Rabu, 07 Oktober 2015

Mengeja Pelangi

“Bahagia itu dekat, ada pada setiap hati yang bersyukur.”
//
            Tamu tak diundang. Begitu mungkin merk yang pantas untuk pertemuan tak sengaja ini. wajah bijak dengan mata tegas tapi penyayang itu menubrukku dengan tatapan yang tak kalah kagetnya denganku. Dia dengan kemeja lengan panjang yang dilipat sampai hampir siku, dia dengan wajah yang tak jauh berbeda dari bertahun-tahun yang lalu, dia dengan warna kulit dan model rambut yang tak berubah. Aku benar-benar tak menyangka akan bertemu dengannya disini, di pasar buah yang bahkan tiap tiga kali seminggu kudatangi.
            Dia, yang disebut mantan kekasih.
//
            “Apa kabar?” Ia bertanya datar, menatapku sekilas.
            “Alhamdulillah, selalu pantas disyukuri.” Aku menjawab sekenanya.
            “Kamu seperti tidak berubah ya.” Ia mengomentari, entah apa yang dikomentarinya. Apakah tampang, apakah sikap, atau apakah apa yang ia tangkap dari tatapannya terhadapku. Aku kini telah memiliki tiga orang anak, pasti telah banyak yang berubah.
            “Banyak yang berubah, tentu saja.” Ujarku pelan.
            “Ya, banyak yang berubah. Tapi kamu masih seperti sama saja.” Ia melanjutkan.
            “Aku…” ingin kukatakan padanya bahwa sekarang aku telah memiliki anak, tiga orang. Tapi, entah apa yang melarang hatiku melakukan itu.
            “Aku masih boleh memiliki nomormu?” begitu kalimat terakhirnya, sebelum berpisah. Dan akupun dengan sedikit berat, sedikit ikhlas memberikannya.
//
            Beberapa kali HP sederhanaku berdering nada SMS. Agak takut, aku enggan membukanya. Sesampai rumah, melihat ketiga mutiaraku aku jadi merasa bersalah. Apakah ia aku harus membalas SMS-SMS itu ?
            Lelaki baik.
            Begitu yang kuingat darinya. Agamanya baik, iapun berasal dari keturunan yang baik. Cerdas, dan loyal. Masalah wajah, ia berada diatas rata-rata. Bodinya yang tak terlalu atletis tidak menjadi bagian kurang yang terlalu mencolok. Pasalnya ia sangat pandai mengambil hati orang lain.
            Kebaikan-kebaikan dan kenyamanan saat bersamanya datang mendekati hatiku. Bagaimana ia bersabar atas manjaku, bagaimana ia menghadiri segala keluh kesahku, bagaimana ia menjadi penyebab kesenanganku, dan bagaimana-bagaimana ia yang dulu sangat kunikmati.
            Rindu pada masa itu perlahan merayap di hatiku. Rindu pada masa yang berakhir secara tidak sengaja.
            Astaghfirullah…
            Aku mengurut dadaku yang perlahan, meski kutepis telah menyemikan rindu yang terasa nyata.
//
            Hari menjelang malam, dan aku masih berbarengan dengan para buah hatiku yang tengah tekun membaca buku pelajaran. Hanya si bungsu yang merangsek di pangkuanku, matanya menyayu, tapi masih enggan menutupnya. Ia masih menunggu Ayahnya pulang bekerja.
            “Tidur saja, Umar.” Khazna putri sulungku menegur adiknya yang menahan matanya tetap terbuka.
            “Humh.” Umar hanya menjawab dengan cibiran, memeluk pinggangku erat.
            “Mungkin Ayah pulangnya agak malam. Kita tidur saja duluan.” Aku menengahi. Khazna dan Ibrahim tampak menyetujui, menutup buku pelajaran mereka. jam memang telah menunjukkan pukul sepuluh malam kurang beberapa menit. Dan suamiku tercinta belum juga pulang.
            “Iya, Bunda. Ngantuuuk…” Ibrahim yang masih duduk di kelas 4 SD itu merenggangkan tubuhnya. Matanya yang mengantuk dikejap-kejapkan. Ia telah menguap beberapa kali dari tadi.
            “Ya sudah, masuk kamar saja yah, Cinta.” Aku mengelus pipinya yang tembem seperti milikku. Ia mengangguk dengan bahagia. Khazna merapikan buku-bukunya dan buku-buku adiknya. Merekapun berlalu setelah mengecup pipiku.
            “Umar tidur juga yah, Sayang.” Kuusap kepala si bungsu yang masih 5 tahun itu dengan sayang. Ia menggeleng meski garis matanya kian mengabur.
            “Tunggu Ayah…” begitu kalimatnya. Umar memang paling dekat dengan ayahnya, entah faktor kemiripan atau memang karena ia paling kecil, aku tak tahu pasti. Tapi, meskipun ia keuh-keuh dengan niat mulianya menunggu sang ayah, akhirnya iapun terlelap di pangkuanku beberapa saat kemudian. Dan tepat saat aku memutuskan untuk membopongnya masuk kamar, suara kendaraan meraung memasuki halaman rumah. Aku tersenyum, menyubur syukur dalam hatiku. Suara tapak demi tapak langkah terkasih itu terdengar cepat, dia pasti tahu istri dan anak-anaknya telah lama menunggu. Aku tak bisa bangun untuk membukakan pintu, hanya menjawab salam darinya yang has. Iapun segera berhambur padaku dan Umar saat pintu utama dibukanya.
            “Sudah tidur yah? Maaf, Sayang. Ada urusan kantor yang harus diselesaikan.” Begitu katanya mengecup keningku. Aku tersenyum mengangguk. “Waah… jagoanku sudah tiduur…maaf membuatmu lama menunggu sayaang.” Ia mengecup pipi Umar dan segera melepas tasnya, menggendong si Bungsu ke kamarnya. Aku melihat punggung lelaki terkasih itu. segala hal telah kutemukan padanya. dan semuanya menarik urat sadarku untuk selalu bersyukur pada Allah…
//
            Pagi-pagi buta, kudengar derit ranjang karena suamiku meninggalkannya. Kubangunkan badan duduk di pinggir ranjang. Pasti masuk pagi lagi ini. fikirku dan segera menyiapkan segalanya di dapur. Seenggaknya suamiku harus minum susu hangat sebelum berangkat, meski berangkatnya belum subuh begini.
            Segera kupanaskan air, dan menyiapkan beberapa potong roti. Suamiku tidak bisa tidak sarapan, lambungnya cedera dulu ketika muda, karena tingkahnya yang cuek terhadap jadwal makan. Aku jelas tidak mau mengundang penyakit itu lagi pada diri lelakiku tercinta.
            Setelah semua siap, kutemukan suamiku telah rapi di kamar. Ia tampak gagah dengan seragamnya. Iapun menghadiahiku senyuman dari pantulan cermin. Aku sendiri tampak semrawut, belum sempat mencuci muka karena buru-buru menyiapkan santapan pagi butanya.
            “Hari ini rabu ya?” aku membuka percakapan, duduk di pinggir ranjang. Menyadari hari rabu adalah hari dimana ia harus masuk jam lima pagi. Suamiku mengangguk. Ia merapikan dasi berwarna kalem di lehernya. Kudekati ia dan kuambil alih kesibukannya.
            “Yaaah, masa’ gara-gara jadi ibu lupa hari, Cinta.” Ia menggodaku sembari cengengesan. Aku tersenyum.
            “Hari-hari kaya’nya sama semua.” Ujarku menyelesaikan dasinya. Kutatap ia yang kini tampak semakin gagah. Aku terenyuh sendiri.
            “Sama rasanya, tapi namanya bedaaa…” ia menjawil hidungku yang tak bangir. Dan aku hapal betul tingkahnya yang ini. jika geregetan ia akan melakukan hal tersebut, pasti hidung manjadi sasaran utama, atau kalau sepi maksudnya tak ada anak-anak ia akan mengecup pipiku. Hehe
            “Iya sii… maaf lupa, Sayang.” Aku menatapnya cinta. Lelaki dengan hati malaikat ini membuatku selalu berasa nyaman kapanpun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar