Minggu, 23 November 2014

kalau dengannya aku bisa begini...


                “Kalau dengannya aku bisa begini,” Syifa membelalakkan mata demi melihat apa yang dilakukan lelaki kekasihnya di depannya, tapi sekejap kemudian ia menunduk. Rudy melihat dengan mata terbelalak pula. Ia melihat Syifa yang menunduk dengan prihatin, ada satu titik bening yang jatuh dari wajah tertunduk itu.
                “Kamu dengan jilbab besar, pakaian tertutup begitu apa yang bisa aku dapatkan? Tak menarik sama sekali!” Lelaki terkasih itu kembali melanjutkan ucapan pedasnya setelah menyelesaikan aksinya. “Islam, Islam…ituuu saja yang kamu katakana. Sepenting apa pula agama itu bagi kamu!”
                “Astaghfirullah,!” Syifa mengangkat wajahnya sembari mengusap pipinya yang basah anak sungai, “Kakak boleh menghina saya, keluarga saya, apapun tentang saya. Tapi jangan pernah menghina agama saya!” Untuk pertama kalinya Syifa bersuara keras dan tegas, Rudypun tercengang dibuatnya. Sedang lelaki terkasih itu merasa terhina dengan cara Syifa menatapnya. Ia ingin membalas tapi terdahului Syifa. “Semoga Allah memberikan penerangan.” Kemudian Syifa berlalu tanpa salam. Langkah cepatnya menggambarkan gusar dalam hatinya. Lelaki terkasih itu menatap punggung Syifa dengan perasaan tak menentu. Rudy mendekatinya dan tanpa berucap apa-apa…
                Bugh!
                Sebuah bogem mentah mendarat tepat di pipi kiri lelaki terkasih itu. gadis dalam rengkuhannya itu menjerit kaget.
                “Sungguh, aku tidak pernah berfikir kamu akan menginjak-injak harga dirimu di depan Syifa seperti ini!!!” Geram Rudy menatap marah pada lelaki terkasih itu, kemudian pada gadis yang tak berani menatap balik padanya. Ia lantas berlalu. Lelaki terkasih itu mengusap ujung bibirnya yang berasa cairan amis.
*

                Syifa duduk terpekur di bemo yang melaju. Tak habis fikir kenapa lelaki terkasih itu bisa berbuat begitu di hadapannya..? mencium bibir seorang gadis di depan mata kepalanya sendiri!! Syifa jadi teringat bagaimana baik dan alimnya lelaki terkasih itu. tapi sudahlah, ia tak ingin begitu menikkmati keterpurukannya, yang ia butuhkan saat ini adalah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar