Rabu, 07 Oktober 2015

Mariam dan Anaknya

“Tidak mau aku gugurkan Abah!” gadis berwajah manis ini bersikeras dengan urat bermunculan pada keningnya. Pipinya telah memerah, memar kupukuli sedari tadi. tapi ia tetap tak mau menggugurkan bayi haramnya.
                “Kamu ini membuat malu Abah saja, Mariam!!!” aku menelan amarahku yang terasa pahit.
                “Aku membuat malu Abah dengan perbuatanku, tapi bukan dengan anak ini. aku akan melahirkannya, apapun resikonya!!!!” gadisku, yang sangat mewarisi sifat keras kepalaku itu tetap tak tergoyahkan. Sebuah sentuhan lembut menyapa bahuku.
                “Biarkan saja dulu, Abah. Nanti kita bicarakan baik-baik. Malu didengar tetangga.” Suara istriku yang bergetar dengan tangis membuatku sedikit membaik, aku menuruti ajakannya untuk keluar dari kamar putri kami, ia menoleh sebelum menutup pintu. Kemudian memelukku ketika pintu tertutup. Entah apa maksudnya, memberikan kekuatan, atau meminta kekuatan dariku. Aku hanya memeluknya kembali, kami memang sedang sama-sama membutuhkan kekuatan saat ini.
//
                Pernikahanku dengan istri tercintaku Munawarah dikaruniai dua orang anak oleh Allah. yang pertama perempuan, lahir sembilan belas tahun lalu, kami beri ia nama Mariam. Nama ibu Nabi Isa as yang tercatat mulia dalam Al Qur’an. Tujuan kami tak lain sebagai do’a bahwa untuk kehidupannya ia bisa mencontoh Mariam yang suci. Kemudian anak kedua kami laki-laki, lahir empat belas tahun silam. Kami memberinya nama Said, nama anak angkat Rasulallah SAW. Harapan kami tentu saja, agar ia bisa meniru Said bin Tsabit yang terbilang paling dekat dengan Rasulallah SAW karena Saidlah yang selalu menemani Rasulallah, bahkan Rasulallah pernah menamainya Said bin Muhammad sebelum kemudian ditegur Allah SWT. Maka ketika seorang bisa mengikuti orang terdekat Rasulallah, maka bisa diharapkan juga mengikuti Rasulallah.
                Alhamdulillah, sejauh pernikahan kami semua terasa baik-baik saja. Ujian dan teguran Allah sama-sama kami hadapi dan terima dengan ikhlas. Aku membiasakan keluargaku untuk bersedeqah, disamping membayar zakat kudidikkkan pada semuanya untuk tak sungkan bersedeqah pada siapapun. Karena rezeki yang ada pada kita sejatinya adalah milik orang lain. Akupun membiasakan keluargaku untuk shalat tahajjud, shalat dhuha dan shalat taubat. Hingga ketiga shalat sunnah ini menjadi kerutinan bagi kami.
                Allahpun memudahkan rezeki kami. Aku dan istri telah berhaji, bahkan Ramadhan tahun ini ada rencana berumrah sekeluarga besar. Semuanya terasa aman dengan syukur.
                Hingga kisah ini bermula pada beberapa bulan terakhir, Mariam putri kami satu-satunya mulai mengenal lelaki. Ia masuk salah satu perguruan tinggi ternama dengan beasiswa pula, karena Alhamdulillah dia memang anak yang dikaruniakan otak yang pintar. Dari kampuslah ia berkenalan dengan seorang lelaki yang kerap ia ceritakan kepada Ibunya di rumah. Lelaki pintar yang baik hati, yang membuat hatinya jatuh. Aku memperhatikan dengan senyuman, sudah sewajarnya anakku mengenal perasaan itu. telah kudidik ia dengan basic agama yang baik, aku percaya ia tak akan mengecewakanku, begitu fikirku.
                Selanjutnya, ia semakin dekat dengan lelaki itu. beberapa kali pula ia mengajaknya ke rumah. Alhamdulillah, baik pula kulihat anak itu. hingga msuk semester 3, mulai ada kejanggalan pada Mariam. Ia sering pulang terlambat, beberapa kali aku dan istriku menegurnya tapi ia tak mengatakan apa-apa. Ia seperti kehilangan jati dirinya sendiri.
                Hingga petang tadi ia datang dengan wajah kusut, jilbabnya tak lagi pantas terlihat di wajah manisnya. Ketika kupanggil istriku untuk menanyainya, ia malah pingsan. Saat kami panggil seorang petugas kesehatan kampung kami tercengang, Mariam anak kami, putri semata wayang kami ternyata tengah hamil. Usia kehamilannya memasuki bulan kedua.
                Aku tak bisa menahan amarahku. Begitu ia bangun kutanya langsung dengan emosi penuh.
                “Siapa yang melakukan perbuatan haram itu!!!!” tanyaku, ia menatapku tenang, tatapannya tegar. Ia tak takut dengan amarahku.
                “Siapapun dia, semuanya sudah terjadi Abah.” Ia menjawab datar, dingin. Ia bersikukuh tak mau mengakui siapa ayah dari bayi yang ia kandung. Aku menamparnya beberapa kali, dengan isak ibunya yang tak henti, antara pilu dan kelu. Barulah ia mengaku.
                “Lelaki itu.” hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya. Kurasakan darahku menanjak cepat. Aku ingin menyeret lelaki biadap itu ke hadapan kami dan memintanya menarik kembali apa yang telah ia lakukan pada putriku, apa yang telah ia lakukan pada keluargaku. Tapi aku tahu itu mustahil, sangat mustahil semuanya sudah terjadi.
                “Dia tidak mau bertanggung jawab, Abah. Jadi sebaiknya jangan cari dia.” Putriku berujar dengan pipi yang memar, ia sama sekali tak menangis, “Ia menghinakanku, menghinakan keluarga kita. Jangan pernah memohon padanya. aku jijik!” Mariam melanjutkan. “Lagipula aku yang salah telah mempercayainya, aku juga yang menghinakan diriku untuk ia setubuhi. Bukan sekali tapi berkali-kali. Aku terlalu percaya pada makhluk Allah itu, hingga sekarang aku sendiri yang malu menghadap Allah atas perbuatan kami.”
                “Gugurkan!” aku mendengar sebuah kalimat keluar dari mulutku sendiri.
                “Tidak!!!” Mariam teguh.
                “Untuk apa kamu pertahankan bayi haram itu!”
                “Dia tidak haram. Ibunya yang haram, bapaknya yang haram, tapi dia tidak haram!!” begitulah, kekhilafanku memerintahkan Mariam untuk membunuh bayi yang ia kandung. Perlahan aku mulai menyesal, selepas shalat isya aku meminta ampun pada Allah kemudian berkunjung ke kamar putriku. Kulihat ia tengah duduk dengan bertengadah tangan diatas sajadahnya. Air matanya membasahi mukenah putih yang ia kenakan. Aku terenyuh, tentu saja putriku begitu tersiksa dengan ini semua. Semakin aku menekannya maka akan semakin berat pula beban itu untuknya.
                Istriku kembali muncul di belakangku dengan mata basah pula. Kami kemudian memasuki kamar Mariam putri kami, menghamipirinya dan duduk di kiri kanannya.
                “Maafkan aku Abah, Ibu.” Pinta Mariam dengan air mata berderai-derai. Aku dan istriku memeluknya, mencoba menguatkannya. Tapi kami dan kalian tentu saja tahu, bahwa air mata ini tentu tidak akan sampai pada mala mini, usia kandungan Mariam masih 8 bulan ke depan.
//
                Allah adalah yang maha adil, Dia tak menimpakan apapun kecuali kita mampu menanggungnya. Maka aku dan istriku mulai memperhatikan Mariam dengan lebih juga dengan bayi yang dikandungnya. Dua hari sejak kejadian itu, Mariam memutuskan untuk kembali kuliah. Dengan berbagai pertimbangan kamipun mengizinkannya.
                Sepulang kuliahnya kami bertanya padanya tentang perkuliahannya, ia menjawab dengan senyum cerah.
                “Alhamdulillah semuanya baik-baik saja.”
                Yaa, baik-baik saja. Secepat senyum itu hilang dari wajah putriku secepat itu pula baik-baik itu menghilang. Memang di kampus tak ada yang mengetahui kehamilannya, tapi di kampung dari mulut ke mulut perlahan aib putriku tercemar. Dan selentingan-selentingan tak mengenakkanpun mulai santer terdengar.
                “Insya Allah aku siap, Abah.” Istriku memegang tanganku kuat. Untung saja Allah masih memudahkan, bahwa Said masih di pesantren. Ia tentu belum baik untuk mendengar aib kakak perempuan tercintanya. Mariam? Ia malah tersenyum menanggapi selentingan-selentingan itu.
                “Aku memang berdosa, Abah. Aku menghinakan diriku. Maka aku pantas dihina.” Begitu ujarnya. Dibalik jendela matanya aku melihat ketakutan dan kesedihan, tapi putriku tetap tegar, ia telah siap dengan resiko sosial yang akan ia hadapi, ia bahkan tahu betul seberapa besar resiko itu. “Aku minta maaf jika nama Abah dan Ibu ikut dipergunjingkan. Aku belum bisa meluruskan ini, bisakah Abah dan Ibu bertahan?” ia bertanya mempertahankan bendungan air mata yang hampir jebol. Kurasakan tangan istriku bergetar, ia kemudian memeluk Mariam, menguatkannya. Melihat itu aku hanya mampu bertasbih pada Ilahi.
//
                Pada suatu maghrib, kedua orang tuaku dan orang tua istriku bertandang ke rumah. Istriku menatapku sambil menelan ludah, aku mengangguk meyakinkan. Sudah seharusnya masalah ini memang dihadapi bersama. Aku memanggil Mariam, dan kami bertiga duduk di hadapan orang tua kami. Mariam tampak tegar meski berhadapan dengan kakek dan neneknya.
                “Kakek mendengar dari nenekmu tentang pembicaraan santer tentangmu di kampung.” Ayah mertuaku memulai. “Kami jelas tidak percaya dengan semua ini, kenapa tidak kau luruskan omongan-omongan busuk orang kampung, Syaif?” Ayah menoleh padaku. Terlihat bibir bawahnya bergetar. Aku menelan ludah memohon kekuatan untuk kedua pasang orang tuaku atas masalah ini.
                “Tidak ada yang perlu diluruskan, Kek.” Mariam lebih dulu bersuara daripadaku, aku menoleh padanya dengan dada tegang.
                “Maksud kamu apa, Mariam?” Ibuku bertanya memburu.
                “Iya, Nek, Kakek. Apa yang dikatakan mereka memang telah lurus, jadi tak ada yang perlu kita luruskan.” Mariam menjawab tenang. Kedua pasang orang tuaku terdiam, aku menoleh pada istriku. Istriku tak bisa memberikan respon yang jelas.
                “Aku memang hamil, sekarang memasuki bulan ke empat. Sebentar lagi perutku akan membuncit, dan semuanya akan semakin jelas bahwa mereka memang tidak salah membicarakanku.” Mariam dengan suara bergetar menjelaskan duduk persoalannya. Orang tua kami mendengarkan dengan wajah penuh penyesalan.
                “Minta dia menikahimu!” Ayahku keras menggebrak meja. Istriku sampai kaget dibuatnya.
                “Dia tak mau, Kek. Aku sudah memintanya.” Mariam menjawab masih mempertahankan ketenangannya.
                “Dia harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan!” Ayahku naik pitam.
                “Bukan dia yang melakukan, Kek. Tapi kami. Aku juga mengambil andil dalam perbuatan kami. Aku sudah memintanya, tapi ia menyuruhku untuk menggugurkan kandunganku. Aku tidak sampai berfikir kesana, karena bayi yang aku kandung memiliki hak untuk hidup. Jadi aku tidak bisa melakukannya. Toh walaupun kami menikah masyarakat juga akan tahu kami telah berbuat haram sebelumnya, karena anak ini pasti akan lahir lebih cepat dari seharusnya.” Mariam berkata panjang lebar.
                “Kamu memalukan Mariam!!! Kakek tidak bisa mengerti jalan fikirmu, sudahlah! Kamu hadapi saja hasil dari perbuatanmu itu. kakek tidak mau ikut campur. Mulai dari sekarang kamu bukan keluarga kami.” Ayahku yang memang berwatak keras menarik lengan ibuku dan hendak pergi.
                “Aku memang hina, Kek.” Mariam mencegah langkah Ayahku, “Aku akan siap menanggung resiko dari perbuatanku. Tapi sampai kapanpun darah kakek tetap mengalir dalam diriku.” Istriku menyentuh bahu Mariam, takut terjadi sesuatu yang lebih tak diperkirakan.
                “Ya, seharusnya kamu sendiri yang menanggung resikonya. Bukan kami, bukan keluargamu!!! Pezina kamu!!!” Ayahku benar-benar murka. Aku berdiri hendak menengahi, mereka jelas tak bisa diberikan kesempatan ini. mereka memiliki watak keras yang sama.
                “Sudahlah Ayah, kita bisa berbicara dengan baik-baik.” Aku mendekati Ayahku.
                “Kamu juga, Syaif. Tidak becus mendidik anak-anakmu. Lihat bagaimana aku mendidikmu dari kecil sehingga kamu bisa seperti ini, kamu tidak belajar dari itu semua?! Kamu malah mendidik putrimu menjadi pezina!” Aku malah jadi ikut panas mendengar kalimat Ayah barusan. Bagaimana tidak? Aku pastikan seumur-umur aku mendidik Mariam, aku tidak pernah mendidiknya untuk menjadi seorang perempuan lacur. Ini semua kekhilafan, ini semua kecelakaan, tapi kenapa Ayah malah menyalahkanku.
                “Sudahlah..” suara lembut ibu istriku terdengar sebelum sempat aku menyahut, “Coba kau ambilkan air putih untuk kita, Muna.” Ibu mertuaku menoleh pada istriku. “Kita perlu mendinginkan suasana ini.” lanjutnya. Istriku patuh, beranjak ke dapur. “Duduklah dulu, kita tidak bisa menyelesaikan ini dengan amarah. Kasian kita, kasian keluarga, kasian juga pada Mariam. Kita cari jalan terbaiknya dengan datang kesini bertujuan musyawarah. Kenapa jadi ribut begini.” Ibu mertuaku menatapku bergantian dan Ayahku. Kami sama-sama menelan ludah dan kembali menempati korsi kami masing-masing.
//
                Sampai malam menghampiri tengahnya Ayahku masih tak bisa menerima cucu perempuannya melakukan perbuatan haram itu. ia bersikeras mengeluarkan Mariam dari tatanan keluarga. sedang ibu dan ayah mertuaku lebih bijak ingin mengasingkan saja Mariam agar tak diketahui sesiapa. Tapi Ayahku sendiri menganggap itu sangat pengecut, bagaimanapun mereka menyembunyikan Mariam semua pasti akan tahu tentang itu.
                “Lama sekali kita menemukan jalan keluar ini, bagaimana kalau kita Tanya saja Mariam keputusannya.” Istriku mengusulkan setelah sekian lama tadi ia hanya diam.
                “Tak uasah Tanya Mariam, apapun yang ia ingin perbuat kita tetap akan menanggung malu.”
                Aku menelan ludah, sedari tadi sering kulakukan hingga mulutku terasa kering. Begitu hebatnya efek dari perbuatan haram ini. benarlah bahwa memang karena nila setitik rusak susu sebelaga. Sebaik apapun putriku sebelum ini, seshalihah apapun dia sebelum ini, tapi sekarang masayarakat telah berpandangan lain terhadapnya. Ia bukan Mariam yang dulu, yang baik, yang ramah, yang pintar, yang menjadi buah bibir manis masyarakat. Ia sekarang adalah Mariam yang hina, yang lacur, yang meskipun berasal dari keluarga baik ternya tak bisa menahan nafsunya, yang menghinakan sekali keluarganya, ia yang begitu menjijikkan. Tiba-tiba saja mataku panas mengingat itu semua. Anakku melakukan kesalahan haram, seperti inilah yang masyarakat fahamkan tentangnya. Bahwa ia tak bisa menjadi yang mulia seperti namanya, seperti yang kami harapkan. Tapi tentu saja diantara kami semua tak ada yang tahu tentang kejadian sepenuhnya dan sebenarnya bagaimana. Kami tentu belum tahu rahasia apa yang Allah  tulis dibalik semua ini, hikmah dari semua ini belum muncul jika kita mencarinya sekarang.
                “Maaf, Ayah, Ibu …” aku menengahi, seluruh pasang mata yang hadir menoleh padaku. “Mariam memang telah melakukan hal yang haram, ia telah berdosa banyak. Karena perbuatannya ia dihinakan di hadapan Allah. bahwa dikatakan dalam Al Qur’an, agar kita tidak mendekati zina karena ianya termasuk dosa yang besar. Tepi ternyata Mariam khilaf, saya ulangi sekali lagi ia khilaf. Kita sedari tadi bermusyawarah untuk menyembunyikan aib Mariam, kenapa? Karena aib itu merembes pada kita. Sejatinya dari tadi kita sedang berusaha mencari selembar kain untuk menyembunyikan cacat pada bagian tubuh kita, kita berbicara tentang keselamatan kita…lalu bagaimana dengan Mariam? Akankah kita berfikir tentang perasaannya, derita yang ia tanggung saat ini? dimana dia akan menyandarkan kepalanya saat kita orang terdekatnya saja ingin mengasingkannya? Pada siapa ia akan mengadukan kelunya kalau kita keluarganya saja tak peduli padanya? tak cukupkah ia menghinakan diri? Dihinakan masyarakat? Merasa berlumur dosa di hadapan Allah? sehingga kita harus menambahnya?” kudengar isak istriku dan tatapan semuanya melemah.
                “Ingatkah Mariam? Seperti apa baktinya kepada kita selama ini? seperti apa ia menjadi cucu yang selalu kalian bangga-banggakan ke penjuru, bahkan di Makkahpun kalian tetap menjadikannya buah bibir kebanggaan. Mariam yang teguh, itulah cucu kalian. Mariam menyadari kesalahannya, ia menghinakan dirinya, ia siap dengan selentingan-selentingan itu. saya rasa ia benar, memang perbuatannya haram, ia hina, tapi anak dalam kandungannya tetaplah memiliki hak untuk hidup, ia makhluk yang hadir karena perbuatan haram benar, tapi apakah ia memiliki kesempatan untuk memilih? Mariam benar bahwa anak itu tak boleh mati, jika ia menggugurkannya setelah melakukan zina, haruskah ia menjadi pembunuh juga? Mariam paham itu semua, maka ia bersikukuh untuk mempertahankan bayinya. Apakah ayah dan ibu berfikir Allah akan murka pada tindakannya? Saya sebagai ayahnya meridhainya, memaafkannya, dan akan menemaninya menghadapi ini. ibunyapun telah siap, selanjutnya terserah ayah dan ibu. Tapi ingatlah satu hal, bagaimanapun kita menyembunyikan atau tidak menganggap Mariam dalam keluarga ini, seluruh orang telah tau ia termasuk keluarga.” semuanya terlihat menghela nafas, ibuku dan ibu mertuaku menangis.
                “Panggillah Mariam…” pinta ibuku. Istriku beranjak dan beberapa saat kembali bersama Mariam yang masih bermukenah dengan mata sembab. Aku merasakan mataku berair, melihat bagaimana putriku begitu tulus meminta ampun pada Allah…aku tak bisa meninggalkannya, apapun yang telah dan akan terjadi, aku akan tetap menemaninya.
                “Duduklah.” Pinta istriku padanya, Mariampun duduk di korsi antara aku dan ibunya. Ia sedikit menunduk, sedikit tegak. Tampak takut tapi pasti akan menerima keputusan kami. Ibuku menjulurkan tangannya dan menggenggam tangan Mariam dengan bibir bergetar dan mata berair.
                “Nenek memaafkanmu…nenek akan menemanimu…apapun yang terjadi.” Katanya. Ibu mertuakupun melakukan hal yang sama.
                “Kamu akan menghadapi resiko yang besar, cucuku. Nenek harap kamu kuat, jika ada apa-apa, maka jangan disimpan sendiri. Kamu punya kami, keluargamu yang dalam keadaan apapun akan selalu ada di sampingmu.” Begitu kalimat ibu mertuaku dengan mata berair juga. Ayahku bangkit dari korsinya, ia yang awalnya begitu keras kini mendekati Mariam. Ia berdiri di belakang korsi yang diduduki Mariam, mengusap ubun-ubun cucu perempuannya dengan tangan bergetar. Ia tak berkata apa-apa, egonya begitu tinggi tapi kami tau ia pasti telah ridha. Kini giliran ayah mertuaku yang serta merta mendekat dan memeluk bahu Mariam.
                “Kakek ini lelaki juga, Mariam. Dan kakek tidak sama dengan lelaki itu. bagaimanapun hinamu sebagai lelaki kakek aka nada buatmu…kau dengar?” Mariam mengangguk dengan bendungan air mata hampir jebol. Ia memang sangat dekat dengan Ayah mertuaku sedari kecil.
                “Tak usah hawatir, kami siap untuk ada di sampingmu sampai kapanpun sayang…” istriku mengusap-usap pipi Mariam. Sedang aku? Aku tak perlu melakukan apapun, aku sudah bahagia dengan ini semua. Malam inipun berakhir dengan tangis kami semua, Mariampun ikut menangis…baru kali ini ia menangis di hadapan kami. Sejak kejadian ini ia tak pernah menunjukkan air matanya pada kami, selama ini ia hanya menangis di hadapan Allah saja. Yaa Allah lihatlah ini…kami menerima Mariam kembali pada bagian dari kami, Engkau tentu lebih bijak daripada kami bukan?

//

Tidak ada komentar:

Posting Komentar