Rabu, 07 Oktober 2015

LELAKI ALAMI

“Tahan emosimu…” ia menggenggam tangan Sara dengan lembut, matanya menatap mata Sara yang membara. Sosok itu tersenyum, kemudian menarik perempuan itu dalam pelukannya.
“Jangan biarkan amarahmu beruntung.” Ujarnya, mengusap kepala Sara dengan sayang. Perlahan amarah Sara meredup, ia menghela nafas panjang, pada tahap selanjutnya membalas pelukan sosok itu.
***
Lagi-lagi, Hari selalu bisa menenangkannya. Bagaimanapun emosi itu menguasainya jika Hari sudah menariknya dalam pelukannya, Sara akan luluh. Luluh dengan aroma khas lelaki itu, luluh dengan hangat dan nyamannya tubuh lelaki itu, luluh dengan sabar dan lembutnya Hari.
Suaminya.
Sara mengingat-ingat lagi, bagaimana Ibu Fit, tetangganya menghina suaminya habis-habisan. Ibu Rumah Tangga yang bertubuh gempal itu mengatakan bahwa suaminya tukang selingkuh.
“Sering pulang malam ya selingkuh namanya. Apalgi?” Ujar Ibu itu sinis. Sampai disini Sara masih bisa menahan diri. Meski demikian ia ingin segera mengangkat kakinya dari depan rumah Ibu itu, segera membayar belanjaannya pada tukang sayur yang secara kebetulan berhenti disana.
“Kamu sih nggak becus menjaga suami.” Sara heran kenapa Ibu Fit selalu bersemangat mengurus rumah tangga orang. Parahnya lagi, Ibu tiga anak itu tidak segan-segan menghina orang lain di hadapan orang itu sendiri.
Tidak bisakah ia menjaga perasaan orang?
Sara memutuskan diam, masih mengusap-usap sabarnya yang perlahan digauli amarah. Siapapun jelas tidak suka kalau dihina-hina begitu.
“Ah, kalau dilihat-lihat kamu pandai menjaga diri. Sudah anak dua tapi badanmu masih singset.” Nah ini ada apa lagi, curiga Sara dalam hati.
“Mm…berarti suamimu itu yang gatel. Nggak bisa liat perempuan lain. Ah, kasihan kamu.”
Tuh, kan lain lagi katanya.
Sara sudah mengeluarkan uang dari dalam dompet ketika Ibu itu kembali membuka mulut.
“Mungkin faktor keturunan tuh. Kan suami kamu nggak jelas orang tuanya. Makanya begitu kelakuannya. Besok jangan-jangan dia juga pergi ninggalin kamu dan anak-anakmu.”
“Jaga bicaranya, Bu.” Kali ini Sara tidak mampu menahan diri. Ia sampai bergetar. Hatinya sakit mendengar suaminya dijelek-jelekkan sampai mengungkit masalah keluarga.
“Lha memang benar. Kamu tu seharusnya makasih, saya masih perhatiin hidup kamu. Masih kasihan…”
“Saya tidak rugi kalau Ibu tidak memperhatikan.” Sara masih berusaha menggigit amarahnya. Diserahkannya uangnya pada Bapak penjual sayur yang menatapnya prihatin, “Tolong berhentilah mengganggu Rumah tangga orang.” Lanjut Sara sembari pergi. Tak dihiraukannya lagi ocehan Ibu Fit yang masih saja menganggap dirinya benar. Juga panggilan Bapak tukang sayur yang mengingatkan kalau ia masih memiliki kembalian.
***
Sepulang suaminya dari tempat kerja, Sara menumpahkan kekesalannya. Ia bahkan sampai menangis cukup keras. Tidak terima suaminya dihina demikian. Hari yang sangat dihormatinya diinjak-injak dengan kalimat-kalimat yang tidak pantas diucapkan.
Hari menanggapi dengan tenang, bahkan tersenyum. Menggenggam tangannya dan memeluknya.
“Jangan biarkan amarahmu beruntung.” Pintanya sembari mengusap kepalanya. Ia tenang, ya Sara berhasil menemukan ketenangan dalam pelukan suaminya. Tapi ia tetap tidak habis fikir, kenapa suaminya bisa menerima semua dengan begitu mudah? Tanpa marah, bahkan dengan senyuman?
Sara ingin protes, tetapi belum sempat ia membuka mulut Hari menyerobot kesempatan itu…
“Aku bawa jagung bakar buat kamu. Mau?” tanyanya. Sara tersenyum, Hari memang selalu bisa membuatnya nyaman.
“Kan kakak tau, aku kurang suka jagung bakar.”
“Ohya ya? Mungkin aku terlalu tua. Sampai lupa apa yang disukai istriku.” Seloroh Hari sembari merangkul pundak Sara. Dengan satu tangan yang lain ia menjangkau plastik hitam yang ditaruhnya diatas meja. Kemudian menyerahkannya pada Sara. Sara menerimanya dengan tersenyum, masih menanggapi selorohan lelakinya.
“Kok nggak bau jagung bakar?” tanyanya heran sembari membuka plastik hitam itu. ia melongokkan sedikit pandangannya ke dalam plastik, seketika itu aroma jagung rebus menyapa hidungnya. Senyum Sara merekah, hatinyapun merona. Ia menoleh pada Hari yang menatap arah lain dengan cuek.
“Ini jagung rebus, kan? Kenapa tadi bilang jagung bakar?” Tanya Sara menyenggol pinggang suaminya.
“Ohya ya? Berarti aku suami yang baik.” Agak tidak nyambung memang. Tapi Sara tertawa kecil, mengarahkan kedua lengannya untuk melingkarkannya di pinggang Hari, tapi sebelum sempurna lengan itu melingkar, sesosok anak kecil yang tidak lain anak bungsu mereka masuk ke ruang tengah dimana mereka berada.
“Ibu, haus.” Ujarnya mendudukan pantat di pangkuan Sara. Sara bengong sesaat kemudian tertawa kecil. Lengan yang tadinya ditujukan pada sang Ayah akhirnya melingkar di tubuh anaknya.
“Ohya? Baim mau minum apa, Sayang? Teh? Susu?” Tanya Sara sayang. Hari melirik dengan tersenyum, tapi menyenderkan punggungnya pada sofa di belakang mereka. Dengan suara yang dikecewakan ia berujar.
“Yah…gak jadi kena.”
Sara menyambut dengan tawa ringan.
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar