Rabu, 07 Oktober 2015

Eni...


Entah bagaimana perasaan yang dirasakan Eni saat ini, entah juga apakah genggaman tanganku bisa membantu meringankan bebang di pundaknya hingga ia menjadi ringkih. Ah, Eni apakah kesalahanmu sehingga semua ini terjadi padamu?
//
Sabtu sore, tak ada angin juga hujan berita itu bertandang ke telingaku. Aku tak bisa meragukannya karena memang telah jelas adanya. Beberapa kali aku beristighfar lantaran tak bisa membayangkan situasi sesungguhnya. Maka dengan izin suami segera aku bertandang ke kediaman salah seorang sahabatku itu.
Sesampaiku disana, tak ada yang bisa kurasakan selain sendu. Bahkan aura rumah yang dulunya segar dengan canda dan bahagia kini layu dan sedih. Kutapaki langkah satu persatu dengan sedikit cepat, aku ingin segera menjumpainya, ingin berbagi hangat pelukan dengan saudariku itu. dan ketika kusampai pada pertunjukan wajahnya, ia menyuguhkan seulas senyuman yang membuatku bergetar, dia bahkan tak harus menyampaikan senyum enggan itu…
//
Usia kandungan yang menua seharusnya menjadi ajang untuk suami dan istri semakin erat, semakin berkasih-kasih. Buah cinta dari hubungan yang diperjuangkan akan segera hadir di dunia, maka sewajarnyalah suami dan istri berbahagia dengan santer.
Tapi inilah yang terjadi kepada saudariku manis, Eni. Di usia kandungannya yang beranjak delapan bulan ia ditinggalkan suaminya. Parahnya lagi, suaminya dikabarkan pergi dengan perempuan lain.
“saya ndak tau, Mbak. Tiba-tiba dia pergi, ndak pamit juga.” Eni dengan aksen Jawa yang mendok berucap polos kepadaku. Kuhadiahkan senyum tulus untuk keluguan gadis manis ini.
“Kalian sering bertengkar?” tanyaku lagi padanya.
“Kalo bertengkar hampir sering mbak…” Eni menjelaskan suaminya sering marah-marah tak jelas, sedikit saja kesalahannya maka itulah yang memicu kemarahan suaminya.
“Saya dah berusaha sabar, Mbak. Saya ndak melawan, Man Iwad. Tapi …” dua tetes Kristal tulus dari seorang gadis muda sederhana dengan cinta yang sabar itu merembes dari ujung matanya. Tak apalah menangis sebagai tanda kesusahan, En. Bisikku dalam hati. Akupun menyabarkannya dengan mengusap-usap  bahu kecilnya. Ringkih badan, ringkih pula hatinya sekarang.
Eni adalah gadis yang tabah. Ia sebagai pendatang baru disini dengan suaminya sangat ramah pada siapa saja. Dua tahun berlalu sejak kedatangan mereka aku sudah merasa dekat dengannya. Aksen Jawa yang medok, wajah yang selalu terhias senyum, dan pakaian yang sederhana membuatnya tak sulit untuk menjadi bagian dari kami.
Menurut Eni, ia menikah dengan suaminya Iwad karena dijodohkan orang tua. Ia yang masih belia usianya belum lagi tujuh belas saat menikah tak membuatnya menjadi istri yang manja dan bergantung pada suami. Ia melakukan segala yang bisa ia lakukan, bahkan seringkali menghasilkan uang lebih banyak daripada suaminya. Sabar, menjadikannya lebih kuat dari siapapun. Semenjak ijab qabul itu terucap, Iwad mengajaknya pergi merantau, ke berbagai tempat, menggelandang seperti pengemis. Eni tak pernah protes.
“Semuanya butuh proses, Mbak.” Begitu ucapnya. Ia bekerja serampangan, semampu dan sekuatnya. Hingga pernah pula dulu ia keguguran karena pekerjaannya.
“Mungkin anak saya marah ya, Mbak karena saya tidak bisa jaga dia.” Ia mengenang bayi dalam kandungannya yang baru berusia tiga minggu dan keluar menjadi gumpalan darah dengan mata berkaca.
Hingga akhirnya ia bisa menemukan pekerjaan yang layak dan mampu membeli tanah disini. Sejak awal kedatangan, suaminya memang tak terlihat memperhatikan Eni. Ia lebih sering keluar entah kemana atau bermain kartu dengan beberapa bapak pengangguran diujung gang kompleks. Eni tak pernah protes, yang penting ia bisa makan, ia bisa bersama suaminya itu sudah cukup. Ia tak seperti perempuan-perempuan muda yang menikah lantas menuntut kasih sayang banyak dari suami mereka.
Tapi beberapa bulan belakangan, berita tentang kedekatan suaminya dengan seorang perempuan kaya mulai santer terdengar. Bahkan beberapa kali pula suaminya tidak pulang ke rumah dan menginap entah dimana. Suaminya tak lagi terlihat main kartu di ujung gang, tak pula terdengar umpatan-umpatan oleh tetangga. Rumah mereka lengang tak seperti sebelum-sebelumnya.
“Saya ndak perpikir seperti kata orang, Mbak. Saya yakin suami saya orang baik, dia mungkin sedang cari uang untuk lahiran saya besok.” Begitu ia menguatkan hatinya yang kokoh. Tapi lambat laun ia juga mulai curiga pada suaminya yang ketika pulang selalu terlihat berbeda. Entah itu dari pakaian, aroma bahkan benda-benda yang dibawanya mulai terlihat wah. Hp, misalnya. Dan ketika Eni bertanya darimana ia mendapatkannya, itulah petaka bagi Eni. Suaminya akan mulai marah-marah, menarik kembali benang-benang hitam tak jelas atas nama kesalahan milik Eni.
“Mungkin memang salah saya mbak, seharusnya saya yakin suami saya sudah dapat kerja.” Begitu tulus hatinya memaafkan sang suami. Tapi kejelasan memang telah terlihat beberapa kali Iwad turun dari mobil seorang perempuan yang sama di persimpangan jalan bahkan aku dan suami pernah pula memergokinya. Tapi ia dengan sampai memamerkan senyum tanpa dosa. Ingin sekali aku mencabik tampang serakahnya itu. tapi suamiku menenangkanku.
Maka sampailah pada klimaksnya beberapa malam silam, suaminya membawa beberapa barang miliknya dan meninggalkan hanya beberapa lembar uang lima puluh ribuan dan dengan terang-terangan pergi meninggalkan Eni disaksikan tentangga. Maka saat itulah orang-orang pertama kali melihat Eni menangis.
“Saya hanya memikirkan anak, Mbak. Ndak bagus dia lahir ndak tau bapaknya.” Begitu jelasnya padaku. Tapi kali ini tanpa air mata. Ia telah kembali bisa menata hatinya. Aku kagum dengan kekuatan hatinya.
“Saya ndak tau betul sama agama mbak, Cuma berjilbab sekedarnya saja. Tapi saya yakin sama Allah seperti yang mbak sering bilang. Allah ndak pernah nyia-nyiain hamba-Nya.” Subahanallah, akupun menangis dan merengkuh bahunya yang ringkih. Entah bagaimana kuatnya hati yang tersembunyi di balik dada kurus ini.
“Kamu harus kuat, En…” bisikku padanya.
“Saya kuat, Mbak. Saya harus kuat untuk anak saya…” begitu ia menjawab.
//
Aku mengucap salam memasuki pekarangan yang mulai menggelap, suamiku sayang menunggu di teras dengan wajah hawatir. Ia menyongsongku dengan kasih yang tak bisa kukira.
“Kamu oke kan, sayang?” ia merengkuh bahuku seperti aku tak boleh tergores apapun sedikit. Kotolehkan wajahku padanya dan kuberikan ia senyuman termanis koleksiku, kusertai anggukan kecil. 

Betapa berbedanya ia dengan Iwad, dan betapa aku kini bersyukur berlipat-lipat memilikinya. Ia mengutamakanku lebih dari apapun, aku adalah ratu setiap hari baginya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar