini sebenarnya. Bukan, bukan, bukan. Bukan baik, bukan.
                Lama, ia menenggelamkan wajahku di dadanya yang tetap berdegup tenang. Aku sungguh-sungguh rapuuhhh sekali. Bahkan untuk menghentikan tangispun tak bisa sendiri. Tak bisa membahagiakannya…
                “Tidak bisa!”
                Runtuh, langitku runtuh cukup dengan dua kata itu. tidak bisa, ya tidak bisa. Tidak bisa memberikan seorang bayipun. Lemas, persendianku serasa putus smua, tulangku patah. Semuanya, semuanya terasa mengambang…tidak ada bayi, tidak bisa ada bayi di rahim…
                “Ingat Allah, Sayang!” Aku lupa ketika itu aku dipeluk oleh Imamku, aku tidak merasakan kehangatannya untuk kali itu. tapi aku bisa mendengar kalimat itu. Ingat Allah, Sayang. Ingat Allah. Aku mengulang-ulang kalimat itu dalam benakku, menggigit bibir dengan gemetar, dan akhirnya kembali menangis hingga terbangun di atas ranjang rumah kami. Dan di sampingku ada dia dengan senyum yang masih sama.
Kembali, menangis lagi tanpa jeda. Ia menatapku dengan sebongkah kekuatan yang selalu berhasil ia pegang. Ia tak pernah melepas jemariku, seingatku sampai aku benar-benar tenang. Semua mengerti keadaanku, keluargaku, keluarganya…tidak ada yang menuntutku. Hanya saja ada satu orang yang tak bisa mengerti ini semua, kenapa semua bisa terjadi padaku, dan orang itu adalah aku sendiri.
Suamiku tidak berbicara sepatah katapun selama menggenggam jemariku selama itu, ia menghargai kerapuhanku, ia tak ingin mengganggu duniaku. Ia hanya ingin aku tau ia ada di sampingku dan selalu begitu, tanpa ingin mengikutcampuri urusanku.
Baik, bukan?
Hingga suatu hari, ia melepas genggamannya dan aku mulai merasakan ketakutan yang luar biasa. Aku takut ia meninggalkanku. Tapi tak lama jemari itu ada di bahuku, meremasnya pelan dengan sayang.
                “Sudah lebih dari wajar, By selalu shalat sendiri, mau temani By shalat?” Ia bertanya pelan sekali, tak ada nada harapan disana, tak ada paksaan. Dan entah kenapa, aku mengangguk. Akhirnya, sore itu kami menggelar sajadah bersama dan shalat dengan diam..
Akhir shalat kukecup punggung tangan itu dalam diam. Rata rasanya perasaanku.
                “Sini, By kasi tau sesuatu!” Ia merengkuh tubuhku dekan dengannya, aku masih rata. “Kamu yang tebaik, Sayang!” Ia berucap pelan, seolah tak ada yang boleh mendengar kecuali aku, aku masih setia pada diamku, menatap pada sesuatu yang tak terlihat, entah apa akupun tak melihatnya. “Kamu yang terbaik…selamanya…” Ia mengulanginya lagi, dan aku masih seperti tadi.
                “Kamu tau kenapa aku mencintaimu?” Ia bertanya. Aku diam, masih begitu dengan gelenganku, ia tersenyum “Kamu ingin tau sejak lama, kan? Dan sekarang adalah saat yang baik untuk mengetahuinya. Dengarkan dengan seluruh baik yang kamu miliki…” Ia mengangkat daguku dan mengikat padanganku pada kedalaman matanya, aku menelan ludah. “Tidak ada alasan kongkrit kenapa aku mencintaimu, Nay. Tidak ada. Akupun sudah lama, sejak lama mencari alasan itu, tapi tidak pernah kutemukan. Aku hanya mendapati bahwa aku mencintaimu, itu saja. Dan aku setuju pada semuanya, bahwa memang tidak butuh alasan untuk mencitai. Jadi cinta itu tidak akan mati ketika alasan itu memudar, kan?” Ia mengambil jeda dengan sebuah senyuman, entah kenapa ujung bibirku tertarik, aku menyetujui ucapannya.
                “Apapun yang tertulis untukku aku tetap mencintaimu, apapun yang tertulis padamu aku akan tetap mencintaimu, dan apapun yang tertulis pada kita aku akan tetap mencintaimu, dengan izin-Nya.” Dadaku berdesir, kurasakan genggaman tangannya begitu lembut pada jemariku.
                “Jangan kau gugat Tuhan dengan takdir terbaik yang ia pilihkan, Sayang. Ingat kan, yang terbaik menurut kita belum tentu yang terbaik untuk kita. Ia yang Mahatahu akan memberikan itu. dan akan memberikan kadar yang sesuai dengan mampu kita,..” Lagi-lagi senyuman.
                “Dia memberimu ini dan memberimu aku. Dia memberiku ini dan memeberiku kamu, kita patut bersyukur…tidak ada yang harus ditangisi,” Ia menggelengkan kepalanya, “Tidak ada, Sayang. Kamu dengar?” Ia bertanya pelan, aku mengangguk pelan, “Kamu pahami pula, kan?” Bertanya lagi, dan aku mengangguk lagi, basah mukenahku dengan haru yang dituangkan air mata, ia mengecup keningku sayang dan memelukku erat.
                “Aku tidak ingin apa-apa,,,aku hanya mencintaimu. Cukup begitu….”
                Dan susah payah dengan nafas tersendat, aku membalasnya.
                “Terimakasih banyak…”


indah pada saatnya...


                “Kakak, nikah ayok!” Ucapku menatap langit hitam yang indah dengan kerlipan bintangnya.
                “Sabar, dik. Adik masih nyusun skripsi, selesaikan dulu ya?” Ia terdengar begitu sabar menghadapi keinginanku.
                “Memangnya tidak bisa ya, kak? Tidak bisa sekarang?” Tanyaku masih setia pada langit.
                “Kita mesti sabar, sabar sebentar saja. Kita kan sudah punya rencana…” Ia masih bernada rendah seperti sebelumnya.
                “Bukankah dari dulu jika kita membuat rencana, jalannya selalu tidak sesuai dengan rencana kita?” Aku berucap sedikit menekan.
                “InsyaAllah ini rencana baik, kita istikharahkan. Allah pasti akan realisasikan dengan cara-Nya yang terbaik. Ada waktunya.” Mendengar nada kalimatnya, aku bisa menebak kalau ia sedang tersenyum.
                “Jodoh itu memang di tangan-Nya, Kak. Tapi kita sepakat, jika kita tidak mengambilnya, ia akan tetap disana” Aku menutup korden jendela kamar dan menyusuri pinggiran ranjang.
                “Itulah dia, Manis. Kita tentukan hari baik itu,…sabar sedikit saja, setiap sesuatu akan indah pada saatnya.”
                “Assalamu’alaikum”
                Tut,
                Kumatikan HP dengan wajah sedikit kusut. Entah kenapa penolakan ini membuatku sedikit emosi. Apa bedanya menikah sekarang dengan nanti? Semuanya sama saja, kan? Ia akan menjadi suami dan aku akan menjadi istri. Kenapa begitu sulit meyakinkannya????
#
                “Gimana skripsimu?” Kakak perempuanku yang kini tinggal di luar kota dengan suaminya terdengar perhatian di ujung telpon.
                “Alhamdulillah, tinggal bab penutup, kak. Doa’ain ajah, dua bulan lagi teteh kesini buat menghadiri wisudaku!” Aku tersenyum.
                “InsyaAllah…masa-masa seperti ini kamu harus focus, jangan berfikir macam-macam dan aneh-aneh.” Kakak masih sama seperti kami bersama dulu, cerewet yang penuh perhatian.
                “Aku mau nikah, teh” Entah kenapa tanpa aku niatkan keluar saja kalimat itu.
                “Menikah?” Kakak sulungku itu terdengar kaget. Wajar bukan? Baru saja ia memperingatiku agar tidak berfikir macam-macam.
                “Iya, aku mau kak Fata menikahiku.” Aku berusaha tenang.
                “Kamu selesaikan saja dulu sekripsimu, tinggal selangkah itu.” Kakak memberi saran dengan was-was yang terdengar ditekan. Ia paham betul dengan sikapku, karena diantara tiga saudaraku dialah yang paling dekat denganku. Jika aku memiliki keiinginan, maka itu harus tercapai, harus. Jika tidak, maka keluarga pasti akan waspada pada tindakanku. Meskipun bungsu, akulah yang paling keras, atau memang anak bungsu itu cenderung begitu ya? Entahlah, tapi aku juga merasa keegoisanku ini. Tapi, meski begitu aku tidak berusaha mengalahkannya.
                “Aku…mau menikah hari-hari ini, Kak. Skripsi ini sudah rampung, tinggal penutup. Untuk ujiannya besok, aku rasa akan lebih siap jika disamping kak Fata, teh” Aku mengutarakan hal yang sebenarnya terfikir di benakku.
                “Jangan berfikir begitu mudah, Sayang. Menurutmu mudah menjadi seorang istri?” Kakak sulungku itu masih saja lembut. Aku diam sesaat menarawang, berfikir.
                “Mudah…? Entahlah, Teh. Yang jelas untuk saat ini, aku ingin menikah!” Aku keuh-keuh dengan pemikiranku. Terdengar hembusan nafas di seberang. Sabarnya biasanya mampu mengalahkanku, tapi kali ini aku sungguh-sungguh ingin. Memangnya kapan aku tidak sungguh-sungguh jika ingin sesuatu, meskipun itu sepele?
                “Sudah bilang sama Fata?” Tanyanya kemudian.
                “Sudah,” Jawabku sekenanya.
                “Dia bilang apa?”
                “Dia menyuruhku selesaikan skripsiku dulu. Setelah wisudaku ia akan melamar ke rumah” Aku menjelaskan, kurasa kakak sulungku tersenyum diujung sana.
                “Fata benar, Sayang. Kamu tidak boleh setengah-setengah. Nanti hasilnya bisa tidak memuaskan…”
                “Setidaknya tidak mengecawakan, Teh.” Aku menyambut.
                “Baiklah, bagaimana tanggapan Bunda?”
                “Aku belum bilang, akhir-akhir ini Bunda sering sakit, Teh.”
                “Lho, kok tidak ada kabar?”
                “Cuma sakit ringan, Bunda bilang tidak memberi tahu sesiapa.” Aku jadi sedikit lesu, sepertinya kakak tidak mendukung keinginanku. Dan entah tanpa sengaja kumatikan hubungan tanpa salam.
#
                Aku mengenal kak Fata seperti aku memahami kekuranganku. Ia menyempurnakanku dengan cara yang unik. Dan aku sangat menikmati itu. aku orangnya cepat bosan, dan ia bisa mengalahkan rasa itu, ia bisa menguasaiku dengan lembut, menekan egonya hanya demi kemaslahatanku, ah berlebihan. Tapi aku merasa sangat-sangat ingin bersanding dengannya. Tak perduli ia siapa, tak peduli aku siapa, aku hanya ingin mengabdi pada imam sepertinya.
                Hampir 5 tahun sudah hubungan kami, beberapa buah kecut telah kami bagi bersama dan mengambil manisnya dengan kebijakan, dia tentu saja. Seperti yang telah aku tulis, aku ini adalah sosok yang egois, tidak bisa memiliki keinginan, itu harus tercapai. Dan kak Fata memahami itu,, ia hampir selalu mengikuti kemauanku dengan cara yang menakjubkan,,,tanpa mengurangi sedikitpun kharismanya. Tapi jika keinginanku kelewatan atau bisa mencelakai, ia lebih baik melihatku diam dan tak menghubunginya daripada memberi izin.
                Aku paling tidak bisa tanpanya, hilang kabar sehari saja aku pasti uring-uringan.
                “Jangan terlalu bergantung begitu,” Sahabatku sering memperingati. Tapi aku menggeleng, aku tidak tergantung padanya, aku hanya butuh dia…
                “Bedanya?”
                Entahlah.
                Sudah satu tahun aku hijrah, dulunya aku seorang gadis yang tidak berjilbab, rame dan cuek. Tapi, setahun lalu hidayah itu menghampiriku juga. Hatiku selalu ingin dekat dengan Rabb, aku tiba-tiba merasa malu dengan auratku. Akhirnya aku mencoba memakai jilbab, dan tercengang ketika bercermin.
                Ternyata lebih sopan dan nyaman begitu.
                Akhirnya kuutarakan niat pada keluarga, mereka menyambut suka cita. Dan ketika kuutarakan pada kak Fata, ia segera datang berkunjung ke rumah. Dengan wajah penuh senyum syukur ia mengusap kepalaku.
                “Alahmdulillah…”
                Pelan, seperti berbisik kudengar hamdalah itu keluar dari bibirnya. Dan aku hampir menangis ketika itu. selanjutnya, hubungan kami terasa begitu bermakna, caranya menjagaku lebih dari sebelumnya, ia menatapku dengan cara yang lain, lebih hangat. Dan aku sukka itu. jika kami bersama ia mengajakku shalat jama’ah, damaaai sekali.
                Akhir-akhir ini kami sering bertemu dan keluar, mungkin karena pekerjaannya yang sudah tak begitu memberatkan dan sekripsiku yang hampir rampung, ia ingin memberikan selingan untukku.
                Begitulah, kami jadi sering keluar menikmati alam dan kebersamaan yang sopan dengan saling menghargai. Jika masuk waktu kami akan mencari tempat shalat dan berjama’ah bersama. Aku suka moment itu. ketika ia mengangkat tangannya dan berdo’a, aku mengamini dengan air mata yang malu kutuangkan…sejak begitulah aku jadi semakin takut jika harus kehilangan ia…aku ingin ia cepat-cepat mengimamiku setiap saatnya, ingin ia mengimami hidup dan akhiratku. Aku ingin, dan itu tidak terbendung.
#
                Sekripsiku telah kuserahkan tiga hari lalu, mungkin sedang diselidik. Hehe, aku berfikir membujuk kak Fata untuk melamarku minggu ini. Dan ia harus mau. Kami harus bersanding sebelum wisudaku. Harus.
                Aku akhirnya menghubunginya, berbicara dengan berbagai macam alasan. Ia menolak dengan sopan, berkali-kali. Aku hampir menangis, kenapa begitu sulit untuk permintaan ini. Aku ingin marah, mematikan hp, tapi itu artinya aku mengalah. Aku terus membujuknya, dan menurutku kali ini ia telah belajar dari keegoisanku, ia menolakku dengan kata ‘sabar’
                “Kalau adik gak mau sabar, kita cukup sampai disini saja. Mungkin adik bisa mencari yang lebih baik”
                Dan itu yang terakhir. Aku menangis, sempurna. Kumatikan HP tak ingin ia mendengar isakku. Bagaimana semudah itu…???
                Drrrtt…
                HPku bergetar, aku enggan mengangkat, nomer baru. Tapi lama-lama aku angkat juga. Suara di seberang sepertinya aku kenal. Dosenku.
                Innalillah.
#
                Dan akhirnya begini kisahku, berkutat di depan laptop selama 5 hari, dengan sedikiiit sekali tidur. Aku bahkan enggan bercermin, takut melihat tabokan bola kasti di sekitaran mata. Pasalnya sekripsiku keliru, ada penyalahtempatan, kalau yang begitu masih bisa kuperbaiki dalam satu jam, parahnya ada yang dengan diam-diam mengambil fileku dan juga menyusunnya lebih baik. Siapa yang akan tau jika aku yang diconteki jika dia lebih baik. Dosenku bilang, aku harus sedikit mengulang, memperbaiki agar bisa lebih baik dari sekripsi orang itu, sehingga nanti pada saat ujiannya, aku bisa menang dari dia.
                Tik, tok.
                Aku mati dari dunia luar, entah bagaimana aku mempermak sekripsi hasil mandi keringat ini, yang jelas tinggal 3 bab masih membuat bulu mataku keriting.
                “Sayang, makan dulu!” Bunda selalu mengingatkan tiap waktu makan, tapi itu membuatku semakin tegang, semakin sering Bunda muncul di daun pintu membawa sepiring nasi dan segelas air, semakin cepat pula waktu ini berlalu.
                Disamping itu, HPku tiba-tiba saja sunyi, kak Fata tak pernah lagi mengabari, meski hanya satu baris sms. Jika memikirkan itu aku akan semakin terpuruk. Padahal aku sedang membutuhkannya. Sangat.
#
                Sekripsiku lolos, dan hari ini adalah ujiannya. Aku bersujud dalam pada sujud terakhir dhuhaku. Memohon pada-Nya agar dimudahkan, terus dengan tetesan air mata. Aku bangkit duduk terakhir, kurasakan sesuatu keluar dari hidungku, mungkin karena terlalu banyak menangis, fikirku. Tapi ketika salam kekiri usai dan kuusap wajahku dengan mukenah putih itu, aku terkesiap.
                Darah???
                Ah, Cuma mimisan sedikit, otak terlalu diporsis berlebih. Aku membuka mukenah dan berlari ke kamar mandi, HPku berteriak tanda pesan masuk, ah bagaimana sempat baca sms? Di kamar mandi kubersihkan hidungku, yang….lumayan banyak juga darahnya.
#
                Dosen-dosen itu membantaiku, tapi syukur Alhamdulillah masih dalam penguasaanku. Semakin lama di ruangin ini aku semakin merasa melayang. Dalam hati aku berharap dosen-dosen ini segera mengirimku keluar saja.
                Dan akhirnya usai juga. Aku tersenyum bahagia, sepertinya tak ada pertanyaan yang membuatku terlihat oon di depan mereka. Aku bangkit dari korsi panasku.
                Degh!!!
                Kurasakan dunia gelap seketika, kukerjap-kerjapkan mataku, meski agak kabur semuanya kembali seperti sedia kala. Aku tersenyum pada dosen-dosen yang terlihat lumayan puas dengan hasilku itu, kemudian berterimakasih lantas berjalan keluar. Membelah ruangan ini rasanya seperti menghitung dedaunan kering yang rontok. Kepalaku terasa sangat berat. Kugapai gagang pintu, kemudian membukanya. Ada sosok yang begitu kurindukan tertangkap mata, sebelum semuanya benar-benar gelap dan terasa benturan yang lumayan di pelipisku.
#
                Kubuka mataku pelan, agak pening kusadari ini di kamarku. Apa yang terjadi? Innalillah hari itu aku pingsan di depan ruang ujian sekripsiku. Bagaimana sampai disini? Mungkinkah sosok yang kulihat sebelum pingsan itu yang membawaku. Kak Fatakah???
                Sebentar, di ruang tengah terdengar ramai sekali. Sepertinya ada tamu, aku bangkit dari tempat tidur mengenakan jilbab kaos dan membuka pintu kamar, melangkah pelan mendekat. Lho? Bukannya itu, orang tua kak Fata? Ada apa kemari? Kak Fata sendiri dimana??? Jadi semakin bingung.
                “Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Sayang?” Bunda yang melihat kehadiranku membuat semua yang hadir menoleh padaku. Aku tersenyum sekenanya. Ya, tentu saja sudah sadar makanya disini.
                “Abah sudah mengiyakan,” Abah menyela dengan senyuman, semua tersenyum. Aku jadi semakin mengerutkan alis.
                “Masih mau menerima aku sebagai imammu, kan?” Tiba-tiba telingaku menangkap suara dari sampingku. Entah sejak kapan ia disini. Kak Fata terlihat begitu muda dengan senyum itu. jadi? … ini? Ya Allah, aku menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku. Bukankah hari itu semuanya berakhir?
                “Hari kau ujian sekripsi, aku mengirimimu pesan kalau hari ini aku akan datang melamar, tapi kamu tidak membalas. Jadi aku menyusul ke kampus, sampai disana kamu ambruk…”
                Terserahlah bagaimana kelanjutan kalimat itu, yang jelas saat ini hariku membuncah.
#
                Wisudaku, walimahku…
                Hari ini begitu ramai, memakai toga dan kebaya bersamaan, ah…..rasanya benar-benar ingin tersenyum setiap saat. Ijab Kabul yang memindahkan tanggung jawab itu membuatku lebih tak tau mau mengatakan apa…semuanya sibuk dengan kebahagiaan masing-masing. Kakak sulungku mudik dengan wajah kegembiraan yang tak tanggung-tanggung, ia memeluk dan mencubit pipiku gemas.
                “Ini baru adikku…manis!” Ia mengecup pipi kiri dan kananku. Aku hanya bisa tersenyum, mau bilang apalagi???
                Maghrib berlalu dengan syahdu, aku masih duduk dalam zikir ketika tamu masih saja berdatangan. Kak Fata menemani dengan sabar, sedang aku hanya sekedar memperlihatkan diri sedikit. Sampai isya, masih juga tamu datang.
                “Sebentar sayang, gak enak ama tamunya” Kak Fata menyentuh pipiku yang mengajaknya berjama’ah. Lama-lama aku jadi sewot juga. Tamu itu, apa tidak bisa datang besok pagi lagi ya???? Duh. Lama menunggu aku jadi mengantuk,…dan terlelap.
….
                Kurasakan kecupan di keningku, aku membuka mata cepat. Astaga! Siapa? Berani sekali. Dan aku menemukan wajah kak Fata terkekeh sendiri. Duh,…kami sudah menikah ya? Kenapa begitu kaget rasanya…hehe
                “Belum terbiasa ya???” Ia mengejek membuka jasnya. Aku nyengir dan duduk di pinggiran ranjang menatapnya yang memunggungiku. Aku bahagia, dech.
                “Capek ya?” Tanyaku padanya. Ia menoleh dengan senyuman nakal.
                “Kenapa? Kok kedengarannya rada aneh?” Ia tertawa kecil. Apa maksudnya aneh sich? Kan pertanyaan biasa. Jadi pengantin dia jadi rada …aneh, ah ya benar, dia yang aneh. Aku bangkit dari ranjang, membuka jilbab dan masuk kamar mandi.
                “Sayang…” Ia memanggilku sebelum kututup pintu sempurna.
                “Kenapa?” Tanyaku menoleh padanya dengan ekspresi datar.
                “Gak ada,…hehehe” Ia kembali tertawa kecil. Uch,…gemes juga ama suami sendiri.
                “Ke na pa?” Aku mendekatinya, ia tersenyum nakal. Aku semakin merasa dijahilin. “Ada yang aneh ya di wajah?” Aku meraba wajahku. Ia semakin tertawa, tapi kali ini disertai gelengan. Ia menyentuh wajahku dengan kedua telapak tangannya.
                “Aku mencintaimu,” Ucapnya menatap mataku dalam, aku terdiam. Baru kali ini merasa begini. Ia tersenyum, mengecup ubun-ubun dan keningku. “Semua indah pada saatnya, kan?” Ia bertanya dengan kerlingan … cakep. Aku tersenyum mengangguk. Ia memelukku erat. Aku tiidak mengatakan sepatah katapun. Bukannya tidak ada, tapi memang tidak dibutuhkan mungkin saat ini…selanjutnya kami shalat berjama’ah bersama, wirid, do’a bersama. Kemudian…kami bercerita dengan cara yang baru ^^
__


                
_IBU_
                Kuberi nama buku ini ‘ibu’ ya hanya itu, satu nama untuk sosok terhormat yang memiliki kasih berjuta kali lebih dari tiga huruf yang diberikan untuknya. Ia adalah malaikat yang Allah berikan untuk bagi setiap hamba-Nya. Ia adalah makhluk yang memiliki sesuatu yang tidak dimiliki makhluk lain, yaitu rahim...ia adalah seseorang yang dengan seluruh kata di dunia jika disatukan tidak akan bisa menjelaskan perasaan dan wujudnya untuk anak-anaknya.
                Ibu,,,
                *
                1. Ibuku
                Ibuku adalah seorang psikolog handal. Tidak, aku sama sekali tidak bohong, malah itu adalah kalimat yang tak kurang dari sejuta ribu kali termuat di surat kabar dan koran-koran. Dan aku setuju mengenai itu. Sejak kecil, aku tidak pernah bisa berbohong pada ibu, meski aku tidak berbicara, ibu bisa langsung tau apa yang aku fikirkan, tanpa aku katakan ibu mampu mencceritakan hal yang akan aku ceritakan. Meski demikian ibu tidak pernah mendahuluiku mengatakan apapun, jadi aku tidak merasa berat untuk bercerita tentang segala hal padanya, karena ia selalu menunjukkan tingkah tak tau apa-apa.
 Ibuku adalah pendengar terbaik di dunia, jika aku berbicara mata lembut ibu akan menyimak seolah-olah hanya ada suaraku yang terdengar di dunia ini, dan hanya ada aku di matanya yang berhak diperhatikan dan ditatap.
Ibuku adalah penasehat terbijak di dunia. Jika ada masalah, ibu akan memberikan nasihat yang tidak bertele-tele dan sangat tepat jika aku terapkan.


Rabu, 16 Juli 2014

Hujan..


          Kutatap langit yang menangis. Airnya membasahi wajahku, meski tidak dengan sempurna, aku memang sedang duduk di teras rumah dengan secangkir kopi susu Nescafe yang tadi kubuat. Ahh,,, hujan, adalah satu-satunya kejadian alam yang entah kenapa selalu memberiku kenangan yang tak enak untuk diingat.
          Bukannya aku tak mensyukuri nikmat Allah yang satu ini, meskipun aku bukanlah hamba yang pandai bersyukur. Tapi…memang, jika kuputar ulang kaset ingatanku, aku pasti akan merasa gerah di saat hujan.
          Kuperbaiki posisi dudukku, serta jilbab merah mudaku yang tertiup angin nakal yang menemani hujan. Lantas kutarik nafasku dalam-dalam, kali ini aku ingin siap menikmati kenangan burukku itu. dulu, aku memang tidak pernah punya keberanian untuk mengulang-ulang ingatan itu, karena aku pasti tidak akan bisa mengambil hikmah apa-apa darinya. Ada juga aku akan mengasihani diri sendiri, masih untuk tindak merutuk. Tapi kali ini kuputuskan aku harus bisa mengulangnya. Dan bisa mengambil hikmah darinya, serta bisa mensykurinya juga.
*
          Kejadian itu adalah dulu, ketika aku pertama kali mengenal cinta yang begitu menentramkan hatiku. Itu memang bukan pertama kalinya aku mengenal cinta, tapi cinta dengan jenis seperti itu, baru kali itulah menghampiriku.
          Ia adalah sosok yang begitu mengagumkan bagiku. Begitu selalu inginku puji, begitu memiliki aura yang menenangkanku, begitu sempurna, begitu sangat-sangat kucintai. Ia tak perlu menjadi apapun bagiku, karena ia telah menjadi apapun untukku. Aku, begitu sangat-sangat memujanya lebih dari apapun, bahkan Tuhanku. Yah,,,aku bahkan rela mengesampingkan imanku karenanya.
          Kala itu, aku yang memang masih belum cukup dewasa untuk memutuskan segalanya, sangat-sangat tidak bisa menahan perasaanku. Segala hal kulakukan untuknya, atas nama cinta. Sungguh bodoh, padahal aku tidak begitu mengenalnya. Aku memang satu kelas dengannya, tapi tidak begitu mengenalnya dengan dekat, hanya mengenalnya saat dia menyatakan cinta padaku. Salah satu gadis berjilbab di kelas. Entah fitrah Tuhan, atau kutuk setan yang merasukiku. Akupun menerimanya, yang ketika itu ternyata dia telah pacaran dengan seorang gadis di kelas lain. Ketika gadis itu menangis karena ditinggal sepihak olehnya, sebut saja dia Ken, aku bahkan tidak peduli. Yang aku tau, hanya aku mencintainya. Pandangan teman-teman jadi berubah padaku, tapi aku tidak peduli. Prinsipku kala itu adalah, aku tidak sibuk diatas omongan orang. Benar-benar telah kubuang segalanya. Statusku sebagai pelajar teladanpun terbang. Aku tidak peduli, yang aku tau kala itu adalah perhatian dan cinta dari Ken.
          Aku merasa benar-benar nyaman dengannya, benar-benar dihargai sebagai seorang wanita, dilindungi, dimengerti dan segalanya. Hingga, aku tak segan-segan bergandengan tangan di sekolah dengannya. Kemana-mana berdua, dimana-mana bersama. Akupun merasa Ken tidak main-main denganku, karena dulu setahuku ia tidak pernah begitu serius dengan gadis manapun, seperti denganku. Maka, tak alang akupun terbang.
          Ken selalu berkata, “Aku mencari gadis sepertimu, dari dulu!” Dan aku selalu terbang dibuatnya. Satu nilai plus untuknya adalah ia begitu tampan, jago karate dan basket. Tak heran ia termasuk the most wanted dulunya.
          Hingga, suatu hari ia mengajakku keluar berdua. Setelah berhasil keluar rumah dengan mengajak sahabat baikku kompromi akupun bertemu dengannya. Rencananya sepulangnya nanti kami akan ke rumah sahabatku itu, agar orang tuaku tak tau.
          Benar-benar hancur!

          Aku membohongi kedua orang tuaku untuknya. Tapi, aku tak menyesal saat itu, tentu saja, mana ada penyesalan datangnya di depan. Iapun mengajakku ke pantai, mengobral diri pada matahari. Banyak hal yang kami lakukan, hingga hari beranjak petang. Aku mulai khawatir, akan telat pulang, akupun mengajaknya untuk pulang. Dan dia tidak menolak. Di perjalanan, mendung mulai menaungi udara dingin perlahan menyelimuti. Perlahan kupeluk ia dari belakang, pelan…semakin erat. Aku tau, saat itu pasti ada setan di antara kami. Seandainya bisa kulihat, aku tentu takut. Tapi, aku terpedaya…dan menikmati tipunya.

Huh....

Tulisan berikut akan membahas bagaimana proses membaca sebuah buku berstruktur secara cerdas.
Bayangkan Anda akan membaca sebuah buku dengan topik pengembangan diri sebanyak 300 halaman.
Apakah Anda akan langsung melakukan pembacaan secara keseluruhan?
Jawabannya tidak. Mungkin Anda bisa langsung membaca buku tersebut dari halaman pertama sampai terakhir, tapi kalau dilakukan tanpa persiapan, besar kemungkinan pemahaman akan bahan bacaan tidak akan baik.
Banyak ahli di bidang pendidikan dan baca cepat mengajarkan metode membaca yang meliputi tahapan berikut:
  • Survey
  • Question
  • Read
  • Recite
  • Review
Teknik ini dikenal dengan nama SQ3R. Ada pula teknik yang mirip dengan nama sedikit berbeda seperti PQRST (Preview – Question – Read – Summarize – Test) atau dalam buku The Evelyn Wood Seven-Day Speed Reading and Learning Program, Stanley D Frank menjelaskan teknik yang disebut Pembacaan Berlapis (Layered Reading) dengan tahapan: Overview – Preview – Reading – Postview – Review).
Inti dari kesemua cara tersebut kurang lebih sama yakni:
  1. Adanya proses persiapan sebelum pembacaan secara penuh dilakukan
  2. Adanya proses pengulangan atau review untuk memastikan pemahaman akan bahan bacaan
Untuk kemudahan, saya akan menggunakan pendekatan SQ3R sebagai berikut:
1. Survey
Yakni proses persiapan membaca dengan cara melihat secara sekilas isi buku mulai dari judul utama, sub judul, cover buku bagian belakang yang menjelaskan secara ringkas topik yang dibahas, kata pengantar dari penulis, maupun daftar isi.
Proses selanjutnya dari tahapan Survey adalah dengan membuka secara cepat halaman demi halaman dan memperhatikan bagian judul bab, sub judul bab, kata-kata khusus yang bercetak tebal atau miring, tabel, gambar sambil mencoba mendapatkan ide besar dari buku tersebut.
Survey yang sukses akan menghasilkan gambaran umum tentang isi buku sekaligus menciptakan minat yang kuat untuk memahaminya. Ini merupakan modal penting untuk membantu proses membaca cepat isi buku secara keseluruhan disamping memastikan tingkat pemahaman yang tinggi akan isi buku.
2. Question
Tahap ini dilakukan bersamaan dengan proses survey terutama ketika Anda mempelajari daftar isi serta mulai membaca sekilas halaman demi halaman secara cepat.
Sambil Anda membaca judul bab, sub judul bab, kata-kata khusus bercetak tebal atau miring, tabel dan gambar maka pada saat yang sama Anda melakukan proses bertanya kepada diri sendiri. Di sini Anda melakukan proses aktif dengan melakukan analisa, sintesa maupun argumentasi terhadap pokok pikiran yang disampaikan penulis buku. Anda bisa menciptakan berbagai pertanyaan seperti:
  • Menurut saya bab ini harusnya menjelaskan terlebih dahulu tentang apa itu “Pengembangan Pribadi”
  • Menurut saya pengembangan pribadi tidak hanya bersifat skill semata, melainkan pula pengembangan spiritual. Akan tetapi penulis buku ini sepertinya lebih fokus pada pengembangan pribadi yang bersifat skill.
  • Saya percaya bahwa pengembangan pribadi akan membantu orang untuk sukses. Namun saya juga meyakini ada faktor-faktor lain yang menyertainya, termasuk Tangan Tuhan di dalamnya.
  • Dan seterusnya
Perhatikan dari pertanyaan-pertanyaan di atas, seorang pembaca telah melakukan proses dialog aktif bahkan sebelum pembacaan secara penuh dilakukan. Dengan demikian, secara mental pembaca tersebut sudah siap untuk terjun ke dalam isi bacaan termasuk untuk menguji pembahasan yang diajukan penulis buku dengan apa-apa yang telah dipelajari dan dipahami sebelumnya oleh pembaca tersebut.
Proses inilah yang nantinya akan membantu terjadinya membaca secara aktif. Lewat cara ini, pembaca tidak sekedar “menurut” dengan apa yang disampaikan penulis melainkan turut melakukan analisa, sintesa maupun argumentasi terhadap isi buku.
3. Read
Setelah dua tahap di atas dilakukan, maka mulailah proses membaca secara keseluruhan dilakukan. Dengan adanya persiapan sebelum membaca, maka proses baca keseluruhan isi dapat dilakukan dengan kecepatan tinggi. Hal ini dibantu karena pembaca tersebut telah mengenali ide pokok yang disampaikan penulis, memahami strukturnya, maupun terminologi yang banyak dipakai.
Proses pembacaan keseluruhan ini dapat dilakukan dengan break di tiap akhir bab untuk kemudian melakukan review atau dengan cara menyelesaikan dulu secara total.
4. Recite
Proses resitasi atau melakukan refleksi atas bahan bacaan dapat Anda lakukan segera setelah mengakhiri satu bab. Langkah ini dilakukan untuk menguji pemahaman atas apa yang telah dibaca. Proses ini dilakukan dengan menceritakan ulang pokok pikiran yang dibahas dalam buku tersebut dengan gaya bahasa Anda sendiri.
Jika hal tersebut dapat dilakukan menunjukkan bahwa Anda memahami isi buku tersebut. Namun jika hal tersebut tidak dapat dilakukan, maka pemahaman Anda sebenarnya masih diragukan.
Proses resitasi ini sangat bermanfaat terutama ketika membaca buku-buku teks perkuliahan yang wajib dikuasai. Proses ini tidak berusaha menghafal apa-apa yang Anda baca melainkan berusaha memahami dengan bahasa sendiri apa-apa yang telah dibaca.
5. Review
Ketika kita menyerap informasi, maka apa-apa yang dibaca akan masuk ke dalam memori jangka pendek. Proses review dilakukan setelah proses membaca selesai agar apa-apa yang dibaca tidak hanya masuk dalam memori jangka pendek melainkan masuk ke memori jangka panjang. Dengan demikian, kapanpun Anda perlu mengingat kembali materi bacaan tersebut, tinggal melakukan proses pemanggilan dari memori jangka panjang.
Proses review awal dilakukan segera setelah mengakhiri bahan bacaan. Hal ini dilakukan mirip dengan proses “Survey” di mana Anda membolak-balik halaman secara cepat sambil melakukan review singkat untuk memastikan apa-apa yang dibaca telah terpahami.
Proses review ini cukup menghabiskan waktu 5 menit saja dan akan bermanfaat sekali dalam jangka panjang terutama terkait pemahaman dan ingatan akan bahan bacaan.
Jika Anda mengabaikan proses review ini, mungkin Anda masih dapat mengingat dengan baik isi bahan bacaan. Akan tetapi, dalam 24 jam pemahaman tersebut akan turun cukup banyak dan terjadi penurunan drastis setelah seminggu.
Buat Anda yang masih berkuliah atau menjalani pendidikan, proses review yang sama perlu dilakukan segera setelah Anda menjalani proses perkuliahan untuk satu topik. Dengan demikian Anda akan menghemat waktu dalam menguasainya dibandingkan dengan berusaha membaca kembali setelah 1 bulan atau menjelang ujian.
Setelah proses review pertama dilakukan, proses review berikutnya dapat dilakukan setelah seminggu dan sebulan. Dengan cara ini, apa-apa yang Anda baca akan masuk ke memori jangka panjang dan akan terus diingat dan dipahami bertahun-tahun.
Selamat membaca cepat dan cerdas.
MACAM-MACAM METODE MEMBACA
1.SQ3R
Survey-Question-Read-Recite-Review
2.SQ4R
Survey-Question-Read-Recite-Rite-Review
3.POINT
Purpose-Overview-Interpret-Note-Test
4.OK4R
Overview Key-Ideas-Read-Summarize-Test
5.PQRST
Preview-Question-Read-Summarize-Test
6.RSVT
Review-Study-Verbalize-Preview
7.EARTH
Explore-Ask-Read-Tell-Harvest
8.OARWET
Overview-Ask-Read-Evaluate-Test
9.PANORAMA
Purpose-Adaptability-Need-to-Question-Overview-Read-Annotate-Memorize-Access




1. SQ3R

Dari berbagai macam teknik diatas, ke semuanya memiliki kesamaan mengajarkan pada kita untuk menemukan ide pokok dan detail informasi lainnya untuk mendukung ide pokok tersebut. Namun yang sering dipakai adalah SQ3R.
Berikut detail mengenai SQ3R
<=>Survey
Melakukan survey terhadap bacaan yang akan kita baca membantu kita untuk mendapatkan lebih isi dari bacaan serta memudahkan kita mendapatkan maksud dari informasi yang akan kita baca. Survey akan menolong kita mendapat gambaran awal tentang suatu buku yang akan kita baca, Survey bisa dilakukan dengan menelurusi daftar isi, kata pengantar, bab, indeks, gambar, tentang pengarang, dan lainnya. Lakukan survey dengan cara cepat, santai namun rekam hal-hal penting secara global seperti tema, ide pokok, tujuan dari buku ditulis, dan lainnya.
<=>Question
Ketika kita melakukan survey, maka buatlah sebanyak-banyaknya pertanyaan mengenai bacaan yang akan kita baca. Pertanyaan bisa dibuat dengan menanyakan judul bacaan, atau daftar isi, sub judul dan pertanyaan lainnya yang lebih berkembang. Pertanyaan bisa memakai kata tanya MENGAPA, SIAPA, APA, DIMANA, BAGAIMANA dan lainnya. Misalnya kamu menemukan judul buku "Cara Belajar Cepat Abad XXI". Judul ini bisa kamu ubah menjadi "Bagaimana Cara Belajar Cepat Abad XXI?" atau "Mengapa Abad XXI Membutuhkan Cara Belajar Cepat Sekarang Ini?", "Apa yang terjadi bila kita tidak belajar cepat sekarang ini?". Usahakan membuat pertanyaan-pertanyaan ini tidak sekedar judul saja, tapi buatlah juga untuk sub judul. Untuk itu bisa dilakukan ketika mensurvey daftar isi.
<=>Read
Mulailah membaca dengan menyimpan banyak pertanyaan yang kamu buat sebelumnya. Ini akan membuat kita lebih antusias lagi dalam membaca. Pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab membuat pembaca akan bersemangat untuk menemukan banyak hal dari buku/bacaan yang ia baca. Pada masing-masing bab, cobalah untuk mencari masing-masing jawaban dari pertanyaan yang telah dibuat dalam pikiran kita. Ada beberapa saran ketika kita membaca:
1. Usahakan melatih kebiasaan yang tidak efektif dalam membaca seperti bersuara,
menggerakkan kepala, membaca ulang kalimat? atau kata-kata yang tidak terlalu penting.
2. Ada yang menyarankan untuk tidak memberi catatan untuk kata atau kalimat yang tidak kita
pahami. Namun berilah suatu tanda, misalnya untuk kata-kata atau kalimat yang tidak
dipahami berilah tanda tanya (?), untuk ketidak setujuan pada isi kalimat berilah tanda (X)
atau tanda check (v) untuk hal-hal yang kita setujui. Atau tanda arah (-->) untuk paragraf
atau kata atau kalimat yang harus kita tinjau ulang, serta tanda peti ("...") sebagai
isyarat/kalimat kunci.
<=>Recite
Setiap membaca beberapa judul atau sub judul, usahakan ada jeda atau istirahat sebentar. Hal ini berfungsi untuk memberi kesempatan pada otak kita untuk mencerna apa-apa saja yang telah dipahami. Gunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat. Adakah kita menemukan jawaban atau beberapa petunjuk lain. Pengetahuan baru apa yang kita dapatkan setelah proses membaca. Dan ternyata untuk proses ini dibutuhkan waktu yang cukup. Renungkanlah apa-apa yang telah kamu baca. Misalnya diperjalanan, waktu mau tidur, waktu luang kamu dan lain-lain. Jangan ragu untuk selalu mengaktifkan otak kita untuk selalu berpikir.
<=>Review
Langkah terakhir adalah me-review apa-apa saja yang telah kita baca. Begitu banyaknya informasi yang datang ke kita setiap harinya, membuat informasi yang lama akan cenderung mudah dilupakan. Dan informasi yang baru justru akan lebih mudah diingat. Untuk itulah perlu dilakukan review setelah kita membaca, terutama bila kita membaca sebuah buku yang sarat akan informasi ilmiah dan membutuhkan pemahaman secara mendalam. Melakukan review bukan berarti kita membaca ulang seluruh isi buku, namun kita menelusuri kembali secara global judul-judul, sub judul, kata-kata kunci dan hal-hal yang sudah kita tandai pada waktu kita membaca buku. Dengan melakukan review akan sangat menolong kita dalam meningkatkan daya ingat serta menemukan hal-hal penting dari bacaan yang telah kita baca. Selain itu, hal ini akan menambah keyakinan kita bahwa dengan membaca dapat memberikan manfaat yang sangat besar, salah satunya adalah pengetahuan baru yang kita simpan dalam otak kita.

SQ3R, yaitu Survey (melakukan peme-
riksaan secara umum), Question (meng-ajukan pertanyaan-pertanyaan pokok: apa, mengapa, bagaimana, dst), Read (melakukan pembacaan), Recite (menceritakan pokok-pokok yang dibaca de-ngan bahasa sendiri) dan Review (meng-ulangi saripati teks bacaan yang dibaca).
· SQ4R, Survey, Question, Read, Recite,
“Rite” (dari write, menuliskan pokok-pokok penting yang perlu diingat), Review.
· POINT, yaitu Purpose (mencari tahu
dahulu apa maksud penulis dengan tulisannya), Overview (melakukan peninjauan tulisan secara umum, dengan jalan membacanya), Interpret (menganalisa dan menafsirkan pesan dalam tulisan), Note (mencatat hal-hal yang penting dalam tulisan), Test (menguji apakah si pembaca sudah menguasai isi tulisan dengan jalan menjawab beberapa per-tanyaan penting berkaitan dengan isi tulisan).
· PQRST, Preview (melakukan peninjauan
umum), Question, Read, Summarize (meringkas isi tulisan), Test.
· Kita bisa memilih dan mengembangkan strategi yang dikemukakan di atas. Sebagai latihan, baca dan pahamilah teks bacaan berikut ini (dikopi dari Suara Pembaharuan, 25 November 1999) dengan menggunakan strategi/teknik PQRST.

2. SQ4R
Adalah pengembangan SQ3R, ditambah Rite ( pemberian contoh )
SQ4R, Survey, Question, Read, Recite,
“Rite” (dari write, menuliskan pokok-pokok penting yang perlu diingat), Review.

3. POINT

POINT, yaitu Purpose (mencari tahu
dahulu apa maksud penulis dengan tulisannya), Overview (melakukan peninjauan tulisan secara umum, dengan jalan membacanya), Interpret (menganalisa dan menafsirkan pesan dalam tulisan), Note (mencatat hal-hal yang penting dalam tulisan), Test (menguji apakah si pembaca sudah menguasai isi tulisan dengan jalan menjawab beberapa per-tanyaan penting berkaitan dengan isi tulisan).

PQRST
PQRST, Preview (melakukan peninjauan
umum), Question, Read, Summarize (meringkas isi tulisan), Test

10.RSVT
Review-Study-Verbalize (menyatakan secara lisan, mengungkapkan dengan kata-kata) -Preview
11.EARTH
Explore-Ask-Read-Tell-Harvest
12.OARWET
Overview-Ask-Read-Evaluate-Test
13.PANORAMA
Purpose-Adaptability-Need-to-Question-Overview-Read-Annotate-Memorize-Access



SISTEM MEMBACA CEPAT DAN EFEKTIF


Disusun oleh
Agustinus Suyoto, S.Pd

I.                 PENDAHULUAN
Manuia modern tampaknya tidak dapat melepaskan diri dari media komunikasi. Salahsatu media komunikasi yang banyak dihadapi adalah media tulus baik buku teks maupun media massa. Setiap hari kita disuguhi banyak media massa., apalagi dalam era keterbukaan dan reformasi seperti saat ini. A[abila kita tidak menaruh perhatian pada media massa tersebut, pastilah kita akan tertinggal. Sebaliknya, apabila kita ingin membaca semua informasi tulis tersebut, pastilah banyak waktu tersita hanya untuk membaca. Untuk itu ketrampilan membaca dengan cepat dan efektif perlu dimiliki oleh semua pihak baik pelajar, mahasiswa, maupun manusia lain yang ingin terlibat secara aktif dalam percaturan kehidupan.
Ada berbagai jenis membaca dan masing-masing jenis mempunyai spesifikasi dan fungsi khusus. Untuk itu, jenis-jenis tersebut perlu dipahami sehingga kita dapat semakin meningkatkan kemampuam membaca baik kemampuan membaca cepat maupum kemampuan membaca efektif.

II.             MEMBACA CEPAT
Yang dimaksud membaca cepat adalah sistem membaca dengan memperhitungkan waktu baca dan tingkat pemahaman terhadap bahan yang dibacanya. Apabila waktu bacanya semakin sedikit dan tingkat pemahamannya semakin tinggi, maka dikatakan bahwa kecepatan baca orang tersebut semakin meningkat.
Pada umumnya orang yang belum pernah mendapat latihan membaca pasti memiliki kecepatan baca yang lebih rendah dari kemampuannya. Ada beberapa hal yang menyebabkan rendahnya kecepatan baca seseorang, antara lain
a.     Kebiasaan lama yang telah mendarah daging seperti menggerakkan bibir untuk melafalkan, menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri, dan menggunakan jari atau benda untuk menunjuk kata-kata yang dibacanya.
b.     Tidak agresif (tidak bersemangat) dalama usaha memahami arti bacaan.
c.      Persepsinya kurang sehingga lambat dalam menginterpretasikan apa yang dibacanya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kecepatan baca seseorang terhambat, antara lain
a.     Vokalisasi, yaitu membaca sambil bersuara atau mengucapkan kata demi kata yang dibacanya.
b.     Gerakan bibir pada waktu membaca baik bersuara mauapun tak bersuara.
c.      Gerakan kepala mengikuti kata-kata yang dibacanya.
d.     Menunjuk (dengan jari atau alat lain) kata-kata yang dibaca pada waktu membaca.
e.     Regresi, yaitu gerakan mata melihat kembali beberapa kata yang telah dibacanya.
f.       Subvokalisasi, yaitu melafalkan apa yang dibacanya dalam hati atau pikiran.

Untuk meningkatkan kecepatan baca kita, pertama-tama kita perlu mengukur kecepatan baca kita. Untuk itu perlu diadakan pengukuran kecepatan baca kita. Rumusnya :
(Jumlah kata yang dibaca dibagi jumlah detik untuk membaca dikalikan 60) dikalikan prosentase pemahaman.

Kecepatan baca bergantung pada kebutuhan dan bahan yang dihadapinya. Pada umumnya kecepatan baca dapat dirinci sebagai berikut :
a.     Membaca secara skimmming dan scannning (lebih dari 1000 kpm)
Tipe membaca seperti ini biasanya digunakan untuk
-         mengenal bahan-bahan yang akan dibaca
-         mencari jawaban atas pertanyaan tertentu
-         mendapat struktur dan organisasi bacaan serta menentukan gagasan umum dari bacaan
b.     Membaca dengan kecepatan tingngi (500 – 800 kpm)
Tipe membaca seperti ini biasanya digunakan untuk
-         membaca bahan-bahan yang mudah dan telah dikenali sebelumnya
-         membaca novel ringan untuk mengikuti jalan ceritanya.
c.      Membaca secara cepat (350 – 500 kpm)
      Biasanya digunakan untuk
-         membaca bacaan yang mudah dalam bentuk deskripsi dan bahan-bahan nonfiksi lain yang bersifat informatif.
-         Membaca fiksi yang agak sulit untuk menikmati keindahan sastranya dan mengantisipasi akhir cerita.
d.     Membaca dengan kecepatan rata-rata (250 – 350 kpm)
Biasanya digunakan untuk
-         membaca fiksi yang komplek untuk analisis watak dan jalan ceritanya.
-         Membaca nonfiksi yang agak sulit untuk mendapatkan detail, mencari hubungan, atau membuat evaluasi ide penulis.
e.     Membaca lambat (100 – 125 kpm)
Biasanya digunakan untuk
-         mempelajari bahan-bahan yang sulit dan untuk menguasai isinya.
-         Menguasai bahan-bahan ilmiah yang sulit dan bersifat teknis
-         Membuat analisis bahan-bahan bernilai sastra klasik
-         Memecahkan persoalan yang ditunjuk dengan bacaan yang bersifat instruksional (petunjuk).

III.         MEMBACA PEMAHAMAN
Membaca pemahaman berkaitan erat dengan usaha memahami hal-hal penting dari apa yang dibacanya. Yang dimaksud membaca pemahaman atau komprehensi adalah kemampuan membaca ntuk mengerti ide pokok, detail penting, dan seluruh pengertian. Pemahaman ini berkaitan erat dengan kemampuan mengingat bahan yang dibacanya. Usaha efektif untuk memahami dan mengingat lebih lama dapat dilakukan dengan
a.     mengorganisasikan bahan yang dibacanya dalam kaitan yang mudah dipahami.
b.     Mengaitkan fakta yang satu dengana fakta yang lain atau menghubungkannya dengan fakta dan konteks.
Tingkat pemahaman dalam membaca berkaitan pula dengan sistem membaca yang dipakainya. Umumnya orang cendenrung langsung membaca teks tanpa mempersiapkan prakondisi sehingga pembacaaan terssebut menjadi efektif.
Ada beberapa sistem membaca, antara lain
1. SQ3R       : survey-question-read-recite-review
2. SQ4R       : survey-question-read-recite-rite-review
3. POINT      : purpose-overview-interpret-note-test
4. OK4R       : overview-key ideas-read-summarize-test

Salahsatu sistem yang banyak dikenal dan dipakai orang adalah SQ3R. Sistem membaca SQ3R dikemukakan oleh Francis P. Robinson pada tahun 1941. SQ3R merupakan proses membaca yang terdiri dari lima langkah, yaitu
1.     SURVEI
Survei atau prabaca adalah teknik mengenal bahan sebelum membacanya secara lengkap. Tujuan srvei adalah
  1. mempercepat menangkap arti
  2. mendapatkan abastrak
  3. mengetahui ide-ide penting
  4. melihan susunan (organisasi) bahan bacaan.
  5. Mendapatkan minat perhatian yang seksama terhadap bacaan.
  6. Memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah.
Ada beberapa teknik dalam melakukan survei. Untuk tiap jenis bacaan, teknik surveinya berbeda.
  1. Tekni survei buku
- telusuri daftar isinya
- baca kata pengantar
- lihat tabel, grafik
- lihan apendiks
- telusuri indeks
  1. Teknik survei bab
- lihat paragraf pertama dan terakhir
- lihat ringkasan
              - lihat subjudul
  1. Teknik survei artikel
- baca judul
- baca semua subjudul
              - amati tabel
              - baca pengantar
              - baca kalimat pertama subbab
              - buatlah keputusan (dibaca atau tidak)
  1. Teknik survei klipping
- perhatikan judul
- perhatikan penulisnya

2.     QUESTION
Pada langkah ini kita mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya tentang isi bacaan.
3.     READ
Perlu disadari bahwa membaca merupakan langkah ketiga, bukan langkah pertama.
4.     RECITE/RECALL
Pada tahap ini Anda dapat membuat catatan seperlunya
5.     REVIEW
Pada tahal ini Anda mencoba mengingat kembali dengan membaca ulang bacaan yang Anda baca.

Menemukan Ide Pokok Wacana
Memahami suatu teks berarti memahami ide pokok yang hendak disampaikan oleh penulis teks tersebut. Untuk itu fokus pembacaan haruslah diletakkan pada usaha memahami ide pokok penulis. Ide pokok suatu buku dapat dikenali dalam
a.     ikhtisar umum yang ada di awal buku
b.     ikhtisar bab
c.      ikhtisar bagian bab
d.     ide pokok paragraf
Kadang-kadang orang terlalu membuang waktu untuk detail sebelum dia menemukan ide pokoknya. Detail adalah fakta atau informasi yang dikemas dalam paragraf untuk membuktikan, menjabarkan, dan memberikan contoh yang mendukung ide pokok. Salahsatu cara mengenali detail penting adalah dengan mencari petunjuk-petunjuk yang digunakan oleh penulis untuk membantu pembaca, antara lain dengan
a.     ditulis cetak miring
b.     digarisbawahi
c.      dicetak tebal
d.     dibubuhi angka-angka
e.     ditulis dengan kode huruf (a,b,c,d)
Kata-kata kunci merupakan kata penuntun untuk membantu mengetahui jalan pikiran penulis. Kata kunci antara lain
a.     ungkapan penekanan
b.     kata yang mengubah arah
c.      kata ilustrasi
d.     kata tambahan
e.     kata simpulan

IV.          MEMBACA KRITIS
Membaca secara kritis adalah cara membaca dengan melihat motif penulis dan menilainya. Dengan demikian, pembca tidak sekedar membaca, melainkan juga berpikir tentang masalah yang dibahas. Hal yang harus diingat dalam membaca kritis adalah bahwa tidak semua yang ditulis itu benar.
Untuk itu kita harus mengikuti jalan pikiran penulis dengan cepat, akurat, dan kritis. Akurat artinya mampu membedakan hal yang relevan dan tidak relevan. Kritis artinya menerima pemikiran yang ditulis dengan dasar yang baik, logis, benar, dan realistis.
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam membaca kritis adalah
a.     mengerti isi bacaan
b.     menguji sumber penulisan
c.      ada interaksi antara penulis dan pembaca.
d.     Memutuskan :menerima atau menolak ide penulis
Untuk dapat melakukan evaluasi terhadap gagasan orang lain, kita perlu mengingat-ingat secara lebih seksama apa saja yang dikemukakan oleh penulis. Untuk itu, ingatan sangat penting. Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh agar kita dapat mengingat lebih lama ddan lebih baik, yiatu
a.     hadapi bahan dengan tujuan
b.     survei apa saja yang perlu diingat
c.      cai fakta dan dapatkan dalam hubungannya dengana konteks
d.     kaitkan apa yang dibaca dengan yang telah diketahui.
e.     Perhatikan apa yang penting bagi Anda.

Dalam usaha menanggapi pendapata orang lain, kita tidak boleh melupakan hal-hal yang penting yang diungkapkan oleh penulis. Agar tidak terlupakan perlu dibuat sejumlah catatan dari bacaan yang kita baca. Pokok-pokok yang perlu dicatat antara lain
a.     bagian-bagian kunci :ide pokok, masalah, informasi penting
b.     asumsi penulis tentang segi tertentu
c.      detail atau fakta yang kita perlukan
d.     pokok-pokok yang menarik
Ada tiga jenis catatan, yaitu
a.     catatan berupa koleksi fakta dan detail penting
b.     catatan berupa kutipan kalimat, paragraf, kata kunci
c.      catatan berupa ringkasan

V.              SKIMMING DAN SCANNING
Skimming adalah cara membaca yang hanya untuk mendapatkan ide pokok bacaan. Scanning adalah cara membaca dengan cara melompat langsung ke sasaran yang dicari.
Bagian-bagian yanag dapat dilompati antara lain
a.     bagian yang telah diketahui dari buku lain
b.     bagian yang berisi informasi yang tidak memenuhi tujuan membaca
c.      bagian yang hanya merupakan contoh atau ilustrasi
d.     bagian yang merupakan ringkasan bab sebelumnya.
Yang dimaksud skimming adalah mencari hal-hal penting dari bacaaan. Fungsi skimming adalah
a.     untuk mengenali topik bacaan
b.     untuk mengetahui pendapat/opini orang
c.      untuk mendapatkan bagian penting yang kita butuhkan
d.     untuk mengetahui organisasi penulisan, urutan ide pokok, dan cara berpikir penulis.
e.     Untuk penyegaran apa yang pernah dibaca.
Scanning adalah teknik membaca untuk mendapatkan suatu informasi tanpa membaca yang lain. Scanning biasa digunakan untuk
a.     mencari nomor telepon
b.     mencari kata pada kamus
c.      mencari eintri pada indeks
d.     mencari angka statistik
e.     melihat acara siaran televisi
f.       melihat daftar perjalanan