Minggu, 13 Juli 2014

cek-cok


                Seringkali aku merenung setelah cek cok dengan suamiku. Seperti saat ini, merenung di pinggiran kolam ikan kecil belakang rumah. Hari beranjak sore, aku sendirian di rumah. Tak ada kerjaan. Dulunya aku memiliki pekerjaan, tapi setelah menikah aku melepasnya. Aku memang berniat menjadi istri yang baik, fokus hanya melayani suamiku. Apapun resikonya aku akan terima.
            Sebulan demikian aku merasa bahagia, maklumlah masi madu pernikahan. Suamiku masih sangat baik dan romantic. Tapi memasuki bulan ke dua aku mulai merasa sedikit bosan. Melakukan hal yang sama setiap saat siapa yang tak bosan? Begitu kemudian, seiring waktu bertambah mengiringi samudra rumah tangga, seiring itu pula rasa bosan itu semakin luas. Selain karena kegiatan yang sama, suamiku selalu saja bertingkah seperti apa yang aku perbuat tak ada yang benar. Mungkin ia tak mengkritik dengan langsung, ia adalah lelaki yang paling baik untukku, tapi dengan ia jarang di rumah, itu membuatku berfikir ia sudah tak suka dengan tingkahku. Ia tak nyaman lagi denganku. Aku tau ia bekerja, tapi tidak se-90% harinya di luar, kan? Akhirnya pagi tadi aku menumpahkan rasa gondokku padanya, yang tengah mematuk diri di cermin dengan seragam kebanggaannya.
            “Sayang betulan kerja, kan?” tanyaku merapikan tasnya di pinggir ranjang. Ia melirik dari pantulan cermin.
            “Lho, masa’ iya aku berenang tiep hari, Sayang?” ia membuka joke ringan dengan cengiran, aku bukannya terhibur malah semakin cemberut, melihat ekspresiku ia membalik badan. “Kenapa, Sayang? Ada yang mengganjal?” tanyanya.
            “Udah mulai bosan yah?” aku menatapnya dengan lesu.
            “Astaghfirullah, kok ngomong gitu?” ekspresinya mulai lain.
            “Nggak, ada.” Aku segera menggeleng, aku paling tak bisa mengatakan segala permasalahanku secara langsung, walaupun itu pada suamiku sendiri.
            “Nggak ada apa-apa kok nanyanya begitu?” perhatikan, ia begitu sabar menghadapiku.
            “Iya nggak ada apa-apa. Ayo sarapan.” Aku menyerahkan tasnya ia menerima dengan menatap heran padaku.
            “Sepertinya aku nggak bisa sarapan di rumah, Sayang. Koatir telat.” Ia menaruh tali tasnya di bahu kiri. Aku menelan ludah berat.
            “Tiep hari nggak pernah sarapan di rumah, hari ini, kemarin, besok…” akupun meluncurkan kalimat dengan sedikit bergetar. Kubalikkan tubuhku dari menghadapnya dan melangkah perlahan. “Kalau begitu aku tak usah bangun pagi-pagi menyiapkan sarapan.” Lanjutku sembari membuka pintu.
            “Sayang kok ngomongnya gitu?” suamiku menahan langkahku, “Aku kan kerja…”
            “Iya….” Aku memotong kalimatnya, “Aku paham kok. Itu udah jam segitu, berangkat.” Sambungku keluar kamar tanpa menutup pintu. aku terus melangkah, membuka pintu-pintu yang aku lewati, hingga pintu utama. Suamiku berjalan pelan di belakangku. Aku menoleh.
            “Hati-hati.” Ucapku pelan, tanpa melihat wajahnya.
            “Marah?” tanyanya, “Aku sarapan di rumah deh.” Ia mencairkan suasana, tapi egoku tegak.
            “Berangkat saja nanti terlambat.” Suaraku mendatar, kuraih tangan kanannya kuciumi seperti biasa.
            “Bagaimana bisa kerja kalau begini?” ia bertanya meminta persetujuan. Aku menghela nafas, kutegakkan wajahku padanya, kemudian kuulum senyum semampuku.
            “Aku mencintaimu.” Ucapnya mengusap ubun-ubunku. Aku mengangguk, mengantar kepergiannya hingga tak terlihat. Kemudian masuk rumah, menuju dapur dan menangis disana. Aku paling tidak tau harus berbuat apa kalau sudah begini. Aku ingin minta maaf, tapi aku ingin menuntut juga. Yah, hal-hal seperti itulah yang aku sebut cek cok. Karena sebenarnya aku paling tidak bisa berkata-kata keras, jangannya seperti itu meminta sesuatu yang sedikit muluk dalam fikiranku saja aku sulit.
            “Kamu persis sepertiku.” Aku jadi ingat kalimat bunda.
//
            Waktu bergulir cepat, malampun hendak menapaki daulatnya. Aku sudah selesai memasak di dapur, segera kusiapkan air untuk mandi agar penampilanku tak kumuh saat menyambut suamiku. Begitulah, segalanya sangat cepat terhapus waktu untuk jenis hati sepertiku, aku sudah lupa dengan rasa tadi pagi, aku sudah tak menertawakan kebodohanku bersikap demikian pada suamiku. Dan yang tersisa, aku harus meminta maaf.
            Tepat saat kukenakan mukenah untuk shalat maghrib kudengar deru kendaraan suamiku. Segera kusongsong ia ke teras. Tersenyum lebar membukakan gerbang. Wajahnya tampak letih terlihat dari kaca mobil. Aku menyambutnya hangat ketika ia mendekatiku.
            “Capek.” Keluhnya saat aku menyalaminya santun. Aku tersenyum mengangguk, mengambil tasnya dan menggandengnya masuk rumah. Aku tak ingin banyak bicara, aku ingin menjaga perasaannya.
            “Udah siepin air buat mandi?” tanyanya melepas sepatu. Aku mengangguk. “Masih marah?” tanyanya.
            “Aku nggak marah.” Ucapku.
            “Kalau begitu kamu aneh.” Kali ini aku sedikit tersinggung, ia menunduk membuka tali sepatunya. Aku mendekatinya, duduk di hadapannya, mengambil alih tali sepatunya. Kubukakan tali itu pelan. Kurasakan ia menatapku, aku tetap menunduk. Ada keheningan diatara kami. Kutarik sepatu itu dari kakinya, kubukakan kaos kakinya, hingga sempurna. Kemudian berlalu dari hadapannya, menaruh sepatu itu pada tempat seharusnya.
            Ada rasa panas kurasakan di hidungku, rasa-rasanya aku ingin menangis lagi. Bagaimana mungkin aku dikatakannya aneh..? tapi dia suamiku, dan aku mencintainya.
            Kubawakan ia handuk dan kuserahkan padanya dengan senyuman. Setiap orang akan melakukan segalanya dengan baik karena dua alasan, pertama dengan menekannya dan kedua dengan memberikan apa yang ia inginkan. Aku tidak ingin menekan suamiku sendiri.
            Aku berlalu darinya sebelum sempat ia berkata apa-apa. Sementara ia mandi, kubereskan tasnya, kuperbaharui wudhuku dan kutunggu ia di ruang shalat. Kamipun menjamah maghrib dengan jama’ah.
//
            “Maafkan aku.” Pintaku saat maghrib selesai kami dirikan. Kutatap wajahnya yang menyegar karena mandi tadi, atau shalat. Entah. Aku ingat dulu, berasmara dengannya begitu indah. Setiap kesempatan kami membicarakan pernikahan dengan semangat. Bahwa menikah itu indah, bahwa hidup berdua itu beratap bahagia anti bocor. Semuanya akan mudah.
            Tapi, tidak. Jelas, karena dulu kami belum menjalaninya. Setelah semuanya menjelma nyata, rasanya tidak semudah mencita-citakannya, tapi tidak sesulit itu juga. Pasalnya, segala kekurangan masing-masing telah saling kami ketahui. Sejak tak ada jarak lagi, kami suka semena-mena terhadap diri masing-masing. Kami seringkali berfikir, bahwa dengan tak ada jarak lagi, artinya taka pa bertindak sesuka pada pasangan.
            Tapi sebenarnya itu keliru, meskipun sudah tak berjarak, meskipun telah saling mengetahui segala kekurangan, kita masih harus tetap saling menghargai. Itulah yang terjadi kepada banyak pasangan. Termasuk kami. Ternyata, aku baru berfikir sekarang.
            Padahal, nyatanya kami saling mencintai. Aku mencintainya karena itu aku ingin terus melayaninya sebaik mungkin. Ia mencintaiku, karena itu ia ingin aku bahagia, mempreoritaskan aku atas segalanya, sehingga ia bekerja dengan sebaik-baiknya. Tapi, pencapaian pertunjukan cinta tentu tidak sebatas aku dan kamu cinta. Tapi menunjukkan bagaimana kita bisa saling menghargai dan menerima. Menerima apa yang telah, apa yang sedang, apa yang akan terjadi dan tentu saja apa yang tidak akan terjadi.
            “Melihatmu, aku selalu menemukan diriku kembali.” Ia mengusap pipiku sayang. Aku tersenyum, terharu. “Kita berjarakkah?” ia bertanya padaku. Aku enggan mengangguk, tapi enggan menggeleng.
            “Kita pemula, wajarlah salah. Selanjutnya akan lebih baik.” Ia mendekat padaku dan mendekapku. “Maafkan aku, Sayang.” Begitu kalimat selanjutnya. Akupun tak tahan untuk membendung air mataku. Menjadi bingung, benarkah ia harus meminta maaf? Benarkah aku harus meminta maaf? Entah, yang jelas benar adalah kami harus saling memaafkan. Kugenggam tangannya sayang.
            “Bisakah kita seperti cerita?” tanyaku padanya.
            “Hmm?” ia bertanya menaruh dagunya di pundakku.
            “Kita memudahkan hidup kita seperti cerita kita dulu.” Jawabku melirik wajahnya.
            “Cerita tentang?” ia kembali bertanya.
            “Lemoot…” kucubit pipinya gemas, “Cerita tentang menikah.” Lanjutku.
            “Kok aku dibilang lemot…!”
            “Aku tadi dibilang aneh.” Kusambut ia dengan nada ejekan.
            “Itu kan udah biasa dari dulu, dari kita masi pacaran… iii…” ia mempererat dekapannya padaku.
            “Lemot juga udah biasa dari dulu.” Aku membalas. Kami terdiam sesaat.
            “Aku mencintaimu saat itu, saat ini juga. Tapi kok rasanya aneh yah?” ia bertanya.
            “Hu’umh, mungkin karena kita makin mendewasa…” aku menerawang.
            “Ah, blahok. Gayanyaaa…” ia menepuk jidatku pelan.
            “Iiii, ngangook….betulan kali…” aku membela diri. Akhirnya gaya dulu kami terbongkar lagi. Aku berfikir sembari menikmati hangatnya. Apa yang membuat kami menjadi sensi dengan panggilan-panggilan bodoh ini…? dulu kami menikmatinya.
//


Tidak ada komentar:

Posting Komentar