Hari ini seru, yahh…sebaiknya kita selalu menanggapi setiap
hari dengan seru atau kurang seru, daripada lelah dan kurang menyenangkan. Hehe
Hidup seperti ini membuatku sering merasa mengambang,
betulkah aku sakit? Atau hanya perasaanku saja yang meyakin bahwa aku berbeda
dengan yang lain? Apa ? sesuatu yang berbeda itu apa dan dimana? Siapa tahu?
Aku terkadang bingung, sampai kapan harus berusaha sendiri,
dan takut dalam kesendirian pula, mungkin aku harus berbagi pada orang
lain…orang lain? Orang terdekat? Bisakah mereka kupercayai? Bisakah???
Reruntuhan ini membuatku enggan memberikan seorangpun masuk
pada bilikku, biarkan saja aku yang berusaha, biarkan aku yang sakit sendiri,
semoga Allah menyembuhkanku, semoga Allah tidak mengujiku lebih dari ini.
semoga Allah percaya padaku. Semoga, yah semoga.
MISSING
Mama menepuk-nepuk punggung bayinya yang baru saja berusia
enam bulan dengan penuh kasih sayang, perutnya yang keroncongan sama sekali tak
mendapat hirau darinya. Bayi enam bulan berjenis kelamin laki-laki itu padahal
tengah menyusu padanya dengan lahap, bayi itu tak paham bahwa tenaga dari Mama
sungguh sangat kurang untuk kegiatan itu sebenarnya. Yah, tentu saja ia hanya
anak kecil.
“Assalamu’alaikum”
sebuah suara berat terdengar seiring suara pintu ber’kreek’ yang has. Mama
menoleh demi mendengar suara itu, ia berjalan sembari menggendong bayi
laki-lakinya dan mendapati pemilik suara berat itu tengah tersenyum dengan
sebuah plastic hitam entah berisi apa. Fikirnya itu pasti sesuatu yang bisa ia
makan.
“Kamu
belum makan, kan? Ini makanlah, kubelikan nasi bungkus tadi di jalan, tapi
lauknya hanya tempe goreng.” Kata lelaki itu menyerahkan plastic hitam itu
padanya. Mama mengambilnya dengan cepat dan segera ke dapur menyiapkan makanannya
sendiri. Lelaki pemilik suara berat itu melihat dengan senyuman saja, kemudian
memasuki sebuah bilik dan mengganti pakaian. Sementara Mama melahap nasi dengan
sangar, bayi laki-lakinya tetap menyusu padanya.
Tilolet…!!!
Sebuah
teriakan berasal dari meja kecil di salah satu ruangan rumah sederhana itu tak
menghentikan kegiatan penghuni rumah, tak ada yang menghiraukan panggilan masuk
ke HP Nokia mewah itu, layar benda ajaib berharga jutaan itu berkedip-kedip,
disana tertulis sebuah nama, hanya sebuah saja
Dara.
//
Pagi
yang cerah dengan kicauan burung, Mama membuka mata setelah matahari lewat
sepenggalah. Bayi laki-lakinya dilihatnya tengah asyik bermain sendiri di
ayunan ruang tengah. Mama mengikat rambut panjangnya dan keluar dari kamar, ia
memperhatikan rumah, leleki bersuara berat itu pastinya sudah keluar menjelang
subuh tadi, dan baru akan kembali malam nanti.
Mama
menghela nafas, mendekati bayi laki-lakinya yang tengah asyik memainkan sebuah
tasbih, Mama hanya tersenyum dan mengusap-usap kepala bayi laki-lakinya. Entah
apakah ia juga berdo’a di dalam hatinya atau hanya sekedar berhampa.
Tok,
tok, tok.
Pintu
reot rumah itu terdengar diketuk, tampaknya ada tamu. Mama yang baru saja
selesai mandi segera mendekati pintu dengan bayi laki-laki di gendongannya, ia
mengintip dari lubang kecil pada pintu dan dadanya segera bergemuruh. Tamu itu?
Tok,
tok, tok.
“Bukalah
pintunya, Chris. Gue tau lu di dalem!!!” sebuah teriakan perempuan membuat
keringat dingin terproduksi pada dahi Mama. Ia tak menyahut, ia sibuk panic
hendak berfikir kemana pergi, tapi ia tak punya pintu belakang.
“Chriss…!!!!
Buka pintunya!!!” suara yang sama membuat bayi laki-laki Mama terkejut dan
sejenak kemudian menangis. Mama semakin panic, antara berusaha bersembunyi dengan menenangkan bayi
laki-lakinya.
Brak!
Akhirnya
pintu didobrak paksa, Mama melihat dengan mata nelangsa pada sosok perempuan
berambut sebahu dengan dua orang lelaki berotot disampingnya.
“Lo
nggak lari lagi, Chriss?!!” perempuan dengan bibir tipis itu bertanya sinis,
Mama hanya diam menatap mereka sembari menenangkan bayi laki-lakinya.
“Berhentilah
seperti ini Chriss, lu udah bener-bener hidup bagus malah kabur. Lu bisa apa
disini!!!” perempuan itu mendekat pada Mama. Mama menggeleng-geleng dengan air
mata yang hampir tumpah, ia mengeratkan gendongan pada bayi laki-lakinya yang
kian keras saja menangis.
“Sini,
biarkan David sama gue.” Perempuan itu menjulurkan tangan hendak mengambil bayi
laki-laki Mama, tapi Mama menggeleng kuat dan berusaha mundur. “Lu jangan keras
kepala, Chriss. Itu bukan anak lu! Itu anak gue!!!” perempuan itu semakin
mendekat, matanya yang lembut seperti hendak keluar, Mama memeluk bayi
laki-lakinya dan mundur, terus mundur hingga terbentur tembok. Perempuan itu
tersenyum sinis.
“Anak
lu mati!!!!” perempuan itu menarik bayi laki-laki itu dari pelukan Mama, paksa.
Bayi laki-laki itu menangis kencang, Mama teguh memeluk sebagian tubuh bayi
laki-lakinya. “Ini anak gue, Chriss. Lepas!!” perempuan itupun berhasil merebut
bayi laki-lakinya dan Mama tersungkur, bayi laki-lakinya menangis merentangkan
tangan padanya, menangisinya yang juga menangis dalam tundukannya yang
bergetar. Mama ingin berteriak, meminta, atau apapun itu tapi suaranya
tersendak, ia tak bisa berkata apa-apa. Mama merayap di lantai sederhana rumah
bobrok itu dan memeluk kaki perempuan itu. ia memohon dengan tangisnya, isaknya
tak terdengar tapi punggungnya bergerak-gerak keras. Mama sangat memohon.
“Lu
kembali, Chriss. Lu harus kembali.!!!” Perempuan itu sedikitpun tak memiliki
hati, bayi laki-laki di gendongannya meronta. Mama menggeleng-geleng di bawah.
Ia ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa. Ia tak tahu harus bagaimana.
“Lu tau
semuanya, lu harusnya nyadar. Nggak ada yang bisa lu lakuin.” Suara perempuan
itu melembut, ada bening sebenarnya diujung matanya. “Kenapa lu begitu keras
kepala…?” tangan Mama meraba sesuatu dibawah meja, ia menggenggam benda itu
erat. Kemudian tanpa sepengetahuan perempuan itu Mama menyembunyikan benda itu
dibalik bajunya.
“Bawa
dia!” perempuan itu memerintahkan dua orang yang tadi bersamanya. Mama kemudian
digeret dengan paksa, Mama tak lagi meronta ia seolah pasrah. Perempuan itu
berjalan lebih dulu dengan bayi laki-laki yang menangis dan meronta di
gendongannya. Pada kesempatan itulah Mama mengeluarkan benda dibalik bajunya
dan dengan sigap menggunakan benda itu di pergelangan kaki kedua orang yang
meggeretnya. Teriakan kedua laki-laki itu meledak, darah bercucuran dari
pergelangan kakinya. Mama melepaskan diri, berlari mengejar perempuan itu,
kedua laki-laki berotot itu mengerang sejadi-jadinya. Mereka merasakan kaki
mereka seperti ditindih puso. Mereka menangis seperti anak kecil, terbersit di
fikiran masing-masing bahwa Mama bukan orang yang pantas diremehkan.
Sementara
itu Mama mengejar perempuan itu tanpa suara, mendengar erangan dari belakang
perempuan itu mulai hawatir dan menoleh, saat itulah sebuah benda tajam tepat
mengarah pada mata kirinya.
Cress…!!!
Tak
terelakkan, dengan teriakan yang memekakkan telinga benda itu menusuk matanya.
Pelukannya pada bayi laki-laki itu melemah, Mama segera mengambil bayi itu,
menggendongnya erat sembari berlari. Berlari, dan terus berlari dengan iringan
tangis juga percikan darah yang banyak.
Di
suatu tempat, ia mendudukkan bayi laki-lakinya, menciuminya dengan segenap
cinta, memeluknya beberapa kali. Kemudian meninggalkannya.
//
Di
sebuah ruangan besar, ia dipandangi dengan marah oleh seluruh isi ruangan.
Seorang lelaki tua dengan kepala botak mendekatinya. Lelaki itu memainkan
pistol di tangan kanannya.
“Kamu
kembali juga Chriss…” ujarnya menyentuh dagu permpuan cantik itu. “Suara
indahmu tak ada lagi. yah…kamu tak bisa lagi menjawab pertanyaanku, tak bisa
menjawab panggilanku, haaaaah….” Lelaki itu melempar pandangan pada photo besar
di dinding, photo perempuan cantik dengan senyum menawan.
“Dimana
David kau sembunyikan, ?” Lelaki itu mendongakkan wajah cantik itu. tak ada air
mata pada mata indahnya, tak ada rasa takut. Malah mata itu menantangnya.
“Jawab Chriss, jangan membuatku marah!!!” Lelaki itu menahan emosinya, ia
mencengram erat wajah cantik itu. tapi ia tak mendapat respon. Emosinya
menanjak, ia melepaskan wajah cantik itu mundur beberapa langkah, menaikkan
lengannya.
“Kamu
tidak berguna.” Sedikit meraung ia menahan amarah, kemudian terdengar suara
tembakan. Tak ada teriakan, semuanya sunyi, ya…begitu sunyi.
//
Beberapa
hari kemudian di televise disiarkan tentang ditemukannya mayat berjenis kelamin
perempuan dengan luka tembak di salah satu kali tanpa selembar pakaianpun.
Setelah dilakukan otopsi tak ada yang bisa polisi simpulkan untuk mayat itu,
tak ada identitas, tak ada laporan orang hilang. Mayat perempuan itu tak
diketahui.
Seorang
anak kecil, bayi laki-laki berusia enam bulan berusaha menjangkau televise itu,
ia seperti melihat benda yang sangat menarik dan ingin ingin digenggamnya.
“Kita
pulang, Nak. Kita sudah mendapatkan susu untukmu.” Suara berat lelaki yang
menggendongnya tak dihiraukan bayi itu, ia terus menjangkau dengan kuat. Lelaki
yang menggendongnya melirik sekilas pada tayangan di televisi milik ibu warung,
ia mengerutkan alis, hanya sejenak berfikir. Kemudian bernjak pulang.
//
Pada
sepertiga malam lelaki dengan suara berat itu menyelesaikan do’anya, ia menoleh
pada bayi laki-laki yang tengah terlelap di tempat tidur kecil seadanya. Ia
menghela nafas dengan tersenyum. Ia ingat pada suatu pagi buta saat ia hendak
berangkat mengais rizki, seorang perempuan berwajah sangat cantik dengan
menggendong bayinya mendekat padanya. perempuan itu tak bicara sedikitpun. Tapi
matanya menyiratkan sesuatu yang gusar. Lelaki itu menyilahkan perempuan itu
masuk, memberinya minuman hangat dan sedikit makanan yang dimilikinya. Ia ingin
bertanya pada perempuan itu, tapi tak enak. Iapun membiarkan saja perempuan
cantik itu melahap makanan, perempuan itu tampak sangat lapar.
“Kau
mau tinggal? Aku mau berangkat kerja.” Lelaki itu menawarkan, perempuan itu
menoleh dengan tatapan bingung. Mungkin tak habis fikir tentang tawaran itu.
iapun dengan isyarat meminta kertas. Lelaki itu paham, perempuan cantik itu
bisu. Iapun memberikannya kertas dan polpen. Kemudian perempuan itu menulis
sebentar dengan serius, setelah selesai perempuan itu memberikannya kertas yang
telah ditulisinya. Disana tertulis:
Izinkan
aku tinggal beberapa hari saja disini, hanya tiga hari. Setelah itu aku akan
pergi tanpa meninggalkan jejak dan masalah. Akan kuberikan kau imbalan yang
baik, kumohon izinkan aku mempercayaimu.
Kemudian
lelaki itu mengiyakan saja tanpa berat hati. Perempuan itu kembali menulis. Dan
menyerahkan tulisannya padanya.
Dia
anakku, namanya David.
Hanya
itu. dan tepat pada hari ketiga, perempuan cantik itu menghilang. Ada bekas
darah di lantai rumahnya, pintu rumahnyapun rusak. Lelaki itu sadar ia telah
membantu seseorang yang tampaknya memiliki masalah parah. Saat memasuki kamar
yang ditempati perempuan itu, ia menemukan sejumlah uang dalam amplop dan
tulisan singkat.
Terimakasih.
Izinkan aku mempercayaimu, dua gang dari sini, tempat sampah.
Dan
saat kesana, lelaki itu menemukan bayi laki-laki enam bulan tengah menangis
sendirian. Iapun menggendong David, memutuskan untuk bersamanya.
//
10 tahun kemudian…
Adzan
merdu terdengar dari pengeras suara
sebuah masjid sederhana di suatu kampung. Seluruh masyarakat tahu betul bahwa
suara itu milik anak laki-laki pak Muhsan, anak laki-laki berwajah bagus dengan
akhlak begitu mulia. Setiap orang menyukai suara anak itu, anak itupun telah
berhasil memenangkan lomba adzan sekecamatan. Pak Muhsan sendiri begitu bangga
memiliki anak itu, ia tak henti-hentinya bersyukur dipercayai Allah atas nikmat
yang diberikan-Nya berupa anak laki-laki berbakti dan pantas dibanggai.
“Mikir
apa to, Pak? Itu didahului Daud ke masjidnya.” Suara lembut istrinya
mengembalikannya kea lam nyata.
“Ah ya,
kalau begitu aku berangkat dulu, Bu. Asslamu’alaikum” pamit pak Muhsan sembari
keluar rumah dengan aroma wangi yang merembes ke penciuman istrinya. Bu Muhsan
tersenyum, damai memiliki suami bersuara berat itu, damai memiliki anak
laki-laki bernama Daud.
The live is beginning…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar