Rabu, 07 Oktober 2015

Kurna

                Pada malam di pertengahannya, berpegang teguh pada kasih Tuhan. Bersujud dengan dosa bertumpuk, terngiang dan terbayang jelas…Kurnia menangis membasahi mukenah putih bersihnya. Ia memecah malam dengan tangisnya, yang tiada ianya mendengar kecuali Sang Esa.
*
                “Bisakah kau menyakitiku dengan syarat?” Kurnia menatap wajah tampan itu dengan pandangan kabur. Melebur seluruh rasa kecewanya pada makhluk tak berperasaan itu.
                “Saya sudah jelaskan semuanya!” Sosok itu mengomentari dengan tatapan menghujam pada titik pusat jendela hati Kurnia. Air di pelupuk itu terasa semakin penuh dan hampir tumpah, nafas pada dada Kurnia tersedat-sedat berusaha menyamai rasa sesak hati dan ekspresi reflex pernafasannya.
                “Tapi kamu tidak bisa seperti ini, Kak.” Kurnia seolah memohon, memohon seoonggok rasa kasihan pada sosok itu.
                “Tidak ada, aku sudah tidak punya alasan untuk diam” Sosok itu masih sekejam sebelum-sebelumnya. Kurnia tidak habis fikir kenapa dulu ia bisa mencintai sosok itu, bahkan teguh sampai saat ini.
                “Innalillah…” Bibir Kurnia bergetar dengan air mata yang sempurna tumpah, tidak ada alasan untuk diam??? Bagaimana sosok itu bisa membuat semuanya begitu ringan? Dengan semua yang telah terjadi?
                “Bagiku kamu tidak bisa membuatku nyaman lagi,” Sosok itu menarik langkah sedikit menjauh dari Kurnia. Kurnia tak ingin memberikan sosok itu menjauh, ia ingin sosok itu diam, memberi kehangatan padanya seperti ianya selama ini, kemudian akan terus begitu selamanya, atau Kurnia ingin menarik sosok itu, menamparnya, memukulnya, mendorongnya ke tengah rel kereta api, dan melihatnya mati tak berbekas. Tapi Kurnia beku, kakinya seolah dipaku pada tanah pijakannya. Hingga sosok itu sempurna tak disampingnya Kurnia masih membeku disana, dengan bahu turun naik mengikuti irama sesaknya.
*
                Malam itu hujan, menyempurnakan dingin pada kebersamaan mereka. Kaki mereka telah sempurna basah dan berlumpur, bibir Kurnia bergetar kedinginan. Sosok itu menoleh padanya.
                “Tak apa-apa, Sayang?” Tanya sosok itu, Kurnia menoleh dan berusaha mengangguk dengan rasa dingin yang memeluknya sempurna. Ia menggigil.
                Hup!
                Tiba-tiba saja lengan kekar dan hangat itu merangkul bahunya, kemudian merapat. tanpa kata, dengan diam dan pipi sedikit merona sosok itu memeluknya, berusaha memberikan sedikit kehangatan, berbagi pada kondisi minim yang hampir sama. Kurnia tidak menolak, ia malah tersenyum merasakan kasih sayang yang begitu hangat itu.
                “Masih kuat dingin?” Tanya sosok itu, Kurnia diam sejenak, sudah amat larut untuk diam di depan ruko itu, setidaknya bisa ditahannya jika sampai rumah dengan motor. Kurnia mengangguk, “Aku antar pulang saja ya?” Ada nada tak enak dalam kalimat sosok itu. Kurniapun menyetujui disertai senyum. Merekapun memecah hujan diatas motor, dingin menusuk tanpa ampun dari jatuh kejam hujan dan kencang angin.
                Agak ragu Kurnia melingkarkan lengan di pinggang sosok itu, dan tanpa ia duga tangan sosok itu menggenggam jemarinya, Kurnia tersenyum. Meletakkan wajahnya pada punggung itu.
*
                Di kamar mandi Kurnia mengganti pakaian basahnya dengan buru-buru, dingin telah sempurna menggerogotinya. Ia tak memakai sabun selama biasanya, kemudian memakai handuk tebal dan keluar kamar mandi. Di luar sosok itu menunggu dengan gemetar.
                “Masuk gih, ganti baju. Nanti pakai baju kakak aja!” Kurnia menarik lengan sosok itu dan mendorongnya ke kamar mandi. Rasanya sedikit canggung memang hanya memakai handuk di hadapan sosok itu, tapi ini kondisi darurat. Sosok itupun masuk ke kamar mandi, sementara itu Kurnia mengganti handuknya dengan baju tidur longgar. Ia ke dapur memasak air hangat untuk membuat kopi hangat.
                Blup, blup, blup.
                Mendidih juga, Kurnia membuat dua gelas kopi susu dengan telaten dia memang suka pekerjaan ibu rumah tangga.
                Tap, tap, tap.
                Langkah-langkah pelan memasuki dapur, Kurnia menoleh dan terkejut melihat sosok itu hanya datang dengan handuk.
                “Ya ampun!” Serunya, “Maaf aku lupa, ini diminum dulu kopinya, aku ambilkan pakaian!” Kurnia memeberikan segelas kopi susu pada sosok itu, sosok itu menerimanya dan menghirupnya sembari menatap Kurnia yang berlari pelan masuk ke salah satu kamar. Tak lama Kurnia kembali keluar dengan pakaian di tangannya.
                “Ini dia, pakai saja. Nggak apa-apa!” Kurnia tersenyum. Sosok itu menatapnya tanpa kata. Kurnia jadi canggung mendapat tatapan begitu. Sosok itu mendekat dan terus hingga tak ada jarak lagi diantara mereka. Kurnia diam, merasakan darahnya tak lagi mengalair. Sosok itu mendekatkan wajahnya.
                Dan tanpa kata, malam itu terlewati begitu…gelap bagi Kurnia.
*
                Pagi datang tanpa ketukan, membuat mata Kurnia terbuka dan mengerjap-ngerjap. Hingga ianya sempurna terbuka, Kurnia mendapati wajah sosok itu masih terlelap merengkuhnya, wajah itu terlihat lelah, masih setampan sebelumnya.
                Dan mereka berdua masih tanpa busana. Agak sedikit sesak Kurnia memberanikan dirinya berfikir tentang yang telah terjadi semalam, ada perih di ulu hatinya, tapi ingatan lalu lebih mendominasi fikirannya.
                “Kamu sangat manis, Sayang!” Ibu jari itu menyentuh kening Kurnia dengan kasihnya, kemudian telapaknya menyentuh kepala Kurnia dengan sayangnya. Sosok itu begitu hangat dan menyamankan.
                Kurnia menatap sosok itu, kemudian mempererat pelukannya…hingga matahari menjadi enggan mengganggu kebersamaan mereka.
*
                Dan kini, hanya Kurnia yang tersisa pada titian yang mereka bangun itu. hanya ia yang terpuruk pada hubungan penghasil jeruji panas itu. bagaimana mungkin sosok itu bisa melupakan segalanya hanya dengan sekali singkap???
                Pada siapa Kurnia akan mencari pegangan,? Pada apa Kurnia akan berpegang,? Hingga ia hampir memutuskan untuk mengakhiri semuanya, Kurnia ingat ia punya Tuhan. Tuhan yang menaunginya, dan ia berlari ke jalan itu, tertatih menjeput kasih Tuhan, yang telah dengan lama ia duakan bahkan lupakan.
                “Tak apa Kau tak maafkanku, Tuhan…aku hanya ingin Kau menemaniku, ingin berpegang pada-Mu”
*

                Suatu saat akan datang pemahaman, pada setiap kalian…bahwa kesalahan itu tidak diakibatkan pada penyebabnya, atau akibatnya. Tapi pada saat kalian mengerjakannya. Adakah pada saat kalian mengerjakannya setan ikut membantu kalian??? Memang hawa nafsu mengambil andil, tapi akankah hawa selalu tersudut pada masa itu? karena berpakaian beginilah, begitulah…salah hawa memang begitu, tapi akal kalian, akal pada nafsi itu, kalian apakan????? Pergi dengan meninggalkan bekas tanpa belas,,,dimana akal kalian?????? Shit.!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar