Hasbi duduk
di sofa dengan nafas berat. Ia baru saja selesai berdzikir dan mengaji beberapa
lembar. Entah kenapa perasaannya memaksanya menonton TV. Ia tidak mengerti,
tapi ia turuti saja kemauan hatinya. Ia lantas menyalakan TV, wajah putih bersih
dan tampa n yang
dimilikinya terlihat santai melihat layar TV yang menunjukkan acara-acara yang
belum menarik di benaknya. Baru pada chanel yang ke tujuh ia mulai merasa
tertarik dengan berita yang disiarkan terkait dengan tawuran antar kampung di
lingkungan yang tak jauh dengan sekolah tempat ia mengajar. Hasbi tampa k makin serius, di layar TV diperlihatkan beberapa oran g yang terluka.
“…Ditemukan pula tiga oran g perempuan yang menurut dugaan polisi menjadi korban
pemerkosaan beberapa pemuda yang mabuk dalam tawuran tersebut. Belum diketahui
identitas perempuan-perempuan tersebut…”
Dalam hati Hasbi beristighfar.
Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kejadiannya. Sisi lain hatinya ia masih
bisa bersyukur, korban-korban itu bukanlah dari kakak atau adik perempuannya.
Kakaknya sudah berkeluarga dan kini tinggal di luar kota , sedang adiknya yang masih sekolah SMA,
suaranya masih terdengar sayup-sayup dari kamarnya di lantai dua, tengah
membaca Al Qur’an. Sedang, seorang gadis lagi yang istimewa baginya? Hasbi
yakin, pasti bukan dia. Gadis itu sekarang sedang sibuk menyusun skripsinya dan
Hasbi yakin, gadis itu tidak apa-apa.
Sesaat kemudian suara adzan
bergema dari mushalla dekat rumah Hasbi. Hasbi segera bangkit, setelah
mematikan TV hendak mengambil sajadah, tepat ketika itu Hpnya berdering, ia
melirik sekilas lantas kembali berlalu mengambil sajadah dan pergi ke mushalla
untuk berjama’ah.
*
Cukup lama Hasbi wirid setelah
Isha, baru setelah menyelesaikan witirnya ia memutuskan pulang. Di perjalanan
dia bertemu dengan pamannya.
“Kapan kamu akan memboyong mantu
buat Paman, Bi?” Tanya Pamannya membuka percakapan, Hasbi tersenyum memamerkan
gigi-gigi rapi dan putihnya.
“Sebentar lagi, Paman.
insyaAllah,” Jawab Hasbi yakin.
“Alhamdulillah, jadi sudah dapat
persetujuan dari Kiran?” Tanya Pamannya lagi, dada Hasbi berdesir menden gar nama itu.
“InsyaAllah,” Jawab Hasbi lagi
masih dengan senyuman.
“Kok InsyaAllah lagi? Bagaimana
jelasnya?” Paman tampa knya
ingin mengetahui lebih jelas.
“Dia sedang menyusun skripsinya,
Paman!” Hasbi menjawab sembari membuka gerbang rumahnya yang tidak terkunci.
“Lho, bukannya kemarin sudah
ujian skripsi, ya?” Paman heran.
“Alhamdulillah sudah, tapi dia
masih ingin menyusun ulang, tampa knya
kurang puas dengan nilainya kemarin!” Jelas Hasbi gerbangnya sempurna terbuka,
“Masuk dulu Paman, makan malam di rumah. Ayah belum pulang,” Ajak Hasbi.
“Terima kasih, Buk Demu sudah
menyiapkan di rumah. Mari, assalamu’alaikum!” Paman berpamit. Hasbi membalas
sembari menutup gerbang dan berjalan memasuki rumah. Ia mengucap salam begitu
membuka pintu. Dari lantai atas, Lulu adiknya menjawab dan melongok ke bawah.
“Bang, HPnya dari tadi
teriak-teriak terus. Mungkin ada yang penting!” Ujarnya menunjuk HP Hasbi
dengan tatapan yang memang terletak di atas meja kaca ruang keluarga. Hasbi
mengangguk.
“Kamu turun makan dulu. Itu,
Mama sudah siapkan!” Hasbi menunjuk Mamanya yang sibuk di meja makan dengan gera kan kepala. Mamanya
menoleh tersenyum. Lulu mengiyakan. Hasbi lantas melangkah mengambil HPnya.
Lulu benar, ada 9 misscall. Setelah Hasbi buka, ternyata dari Atya, temannya.
Dahi Hasbi mengerut, mungkin ada sesuatu yang penting. Iapun membawa HPnya ke kama r, hendak mengganti pakaian shalatnya. Begitu selesai
menggati sarung, HPnya berdering lagi. Di layar tertera nama Atya.
“Assalamu’alaikum?” Sapa Hasbi
menempelkan HPnya di telinga kan an.
“W’alaikumussalam warahmatullah, akhi kemana dari tadi saya hubungi kok
nggak diangkat?” Tanya Atya terdengar gusar.
“Baru balik dari mushalla, ada
apa? Ada yang
bisa saya Bantu?” Tanya Hasbi ramah.
“Uummm…sebenarnya ana mau memberi tau kabar yang kurang enak!” Atya
terdengar menahan tangisnya. Hasbi heran, mesti telah terjadi sesuatu yang
buruk.
“Uk hty? Ada masalah dengan Huzaimah?” Tanya Hasbi
menyebut nama kelompok kerja mereka.
“Bukan , Ak h…ini…” Baru kemudian Atya memberi tahu
Hasbi dengan disertai isakan.
“Hasbi…!!! Makan malam dulu,
Sayang!” Mama berseru memanggilnya. Tapi sepertinya Hasbi tidak terlalu
memperhatikan. Yang terlihat sekarang adalah wajah Hasbi yang perlahan memucat,
ia menjauhkan HPnya dari telinga dan melepasnya begitu saja di ranjang
empuknya.
“Inn alillahiwainngailaihirooji’un!”
Ucapnya sembari mengusap wajahnya. Beberapa kali Mamanya memanggil, ia tak juga
menyahut. Mamanya mulai khawatir lantas menuju kama r
Hasbi. Begitu ia hendak mengetuk pintu itu terbuka dan terlihatlah wajah tampa n anaknya
diselimutii kekhawatiran dan kegusaran. Hasbi telah siap dengan jaket hitam dan
konci mobil di tangannya.
“Ada apa, Bi? Kamu mau kemana?” Tanya Mama
mulai khawatir, tergerak naluri keibuannya.
“Ada musibah, Ma. Saya harus menemui Kiran
sekarang!” Jawab Hasbi. Mamanya menatap kekhawatiran di mata putra
sematawayangnya itu. kemudian ia mengangguk.
“Hati-hati” Pintanya. Hasbi
mengangguk lantas mengecup punggung tangannya.
*
Hasbi tiba di rumah sakit yang
diberitahukan Atya. Sesampai di ruangan yang juga diberitahukan Atya, Hasbi
melangkah cepat disana juga ada Atya.
“Bagaimana keadaannya?” Tanyanya
pada Atya.
“Dokter belum memberi izin untuk
masuk!” Jawab Atya menunduk.
“Oran g tuanya sudah dikabari?” Tanya Hasbi
lagi.
“Alhamdulillah sudah. Begitu
kukabari Ibunya langsung menangis, mungkin sudah mendapat firasat buruk!” Atya
kembali duduk di korsi tunggu. Hasbipun mengikutinya, duduk berjarak dua korsi
di samping kiri Atya.
“Bagaimana kejadian sebenarnya, Uk hty?” Hasbi
menunduk. Antara berani dan tidak menden gar
jawaban dari pertanyaannya.
“Sore tadi, Mulya menelphon
Kiran. Katanya ada sesuatu yang tidak bisa ia kerjakan. Dan berhubung skripsi
yang Kiran susun ulang sudah selesai, dia bersedia menemui Mulya. Tapi, ketika
pulang itulah terjadi tawuran di jalan. Ana tidak tau kejadian detailnya, yang
jelas polisi menelpon ana dengan hp Kiran, karena saat itu ana sms Kiran, ana
khawatir sampai maghrib dia tak pulang.” Hasbi masih merenung dengan ujung
sandal yang ia kenakan. Ya, ternyata Kiran adalah salah satu dari tiga gadis
yang diperkosa pada tawuran itu.
Pandangan Hasbi lurus pada ujung
kakinya, entah apa yang ia fikirkan. Tampaknya ini sangat berat baginya. Ia
masih ingat jelas tiga hari lalu seusai ujian skripsi Kiran dan ia bertemu.
Saat itu wajah manis Kiran tampa k
bercahaya, apalagi dengan senyum kebahagiaan.
“Meskipun tidak sempurna,
alhamdulillah ana lulus, Kak!” Ujarnya. Saat itu Hasbi berhamdalah ikut
bahagia, tapi ia tak mengatakan apapun, memang saat itu hanya Kiran yang boleh
berbicara. Karena sebulan yang lalu, Hasbipun telah memiliki waktu untuk
bicara. Kiran tampa k
kikuk, walau menunduk Hasbi bisa mengetahui itu.
“Dan…” Kiran menggantung
kalimatnya, “Dan…ana menerima lamaran kakak!” Ujarnya. Seketika itu juga Hasbi
berhamdalah dengan suara yang sangat bahagia.
“Syukran uk hty…akan
kutemui keluargamu minggu depan!” Kata Hasbi dengan yakin. Kiran mengangguk,
masih dalan tunduknya.
Kini Hasbi mengerjapkan mata
tegasnya. Ia seorang lelaki, tak pantas menangis. Tapi…ya Allah… calon istrinya
yang shalihah dan cerdas itu…telah diperkosa oleh pemuda-pemuda mabuk. Hasbi
mengusap wajahnya. Atya menoleh padanya, berharap mengerti perasaan kakak
tingkatnya yang telah menunggu sahabatnya lebih dari tiga tahun itu, tanpa
sadar air matanyapun mengalir.
*
Pukul dua dini hari Hasbi sampai
rumah. Saat mengucapkan salam Mamanya membukakan pintu. Mamanya memang
menunggunya sampai larut. Mama tak bisa tidur melepas putranya pergi dengan
wajah buram. Kini di balik pintu ditemukannya putranya dengan pandangan lesu
tersenyum padanya. Ia ingin tersenyum, tapi naluri keibuannya malah menatap iba
pada putranya. Ia bahkan belum tau masalahnya apa tapi ia bisa merasakan
kesakitan putranya.
Hasbi menyalaminya, mengecup
punggung tangannya. Tak ada yang keluar dari mulut keduanya hingga tiba-tiba
Hasbi memeluknya, erat. Seolah ingin membagi sedikit gundukan pada hatinya. Tak
ada tangis apalagi isak, tapi Mama mengerti Hasbi, putra tunggalnya itu tengah
butuh tumpuan. Tampa
bertanya ia membalas pelukan putranya dan mengelus kepalanya pelan, penuh
kasih.
*
Esok sorenya selepas shalat
ashar, Hasbi mengajak kedua oran g
tuanya menjenguk Kiran yang menurut Atya telah siuman dan boleh dijenguk. Kedua
oran g tua Hasbi
sudah mengetahui perkaranya. Begitu sampai di Rumah Sakit, Hasbi mendapati
kedua oran g tua
Kiran di depan ruangan. Ibunya terlihat mengulum sebuah senyuman untuk Hasbi
meski matanya tampa k
sembab. Kedua oran g tua Hasbi mendekati oran g tua Kiran, Hasbi
mengikutinya.
“Bagaimana
Kiran , Tante?” Tanya Hasbi.
“Alhamdulillah sudah sadar, tapi
belum bisa diajak berkomunikasi. Kata dokter dia shock berat!” Jawab Ibu Kiran,
tampa k menahan
tangis. Ayah Kiran merangkul bahu istrinya, akhirnya tangis ibu Kiran pecah.
Mama Hasbi memeluknya dan mencoba menenangkannya agak jauh dari mereka. ayah
Kiran dan Papa Hasbi berbicara cukup serius. Hasbi tampa k tak tertarik, ia menoleh pada pintu.
Ia melangkah mendekat dan membuka pintu itu.
“Assalamu’alaikum!” Sapanya.
Atya yang menunggu Kiran di dalam menoleh sembari menjawab salam. Hasbi
mendekat sembari menatap Kiran yang tengah duduk bersandarkan bantal. Matanya
terbuka tapi tampa k
menatap dengan kosong. Hati Hasbi miris. Mata ind ah yang dulunya penuh cahaya dan harapan
kini kosong dan hampa.
“Dia tidak bicara dari dia
siuman, Akhi mau mencoba?” Tanya Atya. Hasbi diam, Atya bangkit dari korsinya
dan menjauh, Hasbi mengambil tempat Atya. Baru kali ini ia memperhatikan wajah
Kiran dengan jarak sedekat ini. Kali ini dia tidak mencegah pandangannya
seperti dulu, ia terus memperhatikan wajah yang pucat itu. tak lama kemudian ia
beristighfar, lantas menunduk.
Atya memperhatikan, tak tau
mesti berbicara apa. Lama, hanya kesunyian yang menguasai keadaan, kadang
hembusan nafas mendapat sedikit jeda.
“Kamu tidak perlu seperti ini,
Kiran!” Kali ini Hasbi membuka mulutnya tanpa mengangkat wajahnya. “Kamu harus
menjadi Kiran yang dulu kukenal!” Suara Hasbi bergetar. Entah menahan tangis
entah menahan perasaannya. Atya menunduk. Kembali sunyi.
“Aaaaarrrggghhh!!!” Tiba-tiba
saja Kiran berteriak. Atya dan Hasbi menoleh pada Kiran dengan serentak. Atya
mendekati Kiran dengan cepat. Kiran menangis, menutup wajahnya dengan kedua
telapak tangannya. Hasbi mundur, Atya mencoba menenangkan tapi tak berhasil. Di
telinga Hasbi tangis Kiran sangat perih. Ia merasa hatinya tercabik-cabik menden garnya. Tak lama
para oran g tua memasuki ruangan Kiran. Ibunya
mendekat ikut menangis. Semua panik. Hanya papa Hasbi yang berinisiatif
memanggil dokter. Sementara Kiran semakin tak terkendali, ia berteriak sambil
menarik-narik jilbab kaos yang ia kenakan. Ia terlihat ingin membukanya. Hasbi
menatap dengan hati perih. Apa yang bisa ia lakukan?
Tak lama, dokter datang.
*
Kondisi Kiran seperti itu setiap
harinya. Hasbi bahkan tak pernah sempat bicara apa-apa padanya. Ia ingin menenangkan,
tapi tak tau harus berbuat apa. Kiran seperti tidak mau mengenakan jilbab lagi,
ia selalu berteriak dan ingin melepas jilbabnya. Tapi selalu bisa dicegah oleh
Ibunya atau Atya.
Malam ini Hasbi menggelar
sajadah lebih lama dari malam-malam sebelumnya. Ia hanya tidur sedikit dan
bermunajat pada Allah hingga pagi. Ia meminta petunjuk pada Allah, harus
bagaimana ia. Hasbi yakin, seyakin keyakinan yang dimilikinya. Bahwa hanya
Allahlah yang bisa menolongnya.
Begitu ia usa i shalat
subuh, Hasbi kembali menadahkan tangannya keatas. Dengan tanpa suara ia
berdo’a…begitu lama, begitu khusuk…terakhir diusapnya wajahnya dengan telapak
tangannya, ia membuka matanya. Ada
sebuah sinar baru disana.
“Ya Allah, semoga ini adalah
keputusan-Mu!” Katanya dalam hati. Lantas ia bersiap hendak ke Rumah Sakit.
*
Atya turun dari taxi begitu
sampai di halaman Rumah Sakit. Sudah dua hari ia tidak sempat menjenguk Kiran.
Karena mengikuti ujian skripsi. Begitu memasuki halaman Rumah Sakit ia melihat
Hasbi masuk rumah sakit dengan langkah-langkah pasti. Ia menelan ludah lantas
menunduk. Memang selama ini tak ada yang tau betapa ia menaruh harapan besar
terhadap lelaki itu. tapi sayang lelaki itu malah jatuh hati pada sahabatnya
sendiri. Dan dengan kebesaran hati dengan bermodal pengertian sesama perempuan,
ia mengekan perasaannya.
Ia bisa melihat keseriusan Hasbi
pada Kiran. Keduanya serasi, dari wajah, sikap dan juga kecerdasan. Seperti
sekarang, dia kembali bisa melihat kesungguhan Hasbi mempertahankan Kiran.
Meski kondisi Kiran seperti itu. meski tidak mau mengakuinya, satu sisi dari
hatinya yang paling dalam ada syukur di hati Atya dengan kondisi Kiran seperti
itu. itu berarti akan ada peluang untuknya pada Hasbi. Tapi, segera dibuangnya
jauh-jauh perasaan itu. Allah pasti mempersiapkan pendamping yang lebih baik
baginya kelak. Atyapun melanjutkan langkahnya memasuki Rumah Sakit.
Sesampainya disana ditemukannya
Hasbi duduk di korsi tunggu. Pasti Hasbi tidak mau masuk ruangan Kiran jika tak
ada oran g lain.
Atya memperhatikan sekeliling, mungkin oran g
tua Kiran masih membeli makanan untuk sarapan. Hasbi menyadari kedatangannya,
lelaki tampa n
itu berdiri dan memberi salam. Atya menjawabnya.
“Ayo masuk, Akh! Kita jenguk
Kiran sama-sama!” Pinta Atya, Hasbi mengangguk menyetujui. Merekapun masuk
bersama. Kiran tampa k
merenung di ranjangnya. Ada
lingkaran hitam di bawah matanya, ia tak pernah tidur. Hasbi tersenyum padanya,
meski tau Kiran tak akan membalas.
“Ana bawa sarapan, sarapan
sama-sama ya?” Pinta Atya pada Kiran mengecup kedua pipi Kiran yang semakin
mengurus. Kiran hanya diam. Atya tetap menyiapkan sarapan, ia mengeluarkan
peralatan yang ia bawa.
Dan tanpa ada yang menyadari
mata Kiran melirik ke pisa u kecil yang dibawa
Atya, lantas secepat kilat diambilnya pisa u
itu.
“Kiraaan!!!!” Atya berteriak,
Kiran berhasil memegang pisa u kecil itu dan
menjauh dari Atya, ia mengarahkan pisa u
itu pada nadinya. Dan menggerakkannya perlahan, tapi…
Prang!!!
Pisau itu terjatuh ke lantai,
Hasbi menendang pergelangan tangan kan an Kiran
sehingga pisa u
itu terlempar. Kiran meringis, merasakan ngilu pada pergelangan tangan kan annya, sedang
pergelangan tangan kirinya telah berhasil ia lukai sedikit dan kini
mengeluarkan darah yang lumayan banyak.
Brugh!
Kiran terduduk di lantai, ia
tidak menangis. Ia menunduk, memandangi lantai putih Rumah sakit. Atya menatap
kejadian yang spontan itu dengan wajah pucat, ia mengambil nafas dan hendak
mendekati Kiran.
“Jangan!” Hasbi berseru, Atya
refleks menghentikan langkahnya. Hasbi berdiri tak jauh di belakang Kiran. Ia
menatap Kiran yang menunduk, nafasnya satu-satu terdengar menenangkan
perasaannya. “Biarkan dia berfikir.” Katanya melanjutkan.
Lama, hanya sepi. Darah di
pergelangan tangan kiri Kiran kian banyak mengucurkan darah. Atya kian
khawatir. Tapi dia tau Hasbi mengawasi semuanya. Hasbi pasti tau betul apa
akibat dari perbuatannya. Ia yakin Hasbi juga tak akan tega membunuh Kiran.
“Kenapa kamu melakukan itu?”
Hasbi akhirnya mulai mengacaukan kerajaan sepi. Kiran diam, Atyapun hanya
memperhatikan. “Kamu tidak berfikir apa akibat dari ulahmu?”
“Aku akan mati!” Setelah hampir lima hari, ini adalah
suara Kiran yang pertama. Suaranya bergetar.
“Itu
perbuatan yang tercela. Hanya oran g
yang tidak beriman yang melakukan itu!” Hasbi berujar dengan nada tegas.
“Aku memang tidak beriman!!!”
Kiran berteriak. Suaranya masih bergetar, Hasbi diam, begitupun Atya. Tiba-tiba
pintu terbuka, oran g
tua Kiran masuk. Ibunya ingin menghampiri, tapi ditahan suaminya. “Aku
kotor!!!” Kiran kembali berteriak dan membuka jilbabnya. Kali ini ia berhasil,
Hasbi menutup matanya. Kemudian terdengar isak, Kiran menangis. “Gadis mana
yang tidak terpukul??? Aku menjaga kesucianku untuk suamiku, aku menjaga
kesucianku yang akan aku hadiahkan pada suamiku. Aku menjaganya untuk kakak!!!”
Suara Kiran miris. Atya menangis, begitu juga ibu Kiran. Hasbi hanya diam, ia
tak membuka matanya.
“Kamu menyalahi takdir Allah,
Kiran. Wanita shalihah tidak akan merasa begitu, ia akan berusaha tabah dengan
semua takdir Allah. Mengapa hanya karena kesucianmu terampas imanmu juga
terampas? Kalau kamu tau, …” Hasbi menggantung kalimatnya. Ia membalik tubuhnya
lantas membuka matanya tapi ia menunduk, semua pasang mata yang hadir di
ruangan itu memperhatikannya, “seandainya kamu tau Kiran, bahwa kesucian itu
tidak lebih berharga dari pada iman. Aku tidak melihat kamu karena kesucian
atau fisikmu, aku juga tidak pernah mengharapkan hadiah apa-apa darimu. Aku
hanya mau, pendamping hidupku seorang wanita shalihah yang beriman. Bukan
wanita tak beriman yang suci!” Lanjut Hasbi. Suasana hening, Hasbi melangkah
keluar tanpa salam.
*
Tiga hari berlalu. Kondisi Kiran
kian membaik, ia tak lagi berteriak-teriak. Jilbabnya tak lagi ingin ia lepas.
Ia hanya diam, merenung, berfikir. Ia pasti telah melukai perasaan Hasbi. Tapi,
ia harus bagaimana? Ia adalah seorang gadis yang tak lagi gadis. Ia adalah
seorang perempuan yang telah diperkosa.
Meski Hasbi adalah seorang baik
yang beriman dan sholeh, Kiran pantas merasa khawatir jika Hasbi tak lagi
menginginkannya. Ia pantas merasa khawatir jika semua oran g mencemoohnya. Wanita berjilbab tapi tak
bisa menjaga diri. Ia pantas merasa khawatir jika oran g-orang berfikir jilbab ternyata tidak
bisa melindungi seorang wanita. Air matanya mengalir membasahi pipi. Hasbi
benar, bagaimanapun ini semua adalah takdir Allah. Jadi haruskah ia menyalahkan
Allah? Menyalahkan sang Pencipta, padahal hanya Dialah yang mengetahui segala
kebaikan yang terbaik.
Kiran beristighfar berkali-kali.
Ia memohon ampun pada Allah, segera ia ambil air wudhu dan mulai shalat denga
mukenah yang memang telah disiapkan oleh oran g
tuanya semanjak hari pertama ia sakit. Dari kaca pintu Ibunya tersenyum melihat
peru bahannya.
*
Kiran menangis di hadapan
Tuhannya di pertiga malam. Ia serahkan seluruh hidupnya pada-Nya. Ia meminta
ampun atas keputusasaannya. Ia tak lagi berfikir tentang kotor dirinya, ia tak
lagi khawatir tentang lelaki mana yang akan mau menjadi pendampingnya. Ia
serahkan seluruh cintanya pada Allah. Benar-benar hanya kepada Allah.
*
“Sayang, ada seseorang yang
ingin meminangmu,” Ibu Kiran mendekati anaknya yang baru saja selesai whudu.
“Alhamdulillah, apa Ibu sudah
cerita tentang keadaanku?” Tanyanya mengenakan mukenah. Ibunya tersenyum.
“Dia tidak akan meminangmu jika
tidak tau!” Kata Ibunya. Kiran tersenyum lantas mulai shalat sedang ibunya
mulai beres-beres. Kiran sudah siap pulang hari ini. selesai shalat Kiran dan
kedua oran g
tuanya bergegas pulang. Senyum sudah menghiasi wajah mereka. diam-diam Kiran
berfikir tentang Hasbi. Bagaimana kabar lelaki yang telah ia terima lamarannya
itu? apakah ia masih menaruh harapan pada Kiran? Ah, Kiran tidak mau berfikir
macam-macam. Ia sudah sepenuhnya menyerahkan kepada Allah. Lagi pula sudah
lebih dari seminggu Hasbi tak pernah menjenguknya.
“Sayang, oran g itu akan meminangmu hari ini. dan akan
melangsungkan akad nikah juga hari ini!” Ibunya membuka percakapan yang
mengejutkan. Tapi hanya Kiran yang terkejut. Ayahnya santai saja mengemudi
mobil.
“Um, apakah aku sudah
menyetujuinya?” Tanyanya.
“Itu terserah kamu saja. Lelaki
itu baik, dia mau menerimamu apa adanya. Dia tidak menuntut apa-apa darimu,
selepas akad dia akan mengajakmu ke luar negeri ke rumah keluarganya. Mungkin
kamu bisa memulihkan mentalmu disana, itu jika kamu mau!” Suara Ibunya
terdengar berharap. Kiran melirik pada Ibunya yang tersenyum dan tanpa sadar
sebuah suara keluar dari mulutnya.
“Baiklah,” Ibu dan Ayahnya
berhamdalah. Kiran kaget, ia seperti tidak sadar telah menjawab apa barusan.
*
Kiran tidak
menyangka ternyata pernikahannya dirayakan hari itu juga. Ia bahkan tidak tau
siapa calon suaminya. Ia hanya mengikuti apa yang memang seharusnya ia ikuti.
Ia dimake up dengan make up yang lumayan berkelas. Meskipun rasa heran
menggandrungi fikirannya tapi ia tidak mau terlalu banyak bertanya, ia serahkan
semuanya kepada Allah. Lagipulla ia sangat percaya pada ibunya.
“Kiran, ini calon suamimu ingin
bicara!” Tiba-tiba ibunya memasuki ruangan dan menyerahkannya handphone. Kiran
menatap ibunya sebelum mulai bicara. Ibunya mengangguk meyakinkah.
“Assalmu’alaiku warahmatullah!”
Sapanya. Terdengar sapaan berat diujung.
“Wa’alaikisalam warahmatullah wabarakatuh.
Kaifa hal uk hty?”
Tanya suara itu dari seberang. Dada Kiran berdesir. Entah kenapa, ia merasa
nyaman menden gar
suara itu.
“Alhamdulillah baik,” Kiran
tidak tau mesti mengatakan apa pada lelaki itu. apakah pantas jika ia
menanyakan namanya.
“Nan ti
kita bertemu setelah akad, akan saya ceritakan semuanya tentang saya.
insyaAllah saya menerima uk hti
apa adanya,” Serasa angin dari firdaus berhembus di hati Kiran. Ia berhamdalah
dalam hati.
“InsyaAllah, assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikissalam warahmatullah…,Um
sebelumnya…aku mencintaimu!”
Tut tut tut
Kiran tertegun beberapa saat.
Kenapa? Ia tidak mengerti perasaannya. Ia merasa yang berbicara di seberang
adalah…Hasbi. Mungkinkah dia? Tapi…Kiran menepis fikiran itu. Hasbi, tidak
mungkin dia. Hasbi pasti sudah sangat kecewa dengannya dan pasti tidak mau
menikah dengannya.
Akhirnya, acarapun segera
dimulai. Kiran dituntun keluar oleh ibu dan beberapa kerabat wanitanya. Dapat
dilihat oleh Kiran sangat banyak tamu yang datang. Entah kapan dapat undangan.
Dari sekian banyak tamu, ia melihat Hasbi duduk diatara mereka. ia terlihat
turut bahagia dengan pernikahan Kiran. Ketika mata mereka bertemu, Hasbi
mengangguk memberi selamat dengan senyuman. Kiran menunduk. Ternyata memang
benar bukan Hasbi yang mempersuntingnya. Tiba-tiba saja Kiran merasa kecewa
yang teramat dalam. Ya, Kiran memang sangat berharap Hasbilah yang
mempersuntingnya.
“Kamu menyalahi takdir Allah,
Kiran!” Kiran kembali mengingat kalimat Hasbi hari itu. buru-buru dihapusnya
rasa kecewanya semampunya. Ia harus menerima jodoh yang di sediakan Allah
padanya.
“Silahkan kedua mempelai duduk
di hadapan penghulu!” Terdengar perintah dari Penghu lu.
Kiran didudukkan di sebelah kiri dan tak lama mempelai pria di sebelah kan an. Kiran enggan
menoleh, ia hanya menunduk. Rasanya belum siap saja melihat suaminya. Tak lama,
akhirnya ijab kabul pun
diucapkan. Kiran bisa menden gar
degup jantungnya saat melihat tangan penghulu berjaba erat dengan tangan calon
suaminya. Dan ketika ijab diucapkan,
Kiran merasakan jantungnya tak berdegup lagi. Ia membuka matanya lebar-lebar
meski tak menoleh, ia mencoba meyakinkan dirinya. Kemudian ia menden gar suara calon suaminya …
“Saya terima nikahnya Kiran
Husnia Ramadhani binti Abdul Qasim dengan maskawin seperangkat alat shalat dan
uang 67 juta rupiah dibayar tunai!”
Sah!
Air mata mengalir di pipi Kiran.
Ia tak tau harus menggambarkan perasaannya dengan kata-kata apa. Ia kemudian
menoleh, menatap wajah tampa n suaminya yang tampa k tersenyum padanya
dengan mata berkaca-kaca. Kemudian ia menyalami suaminya dengan santun,
mengecup punggung tangannya, kemudian ia merasakan sesuatu di keningnya, ia
memejamkan mata. Ini adalah sentuhan laki-laki halal pertama untuknya.
“Aku mencintaimu!” Bisik Hasbi
setelah kecupan di keningnya. Kiran mengangguk dengan tangis. Sebagian besar
tamu terharu melihat pernikahan mereka. kiran benar-benar tidak menyangka Hasbi
yang menikahinya…tapi tentu saja ia sangat bahagia.
*
“Kan sudah minta maaf,” Hasbi melirik Kiran
yang membuka riasan pengantinnya.
“Tetap saja, masa’ main
rahasia-rahasiaan gitu? Awal yang kurang baik!” Kiran melepas peniti terakhir
pada jilbabnya. Hasbi terkekeh, kemudian mendekati Kiran.
“Jadi nggak suka nich?” Tanyanya
memeluk Kiran dari belakang. Kiran menatap wajah suaminya dari cermin. Ia
tersenyum.
“A moment to remember, hehe!”
Ucap Kiran menyentuh pipi suaminya dengan telapak tangan.
“Ohya
memangnya kakak punya keluarga di Luar negeri????” Kiran bertanya mengingat
rasa herannya. Hasbi tersenyum.
“Keluarga?
Tentu saja, disana kan
ada calon anak kita. Hehe!” Hasbi terkekeh Kiran tersenyum lembut
“Terimakasih
telah menerimaku apa adanya, Kak!” Ucapnya.
“Kalo tidak apa adanya namanya
tidak ikhlas, dan kalau tidak ikhlas namanya setengah-setengah. Dan kalau
setengah-setengah nggak baik dan…”
“Kalau aku mencintai kakak?”
Kiran memotong.
“Tidak ada yang lebih ind ah dari itu!” Lanjut
Hasbi tersenyum melepas pelukannya lantas duduk di samping ranjang.
“Bagus sich jawabannya, tapi
diluar dari harapan!” Kiran manyun. Hasbi kembali terkekeh dibuatnya.
“Aku juga lebih mencintaimu...!”
Ucap Hasbi menatap mesra istrinya. Kiran balas menatap dengan senyuman lembut.
“Mau bukti???” Tanya Hasbi. Kiran tertawa renyah….
*
Fyuuuhhhh….end_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar