Seringkali aku
merenung setelah cek cok dengan suamiku. Seperti saat ini, merenung di
pinggiran kolam ikan kecil belakang rumah. Hari beranjak sore, aku sendirian di
rumah. Tak ada kerjaan. Dulunya aku memiliki pekerjaan, tapi setelah menikah
aku melepasnya. Aku memang berniat menjadi istri yang baik, fokus hanya
melayani suamiku. Apapun resikonya aku akan terima.
Sebulan demikian
aku merasa bahagia, maklumlah masi madu pernikahan. Suamiku masih sangat baik
dan romantic. Tapi memasuki bulan ke dua aku mulai merasa sedikit bosan.
Melakukan hal yang sama setiap saat siapa yang tak bosan? Begitu kemudian,
seiring waktu bertambah mengiringi samudra rumah tangga, seiring itu pula rasa
bosan itu semakin luas. Selain karena kegiatan yang sama, suamiku selalu saja
bertingkah seperti apa yang aku perbuat tak ada yang benar. Mungkin ia tak
mengkritik dengan langsung, ia adalah lelaki yang paling baik untukku, tapi
dengan ia jarang di rumah, itu membuatku berfikir ia sudah tak suka dengan
tingkahku. Ia tak nyaman lagi denganku. Aku tau ia bekerja, tapi tidak se-90%
harinya di luar, kan? Akhirnya pagi tadi aku menumpahkan rasa gondokku padanya,
yang tengah mematuk diri di cermin dengan seragam kebanggaannya.
“Sayang betulan
kerja, kan?” tanyaku merapikan tasnya di pinggir ranjang. Ia melirik dari
pantulan cermin.
“Lho, masa’ iya
aku berenang tiep hari, Sayang?” ia membuka joke ringan dengan cengiran, aku
bukannya terhibur malah semakin cemberut, melihat ekspresiku ia membalik badan.
“Kenapa, Sayang? Ada yang mengganjal?” tanyanya.
“Udah mulai bosan
yah?” aku menatapnya dengan lesu.
“Astaghfirullah,
kok ngomong gitu?” ekspresinya mulai lain.
“Nggak, ada.” Aku
segera menggeleng, aku paling tak bisa mengatakan segala permasalahanku secara
langsung, walaupun itu pada suamiku sendiri.
“Nggak ada apa-apa
kok nanyanya begitu?” perhatikan, ia begitu sabar menghadapiku.
“Iya nggak ada
apa-apa. Ayo sarapan.” Aku menyerahkan tasnya ia menerima dengan menatap heran
padaku.
“Sepertinya aku
nggak bisa sarapan di rumah, Sayang. Koatir telat.” Ia menaruh tali tasnya di
bahu kiri. Aku menelan ludah berat.
“Tiep hari nggak
pernah sarapan di rumah, hari ini, kemarin, besok…” akupun meluncurkan kalimat
dengan sedikit bergetar. Kubalikkan tubuhku dari menghadapnya dan melangkah
perlahan. “Kalau begitu aku tak usah bangun pagi-pagi menyiapkan sarapan.”
Lanjutku sembari membuka pintu.
“Sayang kok
ngomongnya gitu?” suamiku menahan langkahku, “Aku kan kerja…”
“Iya….” Aku
memotong kalimatnya, “Aku paham kok. Itu udah jam segitu, berangkat.” Sambungku
keluar kamar tanpa menutup pintu. aku terus melangkah, membuka pintu-pintu yang
aku lewati, hingga pintu utama. Suamiku berjalan pelan di belakangku. Aku
menoleh.
“Hati-hati.”
Ucapku pelan, tanpa melihat wajahnya.
“Marah?” tanyanya,
“Aku sarapan di rumah deh.” Ia mencairkan suasana, tapi egoku tegak.
“Berangkat saja
nanti terlambat.” Suaraku mendatar, kuraih tangan kanannya kuciumi seperti
biasa.
“Bagaimana bisa
kerja kalau begini?” ia bertanya meminta persetujuan. Aku menghela nafas,
kutegakkan wajahku padanya, kemudian kuulum senyum semampuku.
“Aku mencintaimu.”
Ucapnya mengusap ubun-ubunku. Aku mengangguk, mengantar kepergiannya hingga tak
terlihat. Kemudian masuk rumah, menuju dapur dan menangis disana. Aku paling
tidak tau harus berbuat apa kalau sudah begini. Aku ingin minta maaf, tapi aku
ingin menuntut juga. Yah, hal-hal seperti itulah yang aku sebut cek cok. Karena
sebenarnya aku paling tidak bisa berkata-kata keras, jangannya seperti itu
meminta sesuatu yang sedikit muluk dalam fikiranku saja aku sulit.
“Kamu persis
sepertiku.” Aku jadi ingat kalimat bunda.
//
Waktu bergulir
cepat, malampun hendak menapaki daulatnya. Aku sudah selesai memasak di dapur,
segera kusiapkan air untuk mandi agar penampilanku tak kumuh saat menyambut
suamiku. Begitulah, segalanya sangat cepat terhapus waktu untuk jenis hati
sepertiku, aku sudah lupa dengan rasa tadi pagi, aku sudah tak menertawakan
kebodohanku bersikap demikian pada suamiku. Dan yang tersisa, aku harus meminta
maaf.
Tepat saat kukenakan
mukenah untuk shalat maghrib kudengar deru kendaraan suamiku. Segera kusongsong
ia ke teras. Tersenyum lebar membukakan gerbang. Wajahnya tampak letih terlihat
dari kaca mobil. Aku menyambutnya hangat ketika ia mendekatiku.
“Capek.” Keluhnya
saat aku menyalaminya santun. Aku tersenyum mengangguk, mengambil tasnya dan
menggandengnya masuk rumah. Aku tak ingin banyak bicara, aku ingin menjaga
perasaannya.
“Udah siepin air
buat mandi?” tanyanya melepas sepatu. Aku mengangguk. “Masih marah?” tanyanya.
“Aku nggak marah.”
Ucapku.
“Kalau begitu kamu
aneh.” Kali ini aku sedikit tersinggung, ia menunduk membuka tali sepatunya.
Aku mendekatinya, duduk di hadapannya, mengambil alih tali sepatunya. Kubukakan
tali itu pelan. Kurasakan ia menatapku, aku tetap menunduk. Ada keheningan
diatara kami. Kutarik sepatu itu dari kakinya, kubukakan kaos kakinya, hingga
sempurna. Kemudian berlalu dari hadapannya, menaruh sepatu itu pada tempat
seharusnya.
Ada rasa panas
kurasakan di hidungku, rasa-rasanya aku ingin menangis lagi. Bagaimana mungkin
aku dikatakannya aneh..? tapi dia suamiku, dan aku mencintainya.
Kubawakan ia
handuk dan kuserahkan padanya dengan senyuman. Setiap orang akan melakukan
segalanya dengan baik karena dua alasan, pertama dengan menekannya dan kedua
dengan memberikan apa yang ia inginkan. Aku tidak ingin menekan suamiku
sendiri.
Aku berlalu
darinya sebelum sempat ia berkata apa-apa. Sementara ia mandi, kubereskan
tasnya, kuperbaharui wudhuku dan kutunggu ia di ruang shalat. Kamipun menjamah maghrib
dengan jama’ah.
//
“Maafkan aku.”
Pintaku saat maghrib selesai kami dirikan. Kutatap wajahnya yang menyegar
karena mandi tadi, atau shalat. Entah. Aku ingat dulu, berasmara dengannya
begitu indah. Setiap kesempatan kami membicarakan pernikahan dengan semangat.
Bahwa menikah itu indah, bahwa hidup berdua itu beratap bahagia anti bocor.
Semuanya akan mudah.
Tapi, tidak.
Jelas, karena dulu kami belum menjalaninya. Setelah semuanya menjelma nyata,
rasanya tidak semudah mencita-citakannya, tapi tidak sesulit itu juga.
Pasalnya, segala kekurangan masing-masing telah saling kami ketahui. Sejak tak
ada jarak lagi, kami suka semena-mena terhadap diri masing-masing. Kami
seringkali berfikir, bahwa dengan tak ada jarak lagi, artinya taka pa bertindak
sesuka pada pasangan.
Tapi sebenarnya
itu keliru, meskipun sudah tak berjarak, meskipun telah saling mengetahui
segala kekurangan, kita masih harus tetap saling menghargai. Itulah yang
terjadi kepada banyak pasangan. Termasuk kami. Ternyata, aku baru berfikir sekarang.
Padahal, nyatanya
kami saling mencintai. Aku mencintainya karena itu aku ingin terus melayaninya
sebaik mungkin. Ia mencintaiku, karena itu ia ingin aku bahagia, mempreoritaskan
aku atas segalanya, sehingga ia bekerja dengan sebaik-baiknya. Tapi, pencapaian
pertunjukan cinta tentu tidak sebatas aku dan kamu cinta. Tapi menunjukkan
bagaimana kita bisa saling menghargai dan menerima. Menerima apa yang telah,
apa yang sedang, apa yang akan terjadi dan tentu saja apa yang tidak akan
terjadi.
“Melihatmu, aku
selalu menemukan diriku kembali.” Ia mengusap pipiku sayang. Aku tersenyum,
terharu. “Kita berjarakkah?” ia bertanya padaku. Aku enggan mengangguk, tapi
enggan menggeleng.
“Kita pemula,
wajarlah salah. Selanjutnya akan lebih baik.” Ia mendekat padaku dan
mendekapku. “Maafkan aku, Sayang.” Begitu kalimat selanjutnya. Akupun tak tahan
untuk membendung air mataku. Menjadi bingung, benarkah ia harus meminta maaf?
Benarkah aku harus meminta maaf? Entah, yang jelas benar adalah kami harus
saling memaafkan. Kugenggam tangannya sayang.
“Bisakah kita
seperti cerita?” tanyaku padanya.
“Hmm?” ia bertanya
menaruh dagunya di pundakku.
“Kita memudahkan
hidup kita seperti cerita kita dulu.” Jawabku melirik wajahnya.
“Cerita tentang?”
ia kembali bertanya.
“Lemoot…” kucubit
pipinya gemas, “Cerita tentang menikah.” Lanjutku.
“Kok aku dibilang
lemot…!”
“Aku tadi dibilang
aneh.” Kusambut ia dengan nada ejekan.
“Itu kan udah
biasa dari dulu, dari kita masi pacaran… iii…” ia mempererat dekapannya padaku.
“Lemot juga udah
biasa dari dulu.” Aku membalas. Kami terdiam sesaat.
“Aku mencintaimu
saat itu, saat ini juga. Tapi kok rasanya aneh yah?” ia bertanya.
“Hu’umh, mungkin
karena kita makin mendewasa…” aku menerawang.
“Ah, blahok.
Gayanyaaa…” ia menepuk jidatku pelan.
“Iiii,
ngangook….betulan kali…” aku membela diri. Akhirnya gaya dulu kami terbongkar
lagi. Aku berfikir sembari menikmati hangatnya. Apa yang membuat kami menjadi
sensi dengan panggilan-panggilan bodoh ini…? dulu kami menikmatinya.
//
Tidak ada komentar:
Posting Komentar