Prang!!!
Astaghfirullah…!!! Aku terbangun dari lelapku, apa itu?
okay, itu sesuatu yang pecah. Tapi apa? Piring? Gelas? Mangkok? Apa?
Perasaan gelisah mulai merambat di hatiku, apa kucing masuk
dapur ya? Kuputuskan untuk bangun saja, pelan-pelan agar sosok di sampingku
tidak terganggu, aku berdo’a suara tadi tidak mengganggunya juga…amin.
Kusingkap pelan selimut, kuturunkan kaki dari ranjang.
Cklek.
Degh!!! Astaghfirullah…pintu kamar terbuka?!! Siapa yang
membukanya? Bukankah terkonci dari dalam? Aku semakin was-was, tubuh
memproduksi keringat dingin cepat. Ada orang asing di rumah? Siapa? Maling?
Perampok? Aku harus membangunkannya, tapi apa memang harus?
Tap, tap, tap
Langkah, terdengar masuk ke kamar, pintu tertutup. Dan aku
kini sempurna gemetar, siapa.
Tek!
Lampu menyala, silau. Aku menutup mata.
“Astaghfirullah,
By ganggu ya?”
Aku
tertegun demi mendengar suara itu. aku menoleh ke belakang membuka mata, benar
saja, tidak ada sesiapa disampingku. Aku menoleh kembali. Kutemukan wajah indah
tersenyum begitu lembut padaku.
“Maaf,
Sayang. Tadi di dapur cari makanan, piringnya pecah satu. Kamu kaget, ya? By
benar-benar minta maaf, ya?” Dia nyengir tampak tak berdosa. Aku menghela nafas
dalam. Ya, tentu saja taka pa-apa.
“Alhamdulillah,
saya kira ada maling td.” Ujarku jujur. Dia terkekeh sekhas yang ia miliki
lantas duduk di sampingku.
“Keliatannya
takut banget, sampe keringetan gitu.” Dia menggodaku dengan memperhatikan
wajahku.
“Yalah,
tengah malam begini….” Aku membela diri.
“Hehehe,
tengah malem?” Ia mengusap keringat di dahiku, “Coba lihat jam berapa
sekarang!” Pintanya, aku melirik jam kecil diatas meja. Astaghfirullah, hampir
jam empat dini hari. Pantes saja cari dapur, tadi malam dia tertidur sebelum
makam malam.
“Yuk!”
Ajakku, ia mengangguk menyilahkanku ke kamar mandi lebih dulu. Maklumlah, dia
paham betul kalau aku lelet. Sekitar seperempat jam, kami sudah berhadapan
dengan Ilah dalam jama’ah.
Sunyi
sekali, dan amat sangat terasa indah.
*
“Duuh,
air matanya!” Dia menggodaku ketika aku mencium punggung tangannya setelah
wirid di pagi subuh.
“Kaya’nya
dia nggak aja, itu!” Aku menunjuk bening di bulu matanya. Ia tertawa mengusap
kepalaku sayang. Damai sekali, terharu lagi. Jika menyadari betapa aku tidak
bisa menjadi pantas di hadapannya, dan betapa begitu sabar ia menerimaku. Dia
benar-benar luar biasa…
“Lho,
kok diem. Biasanya setelah subuh ada bacaan Qur’an istri tercinta…” Ia
menggodaku lagi, masih dengan berjuta-juta sabar yang ia pelihara. Aku
tersenyum dengan bibir bergetar, ia memperhatikan perubahan di wajahku.
Menghela nafas dalam kemudian mendekat padaku, sedekat yang ia mampu.
“Apa
lagi dengan air mata itu, hum?” Tanyanya, aku mengusap pipiku sembari
menggeleng. Tak ingin memberatkan lagi…
“By
yang ngaji ya?” Pintaku. Ia tersenyum kemudian menyentuh dahiku dengan ibu
jarinya.
“Jangan
lagi, kan By bilang…” Ia menyelam di mataku dengan pandangannya, aku tak bisa
menahan air mataku untuk tumpah lagi, ya jangan lagi…tapi lagi-lagi tak mampu.
Aku sesegukkan. Ini, bukan kebahagiaan begini sebenarnya. Bukan, bukan, bukan.
Bukan baik, bukan.
Lama,
ia menenggelamkan wajahku di dadanya yang tetap berdegup tenang. Aku
sungguh-sungguh rapuuhhh sekali. Bahkan untuk menghentikan tangispun tak bisa
sendiri. Tak bisa membahagiakannya…
“Tidak
bisa!”
Runtuh,
langitku runtuh cukup dengan dua kata itu. tidak bisa, ya tidak bisa. Tidak
bisa memberikan seorang bayipun. Lemas, persendianku serasa putus smua,
tulangku patah. Semuanya, semuanya terasa mengambang…tidak ada bayi, tidak bisa
ada bayi di rahim…
“Ingat
Allah, Sayang!” Aku lupa ketika itu aku dipeluk oleh Imamku, aku tidak
merasakan kehangatannya untuk kali itu. tapi aku bisa mendengar kalimat itu.
Ingat Allah, Sayang. Ingat Allah. Aku mengulang-ulang kalimat itu dalam
benakku, menggigit bibir dengan gemetar, dan akhirnya kembali menangis hingga
terbangun di atas ranjang rumah kami. Dan di sampingku ada dia dengan senyum
yang masih sama.
Kembali, menangis lagi tanpa jeda. Ia menatapku dengan
sebongkah kekuatan yang selalu berhasil ia pegang. Ia tak pernah melepas
jemariku, seingatku sampai aku benar-benar tenang. Semua mengerti keadaanku,
keluargaku, keluarganya…tidak ada yang menuntutku. Hanya saja ada satu orang
yang tak bisa mengerti ini semua, kenapa semua bisa terjadi padaku, dan orang
itu adalah aku sendiri.
Suamiku tidak berbicara sepatah katapun selama menggenggam
jemariku selama itu, ia menghargai kerapuhanku, ia tak ingin mengganggu
duniaku. Ia hanya ingin aku tau ia ada di sampingku dan selalu begitu, tanpa
ingin mengikutcampuri urusanku.
Baik, bukan?
Hingga suatu hari, ia melepas genggamannya dan aku mulai
merasakan ketakutan yang luar biasa. Aku takut ia meninggalkanku. Tapi tak lama
jemari itu ada di bahuku, meremasnya pelan dengan sayang.
“Sudah
lebih dari wajar, By selalu shalat sendiri, mau temani By shalat?” Ia bertanya
pelan sekali, tak ada nada harapan disana, tak ada paksaan. Dan entah kenapa,
aku mengangguk. Akhirnya, sore itu kami menggelar sajadah bersama dan shalat
dengan diam..
Akhir shalat kukecup punggung tangan itu dalam diam. Rata
rasanya perasaanku.
“Sini,
By kasi tau sesuatu!” Ia merengkuh tubuhku dekan dengannya, aku masih rata.
“Kamu yang tebaik, Sayang!” Ia berucap pelan, seolah tak ada yang boleh
mendengar kecuali aku, aku masih setia pada diamku, menatap pada sesuatu yang
tak terlihat, entah apa akupun tak melihatnya. “Kamu yang terbaik…selamanya…”
Ia mengulanginya lagi, dan aku masih seperti tadi.
“Kamu
tau kenapa aku mencintaimu?” Ia bertanya. Aku diam, masih begitu dengan
gelenganku, ia tersenyum “Kamu ingin tau sejak lama, kan? Dan sekarang adalah
saat yang baik untuk mengetahuinya. Dengarkan dengan seluruh baik yang kamu
miliki…” Ia mengangkat daguku dan mengikat padanganku pada kedalaman matanya,
aku menelan ludah. “Tidak ada alasan kongkrit kenapa aku mencintaimu, Nay.
Tidak ada. Akupun sudah lama, sejak lama mencari alasan itu, tapi tidak pernah
kutemukan. Aku hanya mendapati bahwa aku mencintaimu, itu saja. Dan aku setuju
pada semuanya, bahwa memang tidak butuh alasan untuk mencitai. Jadi cinta itu
tidak akan mati ketika alasan itu memudar, kan?” Ia mengambil jeda dengan
sebuah senyuman, entah kenapa ujung bibirku tertarik, aku menyetujui ucapannya.
“Apapun
yang tertulis untukku aku tetap mencintaimu, apapun yang tertulis padamu aku
akan tetap mencintaimu, dan apapun yang tertulis pada kita aku akan tetap
mencintaimu, dengan izin-Nya.” Dadaku berdesir, kurasakan genggaman tangannya
begitu lembut pada jemariku.
“Jangan
kau gugat Tuhan dengan takdir terbaik yang ia pilihkan, Sayang. Ingat kan, yang
terbaik menurut kita belum tentu yang terbaik untuk kita. Ia yang Mahatahu akan
memberikan itu. dan akan memberikan kadar yang sesuai dengan mampu kita,..”
Lagi-lagi senyuman.
“Dia
memberimu ini dan memberimu aku. Dia memberiku ini dan memeberiku kamu, kita
patut bersyukur…tidak ada yang harus ditangisi,” Ia menggelengkan kepalanya,
“Tidak ada, Sayang. Kamu dengar?” Ia bertanya pelan, aku mengangguk pelan,
“Kamu pahami pula, kan?” Bertanya lagi, dan aku mengangguk lagi, basah
mukenahku dengan haru yang dituangkan air mata, ia mengecup keningku sayang dan
memelukku erat.
“Aku
tidak ingin apa-apa,,,aku hanya mencintaimu. Cukup begitu….”
Dan
susah payah dengan nafas tersendat, aku membalasnya.
“Terimakasih
banyak…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar