Rabu, 07 Oktober 2015

Mengeja Pelangi

“Bahagia itu dekat, ada pada setiap hati yang bersyukur.”
//
            Tamu tak diundang. Begitu mungkin merk yang pantas untuk pertemuan tak sengaja ini. wajah bijak dengan mata tegas tapi penyayang itu menubrukku dengan tatapan yang tak kalah kagetnya denganku. Dia dengan kemeja lengan panjang yang dilipat sampai hampir siku, dia dengan wajah yang tak jauh berbeda dari bertahun-tahun yang lalu, dia dengan warna kulit dan model rambut yang tak berubah. Aku benar-benar tak menyangka akan bertemu dengannya disini, di pasar buah yang bahkan tiap tiga kali seminggu kudatangi.
            Dia, yang disebut mantan kekasih.
//
            “Apa kabar?” Ia bertanya datar, menatapku sekilas.
            “Alhamdulillah, selalu pantas disyukuri.” Aku menjawab sekenanya.
            “Kamu seperti tidak berubah ya.” Ia mengomentari, entah apa yang dikomentarinya. Apakah tampang, apakah sikap, atau apakah apa yang ia tangkap dari tatapannya terhadapku. Aku kini telah memiliki tiga orang anak, pasti telah banyak yang berubah.
            “Banyak yang berubah, tentu saja.” Ujarku pelan.
            “Ya, banyak yang berubah. Tapi kamu masih seperti sama saja.” Ia melanjutkan.
            “Aku…” ingin kukatakan padanya bahwa sekarang aku telah memiliki anak, tiga orang. Tapi, entah apa yang melarang hatiku melakukan itu.
            “Aku masih boleh memiliki nomormu?” begitu kalimat terakhirnya, sebelum berpisah. Dan akupun dengan sedikit berat, sedikit ikhlas memberikannya.
//
            Beberapa kali HP sederhanaku berdering nada SMS. Agak takut, aku enggan membukanya. Sesampai rumah, melihat ketiga mutiaraku aku jadi merasa bersalah. Apakah ia aku harus membalas SMS-SMS itu ?
            Lelaki baik.
            Begitu yang kuingat darinya. Agamanya baik, iapun berasal dari keturunan yang baik. Cerdas, dan loyal. Masalah wajah, ia berada diatas rata-rata. Bodinya yang tak terlalu atletis tidak menjadi bagian kurang yang terlalu mencolok. Pasalnya ia sangat pandai mengambil hati orang lain.
            Kebaikan-kebaikan dan kenyamanan saat bersamanya datang mendekati hatiku. Bagaimana ia bersabar atas manjaku, bagaimana ia menghadiri segala keluh kesahku, bagaimana ia menjadi penyebab kesenanganku, dan bagaimana-bagaimana ia yang dulu sangat kunikmati.
            Rindu pada masa itu perlahan merayap di hatiku. Rindu pada masa yang berakhir secara tidak sengaja.
            Astaghfirullah…
            Aku mengurut dadaku yang perlahan, meski kutepis telah menyemikan rindu yang terasa nyata.
//
            Hari menjelang malam, dan aku masih berbarengan dengan para buah hatiku yang tengah tekun membaca buku pelajaran. Hanya si bungsu yang merangsek di pangkuanku, matanya menyayu, tapi masih enggan menutupnya. Ia masih menunggu Ayahnya pulang bekerja.
            “Tidur saja, Umar.” Khazna putri sulungku menegur adiknya yang menahan matanya tetap terbuka.
            “Humh.” Umar hanya menjawab dengan cibiran, memeluk pinggangku erat.
            “Mungkin Ayah pulangnya agak malam. Kita tidur saja duluan.” Aku menengahi. Khazna dan Ibrahim tampak menyetujui, menutup buku pelajaran mereka. jam memang telah menunjukkan pukul sepuluh malam kurang beberapa menit. Dan suamiku tercinta belum juga pulang.
            “Iya, Bunda. Ngantuuuk…” Ibrahim yang masih duduk di kelas 4 SD itu merenggangkan tubuhnya. Matanya yang mengantuk dikejap-kejapkan. Ia telah menguap beberapa kali dari tadi.
            “Ya sudah, masuk kamar saja yah, Cinta.” Aku mengelus pipinya yang tembem seperti milikku. Ia mengangguk dengan bahagia. Khazna merapikan buku-bukunya dan buku-buku adiknya. Merekapun berlalu setelah mengecup pipiku.
            “Umar tidur juga yah, Sayang.” Kuusap kepala si bungsu yang masih 5 tahun itu dengan sayang. Ia menggeleng meski garis matanya kian mengabur.
            “Tunggu Ayah…” begitu kalimatnya. Umar memang paling dekat dengan ayahnya, entah faktor kemiripan atau memang karena ia paling kecil, aku tak tahu pasti. Tapi, meskipun ia keuh-keuh dengan niat mulianya menunggu sang ayah, akhirnya iapun terlelap di pangkuanku beberapa saat kemudian. Dan tepat saat aku memutuskan untuk membopongnya masuk kamar, suara kendaraan meraung memasuki halaman rumah. Aku tersenyum, menyubur syukur dalam hatiku. Suara tapak demi tapak langkah terkasih itu terdengar cepat, dia pasti tahu istri dan anak-anaknya telah lama menunggu. Aku tak bisa bangun untuk membukakan pintu, hanya menjawab salam darinya yang has. Iapun segera berhambur padaku dan Umar saat pintu utama dibukanya.
            “Sudah tidur yah? Maaf, Sayang. Ada urusan kantor yang harus diselesaikan.” Begitu katanya mengecup keningku. Aku tersenyum mengangguk. “Waah… jagoanku sudah tiduur…maaf membuatmu lama menunggu sayaang.” Ia mengecup pipi Umar dan segera melepas tasnya, menggendong si Bungsu ke kamarnya. Aku melihat punggung lelaki terkasih itu. segala hal telah kutemukan padanya. dan semuanya menarik urat sadarku untuk selalu bersyukur pada Allah…
//
            Pagi-pagi buta, kudengar derit ranjang karena suamiku meninggalkannya. Kubangunkan badan duduk di pinggir ranjang. Pasti masuk pagi lagi ini. fikirku dan segera menyiapkan segalanya di dapur. Seenggaknya suamiku harus minum susu hangat sebelum berangkat, meski berangkatnya belum subuh begini.
            Segera kupanaskan air, dan menyiapkan beberapa potong roti. Suamiku tidak bisa tidak sarapan, lambungnya cedera dulu ketika muda, karena tingkahnya yang cuek terhadap jadwal makan. Aku jelas tidak mau mengundang penyakit itu lagi pada diri lelakiku tercinta.
            Setelah semua siap, kutemukan suamiku telah rapi di kamar. Ia tampak gagah dengan seragamnya. Iapun menghadiahiku senyuman dari pantulan cermin. Aku sendiri tampak semrawut, belum sempat mencuci muka karena buru-buru menyiapkan santapan pagi butanya.
            “Hari ini rabu ya?” aku membuka percakapan, duduk di pinggir ranjang. Menyadari hari rabu adalah hari dimana ia harus masuk jam lima pagi. Suamiku mengangguk. Ia merapikan dasi berwarna kalem di lehernya. Kudekati ia dan kuambil alih kesibukannya.
            “Yaaah, masa’ gara-gara jadi ibu lupa hari, Cinta.” Ia menggodaku sembari cengengesan. Aku tersenyum.
            “Hari-hari kaya’nya sama semua.” Ujarku menyelesaikan dasinya. Kutatap ia yang kini tampak semakin gagah. Aku terenyuh sendiri.
            “Sama rasanya, tapi namanya bedaaa…” ia menjawil hidungku yang tak bangir. Dan aku hapal betul tingkahnya yang ini. jika geregetan ia akan melakukan hal tersebut, pasti hidung manjadi sasaran utama, atau kalau sepi maksudnya tak ada anak-anak ia akan mengecup pipiku. Hehe
            “Iya sii… maaf lupa, Sayang.” Aku menatapnya cinta. Lelaki dengan hati malaikat ini membuatku selalu berasa nyaman kapanpun.


Matahari Di Timur


Matahari di timur, menggelinding-linding
Menobatkan pagi merekah-rekah
Mataharinya menjadi tiga
Entah kapan ia beranak
Begitu saja tiba-tiba
Daur-daur…
Tiba-tiba matahari anak meledak,
Duar…!!!
Satu lagi menyusul
Duar…!!!
Kemudian perhatikan….pagi ini menjadi begitu lebih merekah…
Lihat?
Akrur…
Entah apa arti kata ini, ia dari imajinasiku, keluar-keluar begitu saja
Malam tadi adalah urah
Entah apa pula urah ini, iapun keluar dari iamjinasiku, keluar-keluar saja
Dam dam dam
Lengkingan senandung bara dada menjadi melodi yang manis, membuat gelombang padat kelam malam menguat-nguat
Burung hantu selalu alpha di daerah ini, mungkin mereka takut terungkap aib mata mereka yang lebar karena kerlip lampu
Jadi, malam tadi tidak ada suara yang menakutkan
Jangkrik mudik, menenteng antenna yang tertelan pada jidat masing-masing. Mereka marah pada orang-orang sini karena terlalu sibuk dengan ayam-ayam yang mereka potong lebaran kemarin, hingga lupa mengajaknya bertakbir, padahal ia sangat ingin
Akhirnya ia mudik tak berpamit, tanpa kikik tapi ditinggalkannya jejak. Sebab tak ingin ia lupa jalan kembali esok tuk kembali meramaikan malam sunyi orang.
Jadi malam tadi tak ada ramaian alam.
Manusia bertittle saya…tiba-tiba saja menjadi saya lagi, setelah sekian lama, saya saya tertelan pada saya yang saya.
Tuhan, berbaik hati kembali untuk kesekian-kian kali memberikan senyum yang bercabang-cabang.
Disuguhi-Nya manusia saya itu bulan di telapak tangan. Hingga wajah manusia saya bersinar-sinar dengan terpaan cahaya bulan.
“Untukmu”
Begitu Sang Baik Hati memberi jamuan malam-Nya kemudian duduk di samping sii manusia saya dengan wangi yang membuat manusia saya takkan pernah dusta dan lupa. Sungguh.
“Kuperlihatkan betapa saat ini menjadi begitu ringan dan rumit bagimu dan kekasihmu.”
Sang Baik Hati mengajak manusia saya menerawang langit kelam dan belajar menghitung bintang dengan alasan bukan menghayal. Manusia saya semakin berbinar-binar. Entah apa makna rumit dan ringan itu, otak standarnya tak kuat-kuat menopang itu. sungguh.
“Menarilah bersama kerjapan mata kalian, menyanyi bersama daur ulang hadiah-Ku selama ini.”
Sang Baik Hati merangkul pundak manusia saya.
“Aku tidak pernah jauh, selamanya.”
Tiba-tiba saja manusia saya mengucur air mata, banyak-banyak. Hingga bulan di tangannya hampir redup. Sang Baik Hati meliriknya dengan senyuman subur dan sejuk.
“Jadi saya harus apa?”
Bertanyalah manusia saya dengan hati yang berbongkah-bongkah dua dengan dominan pada warna yang terang, menyelinap dibalik jendela matanya. Sang Baik Hati kembali tersenyum, menghadiahi salju tidak dingin berbutir-butir.
“Padahal kamu tau jawabanmu.”
Ujarnya tak berat.
Manusia saya menahan nafas pada aroma batangan rokok, ia mengedip sekali dan menemukan sosok itu sama pada jelasnya. Ia disuguhi senyuman yang sama menyenangkannya dengan dulu-dulu. Manusia saya meneguk senyum itu dengan senyuman khasnya.
Sang Baik Hati menengok dari balik jendela dengan berbagi wangi.

haha

Masih Bisa


                Kukemasi barang-barang dengan pelan-pelan, diluar masih terdengar omongan-omongan tajam dari mulut seorang perempuan tua yang amat sangat aku hormati, ibu dari suamiku, mertuaku tentu saja. Tapi, omongan-omongan yang menyangkut diriku itu terdengar mengerikan dan merobek hati. Aku tau, mas Ghani tengah menunduk hormat mendengar ocehan ibu yang pahit tentangku. Meski mas Ghani tidak setuju, tapi aku paham kedudukan ibu lebih dariku, jadi tak ada sahutan sedikitpun dari mulutnya. 
                Barang-barangku sempurna masuk ke kopor dan aku tengah menyeret kopor ketika mas Ghani masuk ke kamar. Aku menoleh padanya dengan senyum, berusaha menguatkan hatinya. Ia mendekatiku dan duduk di pinddiran ranjang, menatapku yang tengah duduk di lantai menyeret kopor.
                “Ibu sudah pulang,” Ucapnya menunduk. Masih kupertahankan senyumku, meski hatiku tentu saja perih, sangat-sangat perih.
                “Ya, aku dengar deru mobilnya, Mas!” Ucapku dengan nada ringan.  Mas Ghani tak menyahut, kutangkap hembusan nafas beratnya. Aku kembali berusaha menyeret kopor dengan hati-hati. Tapi resletingnya tak juga berhasil kugeser.
                “Bisakah jangan pergi?” Mas Ghani menyentuh tanganku yang berusaha menyeret kopor. Aku ingin tersenyum. Tapi, aku tau menjadi kuat dalam keadaan seperti ini sangat-sangat sulit. Aku hampir menangis, tapi kuhembuskan nafas berat.
                “Ini permintaan ibu, kan Mas. Jadi, Mas tidak boleh mengutamakanku dari pada beliau!” Ujarku akhirnya mampu tersenyum, mesti sedikit.
                “Apa kamu fikir aku mampu tanpamu?” Ia bertanya denga tatapan memelas, astaga aku bahkan sesak harus menyadari keputusan ini.
                “Kita harus mampu, kalau hubungan ini tidak direstui ibu, barulah kita tak mampu!” Aku berusaha realistis dengan keyakinan kami, Islam yang suci. Mas Ghani kembali terdiam, ia kembali menunduk dalam. Kami tidak perlu memberi tahu, tapi kami memiliki perasaan yang sama, tentu saja. Aku menarik tanganku dari genggaman mas Ghani dan menutup resleting kopor, meski kurang sempurna. Kugeser posisi kopor, dan ku dekatkan posisiku pada mas Ghani. Ku raih tangannya dan menatap wajah tampannya dengan senyuman.
                “Jadikan Allah satu-satunya yang kau cintai, Mas!” Pintaku. Mas Ghani menatap mataku dalam-dalam, ada perih yang sangat tergambar disana.
                “Aku mencintaimu karena Allah,” Ucapnya hampir tak terdengar.
                “Karena itu, jika Allah ingin aku pergi, janganlah berat untuk melepasku, Mas!” Pintaku lagi, masih kupertahankan senyumku, meski kutau telapak tanganku dingin.
                “Subhanallah,,,” Mas Ghani mengalihkan tatapannya ke langit-langit kamar, kemudian kembali padaku, “Apa yang salah pada dirimu yang tak ibu terima, istriku?” Ia seolah menyesali apa yang terjadi.
                “Ssst...ini ujian kita, Mas! Semuanya pasti ada hikmahnya!” Aku menguatkan genggamanku pada tangannya, ia membalasnya. Kami saling menguatkan satu sama lain.
                “Aku tidak mau menceraikanmu!” Ucapnya membuat langit-langit hatiku perlahan sedikit cerah.
                “Aku juga tidak mau bercerai darimu, Mas!” Aku menjawab, menatapnya penuh kasih. Ia turun dari tepian ranjang dan menatap mataku dalam-dalam.
                “Karena Allah dulu aku mengambilmu dari keluargamu, dan karena Allah pula ku akan melepasmu,,,” Ucapnya membuat mataku menggenang. Aku berusaha tersenyum dengan bibir bergetar. Mas Ghani menarikku ke dalam pelukannya, menaruh kepalaku diatas dadanya. Kami diam, hanya isakku yang mengisi partikel-partikel sunyi.
*
                Mobil mas Ghani melaju dengan pelan di jalanan yang tak begitu ramai. Pikiranku melayang ke ibu. Aku pergi tanpa pamit, tepatnya tanpa sudi diterima oleh ibu. Aku menikah dengan mas Ghani hampir setahun yang lalu, selama itu ibu memang kurang menyukaiku, karena dulu ibu pernah ingin menjodohkan mas Ghani dengan putri temannya. Tapi, dengan bijak Mas Ghani dan Ayah mertuaku memenangkan ego ibu. Dan ibu bisa menyetujui pernikahanku dengan mas Ghani. Tapi, ternyata tidak seperti harapan, ibu sama sekali tidak berubah. Belum lagi sampai saat ini aku belum saja hamil, itulah alasan yang dibesar-besarkan ibu untuk memisahkanku dari mas Ghani.
                “Apa yang sedang kamu fikirkan?” Suara mas Ghani memecah dunia hayalku.
                “Tak ada, hanya sedikit lelah!” Ucapku tersenyum.         
                “Kita istirahat di kedai kopi?” Ajak Mas Ghani.
                “Boleh saja, tapi ini sudah masuk Isha, Mas. Nanti sampai rumahnya jam berapa?” Jawabku dengan pertanyaan. Mas Ghani tersenyum dan kembali serius mengemudi. Sekitar setengah jam kemudian kami sampai di rumah orang tuaku. Melihat mobil mas Ghani paskir di halaman, Abah yang terlihat membaca kitab kuning di teras menyambut dengan senyum lebar, lantas memanggil Bunda di dalam. Mas Ghani memeluk Abah dengan pelukan bersahabat yang lama. Dari balik pelukan itu Abah menatapku heran. Aku tersenyum dengan gurat mata yang tentu saja tak bisa kusembunyikan. Aku yakin Abah tau ada masalah.
                “Ayo, masuk dulu, Nak! Sudah malam begini datangnya, mau nginap?” Tanya Abah merangkul bahu mas Ghani. Aku mengikuti dari belakang. Bunda keluar dengan jilbab Ungu yang sederhana, mas Ghani menyalaminya dengan santun.
                “Lho??? Ini sengaja pulang apa mampir, Nha?” Tanya Bunda menoleh kepadaku. Aku menjawab pertanyaan Bunda dengan senyuman dan menyalaminya lantas mengecup pipi kiri dan kanannya yang sudah mengeriput tua. Merasakan sentuhanku, naluri keibuannya bekerja. Bunda menggandeng tanganku dengan sayang.
                “Kamu bantu Bunda buat minuman, ya?” Pinta Bunda. Aku mengangguk, kulirik mas Ghani dengan satu bahasa telepati, ia mengangguk. Akhirnya aku masuk ke dalam dengan Bunda, dan mas Ghani duduk di ruang tamu dengan Abah. Kami, sama-sama menceritakan perkaranya.
                Bunda memperhatikan raut wajahku dengan mata berlinang.
                “Kamu tak apa-apa, Nak?” Tanyanya mengasihani nasib putri semata wayangnya. Aku tersenyum lantas menggeleng.
                “Jangan ragukan Allah, Nda! Semuanya pasti yang terbaik,,,mungkin ini adalah ujian!” Ucapku menabahkan diri juga Bunda. Kulihat aura bangga tersirat di mata tuanya. Ia mengusap kedua pipiku.
                “Yah,,,Bunda akan selalu berada di dekatmu, sayang!” Ucapnya penuh kasih. Aku mengangguk dengan dua kristal bening menggelinding di pipiku, kemudian kucari ketenangan dalam pelukan Bunda terkasih.
*
                Abah memeluk mas Ghani sebelum mas Ghani masuk mobil. Abah dan Bunda tidak marah dengan kejadian ini. Semuanya seperti biasa saja. Mas Ghani menatapku dengan kasih sebelum menutup kaca mobilnya, aku mengangguk dengan senyuman, terngiang di telingaku janjinya sebelum pamit.
                “Aku berjanji akan menjemputmu sebelum habis masa iddah!”
                Begitu mobil keluar halaman, hening tercipta antara aku, Abah dan Bunda. Abah masih setia menatap gerbang yang terbuka, yang dapat kulihat adalah punggung tuanya. Tak lama ia berbalik, entah apa yang ia fikirkan aku hanya menunduk.
                “Tak apa, kita tunggu Allah membuka rahasia dari ujian ini!” Ucap Ayah seperti sambil lalu namun dengan senyuman. Membuat hatiku seperti dimasuki musim semi, terasa sangat sejuk. Ingin kuberlari dan memeluknya dari belakang seperti kecil dulu, tapi aku tau ini bukan saatnya lagi, aku hanya menatap punggung Abah yang memasuki rumah dengan sebuah tekad yang kutanamkan di hatiku.
                “Aku juga tidak akan lemah, Bah!”
*
                Hari ini adalah 3 hari sebelum masa iddahku habis, aku masih berusaha tenang. Allah masih tetap dan akan selalu menjadi sandaran. Ku usaikan maghribku dengan Yaasin, ada perasaan kurang enak yang mengganjal di hatiku. Meskipun kami berpisah, mas Ghani selalu memberi kabar, tapi kurang lebih satu bulan ini, ia seolah menghilang. Terkadang aku berfikiran kurang enak, mungkin ibu berhasil menjodohkannya lagi dengan perempuan pilihannya. Seperti kabar yang aku dengar dari mas Ghani, kalau ibu kembali mengenalkannya dengn putri temannya dulu. Ah,,,tapi aku tak boleh berfikiran tak baik. Kugulung sajadahku, rasa lapar menggerogoti perutku, entah kenapa akhir-akhir ini memang aku sering tak sadar dengan porsi makan yang bertambah. Aku bangkit dan hendak keluar, tiba-tiba pening menghujam di kepalaku. Aku beristighfar dan mengerjap-ngerjapkan mataku perlahan, tapi tak bisa.

                “Nha,,,makan malam dulu!” Kudengar panggilan Bunda di pintu, aku menoleh dengan wajah ya

Mariam dan Anaknya

“Tidak mau aku gugurkan Abah!” gadis berwajah manis ini bersikeras dengan urat bermunculan pada keningnya. Pipinya telah memerah, memar kupukuli sedari tadi. tapi ia tetap tak mau menggugurkan bayi haramnya.
                “Kamu ini membuat malu Abah saja, Mariam!!!” aku menelan amarahku yang terasa pahit.
                “Aku membuat malu Abah dengan perbuatanku, tapi bukan dengan anak ini. aku akan melahirkannya, apapun resikonya!!!!” gadisku, yang sangat mewarisi sifat keras kepalaku itu tetap tak tergoyahkan. Sebuah sentuhan lembut menyapa bahuku.
                “Biarkan saja dulu, Abah. Nanti kita bicarakan baik-baik. Malu didengar tetangga.” Suara istriku yang bergetar dengan tangis membuatku sedikit membaik, aku menuruti ajakannya untuk keluar dari kamar putri kami, ia menoleh sebelum menutup pintu. Kemudian memelukku ketika pintu tertutup. Entah apa maksudnya, memberikan kekuatan, atau meminta kekuatan dariku. Aku hanya memeluknya kembali, kami memang sedang sama-sama membutuhkan kekuatan saat ini.
//
                Pernikahanku dengan istri tercintaku Munawarah dikaruniai dua orang anak oleh Allah. yang pertama perempuan, lahir sembilan belas tahun lalu, kami beri ia nama Mariam. Nama ibu Nabi Isa as yang tercatat mulia dalam Al Qur’an. Tujuan kami tak lain sebagai do’a bahwa untuk kehidupannya ia bisa mencontoh Mariam yang suci. Kemudian anak kedua kami laki-laki, lahir empat belas tahun silam. Kami memberinya nama Said, nama anak angkat Rasulallah SAW. Harapan kami tentu saja, agar ia bisa meniru Said bin Tsabit yang terbilang paling dekat dengan Rasulallah SAW karena Saidlah yang selalu menemani Rasulallah, bahkan Rasulallah pernah menamainya Said bin Muhammad sebelum kemudian ditegur Allah SWT. Maka ketika seorang bisa mengikuti orang terdekat Rasulallah, maka bisa diharapkan juga mengikuti Rasulallah.
                Alhamdulillah, sejauh pernikahan kami semua terasa baik-baik saja. Ujian dan teguran Allah sama-sama kami hadapi dan terima dengan ikhlas. Aku membiasakan keluargaku untuk bersedeqah, disamping membayar zakat kudidikkkan pada semuanya untuk tak sungkan bersedeqah pada siapapun. Karena rezeki yang ada pada kita sejatinya adalah milik orang lain. Akupun membiasakan keluargaku untuk shalat tahajjud, shalat dhuha dan shalat taubat. Hingga ketiga shalat sunnah ini menjadi kerutinan bagi kami.
                Allahpun memudahkan rezeki kami. Aku dan istri telah berhaji, bahkan Ramadhan tahun ini ada rencana berumrah sekeluarga besar. Semuanya terasa aman dengan syukur.
                Hingga kisah ini bermula pada beberapa bulan terakhir, Mariam putri kami satu-satunya mulai mengenal lelaki. Ia masuk salah satu perguruan tinggi ternama dengan beasiswa pula, karena Alhamdulillah dia memang anak yang dikaruniakan otak yang pintar. Dari kampuslah ia berkenalan dengan seorang lelaki yang kerap ia ceritakan kepada Ibunya di rumah. Lelaki pintar yang baik hati, yang membuat hatinya jatuh. Aku memperhatikan dengan senyuman, sudah sewajarnya anakku mengenal perasaan itu. telah kudidik ia dengan basic agama yang baik, aku percaya ia tak akan mengecewakanku, begitu fikirku.
                Selanjutnya, ia semakin dekat dengan lelaki itu. beberapa kali pula ia mengajaknya ke rumah. Alhamdulillah, baik pula kulihat anak itu. hingga msuk semester 3, mulai ada kejanggalan pada Mariam. Ia sering pulang terlambat, beberapa kali aku dan istriku menegurnya tapi ia tak mengatakan apa-apa. Ia seperti kehilangan jati dirinya sendiri.
                Hingga petang tadi ia datang dengan wajah kusut, jilbabnya tak lagi pantas terlihat di wajah manisnya. Ketika kupanggil istriku untuk menanyainya, ia malah pingsan. Saat kami panggil seorang petugas kesehatan kampung kami tercengang, Mariam anak kami, putri semata wayang kami ternyata tengah hamil. Usia kehamilannya memasuki bulan kedua.
                Aku tak bisa menahan amarahku. Begitu ia bangun kutanya langsung dengan emosi penuh.
                “Siapa yang melakukan perbuatan haram itu!!!!” tanyaku, ia menatapku tenang, tatapannya tegar. Ia tak takut dengan amarahku.
                “Siapapun dia, semuanya sudah terjadi Abah.” Ia menjawab datar, dingin. Ia bersikukuh tak mau mengakui siapa ayah dari bayi yang ia kandung. Aku menamparnya beberapa kali, dengan isak ibunya yang tak henti, antara pilu dan kelu. Barulah ia mengaku.
                “Lelaki itu.” hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya. Kurasakan darahku menanjak cepat. Aku ingin menyeret lelaki biadap itu ke hadapan kami dan memintanya menarik kembali apa yang telah ia lakukan pada putriku, apa yang telah ia lakukan pada keluargaku. Tapi aku tahu itu mustahil, sangat mustahil semuanya sudah terjadi.
                “Dia tidak mau bertanggung jawab, Abah. Jadi sebaiknya jangan cari dia.” Putriku berujar dengan pipi yang memar, ia sama sekali tak menangis, “Ia menghinakanku, menghinakan keluarga kita. Jangan pernah memohon padanya. aku jijik!” Mariam melanjutkan. “Lagipula aku yang salah telah mempercayainya, aku juga yang menghinakan diriku untuk ia setubuhi. Bukan sekali tapi berkali-kali. Aku terlalu percaya pada makhluk Allah itu, hingga sekarang aku sendiri yang malu menghadap Allah atas perbuatan kami.”
                “Gugurkan!” aku mendengar sebuah kalimat keluar dari mulutku sendiri.
                “Tidak!!!” Mariam teguh.
                “Untuk apa kamu pertahankan bayi haram itu!”
                “Dia tidak haram. Ibunya yang haram, bapaknya yang haram, tapi dia tidak haram!!” begitulah, kekhilafanku memerintahkan Mariam untuk membunuh bayi yang ia kandung. Perlahan aku mulai menyesal, selepas shalat isya aku meminta ampun pada Allah kemudian berkunjung ke kamar putriku. Kulihat ia tengah duduk dengan bertengadah tangan diatas sajadahnya. Air matanya membasahi mukenah putih yang ia kenakan. Aku terenyuh, tentu saja putriku begitu tersiksa dengan ini semua. Semakin aku menekannya maka akan semakin berat pula beban itu untuknya.
                Istriku kembali muncul di belakangku dengan mata basah pula. Kami kemudian memasuki kamar Mariam putri kami, menghamipirinya dan duduk di kiri kanannya.
                “Maafkan aku Abah, Ibu.” Pinta Mariam dengan air mata berderai-derai. Aku dan istriku memeluknya, mencoba menguatkannya. Tapi kami dan kalian tentu saja tahu, bahwa air mata ini tentu tidak akan sampai pada mala mini, usia kandungan Mariam masih 8 bulan ke depan.
//
                Allah adalah yang maha adil, Dia tak menimpakan apapun kecuali kita mampu menanggungnya. Maka aku dan istriku mulai memperhatikan Mariam dengan lebih juga dengan bayi yang dikandungnya. Dua hari sejak kejadian itu, Mariam memutuskan untuk kembali kuliah. Dengan berbagai pertimbangan kamipun mengizinkannya.
                Sepulang kuliahnya kami bertanya padanya tentang perkuliahannya, ia menjawab dengan senyum cerah.
                “Alhamdulillah semuanya baik-baik saja.”
                Yaa, baik-baik saja. Secepat senyum itu hilang dari wajah putriku secepat itu pula baik-baik itu menghilang. Memang di kampus tak ada yang mengetahui kehamilannya, tapi di kampung dari mulut ke mulut perlahan aib putriku tercemar. Dan selentingan-selentingan tak mengenakkanpun mulai santer terdengar.
                “Insya Allah aku siap, Abah.” Istriku memegang tanganku kuat. Untung saja Allah masih memudahkan, bahwa Said masih di pesantren. Ia tentu belum baik untuk mendengar aib kakak perempuan tercintanya. Mariam? Ia malah tersenyum menanggapi selentingan-selentingan itu.
                “Aku memang berdosa, Abah. Aku menghinakan diriku. Maka aku pantas dihina.” Begitu ujarnya. Dibalik jendela matanya aku melihat ketakutan dan kesedihan, tapi putriku tetap tegar, ia telah siap dengan resiko sosial yang akan ia hadapi, ia bahkan tahu betul seberapa besar resiko itu. “Aku minta maaf jika nama Abah dan Ibu ikut dipergunjingkan. Aku belum bisa meluruskan ini, bisakah Abah dan Ibu bertahan?” ia bertanya mempertahankan bendungan air mata yang hampir jebol. Kurasakan tangan istriku bergetar, ia kemudian memeluk Mariam, menguatkannya. Melihat itu aku hanya mampu bertasbih pada Ilahi.
//
                Pada suatu maghrib, kedua orang tuaku dan orang tua istriku bertandang ke rumah. Istriku menatapku sambil menelan ludah, aku mengangguk meyakinkan. Sudah seharusnya masalah ini memang dihadapi bersama. Aku memanggil Mariam, dan kami bertiga duduk di hadapan orang tua kami. Mariam tampak tegar meski berhadapan dengan kakek dan neneknya.
                “Kakek mendengar dari nenekmu tentang pembicaraan santer tentangmu di kampung.” Ayah mertuaku memulai. “Kami jelas tidak percaya dengan semua ini, kenapa tidak kau luruskan omongan-omongan busuk orang kampung, Syaif?” Ayah menoleh padaku. Terlihat bibir bawahnya bergetar. Aku menelan ludah memohon kekuatan untuk kedua pasang orang tuaku atas masalah ini.
                “Tidak ada yang perlu diluruskan, Kek.” Mariam lebih dulu bersuara daripadaku, aku menoleh padanya dengan dada tegang.
                “Maksud kamu apa, Mariam?” Ibuku bertanya memburu.
                “Iya, Nek, Kakek. Apa yang dikatakan mereka memang telah lurus, jadi tak ada yang perlu kita luruskan.” Mariam menjawab tenang. Kedua pasang orang tuaku terdiam, aku menoleh pada istriku. Istriku tak bisa memberikan respon yang jelas.
                “Aku memang hamil, sekarang memasuki bulan ke empat. Sebentar lagi perutku akan membuncit, dan semuanya akan semakin jelas bahwa mereka memang tidak salah membicarakanku.” Mariam dengan suara bergetar menjelaskan duduk persoalannya. Orang tua kami mendengarkan dengan wajah penuh penyesalan.
                “Minta dia menikahimu!” Ayahku keras menggebrak meja. Istriku sampai kaget dibuatnya.
                “Dia tak mau, Kek. Aku sudah memintanya.” Mariam menjawab masih mempertahankan ketenangannya.
                “Dia harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan!” Ayahku naik pitam.
                “Bukan dia yang melakukan, Kek. Tapi kami. Aku juga mengambil andil dalam perbuatan kami. Aku sudah memintanya, tapi ia menyuruhku untuk menggugurkan kandunganku. Aku tidak sampai berfikir kesana, karena bayi yang aku kandung memiliki hak untuk hidup. Jadi aku tidak bisa melakukannya. Toh walaupun kami menikah masyarakat juga akan tahu kami telah berbuat haram sebelumnya, karena anak ini pasti akan lahir lebih cepat dari seharusnya.” Mariam berkata panjang lebar.
                “Kamu memalukan Mariam!!! Kakek tidak bisa mengerti jalan fikirmu, sudahlah! Kamu hadapi saja hasil dari perbuatanmu itu. kakek tidak mau ikut campur. Mulai dari sekarang kamu bukan keluarga kami.” Ayahku yang memang berwatak keras menarik lengan ibuku dan hendak pergi.
                “Aku memang hina, Kek.” Mariam mencegah langkah Ayahku, “Aku akan siap menanggung resiko dari perbuatanku. Tapi sampai kapanpun darah kakek tetap mengalir dalam diriku.” Istriku menyentuh bahu Mariam, takut terjadi sesuatu yang lebih tak diperkirakan.
                “Ya, seharusnya kamu sendiri yang menanggung resikonya. Bukan kami, bukan keluargamu!!! Pezina kamu!!!” Ayahku benar-benar murka. Aku berdiri hendak menengahi, mereka jelas tak bisa diberikan kesempatan ini. mereka memiliki watak keras yang sama.
                “Sudahlah Ayah, kita bisa berbicara dengan baik-baik.” Aku mendekati Ayahku.
                “Kamu juga, Syaif. Tidak becus mendidik anak-anakmu. Lihat bagaimana aku mendidikmu dari kecil sehingga kamu bisa seperti ini, kamu tidak belajar dari itu semua?! Kamu malah mendidik putrimu menjadi pezina!” Aku malah jadi ikut panas mendengar kalimat Ayah barusan. Bagaimana tidak? Aku pastikan seumur-umur aku mendidik Mariam, aku tidak pernah mendidiknya untuk menjadi seorang perempuan lacur. Ini semua kekhilafan, ini semua kecelakaan, tapi kenapa Ayah malah menyalahkanku.
                “Sudahlah..” suara lembut ibu istriku terdengar sebelum sempat aku menyahut, “Coba kau ambilkan air putih untuk kita, Muna.” Ibu mertuaku menoleh pada istriku. “Kita perlu mendinginkan suasana ini.” lanjutnya. Istriku patuh, beranjak ke dapur. “Duduklah dulu, kita tidak bisa menyelesaikan ini dengan amarah. Kasian kita, kasian keluarga, kasian juga pada Mariam. Kita cari jalan terbaiknya dengan datang kesini bertujuan musyawarah. Kenapa jadi ribut begini.” Ibu mertuaku menatapku bergantian dan Ayahku. Kami sama-sama menelan ludah dan kembali menempati korsi kami masing-masing.
//
                Sampai malam menghampiri tengahnya Ayahku masih tak bisa menerima cucu perempuannya melakukan perbuatan haram itu. ia bersikeras mengeluarkan Mariam dari tatanan keluarga. sedang ibu dan ayah mertuaku lebih bijak ingin mengasingkan saja Mariam agar tak diketahui sesiapa. Tapi Ayahku sendiri menganggap itu sangat pengecut, bagaimanapun mereka menyembunyikan Mariam semua pasti akan tahu tentang itu.
                “Lama sekali kita menemukan jalan keluar ini, bagaimana kalau kita Tanya saja Mariam keputusannya.” Istriku mengusulkan setelah sekian lama tadi ia hanya diam.
                “Tak uasah Tanya Mariam, apapun yang ia ingin perbuat kita tetap akan menanggung malu.”
                Aku menelan ludah, sedari tadi sering kulakukan hingga mulutku terasa kering. Begitu hebatnya efek dari perbuatan haram ini. benarlah bahwa memang karena nila setitik rusak susu sebelaga. Sebaik apapun putriku sebelum ini, seshalihah apapun dia sebelum ini, tapi sekarang masayarakat telah berpandangan lain terhadapnya. Ia bukan Mariam yang dulu, yang baik, yang ramah, yang pintar, yang menjadi buah bibir manis masyarakat. Ia sekarang adalah Mariam yang hina, yang lacur, yang meskipun berasal dari keluarga baik ternya tak bisa menahan nafsunya, yang menghinakan sekali keluarganya, ia yang begitu menjijikkan. Tiba-tiba saja mataku panas mengingat itu semua. Anakku melakukan kesalahan haram, seperti inilah yang masyarakat fahamkan tentangnya. Bahwa ia tak bisa menjadi yang mulia seperti namanya, seperti yang kami harapkan. Tapi tentu saja diantara kami semua tak ada yang tahu tentang kejadian sepenuhnya dan sebenarnya bagaimana. Kami tentu belum tahu rahasia apa yang Allah  tulis dibalik semua ini, hikmah dari semua ini belum muncul jika kita mencarinya sekarang.
                “Maaf, Ayah, Ibu …” aku menengahi, seluruh pasang mata yang hadir menoleh padaku. “Mariam memang telah melakukan hal yang haram, ia telah berdosa banyak. Karena perbuatannya ia dihinakan di hadapan Allah. bahwa dikatakan dalam Al Qur’an, agar kita tidak mendekati zina karena ianya termasuk dosa yang besar. Tepi ternyata Mariam khilaf, saya ulangi sekali lagi ia khilaf. Kita sedari tadi bermusyawarah untuk menyembunyikan aib Mariam, kenapa? Karena aib itu merembes pada kita. Sejatinya dari tadi kita sedang berusaha mencari selembar kain untuk menyembunyikan cacat pada bagian tubuh kita, kita berbicara tentang keselamatan kita…lalu bagaimana dengan Mariam? Akankah kita berfikir tentang perasaannya, derita yang ia tanggung saat ini? dimana dia akan menyandarkan kepalanya saat kita orang terdekatnya saja ingin mengasingkannya? Pada siapa ia akan mengadukan kelunya kalau kita keluarganya saja tak peduli padanya? tak cukupkah ia menghinakan diri? Dihinakan masyarakat? Merasa berlumur dosa di hadapan Allah? sehingga kita harus menambahnya?” kudengar isak istriku dan tatapan semuanya melemah.
                “Ingatkah Mariam? Seperti apa baktinya kepada kita selama ini? seperti apa ia menjadi cucu yang selalu kalian bangga-banggakan ke penjuru, bahkan di Makkahpun kalian tetap menjadikannya buah bibir kebanggaan. Mariam yang teguh, itulah cucu kalian. Mariam menyadari kesalahannya, ia menghinakan dirinya, ia siap dengan selentingan-selentingan itu. saya rasa ia benar, memang perbuatannya haram, ia hina, tapi anak dalam kandungannya tetaplah memiliki hak untuk hidup, ia makhluk yang hadir karena perbuatan haram benar, tapi apakah ia memiliki kesempatan untuk memilih? Mariam benar bahwa anak itu tak boleh mati, jika ia menggugurkannya setelah melakukan zina, haruskah ia menjadi pembunuh juga? Mariam paham itu semua, maka ia bersikukuh untuk mempertahankan bayinya. Apakah ayah dan ibu berfikir Allah akan murka pada tindakannya? Saya sebagai ayahnya meridhainya, memaafkannya, dan akan menemaninya menghadapi ini. ibunyapun telah siap, selanjutnya terserah ayah dan ibu. Tapi ingatlah satu hal, bagaimanapun kita menyembunyikan atau tidak menganggap Mariam dalam keluarga ini, seluruh orang telah tau ia termasuk keluarga.” semuanya terlihat menghela nafas, ibuku dan ibu mertuaku menangis.
                “Panggillah Mariam…” pinta ibuku. Istriku beranjak dan beberapa saat kembali bersama Mariam yang masih bermukenah dengan mata sembab. Aku merasakan mataku berair, melihat bagaimana putriku begitu tulus meminta ampun pada Allah…aku tak bisa meninggalkannya, apapun yang telah dan akan terjadi, aku akan tetap menemaninya.
                “Duduklah.” Pinta istriku padanya, Mariampun duduk di korsi antara aku dan ibunya. Ia sedikit menunduk, sedikit tegak. Tampak takut tapi pasti akan menerima keputusan kami. Ibuku menjulurkan tangannya dan menggenggam tangan Mariam dengan bibir bergetar dan mata berair.
                “Nenek memaafkanmu…nenek akan menemanimu…apapun yang terjadi.” Katanya. Ibu mertuakupun melakukan hal yang sama.
                “Kamu akan menghadapi resiko yang besar, cucuku. Nenek harap kamu kuat, jika ada apa-apa, maka jangan disimpan sendiri. Kamu punya kami, keluargamu yang dalam keadaan apapun akan selalu ada di sampingmu.” Begitu kalimat ibu mertuaku dengan mata berair juga. Ayahku bangkit dari korsinya, ia yang awalnya begitu keras kini mendekati Mariam. Ia berdiri di belakang korsi yang diduduki Mariam, mengusap ubun-ubun cucu perempuannya dengan tangan bergetar. Ia tak berkata apa-apa, egonya begitu tinggi tapi kami tau ia pasti telah ridha. Kini giliran ayah mertuaku yang serta merta mendekat dan memeluk bahu Mariam.
                “Kakek ini lelaki juga, Mariam. Dan kakek tidak sama dengan lelaki itu. bagaimanapun hinamu sebagai lelaki kakek aka nada buatmu…kau dengar?” Mariam mengangguk dengan bendungan air mata hampir jebol. Ia memang sangat dekat dengan Ayah mertuaku sedari kecil.
                “Tak usah hawatir, kami siap untuk ada di sampingmu sampai kapanpun sayang…” istriku mengusap-usap pipi Mariam. Sedang aku? Aku tak perlu melakukan apapun, aku sudah bahagia dengan ini semua. Malam inipun berakhir dengan tangis kami semua, Mariampun ikut menangis…baru kali ini ia menangis di hadapan kami. Sejak kejadian ini ia tak pernah menunjukkan air matanya pada kami, selama ini ia hanya menangis di hadapan Allah saja. Yaa Allah lihatlah ini…kami menerima Mariam kembali pada bagian dari kami, Engkau tentu lebih bijak daripada kami bukan?

//

LELAKI ALAMI

“Tahan emosimu…” ia menggenggam tangan Sara dengan lembut, matanya menatap mata Sara yang membara. Sosok itu tersenyum, kemudian menarik perempuan itu dalam pelukannya.
“Jangan biarkan amarahmu beruntung.” Ujarnya, mengusap kepala Sara dengan sayang. Perlahan amarah Sara meredup, ia menghela nafas panjang, pada tahap selanjutnya membalas pelukan sosok itu.
***
Lagi-lagi, Hari selalu bisa menenangkannya. Bagaimanapun emosi itu menguasainya jika Hari sudah menariknya dalam pelukannya, Sara akan luluh. Luluh dengan aroma khas lelaki itu, luluh dengan hangat dan nyamannya tubuh lelaki itu, luluh dengan sabar dan lembutnya Hari.
Suaminya.
Sara mengingat-ingat lagi, bagaimana Ibu Fit, tetangganya menghina suaminya habis-habisan. Ibu Rumah Tangga yang bertubuh gempal itu mengatakan bahwa suaminya tukang selingkuh.
“Sering pulang malam ya selingkuh namanya. Apalgi?” Ujar Ibu itu sinis. Sampai disini Sara masih bisa menahan diri. Meski demikian ia ingin segera mengangkat kakinya dari depan rumah Ibu itu, segera membayar belanjaannya pada tukang sayur yang secara kebetulan berhenti disana.
“Kamu sih nggak becus menjaga suami.” Sara heran kenapa Ibu Fit selalu bersemangat mengurus rumah tangga orang. Parahnya lagi, Ibu tiga anak itu tidak segan-segan menghina orang lain di hadapan orang itu sendiri.
Tidak bisakah ia menjaga perasaan orang?
Sara memutuskan diam, masih mengusap-usap sabarnya yang perlahan digauli amarah. Siapapun jelas tidak suka kalau dihina-hina begitu.
“Ah, kalau dilihat-lihat kamu pandai menjaga diri. Sudah anak dua tapi badanmu masih singset.” Nah ini ada apa lagi, curiga Sara dalam hati.
“Mm…berarti suamimu itu yang gatel. Nggak bisa liat perempuan lain. Ah, kasihan kamu.”
Tuh, kan lain lagi katanya.
Sara sudah mengeluarkan uang dari dalam dompet ketika Ibu itu kembali membuka mulut.
“Mungkin faktor keturunan tuh. Kan suami kamu nggak jelas orang tuanya. Makanya begitu kelakuannya. Besok jangan-jangan dia juga pergi ninggalin kamu dan anak-anakmu.”
“Jaga bicaranya, Bu.” Kali ini Sara tidak mampu menahan diri. Ia sampai bergetar. Hatinya sakit mendengar suaminya dijelek-jelekkan sampai mengungkit masalah keluarga.
“Lha memang benar. Kamu tu seharusnya makasih, saya masih perhatiin hidup kamu. Masih kasihan…”
“Saya tidak rugi kalau Ibu tidak memperhatikan.” Sara masih berusaha menggigit amarahnya. Diserahkannya uangnya pada Bapak penjual sayur yang menatapnya prihatin, “Tolong berhentilah mengganggu Rumah tangga orang.” Lanjut Sara sembari pergi. Tak dihiraukannya lagi ocehan Ibu Fit yang masih saja menganggap dirinya benar. Juga panggilan Bapak tukang sayur yang mengingatkan kalau ia masih memiliki kembalian.
***
Sepulang suaminya dari tempat kerja, Sara menumpahkan kekesalannya. Ia bahkan sampai menangis cukup keras. Tidak terima suaminya dihina demikian. Hari yang sangat dihormatinya diinjak-injak dengan kalimat-kalimat yang tidak pantas diucapkan.
Hari menanggapi dengan tenang, bahkan tersenyum. Menggenggam tangannya dan memeluknya.
“Jangan biarkan amarahmu beruntung.” Pintanya sembari mengusap kepalanya. Ia tenang, ya Sara berhasil menemukan ketenangan dalam pelukan suaminya. Tapi ia tetap tidak habis fikir, kenapa suaminya bisa menerima semua dengan begitu mudah? Tanpa marah, bahkan dengan senyuman?
Sara ingin protes, tetapi belum sempat ia membuka mulut Hari menyerobot kesempatan itu…
“Aku bawa jagung bakar buat kamu. Mau?” tanyanya. Sara tersenyum, Hari memang selalu bisa membuatnya nyaman.
“Kan kakak tau, aku kurang suka jagung bakar.”
“Ohya ya? Mungkin aku terlalu tua. Sampai lupa apa yang disukai istriku.” Seloroh Hari sembari merangkul pundak Sara. Dengan satu tangan yang lain ia menjangkau plastik hitam yang ditaruhnya diatas meja. Kemudian menyerahkannya pada Sara. Sara menerimanya dengan tersenyum, masih menanggapi selorohan lelakinya.
“Kok nggak bau jagung bakar?” tanyanya heran sembari membuka plastik hitam itu. ia melongokkan sedikit pandangannya ke dalam plastik, seketika itu aroma jagung rebus menyapa hidungnya. Senyum Sara merekah, hatinyapun merona. Ia menoleh pada Hari yang menatap arah lain dengan cuek.
“Ini jagung rebus, kan? Kenapa tadi bilang jagung bakar?” Tanya Sara menyenggol pinggang suaminya.
“Ohya ya? Berarti aku suami yang baik.” Agak tidak nyambung memang. Tapi Sara tertawa kecil, mengarahkan kedua lengannya untuk melingkarkannya di pinggang Hari, tapi sebelum sempurna lengan itu melingkar, sesosok anak kecil yang tidak lain anak bungsu mereka masuk ke ruang tengah dimana mereka berada.
“Ibu, haus.” Ujarnya mendudukan pantat di pangkuan Sara. Sara bengong sesaat kemudian tertawa kecil. Lengan yang tadinya ditujukan pada sang Ayah akhirnya melingkar di tubuh anaknya.
“Ohya? Baim mau minum apa, Sayang? Teh? Susu?” Tanya Sara sayang. Hari melirik dengan tersenyum, tapi menyenderkan punggungnya pada sofa di belakang mereka. Dengan suara yang dikecewakan ia berujar.
“Yah…gak jadi kena.”
Sara menyambut dengan tawa ringan.
***


Kurna

                Pada malam di pertengahannya, berpegang teguh pada kasih Tuhan. Bersujud dengan dosa bertumpuk, terngiang dan terbayang jelas…Kurnia menangis membasahi mukenah putih bersihnya. Ia memecah malam dengan tangisnya, yang tiada ianya mendengar kecuali Sang Esa.
*
                “Bisakah kau menyakitiku dengan syarat?” Kurnia menatap wajah tampan itu dengan pandangan kabur. Melebur seluruh rasa kecewanya pada makhluk tak berperasaan itu.
                “Saya sudah jelaskan semuanya!” Sosok itu mengomentari dengan tatapan menghujam pada titik pusat jendela hati Kurnia. Air di pelupuk itu terasa semakin penuh dan hampir tumpah, nafas pada dada Kurnia tersedat-sedat berusaha menyamai rasa sesak hati dan ekspresi reflex pernafasannya.
                “Tapi kamu tidak bisa seperti ini, Kak.” Kurnia seolah memohon, memohon seoonggok rasa kasihan pada sosok itu.
                “Tidak ada, aku sudah tidak punya alasan untuk diam” Sosok itu masih sekejam sebelum-sebelumnya. Kurnia tidak habis fikir kenapa dulu ia bisa mencintai sosok itu, bahkan teguh sampai saat ini.
                “Innalillah…” Bibir Kurnia bergetar dengan air mata yang sempurna tumpah, tidak ada alasan untuk diam??? Bagaimana sosok itu bisa membuat semuanya begitu ringan? Dengan semua yang telah terjadi?
                “Bagiku kamu tidak bisa membuatku nyaman lagi,” Sosok itu menarik langkah sedikit menjauh dari Kurnia. Kurnia tak ingin memberikan sosok itu menjauh, ia ingin sosok itu diam, memberi kehangatan padanya seperti ianya selama ini, kemudian akan terus begitu selamanya, atau Kurnia ingin menarik sosok itu, menamparnya, memukulnya, mendorongnya ke tengah rel kereta api, dan melihatnya mati tak berbekas. Tapi Kurnia beku, kakinya seolah dipaku pada tanah pijakannya. Hingga sosok itu sempurna tak disampingnya Kurnia masih membeku disana, dengan bahu turun naik mengikuti irama sesaknya.
*
                Malam itu hujan, menyempurnakan dingin pada kebersamaan mereka. Kaki mereka telah sempurna basah dan berlumpur, bibir Kurnia bergetar kedinginan. Sosok itu menoleh padanya.
                “Tak apa-apa, Sayang?” Tanya sosok itu, Kurnia menoleh dan berusaha mengangguk dengan rasa dingin yang memeluknya sempurna. Ia menggigil.
                Hup!
                Tiba-tiba saja lengan kekar dan hangat itu merangkul bahunya, kemudian merapat. tanpa kata, dengan diam dan pipi sedikit merona sosok itu memeluknya, berusaha memberikan sedikit kehangatan, berbagi pada kondisi minim yang hampir sama. Kurnia tidak menolak, ia malah tersenyum merasakan kasih sayang yang begitu hangat itu.
                “Masih kuat dingin?” Tanya sosok itu, Kurnia diam sejenak, sudah amat larut untuk diam di depan ruko itu, setidaknya bisa ditahannya jika sampai rumah dengan motor. Kurnia mengangguk, “Aku antar pulang saja ya?” Ada nada tak enak dalam kalimat sosok itu. Kurniapun menyetujui disertai senyum. Merekapun memecah hujan diatas motor, dingin menusuk tanpa ampun dari jatuh kejam hujan dan kencang angin.
                Agak ragu Kurnia melingkarkan lengan di pinggang sosok itu, dan tanpa ia duga tangan sosok itu menggenggam jemarinya, Kurnia tersenyum. Meletakkan wajahnya pada punggung itu.
*
                Di kamar mandi Kurnia mengganti pakaian basahnya dengan buru-buru, dingin telah sempurna menggerogotinya. Ia tak memakai sabun selama biasanya, kemudian memakai handuk tebal dan keluar kamar mandi. Di luar sosok itu menunggu dengan gemetar.
                “Masuk gih, ganti baju. Nanti pakai baju kakak aja!” Kurnia menarik lengan sosok itu dan mendorongnya ke kamar mandi. Rasanya sedikit canggung memang hanya memakai handuk di hadapan sosok itu, tapi ini kondisi darurat. Sosok itupun masuk ke kamar mandi, sementara itu Kurnia mengganti handuknya dengan baju tidur longgar. Ia ke dapur memasak air hangat untuk membuat kopi hangat.
                Blup, blup, blup.
                Mendidih juga, Kurnia membuat dua gelas kopi susu dengan telaten dia memang suka pekerjaan ibu rumah tangga.
                Tap, tap, tap.
                Langkah-langkah pelan memasuki dapur, Kurnia menoleh dan terkejut melihat sosok itu hanya datang dengan handuk.
                “Ya ampun!” Serunya, “Maaf aku lupa, ini diminum dulu kopinya, aku ambilkan pakaian!” Kurnia memeberikan segelas kopi susu pada sosok itu, sosok itu menerimanya dan menghirupnya sembari menatap Kurnia yang berlari pelan masuk ke salah satu kamar. Tak lama Kurnia kembali keluar dengan pakaian di tangannya.
                “Ini dia, pakai saja. Nggak apa-apa!” Kurnia tersenyum. Sosok itu menatapnya tanpa kata. Kurnia jadi canggung mendapat tatapan begitu. Sosok itu mendekat dan terus hingga tak ada jarak lagi diantara mereka. Kurnia diam, merasakan darahnya tak lagi mengalair. Sosok itu mendekatkan wajahnya.
                Dan tanpa kata, malam itu terlewati begitu…gelap bagi Kurnia.
*
                Pagi datang tanpa ketukan, membuat mata Kurnia terbuka dan mengerjap-ngerjap. Hingga ianya sempurna terbuka, Kurnia mendapati wajah sosok itu masih terlelap merengkuhnya, wajah itu terlihat lelah, masih setampan sebelumnya.
                Dan mereka berdua masih tanpa busana. Agak sedikit sesak Kurnia memberanikan dirinya berfikir tentang yang telah terjadi semalam, ada perih di ulu hatinya, tapi ingatan lalu lebih mendominasi fikirannya.
                “Kamu sangat manis, Sayang!” Ibu jari itu menyentuh kening Kurnia dengan kasihnya, kemudian telapaknya menyentuh kepala Kurnia dengan sayangnya. Sosok itu begitu hangat dan menyamankan.
                Kurnia menatap sosok itu, kemudian mempererat pelukannya…hingga matahari menjadi enggan mengganggu kebersamaan mereka.
*
                Dan kini, hanya Kurnia yang tersisa pada titian yang mereka bangun itu. hanya ia yang terpuruk pada hubungan penghasil jeruji panas itu. bagaimana mungkin sosok itu bisa melupakan segalanya hanya dengan sekali singkap???
                Pada siapa Kurnia akan mencari pegangan,? Pada apa Kurnia akan berpegang,? Hingga ia hampir memutuskan untuk mengakhiri semuanya, Kurnia ingat ia punya Tuhan. Tuhan yang menaunginya, dan ia berlari ke jalan itu, tertatih menjeput kasih Tuhan, yang telah dengan lama ia duakan bahkan lupakan.
                “Tak apa Kau tak maafkanku, Tuhan…aku hanya ingin Kau menemaniku, ingin berpegang pada-Mu”
*

                Suatu saat akan datang pemahaman, pada setiap kalian…bahwa kesalahan itu tidak diakibatkan pada penyebabnya, atau akibatnya. Tapi pada saat kalian mengerjakannya. Adakah pada saat kalian mengerjakannya setan ikut membantu kalian??? Memang hawa nafsu mengambil andil, tapi akankah hawa selalu tersudut pada masa itu? karena berpakaian beginilah, begitulah…salah hawa memang begitu, tapi akal kalian, akal pada nafsi itu, kalian apakan????? Pergi dengan meninggalkan bekas tanpa belas,,,dimana akal kalian?????? Shit.!

Kisahkan Aku Haramainku

BUNDA_
            “Assalamu’alaikoooom…!” Sebuah suara mungil menentraamkan batin terdengar dari pintu depan. Aku menjawab salam keselamtan itu dengan lembut, kemudian kusongsong sosoknya yang tampak imut dengan jilbab kecil dan pakaian seragam SD.
            “Bunda, hari ini jadi daftar, kan? Aku dah dapet ijazah…!” Pertanyaannya membuatku tersenyum sembari menggantung ransel kecilnya.
            “Lho terserah Abi, nanti Tanya sendiri.” Jawabku kembali ke dapur. Ia mengekoriku dari belakang.
            “Teman-teman yang lain udah pada daftar semua, Nda. Masa’ aku belom?” Ia mengeluh sembari membuka jilbabnya dan menaruhnya di korsi sembarangan.
            “Makanya nanti Tanya Abimu dulu, taruh jilbabnya di kamar sana, ganti baju, shalat kemudian makan!” Pintaku lembut. Meski sedikit cemberut dengan dengusan kesal ia tetap melaksanakannya.
            Ia adalah putriku yang baru berusia sepuluh tahun, namanya Waidha Amalia Amien. Di usianya yang ke sepuluh, ia sudah berhasil menamatkan Sekolah Dasarnya. Karena memang ia tidak duduk di kelas satu dan dua, melainkan langsung di kelas tiga. Kecerdasan yang menurun dari Abinya.
            Sekarang ia begitu ingin melanjutkan sekolahnya di SMP. Bukan apa-apa, aku bahkan menyerahkan sepenuhnya padanya, toh kami, aku dan Abinya bisa mengontrol dari rumah saja. Tapi, secara pribadi, aku ingin ia masuk di sekolahku dulu, yang hingga ia berusia delapan tahun tetap menjadi dongeng untuknya, karena selalu kuceritakan. Tapi, saat ia berhasil menamatkan pendidikan dasarnya, ia ingin masuk ke SMP saja. Aku sama sekali tidak mengingatkannya pada sekolahku yang dulu. Biarkan saja, mungkin ini jalan lain Tuhan, atau bagaimana. Kuserahkan pada waktu saja.

WAIDHA_
            Uumh….kulempar jilbabku seadanya, sampai hari ini Bunda masih belum mau saja mendaftarkanku ke SMP yang aku ingini.
            “Tunggu Abimu dulu!” Selalu berkata begitu, ah,… jadi nggak sabar. Walaupun aku masih terbilang kecil, mungil dan usia masih dua tahun dibawah teman-temanku, aku ingin sekali masuk SMP itu. aku ingin mengganti rok merah ini dengan biru segera.
            “Sayang….sudah whudunya? Ayo zuhur samaan!” Kudengar suara Bunda di ambang pintu, aku menoleh memaksakan tersenyum. Kemudian menggeleng. Bunda tersenyum…
            “Bunda tunggu di ruang shalat, ya?!” Pintanya. Aku mengangguk, begitu Bunda beranjak aku ke kamar mandi dan mengambil air whuduku. Setelah itu aku beranjak ke tempat shalat yang berada di halaman rumah, sebuah bangunan mungil yang biasa kami gunakan shalat dan mengaji bersama. Kemudian aku dan Bunda shalat berjama’ah.

BUNDA_
Malam ini aku, Abi dan Waidha berkumpul di ruang keluarga. Telah lima belas menit berlalu, Abi belum juga membuka suara. Kulirik ia di sampingku, sebuah wajah bijak\, lembut dan tegas. Ia membuka kaca matanya dan melipatnya kemudian menaruhnya diatas meja.
Kurasakan tendangan syahdu di perut buncitku. Kuelus ia pelan.
            “Jadi mau masuk SMP mana, Sayang?” Tanya Abi menatap Waidha dengan senyuman lembut, mataku ikut mengekori tatapan Abi. Putri semata wayangku itu mengangkat wajahnya dengan mata berbinar. Kemudian menyebutkan nama sekolah yang ia inginkan. Aku menghembuskan nafas pelan.
            “Besok, Abi antar daftar kesana.” Ujar Abi, aku menoleh padanya, kurasakan mata kanak Waidha juga menoleh padaku.
            “Tentu saja berdua, Bunda biar menjaga rumah dan adek saja…” Begitu ujarnya, dan aku berusaha tersenyum mendengarnya. Kembali kuelus perutku yang di dalamnya hidup seorang titipan Allah, yang beberapa hari lagi akan menatap dunia ini.

WAIDHA_
Pagi yang cerah, aku dan Abi sudah berada di dalam mobil untuk mendaftar ke SMP. Aku menatap pohon-pohon di pinggir jalan yang terlihat berlari berlawanan arah dengan laju mobil.
            “Sayang,” Sebuah panggilan lembut menyapa telingaku. Aku menoleh, dan menemukan Abi tersenyum padaku, kemudian kembali menatap jalan.
            “Kenapa, Bi?” Tanyaku menatapnya, yang kini kembali asyik mengemudi.
            “Kamu senang hari ini?” Tanyanya. Aku tertegun sejenak. Kemudian menjawab pasti,
            “Tentu saja!” Jawabku. Abi tersenyum, kemudian membelokkan laju mobil ke kiri melewati lampu merah. Alisku mengkerut, apa benar ini jalan ke SMPku? Tapi aku enggan bertanya, mungkin Abi mau ke suatu tempat dulu.
            Tak lama, mobil memasuki sebuah lingkungan yang terlihat penuh dengan bangunan-bangunan bertingkat. Aku mengedarkan pandanganku, terdengar olehku suara alunan Al Qur’an dari … em, mungkin itu aula. Atau apalah… Abi memarkir mobil di depan bangunan itu, kemudian memintaku untuk turun.
            “Abi ini dimana?” Tanyaku pada Abi yang menarik lenganku penuh kasih. Lagi-lagi Abi tersenyum.
            “Kamu tau itu namanya bangunan Australia, disana terdapat beberapa kelas untuk santriwati…di sampingnya,..” Abi menunjuk bangunan bertingkat tiga di samping bangunan megah yang tadi, yang Abi sebut bangunan Australia, “Namanya Bangunan Swiss atau dikenal dengan Swiss building…” Abi menunduk padaku masih tersenyum.
            “Yang itu, mashalla kan, By? Kemudian ruangan pojok bawah kiri itu…lab computer…” Tiba-tiba saja aku mengenali wilayah ini. begitu lekat dan dekat rasanya, ini dimana…???
            Seorang wanita berjilbab putih mendekati kami disertai senyum teduh.
            “Ahlan wa sahlan…ada yang bisa saya Bantu?” Tanyanya. Aku terdiam menatap senyum teduh itu.
            “Ahlan bik…saya dan putri saya ingin tau lebih tentang…” Aku mendengar Abi menyebut sebuah nama…nama tempat yang kerap menemaniku sebelum tidur…dulu…ya dua tahun lalu…

BUNDA_
Abi dan Waidha baru saja berangkat mendaftar. Seperti yang dikatakan Abi, aku tidak boleh ikut serta. Entah kenapa, mungkin Abi tau sebenarnya yang aku inginkan. Akarena memang aku tidak pernah menyembunyikan apa-apa darinya. Hanya saja, kutekankan padanya untuk tidak memaksa Waidha dalam segala hal. Aku ingin ia berkembang sejalan dengan mimpinya saja.
Kumulai kesibukanku hari ini dengan setumpuk cucian. Aku melihat keranjang pakaian kotor, menumpuk sekali. Kuangkat keranjang penuh itu dan membawanya ke dekat mesin cuci. Kubuka mesin cuci dan memasukkan pakaian-pakaian yang tidak luntur, menambahkan deterjen dan menutupnya kembali, yang terakhir kuhidupkan. Mesin itu terdengar sibuk dengan pakaian-pakaian yang berputar-putar di dalamnya.
Uh!
Tiba-tiba saja kurasakan rasa sakit di perutku. Ku raba ia, aku berfikir…apakah sudah waktunya??? Tapi ini belum genap Sembilan bulan, tiga hari lagi barulah usia kandunganku genap sembilan bulan.
Aku menggeleng, mungkin hanya rasa sakit biasa. Aku berusaha mengacuhkannya, dan duduk di korsi menunggu cucianku selesai diproses.
Beberapa menit berlalu, rasa sakit itu mulai berkurang. Aku berhamdalah sembari mengusap perutku dengan shalawat pada Nabi.
Mesin cuci memberi kode padaku untuk menghentikannya, aku bangkit dari dudukku…aw,…innalillah…rasa itu kembali datang, kali ini lebih sakit dari yang tadi. Dengan istighfar, kembali kuacuhkan rasa sakit itu, dan mendekati mesin cuci. Membukannya dan memindahkan cucianku ke bagian pengering…
Rasa sakit itu semakin menjadi, bertubi-tubi. Aku memegang bagian perutku yang sakit, pandanganku mulai mengabur, kepalaku pening. Aku berusaha menjaga keseimbangan tubuuhku, tapi tak kuasa. Aku mundur beberapa langkah dengan tak terkendali. Tiba-tiba saja kakiku tersandung sesuatu yang kusadari itu adalah keranjang pakaian kotor yang tersisa…galau! Keseimbanganku tak bisa kujaga lagi…
Bruk !!!
“Ya Allah…!” Aku menjerit, mendapatkan rasa sakit di tubuhku akibat benturan ke lantai… aku mengerang, rasa sakit itu semakin menjadi. Aku yakin ini bukanlah rasa sakit tanda kelahiran….
“Allaaaahhh…” Aku kembali mengerang…meraba perutku, kurasakan bibirku kering. Terbayang di pelupuk mataku wajah suamiku dan putriku…aku menggigil, kurasakan sesuatu mengalir di paha dan betisku. Ketika kucoba melihatnya, berharap ini adalah tanda kelahiran…aku terdiam…telingaku terasa tuli…itu…darah….
Pandanganku gelap.

WAIDHA_
Kulirik Abi yang terlihat khawatir dengan peluh di keningnya. Aku tidak tau harus berbuat apa…
Di dalam, Bunda sedang ditangani oleh para dokter. Sepulang dari mendaftar, aku dan Abi menemukan Bunda tergeletak di atas lantai dengan..darah. Abi segera melarikan Bunda ke RS tentu saja dengan aku. Dan setelah masuk ke ruangan itu, sampai sekarang pintu itu belum terbuka.
Aku dan Abi menunggu dengan cemas. Abi tidak memberi tahu nenek, mungkin enggan membuat khawatir. Aku berdiri dari dudukku dan peluk bahu besar Abi…
            “Semuanya akan baik-baik saja, kan?” Tanyaku menatap mata Abi yang selalu memancarkan kesabaran itu. abi tersenyum seperti biasa, kemudian mengangguk. Aku tersenyum…meski demikian, aku tau Abi amat khawatir…tangannya dingin dan peluh terus saja menghiasi keningnya. Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya, dan mengecup pipinya.
            “Keluarga pasien?” Dokter yang menangani Bunda keluar, Abi bangkit dan mendekatinya.
            “Tidak ada jalan lain, harus disesar…kalau ingin keduanya selamat…” Begitu kudengar samar-samar dari pembicaraan Abi dengan dokter itu…ada banyak sekali alasan yang disampaikan, tapi yang kupahami adalah itu. dan menurutku Abi menyetujuinya…
Akhirnya kami diizinkan menemui Bunda di dalam. Aku mengikuti langkah Abi yang mendekati ranjang Bunda. Abi menggenggam jemari Bunda, menatap mata Bunda penuh kasih, kemudian mengecup keningnya.
            “Semuanya akan baik-baik saja, Sayang!” Ujarnya. Kuperhatikan Bunda tersenyum, menguatkan Abi. Abi beralih menatapku, “Mau shalat dengan Abi?” Tanyanya padaku, aku terdiam sejenak, kemudian menggeleng.

BUNDA_
Kutatap putriku, berwajah ayu dan pemilik suara surga. Ia mendekati ranjangku dan menyentuh tanganku, mata dan hidungnya memerah, ia menahan tangisnya. Aku tersenyum padanya. Iapun membalas senyumku dengan bibir bergetar lantas mencium punggung tanganku.
            “Bunda tayammum yach…aku Bantu!” Pintanya. Aku tertegun, sebuah rasa damai menyelinap di selubung hatiku…mataku berair..kemudian aku mengangguk. Lantas ia mulai membantuku tayammum, hingga sempurna. Kami kemudian shalat bersama…ia shalat dengan sajadah dan mukenah yang ia bawa di ransel kecilnya. Aku semakin terenyuh, ia tak pernah lupa membawa mukenah dan sajadah, kemanapun ia pergi….
Seusai shalat ia kembali mendekatiku, masih dengan mukenahnya. Wajah ayunya terlihat bersinar…
            “Bunda…janji akan baik-baik saja, ya?” Pintanya, kutatap ia dengan senyuman, “Aku ingin…Bunda menceritakan lagi padaku tentang Haramain…”

***
            Suasana di ruangan serba putih itu terasa penuh dengan kebahagiaan dan puji syukur. Ada beberapa orang disana. Seorang wanita berjilbab yang masih terbaring di ranjang, seorang lelaki jangkung dengan kaca mata minus mungil yang duduk di korsi samping ranjang, dan seorang anak kecil berjilbab berusia sekitar sepuluh tahun…em, ada satu lagi yang terlupa. Seorang bayi laki-lagi kecil di pelukan wanita yang terbaring itu…dengarlah percakapan mereka.
            “Lho??? Belum beri tau ibu, Bi?” Tanya wanita itu menatap suaminya dengan alis mengkerut. Suaminya tersenyum dan menjawab.
            “Sudah, sebentar juga sampai…”
            “Bunda..!” Gadis kecil itu memanggil Bundanya dengan ceria. Wanita itu menoleh sembari tersenyum…
            “Kenapa, Sayang?” Tanya Bundanya, Abinya ikut menoleh padanya.
            “Adek mau dikasi nama apa, ya?” Tanyanya. Bunda tersenyum dan melirik suaminya, Abipun tersenyum membalas lirikan istrinya.
            “Bagaimana kalo kakaknya yang beri nama???” Usul Abi disetujui oleh Bunda. Gadis kecil itu tersenyum ceria…dan mengecup pipi bayi dalam pelukan Bundanya.
            “Hai…adek kecil….kakak belum tau mau memberimu nama apa, nanti kakak pikirin yach…??? Tapi kakak tau…hal yang paling ingin kakak ceritakan padamu adalah kisah sebuah kampung, kampung yang damai…kakak ingin mengisahkan padamu tentang Haramain…” Ujarnya. Bundanya tersenyum, ia begitu membuncah. Putrinya telah sempurna mengingat masa kecilnya tentang berjuta cerita Kampung Damai Haramainnya, dan setelah Abinya mengajaknya kesana, ia ternyata seperti begitu mengenal Haramain…
            “Iya sayang…Kisahkan padanya tentang Haramainku…” Pinta Bunda. Gadis itu menatap Bundanya…
            “Haramainku juga donk…kan sekarang nyantri disana…” Sanggahnya. Bundanya tersenyum kemudian berhamdalah…Allah selalu memberikan yang terbaik, dengan cara-Nya sendiri…


End_