Pada
malam di pertengahannya, berpegang teguh pada kasih Tuhan. Bersujud dengan dosa
bertumpuk, terngiang dan terbayang jelas…Kurnia menangis membasahi mukenah
putih bersihnya. Ia memecah malam dengan tangisnya, yang tiada ianya mendengar
kecuali Sang Esa.
*
“Bisakah
kau menyakitiku dengan syarat?” Kurnia menatap wajah tampan itu dengan
pandangan kabur. Melebur seluruh rasa kecewanya pada makhluk tak berperasaan
itu.
“Saya
sudah jelaskan semuanya!” Sosok itu mengomentari dengan tatapan menghujam pada
titik pusat jendela hati Kurnia. Air di pelupuk itu terasa semakin penuh dan
hampir tumpah, nafas pada dada Kurnia tersedat-sedat berusaha menyamai rasa
sesak hati dan ekspresi reflex pernafasannya.
“Tapi
kamu tidak bisa seperti ini, Kak.” Kurnia seolah memohon, memohon seoonggok
rasa kasihan pada sosok itu.
“Tidak
ada, aku sudah tidak punya alasan untuk diam” Sosok itu masih sekejam
sebelum-sebelumnya. Kurnia tidak habis fikir kenapa dulu ia bisa mencintai
sosok itu, bahkan teguh sampai saat ini.
“Innalillah…”
Bibir Kurnia bergetar dengan air mata yang sempurna tumpah, tidak ada alasan
untuk diam??? Bagaimana sosok itu bisa membuat semuanya begitu ringan? Dengan
semua yang telah terjadi?
“Bagiku
kamu tidak bisa membuatku nyaman lagi,” Sosok itu menarik langkah sedikit
menjauh dari Kurnia. Kurnia tak ingin memberikan sosok itu menjauh, ia ingin
sosok itu diam, memberi kehangatan padanya seperti ianya selama ini, kemudian
akan terus begitu selamanya, atau Kurnia ingin menarik sosok itu, menamparnya,
memukulnya, mendorongnya ke tengah rel kereta api, dan melihatnya mati tak
berbekas. Tapi Kurnia beku, kakinya seolah dipaku pada tanah pijakannya. Hingga
sosok itu sempurna tak disampingnya Kurnia masih membeku disana, dengan bahu
turun naik mengikuti irama sesaknya.
*
Malam
itu hujan, menyempurnakan dingin pada kebersamaan mereka. Kaki mereka telah
sempurna basah dan berlumpur, bibir Kurnia bergetar kedinginan. Sosok itu
menoleh padanya.
“Tak
apa-apa, Sayang?” Tanya sosok itu, Kurnia menoleh dan berusaha mengangguk
dengan rasa dingin yang memeluknya sempurna. Ia menggigil.
Hup!
Tiba-tiba
saja lengan kekar dan hangat itu merangkul bahunya, kemudian merapat. tanpa
kata, dengan diam dan pipi sedikit merona sosok itu memeluknya, berusaha
memberikan sedikit kehangatan, berbagi pada kondisi minim yang hampir sama.
Kurnia tidak menolak, ia malah tersenyum merasakan kasih sayang yang begitu
hangat itu.
“Masih
kuat dingin?” Tanya sosok itu, Kurnia diam sejenak, sudah amat larut untuk diam
di depan ruko itu, setidaknya bisa ditahannya jika sampai rumah dengan motor.
Kurnia mengangguk, “Aku antar pulang saja ya?” Ada nada tak enak dalam kalimat
sosok itu. Kurniapun menyetujui disertai senyum. Merekapun memecah hujan diatas
motor, dingin menusuk tanpa ampun dari jatuh kejam hujan dan kencang angin.
Agak
ragu Kurnia melingkarkan lengan di pinggang sosok itu, dan tanpa ia duga tangan
sosok itu menggenggam jemarinya, Kurnia tersenyum. Meletakkan wajahnya pada
punggung itu.
*
Di
kamar mandi Kurnia mengganti pakaian basahnya dengan buru-buru, dingin telah
sempurna menggerogotinya. Ia tak memakai sabun selama biasanya, kemudian
memakai handuk tebal dan keluar kamar mandi. Di luar sosok itu menunggu dengan
gemetar.
“Masuk
gih, ganti baju. Nanti pakai baju kakak aja!” Kurnia menarik lengan sosok itu
dan mendorongnya ke kamar mandi. Rasanya sedikit canggung memang hanya memakai
handuk di hadapan sosok itu, tapi ini kondisi darurat. Sosok itupun masuk ke
kamar mandi, sementara itu Kurnia mengganti handuknya dengan baju tidur longgar.
Ia ke dapur memasak air hangat untuk membuat kopi hangat.
Blup,
blup, blup.
Mendidih
juga, Kurnia membuat dua gelas kopi susu dengan telaten dia memang suka
pekerjaan ibu rumah tangga.
Tap,
tap, tap.
Langkah-langkah
pelan memasuki dapur, Kurnia menoleh dan terkejut melihat sosok itu hanya
datang dengan handuk.
“Ya
ampun!” Serunya, “Maaf aku lupa, ini diminum dulu kopinya, aku ambilkan
pakaian!” Kurnia memeberikan segelas kopi susu pada sosok itu, sosok itu
menerimanya dan menghirupnya sembari menatap Kurnia yang berlari pelan masuk ke
salah satu kamar. Tak lama Kurnia kembali keluar dengan pakaian di tangannya.
“Ini
dia, pakai saja. Nggak apa-apa!” Kurnia tersenyum. Sosok itu menatapnya tanpa
kata. Kurnia jadi canggung mendapat tatapan begitu. Sosok itu mendekat dan
terus hingga tak ada jarak lagi diantara mereka. Kurnia diam, merasakan
darahnya tak lagi mengalair. Sosok itu mendekatkan wajahnya.
Dan
tanpa kata, malam itu terlewati begitu…gelap bagi Kurnia.
*
Pagi
datang tanpa ketukan, membuat mata Kurnia terbuka dan mengerjap-ngerjap. Hingga
ianya sempurna terbuka, Kurnia mendapati wajah sosok itu masih terlelap
merengkuhnya, wajah itu terlihat lelah, masih setampan sebelumnya.
Dan
mereka berdua masih tanpa busana. Agak sedikit sesak Kurnia memberanikan
dirinya berfikir tentang yang telah terjadi semalam, ada perih di ulu hatinya,
tapi ingatan lalu lebih mendominasi fikirannya.
“Kamu
sangat manis, Sayang!” Ibu jari itu menyentuh kening Kurnia dengan kasihnya,
kemudian telapaknya menyentuh kepala Kurnia dengan sayangnya. Sosok itu begitu
hangat dan menyamankan.
Kurnia
menatap sosok itu, kemudian mempererat pelukannya…hingga matahari menjadi
enggan mengganggu kebersamaan mereka.
*
Dan
kini, hanya Kurnia yang tersisa pada titian yang mereka bangun itu. hanya ia
yang terpuruk pada hubungan penghasil jeruji panas itu. bagaimana mungkin sosok
itu bisa melupakan segalanya hanya dengan sekali singkap???
Pada
siapa Kurnia akan mencari pegangan,? Pada apa Kurnia akan berpegang,? Hingga ia
hampir memutuskan untuk mengakhiri semuanya, Kurnia ingat ia punya Tuhan. Tuhan
yang menaunginya, dan ia berlari ke jalan itu, tertatih menjeput kasih Tuhan,
yang telah dengan lama ia duakan bahkan lupakan.
“Tak
apa Kau tak maafkanku, Tuhan…aku hanya ingin Kau menemaniku, ingin berpegang
pada-Mu”
*
Suatu
saat akan datang pemahaman, pada setiap kalian…bahwa kesalahan itu tidak
diakibatkan pada penyebabnya, atau akibatnya. Tapi pada saat kalian
mengerjakannya. Adakah pada saat kalian mengerjakannya setan ikut membantu
kalian??? Memang hawa nafsu mengambil andil, tapi akankah hawa selalu tersudut
pada masa itu? karena berpakaian beginilah, begitulah…salah hawa memang begitu,
tapi akal kalian, akal pada nafsi itu, kalian apakan????? Pergi dengan
meninggalkan bekas tanpa belas,,,dimana akal kalian?????? Shit.!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar