“Tahan emosimu…” ia
menggenggam tangan Sara dengan lembut, matanya menatap mata Sara yang membara.
Sosok itu tersenyum, kemudian menarik perempuan itu dalam pelukannya.
“Jangan biarkan
amarahmu beruntung.” Ujarnya, mengusap kepala Sara dengan sayang. Perlahan
amarah Sara meredup, ia menghela nafas panjang, pada tahap selanjutnya membalas
pelukan sosok itu.
***
Lagi-lagi, Hari
selalu bisa menenangkannya. Bagaimanapun emosi itu menguasainya jika Hari sudah
menariknya dalam pelukannya, Sara akan luluh. Luluh dengan aroma khas lelaki
itu, luluh dengan hangat dan nyamannya tubuh lelaki itu, luluh dengan sabar dan
lembutnya Hari.
Suaminya.
Sara mengingat-ingat
lagi, bagaimana Ibu Fit, tetangganya menghina suaminya habis-habisan. Ibu Rumah
Tangga yang bertubuh gempal itu mengatakan bahwa suaminya tukang selingkuh.
“Sering pulang malam
ya selingkuh namanya. Apalgi?” Ujar Ibu itu sinis. Sampai disini Sara masih
bisa menahan diri. Meski demikian ia ingin segera mengangkat kakinya dari depan
rumah Ibu itu, segera membayar belanjaannya pada tukang sayur yang secara
kebetulan berhenti disana.
“Kamu sih nggak
becus menjaga suami.” Sara heran kenapa Ibu Fit selalu bersemangat mengurus
rumah tangga orang. Parahnya lagi, Ibu tiga anak itu tidak segan-segan menghina
orang lain di hadapan orang itu sendiri.
Tidak bisakah ia
menjaga perasaan orang?
Sara memutuskan
diam, masih mengusap-usap sabarnya yang perlahan digauli amarah. Siapapun jelas
tidak suka kalau dihina-hina begitu.
“Ah, kalau
dilihat-lihat kamu pandai menjaga diri. Sudah anak dua tapi badanmu masih
singset.” Nah ini ada apa lagi, curiga Sara dalam hati.
“Mm…berarti suamimu
itu yang gatel. Nggak bisa liat perempuan lain. Ah, kasihan kamu.”
Tuh, kan lain lagi
katanya.
Sara sudah
mengeluarkan uang dari dalam dompet ketika Ibu itu kembali membuka mulut.
“Mungkin faktor
keturunan tuh. Kan suami kamu nggak jelas orang tuanya. Makanya begitu
kelakuannya. Besok jangan-jangan dia juga pergi ninggalin kamu dan
anak-anakmu.”
“Jaga bicaranya,
Bu.” Kali ini Sara tidak mampu menahan diri. Ia sampai bergetar. Hatinya sakit
mendengar suaminya dijelek-jelekkan sampai mengungkit masalah keluarga.
“Lha memang benar.
Kamu tu seharusnya makasih, saya masih perhatiin hidup kamu. Masih kasihan…”
“Saya tidak rugi
kalau Ibu tidak memperhatikan.” Sara masih berusaha menggigit amarahnya.
Diserahkannya uangnya pada Bapak penjual sayur yang menatapnya prihatin,
“Tolong berhentilah mengganggu Rumah tangga orang.” Lanjut Sara sembari pergi.
Tak dihiraukannya lagi ocehan Ibu Fit yang masih saja menganggap dirinya benar.
Juga panggilan Bapak tukang sayur yang mengingatkan kalau ia masih memiliki
kembalian.
***
Sepulang suaminya
dari tempat kerja, Sara menumpahkan kekesalannya. Ia bahkan sampai menangis
cukup keras. Tidak terima suaminya dihina demikian. Hari yang sangat
dihormatinya diinjak-injak dengan kalimat-kalimat yang tidak pantas diucapkan.
Hari menanggapi
dengan tenang, bahkan tersenyum. Menggenggam tangannya dan memeluknya.
“Jangan biarkan
amarahmu beruntung.” Pintanya sembari mengusap kepalanya. Ia tenang, ya Sara
berhasil menemukan ketenangan dalam pelukan suaminya. Tapi ia tetap tidak habis
fikir, kenapa suaminya bisa menerima semua dengan begitu mudah? Tanpa marah,
bahkan dengan senyuman?
Sara ingin protes,
tetapi belum sempat ia membuka mulut Hari menyerobot kesempatan itu…
“Aku bawa jagung
bakar buat kamu. Mau?” tanyanya. Sara tersenyum, Hari memang selalu bisa
membuatnya nyaman.
“Kan kakak tau, aku
kurang suka jagung bakar.”
“Ohya ya? Mungkin
aku terlalu tua. Sampai lupa apa yang disukai istriku.” Seloroh Hari sembari
merangkul pundak Sara. Dengan satu tangan yang lain ia menjangkau plastik hitam
yang ditaruhnya diatas meja. Kemudian menyerahkannya pada Sara. Sara
menerimanya dengan tersenyum, masih menanggapi selorohan lelakinya.
“Kok nggak bau
jagung bakar?” tanyanya heran sembari membuka plastik hitam itu. ia melongokkan
sedikit pandangannya ke dalam plastik, seketika itu aroma jagung rebus menyapa
hidungnya. Senyum Sara merekah, hatinyapun merona. Ia menoleh pada Hari yang
menatap arah lain dengan cuek.
“Ini jagung rebus,
kan? Kenapa tadi bilang jagung bakar?” Tanya Sara menyenggol pinggang suaminya.
“Ohya ya? Berarti
aku suami yang baik.” Agak tidak nyambung memang. Tapi Sara tertawa kecil,
mengarahkan kedua lengannya untuk melingkarkannya di pinggang Hari, tapi
sebelum sempurna lengan itu melingkar, sesosok anak kecil yang tidak lain anak
bungsu mereka masuk ke ruang tengah dimana mereka berada.
“Ibu, haus.” Ujarnya
mendudukan pantat di pangkuan Sara. Sara bengong sesaat kemudian tertawa kecil.
Lengan yang tadinya ditujukan pada sang Ayah akhirnya melingkar di tubuh
anaknya.
“Ohya? Baim mau
minum apa, Sayang? Teh? Susu?” Tanya Sara sayang. Hari melirik dengan
tersenyum, tapi menyenderkan punggungnya pada sofa di belakang mereka. Dengan
suara yang dikecewakan ia berujar.
“Yah…gak jadi kena.”
Sara menyambut
dengan tawa ringan.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar