Minggu, 13 Juli 2014

KAMU LAGI

KAMU LAGI
Aku masih memikirkanmu,
Masih sering membuka timeline Facebookmu
Padahal kamu jahat, sama jahatnya dengan yang dulu
Kapan kamu akan…
Aku berharap buruk, bahwa Tuhan dan dunia akan membalasmu
Dengan setimpal, atau lebih kejam lagi
Dan ketika itu aku akan menertawakanmu, menerbangkan sayap bahagia atas tangis nanahmu.
Tapi benarkah demikian?
Sanggupkah aku melihatmu semenderita aku?
Atau lebih dari itu?
Aku bahkan selalu ingin melihat senyumanmu, meski bukan karenaku.
Aku bahkan selalu ingin melihat kepakan sayapmu
Meski bukan angin itu aku
Aku bahkan ingin kau menyapaku, meski itu bukan lagi cinta yang dulu
Aku bahkan ingin…kau lebih lebih, lebih baik lagi.

SAHABAT
Pagi tadi aku mendapat telepon darimu
Membuat mataku berkejap-kejap berat, kantukku hilang karena kutemukan miscall darimu begitu banyak
Aku merasa kau butuh aku
Dan aku segera mengirimu pesan…
Dan aku mendengar suaramu
Lama…
Ya, lama telah kita menjalin untaian ini,
Sedari bayi, hingga hendak memiliki bayi
Persahabatan yang suci ini kita agungkan,
Namun tak pernah aku merasa begitu berguna bagimu kecuali pagi ini.
“Aku diputuskan”
Begitu keluhmu, kemudian suaramu bergetar, dan air matamu terdengar
Aku diam, lidahku kelu, dan hatiku meradang
Seharusnya, yah seharusnya aku lebih dekat padamu
Lebih dari sekedar mendengar,
Sebenarnya aku ingin memelukmu dan sama-sama membunuh lelaki itu.

LELAKI
Pada pertengahan siang, angin terasa begitu ramah dengan adanya
Kau sedang apa disana?
Memikirkanku?
Memikirkan ayah ibumu?
Memikirkan saudaramu?
Atau memikirkan masa depan, masa lampau atau kau bahkan tak berfikir?
Aku banyak pertanyaan padamu
Melambungkan tegnologi bahwa sekarang kita berjarak banyak.
Aku banyak rindu padamu
Mengoceh gelombang angin, bahwa sekarang kita bersekat laut
Aku banyak cinta padamu
Menindih cerita, bahwa sekarang kita sedang bernostalgia
Aku banyak kamu padamu
Memindahkan segudang kisah yang mengais manis dan kecut diantara gumpalan bundar menggumpal
Bahwa sekarang kita sedang menatap pada langit hati yang sama, cinta

KANGEN
Sering aku merawat rinduku hingga ia beranak kangen
Kembali memiliki keluarga yang besar, hingga kangennya bermukim pada wilayah yang lebar dan panjang, dan kita menyebutnya luas
Kau tak tau betapa kangen itu menggantungiku
Kau tak tau betapa kangen itu erat memelukku
Kau tak tau betapa kangen itu kerap mengagetiku
Bahkan kau tak tau betapa kangen itu seringkali mengangeniku
Kangen kamu
Bermelodi ia pada gelombang suara yang mampir di telinga
Membuatku datang mengais pada sang Kuasa
Bahwa aku harus bersabar menantimu
Bagaimana kabarmu? Bagaimana rupamu? Bagaimana hatimu padaku? Bagaimana suaramu?
Aku telah lama berpuasa kamu,
Aku akan sampai pada maghrib itu, saat mentari berjenis kangen tenggelam dan kamu datang sebagai waktu berbuka untukku…
Maka kaulah pengobat lapar dan dahagaku…
KAPAN PULANG
Sayang…
Rasa ini seringkali membuatku berhalusinasi
Bahwa tiba-tiba kau ada di sampingku dan mendekapku dengan hangatmu
Bahwa tiba-tiba saja kau hilang dan aku kecewa
Seringkali aku meraba permukaan udara
Dan wajahmu yang kutemukan
Ketika hendak kusentuh, ia lenyap
Aku sadar kau tak disini, dan aku akan menertawakan diriku
Aku bingung….bagaimana kau bisa begitu berhasil mengajariku tentang rindu ini
Hingga aku kerap bertanya, pada saat, pada ketiadaan…
Kapan pulang?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar