“Bahagia itu
dekat, ada pada setiap hati yang bersyukur.”
//
Tamu tak diundang. Begitu mungkin
merk yang pantas untuk pertemuan tak sengaja ini. wajah bijak dengan mata tegas
tapi penyayang itu menubrukku dengan tatapan yang tak kalah kagetnya denganku.
Dia dengan kemeja lengan panjang yang dilipat sampai hampir siku, dia dengan
wajah yang tak jauh berbeda dari bertahun-tahun yang lalu, dia dengan warna
kulit dan model rambut yang tak berubah. Aku benar-benar tak menyangka akan
bertemu dengannya disini, di pasar buah yang bahkan tiap tiga kali seminggu
kudatangi.
Dia, yang disebut mantan kekasih.
//
“Apa kabar?” Ia bertanya datar,
menatapku sekilas.
“Alhamdulillah, selalu pantas
disyukuri.” Aku menjawab sekenanya.
“Kamu seperti tidak berubah ya.” Ia
mengomentari, entah apa yang dikomentarinya. Apakah tampang, apakah sikap, atau
apakah apa yang ia tangkap dari tatapannya terhadapku. Aku kini telah memiliki
tiga orang anak, pasti telah banyak yang berubah.
“Banyak yang berubah, tentu saja.”
Ujarku pelan.
“Ya, banyak yang berubah. Tapi kamu
masih seperti sama saja.” Ia melanjutkan.
“Aku…” ingin kukatakan padanya bahwa
sekarang aku telah memiliki anak, tiga orang. Tapi, entah apa yang melarang
hatiku melakukan itu.
“Aku masih boleh memiliki nomormu?”
begitu kalimat terakhirnya, sebelum berpisah. Dan akupun dengan sedikit berat,
sedikit ikhlas memberikannya.
//
Beberapa kali HP sederhanaku
berdering nada SMS. Agak takut, aku enggan membukanya. Sesampai rumah, melihat
ketiga mutiaraku aku jadi merasa bersalah. Apakah ia aku harus membalas SMS-SMS
itu ?
Lelaki baik.
Begitu yang kuingat darinya.
Agamanya baik, iapun berasal dari keturunan yang baik. Cerdas, dan loyal.
Masalah wajah, ia berada diatas rata-rata. Bodinya yang tak terlalu atletis
tidak menjadi bagian kurang yang terlalu mencolok. Pasalnya ia sangat pandai
mengambil hati orang lain.
Kebaikan-kebaikan dan kenyamanan
saat bersamanya datang mendekati hatiku. Bagaimana ia bersabar atas manjaku,
bagaimana ia menghadiri segala keluh kesahku, bagaimana ia menjadi penyebab
kesenanganku, dan bagaimana-bagaimana ia yang dulu sangat kunikmati.
Rindu pada masa itu perlahan merayap
di hatiku. Rindu pada masa yang berakhir secara tidak sengaja.
Astaghfirullah…
Aku mengurut dadaku yang perlahan,
meski kutepis telah menyemikan rindu yang terasa nyata.
//
Hari menjelang malam, dan aku masih
berbarengan dengan para buah hatiku yang tengah tekun membaca buku pelajaran.
Hanya si bungsu yang merangsek di pangkuanku, matanya menyayu, tapi masih
enggan menutupnya. Ia masih menunggu Ayahnya pulang bekerja.
“Tidur saja, Umar.” Khazna putri
sulungku menegur adiknya yang menahan matanya tetap terbuka.
“Humh.” Umar hanya menjawab dengan
cibiran, memeluk pinggangku erat.
“Mungkin Ayah pulangnya agak malam.
Kita tidur saja duluan.” Aku menengahi. Khazna dan Ibrahim tampak menyetujui,
menutup buku pelajaran mereka. jam memang telah menunjukkan pukul sepuluh malam
kurang beberapa menit. Dan suamiku tercinta belum juga pulang.
“Iya, Bunda. Ngantuuuk…” Ibrahim
yang masih duduk di kelas 4 SD itu merenggangkan tubuhnya. Matanya yang
mengantuk dikejap-kejapkan. Ia telah menguap beberapa kali dari tadi.
“Ya sudah, masuk kamar saja yah,
Cinta.” Aku mengelus pipinya yang tembem seperti milikku. Ia mengangguk dengan
bahagia. Khazna merapikan buku-bukunya dan buku-buku adiknya. Merekapun berlalu
setelah mengecup pipiku.
“Umar tidur juga yah, Sayang.” Kuusap
kepala si bungsu yang masih 5 tahun itu dengan sayang. Ia menggeleng meski
garis matanya kian mengabur.
“Tunggu Ayah…” begitu kalimatnya.
Umar memang paling dekat dengan ayahnya, entah faktor kemiripan atau memang
karena ia paling kecil, aku tak tahu pasti. Tapi, meskipun ia keuh-keuh dengan
niat mulianya menunggu sang ayah, akhirnya iapun terlelap di pangkuanku
beberapa saat kemudian. Dan tepat saat aku memutuskan untuk membopongnya masuk
kamar, suara kendaraan meraung memasuki halaman rumah. Aku tersenyum, menyubur
syukur dalam hatiku. Suara tapak demi tapak langkah terkasih itu terdengar cepat,
dia pasti tahu istri dan anak-anaknya telah lama menunggu. Aku tak bisa bangun
untuk membukakan pintu, hanya menjawab salam darinya yang has. Iapun segera
berhambur padaku dan Umar saat pintu utama dibukanya.
“Sudah tidur yah? Maaf, Sayang. Ada
urusan kantor yang harus diselesaikan.” Begitu katanya mengecup keningku. Aku
tersenyum mengangguk. “Waah… jagoanku sudah tiduur…maaf membuatmu lama menunggu
sayaang.” Ia mengecup pipi Umar dan segera melepas tasnya, menggendong si
Bungsu ke kamarnya. Aku melihat punggung lelaki terkasih itu. segala hal telah
kutemukan padanya. dan semuanya menarik urat sadarku untuk selalu bersyukur
pada Allah…
//
Pagi-pagi buta, kudengar derit
ranjang karena suamiku meninggalkannya. Kubangunkan badan duduk di pinggir
ranjang. Pasti masuk pagi lagi ini. fikirku dan segera menyiapkan segalanya di
dapur. Seenggaknya suamiku harus minum susu hangat sebelum berangkat, meski
berangkatnya belum subuh begini.
Segera kupanaskan air, dan
menyiapkan beberapa potong roti. Suamiku tidak bisa tidak sarapan, lambungnya
cedera dulu ketika muda, karena tingkahnya yang cuek terhadap jadwal makan. Aku
jelas tidak mau mengundang penyakit itu lagi pada diri lelakiku tercinta.
Setelah semua siap, kutemukan
suamiku telah rapi di kamar. Ia tampak gagah dengan seragamnya. Iapun
menghadiahiku senyuman dari pantulan cermin. Aku sendiri tampak semrawut, belum
sempat mencuci muka karena buru-buru menyiapkan santapan pagi butanya.
“Hari ini rabu ya?” aku membuka
percakapan, duduk di pinggir ranjang. Menyadari hari rabu adalah hari dimana ia
harus masuk jam lima pagi. Suamiku mengangguk. Ia merapikan dasi berwarna kalem
di lehernya. Kudekati ia dan kuambil alih kesibukannya.
“Yaaah, masa’ gara-gara jadi ibu
lupa hari, Cinta.” Ia menggodaku sembari cengengesan. Aku tersenyum.
“Hari-hari kaya’nya sama semua.”
Ujarku menyelesaikan dasinya. Kutatap ia yang kini tampak semakin gagah. Aku terenyuh
sendiri.
“Sama rasanya, tapi namanya bedaaa…”
ia menjawil hidungku yang tak bangir. Dan aku hapal betul tingkahnya yang ini.
jika geregetan ia akan melakukan hal tersebut, pasti hidung manjadi sasaran
utama, atau kalau sepi maksudnya tak ada anak-anak ia akan mengecup pipiku.
Hehe
“Iya sii… maaf lupa, Sayang.” Aku
menatapnya cinta. Lelaki dengan hati malaikat ini membuatku selalu berasa
nyaman kapanpun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar