Rabu, 07 Oktober 2015

Masih Bisa


                Kukemasi barang-barang dengan pelan-pelan, diluar masih terdengar omongan-omongan tajam dari mulut seorang perempuan tua yang amat sangat aku hormati, ibu dari suamiku, mertuaku tentu saja. Tapi, omongan-omongan yang menyangkut diriku itu terdengar mengerikan dan merobek hati. Aku tau, mas Ghani tengah menunduk hormat mendengar ocehan ibu yang pahit tentangku. Meski mas Ghani tidak setuju, tapi aku paham kedudukan ibu lebih dariku, jadi tak ada sahutan sedikitpun dari mulutnya. 
                Barang-barangku sempurna masuk ke kopor dan aku tengah menyeret kopor ketika mas Ghani masuk ke kamar. Aku menoleh padanya dengan senyum, berusaha menguatkan hatinya. Ia mendekatiku dan duduk di pinddiran ranjang, menatapku yang tengah duduk di lantai menyeret kopor.
                “Ibu sudah pulang,” Ucapnya menunduk. Masih kupertahankan senyumku, meski hatiku tentu saja perih, sangat-sangat perih.
                “Ya, aku dengar deru mobilnya, Mas!” Ucapku dengan nada ringan.  Mas Ghani tak menyahut, kutangkap hembusan nafas beratnya. Aku kembali berusaha menyeret kopor dengan hati-hati. Tapi resletingnya tak juga berhasil kugeser.
                “Bisakah jangan pergi?” Mas Ghani menyentuh tanganku yang berusaha menyeret kopor. Aku ingin tersenyum. Tapi, aku tau menjadi kuat dalam keadaan seperti ini sangat-sangat sulit. Aku hampir menangis, tapi kuhembuskan nafas berat.
                “Ini permintaan ibu, kan Mas. Jadi, Mas tidak boleh mengutamakanku dari pada beliau!” Ujarku akhirnya mampu tersenyum, mesti sedikit.
                “Apa kamu fikir aku mampu tanpamu?” Ia bertanya denga tatapan memelas, astaga aku bahkan sesak harus menyadari keputusan ini.
                “Kita harus mampu, kalau hubungan ini tidak direstui ibu, barulah kita tak mampu!” Aku berusaha realistis dengan keyakinan kami, Islam yang suci. Mas Ghani kembali terdiam, ia kembali menunduk dalam. Kami tidak perlu memberi tahu, tapi kami memiliki perasaan yang sama, tentu saja. Aku menarik tanganku dari genggaman mas Ghani dan menutup resleting kopor, meski kurang sempurna. Kugeser posisi kopor, dan ku dekatkan posisiku pada mas Ghani. Ku raih tangannya dan menatap wajah tampannya dengan senyuman.
                “Jadikan Allah satu-satunya yang kau cintai, Mas!” Pintaku. Mas Ghani menatap mataku dalam-dalam, ada perih yang sangat tergambar disana.
                “Aku mencintaimu karena Allah,” Ucapnya hampir tak terdengar.
                “Karena itu, jika Allah ingin aku pergi, janganlah berat untuk melepasku, Mas!” Pintaku lagi, masih kupertahankan senyumku, meski kutau telapak tanganku dingin.
                “Subhanallah,,,” Mas Ghani mengalihkan tatapannya ke langit-langit kamar, kemudian kembali padaku, “Apa yang salah pada dirimu yang tak ibu terima, istriku?” Ia seolah menyesali apa yang terjadi.
                “Ssst...ini ujian kita, Mas! Semuanya pasti ada hikmahnya!” Aku menguatkan genggamanku pada tangannya, ia membalasnya. Kami saling menguatkan satu sama lain.
                “Aku tidak mau menceraikanmu!” Ucapnya membuat langit-langit hatiku perlahan sedikit cerah.
                “Aku juga tidak mau bercerai darimu, Mas!” Aku menjawab, menatapnya penuh kasih. Ia turun dari tepian ranjang dan menatap mataku dalam-dalam.
                “Karena Allah dulu aku mengambilmu dari keluargamu, dan karena Allah pula ku akan melepasmu,,,” Ucapnya membuat mataku menggenang. Aku berusaha tersenyum dengan bibir bergetar. Mas Ghani menarikku ke dalam pelukannya, menaruh kepalaku diatas dadanya. Kami diam, hanya isakku yang mengisi partikel-partikel sunyi.
*
                Mobil mas Ghani melaju dengan pelan di jalanan yang tak begitu ramai. Pikiranku melayang ke ibu. Aku pergi tanpa pamit, tepatnya tanpa sudi diterima oleh ibu. Aku menikah dengan mas Ghani hampir setahun yang lalu, selama itu ibu memang kurang menyukaiku, karena dulu ibu pernah ingin menjodohkan mas Ghani dengan putri temannya. Tapi, dengan bijak Mas Ghani dan Ayah mertuaku memenangkan ego ibu. Dan ibu bisa menyetujui pernikahanku dengan mas Ghani. Tapi, ternyata tidak seperti harapan, ibu sama sekali tidak berubah. Belum lagi sampai saat ini aku belum saja hamil, itulah alasan yang dibesar-besarkan ibu untuk memisahkanku dari mas Ghani.
                “Apa yang sedang kamu fikirkan?” Suara mas Ghani memecah dunia hayalku.
                “Tak ada, hanya sedikit lelah!” Ucapku tersenyum.         
                “Kita istirahat di kedai kopi?” Ajak Mas Ghani.
                “Boleh saja, tapi ini sudah masuk Isha, Mas. Nanti sampai rumahnya jam berapa?” Jawabku dengan pertanyaan. Mas Ghani tersenyum dan kembali serius mengemudi. Sekitar setengah jam kemudian kami sampai di rumah orang tuaku. Melihat mobil mas Ghani paskir di halaman, Abah yang terlihat membaca kitab kuning di teras menyambut dengan senyum lebar, lantas memanggil Bunda di dalam. Mas Ghani memeluk Abah dengan pelukan bersahabat yang lama. Dari balik pelukan itu Abah menatapku heran. Aku tersenyum dengan gurat mata yang tentu saja tak bisa kusembunyikan. Aku yakin Abah tau ada masalah.
                “Ayo, masuk dulu, Nak! Sudah malam begini datangnya, mau nginap?” Tanya Abah merangkul bahu mas Ghani. Aku mengikuti dari belakang. Bunda keluar dengan jilbab Ungu yang sederhana, mas Ghani menyalaminya dengan santun.
                “Lho??? Ini sengaja pulang apa mampir, Nha?” Tanya Bunda menoleh kepadaku. Aku menjawab pertanyaan Bunda dengan senyuman dan menyalaminya lantas mengecup pipi kiri dan kanannya yang sudah mengeriput tua. Merasakan sentuhanku, naluri keibuannya bekerja. Bunda menggandeng tanganku dengan sayang.
                “Kamu bantu Bunda buat minuman, ya?” Pinta Bunda. Aku mengangguk, kulirik mas Ghani dengan satu bahasa telepati, ia mengangguk. Akhirnya aku masuk ke dalam dengan Bunda, dan mas Ghani duduk di ruang tamu dengan Abah. Kami, sama-sama menceritakan perkaranya.
                Bunda memperhatikan raut wajahku dengan mata berlinang.
                “Kamu tak apa-apa, Nak?” Tanyanya mengasihani nasib putri semata wayangnya. Aku tersenyum lantas menggeleng.
                “Jangan ragukan Allah, Nda! Semuanya pasti yang terbaik,,,mungkin ini adalah ujian!” Ucapku menabahkan diri juga Bunda. Kulihat aura bangga tersirat di mata tuanya. Ia mengusap kedua pipiku.
                “Yah,,,Bunda akan selalu berada di dekatmu, sayang!” Ucapnya penuh kasih. Aku mengangguk dengan dua kristal bening menggelinding di pipiku, kemudian kucari ketenangan dalam pelukan Bunda terkasih.
*
                Abah memeluk mas Ghani sebelum mas Ghani masuk mobil. Abah dan Bunda tidak marah dengan kejadian ini. Semuanya seperti biasa saja. Mas Ghani menatapku dengan kasih sebelum menutup kaca mobilnya, aku mengangguk dengan senyuman, terngiang di telingaku janjinya sebelum pamit.
                “Aku berjanji akan menjemputmu sebelum habis masa iddah!”
                Begitu mobil keluar halaman, hening tercipta antara aku, Abah dan Bunda. Abah masih setia menatap gerbang yang terbuka, yang dapat kulihat adalah punggung tuanya. Tak lama ia berbalik, entah apa yang ia fikirkan aku hanya menunduk.
                “Tak apa, kita tunggu Allah membuka rahasia dari ujian ini!” Ucap Ayah seperti sambil lalu namun dengan senyuman. Membuat hatiku seperti dimasuki musim semi, terasa sangat sejuk. Ingin kuberlari dan memeluknya dari belakang seperti kecil dulu, tapi aku tau ini bukan saatnya lagi, aku hanya menatap punggung Abah yang memasuki rumah dengan sebuah tekad yang kutanamkan di hatiku.
                “Aku juga tidak akan lemah, Bah!”
*
                Hari ini adalah 3 hari sebelum masa iddahku habis, aku masih berusaha tenang. Allah masih tetap dan akan selalu menjadi sandaran. Ku usaikan maghribku dengan Yaasin, ada perasaan kurang enak yang mengganjal di hatiku. Meskipun kami berpisah, mas Ghani selalu memberi kabar, tapi kurang lebih satu bulan ini, ia seolah menghilang. Terkadang aku berfikiran kurang enak, mungkin ibu berhasil menjodohkannya lagi dengan perempuan pilihannya. Seperti kabar yang aku dengar dari mas Ghani, kalau ibu kembali mengenalkannya dengn putri temannya dulu. Ah,,,tapi aku tak boleh berfikiran tak baik. Kugulung sajadahku, rasa lapar menggerogoti perutku, entah kenapa akhir-akhir ini memang aku sering tak sadar dengan porsi makan yang bertambah. Aku bangkit dan hendak keluar, tiba-tiba pening menghujam di kepalaku. Aku beristighfar dan mengerjap-ngerjapkan mataku perlahan, tapi tak bisa.

                “Nha,,,makan malam dulu!” Kudengar panggilan Bunda di pintu, aku menoleh dengan wajah ya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar