BUNDA_
“Assalamu’alaikoooom…!”
Sebuah suara mungil menentraamkan batin terdengar dari pintu depan. Aku
menjawab salam keselamtan itu dengan lembut, kemudian kusongsong sosoknya yang
tampak imut dengan jilbab kecil dan pakaian seragam SD.
“Bunda,
hari ini jadi daftar, kan ?
Aku dah dapet ijazah…!” Pertanyaannya membuatku tersenyum sembari menggantung
ransel kecilnya.
“Lho
terserah Abi, nanti Tanya sendiri.” Jawabku kembali ke dapur. Ia mengekoriku
dari belakang.
“Teman-teman
yang lain udah pada daftar semua, Nda. Masa’ aku belom?” Ia mengeluh sembari
membuka jilbabnya dan menaruhnya di korsi sembarangan.
“Makanya
nanti Tanya Abimu dulu, taruh jilbabnya di kamar sana , ganti baju, shalat kemudian makan!”
Pintaku lembut. Meski sedikit cemberut dengan dengusan kesal ia tetap
melaksanakannya.
Ia adalah
putriku yang baru berusia sepuluh tahun, namanya Waidha Amalia Amien. Di
usianya yang ke sepuluh, ia sudah berhasil menamatkan Sekolah Dasarnya. Karena
memang ia tidak duduk di kelas satu dan dua, melainkan langsung di kelas tiga.
Kecerdasan yang menurun dari Abinya.
Sekarang ia
begitu ingin melanjutkan sekolahnya di SMP. Bukan apa-apa, aku bahkan
menyerahkan sepenuhnya padanya, toh kami, aku dan Abinya bisa mengontrol dari
rumah saja. Tapi, secara pribadi, aku ingin ia masuk di sekolahku dulu, yang
hingga ia berusia del apan
tahun tetap menjadi dongeng untuknya, karena selalu kuceritakan. Tapi, saat ia
berhasil menamatkan pendidikan dasarnya, ia ingin masuk ke SMP saja. Aku sama
sekali tidak mengingatkannya pada sekolahku yang dulu. Biarkan saja, mungkin
ini jalan lain Tuhan, atau bagaimana. Kuserahkan pada waktu saja.
WAIDHA_
Uumh….kulempar
jilbabku seadanya, sampai hari ini Bunda masih belum mau saja mendaftarkanku ke
SMP yang aku ingini.
“Tunggu
Abimu dulu!” Selalu berkata begitu, ah,… jadi nggak sabar. Walaupun aku masih
terbilang kecil, mungil dan usia masih dua tahun dibawah teman-temanku, aku
ingin sekali masuk SMP itu. aku ingin mengganti rok merah ini dengan biru
segera.
“Sayang….sudah
whudunya? Ayo zuhur samaan!” Kudengar suara Bunda di ambang pintu, aku menoleh
memaksakan tersenyum. Kemudian menggeleng. Bunda tersenyum…
“Bunda
tunggu di ruang shalat, ya?!” Pintanya. Aku mengangguk, begitu Bunda beranjak
aku ke kama r mandi dan mengambil air whuduku. Setelah
itu aku beranjak ke tempat shalat yang berada di halaman rumah, sebuah bangunan
mungil yang biasa kami gunakan shalat dan mengaji bersama. Kemudian aku dan
Bunda shalat berjama’ah.
BUNDA_
Malam ini aku, Abi dan Waidha berkumpul di ruang keluarga.
Telah lima
belas menit berlalu, Abi belum juga membuka suara. Kulirik ia di sampingku,
sebuah wajah bijak\, lembut dan tegas. Ia membuka kaca matanya dan melipatnya
kemudian menaruhnya diatas meja.
Kurasakan tendangan syahdu di peru t buncitku. Kuelus ia pelan.
“Jadi mau
masuk SMP mana, Sayang?” Tanya Abi menatap Waidha dengan senyuman lembut,
mataku ikut mengekori tatapan Abi. Putri semata wayangku itu mengangkat
wajahnya dengan mata berbinar. Kemudian menyebutkan nama sekolah yang ia
inginkan. Aku menghembuskan nafas pelan.
“Besok, Abi
antar daftar kesana.” Ujar Abi , ak u menoleh padanya, kurasakan mata kan ak Waidha juga menoleh padaku.
“Tentu saja
berdua, Bunda biar menjaga rumah dan adek saja…” Begitu ujarnya, dan aku berusaha
tersenyum menden garnya.
Kembali kuelus peru tku
yang di dalamnya hidup seorang titipan Allah, yang beberapa hari lagi akan
menatap dunia ini.
WAIDHA_
Pagi yang cerah, aku dan Abi sudah berada di dalam mobil
untuk mendaftar ke SMP. Aku menatap pohon-pohon di pinggir jalan yang terlihat
berlari berlawanan arah dengan laju mobil.
“Sayang,”
Sebuah panggilan lembut menyapa telingaku. Aku menoleh, dan menemukan Abi
tersenyum padaku, kemudian kembali menatap jalan.
“Kenapa,
Bi?” Tanyaku menatapnya, yang kini kembali asyik mengemudi.
“Kamu
senang hari ini?” Tanyanya. Aku tertegun sejenak. Kemudian menjawab pasti,
“Tentu
saja!” Jawabku. Abi tersenyum, kemudian membelokkan laju mobil ke kiri melewati
lampu merah. Alisku mengkerut, apa benar ini jalan ke SMPku? Tapi aku enggan
bertanya, mungkin Abi mau ke suatu tempat dulu.
Tak lama,
mobil memasuki sebuah lingkungan yang terlihat penuh dengan bangunan-bangunan
bertingkat. Aku mengedarkan pandanganku, terdengar olehku suara alunan Al
Qur’an dari … em, mungkin itu aula. Atau apalah… Abi memarkir mobil di depan
bangunan itu, kemudian memintaku untuk turun.
“Abi ini
dimana?” Tanyaku pada Abi yang menarik lenganku penuh kasih. Lagi-lagi Abi
tersenyum.
“Kamu tau
itu namanya bangunan Australia ,
disana terdapat beberapa kelas untuk santriwati…di sampingnya,..” Abi menunjuk
bangunan bertingkat tiga di samping bangunan megah yang tadi, yang Abi sebut
bangunan Australia ,
“Nam anya Bangunan Swiss atau
dikenal dengan Swiss building…” Abi menunduk padaku masih tersenyum.
“Yang itu,
mashalla kan ,
By? Kemudian ruangan pojok bawah kiri itu…lab computer…” Tiba-tiba saja aku
mengenali wilayah ini. begitu lekat dan dekat rasanya, ini dimana…???
Seorang
wanita berjilbab putih mendekati kami disertai senyum teduh.
“Ahlan wa
sahlan…ada yang bisa saya Bantu?” Tanyanya. Aku terdiam menatap senyum teduh
itu.
“Ahlan
bik…saya dan putri saya ingin tau lebih tentang…” Aku menden gar Abi menyebut sebuah nama…nama
tempat yang kerap menemaniku sebelum tidur…dulu…ya dua tahun lalu…
BUNDA_
Abi dan Waidha baru saja berangkat mendaftar. Seperti yang
dikatakan Abi, aku tidak boleh ikut serta. Entah kenapa, mungkin Abi tau
sebenarnya yang aku inginkan. Akarena memang aku tidak pernah menyembunyikan
apa-apa darinya. Hanya saja, kutekankan padanya untuk tidak memaksa Waidha
dalam segala hal. Aku ingin ia berkembang sejalan dengan mimpinya saja.
Kumulai kesibukanku hari ini dengan setumpuk cucian. Aku
melihat keranjang pakaian kotor, menumpuk sekali. Kuangkat keranjang penuh itu
dan membawanya ke dekat mesin cuci. Kubuka mesin cuci dan memasukkan
pakaian-pakaian yang tidak luntur, menambahkan deterjen dan menutupnya kembali,
yang terakhir kuhidupkan. Mesin itu terdengar sibuk dengan pakaian-pakaian yang
berputar-putar di dalamnya.
Uh!
Tiba-tiba saja kurasakan rasa sakit di peru tku. Ku
raba ia, aku berfikir…apakah sudah waktunya??? Tapi ini belum genap Sembilan
bulan, tiga hari lagi barulah usia kan dunganku
genap sembilan bulan.
Aku menggeleng, mungkin hanya rasa sakit biasa. Aku berusaha
mengacuhkannya, dan duduk di korsi menunggu cucianku selesai diproses.
Beberapa menit berlalu, rasa sakit itu mulai berkurang. Aku
berhamdalah sembari mengusap peru tku
dengan shalawat pada Nabi.
Mesin cuci memberi kode padaku untuk menghentikannya, aku
bangkit dari dudukku…aw,…innalillah…rasa itu kembali datang, kali ini lebih
sakit dari yang tadi. Dengan istighfar, kembali kuacuhkan rasa sakit itu, dan
mendekati mesin cuci. Membukannya dan memindahkan cucianku ke bagian pengering…
Rasa sakit itu semakin menjadi, bertubi-tubi. Aku memegang
bagian peru tku
yang sakit, pandanganku mulai mengabur, kepalaku pening. Aku berusaha menjaga
keseimbangan tubuuhku, tapi tak kuasa. Aku mundur beberapa langkah dengan tak
terkendali. Tiba-tiba saja kakiku tersandung sesuatu yang kusadari itu adalah
keranjang pakaian kotor yang tersisa…galau! Keseimbanganku tak bisa kujaga
lagi…
Bruk !!!
“Ya Allah…!” Aku menjerit, mendapatkan rasa sakit di tubuhku
akibat benturan ke lantai… aku mengerang, rasa sakit itu semakin menjadi. Aku
yakin ini bukanlah rasa sakit tanda kelahiran….
“Allaaaahhh…” Aku kembali mengerang…meraba peru tku,
kurasakan bibirku kering. Terbayang di pelupuk mataku wajah suamiku dan
putriku…aku menggigil, kurasakan sesuatu mengalir di paha dan betisku. Ketika
kucoba melihatnya, berharap ini adalah tanda kelahiran…aku terdiam…telingaku
terasa tuli…itu…darah….
Pandanganku gela p.
WAIDHA_
Kulirik Abi yang terlihat khawatir dengan peluh di
keningnya. Aku tidak tau harus berbuat apa…
Di dalam, Bunda sedang ditangani oleh para dokter. Sepulang
dari mendaftar, aku dan Abi menemukan Bunda tergeletak di atas lantai
dengan..darah. Abi segera melarikan Bunda ke RS tentu saja dengan aku. Dan
setelah masuk ke ruangan itu, sampai sekarang pintu itu belum terbuka.
Aku dan Abi menunggu dengan cemas. Abi tidak memberi tahu
nenek, mungkin enggan membuat khawatir. Aku berdiri dari dudukku dan peluk bahu
besar Abi…
“Semuanya
akan baik-baik saja, kan ?”
Tanyaku menatap mata Abi yang selalu memancarkan kesabaran itu. abi tersenyum
seperti biasa, kemudian mengangguk. Aku tersenyum…meski demikian, aku tau Abi
amat khawatir…tangannya dingin dan peluh terus saja menghiasi keningnya. Aku
mendekatkan wajahku pada wajahnya, dan mengecup pipinya.
“Keluarga
pasien?” Dokter yang menangani Bunda keluar, Abi bangkit dan mendekatinya.
“Tidak ada
jalan lain, harus disesar…kalau ingin keduanya selamat…” Begitu kudengar
samar-samar dari pembicaraan Abi dengan dokter itu…ada banyak sekali alasan
yang disampaikan, tapi yang kupahami adalah itu. dan menurutku Abi menyetujuinya…
Akhirnya kami diizinkan menemui Bunda di dalam. Aku
mengikuti langkah Abi yang mendekati ranjang Bunda. Abi menggenggam jemari
Bunda, menatap mata Bunda penuh kasih, kemudian mengecup keningnya.
“Semuanya
akan baik-baik saja, Sayang!” Ujarnya. Kuperhatikan Bunda tersenyum, menguatkan
Abi. Abi beralih menatapku, “Mau shalat dengan Abi?” Tanyanya padaku, aku
terdiam sejenak, kemudian menggeleng.
BUNDA_
Kutatap putriku, berwajah ayu dan pemilik suara surga. Ia
mendekati ranjangku dan menyentuh tanganku, mata dan hidungnya memerah, ia
menahan tangisnya. Aku tersenyum padanya. Iapun membalas senyumku dengan bibir
bergetar lantas mencium punggung tanganku.
“Bunda
tayammum yach…aku Bantu!” Pintanya. Aku tertegun, sebuah rasa damai menyelinap
di selubung hatiku…mataku berair..kemudian aku mengangguk. Lantas ia mulai
membantuku tayammum, hingga sempurna. Kami kemudian shalat bersama…ia shalat
dengan sajadah dan mukenah yang ia bawa di ransel kecilnya. Aku semakin
terenyuh, ia tak pernah lupa membawa mukenah dan sajadah, kemanapun ia pergi….
Seusai shalat ia kembali mendekatiku, masih dengan
mukenahnya. Wajah ayunya terlihat bersinar…
“Bunda…janji
akan baik-baik saja, ya?” Pintanya, kutatap ia dengan senyuman, “Aku
ingin…Bunda menceritakan lagi padaku tentang Haramain…”
***
Suasana di
ruangan serba putih itu terasa penuh dengan kebahagiaan dan puji syukur. Ada beberapa oran g disana. Seorang wanita berjilbab yang masih
terbaring di ranjang, seorang lelaki jangkung dengan kaca mata minus mungil
yang duduk di korsi samping ranjang, dan seorang anak kecil berjilbab berusia
sekitar sepuluh tahun…em, ada satu lagi yang terlupa. Seorang bayi laki-lagi
kecil di pelukan wanita yang terbaring itu…dengarlah percakapan mereka.
“Lho???
Belum beri tau ibu, Bi?” Tanya wanita itu menatap suaminya dengan alis
mengkerut. Suaminya tersenyum dan menjawab.
“Sudah,
sebentar juga sampai…”
“Bunda..!”
Gadis kecil itu memanggil Bundanya dengan ceria. Wanita itu menoleh sembari
tersenyum…
“Kenapa,
Sayang?” Tanya Bundanya, Abinya ikut menoleh padanya.
“Adek mau
dikasi nama apa, ya?” Tanyanya. Bunda tersenyum dan melirik suaminya, Abipun
tersenyum membalas lirikan istrinya.
“Bagaimana
kalo kakaknya yang beri nama???” Usul Abi disetujui oleh Bunda. Gadis kecil itu
tersenyum ceria…dan mengecup pipi bayi dalam pelukan Bundanya.
“Hai…adek
kecil….kakak belum tau mau memberimu nama apa, nanti kakak pikirin yach…???
Tapi kakak tau…hal yang paling ingin kakak ceritakan padamu adalah kisah sebuah
kampung, kampung yang damai…kakak ingin mengisahkan padamu tentang Haramain…”
Ujarnya. Bundanya tersenyum, ia begitu membuncah. Putrinya telah sempurna
mengingat masa kecilnya tentang berjuta cerita Kampung Damai Haramainnya, dan
setelah Abinya mengajaknya kesana, ia ternyata seperti begitu mengenal
Haramain…
“Iya
sayang…Kisahkan padanya tentang Haramainku…” Pinta Bunda. Gadis itu menatap
Bundanya…
“Haramainku
juga donk…kan
sekarang nyantri disana…” Sanggahnya. Bundanya tersenyum kemudian
berhamdalah…Allah selalu memberikan yang terbaik, dengan cara-Nya sendiri…
End_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar