Rabu, 07 Oktober 2015

Kisahkan Aku Haramainku

BUNDA_
            “Assalamu’alaikoooom…!” Sebuah suara mungil menentraamkan batin terdengar dari pintu depan. Aku menjawab salam keselamtan itu dengan lembut, kemudian kusongsong sosoknya yang tampak imut dengan jilbab kecil dan pakaian seragam SD.
            “Bunda, hari ini jadi daftar, kan? Aku dah dapet ijazah…!” Pertanyaannya membuatku tersenyum sembari menggantung ransel kecilnya.
            “Lho terserah Abi, nanti Tanya sendiri.” Jawabku kembali ke dapur. Ia mengekoriku dari belakang.
            “Teman-teman yang lain udah pada daftar semua, Nda. Masa’ aku belom?” Ia mengeluh sembari membuka jilbabnya dan menaruhnya di korsi sembarangan.
            “Makanya nanti Tanya Abimu dulu, taruh jilbabnya di kamar sana, ganti baju, shalat kemudian makan!” Pintaku lembut. Meski sedikit cemberut dengan dengusan kesal ia tetap melaksanakannya.
            Ia adalah putriku yang baru berusia sepuluh tahun, namanya Waidha Amalia Amien. Di usianya yang ke sepuluh, ia sudah berhasil menamatkan Sekolah Dasarnya. Karena memang ia tidak duduk di kelas satu dan dua, melainkan langsung di kelas tiga. Kecerdasan yang menurun dari Abinya.
            Sekarang ia begitu ingin melanjutkan sekolahnya di SMP. Bukan apa-apa, aku bahkan menyerahkan sepenuhnya padanya, toh kami, aku dan Abinya bisa mengontrol dari rumah saja. Tapi, secara pribadi, aku ingin ia masuk di sekolahku dulu, yang hingga ia berusia delapan tahun tetap menjadi dongeng untuknya, karena selalu kuceritakan. Tapi, saat ia berhasil menamatkan pendidikan dasarnya, ia ingin masuk ke SMP saja. Aku sama sekali tidak mengingatkannya pada sekolahku yang dulu. Biarkan saja, mungkin ini jalan lain Tuhan, atau bagaimana. Kuserahkan pada waktu saja.

WAIDHA_
            Uumh….kulempar jilbabku seadanya, sampai hari ini Bunda masih belum mau saja mendaftarkanku ke SMP yang aku ingini.
            “Tunggu Abimu dulu!” Selalu berkata begitu, ah,… jadi nggak sabar. Walaupun aku masih terbilang kecil, mungil dan usia masih dua tahun dibawah teman-temanku, aku ingin sekali masuk SMP itu. aku ingin mengganti rok merah ini dengan biru segera.
            “Sayang….sudah whudunya? Ayo zuhur samaan!” Kudengar suara Bunda di ambang pintu, aku menoleh memaksakan tersenyum. Kemudian menggeleng. Bunda tersenyum…
            “Bunda tunggu di ruang shalat, ya?!” Pintanya. Aku mengangguk, begitu Bunda beranjak aku ke kamar mandi dan mengambil air whuduku. Setelah itu aku beranjak ke tempat shalat yang berada di halaman rumah, sebuah bangunan mungil yang biasa kami gunakan shalat dan mengaji bersama. Kemudian aku dan Bunda shalat berjama’ah.

BUNDA_
Malam ini aku, Abi dan Waidha berkumpul di ruang keluarga. Telah lima belas menit berlalu, Abi belum juga membuka suara. Kulirik ia di sampingku, sebuah wajah bijak\, lembut dan tegas. Ia membuka kaca matanya dan melipatnya kemudian menaruhnya diatas meja.
Kurasakan tendangan syahdu di perut buncitku. Kuelus ia pelan.
            “Jadi mau masuk SMP mana, Sayang?” Tanya Abi menatap Waidha dengan senyuman lembut, mataku ikut mengekori tatapan Abi. Putri semata wayangku itu mengangkat wajahnya dengan mata berbinar. Kemudian menyebutkan nama sekolah yang ia inginkan. Aku menghembuskan nafas pelan.
            “Besok, Abi antar daftar kesana.” Ujar Abi, aku menoleh padanya, kurasakan mata kanak Waidha juga menoleh padaku.
            “Tentu saja berdua, Bunda biar menjaga rumah dan adek saja…” Begitu ujarnya, dan aku berusaha tersenyum mendengarnya. Kembali kuelus perutku yang di dalamnya hidup seorang titipan Allah, yang beberapa hari lagi akan menatap dunia ini.

WAIDHA_
Pagi yang cerah, aku dan Abi sudah berada di dalam mobil untuk mendaftar ke SMP. Aku menatap pohon-pohon di pinggir jalan yang terlihat berlari berlawanan arah dengan laju mobil.
            “Sayang,” Sebuah panggilan lembut menyapa telingaku. Aku menoleh, dan menemukan Abi tersenyum padaku, kemudian kembali menatap jalan.
            “Kenapa, Bi?” Tanyaku menatapnya, yang kini kembali asyik mengemudi.
            “Kamu senang hari ini?” Tanyanya. Aku tertegun sejenak. Kemudian menjawab pasti,
            “Tentu saja!” Jawabku. Abi tersenyum, kemudian membelokkan laju mobil ke kiri melewati lampu merah. Alisku mengkerut, apa benar ini jalan ke SMPku? Tapi aku enggan bertanya, mungkin Abi mau ke suatu tempat dulu.
            Tak lama, mobil memasuki sebuah lingkungan yang terlihat penuh dengan bangunan-bangunan bertingkat. Aku mengedarkan pandanganku, terdengar olehku suara alunan Al Qur’an dari … em, mungkin itu aula. Atau apalah… Abi memarkir mobil di depan bangunan itu, kemudian memintaku untuk turun.
            “Abi ini dimana?” Tanyaku pada Abi yang menarik lenganku penuh kasih. Lagi-lagi Abi tersenyum.
            “Kamu tau itu namanya bangunan Australia, disana terdapat beberapa kelas untuk santriwati…di sampingnya,..” Abi menunjuk bangunan bertingkat tiga di samping bangunan megah yang tadi, yang Abi sebut bangunan Australia, “Namanya Bangunan Swiss atau dikenal dengan Swiss building…” Abi menunduk padaku masih tersenyum.
            “Yang itu, mashalla kan, By? Kemudian ruangan pojok bawah kiri itu…lab computer…” Tiba-tiba saja aku mengenali wilayah ini. begitu lekat dan dekat rasanya, ini dimana…???
            Seorang wanita berjilbab putih mendekati kami disertai senyum teduh.
            “Ahlan wa sahlan…ada yang bisa saya Bantu?” Tanyanya. Aku terdiam menatap senyum teduh itu.
            “Ahlan bik…saya dan putri saya ingin tau lebih tentang…” Aku mendengar Abi menyebut sebuah nama…nama tempat yang kerap menemaniku sebelum tidur…dulu…ya dua tahun lalu…

BUNDA_
Abi dan Waidha baru saja berangkat mendaftar. Seperti yang dikatakan Abi, aku tidak boleh ikut serta. Entah kenapa, mungkin Abi tau sebenarnya yang aku inginkan. Akarena memang aku tidak pernah menyembunyikan apa-apa darinya. Hanya saja, kutekankan padanya untuk tidak memaksa Waidha dalam segala hal. Aku ingin ia berkembang sejalan dengan mimpinya saja.
Kumulai kesibukanku hari ini dengan setumpuk cucian. Aku melihat keranjang pakaian kotor, menumpuk sekali. Kuangkat keranjang penuh itu dan membawanya ke dekat mesin cuci. Kubuka mesin cuci dan memasukkan pakaian-pakaian yang tidak luntur, menambahkan deterjen dan menutupnya kembali, yang terakhir kuhidupkan. Mesin itu terdengar sibuk dengan pakaian-pakaian yang berputar-putar di dalamnya.
Uh!
Tiba-tiba saja kurasakan rasa sakit di perutku. Ku raba ia, aku berfikir…apakah sudah waktunya??? Tapi ini belum genap Sembilan bulan, tiga hari lagi barulah usia kandunganku genap sembilan bulan.
Aku menggeleng, mungkin hanya rasa sakit biasa. Aku berusaha mengacuhkannya, dan duduk di korsi menunggu cucianku selesai diproses.
Beberapa menit berlalu, rasa sakit itu mulai berkurang. Aku berhamdalah sembari mengusap perutku dengan shalawat pada Nabi.
Mesin cuci memberi kode padaku untuk menghentikannya, aku bangkit dari dudukku…aw,…innalillah…rasa itu kembali datang, kali ini lebih sakit dari yang tadi. Dengan istighfar, kembali kuacuhkan rasa sakit itu, dan mendekati mesin cuci. Membukannya dan memindahkan cucianku ke bagian pengering…
Rasa sakit itu semakin menjadi, bertubi-tubi. Aku memegang bagian perutku yang sakit, pandanganku mulai mengabur, kepalaku pening. Aku berusaha menjaga keseimbangan tubuuhku, tapi tak kuasa. Aku mundur beberapa langkah dengan tak terkendali. Tiba-tiba saja kakiku tersandung sesuatu yang kusadari itu adalah keranjang pakaian kotor yang tersisa…galau! Keseimbanganku tak bisa kujaga lagi…
Bruk !!!
“Ya Allah…!” Aku menjerit, mendapatkan rasa sakit di tubuhku akibat benturan ke lantai… aku mengerang, rasa sakit itu semakin menjadi. Aku yakin ini bukanlah rasa sakit tanda kelahiran….
“Allaaaahhh…” Aku kembali mengerang…meraba perutku, kurasakan bibirku kering. Terbayang di pelupuk mataku wajah suamiku dan putriku…aku menggigil, kurasakan sesuatu mengalir di paha dan betisku. Ketika kucoba melihatnya, berharap ini adalah tanda kelahiran…aku terdiam…telingaku terasa tuli…itu…darah….
Pandanganku gelap.

WAIDHA_
Kulirik Abi yang terlihat khawatir dengan peluh di keningnya. Aku tidak tau harus berbuat apa…
Di dalam, Bunda sedang ditangani oleh para dokter. Sepulang dari mendaftar, aku dan Abi menemukan Bunda tergeletak di atas lantai dengan..darah. Abi segera melarikan Bunda ke RS tentu saja dengan aku. Dan setelah masuk ke ruangan itu, sampai sekarang pintu itu belum terbuka.
Aku dan Abi menunggu dengan cemas. Abi tidak memberi tahu nenek, mungkin enggan membuat khawatir. Aku berdiri dari dudukku dan peluk bahu besar Abi…
            “Semuanya akan baik-baik saja, kan?” Tanyaku menatap mata Abi yang selalu memancarkan kesabaran itu. abi tersenyum seperti biasa, kemudian mengangguk. Aku tersenyum…meski demikian, aku tau Abi amat khawatir…tangannya dingin dan peluh terus saja menghiasi keningnya. Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya, dan mengecup pipinya.
            “Keluarga pasien?” Dokter yang menangani Bunda keluar, Abi bangkit dan mendekatinya.
            “Tidak ada jalan lain, harus disesar…kalau ingin keduanya selamat…” Begitu kudengar samar-samar dari pembicaraan Abi dengan dokter itu…ada banyak sekali alasan yang disampaikan, tapi yang kupahami adalah itu. dan menurutku Abi menyetujuinya…
Akhirnya kami diizinkan menemui Bunda di dalam. Aku mengikuti langkah Abi yang mendekati ranjang Bunda. Abi menggenggam jemari Bunda, menatap mata Bunda penuh kasih, kemudian mengecup keningnya.
            “Semuanya akan baik-baik saja, Sayang!” Ujarnya. Kuperhatikan Bunda tersenyum, menguatkan Abi. Abi beralih menatapku, “Mau shalat dengan Abi?” Tanyanya padaku, aku terdiam sejenak, kemudian menggeleng.

BUNDA_
Kutatap putriku, berwajah ayu dan pemilik suara surga. Ia mendekati ranjangku dan menyentuh tanganku, mata dan hidungnya memerah, ia menahan tangisnya. Aku tersenyum padanya. Iapun membalas senyumku dengan bibir bergetar lantas mencium punggung tanganku.
            “Bunda tayammum yach…aku Bantu!” Pintanya. Aku tertegun, sebuah rasa damai menyelinap di selubung hatiku…mataku berair..kemudian aku mengangguk. Lantas ia mulai membantuku tayammum, hingga sempurna. Kami kemudian shalat bersama…ia shalat dengan sajadah dan mukenah yang ia bawa di ransel kecilnya. Aku semakin terenyuh, ia tak pernah lupa membawa mukenah dan sajadah, kemanapun ia pergi….
Seusai shalat ia kembali mendekatiku, masih dengan mukenahnya. Wajah ayunya terlihat bersinar…
            “Bunda…janji akan baik-baik saja, ya?” Pintanya, kutatap ia dengan senyuman, “Aku ingin…Bunda menceritakan lagi padaku tentang Haramain…”

***
            Suasana di ruangan serba putih itu terasa penuh dengan kebahagiaan dan puji syukur. Ada beberapa orang disana. Seorang wanita berjilbab yang masih terbaring di ranjang, seorang lelaki jangkung dengan kaca mata minus mungil yang duduk di korsi samping ranjang, dan seorang anak kecil berjilbab berusia sekitar sepuluh tahun…em, ada satu lagi yang terlupa. Seorang bayi laki-lagi kecil di pelukan wanita yang terbaring itu…dengarlah percakapan mereka.
            “Lho??? Belum beri tau ibu, Bi?” Tanya wanita itu menatap suaminya dengan alis mengkerut. Suaminya tersenyum dan menjawab.
            “Sudah, sebentar juga sampai…”
            “Bunda..!” Gadis kecil itu memanggil Bundanya dengan ceria. Wanita itu menoleh sembari tersenyum…
            “Kenapa, Sayang?” Tanya Bundanya, Abinya ikut menoleh padanya.
            “Adek mau dikasi nama apa, ya?” Tanyanya. Bunda tersenyum dan melirik suaminya, Abipun tersenyum membalas lirikan istrinya.
            “Bagaimana kalo kakaknya yang beri nama???” Usul Abi disetujui oleh Bunda. Gadis kecil itu tersenyum ceria…dan mengecup pipi bayi dalam pelukan Bundanya.
            “Hai…adek kecil….kakak belum tau mau memberimu nama apa, nanti kakak pikirin yach…??? Tapi kakak tau…hal yang paling ingin kakak ceritakan padamu adalah kisah sebuah kampung, kampung yang damai…kakak ingin mengisahkan padamu tentang Haramain…” Ujarnya. Bundanya tersenyum, ia begitu membuncah. Putrinya telah sempurna mengingat masa kecilnya tentang berjuta cerita Kampung Damai Haramainnya, dan setelah Abinya mengajaknya kesana, ia ternyata seperti begitu mengenal Haramain…
            “Iya sayang…Kisahkan padanya tentang Haramainku…” Pinta Bunda. Gadis itu menatap Bundanya…
            “Haramainku juga donk…kan sekarang nyantri disana…” Sanggahnya. Bundanya tersenyum kemudian berhamdalah…Allah selalu memberikan yang terbaik, dengan cara-Nya sendiri…


End_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar