Kukemasi
barang-barang dengan pelan-pelan, diluar masih terdengar omongan-omongan tajam
dari mulut seorang perempuan tua yang amat sangat aku hormati, ibu dari
suamiku, mertuaku tentu saja. Tapi, omongan-omongan yang menyangkut diriku itu
terdengar mengerikan dan merobek hati. Aku tau, mas Ghani tengah menunduk
hormat mendengar ocehan ibu yang pahit tentangku. Meski mas Ghani tidak setuju,
tapi aku paham kedudukan ibu lebih dariku, jadi tak ada sahutan sedikitpun dari
mulutnya.
Barang-barangku
sempurna masuk ke kopor dan aku tengah menyeret kopor ketika mas Ghani masuk ke
kamar. Aku menoleh padanya dengan senyum, berusaha menguatkan hatinya. Ia
mendekatiku dan duduk di pinddiran ranjang, menatapku yang tengah duduk di
lantai menyeret kopor.
“Ibu
sudah pulang,” Ucapnya menunduk. Masih kupertahankan senyumku, meski hatiku
tentu saja perih, sangat-sangat perih.
“Ya,
aku dengar deru mobilnya, Mas!” Ucapku dengan nada ringan. Mas Ghani tak menyahut, kutangkap hembusan
nafas beratnya. Aku kembali berusaha menyeret kopor dengan hati-hati. Tapi
resletingnya tak juga berhasil kugeser.
“Bisakah
jangan pergi?” Mas Ghani menyentuh tanganku yang berusaha menyeret kopor. Aku
ingin tersenyum. Tapi, aku tau menjadi kuat dalam keadaan seperti ini
sangat-sangat sulit. Aku hampir menangis, tapi kuhembuskan nafas berat.
“Ini
permintaan ibu, kan Mas. Jadi, Mas tidak boleh mengutamakanku dari pada
beliau!” Ujarku akhirnya mampu tersenyum, mesti sedikit.
“Apa
kamu fikir aku mampu tanpamu?” Ia bertanya denga tatapan memelas, astaga aku
bahkan sesak harus menyadari keputusan ini.
“Kita
harus mampu, kalau hubungan ini tidak direstui ibu, barulah kita tak mampu!”
Aku berusaha realistis dengan keyakinan kami, Islam yang suci. Mas Ghani
kembali terdiam, ia kembali menunduk dalam. Kami tidak perlu memberi tahu, tapi
kami memiliki perasaan yang sama, tentu saja. Aku menarik tanganku dari
genggaman mas Ghani dan menutup resleting kopor, meski kurang sempurna. Kugeser
posisi kopor, dan ku dekatkan posisiku pada mas Ghani. Ku raih tangannya dan
menatap wajah tampannya dengan senyuman.
“Jadikan
Allah satu-satunya yang kau cintai, Mas!” Pintaku. Mas Ghani menatap mataku
dalam-dalam, ada perih yang sangat tergambar disana.
“Aku
mencintaimu karena Allah,” Ucapnya hampir tak terdengar.
“Karena
itu, jika Allah ingin aku pergi, janganlah berat untuk melepasku, Mas!” Pintaku
lagi, masih kupertahankan senyumku, meski kutau telapak tanganku dingin.
“Subhanallah,,,”
Mas Ghani mengalihkan tatapannya ke langit-langit kamar, kemudian kembali padaku,
“Apa yang salah pada dirimu yang tak ibu terima, istriku?” Ia seolah menyesali
apa yang terjadi.
“Ssst...ini
ujian kita, Mas! Semuanya pasti ada hikmahnya!” Aku menguatkan genggamanku pada
tangannya, ia membalasnya. Kami saling menguatkan satu sama lain.
“Aku
tidak mau menceraikanmu!” Ucapnya membuat langit-langit hatiku perlahan sedikit
cerah.
“Aku
juga tidak mau bercerai darimu, Mas!” Aku menjawab, menatapnya penuh kasih. Ia
turun dari tepian ranjang dan menatap mataku dalam-dalam.
“Karena
Allah dulu aku mengambilmu dari keluargamu, dan karena Allah pula ku akan
melepasmu,,,” Ucapnya membuat mataku menggenang. Aku berusaha tersenyum dengan
bibir bergetar. Mas Ghani menarikku ke dalam pelukannya, menaruh kepalaku
diatas dadanya. Kami diam, hanya isakku yang mengisi partikel-partikel sunyi.
*
Mobil
mas Ghani melaju dengan pelan di jalanan yang tak begitu ramai. Pikiranku
melayang ke ibu. Aku pergi tanpa pamit, tepatnya tanpa sudi diterima oleh ibu.
Aku menikah dengan mas Ghani hampir setahun yang lalu, selama itu ibu memang
kurang menyukaiku, karena dulu ibu pernah ingin menjodohkan mas Ghani dengan
putri temannya. Tapi, dengan bijak Mas Ghani dan Ayah mertuaku memenangkan ego
ibu. Dan ibu bisa menyetujui pernikahanku dengan mas Ghani. Tapi, ternyata
tidak seperti harapan, ibu sama sekali tidak berubah. Belum lagi sampai saat
ini aku belum saja hamil, itulah alasan yang dibesar-besarkan ibu untuk
memisahkanku dari mas Ghani.
“Apa
yang sedang kamu fikirkan?” Suara mas Ghani memecah dunia hayalku.
“Tak
ada, hanya sedikit lelah!” Ucapku tersenyum.
“Kita
istirahat di kedai kopi?” Ajak Mas Ghani.
“Boleh
saja, tapi ini sudah masuk Isha, Mas. Nanti sampai rumahnya jam berapa?”
Jawabku dengan pertanyaan. Mas Ghani tersenyum dan kembali serius mengemudi.
Sekitar setengah jam kemudian kami sampai di rumah orang tuaku. Melihat mobil
mas Ghani paskir di halaman, Abah yang terlihat membaca kitab kuning di teras
menyambut dengan senyum lebar, lantas memanggil Bunda di dalam. Mas Ghani
memeluk Abah dengan pelukan bersahabat yang lama. Dari balik pelukan itu Abah
menatapku heran. Aku tersenyum dengan gurat mata yang tentu saja tak bisa
kusembunyikan. Aku yakin Abah tau ada masalah.
“Ayo,
masuk dulu, Nak! Sudah malam begini datangnya, mau nginap?” Tanya Abah merangkul
bahu mas Ghani. Aku mengikuti dari belakang. Bunda keluar dengan jilbab Ungu
yang sederhana, mas Ghani menyalaminya dengan santun.
“Lho???
Ini sengaja pulang apa mampir, Nha?” Tanya Bunda menoleh kepadaku. Aku menjawab
pertanyaan Bunda dengan senyuman dan menyalaminya lantas mengecup pipi kiri dan
kanannya yang sudah mengeriput tua. Merasakan sentuhanku, naluri keibuannya
bekerja. Bunda menggandeng tanganku dengan sayang.
“Kamu
bantu Bunda buat minuman, ya?” Pinta Bunda. Aku mengangguk, kulirik mas Ghani
dengan satu bahasa telepati, ia mengangguk. Akhirnya aku masuk ke dalam dengan
Bunda, dan mas Ghani duduk di ruang tamu dengan Abah. Kami, sama-sama
menceritakan perkaranya.
Bunda
memperhatikan raut wajahku dengan mata berlinang.
“Kamu
tak apa-apa, Nak?” Tanyanya mengasihani nasib putri semata wayangnya. Aku
tersenyum lantas menggeleng.
“Jangan
ragukan Allah, Nda! Semuanya pasti yang terbaik,,,mungkin ini adalah ujian!”
Ucapku menabahkan diri juga Bunda. Kulihat aura bangga tersirat di mata tuanya.
Ia mengusap kedua pipiku.
“Yah,,,Bunda
akan selalu berada di dekatmu, sayang!” Ucapnya penuh kasih. Aku mengangguk
dengan dua kristal bening menggelinding di pipiku, kemudian kucari ketenangan
dalam pelukan Bunda terkasih.
*
Abah
memeluk mas Ghani sebelum mas Ghani masuk mobil. Abah dan Bunda tidak marah
dengan kejadian ini. Semuanya seperti biasa saja. Mas Ghani menatapku dengan
kasih sebelum menutup kaca mobilnya, aku mengangguk dengan senyuman, terngiang
di telingaku janjinya sebelum pamit.
“Aku
berjanji akan menjemputmu sebelum habis masa iddah!”
Begitu
mobil keluar halaman, hening tercipta antara aku, Abah dan Bunda. Abah masih
setia menatap gerbang yang terbuka, yang dapat kulihat adalah punggung tuanya.
Tak lama ia berbalik, entah apa yang ia fikirkan aku hanya menunduk.
“Tak
apa, kita tunggu Allah membuka rahasia dari ujian ini!” Ucap Ayah seperti
sambil lalu namun dengan senyuman. Membuat hatiku seperti dimasuki musim semi,
terasa sangat sejuk. Ingin kuberlari dan memeluknya dari belakang seperti kecil
dulu, tapi aku tau ini bukan saatnya lagi, aku hanya menatap punggung Abah yang
memasuki rumah dengan sebuah tekad yang kutanamkan di hatiku.
“Aku
juga tidak akan lemah, Bah!”
*
Hari
ini adalah 3 hari sebelum masa iddahku habis, aku masih berusaha tenang. Allah
masih tetap dan akan selalu menjadi sandaran. Ku usaikan maghribku dengan
Yaasin, ada perasaan kurang enak yang mengganjal di hatiku. Meskipun kami
berpisah, mas Ghani selalu memberi kabar, tapi kurang lebih satu bulan ini, ia
seolah menghilang. Terkadang aku berfikiran kurang enak, mungkin ibu berhasil
menjodohkannya lagi dengan perempuan pilihannya. Seperti kabar yang aku dengar
dari mas Ghani, kalau ibu kembali mengenalkannya dengn putri temannya dulu.
Ah,,,tapi aku tak boleh berfikiran tak baik. Kugulung sajadahku, rasa lapar
menggerogoti perutku, entah kenapa akhir-akhir ini memang aku sering tak sadar
dengan porsi makan yang bertambah. Aku bangkit dan hendak keluar, tiba-tiba
pening menghujam di kepalaku. Aku beristighfar dan mengerjap-ngerjapkan mataku
perlahan, tapi tak bisa.
“Nha,,,makan
malam dulu!” Kudengar panggilan Bunda di pintu, aku menoleh dengan wajah ya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar