Minggu, 23 November 2014

JUP.....

Prang!!!
Astaghfirullah…!!! Aku terbangun dari lelapku, apa itu? okay, itu sesuatu yang pecah. Tapi apa? Piring? Gelas? Mangkok? Apa?
Perasaan gelisah mulai merambat di hatiku, apa kucing masuk dapur ya? Kuputuskan untuk bangun saja, pelan-pelan agar sosok di sampingku tidak terganggu, aku berdo’a suara tadi tidak mengganggunya juga…amin.
Kusingkap pelan selimut, kuturunkan kaki dari ranjang.
Cklek.
Degh!!! Astaghfirullah…pintu kamar terbuka?!! Siapa yang membukanya? Bukankah terkonci dari dalam? Aku semakin was-was, tubuh memproduksi keringat dingin cepat. Ada orang asing di rumah? Siapa? Maling? Perampok? Aku harus membangunkannya, tapi apa memang harus?
Tap, tap, tap
Langkah, terdengar masuk ke kamar, pintu tertutup. Dan aku kini sempurna gemetar, siapa.
Tek!
Lampu menyala, silau. Aku menutup mata.
                “Astaghfirullah, By ganggu ya?”
                Aku tertegun demi mendengar suara itu. aku menoleh ke belakang membuka mata, benar saja, tidak ada sesiapa disampingku. Aku menoleh kembali. Kutemukan wajah indah tersenyum begitu lembut padaku.
                “Maaf, Sayang. Tadi di dapur cari makanan, piringnya pecah satu. Kamu kaget, ya? By benar-benar minta maaf, ya?” Dia nyengir tampak tak berdosa. Aku menghela nafas dalam. Ya, tentu saja taka pa-apa.
                “Alhamdulillah, saya kira ada maling td.” Ujarku jujur. Dia terkekeh sekhas yang ia miliki lantas duduk di sampingku.
                “Keliatannya takut banget, sampe keringetan gitu.” Dia menggodaku dengan memperhatikan wajahku.
                “Yalah, tengah malam begini….” Aku membela diri.
                “Hehehe, tengah malem?” Ia mengusap keringat di dahiku, “Coba lihat jam berapa sekarang!” Pintanya, aku melirik jam kecil diatas meja. Astaghfirullah, hampir jam empat dini hari. Pantes saja cari dapur, tadi malam dia tertidur sebelum makam malam.
                “Yuk!” Ajakku, ia mengangguk menyilahkanku ke kamar mandi lebih dulu. Maklumlah, dia paham betul kalau aku lelet. Sekitar seperempat jam, kami sudah berhadapan dengan Ilah dalam jama’ah.
                Sunyi sekali, dan amat sangat terasa indah.
*
                “Duuh, air matanya!” Dia menggodaku ketika aku mencium punggung tangannya setelah wirid di pagi subuh.
                “Kaya’nya dia nggak aja, itu!” Aku menunjuk bening di bulu matanya. Ia tertawa mengusap kepalaku sayang. Damai sekali, terharu lagi. Jika menyadari betapa aku tidak bisa menjadi pantas di hadapannya, dan betapa begitu sabar ia menerimaku. Dia benar-benar luar biasa…
                “Lho, kok diem. Biasanya setelah subuh ada bacaan Qur’an istri tercinta…” Ia menggodaku lagi, masih dengan berjuta-juta sabar yang ia pelihara. Aku tersenyum dengan bibir bergetar, ia memperhatikan perubahan di wajahku. Menghela nafas dalam kemudian mendekat padaku, sedekat yang ia mampu.
                “Apa lagi dengan air mata itu, hum?” Tanyanya, aku mengusap pipiku sembari menggeleng. Tak ingin memberatkan lagi…
                “By yang ngaji ya?” Pintaku. Ia tersenyum kemudian menyentuh dahiku dengan ibu jarinya.
                “Jangan lagi, kan By bilang…” Ia menyelam di mataku dengan pandangannya, aku tak bisa menahan air mataku untuk tumpah lagi, ya jangan lagi…tapi lagi-lagi tak mampu. Aku sesegukkan. Ini, bukan kebahagiaan begini sebenarnya. Bukan, bukan, bukan. Bukan baik, bukan.
                Lama, ia menenggelamkan wajahku di dadanya yang tetap berdegup tenang. Aku sungguh-sungguh rapuuhhh sekali. Bahkan untuk menghentikan tangispun tak bisa sendiri. Tak bisa membahagiakannya…
                “Tidak bisa!”
                Runtuh, langitku runtuh cukup dengan dua kata itu. tidak bisa, ya tidak bisa. Tidak bisa memberikan seorang bayipun. Lemas, persendianku serasa putus smua, tulangku patah. Semuanya, semuanya terasa mengambang…tidak ada bayi, tidak bisa ada bayi di rahim…
                “Ingat Allah, Sayang!” Aku lupa ketika itu aku dipeluk oleh Imamku, aku tidak merasakan kehangatannya untuk kali itu. tapi aku bisa mendengar kalimat itu. Ingat Allah, Sayang. Ingat Allah. Aku mengulang-ulang kalimat itu dalam benakku, menggigit bibir dengan gemetar, dan akhirnya kembali menangis hingga terbangun di atas ranjang rumah kami. Dan di sampingku ada dia dengan senyum yang masih sama.
Kembali, menangis lagi tanpa jeda. Ia menatapku dengan sebongkah kekuatan yang selalu berhasil ia pegang. Ia tak pernah melepas jemariku, seingatku sampai aku benar-benar tenang. Semua mengerti keadaanku, keluargaku, keluarganya…tidak ada yang menuntutku. Hanya saja ada satu orang yang tak bisa mengerti ini semua, kenapa semua bisa terjadi padaku, dan orang itu adalah aku sendiri.
Suamiku tidak berbicara sepatah katapun selama menggenggam jemariku selama itu, ia menghargai kerapuhanku, ia tak ingin mengganggu duniaku. Ia hanya ingin aku tau ia ada di sampingku dan selalu begitu, tanpa ingin mengikutcampuri urusanku.
Baik, bukan?
Hingga suatu hari, ia melepas genggamannya dan aku mulai merasakan ketakutan yang luar biasa. Aku takut ia meninggalkanku. Tapi tak lama jemari itu ada di bahuku, meremasnya pelan dengan sayang.
                “Sudah lebih dari wajar, By selalu shalat sendiri, mau temani By shalat?” Ia bertanya pelan sekali, tak ada nada harapan disana, tak ada paksaan. Dan entah kenapa, aku mengangguk. Akhirnya, sore itu kami menggelar sajadah bersama dan shalat dengan diam..
Akhir shalat kukecup punggung tangan itu dalam diam. Rata rasanya perasaanku.
                “Sini, By kasi tau sesuatu!” Ia merengkuh tubuhku dekan dengannya, aku masih rata. “Kamu yang tebaik, Sayang!” Ia berucap pelan, seolah tak ada yang boleh mendengar kecuali aku, aku masih setia pada diamku, menatap pada sesuatu yang tak terlihat, entah apa akupun tak melihatnya. “Kamu yang terbaik…selamanya…” Ia mengulanginya lagi, dan aku masih seperti tadi.
                “Kamu tau kenapa aku mencintaimu?” Ia bertanya. Aku diam, masih begitu dengan gelenganku, ia tersenyum “Kamu ingin tau sejak lama, kan? Dan sekarang adalah saat yang baik untuk mengetahuinya. Dengarkan dengan seluruh baik yang kamu miliki…” Ia mengangkat daguku dan mengikat padanganku pada kedalaman matanya, aku menelan ludah. “Tidak ada alasan kongkrit kenapa aku mencintaimu, Nay. Tidak ada. Akupun sudah lama, sejak lama mencari alasan itu, tapi tidak pernah kutemukan. Aku hanya mendapati bahwa aku mencintaimu, itu saja. Dan aku setuju pada semuanya, bahwa memang tidak butuh alasan untuk mencitai. Jadi cinta itu tidak akan mati ketika alasan itu memudar, kan?” Ia mengambil jeda dengan sebuah senyuman, entah kenapa ujung bibirku tertarik, aku menyetujui ucapannya.
                “Apapun yang tertulis untukku aku tetap mencintaimu, apapun yang tertulis padamu aku akan tetap mencintaimu, dan apapun yang tertulis pada kita aku akan tetap mencintaimu, dengan izin-Nya.” Dadaku berdesir, kurasakan genggaman tangannya begitu lembut pada jemariku.
                “Jangan kau gugat Tuhan dengan takdir terbaik yang ia pilihkan, Sayang. Ingat kan, yang terbaik menurut kita belum tentu yang terbaik untuk kita. Ia yang Mahatahu akan memberikan itu. dan akan memberikan kadar yang sesuai dengan mampu kita,..” Lagi-lagi senyuman.
                “Dia memberimu ini dan memberimu aku. Dia memberiku ini dan memeberiku kamu, kita patut bersyukur…tidak ada yang harus ditangisi,” Ia menggelengkan kepalanya, “Tidak ada, Sayang. Kamu dengar?” Ia bertanya pelan, aku mengangguk pelan, “Kamu pahami pula, kan?” Bertanya lagi, dan aku mengangguk lagi, basah mukenahku dengan haru yang dituangkan air mata, ia mengecup keningku sayang dan memelukku erat.
                “Aku tidak ingin apa-apa,,,aku hanya mencintaimu. Cukup begitu….”
                Dan susah payah dengan nafas tersendat, aku membalasnya.
                “Terimakasih banyak…”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar