Bagaimana
perasaan kita seandainya menemukan sosok terkasih tak sadarkan diri? Jangankan
tanpa nyawa, hanya menemukannya terkapar lemas saja rasanya separuh jiwa telah
lenyap. Benarlah Anang menciptakan lagu itu ketika sang Diva istrinya tak lagi
di sisinya.
Sore yang tak begitu mendung,
tapi tak juga panas. Laki-laki dengan kemeja putih itu, sebut saja Yazid
memarkir kendaraan dengan tampang tak enak. Pasalnya, meski telah beberapa kali
menekan klakson, sosok Rina istrinya tak juga membukakan gerbang. Terpaksa,
dengan tubuh yang lelah dan fikiran yang penat, ia turun dari mobil Avanza
hitamnya dan membuka gerbang dengan semena-mena. Gerbang bercat merah hati itu
berderit tak senang ketika didorong tak ikhlas oleh Yazid. Setelah dirasa cukup
untuk dilewati mobil Yazid kembali lagi memasuki mobil dan mengemudikannya
masuk halaman, mematikan mesin dengan kasar. Pintu mobilpun tak luput jadi
sasarannya. Ingin segera mengetahui, apa sebenarnya yang dilakukan istrinya
sehingga tak menyambut.
“Assalamu’alaikum!” ia berujar
sembari membuka pintu yang tak dikonci. Ada selipan amarah kembali menjalar di hatinya.
Kenapa pintu juga tidak dikonci. Ditambah lagi, tak ada sahutan salam sama
sekali. Peluh di dahinya semakin memperburuk keadaan.
“Rani!” ia memanggil nama
istrinya, sedikit tegas sembari membuka dasinya. Ia haus, seharusnya Rani
datang membawakannya air.
“Raaan…!” lagi-lagi panggilan
yang sama, kali ini lebih keras. Tapi yang menyahut masih sama, hanya
kesunyian. Yazid semakin tak bisa menahan hati. Lelah, haus, penat, gerah, dan
sedikit rindu berbaur menjadi rasa yang tak nyaman di hatinya.
“Kamu dimana?!” tanyanya lagi,
kali ini sambil membuka sepatu. AC di rumah telah membuat keringatnya lumayan
kering. Masih, tak ada sahutan. Yazidpun memutuskan untuk mencari istrinya.
“Ran?!”
“Cinta?”
Ia memanggil sambil membuka
beberapa ruangan, kemarahannya yang tadi meletup perlahan berubah menjadi
khawatir. Rani, istrinya yang sederhana itu tak pernah seperti ini sebelumnya.
Istrinya tak pernah keluar rumah tanpa seizinnya. Bahkan tak juga membiarkan
salamnya mengambang lebih dari satu menit untuk dijawab.
Tapi, dimana Rani sekarang?
mungkinkah telah terjadi sesuatu yang buruk?
Dada Yazid berdegup lebih keras.
Dirogohnya ponsel di kantong celana kainnya, ia memencet-mencet nomer handpone
istrinya, dan segera menekan tombol call.
Tuut, tuut.
Tak ada jawaban. Tapi samar
Yazid mendengar dering has milik Rani. Ia dengan cepat mencari sumber suara
itu, yang perlahan membawanya ke dapur. Tadi dia sempat mencari Rani kesana,
tapi tak ditemukan. Suara dering itu semakin dekat, Yazid melihat sekeliling.
Mencari sumber suara, hingga kakinya tersandung sesuatu, ia menunduk.
Sedetik.
Yazid telah mengetahui apa yang
membuat kakinya tersandung, sosok Rani istri tercintanya terkapar di lantai.
Yazid segera duduk, merengkuh tubuh istrinya yang lemas. Segera diperiksanya
denyut nadi di leher Rani dengan panik.
“Raan…?” ia memanggil istrinya
dengan bergetar. Peluh yang tadi hilang kini perlahan timbul lagi. Gemetar
karena kepanikannya membuat denyut lemah di leher Rani tak terasa olehnya.
Segera saja mata Yazid yang biasanya menggambarkan ketegasan itu berembun. Ia
linglung, tak tahu mesti berbuat apa. Akhirnya dengan sisa tenaga dibopongnya
tubuh Rani yang lemas dengan sedikit berlari keluar rumah. Tertatih menahan
berat tubuh Rani menuruni anak tangga teras. Yazid, diantara runtuhan hatinya
berusaha membuka pintu mobil dan memasukkan tubuh Rani ke jok samping
pengemudi. Setelah itu ia berlari ke jok penemudi, memasukkan konci dengan
gemetar, menghidupkan mobil itu sembari melihat istrinya bergantian. Mobilpun
hidup, dan gerbang yang tadinya memang tak ditutup segera terlewati.
Tak ada yang tersisa…
Hanya selembar selendang yang
tadinya dijadikan Rani sebagai kerudung terbang kecil terkena angin. Selendang
yang jatuh itu menekuri halaman rumah sepasang suami istri itu dengan
gerakan-gerakan kecil.
//
“Cinta.”
“Cinta.”
“Cinta.”
Mata itu, senyum itu, bakti itu.
semuanya berputar-putar di fikiran Yazid. Rani tak pernah membuatnya marah.
Hanya sesekali rese, tapi ia menikmatinya. Karena kerap itulah yang membuatnya
rindu pada sosok sederhana itu.
Rani, perempuan yang dikenalnya
tak lebih dua bulan kemudian dilamarnya. Gadis dengan tahi lalat diujung alis.
Gadis dengan kerudung tipis dan senyum manis, semuanya telah melenakan Yazid
pada pandangannya yang pertama.
Meski Rani bukanlah seperti
gadis-gadis cantik dan modis yang ia tahu, meski Rani tidak pandai memasak,
bahkan Rani tak juga romantis. Hanya saja, Rani bisa membuatnya jatuh cinta,
Rani bisa membuatnya betah, dan Rani bisa membuatnya merasa pulang ketika ia
menatap mata peri milik Rani.
Hanya itulah keahlian gadis itu.
Hingga usia pernikahan masuk
tahun ke-3, Rani belum juga menunjukkan kemampuannya memasak. Namun,kalau
dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, masakannya tentu lebih enak. Jika
Yazid berusaha untuk romantic Rani hanya membalas dengan senyum, malu-malu. Dan
itu, bagi Yazid adalah romantisme perempuan (perempuannya) yang jauh melewati
romantisme kata-kata pujangga.
“Cinta”
Rani, hanya memanggilnya dengan
itu. Dan tidak ada proses edit untuk itu. yazid betah, ia cinta dengan ‘Cinta’
Rani. Ia sangat cinta.
Yazid ingat, tahun ke-2
pernikahan dirinya divonis tak bisa memiliki keturunan. Ia frustasi. Bagaimana
ia bisa hidup dengan begitu???
Tapi Rani tetap dengan
‘Cinta’nya. Meramu pahit menjadi sedikit manis, manis, manis dan sangat manis.
Rani tidak menuntut apa-apa.
“Aku hanya Cinta. Tidak butuh
apa-apa.” Begitu kalimat istrinya saat itu. cinta Rani tak pernah padam pada
mata peri itu. selalu ada yang baru. Cinta yang baru dengan rasa berbeda tiap
harinya.
Dan Yazid terbebas, dia yakin
hanya cukup memiliki Rani saja. Perlahan, belajar bersyukur. Melewati semuanya
berdua, mengisi kekosongan dengan cinta-cinta yang banyak. Memilin-milin cek
cok dengan maaf, menghiasi prasangka dengan sabar.
Semuanya, berdua.
//
“Aku tidak suka tak ada kamu.”
Yazid menggenggam erat tangan Rani yang tak sadar. Ia tak ingat betul kalimat
dokter. Mungkin parah, mungkin tidak. Hanya saja, keadaan Rani yang demikian
tak bisa membuatnya baik-baik saja.
“Besok
kita jalan-jalan, Sayang. Jadi kamu harus bangun.” Yazid berjanji dengan suara
gemetar. Mencoba menahan perasaan. Meyakin-yakinkan, bahwa mata peri Rani akan
kembali terbuka. Mengerjap-erjap dengan manis dan membuatnya jatuh cinta lagi.
“Cinta, bangun…” Yazid sedikit
meratap, “Bilang aku yang sakit mana? Biar aku obati.” Yazid hampir tak bisa
menahan diri. Bahunya turun naik menahan isak. Dadanya terasa kembung. Ia ingin
menghujat Tuhan.
“Kembali, Cinta…kembali.”
Akhirnya isak itu terdengar juga. Suster yang mengintip dari balik pintu
perlahan ikut kasihan. Lelaki dengan tubuh kekar itu menangis untuk istrinya
yang begitu? Tak bermaksud apa, tapi istrinya memang terlihat tak cocok
dengannya. Lelaki itu terlalu sempurna untuk tampang Rani. Tapi apa haknya? Ia
hanya suster, kan.
//
Yazid…lelaki itu menunggu, terus
menunggu hingga tak ada yang bisa ia terima lagi. Makanan, minuman tak ada yang
bisa membuatnya kembali seperti Yazid yang dulu. Segala upaya keluarga tak bisa
membuat Yazid kembali.
Rani yang tak sadar-sadar dari
komanya, membuat Yazid kian tenggelam pada dunianya yang tak jelas. Ia kian
jauh, jauh, jauh…ia hilang pada dunia itu. ia melangkah kesana kemari, tangan
Rani tak lagi digenggamnya. Ia hanya hidup pada dunia yang dibuatnya sendiri.
Ia bingung, ia linglung. Hanya menyebut-nyebut nama istrinya. Tapi justru tak
mengenali lagi sosok Rani yang terbaring kaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar