Minggu, 23 November 2014

indah pada saatnya...


                “Kakak, nikah ayok!” Ucapku menatap langit hitam yang indah dengan kerlipan bintangnya.
                “Sabar, dik. Adik masih nyusun skripsi, selesaikan dulu ya?” Ia terdengar begitu sabar menghadapi keinginanku.
                “Memangnya tidak bisa ya, kak? Tidak bisa sekarang?” Tanyaku masih setia pada langit.
                “Kita mesti sabar, sabar sebentar saja. Kita kan sudah punya rencana…” Ia masih bernada rendah seperti sebelumnya.
                “Bukankah dari dulu jika kita membuat rencana, jalannya selalu tidak sesuai dengan rencana kita?” Aku berucap sedikit menekan.
                “InsyaAllah ini rencana baik, kita istikharahkan. Allah pasti akan realisasikan dengan cara-Nya yang terbaik. Ada waktunya.” Mendengar nada kalimatnya, aku bisa menebak kalau ia sedang tersenyum.
                “Jodoh itu memang di tangan-Nya, Kak. Tapi kita sepakat, jika kita tidak mengambilnya, ia akan tetap disana” Aku menutup korden jendela kamar dan menyusuri pinggiran ranjang.
                “Itulah dia, Manis. Kita tentukan hari baik itu,…sabar sedikit saja, setiap sesuatu akan indah pada saatnya.”
                “Assalamu’alaikum”
                Tut,
                Kumatikan HP dengan wajah sedikit kusut. Entah kenapa penolakan ini membuatku sedikit emosi. Apa bedanya menikah sekarang dengan nanti? Semuanya sama saja, kan? Ia akan menjadi suami dan aku akan menjadi istri. Kenapa begitu sulit meyakinkannya????
#
                “Gimana skripsimu?” Kakak perempuanku yang kini tinggal di luar kota dengan suaminya terdengar perhatian di ujung telpon.
                “Alhamdulillah, tinggal bab penutup, kak. Doa’ain ajah, dua bulan lagi teteh kesini buat menghadiri wisudaku!” Aku tersenyum.
                “InsyaAllah…masa-masa seperti ini kamu harus focus, jangan berfikir macam-macam dan aneh-aneh.” Kakak masih sama seperti kami bersama dulu, cerewet yang penuh perhatian.
                “Aku mau nikah, teh” Entah kenapa tanpa aku niatkan keluar saja kalimat itu.
                “Menikah?” Kakak sulungku itu terdengar kaget. Wajar bukan? Baru saja ia memperingatiku agar tidak berfikir macam-macam.
                “Iya, aku mau kak Fata menikahiku.” Aku berusaha tenang.
                “Kamu selesaikan saja dulu sekripsimu, tinggal selangkah itu.” Kakak memberi saran dengan was-was yang terdengar ditekan. Ia paham betul dengan sikapku, karena diantara tiga saudaraku dialah yang paling dekat denganku. Jika aku memiliki keiinginan, maka itu harus tercapai, harus. Jika tidak, maka keluarga pasti akan waspada pada tindakanku. Meskipun bungsu, akulah yang paling keras, atau memang anak bungsu itu cenderung begitu ya? Entahlah, tapi aku juga merasa keegoisanku ini. Tapi, meski begitu aku tidak berusaha mengalahkannya.
                “Aku…mau menikah hari-hari ini, Kak. Skripsi ini sudah rampung, tinggal penutup. Untuk ujiannya besok, aku rasa akan lebih siap jika disamping kak Fata, teh” Aku mengutarakan hal yang sebenarnya terfikir di benakku.
                “Jangan berfikir begitu mudah, Sayang. Menurutmu mudah menjadi seorang istri?” Kakak sulungku itu masih saja lembut. Aku diam sesaat menarawang, berfikir.
                “Mudah…? Entahlah, Teh. Yang jelas untuk saat ini, aku ingin menikah!” Aku keuh-keuh dengan pemikiranku. Terdengar hembusan nafas di seberang. Sabarnya biasanya mampu mengalahkanku, tapi kali ini aku sungguh-sungguh ingin. Memangnya kapan aku tidak sungguh-sungguh jika ingin sesuatu, meskipun itu sepele?
                “Sudah bilang sama Fata?” Tanyanya kemudian.
                “Sudah,” Jawabku sekenanya.
                “Dia bilang apa?”
                “Dia menyuruhku selesaikan skripsiku dulu. Setelah wisudaku ia akan melamar ke rumah” Aku menjelaskan, kurasa kakak sulungku tersenyum diujung sana.
                “Fata benar, Sayang. Kamu tidak boleh setengah-setengah. Nanti hasilnya bisa tidak memuaskan…”
                “Setidaknya tidak mengecawakan, Teh.” Aku menyambut.
                “Baiklah, bagaimana tanggapan Bunda?”
                “Aku belum bilang, akhir-akhir ini Bunda sering sakit, Teh.”
                “Lho, kok tidak ada kabar?”
                “Cuma sakit ringan, Bunda bilang tidak memberi tahu sesiapa.” Aku jadi sedikit lesu, sepertinya kakak tidak mendukung keinginanku. Dan entah tanpa sengaja kumatikan hubungan tanpa salam.
#
                Aku mengenal kak Fata seperti aku memahami kekuranganku. Ia menyempurnakanku dengan cara yang unik. Dan aku sangat menikmati itu. aku orangnya cepat bosan, dan ia bisa mengalahkan rasa itu, ia bisa menguasaiku dengan lembut, menekan egonya hanya demi kemaslahatanku, ah berlebihan. Tapi aku merasa sangat-sangat ingin bersanding dengannya. Tak perduli ia siapa, tak peduli aku siapa, aku hanya ingin mengabdi pada imam sepertinya.
                Hampir 5 tahun sudah hubungan kami, beberapa buah kecut telah kami bagi bersama dan mengambil manisnya dengan kebijakan, dia tentu saja. Seperti yang telah aku tulis, aku ini adalah sosok yang egois, tidak bisa memiliki keinginan, itu harus tercapai. Dan kak Fata memahami itu,, ia hampir selalu mengikuti kemauanku dengan cara yang menakjubkan,,,tanpa mengurangi sedikitpun kharismanya. Tapi jika keinginanku kelewatan atau bisa mencelakai, ia lebih baik melihatku diam dan tak menghubunginya daripada memberi izin.
                Aku paling tidak bisa tanpanya, hilang kabar sehari saja aku pasti uring-uringan.
                “Jangan terlalu bergantung begitu,” Sahabatku sering memperingati. Tapi aku menggeleng, aku tidak tergantung padanya, aku hanya butuh dia…
                “Bedanya?”
                Entahlah.
                Sudah satu tahun aku hijrah, dulunya aku seorang gadis yang tidak berjilbab, rame dan cuek. Tapi, setahun lalu hidayah itu menghampiriku juga. Hatiku selalu ingin dekat dengan Rabb, aku tiba-tiba merasa malu dengan auratku. Akhirnya aku mencoba memakai jilbab, dan tercengang ketika bercermin.
                Ternyata lebih sopan dan nyaman begitu.
                Akhirnya kuutarakan niat pada keluarga, mereka menyambut suka cita. Dan ketika kuutarakan pada kak Fata, ia segera datang berkunjung ke rumah. Dengan wajah penuh senyum syukur ia mengusap kepalaku.
                “Alahmdulillah…”
                Pelan, seperti berbisik kudengar hamdalah itu keluar dari bibirnya. Dan aku hampir menangis ketika itu. selanjutnya, hubungan kami terasa begitu bermakna, caranya menjagaku lebih dari sebelumnya, ia menatapku dengan cara yang lain, lebih hangat. Dan aku sukka itu. jika kami bersama ia mengajakku shalat jama’ah, damaaai sekali.
                Akhir-akhir ini kami sering bertemu dan keluar, mungkin karena pekerjaannya yang sudah tak begitu memberatkan dan sekripsiku yang hampir rampung, ia ingin memberikan selingan untukku.
                Begitulah, kami jadi sering keluar menikmati alam dan kebersamaan yang sopan dengan saling menghargai. Jika masuk waktu kami akan mencari tempat shalat dan berjama’ah bersama. Aku suka moment itu. ketika ia mengangkat tangannya dan berdo’a, aku mengamini dengan air mata yang malu kutuangkan…sejak begitulah aku jadi semakin takut jika harus kehilangan ia…aku ingin ia cepat-cepat mengimamiku setiap saatnya, ingin ia mengimami hidup dan akhiratku. Aku ingin, dan itu tidak terbendung.
#
                Sekripsiku telah kuserahkan tiga hari lalu, mungkin sedang diselidik. Hehe, aku berfikir membujuk kak Fata untuk melamarku minggu ini. Dan ia harus mau. Kami harus bersanding sebelum wisudaku. Harus.
                Aku akhirnya menghubunginya, berbicara dengan berbagai macam alasan. Ia menolak dengan sopan, berkali-kali. Aku hampir menangis, kenapa begitu sulit untuk permintaan ini. Aku ingin marah, mematikan hp, tapi itu artinya aku mengalah. Aku terus membujuknya, dan menurutku kali ini ia telah belajar dari keegoisanku, ia menolakku dengan kata ‘sabar’
                “Kalau adik gak mau sabar, kita cukup sampai disini saja. Mungkin adik bisa mencari yang lebih baik”
                Dan itu yang terakhir. Aku menangis, sempurna. Kumatikan HP tak ingin ia mendengar isakku. Bagaimana semudah itu…???
                Drrrtt…
                HPku bergetar, aku enggan mengangkat, nomer baru. Tapi lama-lama aku angkat juga. Suara di seberang sepertinya aku kenal. Dosenku.
                Innalillah.
#
                Dan akhirnya begini kisahku, berkutat di depan laptop selama 5 hari, dengan sedikiiit sekali tidur. Aku bahkan enggan bercermin, takut melihat tabokan bola kasti di sekitaran mata. Pasalnya sekripsiku keliru, ada penyalahtempatan, kalau yang begitu masih bisa kuperbaiki dalam satu jam, parahnya ada yang dengan diam-diam mengambil fileku dan juga menyusunnya lebih baik. Siapa yang akan tau jika aku yang diconteki jika dia lebih baik. Dosenku bilang, aku harus sedikit mengulang, memperbaiki agar bisa lebih baik dari sekripsi orang itu, sehingga nanti pada saat ujiannya, aku bisa menang dari dia.
                Tik, tok.
                Aku mati dari dunia luar, entah bagaimana aku mempermak sekripsi hasil mandi keringat ini, yang jelas tinggal 3 bab masih membuat bulu mataku keriting.
                “Sayang, makan dulu!” Bunda selalu mengingatkan tiap waktu makan, tapi itu membuatku semakin tegang, semakin sering Bunda muncul di daun pintu membawa sepiring nasi dan segelas air, semakin cepat pula waktu ini berlalu.
                Disamping itu, HPku tiba-tiba saja sunyi, kak Fata tak pernah lagi mengabari, meski hanya satu baris sms. Jika memikirkan itu aku akan semakin terpuruk. Padahal aku sedang membutuhkannya. Sangat.
#
                Sekripsiku lolos, dan hari ini adalah ujiannya. Aku bersujud dalam pada sujud terakhir dhuhaku. Memohon pada-Nya agar dimudahkan, terus dengan tetesan air mata. Aku bangkit duduk terakhir, kurasakan sesuatu keluar dari hidungku, mungkin karena terlalu banyak menangis, fikirku. Tapi ketika salam kekiri usai dan kuusap wajahku dengan mukenah putih itu, aku terkesiap.
                Darah???
                Ah, Cuma mimisan sedikit, otak terlalu diporsis berlebih. Aku membuka mukenah dan berlari ke kamar mandi, HPku berteriak tanda pesan masuk, ah bagaimana sempat baca sms? Di kamar mandi kubersihkan hidungku, yang….lumayan banyak juga darahnya.
#
                Dosen-dosen itu membantaiku, tapi syukur Alhamdulillah masih dalam penguasaanku. Semakin lama di ruangin ini aku semakin merasa melayang. Dalam hati aku berharap dosen-dosen ini segera mengirimku keluar saja.
                Dan akhirnya usai juga. Aku tersenyum bahagia, sepertinya tak ada pertanyaan yang membuatku terlihat oon di depan mereka. Aku bangkit dari korsi panasku.
                Degh!!!
                Kurasakan dunia gelap seketika, kukerjap-kerjapkan mataku, meski agak kabur semuanya kembali seperti sedia kala. Aku tersenyum pada dosen-dosen yang terlihat lumayan puas dengan hasilku itu, kemudian berterimakasih lantas berjalan keluar. Membelah ruangan ini rasanya seperti menghitung dedaunan kering yang rontok. Kepalaku terasa sangat berat. Kugapai gagang pintu, kemudian membukanya. Ada sosok yang begitu kurindukan tertangkap mata, sebelum semuanya benar-benar gelap dan terasa benturan yang lumayan di pelipisku.
#
                Kubuka mataku pelan, agak pening kusadari ini di kamarku. Apa yang terjadi? Innalillah hari itu aku pingsan di depan ruang ujian sekripsiku. Bagaimana sampai disini? Mungkinkah sosok yang kulihat sebelum pingsan itu yang membawaku. Kak Fatakah???
                Sebentar, di ruang tengah terdengar ramai sekali. Sepertinya ada tamu, aku bangkit dari tempat tidur mengenakan jilbab kaos dan membuka pintu kamar, melangkah pelan mendekat. Lho? Bukannya itu, orang tua kak Fata? Ada apa kemari? Kak Fata sendiri dimana??? Jadi semakin bingung.
                “Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Sayang?” Bunda yang melihat kehadiranku membuat semua yang hadir menoleh padaku. Aku tersenyum sekenanya. Ya, tentu saja sudah sadar makanya disini.
                “Abah sudah mengiyakan,” Abah menyela dengan senyuman, semua tersenyum. Aku jadi semakin mengerutkan alis.
                “Masih mau menerima aku sebagai imammu, kan?” Tiba-tiba telingaku menangkap suara dari sampingku. Entah sejak kapan ia disini. Kak Fata terlihat begitu muda dengan senyum itu. jadi? … ini? Ya Allah, aku menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku. Bukankah hari itu semuanya berakhir?
                “Hari kau ujian sekripsi, aku mengirimimu pesan kalau hari ini aku akan datang melamar, tapi kamu tidak membalas. Jadi aku menyusul ke kampus, sampai disana kamu ambruk…”
                Terserahlah bagaimana kelanjutan kalimat itu, yang jelas saat ini hariku membuncah.
#
                Wisudaku, walimahku…
                Hari ini begitu ramai, memakai toga dan kebaya bersamaan, ah…..rasanya benar-benar ingin tersenyum setiap saat. Ijab Kabul yang memindahkan tanggung jawab itu membuatku lebih tak tau mau mengatakan apa…semuanya sibuk dengan kebahagiaan masing-masing. Kakak sulungku mudik dengan wajah kegembiraan yang tak tanggung-tanggung, ia memeluk dan mencubit pipiku gemas.
                “Ini baru adikku…manis!” Ia mengecup pipi kiri dan kananku. Aku hanya bisa tersenyum, mau bilang apalagi???
                Maghrib berlalu dengan syahdu, aku masih duduk dalam zikir ketika tamu masih saja berdatangan. Kak Fata menemani dengan sabar, sedang aku hanya sekedar memperlihatkan diri sedikit. Sampai isya, masih juga tamu datang.
                “Sebentar sayang, gak enak ama tamunya” Kak Fata menyentuh pipiku yang mengajaknya berjama’ah. Lama-lama aku jadi sewot juga. Tamu itu, apa tidak bisa datang besok pagi lagi ya???? Duh. Lama menunggu aku jadi mengantuk,…dan terlelap.
….
                Kurasakan kecupan di keningku, aku membuka mata cepat. Astaga! Siapa? Berani sekali. Dan aku menemukan wajah kak Fata terkekeh sendiri. Duh,…kami sudah menikah ya? Kenapa begitu kaget rasanya…hehe
                “Belum terbiasa ya???” Ia mengejek membuka jasnya. Aku nyengir dan duduk di pinggiran ranjang menatapnya yang memunggungiku. Aku bahagia, dech.
                “Capek ya?” Tanyaku padanya. Ia menoleh dengan senyuman nakal.
                “Kenapa? Kok kedengarannya rada aneh?” Ia tertawa kecil. Apa maksudnya aneh sich? Kan pertanyaan biasa. Jadi pengantin dia jadi rada …aneh, ah ya benar, dia yang aneh. Aku bangkit dari ranjang, membuka jilbab dan masuk kamar mandi.
                “Sayang…” Ia memanggilku sebelum kututup pintu sempurna.
                “Kenapa?” Tanyaku menoleh padanya dengan ekspresi datar.
                “Gak ada,…hehehe” Ia kembali tertawa kecil. Uch,…gemes juga ama suami sendiri.
                “Ke na pa?” Aku mendekatinya, ia tersenyum nakal. Aku semakin merasa dijahilin. “Ada yang aneh ya di wajah?” Aku meraba wajahku. Ia semakin tertawa, tapi kali ini disertai gelengan. Ia menyentuh wajahku dengan kedua telapak tangannya.
                “Aku mencintaimu,” Ucapnya menatap mataku dalam, aku terdiam. Baru kali ini merasa begini. Ia tersenyum, mengecup ubun-ubun dan keningku. “Semua indah pada saatnya, kan?” Ia bertanya dengan kerlingan … cakep. Aku tersenyum mengangguk. Ia memelukku erat. Aku tiidak mengatakan sepatah katapun. Bukannya tidak ada, tapi memang tidak dibutuhkan mungkin saat ini…selanjutnya kami shalat berjama’ah bersama, wirid, do’a bersama. Kemudian…kami bercerita dengan cara yang baru ^^
__


                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar