Rabu, 07 Oktober 2015

Matahari Di Timur


Matahari di timur, menggelinding-linding
Menobatkan pagi merekah-rekah
Mataharinya menjadi tiga
Entah kapan ia beranak
Begitu saja tiba-tiba
Daur-daur…
Tiba-tiba matahari anak meledak,
Duar…!!!
Satu lagi menyusul
Duar…!!!
Kemudian perhatikan….pagi ini menjadi begitu lebih merekah…
Lihat?
Akrur…
Entah apa arti kata ini, ia dari imajinasiku, keluar-keluar begitu saja
Malam tadi adalah urah
Entah apa pula urah ini, iapun keluar dari iamjinasiku, keluar-keluar saja
Dam dam dam
Lengkingan senandung bara dada menjadi melodi yang manis, membuat gelombang padat kelam malam menguat-nguat
Burung hantu selalu alpha di daerah ini, mungkin mereka takut terungkap aib mata mereka yang lebar karena kerlip lampu
Jadi, malam tadi tidak ada suara yang menakutkan
Jangkrik mudik, menenteng antenna yang tertelan pada jidat masing-masing. Mereka marah pada orang-orang sini karena terlalu sibuk dengan ayam-ayam yang mereka potong lebaran kemarin, hingga lupa mengajaknya bertakbir, padahal ia sangat ingin
Akhirnya ia mudik tak berpamit, tanpa kikik tapi ditinggalkannya jejak. Sebab tak ingin ia lupa jalan kembali esok tuk kembali meramaikan malam sunyi orang.
Jadi malam tadi tak ada ramaian alam.
Manusia bertittle saya…tiba-tiba saja menjadi saya lagi, setelah sekian lama, saya saya tertelan pada saya yang saya.
Tuhan, berbaik hati kembali untuk kesekian-kian kali memberikan senyum yang bercabang-cabang.
Disuguhi-Nya manusia saya itu bulan di telapak tangan. Hingga wajah manusia saya bersinar-sinar dengan terpaan cahaya bulan.
“Untukmu”
Begitu Sang Baik Hati memberi jamuan malam-Nya kemudian duduk di samping sii manusia saya dengan wangi yang membuat manusia saya takkan pernah dusta dan lupa. Sungguh.
“Kuperlihatkan betapa saat ini menjadi begitu ringan dan rumit bagimu dan kekasihmu.”
Sang Baik Hati mengajak manusia saya menerawang langit kelam dan belajar menghitung bintang dengan alasan bukan menghayal. Manusia saya semakin berbinar-binar. Entah apa makna rumit dan ringan itu, otak standarnya tak kuat-kuat menopang itu. sungguh.
“Menarilah bersama kerjapan mata kalian, menyanyi bersama daur ulang hadiah-Ku selama ini.”
Sang Baik Hati merangkul pundak manusia saya.
“Aku tidak pernah jauh, selamanya.”
Tiba-tiba saja manusia saya mengucur air mata, banyak-banyak. Hingga bulan di tangannya hampir redup. Sang Baik Hati meliriknya dengan senyuman subur dan sejuk.
“Jadi saya harus apa?”
Bertanyalah manusia saya dengan hati yang berbongkah-bongkah dua dengan dominan pada warna yang terang, menyelinap dibalik jendela matanya. Sang Baik Hati kembali tersenyum, menghadiahi salju tidak dingin berbutir-butir.
“Padahal kamu tau jawabanmu.”
Ujarnya tak berat.
Manusia saya menahan nafas pada aroma batangan rokok, ia mengedip sekali dan menemukan sosok itu sama pada jelasnya. Ia disuguhi senyuman yang sama menyenangkannya dengan dulu-dulu. Manusia saya meneguk senyum itu dengan senyuman khasnya.
Sang Baik Hati menengok dari balik jendela dengan berbagi wangi.

haha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar