Rabu, 07 Oktober 2015

Kerak Hati..

Hasbi duduk di sofa dengan nafas berat. Ia baru saja selesai berdzikir dan mengaji beberapa lembar. Entah kenapa perasaannya memaksanya menonton TV. Ia tidak mengerti, tapi ia turuti saja kemauan hatinya. Ia lantas menyalakan TV, wajah putih bersih dan tampan yang dimilikinya terlihat santai melihat layar TV yang menunjukkan acara-acara yang belum menarik di benaknya. Baru pada chanel yang ke tujuh ia mulai merasa tertarik dengan berita yang disiarkan terkait dengan tawuran antar kampung di lingkungan yang tak jauh dengan sekolah tempat ia mengajar. Hasbi tampak makin serius, di layar TV diperlihatkan beberapa orang yang terluka.
                “…Ditemukan pula tiga orang perempuan yang menurut dugaan polisi menjadi korban pemerkosaan beberapa pemuda yang mabuk dalam tawuran tersebut. Belum diketahui identitas perempuan-perempuan tersebut…”
                Dalam hati Hasbi beristighfar. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kejadiannya. Sisi lain hatinya ia masih bisa bersyukur, korban-korban itu bukanlah dari kakak atau adik perempuannya. Kakaknya sudah berkeluarga dan kini tinggal di luar kota, sedang adiknya yang masih sekolah SMA, suaranya masih terdengar sayup-sayup dari kamarnya di lantai dua, tengah membaca Al Qur’an. Sedang, seorang gadis lagi yang istimewa baginya? Hasbi yakin, pasti bukan dia. Gadis itu sekarang sedang sibuk menyusun skripsinya dan Hasbi yakin, gadis itu tidak apa-apa.
                Sesaat kemudian suara adzan bergema dari mushalla dekat rumah Hasbi. Hasbi segera bangkit, setelah mematikan TV hendak mengambil sajadah, tepat ketika itu Hpnya berdering, ia melirik sekilas lantas kembali berlalu mengambil sajadah dan pergi ke mushalla untuk berjama’ah.
*
                Cukup lama Hasbi wirid setelah Isha, baru setelah menyelesaikan witirnya ia memutuskan pulang. Di perjalanan dia bertemu dengan pamannya.
                “Kapan kamu akan memboyong mantu buat Paman, Bi?” Tanya Pamannya membuka percakapan, Hasbi tersenyum memamerkan gigi-gigi rapi dan putihnya.
                “Sebentar lagi, Paman. insyaAllah,” Jawab Hasbi yakin.
                “Alhamdulillah, jadi sudah dapat persetujuan dari Kiran?” Tanya Pamannya lagi, dada Hasbi berdesir mendengar nama itu.
                “InsyaAllah,” Jawab Hasbi lagi masih dengan senyuman.
                “Kok InsyaAllah lagi? Bagaimana jelasnya?” Paman tampaknya ingin mengetahui lebih jelas.
                “Dia sedang menyusun skripsinya, Paman!” Hasbi menjawab sembari membuka gerbang rumahnya yang tidak terkunci.
                “Lho, bukannya kemarin sudah ujian skripsi, ya?” Paman heran.
                “Alhamdulillah sudah, tapi dia masih ingin menyusun ulang, tampaknya kurang puas dengan nilainya kemarin!” Jelas Hasbi gerbangnya sempurna terbuka, “Masuk dulu Paman, makan malam di rumah. Ayah belum pulang,” Ajak Hasbi.
                “Terima kasih, Buk Demu sudah menyiapkan di rumah. Mari, assalamu’alaikum!” Paman berpamit. Hasbi membalas sembari menutup gerbang dan berjalan memasuki rumah. Ia mengucap salam begitu membuka pintu. Dari lantai atas, Lulu adiknya menjawab dan melongok ke bawah.
                “Bang, HPnya dari tadi teriak-teriak terus. Mungkin ada yang penting!” Ujarnya menunjuk HP Hasbi dengan tatapan yang memang terletak di atas meja kaca ruang keluarga. Hasbi mengangguk.
                “Kamu turun makan dulu. Itu, Mama sudah siapkan!” Hasbi menunjuk Mamanya yang sibuk di meja makan dengan gerakan kepala. Mamanya menoleh tersenyum. Lulu mengiyakan. Hasbi lantas melangkah mengambil HPnya. Lulu benar, ada 9 misscall. Setelah Hasbi buka, ternyata dari Atya, temannya. Dahi Hasbi mengerut, mungkin ada sesuatu yang penting. Iapun membawa HPnya ke kamar, hendak mengganti pakaian shalatnya. Begitu selesai menggati sarung, HPnya berdering lagi. Di layar tertera nama Atya.
                “Assalamu’alaikum?” Sapa Hasbi menempelkan HPnya di telinga kanan.
                “W’alaikumussalam warahmatullah, akhi kemana dari tadi saya hubungi kok nggak diangkat?” Tanya Atya terdengar gusar.
                “Baru balik dari mushalla, ada apa? Ada yang bisa saya Bantu?” Tanya Hasbi ramah.
                “Uummm…sebenarnya ana mau memberi tau kabar yang kurang enak!” Atya terdengar menahan tangisnya. Hasbi heran, mesti telah terjadi sesuatu yang buruk.
                “Ukhty? Ada masalah dengan Huzaimah?” Tanya Hasbi menyebut nama kelompok kerja mereka.
                “Bukan, Akh…ini…” Baru kemudian Atya memberi tahu Hasbi dengan disertai isakan.
                “Hasbi…!!! Makan malam dulu, Sayang!” Mama berseru memanggilnya. Tapi sepertinya Hasbi tidak terlalu memperhatikan. Yang terlihat sekarang adalah wajah Hasbi yang perlahan memucat, ia menjauhkan HPnya dari telinga dan melepasnya begitu saja di ranjang empuknya.
                “Innalillahiwainngailaihirooji’un!” Ucapnya sembari mengusap wajahnya. Beberapa kali Mamanya memanggil, ia tak juga menyahut. Mamanya mulai khawatir lantas menuju kamar Hasbi. Begitu ia hendak mengetuk pintu itu terbuka dan terlihatlah wajah tampan anaknya diselimutii kekhawatiran dan kegusaran. Hasbi telah siap dengan jaket hitam dan konci mobil di tangannya.
                “Ada apa, Bi? Kamu mau kemana?” Tanya Mama mulai khawatir, tergerak naluri keibuannya.
                “Ada musibah, Ma. Saya harus menemui Kiran sekarang!” Jawab Hasbi. Mamanya menatap kekhawatiran di mata putra sematawayangnya itu. kemudian ia mengangguk.
                “Hati-hati” Pintanya. Hasbi mengangguk lantas mengecup punggung tangannya.
*
                Hasbi tiba di rumah sakit yang diberitahukan Atya. Sesampai di ruangan yang juga diberitahukan Atya, Hasbi melangkah cepat disana juga ada Atya.
                “Bagaimana keadaannya?” Tanyanya pada Atya.
                “Dokter belum memberi izin untuk masuk!” Jawab Atya menunduk.
                “Orang tuanya sudah dikabari?” Tanya Hasbi lagi.
                “Alhamdulillah sudah. Begitu kukabari Ibunya langsung menangis, mungkin sudah mendapat firasat buruk!” Atya kembali duduk di korsi tunggu. Hasbipun mengikutinya, duduk berjarak dua korsi di samping kiri Atya.
                “Bagaimana kejadian sebenarnya, Ukhty?” Hasbi menunduk. Antara berani dan tidak mendengar jawaban dari pertanyaannya.
                “Sore tadi, Mulya menelphon Kiran. Katanya ada sesuatu yang tidak bisa ia kerjakan. Dan berhubung skripsi yang Kiran susun ulang sudah selesai, dia bersedia menemui Mulya. Tapi, ketika pulang itulah terjadi tawuran di jalan. Ana tidak tau kejadian detailnya, yang jelas polisi menelpon ana dengan hp Kiran, karena saat itu ana sms Kiran, ana khawatir sampai maghrib dia tak pulang.” Hasbi masih merenung dengan ujung sandal yang ia kenakan. Ya, ternyata Kiran adalah salah satu dari tiga gadis yang diperkosa pada tawuran itu.
                Pandangan Hasbi lurus pada ujung kakinya, entah apa yang ia fikirkan. Tampaknya ini sangat berat baginya. Ia masih ingat jelas tiga hari lalu seusai ujian skripsi Kiran dan ia bertemu. Saat itu wajah manis Kiran tampak bercahaya, apalagi dengan senyum kebahagiaan.
                “Meskipun tidak sempurna, alhamdulillah ana lulus, Kak!” Ujarnya. Saat itu Hasbi berhamdalah ikut bahagia, tapi ia tak mengatakan apapun, memang saat itu hanya Kiran yang boleh berbicara. Karena sebulan yang lalu, Hasbipun telah memiliki waktu untuk bicara. Kiran tampak kikuk, walau menunduk Hasbi bisa mengetahui itu.
                “Dan…” Kiran menggantung kalimatnya, “Dan…ana menerima lamaran kakak!” Ujarnya. Seketika itu juga Hasbi berhamdalah dengan suara yang sangat bahagia.
                “Syukran ukhty…akan kutemui keluargamu minggu depan!” Kata Hasbi dengan yakin. Kiran mengangguk, masih dalan tunduknya.
                Kini Hasbi mengerjapkan mata tegasnya. Ia seorang lelaki, tak pantas menangis. Tapi…ya Allah… calon istrinya yang shalihah dan cerdas itu…telah diperkosa oleh pemuda-pemuda mabuk. Hasbi mengusap wajahnya. Atya menoleh padanya, berharap mengerti perasaan kakak tingkatnya yang telah menunggu sahabatnya lebih dari tiga tahun itu, tanpa sadar air matanyapun mengalir.
*
                Pukul dua dini hari Hasbi sampai rumah. Saat mengucapkan salam Mamanya membukakan pintu. Mamanya memang menunggunya sampai larut. Mama tak bisa tidur melepas putranya pergi dengan wajah buram. Kini di balik pintu ditemukannya putranya dengan pandangan lesu tersenyum padanya. Ia ingin tersenyum, tapi naluri keibuannya malah menatap iba pada putranya. Ia bahkan belum tau masalahnya apa tapi ia bisa merasakan kesakitan putranya.
                Hasbi menyalaminya, mengecup punggung tangannya. Tak ada yang keluar dari mulut keduanya hingga tiba-tiba Hasbi memeluknya, erat. Seolah ingin membagi sedikit gundukan pada hatinya. Tak ada tangis apalagi isak, tapi Mama mengerti Hasbi, putra tunggalnya itu tengah butuh tumpuan. Tampa bertanya ia membalas pelukan putranya dan mengelus kepalanya pelan, penuh kasih. 
*
                Esok sorenya selepas shalat ashar, Hasbi mengajak kedua orang tuanya menjenguk Kiran yang menurut Atya telah siuman dan boleh dijenguk. Kedua orang tua Hasbi sudah mengetahui perkaranya. Begitu sampai di Rumah Sakit, Hasbi mendapati kedua orang tua Kiran di depan ruangan. Ibunya terlihat mengulum sebuah senyuman untuk Hasbi meski matanya tampak sembab. Kedua orang tua Hasbi mendekati orang tua Kiran, Hasbi mengikutinya.
                “Bagaimana Kiran, Tante?” Tanya Hasbi.
                “Alhamdulillah sudah sadar, tapi belum bisa diajak berkomunikasi. Kata dokter dia shock berat!” Jawab Ibu Kiran, tampak menahan tangis. Ayah Kiran merangkul bahu istrinya, akhirnya tangis ibu Kiran pecah. Mama Hasbi memeluknya dan mencoba menenangkannya agak jauh dari mereka. ayah Kiran dan Papa Hasbi berbicara cukup serius. Hasbi tampak tak tertarik, ia menoleh pada pintu. Ia melangkah mendekat dan membuka pintu itu.
                “Assalamu’alaikum!” Sapanya. Atya yang menunggu Kiran di dalam menoleh sembari menjawab salam. Hasbi mendekat sembari menatap Kiran yang tengah duduk bersandarkan bantal. Matanya terbuka tapi tampak menatap dengan kosong. Hati Hasbi miris. Mata indah yang dulunya penuh cahaya dan harapan kini kosong dan hampa.
                “Dia tidak bicara dari dia siuman, Akhi mau mencoba?” Tanya Atya. Hasbi diam, Atya bangkit dari korsinya dan menjauh, Hasbi mengambil tempat Atya. Baru kali ini ia memperhatikan wajah Kiran dengan jarak sedekat ini. Kali ini dia tidak mencegah pandangannya seperti dulu, ia terus memperhatikan wajah yang pucat itu. tak lama kemudian ia beristighfar, lantas menunduk.
                Atya memperhatikan, tak tau mesti berbicara apa. Lama, hanya kesunyian yang menguasai keadaan, kadang hembusan nafas mendapat sedikit jeda.
                “Kamu tidak perlu seperti ini, Kiran!” Kali ini Hasbi membuka mulutnya tanpa mengangkat wajahnya. “Kamu harus menjadi Kiran yang dulu kukenal!” Suara Hasbi bergetar. Entah menahan tangis entah menahan perasaannya. Atya menunduk. Kembali sunyi.
                “Aaaaarrrggghhh!!!” Tiba-tiba saja Kiran berteriak. Atya dan Hasbi menoleh pada Kiran dengan serentak. Atya mendekati Kiran dengan cepat. Kiran menangis, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Hasbi mundur, Atya mencoba menenangkan tapi tak berhasil. Di telinga Hasbi tangis Kiran sangat perih. Ia merasa hatinya tercabik-cabik mendengarnya. Tak lama para orang tua memasuki ruangan Kiran. Ibunya mendekat ikut menangis. Semua panik. Hanya papa Hasbi yang berinisiatif memanggil dokter. Sementara Kiran semakin tak terkendali, ia berteriak sambil menarik-narik jilbab kaos yang ia kenakan. Ia terlihat ingin membukanya. Hasbi menatap dengan hati perih. Apa yang bisa ia lakukan?
                Tak lama, dokter datang.
*
                Kondisi Kiran seperti itu setiap harinya. Hasbi bahkan tak pernah sempat bicara apa-apa padanya. Ia ingin menenangkan, tapi tak tau harus berbuat apa. Kiran seperti tidak mau mengenakan jilbab lagi, ia selalu berteriak dan ingin melepas jilbabnya. Tapi selalu bisa dicegah oleh Ibunya atau Atya.
                Malam ini Hasbi menggelar sajadah lebih lama dari malam-malam sebelumnya. Ia hanya tidur sedikit dan bermunajat pada Allah hingga pagi. Ia meminta petunjuk pada Allah, harus bagaimana ia. Hasbi yakin, seyakin keyakinan yang dimilikinya. Bahwa hanya Allahlah yang bisa menolongnya.
                Begitu ia usai shalat subuh, Hasbi kembali menadahkan tangannya keatas. Dengan tanpa suara ia berdo’a…begitu lama, begitu khusuk…terakhir diusapnya wajahnya dengan telapak tangannya, ia membuka matanya. Ada sebuah sinar baru disana.
                “Ya Allah, semoga ini adalah keputusan-Mu!” Katanya dalam hati. Lantas ia bersiap hendak ke Rumah Sakit.
*
                Atya turun dari taxi begitu sampai di halaman Rumah Sakit. Sudah dua hari ia tidak sempat menjenguk Kiran. Karena mengikuti ujian skripsi. Begitu memasuki halaman Rumah Sakit ia melihat Hasbi masuk rumah sakit dengan langkah-langkah pasti. Ia menelan ludah lantas menunduk. Memang selama ini tak ada yang tau betapa ia menaruh harapan besar terhadap lelaki itu. tapi sayang lelaki itu malah jatuh hati pada sahabatnya sendiri. Dan dengan kebesaran hati dengan bermodal pengertian sesama perempuan, ia mengekan perasaannya.
                Ia bisa melihat keseriusan Hasbi pada Kiran. Keduanya serasi, dari wajah, sikap dan juga kecerdasan. Seperti sekarang, dia kembali bisa melihat kesungguhan Hasbi mempertahankan Kiran. Meski kondisi Kiran seperti itu. meski tidak mau mengakuinya, satu sisi dari hatinya yang paling dalam ada syukur di hati Atya dengan kondisi Kiran seperti itu. itu berarti akan ada peluang untuknya pada Hasbi. Tapi, segera dibuangnya jauh-jauh perasaan itu. Allah pasti mempersiapkan pendamping yang lebih baik baginya kelak. Atyapun melanjutkan langkahnya memasuki Rumah Sakit.
                Sesampainya disana ditemukannya Hasbi duduk di korsi tunggu. Pasti Hasbi tidak mau masuk ruangan Kiran jika tak ada orang lain. Atya memperhatikan sekeliling, mungkin orang tua Kiran masih membeli makanan untuk sarapan. Hasbi menyadari kedatangannya, lelaki tampan itu berdiri dan memberi salam. Atya menjawabnya.
                “Ayo masuk, Akh! Kita jenguk Kiran sama-sama!” Pinta Atya, Hasbi mengangguk menyetujui. Merekapun masuk bersama. Kiran tampak merenung di ranjangnya. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, ia tak pernah tidur. Hasbi tersenyum padanya, meski tau Kiran tak akan membalas.
                “Ana bawa sarapan, sarapan sama-sama ya?” Pinta Atya pada Kiran mengecup kedua pipi Kiran yang semakin mengurus. Kiran hanya diam. Atya tetap menyiapkan sarapan, ia mengeluarkan peralatan yang ia bawa.
                Dan tanpa ada yang menyadari mata Kiran melirik ke pisau kecil yang dibawa Atya, lantas secepat kilat diambilnya pisau itu.
                “Kiraaan!!!!” Atya berteriak, Kiran berhasil memegang pisau kecil itu dan menjauh dari Atya, ia mengarahkan pisau itu pada nadinya. Dan menggerakkannya perlahan, tapi…
                Prang!!!
                Pisau itu terjatuh ke lantai, Hasbi menendang pergelangan tangan kanan Kiran sehingga pisau itu terlempar. Kiran meringis, merasakan ngilu pada pergelangan tangan kanannya, sedang pergelangan tangan kirinya telah berhasil ia lukai sedikit dan kini mengeluarkan darah yang lumayan banyak.
                Brugh!
                Kiran terduduk di lantai, ia tidak menangis. Ia menunduk, memandangi lantai putih Rumah sakit. Atya menatap kejadian yang spontan itu dengan wajah pucat, ia mengambil nafas dan hendak mendekati Kiran.
                “Jangan!” Hasbi berseru, Atya refleks menghentikan langkahnya. Hasbi berdiri tak jauh di belakang Kiran. Ia menatap Kiran yang menunduk, nafasnya satu-satu terdengar menenangkan perasaannya. “Biarkan dia berfikir.” Katanya melanjutkan.
                Lama, hanya sepi. Darah di pergelangan tangan kiri Kiran kian banyak mengucurkan darah. Atya kian khawatir. Tapi dia tau Hasbi mengawasi semuanya. Hasbi pasti tau betul apa akibat dari perbuatannya. Ia yakin Hasbi juga tak akan tega membunuh Kiran.
                “Kenapa kamu melakukan itu?” Hasbi akhirnya mulai mengacaukan kerajaan sepi. Kiran diam, Atyapun hanya memperhatikan. “Kamu tidak berfikir apa akibat dari ulahmu?”
                “Aku akan mati!” Setelah hampir lima hari, ini adalah suara Kiran yang pertama. Suaranya bergetar.
                “Itu perbuatan yang tercela. Hanya orang yang tidak beriman yang melakukan itu!” Hasbi berujar dengan nada tegas.
                “Aku memang tidak beriman!!!” Kiran berteriak. Suaranya masih bergetar, Hasbi diam, begitupun Atya. Tiba-tiba pintu terbuka, orang tua Kiran masuk. Ibunya ingin menghampiri, tapi ditahan suaminya. “Aku kotor!!!” Kiran kembali berteriak dan membuka jilbabnya. Kali ini ia berhasil, Hasbi menutup matanya. Kemudian terdengar isak, Kiran menangis. “Gadis mana yang tidak terpukul??? Aku menjaga kesucianku untuk suamiku, aku menjaga kesucianku yang akan aku hadiahkan pada suamiku. Aku menjaganya untuk kakak!!!” Suara Kiran miris. Atya menangis, begitu juga ibu Kiran. Hasbi hanya diam, ia tak membuka matanya.
                “Kamu menyalahi takdir Allah, Kiran. Wanita shalihah tidak akan merasa begitu, ia akan berusaha tabah dengan semua takdir Allah. Mengapa hanya karena kesucianmu terampas imanmu juga terampas? Kalau kamu tau, …” Hasbi menggantung kalimatnya. Ia membalik tubuhnya lantas membuka matanya tapi ia menunduk, semua pasang mata yang hadir di ruangan itu memperhatikannya, “seandainya kamu tau Kiran, bahwa kesucian itu tidak lebih berharga dari pada iman. Aku tidak melihat kamu karena kesucian atau fisikmu, aku juga tidak pernah mengharapkan hadiah apa-apa darimu. Aku hanya mau, pendamping hidupku seorang wanita shalihah yang beriman. Bukan wanita tak beriman yang suci!” Lanjut Hasbi. Suasana hening, Hasbi melangkah keluar tanpa salam.
*
                Tiga hari berlalu. Kondisi Kiran kian membaik, ia tak lagi berteriak-teriak. Jilbabnya tak lagi ingin ia lepas. Ia hanya diam, merenung, berfikir. Ia pasti telah melukai perasaan Hasbi. Tapi, ia harus bagaimana? Ia adalah seorang gadis yang tak lagi gadis. Ia adalah seorang perempuan yang telah diperkosa.
                Meski Hasbi adalah seorang baik yang beriman dan sholeh, Kiran pantas merasa khawatir jika Hasbi tak lagi menginginkannya. Ia pantas merasa khawatir jika semua orang mencemoohnya. Wanita berjilbab tapi tak bisa menjaga diri. Ia pantas merasa khawatir jika orang-orang berfikir jilbab ternyata tidak bisa melindungi seorang wanita. Air matanya mengalir membasahi pipi. Hasbi benar, bagaimanapun ini semua adalah takdir Allah. Jadi haruskah ia menyalahkan Allah? Menyalahkan sang Pencipta, padahal hanya Dialah yang mengetahui segala kebaikan yang terbaik.
                Kiran beristighfar berkali-kali. Ia memohon ampun pada Allah, segera ia ambil air wudhu dan mulai shalat denga mukenah yang memang telah disiapkan oleh orang tuanya semanjak hari pertama ia sakit. Dari kaca pintu Ibunya tersenyum melihat perubahannya.
*
                Kiran menangis di hadapan Tuhannya di pertiga malam. Ia serahkan seluruh hidupnya pada-Nya. Ia meminta ampun atas keputusasaannya. Ia tak lagi berfikir tentang kotor dirinya, ia tak lagi khawatir tentang lelaki mana yang akan mau menjadi pendampingnya. Ia serahkan seluruh cintanya pada Allah. Benar-benar hanya kepada Allah.
*
                “Sayang, ada seseorang yang ingin meminangmu,” Ibu Kiran mendekati anaknya yang baru saja selesai whudu.
                “Alhamdulillah, apa Ibu sudah cerita tentang keadaanku?” Tanyanya mengenakan mukenah. Ibunya tersenyum.
                “Dia tidak akan meminangmu jika tidak tau!” Kata Ibunya. Kiran tersenyum lantas mulai shalat sedang ibunya mulai beres-beres. Kiran sudah siap pulang hari ini. selesai shalat Kiran dan kedua orang tuanya bergegas pulang. Senyum sudah menghiasi wajah mereka. diam-diam Kiran berfikir tentang Hasbi. Bagaimana kabar lelaki yang telah ia terima lamarannya itu? apakah ia masih menaruh harapan pada Kiran? Ah, Kiran tidak mau berfikir macam-macam. Ia sudah sepenuhnya menyerahkan kepada Allah. Lagi pula sudah lebih dari seminggu Hasbi tak pernah menjenguknya.
                “Sayang, orang itu akan meminangmu hari ini. dan akan melangsungkan akad nikah juga hari ini!” Ibunya membuka percakapan yang mengejutkan. Tapi hanya Kiran yang terkejut. Ayahnya santai saja mengemudi mobil.
                “Um, apakah aku sudah menyetujuinya?” Tanyanya.
                “Itu terserah kamu saja. Lelaki itu baik, dia mau menerimamu apa adanya. Dia tidak menuntut apa-apa darimu, selepas akad dia akan mengajakmu ke luar negeri ke rumah keluarganya. Mungkin kamu bisa memulihkan mentalmu disana, itu jika kamu mau!” Suara Ibunya terdengar berharap. Kiran melirik pada Ibunya yang tersenyum dan tanpa sadar sebuah suara keluar dari mulutnya.
                “Baiklah,” Ibu dan Ayahnya berhamdalah. Kiran kaget, ia seperti tidak sadar telah menjawab apa barusan.
*
Kiran tidak menyangka ternyata pernikahannya dirayakan hari itu juga. Ia bahkan tidak tau siapa calon suaminya. Ia hanya mengikuti apa yang memang seharusnya ia ikuti. Ia dimake up dengan make up yang lumayan berkelas. Meskipun rasa heran menggandrungi fikirannya tapi ia tidak mau terlalu banyak bertanya, ia serahkan semuanya kepada Allah. Lagipulla ia sangat percaya pada ibunya.
                “Kiran, ini calon suamimu ingin bicara!” Tiba-tiba ibunya memasuki ruangan dan menyerahkannya handphone. Kiran menatap ibunya sebelum mulai bicara. Ibunya mengangguk meyakinkah.
                “Assalmu’alaiku warahmatullah!” Sapanya. Terdengar sapaan berat diujung.
                “Wa’alaikisalam warahmatullah wabarakatuh. Kaifa hal ukhty?” Tanya suara itu dari seberang. Dada Kiran berdesir. Entah kenapa, ia merasa nyaman mendengar suara itu.
                “Alhamdulillah baik,” Kiran tidak tau mesti mengatakan apa pada lelaki itu. apakah pantas jika ia menanyakan namanya.
                “Nanti kita bertemu setelah akad, akan saya ceritakan semuanya tentang saya. insyaAllah saya menerima ukhti apa adanya,” Serasa angin dari firdaus berhembus di hati Kiran. Ia berhamdalah dalam hati.
                “InsyaAllah, assalamu’alaikum!”
                “Wa’alaikissalam warahmatullah…,Um sebelumnya…aku mencintaimu!”
                Tut tut tut
                Kiran tertegun beberapa saat. Kenapa? Ia tidak mengerti perasaannya. Ia merasa yang berbicara di seberang adalah…Hasbi. Mungkinkah dia? Tapi…Kiran menepis fikiran itu. Hasbi, tidak mungkin dia. Hasbi pasti sudah sangat kecewa dengannya dan pasti tidak mau menikah dengannya.
                Akhirnya, acarapun segera dimulai. Kiran dituntun keluar oleh ibu dan beberapa kerabat wanitanya. Dapat dilihat oleh Kiran sangat banyak tamu yang datang. Entah kapan dapat undangan. Dari sekian banyak tamu, ia melihat Hasbi duduk diatara mereka. ia terlihat turut bahagia dengan pernikahan Kiran. Ketika mata mereka bertemu, Hasbi mengangguk memberi selamat dengan senyuman. Kiran menunduk. Ternyata memang benar bukan Hasbi yang mempersuntingnya. Tiba-tiba saja Kiran merasa kecewa yang teramat dalam. Ya, Kiran memang sangat berharap Hasbilah yang mempersuntingnya.
                “Kamu menyalahi takdir Allah, Kiran!” Kiran kembali mengingat kalimat Hasbi hari itu. buru-buru dihapusnya rasa kecewanya semampunya. Ia harus menerima jodoh yang di sediakan Allah padanya.
                “Silahkan kedua mempelai duduk di hadapan penghulu!” Terdengar perintah dari Penghulu. Kiran didudukkan di sebelah kiri dan tak lama mempelai pria di sebelah kanan. Kiran enggan menoleh, ia hanya menunduk. Rasanya belum siap saja melihat suaminya. Tak lama, akhirnya ijab kabulpun diucapkan. Kiran bisa mendengar degup jantungnya saat melihat tangan penghulu berjaba erat dengan tangan calon suaminya. Dan  ketika ijab diucapkan, Kiran merasakan jantungnya tak berdegup lagi. Ia membuka matanya lebar-lebar meski tak menoleh, ia mencoba meyakinkan dirinya. Kemudian ia mendengar suara calon suaminya …
                “Saya terima nikahnya Kiran Husnia Ramadhani binti Abdul Qasim dengan maskawin seperangkat alat shalat dan uang 67 juta rupiah dibayar tunai!”
                Sah!
                Air mata mengalir di pipi Kiran. Ia tak tau harus menggambarkan perasaannya dengan kata-kata apa. Ia kemudian menoleh, menatap wajah tampan suaminya yang tampak tersenyum padanya dengan mata berkaca-kaca. Kemudian ia menyalami suaminya dengan santun, mengecup punggung tangannya, kemudian ia merasakan sesuatu di keningnya, ia memejamkan mata. Ini adalah sentuhan laki-laki halal pertama untuknya.
                “Aku mencintaimu!” Bisik Hasbi setelah kecupan di keningnya. Kiran mengangguk dengan tangis. Sebagian besar tamu terharu melihat pernikahan mereka. kiran benar-benar tidak menyangka Hasbi yang menikahinya…tapi tentu saja ia sangat bahagia.
*
                “Kan sudah minta maaf,” Hasbi melirik Kiran yang membuka riasan pengantinnya.
                “Tetap saja, masa’ main rahasia-rahasiaan gitu? Awal yang kurang baik!” Kiran melepas peniti terakhir pada jilbabnya. Hasbi terkekeh, kemudian mendekati Kiran.
                “Jadi nggak suka nich?” Tanyanya memeluk Kiran dari belakang. Kiran menatap wajah suaminya dari cermin. Ia tersenyum.
                “A moment to remember, hehe!” Ucap Kiran menyentuh pipi suaminya dengan telapak tangan.
“Ohya memangnya kakak punya keluarga di Luar negeri????” Kiran bertanya mengingat rasa herannya. Hasbi tersenyum.
“Keluarga? Tentu saja, disana kan ada calon anak kita. Hehe!” Hasbi terkekeh Kiran tersenyum lembut
“Terimakasih telah menerimaku apa adanya, Kak!” Ucapnya.
                “Kalo tidak apa adanya namanya tidak ikhlas, dan kalau tidak ikhlas namanya setengah-setengah. Dan kalau setengah-setengah nggak baik dan…”
                “Kalau aku mencintai kakak?” Kiran memotong.
                “Tidak ada yang lebih indah dari itu!” Lanjut Hasbi tersenyum melepas pelukannya lantas duduk di samping ranjang.
                “Bagus sich jawabannya, tapi diluar dari harapan!” Kiran manyun. Hasbi kembali terkekeh dibuatnya.
                “Aku juga lebih mencintaimu...!” Ucap Hasbi menatap mesra istrinya. Kiran balas menatap dengan senyuman lembut. “Mau bukti???” Tanya Hasbi. Kiran tertawa renyah….
*

Fyuuuhhhh….end_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar