KAMU LAGI
Aku masih memikirkanmu,
Masih sering membuka timeline
Facebookmu
Padahal kamu jahat, sama jahatnya
dengan yang dulu
Kapan kamu akan…
Aku berharap buruk, bahwa Tuhan dan
dunia akan membalasmu
Dengan setimpal, atau lebih kejam
lagi
Dan ketika itu aku akan
menertawakanmu, menerbangkan sayap bahagia atas tangis nanahmu.
Tapi benarkah demikian?
Sanggupkah aku melihatmu semenderita
aku?
Atau lebih dari itu?
Aku bahkan selalu ingin melihat
senyumanmu, meski bukan karenaku.
Aku bahkan selalu ingin melihat
kepakan sayapmu
Meski bukan angin itu aku
Aku bahkan ingin kau menyapaku,
meski itu bukan lagi cinta yang dulu
Aku bahkan ingin…kau lebih lebih,
lebih baik lagi.
SAHABAT
Pagi tadi aku mendapat telepon
darimu
Membuat mataku berkejap-kejap berat,
kantukku hilang karena kutemukan miscall darimu begitu banyak
Aku merasa kau butuh aku
Dan aku segera mengirimu pesan…
Dan aku mendengar suaramu
Lama…
Ya, lama telah kita menjalin untaian
ini,
Sedari bayi, hingga hendak memiliki
bayi
Persahabatan yang suci ini kita
agungkan,
Namun tak pernah aku merasa begitu
berguna bagimu kecuali pagi ini.
“Aku diputuskan”
Begitu keluhmu, kemudian suaramu
bergetar, dan air matamu terdengar
Aku diam, lidahku kelu, dan hatiku
meradang
Seharusnya, yah seharusnya aku lebih
dekat padamu
Lebih dari sekedar mendengar,
Sebenarnya aku ingin memelukmu dan
sama-sama membunuh lelaki itu.
LELAKI
Pada pertengahan siang, angin terasa
begitu ramah dengan adanya
Kau sedang apa disana?
Memikirkanku?
Memikirkan ayah ibumu?
Memikirkan saudaramu?
Atau memikirkan masa depan, masa
lampau atau kau bahkan tak berfikir?
Aku banyak pertanyaan padamu
Melambungkan tegnologi bahwa
sekarang kita berjarak banyak.
Aku banyak rindu padamu
Mengoceh gelombang angin, bahwa
sekarang kita bersekat laut
Aku banyak cinta padamu
Menindih cerita, bahwa sekarang kita
sedang bernostalgia
Aku banyak kamu padamu
Memindahkan segudang kisah yang
mengais manis dan kecut diantara gumpalan bundar menggumpal
Bahwa sekarang kita sedang menatap
pada langit hati yang sama, cinta
KANGEN
Sering aku merawat rinduku hingga ia
beranak kangen
Kembali memiliki keluarga yang
besar, hingga kangennya bermukim pada wilayah yang lebar dan panjang, dan kita
menyebutnya luas
Kau tak tau betapa kangen itu
menggantungiku
Kau tak tau betapa kangen itu erat
memelukku
Kau tak tau betapa kangen itu kerap
mengagetiku
Bahkan kau tak tau betapa kangen itu
seringkali mengangeniku
Kangen kamu
Bermelodi ia pada gelombang suara
yang mampir di telinga
Membuatku datang mengais pada sang
Kuasa
Bahwa aku harus bersabar menantimu
Bagaimana kabarmu? Bagaimana rupamu?
Bagaimana hatimu padaku? Bagaimana suaramu?
Aku telah lama berpuasa kamu,
Aku akan sampai pada maghrib itu,
saat mentari berjenis kangen tenggelam dan kamu datang sebagai waktu berbuka
untukku…
Maka kaulah pengobat lapar dan
dahagaku…
KAPAN PULANG
Sayang…
Rasa ini seringkali membuatku
berhalusinasi
Bahwa tiba-tiba kau ada di sampingku
dan mendekapku dengan hangatmu
Bahwa tiba-tiba saja kau hilang dan
aku kecewa
Seringkali aku meraba permukaan
udara
Dan wajahmu yang kutemukan
Ketika hendak kusentuh, ia lenyap
Aku sadar kau tak disini, dan aku
akan menertawakan diriku
Aku bingung….bagaimana kau bisa
begitu berhasil mengajariku tentang rindu ini
Hingga aku kerap bertanya, pada
saat, pada ketiadaan…
Kapan pulang?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar