“Kalau
dengannya aku bisa begini,” Syifa membelalakkan mata demi melihat apa yang
dilakukan lelaki kekasihnya di depannya, tapi sekejap kemudian ia menunduk.
Rudy melihat dengan mata terbelalak pula. Ia melihat Syifa yang menunduk dengan
prihatin, ada satu titik bening yang jatuh dari wajah tertunduk itu.
“Kamu
dengan jilbab besar, pakaian tertutup begitu apa yang bisa aku dapatkan? Tak
menarik sama sekali!” Lelaki terkasih itu kembali melanjutkan ucapan pedasnya
setelah menyelesaikan aksinya. “Islam, Islam…ituuu saja yang kamu katakana.
Sepenting apa pula agama itu bagi kamu!”
“Astaghfirullah,!”
Syifa mengangkat wajahnya sembari mengusap pipinya yang basah anak sungai,
“Kakak boleh menghina saya, keluarga saya, apapun tentang saya. Tapi jangan
pernah menghina agama saya!” Untuk pertama kalinya Syifa bersuara keras dan
tegas, Rudypun tercengang dibuatnya. Sedang lelaki terkasih itu merasa terhina
dengan cara Syifa menatapnya. Ia ingin membalas tapi terdahului Syifa. “Semoga
Allah memberikan penerangan.” Kemudian Syifa berlalu tanpa salam. Langkah
cepatnya menggambarkan gusar dalam hatinya. Lelaki terkasih itu menatap
punggung Syifa dengan perasaan tak menentu. Rudy mendekatinya dan tanpa berucap
apa-apa…
Bugh!
Sebuah
bogem mentah mendarat tepat di pipi kiri lelaki terkasih itu. gadis dalam
rengkuhannya itu menjerit kaget.
“Sungguh,
aku tidak pernah berfikir kamu akan menginjak-injak harga dirimu di depan Syifa
seperti ini!!!” Geram Rudy menatap marah pada lelaki terkasih itu, kemudian
pada gadis yang tak berani menatap balik padanya. Ia lantas berlalu. Lelaki
terkasih itu mengusap ujung bibirnya yang berasa cairan amis.
*
Syifa
duduk terpekur di bemo yang melaju. Tak habis fikir kenapa lelaki terkasih itu
bisa berbuat begitu di hadapannya..? mencium bibir seorang gadis di depan mata
kepalanya sendiri!! Syifa jadi teringat bagaimana baik dan alimnya lelaki
terkasih itu. tapi sudahlah, ia tak ingin begitu menikkmati keterpurukannya,
yang ia butuhkan saat ini adalah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar