Entah bagaimana perasaan yang
dirasakan Eni saat ini, entah juga apakah genggaman tanganku bisa membantu
meringankan bebang di pundaknya hingga ia menjadi ringkih. Ah, Eni apakah
kesalahanmu sehingga semua ini terjadi padamu?
//
Sabtu sore, tak ada angin juga
hujan berita itu bertandang ke telingaku. Aku tak bisa meragukannya karena
memang telah jelas adanya. Beberapa kali aku beristighfar lantaran tak bisa
membayangkan situasi sesungguhnya. Maka dengan izin suami segera aku bertandang
ke kediaman salah seorang sahabatku itu.
Sesampaiku disana, tak ada yang
bisa kurasakan selain sendu. Bahkan aura rumah yang dulunya segar dengan canda
dan bahagia kini layu dan sedih. Kutapaki langkah satu persatu dengan sedikit
cepat, aku ingin segera menjumpainya, ingin berbagi hangat pelukan dengan
saudariku itu. dan ketika kusampai pada pertunjukan wajahnya, ia menyuguhkan
seulas senyuman yang membuatku bergetar, dia bahkan tak harus menyampaikan
senyum enggan itu…
//
Usia kandungan yang menua
seharusnya menjadi ajang untuk suami dan istri semakin erat, semakin
berkasih-kasih. Buah cinta dari hubungan yang diperjuangkan akan segera hadir
di dunia, maka sewajarnyalah suami dan istri berbahagia dengan santer.
Tapi inilah yang terjadi kepada
saudariku manis, Eni. Di usia kandungannya yang beranjak delapan bulan ia
ditinggalkan suaminya. Parahnya lagi, suaminya dikabarkan pergi dengan
perempuan lain.
“saya ndak tau, Mbak. Tiba-tiba
dia pergi, ndak pamit juga.” Eni dengan aksen Jawa yang mendok berucap polos
kepadaku. Kuhadiahkan senyum tulus untuk keluguan gadis manis ini.
“Kalian sering bertengkar?”
tanyaku lagi padanya.
“Kalo bertengkar hampir sering
mbak…” Eni menjelaskan suaminya sering marah-marah tak jelas, sedikit saja
kesalahannya maka itulah yang memicu kemarahan suaminya.
“Saya dah berusaha sabar, Mbak.
Saya ndak melawan, Man Iwad. Tapi …” dua tetes Kristal tulus dari seorang gadis
muda sederhana dengan cinta yang sabar itu merembes dari ujung matanya. Tak
apalah menangis sebagai tanda kesusahan, En. Bisikku dalam hati. Akupun
menyabarkannya dengan mengusap-usap bahu
kecilnya. Ringkih badan, ringkih pula hatinya sekarang.
Eni adalah gadis yang tabah. Ia
sebagai pendatang baru disini dengan suaminya sangat ramah pada siapa saja. Dua
tahun berlalu sejak kedatangan mereka aku sudah merasa dekat dengannya. Aksen
Jawa yang medok, wajah yang selalu terhias senyum, dan pakaian yang sederhana
membuatnya tak sulit untuk menjadi bagian dari kami.
Menurut Eni, ia menikah dengan
suaminya Iwad karena dijodohkan orang tua. Ia yang masih belia usianya belum
lagi tujuh belas saat menikah tak membuatnya menjadi istri yang manja dan
bergantung pada suami. Ia melakukan segala yang bisa ia lakukan, bahkan
seringkali menghasilkan uang lebih banyak daripada suaminya. Sabar, menjadikannya
lebih kuat dari siapapun. Semenjak ijab qabul itu terucap, Iwad mengajaknya
pergi merantau, ke berbagai tempat, menggelandang seperti pengemis. Eni tak
pernah protes.
“Semuanya butuh proses, Mbak.”
Begitu ucapnya. Ia bekerja serampangan, semampu dan sekuatnya. Hingga pernah
pula dulu ia keguguran karena pekerjaannya.
“Mungkin anak saya marah ya, Mbak
karena saya tidak bisa jaga dia.” Ia mengenang bayi dalam kandungannya yang
baru berusia tiga minggu dan keluar menjadi gumpalan darah dengan mata berkaca.
Hingga akhirnya ia bisa menemukan
pekerjaan yang layak dan mampu membeli tanah disini. Sejak awal kedatangan,
suaminya memang tak terlihat memperhatikan Eni. Ia lebih sering keluar entah
kemana atau bermain kartu dengan beberapa bapak pengangguran diujung gang
kompleks. Eni tak pernah protes, yang penting ia bisa makan, ia bisa bersama
suaminya itu sudah cukup. Ia tak seperti perempuan-perempuan muda yang menikah
lantas menuntut kasih sayang banyak dari suami mereka.
Tapi beberapa bulan belakangan,
berita tentang kedekatan suaminya dengan seorang perempuan kaya mulai santer
terdengar. Bahkan beberapa kali pula suaminya tidak pulang ke rumah dan
menginap entah dimana. Suaminya tak lagi terlihat main kartu di ujung gang, tak
pula terdengar umpatan-umpatan oleh tetangga. Rumah mereka lengang tak seperti
sebelum-sebelumnya.
“Saya ndak perpikir seperti kata
orang, Mbak. Saya yakin suami saya orang baik, dia mungkin sedang cari uang
untuk lahiran saya besok.” Begitu ia menguatkan hatinya yang kokoh. Tapi lambat
laun ia juga mulai curiga pada suaminya yang ketika pulang selalu terlihat
berbeda. Entah itu dari pakaian, aroma bahkan benda-benda yang dibawanya mulai
terlihat wah. Hp, misalnya. Dan ketika Eni bertanya darimana ia mendapatkannya,
itulah petaka bagi Eni. Suaminya akan mulai marah-marah, menarik kembali
benang-benang hitam tak jelas atas nama kesalahan milik Eni.
“Mungkin memang salah saya mbak,
seharusnya saya yakin suami saya sudah dapat kerja.” Begitu tulus hatinya
memaafkan sang suami. Tapi kejelasan memang telah terlihat beberapa kali Iwad
turun dari mobil seorang perempuan yang sama di persimpangan jalan bahkan aku
dan suami pernah pula memergokinya. Tapi ia dengan sampai memamerkan senyum tanpa
dosa. Ingin sekali aku mencabik tampang serakahnya itu. tapi suamiku
menenangkanku.
Maka sampailah pada klimaksnya
beberapa malam silam, suaminya membawa beberapa barang miliknya dan
meninggalkan hanya beberapa lembar uang lima puluh ribuan dan dengan
terang-terangan pergi meninggalkan Eni disaksikan tentangga. Maka saat itulah
orang-orang pertama kali melihat Eni menangis.
“Saya hanya memikirkan anak,
Mbak. Ndak bagus dia lahir ndak tau bapaknya.” Begitu jelasnya padaku. Tapi
kali ini tanpa air mata. Ia telah kembali bisa menata hatinya. Aku kagum dengan
kekuatan hatinya.
“Saya ndak tau betul sama agama
mbak, Cuma berjilbab sekedarnya saja. Tapi saya yakin sama Allah seperti yang
mbak sering bilang. Allah ndak pernah nyia-nyiain hamba-Nya.” Subahanallah,
akupun menangis dan merengkuh bahunya yang ringkih. Entah bagaimana kuatnya
hati yang tersembunyi di balik dada kurus ini.
“Kamu harus kuat, En…” bisikku
padanya.
“Saya kuat, Mbak. Saya harus kuat
untuk anak saya…” begitu ia menjawab.
//
Aku mengucap salam memasuki
pekarangan yang mulai menggelap, suamiku sayang menunggu di teras dengan wajah
hawatir. Ia menyongsongku dengan kasih yang tak bisa kukira.
“Kamu oke kan, sayang?” ia
merengkuh bahuku seperti aku tak boleh tergores apapun sedikit. Kotolehkan
wajahku padanya dan kuberikan ia senyuman termanis koleksiku, kusertai anggukan
kecil.
Betapa berbedanya ia dengan Iwad,
dan betapa aku kini bersyukur berlipat-lipat memilikinya. Ia mengutamakanku
lebih dari apapun, aku adalah ratu setiap hari baginya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar